Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdeka Ipong Jazimaha,1,*. Sumiyatun Septianingsihb,2. Riva Hartanti c,3 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto. Indonesia ipongjazimah@ump. 2Septianingsih@ump. 3rivahartanti@gmail. * Corresponding Author. Ipong Jazimah Received 30 Maret 2025. accepted 28 April 2025. published 31 Mei 2025 KEYWORDS ABSTRACT Learning assessments are carried out to interpret various kinds of information about student learning processes and outcomes. It is important to carry out assessments to see the extent of the success of learning. This research aims to reveal . How learning is assessed in the Teacher's Guidebook and Student's Book for history subjects in the Merdeka Curriculum. What are the advantages and disadvantages of learning assessment in the Teacher's Handbook and Student's Book for history subjects in the Merdeka Curriculum. This research uses descriptive qualitative research methods with document study. Data validity is carried out by data triangulation. Data analysis uses interactive analysis with three stages of analysis, namely data reduction, data presentation, and drawing The research results showed that the assessment used consisted of 2 forms, namely diagnostic assessment and formative assessment. Formative assessment consists of self-assessment and summative assessment. When analyzed, the assessment carried out uses operational keywords in the cognitive, affective and psychomotor domains. The advantage of the assessment used is that it is varied and explores many students' abilities to support the development of students' creativity and independence. The disadvantage of assessment is that it requires quite a lot of time to complete all the assessments carried out, so the teacher's workload also increases. learning assessment. history books. independent curriculum. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Sejak tahun 2021 Kurikulum Merdeka telah dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan kebebasan sekolah dan guru untuk mengembangkan pembelajaran. Guru dan siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan dari sumber manapun dan dengan berbagai macam cara. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa tidak hanya belajar di kelas secara monoton namun juga belajar di luar kelas untuk memperkuat kompetensi yang dimiliki. Selain siswa bebas mengekplorasi pengetahuan, guru juga diberi kebebasan untuk menggunakan media apa saja selama mendukung pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan media dan metode dengan kebutuhan belajar para siswa . ttps://ditpsd. id/hal/kurikulummerdek. Kurikulum merdeka selain meningkatkan kualitas pengetahuan juga diharapkan dapat mengembangkan karakter siswa menjadi lebih nasionalis sesuai nilai-nilai Pancasila. Kondisi ini membuat guru harus lebih kreatif selama proses pembelajaran. Siswa tidak lagi hanya pintar secara materi namun juga peka pada isu-isu nasional dan internasional serta terbiasa berpikir kritis. Siswa juga dibekali dengan pengetahuan kearifan lokal sesuai asal daerah masing-masing agar mereka tidak tercerabut dari akar rumput . ttps://pusatinformasi. Rangking kemampuan literasi dan numerasi di Indonesia juga masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara yang ada 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. di Asia Tenggara, sehingga diharapkan kurikulum merdeka mampu mendongkrak kemampuan literasi dan numerasi. Kemajuan teknologi menuntut output Pendidikan kita tidak hanya berijazah tapi juga terampil dan memiliki soft skills yang mumpuni. Kurikulum Merdeka juga mengembangkan pembelajaran yang bersifat kooperatif dan inovatif. Pembelajaran tidak lagi bersifat teacher centered namun juga student centered. Salah satu pembelajaran yang bersifat student centered adalah pembelajaran cooperative learning yang menekankan terbentuknya kelompokkelompok kecil di kelas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Sakti, dkk . 4: 32-. cooperative learning memfokuskan pada keaktifan siswa sedang guru hanya sebagai fasilitator saja. Pembelajaran ini juga mengutamakan kerja sama dalam kelompok. Untuk mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka, diperlukan penyediaan buku teks pelajaran yang sesuai. Menurut Ibrahim & Anwar . 