JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 07 NOMOR 02 DESEMBER 2024 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND SMOKING HABITS WITH THE INCIDENCE OF RESPIRATORY INFECTIONS IN TODDLERS Agus Darmawan1*. Rina Andriani1. Waode Azfari Azis1. Rininta Andriani1 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Baubau. Indonesia Abstrak Article history Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab Received date: 4 Agustus 2024 utama kematian pada balita, dengan risiko yang meningkat akibat rendahnya Revised date: 28 November 2024 pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok. Penelitian ini bertujuan Accepted date: 20 Desember 2024 *Corresponding author: Agus Darmawan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Baubau. Indonesia, mawan77@gmail. menganalisis hubungan antara pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wamolo. Kabupaten Buton Tengah. Penelitian menggunakan desain crosectional pada 70 balita yang dipilih dengan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan catatan kesehatan, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dengan taraf signifikansi 95% ( = 0,. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kejadian ISPA . =0,002. OR=0,15. CI 95%: 0,048Ae0,. serta antara kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA . =0,037. OR=3,82. CI 95%: 1,20Ae 12,. Anak dari keluarga perokok memiliki risiko 3,82 kali lebih tinggi mengalami ISPA dibandingkan anak dari keluarga tanpa kebiasaan merokok. Pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok memiliki hubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada balita. Intervensi edukasi dan pengendalian kebiasaan merokok diperlukan untuk menurunkan prevalensi ISPA. Kata Kunci: Pengetahuan, kebiasan merokok. ISPA Abstract Copyright: A 2024 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Acute Respiratory Infections (ARI) are one of the leading causes of death among toddlers, with risks exacerbated by low parental knowledge and smoking habits. This study aims to analyze the relationship between parental knowledge and smoking habits with the incidence of ARI among toddlers in the working area of Wamolo Health Center. Central Buton Regency. The study employed a cross-sectional design involving 70 toddlers selected through simple random sampling. Data were collected using questionnaires and health records and analyzed using chi-square tests at a 95% confidence level ( = The results showed a significant relationship between knowledge and ARI incidence . =0. OR=0. 95% CI: 0. 048Ae0. as well as between smoking habits and ARI incidence . =0. OR=3. 95% CI: 1. 20Ae12. Children from smoking households were 3. 82 times more likely to develop ARI compared to children from non-smoking households. Parental knowledge and smoking habits are significantly associated with ARI incidence among toddlers. Educational interventions and smoking habit control are needed to reduce ARI Keywords: Knowledge, smoking habits, incidence ARI PENDAHULUAN Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri serta berlangsung selama 14 hari. Gejala yang ditimbulkan meliputi gejala ringan seperti batuk dan pilek, gejala sedang seperti sesak napas dan wheezing, hingga gejala berat seperti sianosis dan penggunaan cuping hidung untuk bernapas. Komplikasi ISPA yang berat yang menyerang jaringan paru dapat menyebabkan pneumonia (Lasabu et al. , 2. Agus Darmawan. Rina Andriani. Waode Azfari Azis. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 155-160 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Penyakit ISPA merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian dunia. WHO melaporkan hampir 6 juta anak balita meninggal dunia, 16% di antaranya diakibatkan oleh pneumonia yang merupakan salah satu manifestasi dari ISPA. Penyakit ISPA sering terjadi pada anak-anak, episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3Ae6 kali per tahun, dengan rata-rata empat kali per tahun. Hasil Riskesdas . melaporkan prevalensi ISPA di Indonesia sebesar 9,3% dengan prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur satu sampai empat tahun yaitu sebesar 13,7% (Zoland et al. , 2. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Nasional tahun 2023 menunjukkan prevalensi penyakit ISPA sebesar 4,4% dengan karakteristik penduduk yang mengalami ISPA tertinggi terdapat pada rentang usia 1Ae4 tahun, yaitu sebesar 25,8% (Kementerian Kesehatan RI. Secara umum faktor risiko terjadinya ISPA, yaitu disebabkan oleh faktor perilaku meliputi perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA pada bayi atau peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani penyakit ISPA (Zoland et al. , 2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara. ISPA menduduki urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak pada tahun 2016 dengan jumlah 119. 