OPEN ACCESS JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. November 2025. Hal. e-ISSN. 3090-028X DOI. https://doi. org/10. 58472/jipsh. Research Article Model Kepemimpinan Perempuan dalam Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Pendidik di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember Mohammad Zaini1. Riayatul Husnan2. Dini Rohmatul Aulia3. Saadatu Mukarromatil Arifah4 UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Indonesia UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Indonesia UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Indonesia Universitas Islam Syarifuddin Lumajang. Indonesia Corresponding Author: Riyatul Husnan. UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Indonesia. Indonesia Email: afridanurlaili81@gmail. Abstract The professionalism of educators is a crucial factor in improving the quality of education. At Ulul Albab Islamic Elementary School in Jember, some teachers still come from non-educational backgrounds, resulting in less-than-optimal learning processes. This condition requires effective leadership to guide and develop teachersAo potential. Female leadership is particularly interesting to study, as it is often associated with humanistic, communicative, and collaborative approaches in educational management. This study aims to describe the implementation of female leadership models in enhancing teacher professionalism at Ulul Albab Islamic Elementary School Jember, to identify supporting and inhibiting factors, and to illustrate the level of teachersAo professional competence. The research employs a descriptive qualitative approach, using interviews, observations, and documentation as data collection techniques. Data validity was ensured through source triangulation to confirm the accuracy of the findings. The results show that the female principalAos leadership strategy is oriented toward a democratic leadership model, characterized by teacher involvement in decision-making, open two-way communication, and continuous guidance and mentoring. Supporting factors include a strong culture of cooperation, harmonious communication, and the habituation of Islamic activities that foster teachersAo religious character and work ethic. The inhibiting factor lies in the principalAos limited authority due to the complex foundation bureaucracy. Overall, the professionalism of educators has developed well in four key aspects pedagogical, professional, social, and personal through training, formal career development, and professional certification in accordance with national standards. Keywords: Female Leadership. Teacher Professionalism. Islamic Elementary School. Abstrak Profesionalisme tenaga pendidik merupakan faktor penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember, masih terdapat guru berlatar belakang non-kependidikan sehingga proses pembelajaran belum berjalan optimal. Kondisi ini menuntut kepemimpinan yang efektif dalam membina dan mengembangkan potensi guru. Kepemimpinan perempuan menarik dikaji karena dikenal memiliki pendekatan yang humanis, komunikatif, dan kolaboratif dalam pengelolaan lembaga Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model kepemimpinan perempuan dalam meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya, serta menggambarkan tingkat kompetensi profesionalisme guru di sekolah tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 267 kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber guna memastikan validitas temuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan kepala sekolah perempuan berorientasi pada model kepemimpinan demokratis dengan pelibatan guru dalam pengambilan keputusan, komunikasi dua arah yang terbuka, serta pembinaan dan pendampingan berkelanjutan. Faktor pendukung kepemimpinan meliputi budaya kerja sama yang solid, komunikasi harmonis, dan pembiasaan kegiatan Islami yang membentuk karakter religius serta etos kerja guru. Adapun faktor penghambatnya adalah keterbatasan kewenangan kepala sekolah akibat birokrasi yayasan yang Secara umum, kompetensi profesionalisme tenaga pendidik telah berkembang baik pada aspek pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian melalui pelatihan, pengembangan karir formal, dan sertifikasi profesi yang sesuai dengan standar nasional. Kata kunci: Kepemimpinan perempuan, profesionalisme tenaga pendidik. Sekolah Dasar Islam PENDAHULUAN Partisipasi perempuan dalam kepemimpinan pendidikan terus mengalami perkembangan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan. Saat ini, perempuan tidak hanya berperan sebagai tenaga