6: . buku teks adalah buku yang digunakan dalam mata pelajaran tertentu yang mempunyai standar baku, ditulis oleh para ahli di bidangnya yang isinya sesuai dengan tujuan pembelajaran dan dilengkapi perangkat yang mendukung proses pembelajaran. Fungsi buku teks dalam pembelajaran adalah . menyajikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan . menyajikan pokok bahasan yang sesuai minat dan kebutuhan siswa . menyediakan sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan dalam pembelajaran . menyajikan buku pendamping yang berisi metode-metode untuk meningkatkan minat siswa . memberikan latihan-latihan atau soalsoal sebagai evaluasi . ada alat evaluasi untuk mengukur hasi belajar dengan tepat. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi menyediakan Buku Panduan Guru atau BPG dan Buku Panduan Siswa ATAU BPS dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku pendidikan yang bermutu, murah, dan merata sesuai dengan amanat dalam UU No. 3 Tahun 2017. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Buku Panduan Guru dan Buku Panduan Siswa di Kurikulum Merdeka ini meliputi berbagai mata pelajaran salah satunya adalah mata pelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah yang diharapkan pada kurikulum merdeka adalah pembelajaran sejarah yang mengutamakan kemampuan berpikir kritis dan kronologis sesuai sifat sejarah yang sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila. Mata pelajaran sejarah yang mendekatkan peserta didik pada identitas Penelitian ini memfokuskan pada analisis asesmen pembelajaran di Buku Panduan Guru dan Buku Panduan Siswa Tingkat SMA/MA. Pemilihan jenjang sekolah SMA/MA sesuai dengan nama mata pelajaran sejarah yang ada di tingkat SMA/MA, untuk tingkat SMP/MTs materi sejarah masuk dalam mata pelajaran IPS. Sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam aturan pembelajaran di sekolah menengah, dijelaskan bahwa proses pembelajaran sejarah berfungsi untuk melahirkan pemahaman dan kesadaran sejarah tentang sejarah nasional Indonesia mulai dari awal peradaban bangsa sampai masa reformasi . ttps://w. Pengembangan kurikulum merdeka salah satunya dengan peningkatan Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Menengah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 958/P/2020. Selaras dengan hal itu asesmen pembelajaran yang dibutuhkan pada kurikulum merdeka tentu berbeda dengan asesmen pembelajaran yang dilakukan di kurikulum Berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) pembelajaran dan asesmen merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan pada proses pembelajaran yang sudah disiapkan. Asesmen berfungsi untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran yang sudah berlangsung apakah berjalan sesuai rencana dan tujuan atau tidak. Asesmen yang digunakan paling utama adalah asesemen formatif untuk mengetahui hasil kompetensi siswa. Asesmen adalah tahapan penting dalam proses pembelajaran, asesmen pembelajaran perlu dilakukan karena ada beberapa pihak yang mempunyai kepentingan terhadap hasil belajar seperti guru, orang tua, siswa, dan pemerintah. Baxter . alam Suwandi, 2011: . menyampaikan beberapa alasan pentingnya asesmen dalam pembelajaran yaitu untuk mengetahui . perbedaan antara siswa yang satu Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . dengan siswa yang lain, . apakah proses pembelajaran sudah memenuhi standar yang diinginkan, . apakah pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan program yang telah direncanakan. Asesmen pembelajaran bisa dilaksanakan dengan berbagai macam cara seperti tertulis atau lisan. Perangkat yang digunakan pun bermacam-macam seperti asesmen menggunakan kertas pada umumnya, berbasis web atau aplikasi tertentu yang mendukung. Salah satu penelitian yang mengangkat tema asesmen berbasis web adalah penelitian yang dilakukan pada mata Pelajaran Sejarah di MAN 1 Pekanbaru (Dandi, dkk. Asesmen yang dilakukan adalah ujian berbasis web dengan menerapkan kriteria tertentu untuk tetap menjaga kualitas asesmen yang dilakukan seperti adanya kriteria penilaian, tim coordinator, dan tim teknisi. Asesmen dalam bentuk ujian berbasis web ini tentu saja dilakukan dengan tujuan untuk mengukur hasil belajar siswa selama satu