Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 KANDUNGAN MINERAL BIJI ARBILA DARI BERBAGAI AKSESI YANG BERKATEGORI RINGAN DARI KABUPATEN KUPANG Bernadete Barek Koten1*. Mariana Hebing1. Redempta Wea2. Jacobus S. Oematan2. Melkianus D. Randu2. Noldin Abolla3. Allan Prima Titong4 Program Studi Teknologi Pakan Ternak. Politeknik Pertanian Negeri Kupang Program Studi Produksi Ternak. Politeknik Pertanian Negeri Kupang Program Studi Manajemen Pertanian Lahan Kering. Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Balai Karatina Klas 1 Kupang *e-mail: bernadete_koten@yahoo. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kandungan mineral biji arbila (Phaseoluslunatus L. berbagai aksesi berkategori ringan dari Kabupaten Kupang. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan dari bulan Mei- Oktober 2023, yang berlokasi di Kabupaten Kupang dan Laboratorium Nutrisi Ternak Politani Kupang. Alat dan bahan yang digunakan adalah timbangan digital dengan kapasitas 5 kg dan skala terkecil 1 g, nampan, oven pengering dan desikator, biji arbila dari berat biji berkategori ringan, plastik klip dan kantong plastik. Prosedur penelitian meliputi pengumpulan biji arbila, pengidentifikasian biji, pemisahan biji menurut aksesi berdasarkan morfologi biji, pengovenan, penimbangan biji, pengelompokan dalam kategori ringan dengan berat biji 11-24 g/100 biji, preparasi sampel, penggilingan, pengayakan dengan diameter saringan 1 mm, dan analisis kadar mineral. Variabel yang diamati kadar mineral meliputi kadar kalsium (C. , kadar fosfor (P), dan kadar kalium (K). Data dideskriptifkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 aksesi arbila yang berkategori ringan. Kadar Ca biji arbila tertinggi pada K40 . ,59%) dan terendah K1 . ,30%) dengan rata-rata 0,46%. KadarK tertinggi pada K41 . ,23%), dan terendah pada K1 . ,09%) dengan ratarata 1,18%. Kadar P tertinggi pada K40 . ,77%) dan terendah pada K2 . ,50%) dengan rata-rata 0,62%. Disimpulkan bahwa kadar mineral biji arbila dari aksesi dengan berat biji berkategori ringan adalah Ca berkisar antara 0,30 - 0,59%, kadar K berkisar antara 1,09 -1,23% dan kadar P berkisar antara 0,50 Ae 0,77%. Kata kunci : Aksesi arbila (Phaseolus lunatus L. Biji berkategori ringan, mineral kalsium. Kalium. Fosfor PENDAHULUAN Kabupaten Kupang merupakan daerah dengan populasi ternak ruminansia yang tinggi 715 ekor (BPS, 2. Potensi peternakan ini perlu didukung oleh ketersediaan pakan yang berkualitas dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhannya secara kontinyu. Kendala yang cukup serius yang dihadapi peternak terutama peternak ruminansia di Kabupaten Kupang adalah rendahnya ketersediaan pakan berkualitas pada musim kemarau. Pengembangan tanaman pakan unggulan dari luar daerah, terkendala dengan kemampuan adaptasi tanaman tersebut dengan kondisi lingkungan setempat. Pengenalan potensi pakan lokal Nusa Tenggara Timur terutama di Kabupaten Kupang yang berproduksi tinggi, tahan kekeringan produktivitasnya perlu dilakukan. Salah satunya adalah legume arbila (Phaseolus lunatus L). Legume arbila atau Phaseolus lunatus L. merupakan legum yang dimanfaatkan sebagai pakan berkualitas bagi ternak sapi di NTT khususnya di Kabupaten Kupang. Secara umum, hijauan arbila mengandung 11,67% bahan kering (BK), 13,48% abu, 21,21% protein kasar (PK), 0,9% lemak kasar (LK), 24,21% serat kasar (SK). Bijinya mengandung 27,2% Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 protein kasar (PK), 0,9 % lemak kasar (LK), 24,21% serat kasar (SK), 5,5% abu, 5,2% serat kasar dan 61,2% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Koten et al. , 2. Koten et al. menjelaskan bahwa berdasarkan tampilan bijinya, di Kabupaten Kupang arbila yang dikenal dengan nama koto mempunyai 48 aksesi. Koten dan Wea . melaporkan bahwa berdasarkan kategori beratnya, biji arbila dikelompokan atas berat, sedang dan ringan. berbeda pada berat biji, arbila ini juga mempunyai perbedaan pada bentuk vegetatifnya (Koten et al. , 2. Keanekaragaman biji dan bagian