Urecol Journal. Part B: Economics and Business Vol. 5 No. eISSN: 2797-1902 Training on Saving and Recording Money from an Early Age with Creative Paralon Piggy Banks and Financial Literacy for Students at Muhammadiyah Kramatsari Elementary School Nailatun Niami1 . Nadina Intania Ramadhanti2. Fachrurrazi3. Feri Risqi Ardiyansah4 Muhammad Arifiyanto5 1,2,3,4,5,Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Indonesia nailaniami2004@gmail. https://doi. org/10. 53017/ujeb. Received: 07/08/2025 Revised: 03/09/2025 Accepted: 02/11/2025 Abstract The habit of saving and recording money from an early age is one of the important provisions in forming a wise attitude in managing finances. However, in reality, elementary school-aged children generally still have a low awareness of the importance of saving and are not accustomed to recording their expenses and income. The lack of financial education from an early age means that many children do not understand simple ways to manage their pocket money. Based on these conditions, a community service activity was designed that aims to provide basic financial training through a creative and fun approach. One of them is by introducing saving activities through making piggy banks from pralon material and teaching how to record daily money simply. This activity is designed to make students more interested and easy to understand the importance of managing finances from an early age. Keywords: Children . Education . Saving . Recording Money Pelatihan Menabung dan Mencatat Uang Sejak Dini dengan Kreasi Celengan Paralon dan Literasi Keuangan untuk Siswa SD Muhammadiyah Kramatsari Abstrak Kebiasaan menabung dan mencatat uang sejak dini merupakan salah satu bekal penting dalam membentuk sikap bijak dalam mengelola keuangan. Namun, pada kenyataannya, anak-anak usia sekolah dasar umumnya masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap pentingnya menabung dan belum terbiasa mencatat pengeluaran maupun pemasukan mereka. Minimnya edukasi keuangan sejak usia dini membuat banyak anak tidak memahami cara sederhana dalam mengelola uang saku. Berdasarkan kondisi tersebut, dirancang sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk memberikan pelatihan keuangan dasar melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan. Salah satunya adalah dengan mengenalkan kegiatan menabung lewat pembuatan celengan dari bahan pralon serta mengajarkan cara mencatat uang harian secara Kegiatan ini dirancang agar siswa lebih tertarik dan mudah memahami pentingnya mengatur keuangan sejak dini. Kata kunci: Anak. Edukasi. Menabung. Mencatat Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. Pendahuluan Literasi keuangan adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun social (Fianto, 2. Rendahnya pengenalan terhadap Literasi keuangan di anak usia dini telah menjadi perhatian penting dalam berbagai bidang. Literasi Keuangan tidak membelanjakan secara bijak, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter hemat dan tanggung jawab finansial sejak dini. Sayangnya, banyak anak usia sekolah dasar yang belum memahami pentingnya menabung maupun bagaimana mencatat pemasukan dan pengeluaran mereka secara sederhana. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJKAeBPS tahun 2022 mencatat indeks literasi keuangan hanya 49,68 %, meningkat dari 38,03 % pada tahun 2019(Putra M. Akbar, 2. , namun masih jauh dari target ideal. Lebih penting lagi, tingkat literasi keuangan masyarakat berpendidikan tamat SD hanya sekitar 39,78 % (Putra M. Akbar, 2. yang menunjukkan rendahnya pemahaman finansial pada jenjang pendidikan paling dasar selain itu Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia sekolah dasar belum memiliki pemahaman yang cukup tentang konsep dasar pengelolaan uang seperti menabung, mencatat pengeluaran, dan membedakan kebutuhan dari keinginan, padahal menurut membiasakan menabung sejak usia dini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemampuan dalam mengelola keuangan pribadi Kurangnya penanaman kebiasaan ini di masa kanak-kanak dapat berdampak pada terbentuknya perilaku konsumtif dan minimnya kemampuan mengelola keuangan pribadi saat dewasa(Desmy Riani. Wika Ajmilah. Nuru Falma, 2. Sebagaimana dinyatakan dalam Q. Al Hasyr, 59:18. An Nissa, 4:9. menabung merupakan cara Allah SWT menjamin agar seseorang terhindar dari kemiskinan. Di dunia Barat, tabungan dan penghematan telah lama dipandang sebagai suatu kebajikan. Upaya literasi keuangan sejak dini telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan dan komunitas melalui pendekatan edukatif. Program-program pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh Wahyuti yang menyasar siswa TPQ Al Hijrah melalui kegiatan edukasi menabung dalam perspektif Islam. Metode yang digunakan dalam kegiatan tersebut meliputi ceramah, praktik langsung menabung, dan kuis edukatif, yang dinilai efektif dalam meningkatkan kesadaran anak (Wahyuti et al. Meskipun demikian, sebagian besar program literasi keuangan yang telah dilakukan masih terfokus pada pemberian motivasi dan penyampaian