semester. Penelitian ini akan melakukan analisis pada asesmen pembelajaran yang tertuang pada Buku Panduan Guru (BPG) dan Buku Panduan Siswa (BPS). Buku Panduan Guru (BPG) dipakai oleh guru untuk membantu dalam mengajar mata pelajaran sejarah. Buku Panduan Siswa (BPS) dipakai oleh siswa untuk belajar tentang mata pelajaran sejarah. Buku yang dipakai terdiri dari BPG dan BPS Sejarah terbitan terbaru sesuai dengan kurikulum merdeka yaitu Kelas X karangan Sari Oktafiana. BPG dan BPS Kelas XI karangan Martina Safitry, dkk. BPG dan BPS Sejarah Kelas XII karangan Martina Safitry, dkk. Buku-buku ini diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi pada tahun 2021 dan 2022. Buku-buku ini bisa diakses oleh guru dan siswa secara bebas dan gratis di internet. Metode Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian deskriptif analisis kualitatif lebih tepatnya adalah studi dokumen. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui suatu kejadian atau fenomena tertentu di masyarakat (Sahir, 2021: . Penelitian ini dilakukan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan waktu penelitian selama delapan bulan dari mulai bulan Februari sampai September 2024. Penelitian ini menggunakan sumber data dokumen. Dokumen yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah . Buku Panduan Guru dan Buku Panduan Siswa Mata Pelajaran Sejarah Tingkat SMA/MA yang diterbitkan oleh Kementeriaan Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi Tahun 2022 . Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga terkait di bawah naungan Kementeriaan Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi tentang Kurikulum Merdeka dan implementasinya. Pada penelitian ini selain menggunakan dokumen Buku Panduan Guru dan Buku Panduan Siswa, peneliti juga mengecek sumber data dari regulasi-regulasi yang berlaku mengenai kebijakan kurikulum merdeka dan faktor pendukungnya seperti asesmen pembelajaran kurikulum merdeka. Dari sumber-sumber tersebut akan dideskripsikan, dikategorisasikan mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana yang paling spesifik dari sumber-sumber tersebut. Pada penelitian ini peneliti akan merangkum, memilih dan memfokuskan hanya pada data-data mengenai asesmen pembelajaran yang tercantum di Buku Panduan Guru dan Buku Panduan Siswa. Hasil Dan Pembahasan Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Buku Panduan Guru (BG) berisi petunjuk yang menjelaskan tentang tata cara mengajar, pelaksanaan pembelajaran termasuk bagaimana asesmen atau penilaiaan pembelajaran akan dilakukan. Buku Siswa (BS) berisi tentang materi pelajaran, rangkuman, dan juga asesmen pembelajaran. Pada BG dan BS terdapat terdapat key questions atau pertanyaan kunci pada setiap temanya. Key questions ini berguna Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. untuk mendorong siswa mempelajari materi yang akan disampaikan. Asesmen pada BG dan BS dilakukan berdasarkan dokumen, observasi, dan hasil portofolio siswa selama proses pembelajaran. Asesmen pembelajaran yang dilakukan pada BG dan BS terdiri dari 2 bentuk yaitu asesmen diagnostik dan asesmen formatif. Asesmen formatif terdiri dari asesmen diri dan asesmen sumatif. Asesmen disajikan melalui beberapa pertanyaan untuk mengukur capaian baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Selain itu ada juga lembar aktifitas untuk merekam aktifitas selama pembelajaran Lembar aktifitas yang digunakan pun beragam, ada yang menggunakan gambar atau non Untuk lembar aktifitas non gambar biasanya menggunakan diagram atau tabel. Asesmen lain yang digunakan dalam pembelajaran adalah soal dalam bentuk cerita. Penggunaan soal cerita pada pembelajaran mempunyai peranan yang penting, terutama dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan aplikasi konsep yang telah dipelajari oleh siswa. Soal cerita melatih siswa tidak hanya memahami tapi juga mengkritisi. Soal cerita yang digunakan di BG dan BISA tidak hanya model esay tapi juga pilihan ganda. Selain itu asesmen juga dilakukan berupa rekomendasi proyek pembelajaran sebagai metode untuk mengevaluasi suatu materi pembelajaran. akhir pembelajaran guru meminta siswa untuk melakukan refleksi diri. Isi refleksi diri bisa berupa hal-hal baru yang telah dipelajari oleh siswa atau hal menarik