Jurnal WIDYA LAKSMI | http://jurnalwidyalaksmi. Vol 1 | No 1 | Januari 2021 e-ISSN : 2775-0191 | p-ISSN : 2774-9940 | DOI : 0000000000 Penerbit : Yayasan Lavandaia Dharma Bali PERISAI DIRI (PELATIHAN KELOMPOK REMAJA HINDARI SEX BEBAS DAN PERNIKAHAN DINI) Made Ririn Sri Wulandari1. Gede Arya Bagus Arisudhana2. Made Tangkas3. Made Oktaviani Bulan Trisna4. Ni Luh Indri Astuti5. Ni Made Sri Utari6 Departemen Keperawatan Maternitas. Program Studi Keperawatan. STIKES Bina Usada Bali Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Keperawatan. STIKES Bina Usada Bali 4,5,6 Program Studi Keperawatan. STIKES Bina Usada Bali Padang Luwih. Badung. Indonesia e-mail: maderirinsw@gmail. Received : December, 2020 Accepted : Januari, 2021 Published : Januari 2021 Abstrak Masa tahap perkembangan remaja memiliki masa perkembangan yang pesat baik fisik maupun psikologis. Masa remaja juga sering terjadi krisis identitas yang membuat remaja bingung untuk menentukan benar atau salah tindakan yang dilakukannya. Remaja merupakan salah satu potensi yang besar sebagai kelompok produktif, namun jika seorang remaja kehilangan arah maupun salah dalam bergaul maka menyumbang angka tertinggi dalam kerentanan terhadap perilaku menyimpang dan beresiko. Tujuan dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk membentuk kader remaja di Banjar Batu Culung. Kerobokan dan mengurangi angka kejadian pernikahan dini serta seks bebas dikalangan remaja. Pelatihan diberikan kepada 30 anak remaja selama 3 hari pemberian materi dan selama 1 bulan untuk pendampingan peer education kepada remaja lainnya di lingkungan sekitar yang belum mendapatkan pelatihan. Hasil dari kegiatan yang dilakukan bahwa tedapat peningkatan pengetahuan kader dari 43% menjadi 57% terkait kesehatan reproduksi secara menyeluruh. Evaluasi akhir keberhasilan pelatihan ini adalah tim pelaksana mampu menyiapkan peer education yang baik untuk masyarakat sekitar terutama remaja. Kata kunci : remaja, pernikahan dini, peran teman sebaya, seks bebas Abstract The development stage of adolescents has a period of rapid development, both physically and psychologically. Adolescence is also often an identity crisis that makes teenagers confused to determine right or wrong actions they Adolescents are one of the great potentials as a productive group, but if a teenager loses direction or gets along wrongly, it contributes to the highest number of susceptibility to deviant and risky behavior. The purpose of this community service is to form youth cadres in Banjar Batu Culung. Kerobokan and reduce the incidence of early marriage and free sex among adolescents. Training was given to 30 teenagers for 3 days of providing materials and for 1 month for peer education assistance to other youth in the neighborhood who had not received The results of the activities carried out were that there was an increase in knowledge of cadres from 43% to 57% related to overall reproductive health. The final evaluation of the success of this training is that the implementation team is able to prepare good peer education for the surrounding community, especially teenagers. Key words: adolescence, early marriage, peer role, free sex Pendahuluan Masa remaja merupakan salah satu terjadinya periode pertumbuhan dan perkembangan yang pesat terkait fisik, psikologis, maupun intelektual. Pada masa ini, para remaja memiliki rasa keingintahuan yang besar, seperti menyukai tantangan dan petualangan, serta tidak banyak yang berani menanggung resiko atas perbuatannya tanpa pertimbangan yang matang. Menurut World Health Organization (WHO), remaja dikategorikan individu yang memiliki rentang usia 10-19 tahun. Sedangkan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dikategorikan remaja jika memiliki usia rentang 10-24 tahun serta belum menikah (Kemenkes, 2. Menurut data demografi 1 dari 4 penduduk di Indonesia populasinya adalah remaja . ,19 juta Jurnal Widya Laksmi (Jurnal Pengabdian Masyaraka. | 26 jiw. , sehingga remaja yang masih dalam proses perkembangan baik dalam bersikap maupun berperilaku saat terjadinya krisis identitas atau pencarian jati diri cenderung beresiko kerentanan dalam perilaku menyimpang dan beresiko (Agustina. Rida. ST et al. , 2. Berdasarkan data survei Litbang Kesehatan yang bekerjasama dengan Unesco juga menunjukkan bahwa sebanyak 5,6% remaja di Indonesia telah melakukan seks pranikah, 96,7% telah terpapar pornografi dan 3,7% mengalami adiksi pornografi, hal tersebut akan menurunkan kualitas remaja dan