EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational IMPLEMENTASI KETERAMPILAM BERPIKIR KRITIS DALAM PERENCANAAN PEMBELAJARAN DI ERA PENDIDIKAN 4. NI WAYAN SUARNIATI Universitas Wisnuwardhana Malang e-mail: wayankeke@wisnuwardhan. ABSTRAK Keterampilan berpikir kritis sangat penting dalam era pendidikan 4. 0 di mana peserta didik harus mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan menyelesaikan masalah kompleks yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah derasnya arus informasi yang tersedia di media sosial yang dapat diakses dengan mudah. Keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan dalam pembelajaran yang diawali dengan penyusunan rencana Perencanaan pembelajaran yang baik sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan, pengelolaan kelas dan evaluasi, namun belum semua guru dapat mengimplementasikan keterampilan berpikir kritis dalam perencanaan pembelajaran, karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman guru tentang keterampilan berpikir kritis dan implementasinya dalam penyusunan perencanaan pembelajaran. Rancangan penelitian ini deskriptif kualitatif, dengan subyek delapan orang guru dan tiga puluh dokumen perencanaan pembelajaran. Teknik pengumpulan datanya adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumen dengan anylisis dokumen dan trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memaknai keterampilan berpikir kritis adalah ketika siswa mampu menganalisis informasi, siswa banyak bertanya, dapat memberi jawaban dengan lancar, dapat menjelaskan pertanyaan guru dengan baik, menjawab soal dengan rinci, dalam diskusi siswa aktif, dapat membuat kesimpulan dan menilai jawaban teman melalui argumentasi yang masuk akal, mempertanyakan kembali jawaban dan semakin ceriwis siswa berarti siswa semakin kritis. Hasil penelitian juga menggambarkan bahwa rata-rata hanya 48,75% guru dapat mengimplementasikan keterampilan berpikir kritis dalam perencanaan pembelajaran terutama pada tujuan, model/mytode dan penilaian pembelajaran. Kata Kunci: berpikir kritis, perencanaan pembelajaran ABSTRACT Critical thinking skills are very important in the era of education 4. 0 where students must be able to analyze information, evaluate arguments, and solve complex problems that occur in everyday life amidst the rapid flow of information available on social media which can be accessed easily. Critical thinking skills can be developed in learning which begins with preparing a learning plan. Good learning planning is very important to achieve educational goals, classroom management and evaluation, but not all teachers can implement critical thinking skills in learning planning, therefore this research aims to describe teachers' understanding of critical thinking skills and their implementation in preparing learning plans. This research design was descriptive qualitative, with eight teachers as subjects and thirty learning planning documents. The data collection techniques are in-depth interviews, observations and documents with document analysis and data triangulation. The results of the research show that teachers interpret critical thinking skills as when students are able to analyze information, students ask a lot of questions, can give answers fluently, can explain the teacher's questions well, answer questions in detail, students are active in discussions, can make conclusions and evaluate friends' answers. through reasonable arguments, questioning answers and the more intelligent students are, the more critical they are. The research results also Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational illustrate that on average only 48. 75% of teachers can implement critical thinking skills in learning planning, especially in learning objectives, models/methods and assessment. Keywords: critical thinking, learning PENDAHULUAN Pendidikan 4. 0 adalah konsep yang mengintegrasikan teknologi canggih, keterampilan abad ke-21, dan pendekatan pembelajaran yang inovatif untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin kompleks dan berbasis teknologi. Salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam abad ke 21 adalah keterampilan berpikir kritis dan pemecahan Keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah menjadi sangat penting dalam Pendidikan 4. 