informasi dasar mengenai menabung, tanpa melibatkan aspek manajerial keuangan secara praktis. Konsep mencatat diintegrasikan ke dalam program edukasi literasi keuangan untuk anak usia sekolah dasar. Padahal, keterampilan ini penting untuk menanamkan kebiasaan pengelolaan uang secara bertanggung jawab. Selain itu, pendekatan edukatif yang memanfaatkan media kreatif sebagai alat bantu pembelajaran, seperti kreasi celengan dari bahan daur ulang, juga masih jarang diterapkan secara sistematis dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini ditujukan bagi siswa SD Muhammadiyah Kramatsari yang belum mendapatkan Pendidikan literasi keuangan Berdasarkan hasil pre-test yang dilakukan sebelum kegiatan, diketahui bahwa dari 15 siswa SD Muhammadiyah Kramatsari yang menjadi peserta, hanya 4 siswa yang sudah memiliki kebiasaan menabung secara rutin, 2 siswa yang pernah mencatat pengeluaran uang sakunya dan sisanya belum pernah Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. melakukanya sama sekali. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki pemahaman dan kebiasaan yang baik terkait pengelolaan uang sejak dini. Melihat kondisi tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan siswa melalui pelatihan menabung dan mencatat uang saku secara mandiri dengan media kreatif berupa celengan paralon. Kegiatan ini akan dilaksanakan dengan metode partisipatif yang mencakup sosialisasi, penyampaian materi edukatif, praktik pencatatan keuangan harian, dan pelatihan pembuatan celengan paralon sebagai sarana belajar yang menarik sekaligus membentuk kebiasaan finansial yang positif. Metode Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian ini melalui sosialisasi edukatif dan praktik langsung yang melibatkan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Kramatsari. Secara umum kegiatan ini dilakukan melalui: Sosialisasi literasi keuangan Pada tahap pertama yaitu sosialisasi mengenai literasi keuangan dasar dengan pendekatan sederhana yang menyenangkan, dimana materi yang disampaikan meliputi pengertian uang dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, serta pengelompokkan jenis-jenis uang yang terdiri uang kertas dan uang koin. Siswa diajarkan untuk mengenali dan memahami perbedaan antara uang kertas dan uang koin melalui contoh uang asli secara langsung. Selain itu, siswa juga diberikan penjelasan mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menabung untuk mencapai tujuan-tujuan sederhana di masa depan. Praktek pencatatan keuangan sederhana Setelah siswa memahami pentingnya mengatur uang, kegiatan selanjutnya yaitu latihan mencatat uang saku harian. Siswa diminta untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan harian secara sederhana, seperti menerima uang jajan dari orang tua, kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli makanan ringan atau keperluan Proses pencatatan ini tentunya dibimbing secara langsung dan dilakukan pada worksheet yang telah disediakan. Pembuatan celengan paralon Pada tahapan yang ketiga, siswa diajak untuk membuat celengan dari bahan paralon. Gambar 1. Celengan Paralon Melalui kombinasi antara sosialisasi, praktik mencatat dan pembuatan media menabung diharapakan para siswa dapat memahami tentang pentingnya mengelola uang dan membentuk kebiasaan menabung yang menyenangkan. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pengabdian yang bertema Pelatihan Menabung dan Mencata keuangan Sejak Dini dengan Kreasi Celengan dan Literasi Keuangan untuk Siswa SD Muhammadiyah Kramatsari yang dilaksanakan dengan melibatkan 15 siswa kelas 5 SD Muhammadiyah Kramatsari. Tiga jenis aktivitas utama yang dilaksanakan ada sosisalisasi literasi keuangan, pelatihan pencatatan keuangan sederhana, serta praktik pembuatan celengan dari paralon. Gambar 2. Sosialisasi Literasi Keuangan Pada sesi sosialisai ini merupakan tahap pembuka kegiatan dimana materi disampaikan mengenai pengenalan Literasi Keuangan menggunakan power point dan diskusi interaktif, materi yang diberikan meliputi pengertian uang dan fungsinya dalam kehidupan seharihari, serta pengelompokkan jenis-jenis uang yang terdiri uang kertas dan uang koin. Siswa diajarkan untuk mengenali dan memahami perbedaan antara uang kertas dan uang koin melalui contoh uang asli secara langsung. Selain itu, siswa juga diberikan penjelasan mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menabung untuk mencapai tujuan-tujuan sederhana di masa depan. Dengan penyampaian materi ini sebagian besar siswa terlihat antusias saat diberi contoh konkret, misalnya membedakan mana membeli penghapus sebagai kebutuhan dan beli es krim sebagai keinginan. Gambar 3. Pencatatan Keuangan Sederhana Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. Gambar 4. Worksheet "Uangku Hari Ini" Pada sesi selanjutnya ada latihan pencatatan keuangan harian menggunakan lembar yang diberikan dari pemateri yang berisi kolom tanggal, nama, kelas, uang yang diterima, uang yang dipakai, dan sisa uang. Sebagian siswa bisa memahami cara mengisi lembar tersebut, tetapi ada pula yang perlu dibimbing agar tidak mencatat sisa uang lebih besar dari total uang masuk. hal ini membuktikan bahwa pencatatan keuangan perlu dilatihkan agar menjadi kebiasaan. Gambar 5. Praktik Pembuatan Celengan Paralon Dan pada sesi yang terakhir yaitu melakukan kegiatan praktik yang paling dinantikan Masing-masing siswa diberi potongan paralon bekas berukuran sekitar 15cm, lalu dihias menggunakan kertas warna dan kain fanel. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. Dari beberapa kegiatan diatas pemahaman siswa dapat diukur dengan cara memberikan 5 soal tentang menabung, mencatat uang, serta mengelola keuangan sederhana. Lima pertanyaan tersebut antara lain: Pesan apa yang dapat dari kegiatan hari ini? Apakah kegiatan pelatihan membuat celengan dan pencatatan uang membuat kalian lebih sadar akan pentingnya menabung? Apakah membuat celengan dari paralon membuat kegiatan menabung menjadi menyenangkan bagi kalian? Apa saja hal baru yang kalian pelajari dari kegiatan mencatat uang dan menabung hari ini? Setelah kegiatan ini, apakah kalian ingin terus mencatat pemasukan dan pengeluaran uang jajan kalian dirumah? Dari hasil soal yang diberikan tersebut ditemukan bahwa sabanyak 12 siswa menjawab bahwa mereka lebih paham tentang pentingnya menabung dan mencatat keuangan setelah mengikuti kegiatan dan seluruh siswa menyatakan bahwa membuat celengan dari paralon membuat aktivitas menabung mebjadi menyenangkan, sebagian besar siswa juga menyebutkan bahwa mereka belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, belajar menulis pengeluaran harian dan merasa senang memiliki celengan buatan sendiri. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis dalam membuat celengan, tetapi juga menanamkan pemahaman dan motivasi kuat pada siswa tentang pentingnya menabung dan mengelola uang. Temuan ini menunjukan bahwa pendekatan yang menggabungkan edukasi keuangan, praktik pencatatan, dan kreasi celengan dari paralon dapat meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap literasi keuangan sejak dini. Siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis tetapi juga menunjukan keinginan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini memperkuat temuan dari (Hikmah, 2. , yang menunjukan bahwa edukasi berbasis praktik langsung, seperti bermain simulasi dan membuat media dedukatif, mempu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep Dan dalam penelitinya siswa menjadi lebih tertarik pada kegiatan menabung setelah menggunakan media visual dan simulasi nyata. Kegiatan ini juga sejalan dengan studi(B et al. , 2. , dimana pendidikan literasi keuangan sejak dini dapat meningkatkan kesejahteraan finansial individu. Gambar 6. Foto Bersama Siswa Siswi Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 5 No. Niami et al. Kesimpulan Program pengabdian masyarakat berjudul "Pelatihan Menabung dan Mencatat Uang Sejak Dini dengan Kreasi Celengan Paralon dan Literasi Keuangan untuk Siswa SD Muhammadiyah Kramatsari" telah berhasil memberikan dampak positif dalam membentuk pemahaman dasar siswa terkait literasi keuangan. Melalui kegiatan yang dirancang secara interaktif dan aplikatif meliputi edukasi literasi keuangan, latihan mencatat keuangan harian, serta pembuatan celengan dari paralon bekas siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola uang saku secara sederhana. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya menabung, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta munculnya kebiasaan mencatat pengeluaran dan pemasukan. Media kreatif berupa celengan paralon menjadi sarana yang efektif dalam menumbuhkan minat dan semangat siswa untuk Bahkan, sebagian besar siswa menyatakan ingin terus melanjutkan kebiasaan mencatat keuangan di rumah setelah kegiatan berlangsung. Capaian ini mendukung temuan dari penelitian sebelumnya bahwa pendekatan berbasis praktik langsung dan media visual dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran literasi keuangan pada anak. Oleh karena itu, kegiatan serupa sangat potensial untuk diterapkan secara luas di tingkat sekolah dasar sebagai salah satu upaya edukasi finansial sejak usia dini. Sebagai jembatan menuju bagian metode, program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman teoritis, melainkan juga membentuk keterampilan dan sikap melalui kegiatan yang menyenangkan dan kontekstual, yakni dengan mengombinasikan penyuluhan, praktik pencatatan, serta simulasi menabung melalui celengan hasil karya siswa sendiri. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak institusi dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Apresiasi yang tinggi juga diberikan kepada para guru dan siswa SD Muhammadiyah Kramatsari atas partisipasi aktif serta antusiasme selama kegiatan berlangsung. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para reviewer dan proofreader yang telah memberikan masukan berharga dalam penyempurnaan artikel ini. Selain itu, penulis menghargai bantuan dari rekan-rekan mahasiswa serta pihak teknis yang telah mendukung persiapan dan pelaksanaan kegiatan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan. Referensi