Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X THE MANAGEMENT OF THE PROJECT-BASED LEARNING (PJBL) MODEL IN ENHANCING STUDENTSAo RELIGIOUS CHARACTER AT SMA NEGERI 1 CIRACAP AND SMA NEGERI 1 SURADE Feri Firmansyah Athori1 Basnang Said2 Universitas Islam Nusantara Correspondence Author: ferifirmansyahathori@uninus. Abstract. At SMA Negeri 1 Ciracap and SMA Negeri 1 Surade in Sukabumi Regency. West Java, the administration of Project-Based Learning (PjBL) is essential to developing students' religious character. The purpose of this study is to outline the ways in which PjBL management aids in the formation of religious character in these two high schools. Data were gathered through in-depth interviews, documentation, and observations involving Islamic Religious Education instructors, principals, and students using a qualitative descriptive case study The findings show that educators incorporate religious ideas into project planning, including digital dakwah materials and social religious activities. Teachers serve as facilitators during implementation, promoting moral responsibility, teamwork, and connections between projects and religious principles. Assessment is a comprehensive process that includes learning procedures, project goals, and changes in students' religious behavior. In order to foster a religious and participative learning culture, the management method emphasizes efficient collaboration between educators, students, and school officials. In accordance with the Pancasila Student Profile, this study concludes that well-managed PjBL is a creative way to enhance students' religious character and offers insightful information to Islamic Religious Education instructors and school policymakers on how to create curricula that foster moral and spiritual development in addition to academic success. Keywords: Learning Management. Project-Based Learning. Religious Character. Islamic Education. Senior High School. Abstrak. Di SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade di Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat, penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) sangat penting untuk mengembangkan karakter religius siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan bagaimana manajemen PjBL membantu pembentukan karakter religius di kedua SMA tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi yang melibatkan instruktur Pendidikan Agama Islam, kepala sekolah, dan siswa dengan menggunakan metode studi kasus deskriptif kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa para pendidik memasukkan ide-ide keagamaan ke dalam perencanaan proyek, termasuk materi dakwah digital dan kegiatan sosial Guru berperan sebagai fasilitator selama implementasi, mendorong tanggung jawab moral, kerja sama tim, dan hubungan antara proyek dan prinsip-prinsip agama. Penilaian merupakan proses komprehensif yang mencakup prosedur pembelajaran, tujuan proyek, dan perubahan perilaku keagamaan siswa. Untuk menumbuhkan budaya belajar yang religius dan partisipatif, metode manajemen menekankan kolaborasi yang efisien antara pendidik, siswa, dan pejabat sekolah. Sesuai dengan profil siswa pancasila, penelitian ini menyimpulkan bahwa PjBL yang dikelola dengan baik merupakan cara kreatif untuk meningkatkan karakter keagamaan siswa dan menawarkan informasi mendalam kepada pengajar Pendidikan Agama Islam dan The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X pembuat kebijakan sekolah tentang cara membuat kurikulum yang menumbuhkan perkembangan moral dan spiritual di samping keberhasilan akademis. Kata Kunci: Manajemen Pembelajaran. Project-Based Learning. Karakter Religius. Pendidikan Agama Islam. SMA. PENDAHULUAN Untuk membentuk siswa yang taat, taat beribadah, dan bermoral, pendidikan agama di sekolah sangatlah penting. Namun, tugas menumbuhkan karakter religius dalam konteks pendidikan abad ke-21 menjadi semakin sulit karena pengaruh globalisasi, media sosial, dan budaya digital yang seringkali bersinggungan dengan nilai-nilai spiritual. Tantangan ini menuntut pendidik, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), untuk mampu menavigasi kesulitan yang ditimbulkan oleh arus teknologi dan budaya kontemporer (Mustofa & Hadi. Akibatnya, diperlukan model dan manajemen pembelajaran yang mengutamakan kinerja kognitif dan penanaman nilai-nilai agama melalui pengalaman belajar yang relevan dan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan salah satu strategi yang mendukung tujuan-tujuan tersebut. Paradigma pembelajaran ini menekankan partisipasi aktif siswa dalam menyelesaikan proyek-proyek nyata. Dalam kerangka PAI, proyek-proyek dapat diciptakan untuk menggabungkan nilai-nilai agama seperti kejujuran, akuntabilitas, disiplin agama, kepedulian sosial, dan kerja sama. Lebih lanjut. PjBL terbukti menjadi pendekatan yang efektif dalam memperkuat dimensi spiritual siswa, sejalan dengan dimensi Beriman. Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia pada Profil Pelajar Pancasila (Hasyim & Setiawan. Namun, keberhasilan implementasi PjBL sangat bergantung pada bagaimana guru secara metodis mengawasi seluruh proses pembelajaranAimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga Manajemen pembelajaran adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan belajar mengajar untuk memastikan kegiatan tersebut berjalan dengan sukses dan efisien (Mulyasa, 2. Dalam pembelajaran berbasis proyek, guru berperan sebagai manajer selain menjadi instruktur, yang senantiasa mengawasi, mendorong, dan menilai kegiatan belajar siswa. Peran ganda ini sangat krusial, sebab manajemen guru yang baik adalah kunci untuk menginternalisasi nilai-nilai agama melalui kegiatan yang terstruktur (Darmawan & Handayani, 2. Pengembangan karakter, khususnya karakter religius, tidak dapat dicapai hanya melalui ceramah atau instruksi, melainkan memerlukan kebiasaan yang terencana dan terkendali dengan baik di lingkungan sekolah (Darmawan & Handayani, 2. Menurut data empiris, metode pengajaran PAI di banyak lembaga masih berpusat pada guru, yang membuat siswa tidak berdaya dan tidak memiliki pengalaman praktis dalam menginternalisasi keyakinan agama. Meskipun program keagamaan seperti salat berjamaah dan kegiatan sosial rutin telah dilaksanakan, program-program tersebut belum terkoordinasi secara optimal dalam kerangka pembelajaran terpadu. Hal ini menunjukkan perlunya manajemen pembelajaran yang lebih metodis untuk memfasilitasi internalisasi keyakinan agama melalui kegiatan belajar yang The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X Guru memiliki peluang besar untuk mengawasi proses pembelajaran yang lebih interaktif dan berfokus pada pengembangan karakter dengan menerapkan PjBL. Setiap proyek dapat diciptakan untuk mempromosikan nilai-nilai keagamaan, misalnya melalui proyek pengabdian masyarakat yang mengembangkan empati dan kesadaran sosial, atau proyek dakwah digital yang mengajarkan etika penggunaan media (Syafei & Wibowo, 2. Namun, keberhasilan proyekproyek ini, sama seperti kecerdasan siswa, ditentukan oleh kemampuan guru untuk mengawasi tahapan-tahapan pembelajaranAimulai dari persiapan yang matang dan pelaksanaan kooperatif hingga evaluasi reflektif. Secara teoretis, manajemen pembelajaran PjBL berkaitan erat dengan konsep 'amal shalih dalam kerangka pendidikan Islam, di mana pembelajaran harus menghasilkan perbaikan akhlak dan perilaku yang nyata (Azizah & Khoir, 2. Selain itu, cita-cita keagamaan dapat ditanamkan melalui interaksi sosial yang bermakna ketika siswa bekerja sama dalam proyekproyek yang sarat spiritual (Syarifuddin & Fauzi, 2. Oleh karena itu, kunci untuk mengembangkan lingkungan belajar yang secara kontekstual mendorong agama, kesalehan, dan moralitas yang tinggi adalah manajemen PjBL. Dengan konteks ini, tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan bagaimana Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dikelola untuk meningkatkan karakter religius siswa di dua sekolah negeri di Kabupaten Sukabumi. Perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran merupakan tiga bidang utama yang menjadi perhatian penelitian ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana instruktur PAI mengawasi proses pembelajaran berbasis proyek sebagai taktik untuk meningkatkan karakter religius siswa. Berikut adalah pertanyaan penelitian: Bagaimana karakter religius siswa di SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade diperkuat melalui Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)?. Bagaimana PjBL digunakan di kedua sekolah ini untuk membantu