meningkatkan resiko pada kesehatan reproduksinya karena dapat mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan, tindakan aborsi, pernikahan usia muda, bahkan hingga terjangkit penyakit menular seksual (BKKBN, 2018. SDKI, 2. Pernikahan usia muda selain menimbulkan masalah dalam sosial seorang remaja, juga seringkali menimbulkan resiko kesehatan dan pada umumnya dialami oleh remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki (Desiyanti, 2. Data Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia tahun 2017 dari Kementerian Pemuda dan olahraga, menunjukkan adanya peningkatan pada angka kehamilan remaja di Bali yang meningkat hingga dua kali lipat sebesar Kecenderungan remaja berperilaku seksual yang menyimpang dipengaruhi oleh sikap dan pengetahuan yang menyeluruh terhadap seksual, sehingga dapat dikatakan bahwa munculnya niat pada remaja untuk melakukan perilaku seksual yang berisiko atau tidak berisiko disesuaikan dengan sikap dan pengetahuan yang dimiliki remaja Hal ini dibuktikan dari salah satu penelitian oleh Setitit . yang meneliti tentang antara interaksi teman sebaya dengan perilaku seksual pada remaja dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan kata lain semakin positif arah hubungan interaksi teman sebaya maka semakin tinggi pula tingkat perilaku seksual pra nikah. Hasil penelitian Utomo dan McDonald juga menjelaskan bahwa dorongan melakukan seks pranikah terus menerus adalah melalui materi seksual di media cetak, internet, serta melalui teman sebaya. Isu yang masih diperdebatkan sampai saat ini mencakup motivasi utama remaja untuk melakukan inisiasi. Berdasarkan Theory of Planned Behavior. Social Learning Theory. Diffusion of Innovations Theory, dan Ideation Model, teman sebaya berperan penting sebagai determinan utama dari perilaku (Utomo & McDonald, 2. Data survei yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bali tahun 2017, juga diketahui bahwa 5 dari 10 remaja yang berpacaran telah melakukan hubungan seksual. Pencegahan berupa edukasi sangat dibutuhkan oleh remaja milenial saat ini. Dalam perkembangannya, remaja milenial tentu berbeda cara pandang dan pola pikirnya jika dibandingkan dengan remaja era sebelumnya, maka dari itu diperlukan juga inovasi untuk mensiasati hal Hasil analisis situasi yang tim pelaksana lakukan di Banjar Batuculung. Kelurahan Kerobokan, didapatkan data sekitar 1 dari 20 remaja mengalami kasus pernikahan dini dengan alasan yang sangat berisiko, yaitu seks bebas. Perilaku berisiko dan kurangnya pengawasan dari orang tua adalah faktor yang pendukung dari terjadinya pernikahan dini dalam masyarakat Banjar ini. Seks bebas yang berujung pada pernikahan dini ini akan memberikan dampak bagi remaja itu sendiri dan juga Remaja yang akhirnya hamil akan menerima sanksi berupa sanksi sosial yang akan mengganggu psikologis remaja itu sendiri. Selain itu, ada sanksi dari pihak sekolah apabila ada siswa atau siswinya yang menikah ketika masih mengenyam masa pendidikan. Hal ini tentunya telah merenggut kebebasan remaja dalam melanjutkan pendidikan, dan dapat berujung terhadap kehidupannya dimasa mendatang. Kurangnya pengetahuan mengenai seks bebas dan pendewasaan usia pernikahan tentunya sangat diperlukan remaja sebagai pertahanan diri dan senjata untuk menghadapi era globalisasi saat ini. Untuk itu diperlukan adanya pemberian pendidikan kesehatan melalui pelatihan kepada kader remaja yang diharapkan akan memberikan dampak positif untuk masa depan remaja dimasa akan datang. Metode Metode dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah dengan memberikan pelatihan kepada kader remaja di Banjar Batuculung. Kelurahan Kerobokan Kaja sebagai upaya untuk meminimalisirkan permasalahan pada remaja dengan seks bebas dan pernikahan dini, dengan adanya pelatihan para kader dapat pengetahuan cara untuk menghindari seks bebas dan pernikahan dini di Banjar Batuculung Kelurahan Kerobokan Kaja. Khalayak sasaran strategis dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah 30 orang kader remaja. Metode kegiatan yang dilakukan adalah melakukan pre-test, memberikan ceramah dan FGD (Focus Group Discussio. , brainstorming kasus-kasus, dan terakhir melakukan post-test. Pelaksanaan pre-test dan post-test menggunakan aplikasi quiziz untuk menarik perhatian remaja dalam menjawab soal bertemakan Pelaksanaan dimulai pada bulan Agustus 2019, proses pelaksanaan pelatihan dalam pemberian materi PERISAI DIRI selama 3 hari, dilanjutkan dengan pendampingan kader remaja selama