pendidik, tetapi juga mulai menempati posisi strategis dalam pengambilan keputusan (Silviana. Husnan & Jih, 2. Namun demikian, meskipun jumlah guru perempuan di Indonesia sangat dominan, terutama pada jenjang pendidikan dasar, representasi mereka dalam jabatan kepemimpinan seperti kepala sekolah atau pengawas pendidikan masih tergolong rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesempatan bagi perempuan untuk menempati posisi manajerial belum sepenuhnya merata. Laporan UNESCO Global Education Monitoring (GEM) tahun 2023 mengungkapkan bahwa secara global, hanya sekitar 44-56% posisi kepala sekolah yang diisi oleh perempuan. Angka tersebut memperlihatkan masih adanya kendala struktural dan budaya, termasuk fenomena glass ceiling, yang menghambat akses perempuan untuk mencapai jabatan puncak dalam bidang pendidikan (UNESCO, 2. Keterbatasan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan pendidikan tidak hanya disebabkan oleh faktor struktural, tetapi juga oleh konstruksi sosial dan budaya patriarkal yang masih kuat (Nurmayanti et al. , 2. Pandangan tradisional sering menempatkan kepemimpinan sebagai ranah maskulin, sehingga perempuan dianggap kurang tegas atau kurang mampu mengambil keputusan strategis. Akibatnya, mereka menghadapi beban ganda, baik secara sosial maupun psikologis. Padahal, dalam perspektif Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dijalankan secara adil tanpa membedakan jenis kelamin, sebagaimana termaktub dalam QS. An-NisaAo ayat 58 (Kemenag RI, 2. Prinsip ini menegaskan bahwa dasar kepemimpinan terletak pada kemampuan dan integritas, bukan Nabi Muhammad SAW juga menegaskan dalam hadis riwayat Bukhari bahwa setiap individu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, kepemimpinan perempuan memiliki legitimasi religius, moral, dan social (Rahmat, 2. Dalam konteks pendidikan, kepemimpinan perempuan cenderung menonjolkan pendekatan humanis, komunikatif, dan empatik yang mendukung terciptanya lingkungan kerja harmonis dan produktif. Guru yang profesional di bidang pendidikan sangat diperlukan dan harus selalu didukung oleh semua pihak yang berperan dalam sistem pendidikan (Fitria & Slamet, 2. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 268 Di sisi lain, profesionalisme tenaga pendidik menjadi faktor utama peningkatan mutu Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan moral bagi peserta didik. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru, yang mewajibkan guru memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Oleh karena itu, strategi kepemimpinan, termasuk kepemimpinan perempuan, menjadi kunci dalam mengembangkan profesionalisme Point masalah, kajian pendahuluan, tujuan, kesimpulan sementara penelitian. Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut kepala sekolah untuk berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan perubahan di tingkat satuan pendidikan (Kemendikbudristek, 2. Di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember, sebagian guru masih berasal dari latar belakang non-kependidikan, sehingga proses pembelajaran belum optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, permasalahan ini berdampak pada rendahnya kualitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), keterbatasan variasi metode mengajar, dan kurang aktifnya partisipasi siswa di kelas. Kepemimpinan kepala sekolah perempuan di lembaga ini menjadi menarik untuk dikaji karena berperan penting dalam mengembangkan profesionalisme guru melalui pelatihan, pendampingan, dan pembiasaan budaya kerja Islami yang kolaboratif. Penelitian ini berupaya menelusuri bagaimana strategi kepemimpinan perempuan diterapkan secara efektif dalam menciptakan iklim kerja yang produktif dan harmonis, sekaligus menyeimbangkan tuntutan manajerial, pengembangan kompetensi guru, dan internalisasi nilai-nilai keagamaan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam fenomena kepemimpinan perempuan dalam meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember. Jenis penelitian deskriptif dipilih untuk menggambarkan secara faktual dan sistematis bentuk, proses, serta dampak kepemimpinan kepala sekolah perempuan terhadap pengembangan kompetensi guru (Mashudi, 2. Penelitian dilaksanakan di SD Islam Ulul Albab Jember. Jalan Udang Windu. Kecamatan Kaliwates. Kabupaten Jember, pada Mei-Agustus 2024. Lokasi dipilih secara purposif karena sekolah ini memiliki kepala sekolah perempuan dengan kepemimpinan berbasis nilai keislaman dan manajemen modern. Target penelitian adalah penerapan model kepemimpinan perempuan dan pengaruhnya terhadap peningkatan