siswa mengembangkan karakter religius mereka?. Dengan cara apa PjBL membantu siswa di SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade mengembangkan karakter religius mereka?. Dengan mencakup ketiga fase kunci ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan menyeluruh tentang manajemen pembelajaran berbasis proyek dalam konteks peningkatan karakter religius di sekolah menengah atas. Temuan ini diharapkan dapat digunakan sebagai panduan oleh para pendidik dan pembuat kebijakan pendidikan dalam menciptakan strategi manajemen pembelajaran terpadu yang menggabungkan unsur pedagogis dan spiritual, sejalan dengan nilai-nilai Profil Siswa PancasilaAiiman, taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia (Hasyim & Setiawan, 2. Namun, hingga saat ini, belum banyak penelitian yang menjelaskan secara menyeluruh manajemen pembelajaran berbasis proyek dalam konteks sekolah negeri dengan karakteristik sosial ekonomi yang berbeda di tiga tahap utamanya: perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Munir & Hasan, 2. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada seberapa baik PjBL mempengaruhi hasil belajar daripada pada bagaimana mengelola penerapannya secara efektif di kelas PAI. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif lintas sekolah, penelitian ini unik The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X karena menyelidiki secara menyeluruh manajemen pembelajaran berbasis proyek di dua sekolah menengah atas negeri (Ciracap dan Surad. yang mewakili dua latar agama dan budaya yang Penelitian ini berkontribusi dengan membantu mengembangkan model konseptual untuk manajemen pembelajaran berbasis proyek berbasis karakter religius dalam rangka membantu pengajar PAI melaksanakan Kurikulum Merdeka. METODE Penelitian ini dilakukan di dua sekolah di Kabupaten Sukabumi. Jawa Barat: SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade, dengan menggunakan desain studi kasus ganda (Yin, 2. yang dipadukan dengan teknik deskriptif kualitatif. Metode ini dipilih untuk memahami sepenuhnya bagaimana guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menerapkan manajemen pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) sekaligus meningkatkan karakter religius siswanya. Literatur metodologi menegaskan bahwa tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menganalisis makna yang muncul dari interaksi antara partisipan dan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang proses sosial (Creswell, 2. Sementara itu, studi kasus (Yin, 2. memberi peneliti kesempatan untuk melihat secara dekat dinamika yang terjadi dalam konteks pembelajaran tertentu, khususnya yang terkait dengan praktik manajerial guru dalam hal mengorganisasikan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Dua sekolah dengan karakteristik yang berbeda namun berstatus sama dengan sekolah negeri digunakan untuk memilih lokasi penelitian. SMA Negeri 1 Ciracap, yang terletak di wilayah pesisir selatan Kabupaten Sukabumi, memiliki siswa yang beragam dan banyak kegiatan Sebaliknya. SMA Negeri 1 Surade terletak di wilayah yang lebih padat dengan sejarah panjang adat istiadat sosial keagamaan dan budaya keagamaan yang kuat. Kedua sekolah ini dipilih karena sama-sama menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek untuk Pendidikan Agama Islam, tetapi memiliki gaya manajemen yang berbeda. Hal ini memungkinkan perbandingan kontekstual yang memperkuat temuan penelitian. Subjek penelitian adalah guru, siswa, dan administrator yang terlibat langsung dalam implementasi pembelajaran berbasis proyek dalam Pendidikan Agama Islam. Informan dipilih dengan purposive sampling, yaitu memilih partisipan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan (Creswell, 2. Kriteria tersebut meliputi kepala sekolah atau wakil kepala sekolah yang bertanggung jawab atas kurikulum yang memahami kebijakan pembelajaran sekolah, siswa yang aktif terlibat dalam proyek keagamaan, dan guru Pendidikan Agama Islam yang telah menggunakan model PjBL minimal satu semester sebelumnya. Total informan adalah dua belas siswa dari kedua sekolah yang menjadi subjek penelitian, empat kepala program studi, dan dua guru Pendidikan Agama Islam. Tiga teknik utama digunakan untuk pengumpulan data: dokumentasi, wawancara