0 di mana peserta didik harus mampu menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan menyelesaikan masalah kompleks yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah derasnya arus informasi yang tersedia di media sosial yang dapat diakses dengan Menurut Manurung dan Slamet . era pendidikan 4. 0 harus dapat beradaptasi dengan tuntutan seperti kebutuhan akan literasi digital dan Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang di dalamnya memuat keterampiklan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Kemudahan dalam mengakses informasi disamping memberikan dampak positif juga berdampak negative bagi siswa maupun lingkungannya. Dampak negative tersebut antara lain kecanduan, bullying, penyebaran informasi palsu . , kesepian, kesehatan mental hingga kejahatan. Hampir setiap hari media massa menayangkan kasus-kasus yang berkenaan dengan hal tersebut di atas yang dilakukan oleh siswa SMP/SMA yang tentunya patut menjadi perhatian dan keprihatinan bagi dunia endidikan. Kunci keberhasilan sebuah sistem pendidikan itu ada pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas-kelas, sebagus apapun kurikulumnya dan programnya kalau pembelajaran yang dilaksanakan di kelas-kelas belum maksimal masih dengan pola pikir yang lama atau dengan paradigma yang lama tentu saja outputnya juga tidak maksimal (Damiati. Junaedi dan Asbari. Karena itu pelaksanaan pembelajaran yang baik niscaya harus dipersiapkan oleh guru di mana proses dan hasil pembelajaran yang baik dimulai dari perencanaan yang baik pula. Secara teoritis, pentingnya perencanaan pembelajaran dapat dilihat dari berbagai perspektif yang menggabungkan prinsip-prinsip pedagogi, teori pembelajaran, dan praktik terbaik. Perencanaan yang baik sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan, pengaturan dan pengelolaan kelas, evaluasi hasil belajar siswa. Pentingnya perencanaan pembelajaran terhadap hasil belajar siswa dikemukakan oleh Patel. , & Garcia. yang menyatakan bahwa perencanaan yang terstruktur mempengaruhi hasil belajar siswa. Demikian juga Khan. Siraj and Ilyas . mengungkapkan juga dampak signifikan dan positif dari perencanaan pembelajaran terhadap prestasi akademik siswa karena dengan menerapkan rencana pembelajaran yang terstruktur dengan baik dan menarik, para pendidik dapat mengoptimalkan pengalaman mengajar dan belajar, yang mengarah pada hasil pendidikan yang lebih baik. Namun dalam kenyataannya perencanaan pembelajaran yang disusun oleh guru-guru belum sepenuhnya dapat mengintegrasikan keterampilan berpikir kritis dengan baik. Berdasarkan hasil survey awal terhadap tiga puluh dokumen perencanaan pembelajaran (RPP/Modul Aja. yang disusun, hanya tiga dokumen yang dapat mengintegrasikan keterampilkan berpikir kritis dalam perencanaan pembelajaran dan tujuh orang guru yang paham dengan keterampilan berpikir kritis serta dapat mengintegrasikannya dalam Namun dari dokumen dan hasil wawancara yang dilaksanakan menunjukkan bahwa dalam perencanaan pembelajaran yang disusun belum memperlihatkan keterkaitan antara tujuan, kegiatan dan evaluasi dari integrasi keterampilan berpikir kritis yang diharapkan. Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk . Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational mendeskripsikan pemahaman guru terhadap keterampilan berpikir kritis, . mendeskripsikan impelementasi keterampilan berpikir kritis melalui penyusunan perencanaan pembelajaran. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang didasarkan pada fenomena, pengalaman atau realitas sosial secara mendalam dan holistik. Digunakannya rancangan kualitatif karena fokus penelitian ini adalah berkenaan dengan makna dan perspektif guru terhadap keterampilan berpikir kritis dan implementasinya dalam penyusunan perencanaan pembelajaran. Berdasarkan pada fokus penelitian tersebut di atas, maka subyek dalam penelitian ini adalah guru dengan kriterian inklusi pada pengalaman dalam menyusun dan melaksanakan perencanaan pembelajaran. Penetapan subyek dilakukan secara purposive . urposive samplin. homogen yaitu subyek yang dipilih secara sengaja dengan karakteristik yang berfokus pada pengalaman spesifik guru dalam perencanaan