626 kasus. Tren menurun pada tahun 2017 dan 2018, namun kembali meningkat sebesar 30,06% pada tahun 2019, sebelum menurun lagi pada tahun 2020 (Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2. Pada tahun 2019, kasus ISPA di Kabupaten Buton mencapai 6. 415 kasus, meningkat dari 4. 888 kasus pada tahun 2018 (Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Tengah, 2. Puskesmas Wamolo merupakan salah satu puskesmas dengan angka kasus tertinggi di Kabupaten Buton, dengan jumlah kasus tahun 2021 mencapai 172 kasus (Puskesmas Wamolo, 2. Peningkatan kasus ISPA menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi aktual di lapangan dengan harapan teoritis dan pedoman yang ada. Studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Lasabu (Lasabu et al. , menegaskan pentingnya pengendalian faktor risiko perilaku, khususnya kebiasaan merokok, sebagai bagian dari upaya pencegahan. Namun, implementasi di tingkat lokal belum sepenuhnya efektif, terutama di wilayah dengan karakteristik kepulauan yang memiliki tantangan aksesibilitas layanan kesehatan dan kebiasaan lokal tertentu. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan menganalisis hubungan antara pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok terhadap kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wamolo. Pendekatan ini tidak hanya menyoroti faktor risiko yang spesifik, tetapi juga menyediakan dasar untuk pengembangan intervensi berbasis edukasi yang relevan dengan konteks lokal. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban ISPA di wilayah kepulauan Hasil observasi awal yang dilakukan di tempat penelitian Kabupaten Buton Tengah menunjukkan bahwa sebagian ibu tidak membawa anaknya ke posyandu untuk diberikan imunisasi. Selain itu, ditemukan kebiasaan anggota keluarga merokok di dalam rumah, yang berkontribusi terhadap kejadian penyakit ISPA. Anak-anak yang orang tuanya merokok di dalam rumah lebih rentan terkena penyakit pernapasan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan dan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Wamolo Kabupaten Buton Tengah. METODE Desain Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Wamolo. Kabupaten Buton Tengah, pada tanggal 24 Maret-14 April 2022. Sampel Populasi dalam penelitian ini mencakup balita yang tercatat di Puskesmas Wamolo sejumlah 223 anak. Adapun sampel dalam penelitian adalah 70 balita, dipilih menggunakan metode simple random sampling. Kriteria nklusi balita yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Wamolo dengan catatan kesehatan lengkap. Kriteria eksklusi mencakup balita dengan kondisi kesehatan yang memengaruhi pernapasan selain ISPA, atau ibu balita yang tidak bersedia mengikuti penelitian. Rekrutmen responden dilakukan melalui koordinasi dengan kader kesehatan setempat, diikuti oleh pemberian penjelasan kepada orang tua balita serta pengumpulan informed consent. Variabel Variabel bebas mencakup pengetahuan orang tua dan kebiasaan merokok. Pengetahuan didefinisikan sebagai tingkat pemahaman orang tua tentang ISPA pada balita, dikategorikan menjadi baik . kor Ou media. dan kurang . kor< media. Kebiasaan merokok didefinisikan sebagai frekuensi merokok anggota keluarga di rumah, dikategorikan menjadi ada kebiasaan merokok (Ou 1 batang/har. dan tidak ada kebiasaan merokok. Sedangkan variabel terikat adalah kejadian ISPA pada balita, dikategorikan menjadi mengalami ISPA . idiagnosis dalam 1 bulan terakhi. dan tidak mengalami ISPA. Pengumpulan data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang telah divalidasi dan reliabilitasnya diuji (CronbachAos Alpha > 0,. Kuesioner mencakup tiga komponen utama, yaitu tingkat pengetahuan orang tua tentang ISPA, kebiasaan merokok anggota keluarga, dan kejadian ISPA pada balita. Proses pengumpulan data dilakukan oleh peneliti utama dengan bantuan dua enumerator yang telah dilatih, bertempat di Puskesmas Wamolo dan beberapa posyandu di wilayah kerja puskesmas. Selain itu, data sekunder berupa catatan laporan kesehatan balita diperoleh dari arsip tahunan Puskesmas Wamolo. Agus Darmawan. Rina Andriani. Waode Azfari Azis. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 155-160 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Analisis data Data yang telah dikumpulkan diolah secara komputerisasi menggunakan perangkat lunak SPSS versi 20. Analisis data dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi setiap variabel yang diteliti, seperti tingkat pengetahuan orang tua, kebiasaan merokok, dan kejadian ISPA pada balita. Selanjutnya, analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan antara variabel bebas . engetahuan dan kebiasaan meroko. dengan variabel terikat . ejadian ISPA pada balit. menggunakan uji chi-square. Uji statistik dilakukan pada tingkat signifikansi 95% (= 0,. Etika penelitian Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Universitas Dayanu Ikhsanuddin dengan nomor 080/Q17. Sebelum pengumpulan data, informed consent diberikan kepada responden dengan penjelasan mengenai tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data penelitian. Kerahasiaan data dijaga dengan memastikan semua data hanya digunakan untuk kepentingan penelitian dan disimpan dalam format terenkripsi. HASIL Tabel 1. Karakteristik responden Karkterisitik Umur . Pendidikan terakhir Sekolah dasar Sekolah menengah pertama Sekolah menengah atas Diploma Sarjana Umur balita . Jenis kelamin balita Laki-laki Perempuan Tabel 1 menunjukan bahwa sebagian responden berumur pada rentang 31-35 tahun . ,0%). Pendidikan terakhir, responden terbanyak tamat SMA . ,6%). Berdasarkan umur balita, paling banyak responden memiliki balita berumur 12-23 bulan . ,6%). Berdasarkan jenis kelamin balita, paling banyak balita responden memiliki jenis kelamin perempuan . ,3%). Tabel 2 menunjukkan bahwa 61,4% responden memiliki pengetahuan baik. Responden yang memiliki kebiasaan merokok sebanyak 52,9%. Sebanyak 71,4% balita mengalami ISPA dalam 3 bulan terakhir. Tabel 2. Distribusi frekuensi variabel pengetahuan, kebiasaan merokok dan kejadian ISPA Variabel Pengetahuan Baik Kurang Kebiasaan Merokok Memiliki kebiasaan merokok Tidak memiliki kebiasaan Kejadian ISPA pada Balita Mengalami ISPA Tidak mengalami ISPA Tabel 3 menunjukkan ada hubungan pengetahuan ibu . = 0,002. OR 0,15 CI 95% . 04 Ae 0,. dan kebiasaan merokok dalam keluarga . = 0,037. OR 3,82 CI 95% . ,20 Ae 12,. dengan kejadian ISPA pada balita. Balita dari ibu yang memiliki pengetahuan kurang memiliki risiko 0,15 kali lebih tinggi untuk mengalami ISPA dibandingkan dengan balita dari ibu yang memiliki pengatahuan baik. Balita dari keluarga yang memiliki kebiasaan Agus Darmawan. Rina Andriani. Waode Azfari Azis. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 155-160 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. merokok berrisiko 3,82 kali lebih tinggi untuk mengalami ISPA dibandingkan dengan balita dari keluarga yang tidak memiliki kebiasaan merokok. Tabel 3. Hubungan pengetahuan dan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita Variabel Pengetahuan ibu Baik Kurang Kebiasaan merokok Memiliki kebiasaan Tidak memiliki kebiasaan Kejadian ISPA Mengalami Tidak mengalami Total p-value OR (CI . 0,002 0,15 . ,048 - 0,. 0,037 3,82 . ,20 - 12,. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan terdapat balita yang mengalami ISPA. Hal ini dapat disebabkan oleh perilaku keluarga yang kurang menerapkan hidup bersih dan sehat, seperti kebiasaan merokok, menutup ventilasi ruangan, serta kurang menjaga kebersihan sanitasi lingkungan rumah. Selain itu terdapat responden yang memiliki pengetahuan baik namun memiliki balita yang tidak mengalami ISPA. Hal ini dapat disebabkan oleh pengetahuan dan kesadaran yang baik dari responden, sehingga mereka mampu menerapkan perilaku sehat seperti membawa anak ke puskesmas saat sakit, menjauhkan anak dari penderita ISPA dan asap rokok, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar. Hasil penelitian ini juga menunjukkan responden yang memiliki pengetahuan kurang tentang ISPA memiliki balita yang mengalami ISPA. Hal ini didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan kebiasaan masyarakat, seperti membakar sampah dan kulit jambu di sekitar rumah sehingga asap masuk ke dalam rumah, serta menutup ventilasi udara dengan gorden, yang membuat asap terhirup oleh anggota keluarga, terutama balita. Selain itu penularan dari anggota keluarga yang sedang batuk atau flu dan tidur satu ruangan dengan balita juga dapat mempermudah penyebaran penyakit ISPA pada balita. Masih adanya responden yang memiliki pengetahuan kurang dan memiliki balita yang tidak mengalami ISPA, hal ini mungkin disebabkan oleh perhatian ibu terhadap perkembangan dan pertumbuhan balitanya, termasuk kebiasaan rutin membawa balita ke posyandu, sehingga kesehatan balita tetap terpantau. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan kejadian ISPA pada balita. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin baik pengetahuan keluarga, maka semakin baik tindakan keluarga dalam melakukan pencegahan penyakit ISPA (Halitopo, 2. Namun dalam penelitian ini masih terdapat adanya beberapa responden yang memiliki pengetahuan baik tentang penyakit ISPA namun memiliki balita yang mengalami penyakit ISPA. Hasil penelitian ini didukung dengan teori yang menyatakan bahwa masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang baik tentang pencegahan penyakit ISPA belum tentu memiliki keterampilan yang memadai untuk menerapkan tindakan pencegahan. Selain itu, faktor sosial ekonomi, budaya, dan faktor lainnya juga memengaruhi upaya pencegahan penyakit ISPA (Linda, 2. Secara umum pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atau suatu pola, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Hal ini sejalan dengan penelitan yang dilakukan oleh Salim . , yang menyatakan bahwa pengetahuan, status imunisasi, dan keberadaan perokok di rumah memiliki hubungan dengan kejadian ISPA pada balita (Kaur, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua tentang ISPA dengan kejadian ISPA pada balita (Sentana 2018. Darmawan et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan Ibu dengan kejadian ISPA (Lasabu et al. , 2. Hal ini didukung oleh hasil penelitian, bahwa semakin banyak ibu mendapatkan informasi kesehatan tentang penyakit ISPA maka upaya untuk menjaga kesehatan dan kebersihan juga semakin baik (Winandar et al. , 2024. Ayu et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita. Semakin banyak anggota keluarga yang tidak memiliki kebiasaan merokok, maka semakin baik tindakan keluarga dalam melakukan pencegahan penyakit ISPA. Namun dalam penelitian ini masih terdapat adanya responden maupun anggota keluarga responden yang tidak memiliki kebiasaan merokok namun balitanya mengalami penyakit ISPA. Hasil penelitian ini didukung dengan teori yang menyatakan bahwa kebiasaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah dapat berdampak negatif bagi anggota keluarga lainya khususnya balita. Rokok yang merupakan benda beracun dapat memberikan efek sangat membahayakan baik bagi perokok sendiri maupun perokok pasif yang tidak sengaja terkontak asap rokok (Astuti & Wulandari, 2020. Darmawan et al. , 2. Kebiasaan merokok di dalam ruangan atau di luar ruangan memiliki peranan penting terhadap terjadinya penyakit ISPA (Fadilah & Sumarmi, 2024. Sagala et al. , 2024. Mulyati et al. , 2024. Wimalisca et al. , 2. Rokok Agus Darmawan. Rina Andriani. Waode Azfari Azis. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 155-160 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. juga menyebabkan perubahan imunitas sel alami maupun didapat yang berakibat terhadap makrofag dan leukosit Fungsi produksi cairan paru pun akan meningkat baik untuk orang normal maupun yang terkena ISPA (Ode et al. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Sario Kota Manado, yang menyatakan ada hubungan antara kebiasaan merokok di dalam rumah dengan kejadian ISPA pada anak umur 1-5 tahun (Wijaya et al. , 2. Prevalensi perokok pasif dengan ISPA di Indonesia masih relatif tinggi terutama pada balita (Banjarnahor & Masdiana, 2. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi ilmu dan praktik keperawatan, khususnya dalam upaya pencegahan penyakit tropis seperti ISPA pada balita. Temuan bahwa tingkat pengetahuan dan kebiasaan merokok memiliki hubungan signifikan dengan kejadian ISPA dapat menjadi dasar untuk merancang intervensi berbasis edukasi dan pengendalian kebiasaan merokok di lingkungan keluarga. Dalam praktik keperawatan, temuan ini dapat digunakan untuk memperkuat program promosi kesehatan dan pendekatan preventif pada kelompok masyarakat rentan. Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Desain cross-sectional yang digunakan tidak memungkinkan penentuan kausalitas antara variabel. Selain itu, variabel penting lain, seperti kondisi lingkungan, kualitas udara, status gizi balita, dan akses terhadap layanan kesehatan tidak dianalisis, sehingga hasil penelitian ini tidak sepenuhnya mencerminkan faktor-faktor kompleks yang memengaruhi kejadian ISPA. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan desain longitudinal diharapkan dapat menjawab keterbatasan ini secara lebih komprehensif. KESIMPULAN Ada hubungan pengetahuan dan kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wamolo Kabupaten Buton Tengah. Saran berupa perlunya peningkatan kesadaran dari orang tua khususnya ibu untuk rutin melakukan kunjungan ke posyandu. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi Puskesmas Wamolo untuk meningkatkan konseling dan penyuluhan langsung sebagai salah satu upaya pencegahan ISPA pada balita. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Buton Tengah melalui UPTD Puskesmas Wamolo, beserta pegawai dan stafnya, atas dukungan selama pelaksanaan penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Universitas Dayanu Ikhsanuddin atas masukan, ilmu baru, dan bantuan yang diberikan selama proses penelitian. REFERENSI