mendalam, dan observasi. Observasi: Kegiatan pembelajaran PAI berbasis proyek diamati dari tahap perencanaan hingga tahap evaluasi. Observasi ini meliputi manajemen waktu, interaksi guru dan siswa. The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X serta keterlibatan siswa dalam program-program seperti Gerakan Sholat Berjamaah, dakwah digital, dan kegiatan sosial keagamaan. Wawancara Mendalam: Dilakukan untuk menggali pengalaman, pendapat, dan refleksi pendidik, peserta didik, dan kepala sekolah terkait penerapan PjBL. Tiga komponen utama manajemen pembelajaranAiperencanaan, pelaksanaan, dan evaluasiAimenjadi dasar aturan Dokumentasi: Berbagai materi dikumpulkan, termasuk rencana pembelajaran, catatan kegiatan, laporan proyek siswa, gambar dan video proses belajar mengajar, serta dokumen kebijakan sekolah terkait kegiatan keagamaan. Proses pengumpulan data berlangsung selama tiga bulan, dimulai dengan observasi awal dan berlanjut hingga tahap verifikasi data. Data yang terkumpul dievaluasi menggunakan tiga langkah utama model analisis interaktif reduksi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan Data yang relevan dengan fokus penelitian . erencanaan, implementasi, dan evaluas. dipilih dan dikategorikan oleh peneliti selama tahap reduksi data. Temuan disusun secara naratif selama tahap penyajian data untuk menunjukkan tren manajemen pembelajaran di setiap institusi. Dengan menggunakan interpretasi data lapangan yang dikonfirmasi oleh triangulasi sumber dan teknik, peneliti sampai pada kesimpulan selama tahap verifikasi. Untuk menjaga validitas data, digunakan metode triangulasi, termasuk triangulasi sumber . erbandingan temuan wawancara dengan instruktur, siswa, dan kepala sekola. dan triangulasi metode . enggabungan hasil observasi, wawancara, dan dokumentas. (Creswell, 2. Informan juga diminta untuk meninjau ringkasan wawancara sebagai bagian dari proses pemeriksaan anggota untuk mencegah kesalahpahaman. Peneliti merupakan instrumen utama yang terlibat langsung dalam pengumpulan dan pemrosesan data selama keseluruhan proses Peneliti menggunakan pencatatan data sebagai semacam jejak audit, catatan lapangan, dan refleksi pribadi untuk menjaga objektivitas. Penelitian ini dilaksanakan sesuai prinsip etika penelitian kualitatif. Izin penelitian diperoleh secara resmi dari pihak kampus dan kepala sekolah di kedua locus. Semua partisipan . uru, siswa, kepala sekola. diminta menandatangani informed consent sebelum wawancara dan observasi. untuk siswa di bawah umur persetujuan orang tua/wali juga diupayakan sesuai kebijakan sekolah. Identitas partisipan dan data sensitif disamarkan untuk menjaga anonimitas, dan rekaman serta transkrip hanya digunakan untuk tujuan penelitian. Proses member checking dan triangulasi metode digunakan untuk memastikan keabsahan interpretasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Artikel ini menghadirkan sebuah penelitian mendalam yang mengeksplorasi implementasi manajemen pembelajaran PjBL dalam konteks pendidikan agama Islam (PAI) di dua sekolah menengah atas negeri yang berbeda karakteristik. Penelitian ini menggambarkan perjalanan akademik yang mengangkat isu kontemporer tentang tantangan pembentukan karakter religius di era digital, di mana pengaruh globalisasi dan media sosial semakin menggeser nilai-nilai spiritual tradisional. The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X Latar penelitian terbentang di dua sekolah yang memiliki keunikan tersendiriAiSMA Negeri 1 Ciracap yang terletak di wilayah pesisir selatan Kabupaten Sukabumi dengan keberagaman siswa dan aktivitas keagamaan yang dinamis, serta SMA Negeri 1 Surade yang berada di kawasan dengan kultur religius kuat dan tradisi sosial keagamaan yang mengakar. Kedua sekolah ini menjadi laboratorium alami untuk mengamati bagaimana manajemen pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan dalam konteks yang berbeda namun dengan tujuan yang samaAimemperkuat karakter religius siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus ganda yang memungkinkan peneliti mendalami kompleksitas manajemen pembelajaran di dua setting berbeda. Melalui observasi mendalam, wawancara intensif dengan guru PAI, kepala sekolah, dan siswa, serta dokumentasi komprehensif, peneliti merajut narasi yang kaya tentang