yang mereka dapatkan selama belajar. Atau bisa juga tentang manfaat mempelajari materi yang telah dibahas. Guru memberikan penugasan kepada siswa yang bentuknya beragam salah satunya adalah tugas dengan lembar aktifitas yang sudah disiapkan oleh Contoh penugasan misalnya siswa diminta untuk melakukan penelitian sejarah sederhana dengan berkelompok dua-dua. Siswa kemudian menyusun pertanyaan dan mengidentifikasi alur dalam melakukan penelitian sejarah. Asesmen yang dilakukan dalam hal ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian pemahaman siswa berdasarkan aspek pengetahuan tentang materi yang telah dipelajari. Asesmen diberikan dengan menyajikan soal analisis agar siswa terbiasa berpikir kritis dan analitis. Hal lain yang dapat dilakukan adalah, guru memberikan siswa suatu contoh kasus untuk didiskusikan dan dicarikan jalan keluarnya dengan sumber sejarah yang kredibel. Misalnya siswa diminta untuk mendiskusikan teori masuknya Islam ke Indonesia. Siswa disajikan sumber primer dan sekunder, dengan begitu mereka akan belajar menganalisi, sumber mana yang paling kredibel dan sesuai dengan fakta Siswa tidak hanya paham tentang teori masuknya Islam ke Indonesia namun juga mengetahui dari mana fakta tersebut didapatkan. Pada BG terdapat kunci jawaban untuk setiap soal yang diberikan pada siswa. Bahkan untuk aspek penilaian baik itu kognitif, afektif dan psikomotorik telah disediakan Kunci jawaban yang ada memberikan acuan atau standar yang jelas tentang apa yang diharapkan dari jawaban tersebut. Guru dapat menggunakan kunci jawaban untuk menilai apakah siswa sudah memahami materi yang telah diajarkan. Di akhir buku terdapat penjelasan tentang pelaksanaan asesmen yang dapat dilakukan secara individu setiap guru. Guru dapat merumuskan capaian pembelajaran pada lembar evaluasinya. Guru dapat melakukan asesmen secara lisan dengan cara bertanya langsung pada siswa mengenai apa saja yang sudah mereka pahami dan tidak mereka pahami tentang materi yang diajarkan. Guru dapat menggunakan model SWOT untuk mengukur kemampuan, kekurangan dan jalan keluar apa yang bisa Penilaian yang dilakukan untuk mengukur hasil belajar siswa selama pembelajaran. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah kompetensi yang dihasilkan sesuai dengan capaian pembelajaran. Aspek yang dinilai adalah aspek pengetahuan yaitu kemampuan memahami materi contohnya memahami peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia secara kronologis, aspek ketrampilan yaitu kemampuan dalam menghasilkan sesuatu karya contohnya siswa mampu menulis artikel pendek tentang sejarah desanya atau persitiwa penting di Indonesia, dan aspek afektif yaitu kemampuan siswa dalam bersikap selama proses pembelajaran contohnya disiplin dan tepat waktu serta mampu bekerja sama dengan teman-teman dalam berkelompok di kelas. Aspek afektif atau sikap yang lain yang bisa dinilai misalnya, meliputi, kejujuran, daya juang . etahanan, ketekuna. , integritas dan kerja sama selama proses Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Secara keseluruhan. BG ini memiliki petunjuk remidial sehingga memberikan kesempatan peserta didik memperbaiki proses belajar yang belum tercapai. Pada BG remedial yang dilakukan menggunakan 3 pendekatan yaitu . Adaptif adalah pendekatan yang disesuaikan dengan keadaan siswa, misal guru menggunakan media yang tersedia di sekolah dan mudah didapat sehingga tidak membebani siswa secara ekonomi . Interaktif adalah pendekatan yang menekankan hubungan guru dan siswa sebagai teman belajar, guru memberikan motivasi agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran . Fleksibel adalah pendekatan yang memberikan ruang bagi guru menggunakan waktu secara fleksibel dalam usaha mencapai tujuan belajar. Kegiatan asesmen yang lain dengan menggunakan lembar aktifitas adalah siswa diminta membaca beberapa artikel tentang peristiwa sejarah atau tokoh-tokoh kemudian siswa diminta untuk menganalisis manfaat yang didapatkan, setelah itu siswa diminta untuk menuliskan jawaban di buku atau media lain. Siswa juga bisa menyajikan artikel tentang beberapa tokoh penting dan meminta siswa untuk mencari teladan apa yang bisa diambil dari tokoh tersebut. Di bagian akhir BS terdapat penilaian diri dalam bentuk tabel yang harus diisi