vegetatif ini berdampak juga terhadap kandungan nutrien yang terdapat dalam hijauan dan biji arbila, termasuk kadar mineral Keanekaragaman ini merupakan potensi yang perlu dikembangkan agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Bagi ternak terutama ternak ruminansia, mineral dalam pakan terutama kalsium, fosfor dan kalium sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi ternak. Mineral tersebut berperanan penting dalam pembentukan tulang dan gigi, memperlancar proses metabolisme nutrien, sebagai pengatur osmotik cairan dan keseimbangan asam basa, dan kekebalan tubuh ternak. Kecukupan mineral pada ternak sangat tergantung pada mineral pakan yang dikonsumsinya. Suprayitno et al. , . menyatakan bahwa kandungan mineral yang terdapat dalam bahan pakan terutama yang berasal dari tumbuhan tergantung pada media tanam dan lokasi tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Koten et al. melaporkan bahwa aksesi arbila yang berbeda mempunyai kadar mineral yang berbeda pada hijauannya. Perbedaan karakter dan tampilan berbagai aksesi arbila ini berdampak pada kandungan mineral dari biji arbila. Hingga saat ini belum terdapat informasi tentang kandungan mineral biji berbagai aksei arbila berkategori ringan dari Kabupaten Kupang. Untuk itu perlu dilakukan penelitian kandungan mineral biji berbagai aksesi arbila berkategori ringan di Kabupaten Kupang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kandungan mineral biji arbila (Phaseolus lunatus L. ) berbagai aksesi berkategori ringan dari Kabupaten Kupang. METODE PENELITIAN Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan ( Mei - Oktober 2. , bertempat di 9 Kecamatan yang ada di Kabupaten Kupang yaitu Fatuleu. Fatuleu Tengah. Amabi Oefeto Timur. Amabi Oefeto. Amarasi Timur. Amarasi Barat. Nekamese. Amfoang. Amfoang Tengah, dan Laboratorium Nutrisi Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Analisis kadar mineral dilakukan di Laboratorium Kimia Pakan Universitas Hasanuddin Makasar. Alat yang digunakan adalah timbangan digital berkapasitas 5 kg dengan skala terkecil 1 g untuk menimbang biji arbila, nampan sebagai wadah untuk menyimpan biji arbila, oven pengering dan desikator sebagai pendingin. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 adalah biji arbila dari kategori ringan dengan berat 11-24 g/100 biji, plastik klip sebagai wadah untuk menyimpan sampel biji arbila, dan kantong plastik. Prosedur kerja meliputi pengumpulan biji arbila dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Kupang. Biji arbila disortir dan dipisahkan dari benih yang rusak dan cacat, selanjutnya dipisahkan berdasarkan wilayah pengumpulan. Biji diidentifikasi dan dipisahkan setiap aksesinya berdasarkan morfologi biji, dikeringkan dalam oven pengering, dipilih 100 biji secara acak, dan ditimbang. Biji arbila dengan berat 11-24 g /100 biji kemudian dipisahkan dan dipreparasi. Biji tersebut kemudian digiling kemudian diayak dengan diameter saringan 1 mm. Sampel tersebut dimasukan dalam plastik klip dan diberi label. Sampel tersebut siap dianalisis kandungan mineral biji. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kandungan kalsium (C. , fosfor (P) dan kalium (K) dari biji arbila sesuai petunjuk AOAC . Metoda penelitian ini adalah survei dan pengumpulan bahan penelitian di lapangan yang dilanjutkan dengan analisis laboratorium. Data yang diperoleh kemudian dideskripsikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten Kupang terletak diantara 9 019 - 10057 lintang selatan dan 121030 - 124011 bujur timur. Secara administrasi Kabupaten Kupang terdiri dari 24 Kecamatan, 17 Kelurahan, dan 160 Desa. Berdasarkan hasil penelitian, dari Kabupaten Kupang dikumpulkan 41 aksesi arbila berdasarkan morfologi biji. Jenis biji arbila dan terdiri atas tiga kategori yaitu, kategori berat dengan berat lebih dari 100 g/100 biji, kategori sedang dengan berat 2542 g/100 biji dan kategori ringan dengan berat 11-24 g/biji. Hasil identifikasi dan pengelompokan diperoleh 16 aksesi dengan biji berkategori berat, 21 aksesi berkategori sedang dan 4 aksesi yang berkategori ringan. Tampilan biji arbila yang termasuk berkategori ringan serta lokasi temuannya terlihat pada Tabel 1. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Tabel 1. Tampilan biji arbila di Kabupaten Kupang berkategori ringan beserta lokasi temuannya. Kode Aksesi Tampilan morfologi biji Keterangan Kecamatan Pangan (Koto Fatuleu. Fatuleu Tengah. Ae. Oemabi Oefeto timur. Oemabi Oefeto. Amarasi Timur. Amarasi Barat. Amfoang. Amfoang Tengah K41 Pangan (Koto Oemabi Oefeto timur. Oemabi Oefeto. Amarasi Timur. Amarasi Barat. Nekamese. Amfoang Tengah. K40 Pakan Fu. Pangan (Koto ae. Fatuleu. Oemabi Oefeto timur, . Amarasi Timur. Amarasi Barat. Nekamese. Amfoang. Amfoang Tengah (Koto Fatuleu. Fatuleu Tengah. Oemabi Oefeto timur. Amarasi Timur. Amarasi Barat. Amfoang. Bfgfhh Biji arbila yang berkategori ringan dari Kabupaten Kupang, ditemukan dan dikumpulkan dari Kecamatan Fatuleu. Fatuleu Tengah. Amabi Oefeto Timur. Amabi Oefeto. Amarasi Timur. Amarasi Barat. Nekamese. Amfoang dan Amfoang Tengah. Dari 9 kecamatan tersebut biji arbila berbagai aksesi berkategori yang lebih banyak dikumpulkan pada Kecamatan Amabi Oefeto Timur dan Kecamatan Amarasi Barat. Hasil wawancara dengan masyarakat bahwa arbila yang dibudidayakan oleh masyarakat disebut koto aem, biasanya tidak beracun sedangkan yang tumbuh liar disebut sebagai koto fui, umumnya beracun. Arbila tidak beracun . oto ae. umumnya warna merah bercak coklat, putih dan putih bintik merah sedangkan yang beracun . oto fu. dengan warna merah dan putih. Cara mengolah arbila yang beracun . oto fu. yaitu direbus dan diganti air rebusannya sebanyak 12 kali sampai air hasil rebusannya kelihatan jernih. Sedangkan koto aem cukup direbus satu kali saja. Tanda-tanda keracunan jika mengkonsumsi koto fui berupa pusing dan muntah - muntah. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Kadar mineral kalsium biji arbila berkategori ringan Mineral adalah zat makanan yang diperlukan dalam jumlah kecil, tetapi berperanan penting dalam berbagai aktifitas tubuh. Ternak tidak dapat membuat mineral dalam tubuhnya, karena itu harus didapatkan dari ransum yang dikonsumsinya. Ca merupakan mineral makro yang kebutuhannya sangat penting untuk dipenuhi. Mineral Ca dan juga fosfor (P) sangat berperanan dalam pembentukan tulang dan gigi, serta dan saling terkait satu sama lainnya. Hipokalsemia merupakan kondisi yang terjadi karena defisiensi kalsium dalam darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gejala yang bisa mengindikasikan berbagai penyakit, hingga yang terparah sapi bisa mengalami milk fever dengan salah satu ciri kelumpuhan dan pada akhirnya kematian (Suprayitno et al. , 2. Data tentang kandungan mineral Ca pada biji arbila dengan biji berkategori ringan dari Kabupaten Kupang tertera pada Tabel 2. Tabel 2. Kadar mineral biji arbila berkategori ringan dari Kabupaten Kupang Kode Aksesi Kadar mineral (%) Kalsium K40 K41 Total Rata-rata 0,30 0,37 0,59 0,60 1,86 0,46 Fosfor Kalium 0,53 0,50 0,77 0,71 2,51 0,62 1,09 1,22 1,18 1,23 4,72 1,18 Dari Tabel 2 terlihat bahwa kadar Ca biji arbila yang berkategori ringan dalam kelompok ini, yang terendah terdapat pada K1 . ,30 %) dan yang tertinggi terdapat pada K40 . ,59%). Terlihat bahwa kadar kalsium biji arbila dengan nilai 0,30% sebanyak 50% yang terdiri dari 2 aksesi yaitu K1 . K2 . dan yang lebih dari 0,50% sebanyak 50% yang terdiri 2 aksesi yaitu K40 . K41 . Rata-rata kadar Ca biji arbila dalam penelitian ini adalah 0,46%. Kebutuhan kadar kalsium untuk ternak sapi penghasil daging yaitu 0,5 -1,34% (NRC, 2. Hasil penelitian terlihat bahwa kode aksesi K1 . ,30%) dan K2 . ,37%) lebih kecil dari standar kebutuhan kadar kalsium untuk ternak sapi penghasil daging, sehingga keempat aksesi tersebut yang memenuhi kebutuhan ternak sapi yaitu pada aksesi K40 . ,59%) dan K41 . ,60%). Hal ini dapat dipahami karena arbila merupakan kelompok leguminosa di mana biji leguminosa mempunyai kadar mineral yang tinggi (Purbajanti, 2. Kandungan