rentang waktu sebulan dalam memberikan Kegiatan pelatihan dilakukan dengan tahap persiapan dari pengurusan ijin, pertemuan awal, menetapkan jadwal dan kerjasama tim pelaksana, lalu dilanjutkan tahap pelaksanaan selama 3 hari Jurnal Widya Laksmi (Jurnal Pengabdian Masyaraka. | 27 terkait apersepsi materi kesehatan reproduksi, brainstorming dengan menayangkan video edukasi reproduksi beserta contoh dampak dari melakukan seks bebas dan pernikahan dini, melakukan pre-test dan post-test. Setelah satu bulan masa pendampingan kader remaja, tim pelaksana pengabdian melakukan evaluasi proses kegiatan dan hasil pelatihan kader remaja Hasil dan Pembahasan Setelah dilaksanakan kegiatan PERISAI DIRI (Pelatihan Kelompok Remaja Hindari Sex Bebas Dan Pernikahan Din. , dalam kegiatan tersebut tim memberikan pelatihan pada kader remaja berupa kesehatan reproduksi, memberikan brainstorming dengan menayangkan video dan peserta diberi kesempatan menelaah dan mendiskusikan video tersebut, menjelaskan konsep reproduksi dan pernikahan dini, menjelaskan penyakit infeksi menular seksual, melakukan evaluasi proses kegiatan dengan melakukan pre-test dan post-test selama pelatihan di awal sesi dan dakhir sesi. Gambar 2. Modul PERISAI DIRI Pada gambar 2 merupakan modul yang digunakan sebagai bahan latihan para kader remaja, yang materinya berisikan tentang konsep kesehatan reproduksi, pernikahan dini dan kehamilan, infeksi menular seksual. Pada materi infeksi menular seksual terdapat juga penjelasan mengenai HIV/AIDS, infeksi pada saluran reproduksi dan juga pencegahan seks bebas. Adapun hasil dari evaluasi pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pelatihan selama 3 hari, yaitu terdapat peningkatan pengetahuan dari para kader remaja selama pelatihan, dapat dilihat dalam bagan berikut ini. Pre Test Post Test Gambar 3. Peningkatan hasil pre-test dan post-test pelatihan kader remaja terhadap kesehatan Gambar 1. Foto bersama peserta kader remaja dan Kelian Dinas saat kegiatan PERISAI DIRI Sesuai dengan sasaran strategis dalam pelaksanaan pengabdian ini, terdapat 17 kader remaja perempuan dan 13 kader remaja laki-laki yang mengikuti pelatihan hingga akhir. Hasil luaran dalam penelitian ini adalah berupa buku modul PERISAI DIRI yang dapat digunakan oleh para kader remaja peserta pelatihan dalam memberikan pengetahuannya terkait kesehatan reproduksi ke teman sebayanya. Pada gambar 3 dapat terlihat bahwa pengetahuan kader remaja terkait kesehatan reproduksinya mengalami peningkatan dari keberhasilan dalam menjawab soal dan kasus sebesar 43% menjadi naik 57%. Berdasarkan hasil dari pelatihan tersebut, dapat dikatakan bahwa kader remaja sudah terdapat dasar sebagai peers education . dukasi teman sebay. Pada masa remaja sering terjadi berbagai konflik yang dapat merugikan remaja itu sendiri, apabila mereka mengalami sebuah konflik dan tidak dapat menyelesaikannya dengan cara yang tepat, hal tersebut akan mengakibatkan mereka jatuh dalam perilaku yang berisiko dengan menanggung akibat jangka panjang maupun jangka pendek dalam berbagai masalah kesehatan fisik dan psikososial. Permasalahan yang sering terjadi pada remaja masa kini salah satunya adalah pernikahan dini. Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh sepasang pria dan wanita remaja, yang umurnya belum mencapai 21 tahun. Pernikahan muda seringkali menimbulkan risiko kesehatan bagi remaja, yang pada umumnya risiko terbesar didapatkan oleh remaja perempuan daripada remaja laki-laki (Desiyanti, 2. Oleh sebab itu, pengetahuan tentang masalah kesehatan reproduksi Jurnal Widya Laksmi (Jurnal Pengabdian Masyaraka. | 28 harus diberikan secara optimal kepada semua remaja baik laki-laki maupun perempuan. Pada kelompok usia remaja, rata-rata keingintahuan mereka sangat tinggi termasuk mencoba hal-hal yang beresiko, dan orang yang paling tepat menjawab ketidaktahuan remaja dan keingintahuan remaja adalah orang terdekat mereka. Orang terdekat yang paling tepat adalah orang tua, karena orang tua adalah orang yang seharusnya paling mengenal siapa anaknya, apa kebutuhannya dan bagaimana memenuhinya. Selain itu, orang tua merupakan pendidik utama, pendidik yang pertama serta pendidik yang terakhir bagi anaknya (BKKBN. Orangtua sering menghadapi kesulitan untuk membicarakan masalah seksual kepada anak remajanya, begitu pun sebaliknya. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orangtuanya tentang masalah seksualitas, mereka cenderung memiliki sikap permisif terhadap hubungan seksual. Diskusi