profesionalisme guru, dengan fokus pada strategi kepemimpinan, faktor pendukung dan penghambat, serta perkembangan kompetensi guru dalam aspek pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Subjek penelitian ditentukan melalui purposive sampling, melibatkan sepuluh informan yang memahami fenomena tersebut, terdiri atas kepala sekolah, beberapa wakil kepala, dan guru. Prosedur penelitian meliputi tiga tahap: pra-penelitian . dentifikasi masalah, studi literatur, dan perizina. , pelaksanaan . engumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentas. , serta analisis dan pelaporan hasil . eduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulas. Data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap kepala sekolah serta guru, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen seperti visi-misi sekolah, program pengembangan guru, laporan kegiatan, dan arsip internal. Instrumen penelitian mencakup pedoman wawancara, lembar observasi, dan daftar pengecekan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur, observasi langsung, dan dokumentasi untuk JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 269 memperkuat serta memverifikasi temuan. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tiga tahap: kondensasi data . eleksi dan pemfokusan informasi releva. , penyajian data . arasi, tabel, dan diagra. , serta penarikan kesimpulan dan verifikasi secara induktif berdasarkan fakta empiris di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan di SD Islam Ulul Albab Jember menerapkan model kepemimpinan demokratis. Gaya kepemimpinan ini tampak dari keterlibatan guru dalam pengambilan keputusan, komunikasi dua arah yang terbuka, serta adanya penghargaan terhadap ide dan inisiatif guru. Kepala sekolah secara konsisten melibatkan guru dalam rapat perencanaan program sekolah, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi dan kegiatan pembelajaran. Kepemimpinan demokratis, sebagaimana dikemukakan Lewin. Lippitt, dan White, menekankan pada keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan, komunikasi dua arah, serta penghargaan terhadap ide dan inisiatif bawahan (Handayani, 2. Pendekatan yang digunakan bersifat humanis dan kolaboratif, di mana kepala sekolah berperan bukan hanya sebagai atasan administratif, tetapi juga sebagai pembimbing dan Pola ini konsisten dengan konsep orientasi hubungan dalam teori perilaku (Behavioral Theor. , di mana kepemimpinan efektif ditandai dengan kemampuan membangun interaksi interpersonal yang sehat dan partisipatif (AAoyun, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, kepala sekolah sering melakukan pendampingan langsung dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), supervisi akademik, serta memberikan umpan balik yang konstruktif. Selain itu, kepala sekolah mendorong pengembangan profesionalisme guru melalui pelatihan internal, workshop, dan kegiatan peer teaching yang dilakukan secara rutin. Program pengembangan guru juga terintegrasi dengan visi sekolah untuk menyeimbangkan aspek akademik dan nilai-nilai keislaman. Dalam hal ini, kepala sekolah berperan aktif menanamkan semangat religiusitas melalui kegiatan seperti tadarus pagi, doa bersama, dan pengajian rutin. Kegiatan tersebut tidak hanya membangun karakter spiritual, tetapi juga memperkuat etos kerja dan rasa tanggung jawab guru terhadap profesinya. Praktik tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara orientasi pada tugas dan orientasi pada hubungan sebagaimana dijelaskan dalam Ohio State Studies dan Michigan Studies. Orientasi hubungan yang kuat justru memperkuat kepercayaan guru kepada kepala sekolah, sehingga profesionalisme dapat meningkat seiring dengan tumbuhnya rasa memiliki terhadap keputusan yang dibuat bersama. Hal ini membuktikan pandangan Northouse . bahwa kepemimpinan yang efektif bukanlah bawaan lahir, melainkan dapat dipelajari dan dikembangkan melalui tindakan nyata, salah satunya melalui pola komunikasi yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah perempuan di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung efektivitas perannya dalam mengelola lembaga pendidikan. Budaya kerja sama yang solid antara guru dan tenaga kependidikan menjadi salah satu aspek utama yang menciptakan suasana kerja harmonis dan saling mendukung. Kondisi ini memunculkan rasa memiliki terhadap lembaga serta memperkuat komitmen bersama dalam mencapai tujuan Selain itu, pola komunikasi yang terbuka dan efektif, baik secara vertikal antara pimpinan dan guru maupun secara horizontal antarrekan kerja, turut mempermudah JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 