Ca dalam biji tanaman dipengaruhi oleh kemampuan mengakumulasi kalsium dalam tubuh tanaman terutama pada biji. Kondisi genetis setiap aksesi sangat mempengaruhi kemampuan akumulasi mineral tersebut. Terlihat bahwa meskipun dalam kategori yang sama yaitu kategori ringan, kadar Ca biji ternyata bervariasi. Terdapat 2 aksesi arbila yaitu K1 dan K2 yang mempunyai kadar Ca pada bijinya yang lebih rendah dari kadar Ca pada hijauan arbila, dan terdapat 2 aksesi yaitu K40 dan Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 K41 yang mengandung Ca yang sama dengan Ca hijauan arbila yaitu 0,55 Ae 0,61% seperti yang dilaporkan oleh Koten et al. Hal ini dapat dimaklumi karena akumulasi Ca pada bagian vegetatif dan pada biji tentu berbeda. Kadar fosfor dari biji arbila berkategori ringan Fosfor adalah salah satu mineral makro yang banyak dibutuhkan oleh tubuh ternak. Mineral ini berperan dalam proses fisiologis tubuh, yang merupakan unsur penting dalam pembentukan jaringan-jaringan kerangka, tulang dan gigi. Fosfor juga berperan dalam proses metabolisme, komponen adenosine trifosfat (ATP) dan asam nukleat. Fosfor terdapat pada air liur yang berperan untuk membantu proses pencernaan makanan serta dalam mempertahankan keseimbangan asam basa tubuh (Nugroho, 1986 dalam Suprayitno et al. Data tentang kandungan mineral kada fosfor pada biji arbila tertera pada Tabel 2. Terlihat bahwa kadar fosfor biji arbila dengan nilai 0,5% sebanyak 50% yang terdiri dari 2 aksesi yaitu K1 . ,53 %) dan K2 . ,50%) dan y a n g lebih dari 0,7% adalah 50% yang terdiri 2 aksesi yaitu K40 . ,77%) dan K41 . ,71%). Berdasarkan hasil analisis kandungan fosfor dari 4 aksesi Arbila yang berkategori ringan menunjukkan bahwa kadar fosfor tertinggi terdapat pada K40 . ,77%) sedangkan yang terendah terdapat pada K2 . ,5%), dengan nilai rata rata 0,62%. Terlihat bahwa Kode Aksesi K1 . ,53%) dan Kode Aksesi K2 . ,5%) merupakan kadar fosfornya berada dalam kisaran sesuai kebutuhan ternak sapi yaitu 0,33-0,65% (NRC, 2. Aksesi K40 . ,77%) dan K41 . ,71%) merupakan biji arbila dengan kadar fosfornya lebih tinggi dari kisaran kebutuhan ternak. Kadar fosfor pada biji arbila berkategori ringan ini lebih tinggi dari yang terdapat dalam hijauan arbila seperti yang dilaporkan oleh Koten et al. , . Terlihat bahwa bahwa akumulasi fosfor pada setiap bagian tanaman arbila ternyata berbeda. Kadar kalium (K) dari biji arbila berkategori ringan Kalium merupakan mineral yang berperan pada otot dan saraf terlibat dalam metabolisme karbohidrat dan co-faktor pada sintesis protein. Kalium berfungsi sebagai kation sel, pengatur osmotik cairan dan keseimbangan asam basa (Suprayitno et al. , 2. Klorin memiliki fungsi penting dalam sekresi lambung jika defisiensi dapat menyebabkan muntah yang mengganggu proses pencernaan (Mc Donald et al. , 2010 dalam Suprayitno et al. , 2. Analisis kadar K dari 4 aksesi arbila dari Kabupaten Kupang yang berkategori ringan menunjukkan bahwa kadar K tertinggi terdapat pada K41. ,23%), sedangkan yang terendah terdapat pada K1 . ,09%). Standar kebutuhan K untuk ternak sapi penghasil daging adalah 0,66 Ae 1,96% (NRC, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aksesi sudah termasuk standar kebutuhan kalium untuk sapi penghasil daging, sehingga kadar kalium biji arbila berada dalam kisaran kebutuhan ternak ruminansia. Seminar Nasional Politani Kupang Ke-7 Kupang, 05 Desember 2024 Rata-rata kadar kalium biji Arbila pada penelitian ini adalah 1,18%. Kadar kalium pada biji arbila berkategori ringan ini lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Widiany et al. , . kadar kalium pada biji kedele lokal adalah 0,1064% . ,45 mg/100 . Hal ini dipengaruhi oleh jenis legum yang berbeda mempengaruhi kemampuan akumulasi kalium pada bijinya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: Pada biji arbila yang berkategori ringan, mengandung 0,3-0,59% kalsium, 1,09-1,23% kalium dan 0,50-0,77% fosfor. Kadar mineral biji arbila dari aksesi yang tergolong ringan adalah bervariasi DAFTAR PUSTAKA