pembelajaran. Mengingat fokus penelitian yang spesifik, maka subyek yang ditetapkan adalah delapan orang guru, empat guru SMP dan empat guru SMA. Guna menjaga etika dan integritas dalam penelitian, maka peneliti meminta ijin, menjamin kerahasiaan dan menyampaikan bahwa penelitian ini sesuai dengan kaidah yang berlaku serta bermanfaat dalam pembelajaran. Metode pengumpulan datanya adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumen. Pedoman wawancara memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan pemahaman berpikir kritis dalam konteks perencanaan dan implementasinya. Pedoman wawancara juga disusun untuk mengetahui kebijakan yang diambil sekolah dalam implementasi berpikir kritis dalam perencanaan khususnya di era digital. Pedoman observasi untuk melihat/mengamati cara guru dalam mengimplementasikan keterampilan berpikir kritis dalam perencanaan Sedangkan data dari dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perencanaan pembelajaran yang tersusun dalam RPP/Modul Ajar yang disusun oleh guru dengan fokus utama pada tujuan/capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran dan evaluasi/penilaian. Pada evaluasi pembelajaran dokumen yang diperlukan adalah rubrik penilaian berpikir kritis dengan indikator yang jelas dan terukur. Dokumen yang dianalisis dalam kegiatan ini adalah tiga puluh RPP/Modul Ajar, dimana sejumlah enam belas RPP/Modul Ajar disusun oleh subyek dalam penelitian ini dan sisanya dari dokumen yang digunakan di dua sekolah tersebut. Analisis data diawali dengan pengumpulan data, penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan dengan analisis dokumen dan trianggulasi data. Analisis dokumen dimaksudkan untuk menganalisis integrasi keterampilan berpikir kritis dalam dokumen perencanaan pembelajaran, sedangkan analisis trianggulasi dimaksudkan untuk memvalidasi temuan dengan membandingkan data dari wawancara, observasi, dan analisis dokumen untuk memastikan konsistensi dan keandalan hasil yang telah diperoleh. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian pada delapan orang guru dan tiga puluh rencana pembelajaran tentang pemahaman terhadap kecakapan berpikir kritis dan mengimplementasikannya dalam perencanaan pembelajaran digambarkan dalam tabel berikut: No. Tabel 1. Keterampilan Berpikir Kritis Menurut Guru Aspek Persentase Pentingnya berpikir kritis bagi guru Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Pentingnya berpikir kritis bagi siswa Paham tentang makna berpikir kritis Indikator berpikir kritis Penerapan berpikir kritis dalam tujuan pembelajaran Penerapan berpikir kritis dalam model pembelajaran Penerapan Penerapan berpikir kritis dalam penggunaan media Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang berpikir kritis dan pengimplementasiannya dalam perencanaan pembelajaran rata-rata 48,75%. Namun demikian baik guru maupun peserta didik memandang bahwa berpikir kritis sangat penting dikembangkan dalam era Pendidikan 4. 0 ini agar dapat bersaing dalam kehidupan masyarakat, bersaing untuk dunia kerja, cerdas menerima dan mengolah informasi tidak mudah terprovokasi isu-isu negative yang dapat merusak dan membahayakan keselamatan diri dan lingkungannya dan dapat menciptakan lapangan kerja. Makna berpikir kritis menurut guru adalah ketika siswa mampu menganalisis informasi, siswa banyak bertanya, dapat memberi jawaban dengan lancar, dapat menjelaskan pertanyaan guru dengan baik, menjawab soal dengan rinci, dalam diskusi siswa aktif, dapat membuat kesimpulan dan menilai jawaban teman melalui argumentasi yang masuk akal. Berpikir kritis juga dimaknai oleh guru sebagai mempertanyakan kembali jawaban, semakin ceriwis siswa berarti siswa semakin kritis. Namun secara keseluruhan, jika di rata-rata hanya tujuh orang . %) yang dapat memberikan penjelasan tentang indikator berpikir kritis dengan lancar. Pemahaman tentang indikator ini sangat penting pada saat perencanaan pembelajaran, pelaksanaan dan penilaian. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa berpikir kritis penting dalam penyusunan rencana pembelajaran baik itu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menurut K13 maupun Modul Ajar menurut kurikulum merdeka belajar. Secara umum perencanaan pembelajaran didefinisikan sebagai seperangkat rencana pembelajaran yang memberi arahan bagi guru materi apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Menurut para guru, perbedaan penyusunan rencana pembelajaran pada kurikulum 2013 (RPP) dengan kurikulum merdeka (Modul Aja. tidak terlalu banyak, perbedaan yang paling nyata terletak pada sistematika dan istilah-istilah yang digunakan. Penyusunan perencanaan pembelajaran pada RPP didasarkan pada penyusunan kompetensi dasar sedangkan pada Modul Ajar didasarkan pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Tentang tujuan pembelajaran, model pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran dan assemen/penilaian pada prinsipnya sama. Berkenaan dengan penelitian ini pada dokumen perencanaan yang disusun guru, kecakapan berpikir kritis terutama harus dimunculkan dalam penentuan tujuan pembelajaran, model/strategi pembelajaran dan evaluasi. Meskipun tujuan pembelajaran itu dianggap sangat penting oleh guru dalam perencanaan pembelajaran namun dari 30 dokumen yang dicermati tujuan pembelajaran yang memuat kecakapan berpikir kritis hanya delapan atau 27%. Selebihnya belum memuat kecakapan berpikir kritis sebagai tujuan yang harus dicapai dalam kegiatan pembelajaran dimana tujuan pembelajaran yang disusun masih pada level berpikir tingkat rendah yang ditunjukkan oleh penggunaan kata kerja operasional dalam RPP seperti kata menyebutkan dan menjelaskan saja. Kecakapan berpikir berpikir kritis akan nampak jika kata kerja operasional yang disematkan pada tujuan pembelajaran berkisar pada kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasikan dalam taksonomi Bloom yang padan tahun 2021 direvisi oleh Krathwohl dan para ahli aliran kognitivisme. Hasil revisi ini yang kita kenal dengan nama Revisi Taksonomi Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Bloom. Revisi yang dibuat hanya pada ranah kognitif dengan menggunakan kata kerja yang dimulai dengan mengingat, memahami, mengapliksikan (Low Order Thinking Skill. , menganalisis, mengevaluasi, mengkreasi (High Order Thinking Skill. Para guru kesulitan dalam menetapkan tujuan pembelajaran yang bermuatan keterampilan berpikir kritis sebagai High Order Thinking Skills karena belum memahami makna dan indikator berpikir kritis dengan baik dan juga implementasinya dalam perencanaan pembelajaran. Pada dokumen yang diteliti, para guru sudah ada yang menetapkan tujuan pembelajaran dengan kata AuanylisisAy yang hanya dimaknai dengan merinci suatu informasi tanpa menemukan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan kata AuevaluasiAy yang dimaknai sebagai penilaian terhadap informasi atau pernyataan seseorang tanpa dapat menjelaskan pada saat apa evaluasi nampak dalam pembelajaran. Penerapan berpikir kritis dalam rencana pembelajaran juga tercermin dalam penggunaan model-model pembelajaran melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang didalamnya ada kolaborasi untuk memecahkan masalah. Dari rencana pembelajaran yang diteliti sejumlah 10 atau 33% dokumen telah menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan menggunakan mytode diskusi dan presentasi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa metode diskusi dan presentasi yang terdapat pada rencana pembelajaran tersebut belum jelas maksud, guna dan peruntukannya sehingga terkesan hanya untuk memenuhi kelengkapannya saja. Dari sepuluh dokumen tersebut, hanya tiga yang menggunakan model-model pembelajaran inovatif seperti Problem Based Learning (PBL) atau Project Based Learning (PjBL) dengan sintaks pembelajaran yang jelas dan lengkap. Kelengkapan sintaks atau langkah-langkah pembelajaran akan sangat membantu guru sebagai skenario yang jelas dan terukur untuk membantu dalam pelaksanaan pembelajaran yang baik. Bagian yang juga tak kalah pentingnya dalam rencana pembelajaran adalah asesmen/penilaian. Penilaian pembelajaran sangat terkait dan menjadi satu kesatuan dengan proses pembelajaran. Penilaian pembelajaran dijadikan acuan untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran yang mendukung pengembangan karakter peserta didik dan sebagai ruang bagi peserta didik agar mendapat umpan balik atas proses pembelajaran yang telah Karena itu penilaian pembelajaran harus direncanakan dengan baik dengan memperhatikan