270 penyelesaian berbagai permasalahan melalui musyawarah dan dialog yang konstruktif. Hal ini sejalan dengan pandangan Hanson bahwa kepemimpinan efektif adalah ketika niat pemimpin sejalan dengan kebutuhan bawahan, di mana pemimpin tidak hanya menuntut, melainkan juga mendampingi dan memberi teladan (Putri et al. , 2. Secara teori, faktor pendukung yang ditemukan memperkuat pandangan Hoy dan Miskel tentang pentingnya iklim sekolah yang positif dan kolaboratif dalam meningkatkan kinerja guru. AuEducational organization is understood as a complex social system with specific structures, roles, and norms. Ay (Winoto. Gambar 1. Gaya Kepemimpinan Demokratis di SD Ulul Albab Jember Pembiasaan kegiatan Islami juga berperan penting dalam membentuk karakter religius dan kedisiplinan tenaga pendidik. Aktivitas seperti tadarus pagi, doa bersama, serta kajian rutin menjadi sarana internalisasi nilai-nilai spiritual yang berdampak positif terhadap etos kerja Dukungan yayasan turut menjadi faktor pendukung lain yang signifikan, khususnya dalam penyediaan sarana pelatihan dan seminar yang mendorong pengembangan profesionalisme tenaga pendidik. Pola ini konsisten dengan orientasi hubungan dalam teori perilaku, di mana perhatian terhadap kesejahteraan anggota menjadi kunci efektivitas kepemimpinan (Musa, 2. Lebih jauh, praktik kepemimpinan ini juga memperkuat iklim kerja yang positif, sebagaimana ditegaskan oleh Hoy dan Miskel bahwa organisasi dengan suasana kolaboratif akan lebih produktif dan memotivasi anggota untuk berkontribusi optimal (Winoto, 2. Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan adanya sejumlah kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya. Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan kewenangan dalam pengambilan keputusan strategis akibat sistem birokrasi yayasan yang cukup kompleks. Namun, dalam praktiknya, hierarki yang terlalu kaku justru dapat menjadi penghambat, terutama dalam konteks inovasi dan dinamika pendidikan yang menuntut respons cepat terhadap perubahan (Weber, 1. Selain itu, perbedaan latar belakang pendidikan guru, di mana sebagian berasal dari bidang non-kependidikan, menyebabkan perlunya pembinaan tambahan dalam aspek pedagogik dan metodologi Meskipun demikian, kepala sekolah mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan pendekatan yang persuasif, komunikatif, dan solutif. Ia berupaya membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh elemen sekolah serta menumbuhkan budaya kerja yang partisipatif. Pendekatan ini membuat proses kepemimpinan berjalan efektif dan adaptif, sehingga berbagai kendala dapat diatasi tanpa menghambat tujuan utama peningkatan profesionalisme tenaga pendidik. JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 271 Temuan penelitian menunjukkan bahwa profesionalisme guru di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, peningkatan tersebut terlihat pada empat dimensi utama yang menjadi indikator profesionalisme tenaga pendidik. Pada aspek kompetensi pedagogik, guru menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam merancang pembelajaran sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Guru mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan lebih kreatif serta menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan Penerapan strategi belajar yang menekankan partisipasi aktif siswa membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Hal ini mencerminkan implementasi nyata dari kompetensi pedagogik, yaitu kemampuan guru dalam memahami peserta didik, merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang efektif (Iswanto, 2. Aspek kompetensi profesional juga mengalami peningkatan yang terlihat dari penguasaan materi ajar yang semakin baik dan keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan pengembangan diri. Guru aktif mengikuti pelatihan, seminar, maupun sharing session antarguru untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan mengajar. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran profesional yang tinggi terhadap pentingnya pembelajaran berkelanjutan, ini menjadi indikator keberhasilan guru dalam menerapkan kompetensi profesional secara praktis (Susanto, 2. Dalam hal kompetensi sosial, guru mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama rekan kerja, siswa, maupun orang tua. Sikap ramah, terbuka, dan komunikatif yang ditunjukkan guru menciptakan iklim belajar yang positif dan kolaboratif di lingkungan Interaksi sosial yang baik ini turut memperkuat sinergi antarwarga sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal ini mencerminkan implementasi kompetensi sosial sebagaimana dijelaskan oleh UU No. 14 Tahun 2005, yaitu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama guru, orang tua, dan masyarakat (Iswanto, 2. Pada aspek kompetensi kepribadian, guru memperlihatkan peningkatan dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan. Nilai-nilai religius yang diterapkan di sekolah berkontribusi besar dalam membentuk karakter guru yang berintegritas dan berakhlak Kepala sekolah memegang peranan penting dalam mendorong peningkatan profesionalisme tersebut dengan menekankan pentingnya sertifikasi profesi dan pengembangan karier formal sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu guru. Berbagai pelatihan, workshop, serta pembinaan internal dan eksternal diselenggarakan secara rutin sebagai bentuk komitmen lembaga terhadap pengembangan kompetensi tenaga pendidik agar selaras dengan standar nasional pendidikan. Berdasarkan teori behavioral leadership dari Kurt Lewin, kepemimpinan yang efektif tercermin dari perilaku yang mendukung partisipasi dan kolaborasi anggota organisasi. Strategi kepala sekolah perempuan yang selalu melibatkan guru dalam musyawarah, membuka ruang komunikasi dua arah, serta memberikan peluang pengembangan diri merupakan bentuk nyata dari penerapan teori tersebut (Handayani, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember berkontribusi nyata dalam meningkatkan profesionalisme guru. Melalui strategi kepemimpinan, pembinaan berkelanjutan, dan integrasi nilai keislaman, kepala sekolah berhasil menciptakan budaya kerja yang kolaboratif dan Kendati dihadapkan pada kendala birokrasi dan perbedaan latar belakang guru, kepemimpinan yang demokratis mampu menjadikan sekolah ini sebagai contoh praktik baik . est practic. dalam pengembangan profesionalisme tenaga pendidik di lembaga pendidikan JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 272 Islam dasar. Temuan ini selaras dengan penelitian Nirmala . , yang juga menemukan bahwa kepemimpinan demokratis mampu meningkatkan mutu guru maupun budaya mutu sekolah melalui komunikasi terbuka, musyawarah, dan kerja sama tim. Temuan ini juga memperkuat teori tentang kepemimpinan perempuan yang demokratif, sehingga mampu membangun iklim kerja yang hangat dan produktif. Selain melalui pelatihan, kepala sekolah juga berupaya mendorong peningkatan profesionalisme guru melalui pengembangan karir formal dan sertifikasi profesi, supaya guru-guru di sekolah memenuhi standar profesionalisme sesuai regulasi nasional (Victory, 2. Gambar 2. Kepemimpinan Perempuan dalam Pengembangan Guru KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah perempuan di Sekolah Dasar Islam Ulul Albab Jember berorientasi pada model kepemimpinan demokratis. Kepala sekolah menunjukkan keterbukaan dalam menerima masukan, melibatkan guru dalam pengambilan keputusan, serta membangun komunikasi dua arah yang aktif dan saling Pola kepemimpinan ini menciptakan suasana kerja yang harmonis, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan kepemimpinan perempuan ini didukung oleh budaya kerja sama yang solid antar guru, komunikasi yang terbuka, pembiasaan nilai-nilai Islami, serta dukungan yayasan melalui penyediaan fasilitas pengembangan profesionalisme. Adapun hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan kewenangan kepala sekolah akibat sistem birokrasi yayasan dan perbedaan latar belakang pendidikan guru. Namun, melalui pendekatan persuasif dan komunikatif, kepala sekolah mampu mengatasi kendala tersebut dengan koordinasi dan kerja sama yang baik. Kepemimpinan demokratis terbukti berdampak positif terhadap peningkatan profesionalisme guru, yang terlihat pada empat dimensi utama: kompetensi pedagogik melalui penerapan pembelajaran aktif seperti Fun Learning dan pameran kokurikuler. profesional dengan keterlibatan guru dalam berbagai pelatihan seperti English Teaching Workshop dan Standarisasi Tilawati. kompetensi sosial melalui komunikasi harmonis antara guru, siswa, dan orang tua. serta kompetensi kepribadian yang tercermin dari kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan guru melalui kegiatan religius seperti Khatmil Al-QurAoan dan doa bersama. Secara keseluruhan, kepemimpinan perempuan yang mengintegrasikan nilai-nilai demokratis dan religius telah berhasil menciptakan budaya kerja produktif, kolaboratif, serta JIPSH: Jurnal Ilmu Pendidikan. Sosial dan Humaniora. Vol. 1 No. November 2025 | 273 berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan, sekaligus menjadi model kepemimpinan efektif di lembaga pendidikan Islam dasar. REFERENSI