JPFT - volume 11, nomor 2, pp. Agustus 2023 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnal. id/index. php/jpft PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS FENOMENA TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 PARIGI TENGAH The Influence Of Phenomena Based Learning Model On Crotical Thinking Skills Of SMA Negeri 1 Parigi Tengah Students Afika Asfa. Heruddin Program Studi Pendidikan Fisika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Palu. Indonesia latoririafikaasfa@gmail. Kata Kunci Model Pembelajaran Berbasis Fenomena Keterampilan Berpikir Kritis. Keywords Phenomenon-Based Learning Models. Critical Thingking A2023 The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 Abstrak Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis fenomena terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 1 Parigi Tengah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksperimen menggunakan metode Quasi Eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Subyek pada penelitian ini yaitu siswa kelas XI MIPA yang berjumlah 59 orang. Siswa kelas eksperimen berjumlah 30 orang dan siswa kelas kontrol berjumlah 29 orang. Instrumen keterampilan berpikir kritis berupa tes pilihan ganda yang divalidasi melalui validitas ahli. Pengambilan data yang dilakukan menggunakan instrumen penelitian berupa Tes Pilihan Ganda, dan Analisis data menggunakan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas serta pengujian hipotesis menggunakan uji Independent sampel t-test yang dianalisis menggunakan SPSS Statistics versi 25. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan nilai signifikan 0,02 < 0,005 maka menerima hipotesis yayca dan menolak yaycu , artinya bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran berbasis fenomena terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik. Abstract The purpose of this research is to know the influence of Phenomenon-based learning models to critical thingking skill of students in SMA Negeri 1 Parigi Tengah. This type of research is an Experimental quantitative using Quasi Experiment method with Nonequivalent Control Group Design. The subject in this research is the students class XI MIPA, totaling 59 people. There were 30 experimental class students and 29 control class students. The critical thinking skill instrument is in the form of a multiple choice test which is validated through expert validity. Data collection was carried out using research instruments in the form of Multiple Choice Tests, and data analysis using prerequisite tests, namely normality tests and homogeneity tests and hypothesis testing using Independent sample t-test tests which were analyzed using SPSS Statistics version 25. Based on the results of this study showed a significant value of 0 . 005 then accept the hypothesis Ha and reject Ho, meaning that there is an effect of the phenomenon-based learning model on students' critical thinking skills. Received 05/04/2023. Revised 10/05/2023. Accepted 15/06/2023. Available Online 31/08/2023 *Corresponding Author: fisika@yahoo. Sehingga melalui jenjang pendidikan peserta didik dapat berguna di lingkungan masyarakat serta berguna bagi nusa dan bangsa (Nahir and Nurdiniah 2. Pendidikan adalah suatu tempat untuk meningkatkan mutu dan keterampilan peserta Peningkatan mutu serta keterampilan pendidikan peserta didik harus diimbangi dengan peningkatan para pendidik. Peran pendidik merupakan faktor pendukung majunya pendidikan di suatu daerah untuk melahirkan generasi-generasi baru yang berkualitas. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan mengalami perkambangan pengetahuan dan teknologi, dimana pendidikan memiliki peranan penting manusia karena pendidikan dapat menjadikan manusia berilmu dan hidup sejatera, melalui pendidikan peserta didik dapat mengembangkan potensi yang ada dalam diri tentunya dilakukan dengan usaha yang telah direncanakan dengan sistematis. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Strategi ini akan digunakan pada pembelajaran dapat tercapai (Akhir et al. Sering pembelajaran berlangsung secara monoton, yaitu hanya guru yang aktif selama proses Guru tidak menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini akan berdampak pada kurangnya pengalaman peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dan keterampilan berpikir kritis Hal mengakibatkan peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan (Ashar. Nurpadilah, and Jamilah 2. Hasil observasi awal menunjukan di SMA Negeri 1 Parigi Tengah metode mengajar guru masih menggunakan model ceramah, sehingga kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis sulit untuk digunakan. Model pembelajaran dengan ceramah yaitu dimana guru dalam proses belajar mengajar terus menerus memberikan materi pelajaran dan hanya sedikit melibatkan peserta didik. Hal ini berakibat pada keterampilan berpikir kritis peserta didik, keterampilan berpikir peserta didik menjadi lambat dalam peningkatannya karena menyampaikan pendapat ketika mendapatkan Didukung oleh pencapaian rata-rata nilai ujian semester genap 2021/2022 peserta didik 67 % . Vol. No. 2, pp. Agustus berbasis fenomena terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 1 Parigi TengahAy. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan peneliti ini adalah penelitian eksperimen kuasi . Design digunakan dalam penelitian ini adalah jenis Nonequivalent Control Group Design. Group Eksperimen Kontrol Pretest Perlakuan XA Posttes BA Teknik Analisa Data Analisis Instrumen Validitas Ahli Suatu instrument dikatakan valid apabila instrument tersebut dapat mengukur apa yang Pada . udgment exper. Soal serta hasil yang telah dibuat dikonsultasikan kepada ahli kemudian divalidasi dan direvisi. Vadilitas soal yang dinilai oleh validator adalah . kesesuaian antara indicator dan butir soal, . kejelasan bahasa atau gambar dalam soal, . kesesuaian soal dengan tingkat kemampuan peserta didik . kebenaran materi atau konsep. Sering terdengar keluhan peserta didik mengenai beban pelajaran yang harus mereka ikuti disekolah. Peserta didik dituntut unruk mengetahui segala hal yang terdapat pada kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu. Analisis Data Hasil Penelitian Uji Peningkatan Hasil Tes Untuk mengetahui peningkatan hasil tes keterampilan berpikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran berbasis fenomena maupun kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvesional dihitung berdasarkan skor N-gain. Untuk memperoleh skor N-gain digunakan rumus yang dikembangkan oleh (Hake, 1. ycI OeycI yci = ycI ycyycuycyc OeycIycyycyce ycu100% pendidikan harus membekali mereka dengan kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Kemampuan tersebut adalah kemampuan keterampilan berpikir kritis. (Zaini and Rusmini 2. Keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui menghubungkan secara langsung pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari serta melibatkan peserta didik dalam kegiatan proses belajar Model yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran serta jenis materi yang diajarkan. Kurang tepatnya menggunakan model pembelajaran, dapat menimbulkan kebosanan, atau bahkan peserta didik kesulitan dalam melatih tingkat berpikir. (Saharil 2. Berdasarkan urain diatas, maka penulis dengan judul Aupengaruh model pembalajaran ycoycaycoyc ycyycyce Keterangan : ycIycyycuycyc : Skor tes akhir ycIycyycyce : Skor tes awal ycIycoycaycoyc : Skor maks ideal Tebel 3. 1 Kriteria Tingkat Gain Tingkat Gain (%) Kriteria Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online g > 70 55 Ou g < 69 g < 50 Vol. No. 2, pp. Agustus Tinggi Sedang Rendah Tabel 2 Hasil Uji Ngain Uji Normalitas Data Uji normalitas yang di gunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Adapun perhitungan yang di gunakan dalam uji Lillierfors (Kolmogrov-Smirno. menggunakan bantuan komputer program IBM SPSS Statistics 25 . Uji Homogenitas Uji perbedan antara dua atau lebih populasi. Semua karakteristik populasi dapat bervariasi antara satu populasi dengan yang lain. Sebelum dilakukan penelitian populasi harus dalam keadaan homogen agar dalam pengambilan Untuk mengetahui homogenitas melakukan uji homogenitas yang dapat di lakukan dengan berbantuan komputer program IBM SPSS Statistics 25 . Uji Hipotesis Menurut Arinkunto. MaAoasi, . jika nilai signifikansi yang diperoleh Ou . maka menerima hipotesis Nol ( ya0 ) dan menolak hipotesis Alternative . ayca ). Sebaliknya jika nilai signifikansi < . maka menolak ya0 dan menerima yayca . Adapun uji hipotesi yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan uji perbedaan rata-rata uji Independent samples test, dengan bantuan komputer program IBM SPSS Statistics versi Dengan pasangan hipotesis : H0: (AA1 = AA. tidak terdapat perbedaan model pembelajaran advance organizer berbantuan peta konsep terhadap hasil belajar fisika siswa. H1:AA1 < AA2 . terdapat perbedaan model pembelajaran berbasis fenomena terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik Tabel 3 Hasil Uji Normalitas data kelas eksperimen dan Tabel 4 Uji Homogenitas Tabel 5 Uji Hipotesis Berdasarkan data pada tabel 4. ycEaycnycycycuyci = 2. 391 Ou ycycycaycayceyco = 2. 002 dan nilai ycEaycnycycycuyci berada pada daerah penerimaan yayca . Dengan demikian yayca diterima dan ya0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh keterampilan berpikir kritis antara kelas XI MIPA 1( kelas eksperime. dan XI MIPA 2. elas Pembahasan Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi dengan penerapan menguji signifikansi perbedaan keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran fisika antara kelas menggunakan metode eksperimen yang mendapatkan model pembelajaran berbasis fenomena dengan kelas yang mendapatkan pembelajaran discovery learning. Pada proses pembelajaran setiap pertemuan diberikan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun, dalam hal ini, semua perangkat Penelitian membandingkan keterampilan berpikir kritis HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Keterampilan berpikir kritis peserta didik Hasil pengolahan data tes untuk masingmasing kelas, diperoleh nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata dan standar deviasi seperti terlihat pada table 1 Tabel 1 Skor Hasil Tes Keterampilan Berpikir Kritis Peserta didik Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online peserta didik sebelum dan setelah diajar berbasis fenomena pada materi fluida dinamis, terhadap suatu kelas 59 peserta didik yang terdiri dari 2 kelas pada SMA Negeri Parigi Tengah. Tahap-tahap berbasis fenomena yang menggunakan 5 fase meneliti, membantu investigasi mandiri dan mempresentasikan hasil, menganalisis dan kehidupan