praktik pendidikan yang bermakna. Artikel ini mengungkap tiga pilar fundamental dalam manajemen pembelajaran PjBL yang efektif: perencanaan sistematis, pelaksanaan kolaboratif, dan evaluasi reflektif. Temuan studi menunjukkan bahwa ketiga faktor kunci ini menentukan seberapa baik manajemen pembelajaran PjBL memperkuat karakter religius siswa. Bersamasama, ketiga elemen ini menciptakan siklus manajemen yang memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran PAI yang komprehensif. Hasil ini mendukung pernyataan (Hasyim & Setiawan, 2. bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa adanya manajemen pembelajaran yang sistematis, terorganisir dengan baik, dan berjangka panjang. Perencanaan Pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) yang Sistematis Terlepas dari karakteristik dan lingkungan sekolah yang berbeda, temuan penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran PjBL dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade telah menyelesaikan proses perencanaan yang Perencanaan sistematis ini menunjukkan kemampuan guru dalam merancang proyek-proyek kontekstual. Untuk memilih mata pelajaran proyek yang relevan dengan kehidupan keagamaan siswa, perwakilan kurikulum, kepala sekolah, dan instruktur PAI di SMA Negeri 1 Ciracap mengadakan rapat koordinasi. Inisiatif "Dakwah Digital" dan "Gerakan Sholat Berjamaah di Sekolah" diciptakan oleh instruktur PAI Ciracap sebagai bagian dari pembelajaran tematik PAI, yang memadukan unsur sosial, teknologi, dan spiritual. Sementara itu, instruktur PAI di SMA Negeri 1 Surade berfokus pada program-program yang berpusat pada tanggung jawab sosial, seperti "Bakti Sosial Islami" dan "Gerakan Santunan Jumat. Agar sesuai dengan prinsip-prinsip PjBL, rencana pembelajaran (RPP) disesuaikan untuk memasukkan tujuan proyek, tahapan pelaksanaan, dan metrik keberhasilan siswa yang mencakup pengetahuan, sikap, dan kemampuan keagamaan. Para guru di kedua sekolah telah mengintegrasikan keyakinan agama ke dalam setiap aspek pembelajaran, sebagaimana terlihat dari perencanaan mereka. Misalnya, guru menggunakan indikator afektif seperti tanggung jawab moral untuk proyek kelompok, kerja sama dalam beramal saleh, dan disiplin agama di samping pencapaian kognitif ketika menentukan indikator keberhasilan. Untuk membantu siswa memahami makna religius dari setiap kegiatan proyek, guru juga membuat lembar kerja proyek dan panduan refleksi. The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X "Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami materi agama secara intelektual, tetapi juga secara pribadi menerapkan nilai-nilai Islam dalam kegiatan nyata," ujar seorang guru PAI Ciracap dalam sebuah wawancara. Hasil ini menunjukkan betapa pentingnya perencanaan PjBL dalam membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai agama melalui kegiatan yang relevan. Hal ini mendukung gagasan yang dikemukakan oleh (Darmawan & Handayani, 2. bahwa pendidikan karakter perlu direncanakan secara metodis untuk menanamkan prinsip-prinsip moral dalam perilaku. Oleh karena itu, para guru PAI harus menciptakan ide-ide proyek yang menggabungkan cita-cita spiritual Islam dengan kemampuan abad ke-21. Pelaksanaan Pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) yang Kolaboratif Pilar kedua adalah pelaksanaan kolaboratif yang memperlihatkan transformasi peran guru dari instruktur tradisional menjadi fasilitator pembelajaran yang membimbing siswa dalam proyek-proyek bermakna. Konsep PjBL, yang menekankan kerja sama tim, partisipasi aktif siswa, dan penerapan keyakinan agama dalam praktik, diterapkan dalam proses pendidikan di kedua institusi. Proses implementasi proyek di SMA Negeri 1 Ciracap dimulai dengan pengarahan Kelompok-kelompok kecil siswa diberi topik proyek tertentu untuk dikerjakan, seperti merencanakan acara salat berjamaah atau membuat konten dakwah Islam digital untuk akun media sosial sekolah. Instruktur berperan sebagai fasilitator selama proses ini, memberikan instruksi dan arahan tanpa mengambil alih kendali kelompok. Siswa secara aktif melakukan penelitian skala kecil, berpartisipasi dalam diskusi, dan menyelesaikan tugas sesuai dengan rencana proyek sebagai bagian dari implementasi prinsip belajar sambil bekerja. Peran fasilitator ini juga merupakan