ketercapaian tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik . emampuan kognitif, afektif, sosial budaya dan wilayah geografi domisiliny. sehingga penilaian yang dilaksanakan efektif dan efisien terutama jika dikaitkan dengan umpan balik untuk pembelajaran selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya lima atau 17% dari dokumen perencanaan pembelajaran yang dicermati menilai kecakapan berpikir kritis terutama yang berhubungan tujuan pembelajaran yang memuat kata kerja anylisis. Dari lima dokumen tersebut hanya tiga yang menyusun instrumen berpikir kritis dengan lengkap yaitu membuat rubrik berpikir kritis di mana di dalamnya memuat indikator, kriteria, dan skor yang jelas serta form berpikir kritis yang memuat nama peserta didik dengan skor dari indikator yang telah Pembahasan Berbagai literatur menuliskan bahwa berpikir kritis sangat penting dalam rangka pengembangan keterampilan akademik dan profesional, kemandirian dalam belajar, mengembangkan motivasi dan inovasi, pengambilan keputusan, pengembangan pribadi dan kesejahteraan serta persiapan untuk memasuki dunia sosial. Hasil penelitian Suarniati. Hidayah. Handarini . memaparkan setidaknya ada empat alasan pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam dunia pendidikan yaitu: . berpikir kritis mengajarkan siswa untuk menghargai orang lain sebagai bentuk pendidikan moral. mempersiapkan siswa untuk Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational tumbuh dewasa agar dapat memahami dirinya sendiri ditengah-tengah derasnya arus informasi. sebagai tujuan utama pendidikan misalnya melalui mata pelajaran matematika, sains, seni, sejarah dan kewarganegaraan. Keempat, mengakomodasi keakuratan analisis, pemikiran yang baik, dan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan demokrasi. (Lai, 2. memaparkan bahwa berpikir kritis penting dan esensial di tempat kerja karena berkaitan dengan kemampuan untuk menganalisis masalah-masalah yang kompleks, menyelidiki pertanyaan, mengevaluasi berbagai sudut pandang atau sumber informasi, dan menarik kesimpulan yang tepat. Secara umum berpikir kritis dimaknai sebagai proses kognitif yang terdiri dari kecakapan mengamati, mendeskripsikan, menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi, masalah, atau situasi untuk mendapatkan kesimpulan yang dapat diandalkan, yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau menemukan solusi secara rasional (Tommasi. Ricardo,. Tantangan dan peluang baru di era digital memerlukan reevaluasi ulang tentang bagaimana pemikiran kritis dipupuk. Kecerdasan manusia dan kemampuan berpikir kritis adalah aspek yang berkaitan dengan kecakapan kognitif yang berperan penting serta menjadi dasar dalam pembentukan pemahaman kita tentang dunia dan memberi arah dalam memandu proses pengambilan keputusan. (Moustaghfir. Brigui. , 2. Hasil penelitian (Nurfazri. Irwansyah. Fahmy Lukman F. , et. all, 2. menyimpulkan bahwa keterampilan berpikir kritis sangat penting dalam rangka melawan berita hoaks atau misinformasi. Lebih jauh ditekankan pula pula mengingat rendahnya literasi digital masyarakat Indonesia, maka penerapan metode literasi digital dan keterampilan berpikir kritis mendesak diintegrasikan melalui lembaga pendidikan atau kebijakan-kebijakan yang lebih formal. Pentingnya peran guru dalam mengambangkan kecakapan berpikir kritis dipaparkan oleh (Chaerani. Harianto. , et al. , 2. yang menuliskan bahwa dalam era digital guru harus diberi pelatihan pedagogi digital sebagai kunci dalam mendukung penggunaan teknologi secara aktif dan kritis. Karena itu program literasi digital tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis tetapi juga menekankan pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Dengan menjembatani kesenjangan antara integrasi teknologi dan keterlibatan siswa, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan inklusif guna mempersiapkan siswa untuk memasuki era digital. Implementasi kecakapan berpikir kritis dimulai dengan menyusun perencanaan pembelajaran yang baik. Rencana pembelajaran yang baik sangat penting dalam mengarahkan pembelajaran agar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan (Kemendibudristek, 2. Selanjutnya dipaparkan juga bahwa rencana pembelajaran sebagai