sehari-hari. Lima fase pada model pembelajaran berbasis fenomena ini sangat berpengaruh untuk meningkatkan indikator Ae indicator keterampilan berpikir kritis yaitu pertanyaan tentang suatu penjelasan. Berikut hubungan fase pada model meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada peserta didik. Fase penelitian yang membuat keterampilan berpikir kritis peserta didik pada kelas eksperimen memiliki perbedaan dengan pembelajaran konvesional dimulai pada fase ke dua, ketiga, keempat yaitu guru membagikan LKDP untuk selanjutnya dikerjakan oleh peserta Saat LKPD dibagikan guru akan menjelaskan masalah yang disajikan pada LKPD sebagai bahan bantuan untuk mempermudah Setelah selanjutnya ada pada peserta didik untuk mulai mendiskusikan dengan teman kelompoknya kemudian menyelesaikan tugas sesuai petunjuk yang diberikan. Diskusi antar teman kelompok ini membuat siswa memberikan penjelsanpenjelasan sederhana. Setelah itu masuk ke fase kelima yaitu guru mempertegas kembali jawaban setiap kelompok yang telah menjawab dan guru meberikan soal evaluasi individu untuk mengetahui kemempuan peserta didik setelah selesai melaksanakan pembelajaran. Keterampilan berpikir kritis pada kelas pembelajaran konvesional memiliki perbedaan hasil dari keadaan awal, namun perbedaannya lebih kecil dibandingkan kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran berbasis Hal ini disebabkan pembelajaran direct instruction atau pembelajaran langsung langkah-langkah pembelajarannya berpusat pada guru orientasi, presentase semua dilakukan oleh guru sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran Vol. No. 2, pp. Agustus serta pada model pembelajaran ini tidak ada tahap yang memungkinkan terjadinya interaksi antar peserta didik. Hasil analisis pretest menunjukkan bahwa rata-rata eksperimen adalah 33 dan untuk kelas Nilai rata-rata yang diperoleh tidak beda jauh antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol sehingga dapat dikatakan bahwa kedua kelas memiliki kemampuan awal Selanjutnya pembelajaran yang bebeda di kedua kelas pembelajaran yang berbeda. Dimana kelas eksperimen menggunaan model pembelajaran berbasis fenomena dan untuk kelas kontrol Hasil analisis posttest menunjukan bahwa rata-rata eksperimen adalah 76. 33 dan untuk kelas data posttest berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen, (Independent samppel t tes. dan didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan hasil dari tes keterampilan berpikir antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji normalitas posttest diperoleh nilai untuk kelas eksperimen yaitu 0. 169 dan nilai posstest untuk kelas kontrol 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai posttes pada kedua kelas > dari taraf signifikan 0. sehingga keduannya berasal dari populasi yang terdistribusi normal. Hasil uji homogenitas dua varians pretest dan posttest dari kedua kelas eksperimen dan kontrol diperoleh nilai varians 022 dan 0. Berdasarkan hasil tersebut dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh bahwa 022 > 0. 05 dan 0. 323 > 0. berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan varians antara kelas eksperimen dan kelas kontrol atau dengan kata lain varians antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama atau homogen. Hasil uji hipotesis diperoleh signifikansi Independent Sample T Test 0,02 < 0,05. Karena nilai signifikan t-test < . ,02 < 0,. maka yayca diterima dan yaycu Artinya bahwa terdapat pengaruh dari terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA Negeri 1 Parigi Tengah. Hasil rata-rata yang diperoleh pada keterampilan berpikir kritis peserta didik yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis fenomena lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan berpikir kritis peserta didik yang Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Hal ini relevan dengan penelitian sebelumnya yang diteliti oleh (Pareken. Patdanean, dan Palloan 2. menunjukan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis fenomena lebih baik dibandingkan dengan keterampilan hasil belajar peserta didik peserta didik yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Penelitian yang dilakukan oleh (Saharil 2. menyimpulkan bahwa penggunaan model mendukung terjadinya proses belajar bermakna bagi siswa. Hal tersebut disebabkan, karena mendapatkan pembelajaran melalui fenomenafenomena kehidupan sehari-hari. sehingga lebih mudah memahami dan mengingatnya yang ditunjukan dengan kemampuan menjawab benar tes keterampilan berpikir kritis di kelas eksperimen lebih banyak di bandingkan dengan kelas kontrol. Pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran berbasis fenomena merupakan alternatif untuk melatih tingkat keterampilan peserta didik karena dengan metode ini peserta didik mampu melihat sekaligus memperagakan secara langsung mengenai suatu yang sedang Vol. No. 2, pp. Agustus model pembelajaran yang lebih bervariasi khususnya model pembelajaran berbasis fenomena sehingga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Bagi Fasean pembelajaran pada model pembelajaran maksimal, diperlukan pengalokasian waktu dengan sebaik-baiknya. Bagi peserta didik, hendaknya untuk lebih menumbuhkan sikap kerja sama, tidak raguragu untuk mengemukakan pendapat serta lebih aktif dan lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran Fisika DAFTAR PUSTAKA