oleh siswa. Penilaian diri membantu siswa untuk lebih mengenal kekuatan, kelemahan, minat, dan nilai-nilai pribadi. Dengan menyadari area yang perlu ditingkatkan, siswa bisa lebih fokus untuk berkembang. Terdapat kuesioner DESCA dari Merrill Harmin dan Melanie Toth yaitu Pembelajaran Aktif yang Menginspirasi. Pada model evaluasi ini siswa diminta untuk menilai dirinya sendiri dari beberapa segi seperti martabat, energi, manajemen diri, teman dalam kelas, dan juga kepedulian. Hasil analisis asesmen pada BG dan BS meliputi 3 ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berikut ini hasil analisis asesmen pembelajaran pada BG dan BS dalam bentuk tabel hasil analisis asesmen: Tabel 1: Asesmen berbasis kognitif No. Asesmen Contoh Menuliskan Siswa menulis dan menyampaikan pendapat tentang sumber Menyampaikan pendapat Siswa menyampaikan pendapat Menanya Siswa menanyakan tentang materi yang dibahas Menjawab Siswa menjawab pertanyaan guru atau teman Membaca Siswa membaca dari berbagai sumber sejarah Membandingkan Siswa membandingkan fakta-fakta sejarah yang ada Mengerjakan Siswa mengerjakan lembar aktivitas pada buku siswa Menyusun Siswa menyusun pertanyaan disampaikan di depan kelas Mengajukan Siswa mengajukan pertanyaan Mengidentifikasi Siswa mengindentifikasi karakteristik prasejarah yang ada di Indonesia Membuat Siswa membuat lini masa peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia Mencari Siswa mencari sumber sejarah yang dapat menunjang Menyeleksi sumber Siswa menyeleksi sumber sejarah mana yang primer dan Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti manusia-manusia (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Menyimpulkan Siswa menyimpulkan materi yang telah dibahas di kelas Menetapkan Siswa menetapkan jawaban Menarik Siswa menarik kesimpulan Mengumpulkan Siswa mengumpulkan sumber sejarah dari berbagai jenis sumber apakah itu cetak, elektronik, dan lain-lainnya Mengelola/mengolah Siswa mengolah sumber sejarah yang sudah mereka kumpulkan, dan memilah sesuai dengan kronologis peristiwa yang diteliti Memilih Siswa memilih informasi yang akan disampaikan Mengorganisasikan Siswa mengorganisasikan semua informasi yang didapatkan Menafsirkan Siswa menafsirkan fakta-fakta sejarah yang didapatkan Menganalisis Siswa menganalisis hubungan antara perkembangan paham nasionalisme di dunia dengan kemerdekaan Indonesia Berpikir kritis Siswa berpikir kritis tentang banyaknya teori tentang masuknya Islam ke Indonesia Menyusun laporan Siswa membuat laporan tentang aktifitas penelitian sejarah sederhana yang sudah mereka lakukan Mempresentasikan Siswa mempresentasikan hasil penugasan dengan menggunakan berbagai media Melakukan penelitian Siswa melakukan penelitian sederhana desa/wilayah mereka masing-masing Mengamati Siswa mengamati topik yang hendak diteliti Menentukan Siswa menentukan jawaban yang tepat Menulis Siswa menulis tulisan esai dan lainnya Mengevaluasi Siswa mengevaluasi isu-isu kontroversial pada sejarah Indonesia seperti isu mengenai Budi Utomo dan Sarekat Islam, manakah yang layak disebut pioner organisasi pergerakan nasional Mengomunikasikan Siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pemikiran mereka tentang isu sejarah Indonesia Menyajikan Siswa dapat menyajikan hasil pemikiran mereka melalui media lain seperti media sosial kekinianatau koran dan majalah baik cetak atau online Membuat Siswa membuat hasil karya baik secara manual maupun digital misalnya infografis tentang manusia-manusia prasejarah di Indonesia masa megalitikum Tabel 2: Asesmen berbasis afektif No. Asesmen Menunjukkan sikap Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti Contoh Siswa menunjukkan sikap dan pandangan yang mencintai (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . bangsa Indonesia, sesuai dengan nilai nilai Pancasila Menyadari Siswa menunjukkan sikap kesadaran tentang kebinekaan Indonesia yang multi agama dan multi ras Memupuk Siswa memupuk semangat gotong-royong peserta didik Mandiri Siswa memiliki kemandirian Tepat waktu Siswa mengumpulkan tugas tetap waktu Kesadaran Siswa memiliki kesadaran sejarah Rasa bangga Siswa memiliki rasa bangga atas kegemilangan masa lalu bangsa Indonesia Nilai-nilai Siswa memiliki nilai-nilai kebinekaan dan gotong-royong