bagian dari fungsi guru sebagai manajer pembelajaran (Zulkarnain, 2. Di Ciracap, siswa antusias mengekspresikan kreativitas melalui konten dakwah digital. Menurut salah satu siswa Ciracap: "Pelajaran agama biasanya hanya berupa ceramah dan Namun, inisiatif dakwah digital ini mengajarkan saya cara menggunakan video singkat untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal ini menyenangkan dan meningkatkan pemahaman saya tentang prinsip-prinsip agama. Sementara itu, proyek ini dilaksanakan dengan cara yang lebih sadar sosial di SMA Negeri 1 Surade. Para instruktur mendorong siswa untuk merencanakan kegiatan amal yang lugas, seperti mengumpulkan dana dan melakukan kerja sukarela di panti asuhan. Di setiap jenjang proyek, guru tidak hanya mengelola proses logistik tetapi juga menanamkan nilai-nilai kerja sama, tanggung jawab, dan ketulusan. "Kegiatan proyek bukan sekadar tugas sekolah, tetapi praktik dalam mengamalkan cita-cita Islam dalam kehidupan nyata," tegas Guru Surade. Hasil pelaksanaan ini konsisten dengan temuan (Syarifuddin & Fauzi, 2. yang menekankan bahwa interaksi sosial antar siswa dalam situasi proyek yang relevan mengarah pada pembelajaran yang efektif dan peningkatan karakter religius. Siswa mengalami prinsipprinsip agama seperti empati dan saling membantu melalui komunikasi dan kolaborasi Selain itu, manajemen waktu yang efektif sangat penting bagi keberhasilan proyek, ditunjukkan oleh manajemen waktu guru yang fleksibelAiinstruktur Surade menggabungkan proyek dengan kegiatan ekstrakurikuler keagamaan, sementara guru Ciracap merencanakan kegiatan proyek di luar jam pelajaran reguler. The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X Secara keseluruhan, penerapan PjBL di kedua sekolah menunjukkan bahwa, dengan pengelolaan kegiatan autentik yang cermat, metode ini dapat berfungsi sebagai wahana pengembangan karakter. Evaluasi Pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) yang Reflektif Pilar ketiga adalah evaluasi reflektif yang tidak hanya mengukur hasil akademik tetapi juga perubahan perilaku religius siswa. Penilaian terhadap proses, hasil, dan modifikasi perilaku keagamaan siswa merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran yang menyeluruh dan cermat yang dilakukan di kedua sekolah. Guru PAI SMA Negeri 1 Ciracap mengevaluasi partisipasi siswa menggunakan lembar Selain mengevaluasi hasil akhir . isalnya, video ibadah atau laporan kegiata. , penilaian juga melihat kerjasama, disiplin, dan tanggung jawab selama proses berlangsung. Surade, guru PAI menciptakan alat penilaian berbasis refleksi diri. Setelah menyelesaikan proyek, siswa diajak untuk membuat catatan refleksi mengenai pengalaman spiritual mereka selama proyek. "Dulu saya berpikir bahwa membantu kaum kurang mampu hanya tugas orang dewasa," tulis seorang siswa. "Namun, setelah menyelesaikan pengabdian masyarakat, saya menyadari bahwa bersedekah juga dapat meningkatkan rasa puas dan tenteram. instruktur memimpin diskusi kelas yang mendalam untuk menggali makna prinsipprinsip keagamaan yang muncul dalam proyek tersebut. Pendekatan evaluasi ini sejalan dengan temuan Munir dan Hasan . yang menegaskan bahwa refleksi moral harus menjadi bagian integral dari proses pengembangan karakter, karena melalui kontemplasi nilai-nilai keagamaan inilah perilaku siswa dapat benar-benar terinternalisasi. Instruktur juga melakukan penilaian manajerial terhadap proses implementasi proyek, mempertimbangkan efektivitas waktu, keterlibatan siswa, dan dukungan sekolah. Menurut kepala sekolah Ciracap, "Implementasi PjBL berjalan dengan baik karena guru Pendidikan Agama Islam (PAI) aktif berkoordinasi dengan guru lain dan melibatkan pengurus OSIS dan IRMA sekolah. " Hal ini sejalan dengan temuan (Wibisono & Ardiansyah, 2. mengenai dukungan manajerial sekolah. Gagasan perbaikan berkelanjutan, yang menggunakan temuan evaluasi untuk meningkatkan operasional proyek selanjutnya, ditunjukkan dalam penilaian menyeluruh ini. Evaluasi merupakan alat untuk perbaikan berkelanjutan selain digunakan untuk mengevaluasi Artikel ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan karakter religius dengan menyajikan model manajemen pembelajaran yang dapat diadaptasi sesuai konteks sekolah. Penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan PjBL, ketika dikelola dengan baik pada tiga fungsi intiAiperencanaan, pelaksanaan, dan evaluasiAimampu menjembatani pembelajaran teoritis dengan pengalaman praktis yang mengakar dalam nilai-nilai Narasi penelitian ini menawarkan blueprint praktis bagi pendidik PAI untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis proyek yang tidak hanya meningkatkan capaian akademik tetapi juga memperkuat karakter religius siswa. Kedua sekolah menunjukkan pola yang bervariasi dalam penerapan PjBL, tetapi keduanya berhasil mengintegrasikan nilai-nilai The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X keagamaan ke dalam proyek pembelajaran. SMA Negeri 1 Surade unggul dalam kegiatan sosial keagamaan, sementara SMA Negeri 1 Ciracap unggul dalam komunikasi keagamaan dan inovasi teknis (Syafei & Wibowo, 2. Variasi ini menunjukkan betapa fleksibel dan adaptifnya penerapan PjBL terhadap kondisi unik setiap sekolah. Temuan ini sejalan dengan semangat Profil Pelajar Pancasila yang menekankan pembentukan individu beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, khususnya terkait unsur "iman, taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia. " Oleh karena itu, manajemen pembelajaran berbasis proyek merupakan alat strategis untuk mengembangkan karakter keagamaan siswa di masa kini sekaligus sebagai pendekatan pedagogis. Artikel ini menggambarkan sebuah inovasi pendidikan yang berakar pada tradisi namun relevan dengan tuntutan zaman, memberikan harapan bagi transformasi pendidikan agama yang lebih bermakna dan berdampak. KESIMPULAN Manajemen Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) sangat penting untuk meningkatkan karakter religius siswa di SMA Negeri 1 Ciracap dan SMA Negeri 1 Surade, menurut temuan studi tersebut. Hasil yang diperoleh melalui metodologi studi kasus deskriptif kualitatif menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi PjBL bergantung pada desain proyek yang menarik dan manajemen pembelajaran yang efisien, yang mencakup tiga komponen utama: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru Pendidikan Agama Islam menunjukkan bahwa mereka dapat merencanakan pembelajaran yang sejalan dengan kebutuhan siswa dan prinsip-prinsip agama. Inisiatif termasuk pengabdian masyarakat, kegiatan keagamaan, dan dakwah digital . enjangkauan Isla. direncanakan secara metodis untuk meningkatkan kesadaran sosial, disiplin, dan rasa tanggung Guru berperan sebagai manajer pembelajaran dan fasilitator selama fase implementasi, mendorong kerja sama tim, inovasi, dan partisipasi aktif siswa dalam kesempatan belajar di dunia nyata. Karena siswa mampu menerapkan pemahaman teoretis mereka tentang prinsipprinsip agama dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran menjadi lebih relevan. Guru melakukan evaluasi komprehensif dan introspektif yang mencakup prosedur, hasil, dan perubahan dalam praktik keagamaan siswa. Selain mengevaluasi efektivitas proyek, evaluasi memberi guru dan siswa cara untuk merefleksikan diri dan terus meningkatkan diri. Dengan mempertimbangkan semua hal, manajemen pembelajaran PjBL telah berhasil membangun lingkungan belajar interaktif yang berpusat pada siswa dan berfokus pada pembentukan karakter religius. Studi ini menunjukkan bahwa model strategis untuk pendidikan agama di sekolah menengah dapat berupa pendekatan manajemen pembelajaran yang terencana dan terarah. Guru Pendidikan Agama Islam didorong untuk terus meningkatkan kemampuan administratif mereka agar dapat mengawasi pembelajaran berbasis proyek dengan tetap memperhatikan kondisi unik lembaga mereka masing-masing. Agar kegiatan proyek keagamaan dapat berkelanjutan, sekolah harus menyediakan dukungan infrastruktur dan kebijakan. Untuk The Management of The Project-Based Learning (PJBL) Model in Enhancing StudentsAo Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X meningkatkan hasil pembelajaran yang holistik, penelitian lebih lanjut dapat memperluas fokus untuk mencakup elemen-elemen Profil Siswa Pancasila lainnya, termasuk kemandirian dan kerja Pengembangan manajemen pembelajaran PAI berbasis proyek di sekolah menengah dengan demikian ditingkatkan oleh penelitian ini, terutama dalam penciptaan model manajemen yang metodis dan terukur untuk meningkatkan karakter keagamaan siswa. DAFTAR PUSTAKA