panduan guru dalam melaksanakan pembelajaran niscaya menyertakan informasi mengenai tujuan pembelajaran, materi ajar, rincian kegiatan dan durasi, alat dan bahan, strategi belajar yang akan digunakan, rencana penilaian atau asesmen, hingga evaluasi pembelajaran. Tujuan pembelajaran menjadi sangat penting dalam perencanaan pembelajaran karena menentukan arah pembelajaran agar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dari siswa. Oleh sebab itu guru harus dapat memastikan bahwa tujuan pembelajaran yang disusun telah ,memenuhi kriteria: . minimal mengukur dua dari tiga ranah/domain yang diharapkan . anah kognitif, afektif atau . setiap satu tujuan memuat satu kata kerja operasional yang dapat diukur/diamati, . disusun dengan jelas audiennya, perilaku yang diukur, metode yang digunakan dan hasil yang diharapkan. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diukur dengan melakukan asesmen pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru belum dapat menerapkan perencanaan pembelajaran yang tepat untuk mengembangkan kecakapan berpikir kritis. Hal senada juga diungkapkan oleh (FaqeAbdulla. , 2. yang menganalisis rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru sebagian besar kurang efektif. Elemen penting yang berkenaan dengan tujuan Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pembelajaran yang jelas dan keselarasan dengan hasil belajar, penerapan penilaian formatif, penilaian sumatif, penggunaan teknologi dan penciptaan aktivitas yang menarik dan penggunaan strategi pembelajaran belum nampak jelas dalam perencanaan pembelajaran yang Direkomendasikan pula bahwa guru harus memperhatikan elemen-elemen penting tersebut dengan menggabungkan praktik terbaik guna meningkatkan prestasi belajar siswa. Selanjutnya implementasi keterampilan berpikir kritis juga dapat dilakukan melalui penggunaan model/strategi/metode pembelajaran yang tepat. Karena itu penting bagi guru untuk memahami dan menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dengan sintaks yang jelas dan terukur sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat mewujudkan tujuan yang telah Berbagai model/strategi/metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis antara lain cognitive map (Prayitno. Suarniati: Problem Based Learning/PBL (Suarniati, 2019. Kusumaningtias. Zubaidah. Indriwati. Sulaiman. ,2013. Widyaningtyas, et. Masek and Yamin. Hasil penelitian Suarniati . membuktikan bahwa PBL lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMK pada mata pelajaran PPKN dibandingkan model pembelajaran konvensional. Keterampilan berpikir kritis juga dapat dikembangkan melalui teknik Socratic Questioning (Abdullah. , 2022. Nappi, 2. Project Based Learning (Rochmawati. Tafakur. Retnawati. Shukri, 2. Paparan di atas membuktikan bahwa keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif, pertanyaan terbuka dan pemecahan Kegiatan selanjutnya adalah mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah memuat keterampilan berpikir kritis. Penilaian sebagai bagian penting dari rencana pembelajaran selalu terkait dan menjadi satu kesatuan dengan proses pembelajaran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kecakapan guru dalam penilaian keterampilan berpikir kritis sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh kemampuan guru untuk memahami konsep dan indikator berpikir kritis yang rendah, sehingga di dalam pelaksanaan pembelajaran juga kurang terarah yang berakibat kesulitan dalam menyusun penilaian. Pada instrumen penilaian, indikator keterampilan berpikir kritis harus jelas tergambar dalam rubrik yang dibuat sehingga memudahkan dalam pemberian skor/pengukurannya. Kecermatan dalam penetapan indikator akan menentukan ketercapaian tujuan pembelajaran dan umpan balik yang dibutuhkan untuk perencanaan pembelajaran selanjutnya. Hal ini sejalan dengan paparan Kemdikbudristek . yang menuliskan bahwa penilaian ini penting sebagai acuan untuk melihat ketercapaian tujuan pembelajaran yang mendukung pengembangan karakter peserta didik dan sebagai ruang bagi peserta didik agar mendapat umpan balik atas proses pembelajaran yang dilaksanakan. Mengingat pentingnya penilaian dalam rencana pembelajaran, maka dalam penyusunannya harus memperhatikan prinsip-prinsip asesmen/penilaian, yaitu . Penilaian merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran, dan penyedia informasi yang holistik, sebagai umpan balik untuk pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya. Penilaian dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran. Penilaian dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya . untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai selanjutnya. Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut. Hasil penilaian digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Jika kita merujuk pada prinsip Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 4 November 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational penilaian di atas, maka penilaian yang dirancang oleh guru harus mempertimbangkan hasil pembelajaran yang dicapai pada saat asesmen diberikan dan juga menjadi dasar bagi peserta didik untuk terus mengembangkan diri dan memperbaiki proses belajar sehingga proses belajar pada pertemuan berikutnya dapat semakin memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan Beberapa peneliti telah mengembangkan instrumen untuk menilai keterampilan berpikir Penilaian yang digunakan untuk mendeskripsikan profil keterampilan berpikir kritis peserta didik antara lain instrumen kecakapan berpikir kritis untuk siswa SMK pada mata pelajaran Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan yang dikembangkan oleh Suarniati. Hidayah. Handarini . , dengan lima dimensi Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal (WGCTA) yaitu Inference. Recognition. Assumption. Deduction. Interpretation dan Evaluation of Arguments. Asesemen yang dirancang ini diwujudkan dalam bentuk instrument berpikir kritis yang telah memperoleh hak cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor EC00201859655, 17 Desember 2018. Penelitian Ramadhani dan Wasis . juga telah mengembangkan assessment for learning untuk materi fluida statis di SMA. Widya Ayu Paramitha. Nurwahyunani. Mulyaningrum. Jamali . mengembangkan instrumen penilaian kinerja pada tugas praktik dan produk berbasis PBL, melalui lembar kerja siswa sebagai alternatif pengukuran kemampuan berpikir kritis pada domain inferensi, pengenalan asumsi, deduksi, interpretasi, dan evaluasi argumen. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menganggap berpikir kritis sangat penting untuk dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran, namun kurang memahami makna dan indikator berpikir kritis yang diperlukan dalam penyusunan rencana pembelajaran. Rencana mengimplementasikan keterampilan berpikir kritis dalam tujuan pembelajaran, langkahlangkah/mytodo pembelajaran dan penilaian. Implementasi keterampilan berpikir kritis dalam tujuan pembelajaran menjadi sulit karena guru kurang memahami pentingnya dan mekanisme penulisan tujuan pembelajaran. Demikian juga dalam penetapan strategi pembelajaran di mana guru kurang memahami strategi/metode pembelajaran yang dapat mendorong keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran. Strategi/metode tersebut antara lain PBL. PjBL. Socratic Questioning, pertanyaan terbuka dan pemecahan masalah. Pada penilaian pembelajaran yang disusun dalam perencanaan belum semua dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Guru memiliki keleluasan dalam membuat instrumen penilaian sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Beberapa peneliti telah mengembangkan instrumen untuk menilai keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran seperti, instrumen penilaian berbasis Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal, assesement learning, dan instrumen berbasis PBL. Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil penelitian untuk para guru adalah . meningkatkan wawasan dan pemahaman tentang kecakapan yang dibutuhkan dalam pendidikan seperti HOTS. TPACK, kolaborasi dan komunikasi, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi secara bijak, . meningkatkan kompetensi guru dengan mengikuti pelatihan, diskusi teman sejawat, aktif dalam MGMP dan tekun menulis karya ilmiah yang berkenaan dengan tugas dan kewajiban masing-masing. terampil dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mendokumentasikan kegiatan atau karya yang dihasilkan. DAFTAR PUSTAKA