Moralitas Siswa memiliki nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan lingkungan Refleksi Siswa mampu mengambil hikmah atau pelajaran berharga yang didapatkan setelah mempelajari materi Tabel 3: Asesmen berbasis psikomotorik No. Asesmen Contoh Mengamati Siswa melakukan pengamatan terhadap benda bersejarah dari berbagai masa Merefleksikan Siswa melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilakukan, misalnya mengambil hikmah dari suatu peristiwa Merencanakan Siswa merencanakan proyek pembuatan makalah Menghasilkan karya Siswa menghasilkan karya yang orisinil dalam bentuk cetak atau non cetak, dibuat manual atau dengan bantuan alat aplikasi Melakukan Siswa melakukan sosiodrama dari membuat naskah sampai pentas drama peristiwa rengasdengklok. Siswa menyanyikan lagu-lagu nasional Kelebihan dan Kekurangan Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Kelebihan asesmen pembelajaran dalam BG dan BS adalah pertama, adanya pendekatan holistik karena asesmen dalam Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada penilaian kompetensi, bukan hanya hasil akhir. Dengan demikian, penilaian tidak hanya mencakup pengetahuan faktual, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kreatifitas, serta sikap dan nilai yang diperoleh siswa. Hal ini memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang perkembangan siswa. Kedua, pendekatan fleksibilitas yang memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan asesmen. Guru dapat menyesuaikan metode asesmen dengan karakteristik siswa, konteks lokal, dan dinamika kelas. Misalnya, asesmen berbasis proyek atau portofolio lebih dimungkinkan dalam pendekatan ini. Ketiga, keterlibatan siswa dalam proses Pada Kurikulum Merdeka, asesmen tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa dalam proses refleksi diri, self-assessment, dan peer-assessment. Hal ini mendorong siswa untuk lebih Ipong Jazimah. Sumiyatun Septianingsih. Riva Hartanti (Asesmen Pembelajaran pada Buku Panduan Guru dan Buku Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kurikulum Merdek. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. June 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka, serta mengembangkan kemampuan metakognitif . emampuan untuk berpikir tentang berpiki. Sementara kekurangan asesmen pembelajaran dalam BG dan BS adalah adanya tantangan dalam implementasi yaitu guru yang belum terbiasa dengan pendekatan asesmen yang beragam dan berkelanjutan, mungkin merasa kesulitan. Asesmen yang lebih kompleks membutuhkan keterampilan dan pemahaman yang mendalam dari guru untuk mengelolanya dengan Kekurangan lain adalah metode asesmen memerlukan waktu yang cukup banyak, baik dari sisi guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan asesmen, maupun dari sisi siswa untuk menyelesaikan tugastugas yang lebih mendalam. Selain itu, kurangnya sumber daya . isalnya, teknologi atau bahan ajar yang memada. dapat menjadi kendala. Simpulan Asesmen pembelajaran dalam buku panduan ini menekankan pada pendekatan yang holistik, yang tidak hanya menilai pengetahuan faktual, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kreatifitas, serta sikap dan nilai siswa. Penilaian berkelanjutan, berbasis kompetensi, dan menggunakan berbagai metode asesmen seperti proyek, portofolio, serta penilaian diri dan teman sejawat, dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kemajuan siswa. Buku panduan memberikan ruang bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses asesmen melalui refleksi diri, self-assessment, dan peer-assessment. Hal ini berpotensi untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap proses belajar mereka dan mengembangkan kemampuan Meski asesmen berbasis kompetensi menawarkan banyak manfaat, implementasinya di lapangan menghadapi tantangan, terutama terkait dengan kesiapan guru dan keterbatasan sumber daya. Guru yang belum terbiasa dengan metode asesmen yang lebih kompleks mungkin mengalami kesulitan dalam melaksanakan asesmen secara efektif dan objektif. Asesmen yang berbasis kualitatif, meskipun fleksibel, memiliki risiko penilaian yang lebih subyektif, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat mengurangi keakuratan dan konsistensi hasil asesmen antar siswa, bahkan antar sekolah. References