Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. EKONOMI KREATIF : PELATIHAN PEMBUATAN BUKET KREATIF SEBAGAI INOVASI BISNIS PEMULA BAGI REMAJA DUSUN LILIN Ni Nengah Ayu Wulandari1*. I Ketut Putu Suardana2. Ida Ayu Nyoman Widia Laksmi3, & I Komang Widya Purnama Yasa4 1,2,3,&4 Program Studi Ekonomi Hindu. Fakultas Dharma Duta. Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram. Jalan Pancaka Nomor 7B. Mataram. Nusa Tenggara Barat 83126. Indonesia *Email: nengahayuu6@gmail. Submit: 13-10-2025. Revised: 26-10-2025. Accepted: 27-10-2025. Published: 31-10-2025 ABSTRAK: Kurangnya keterampilan wirausaha di kalangan remaja desa menjadi tantangan dalam menciptakan lapangan kerja lokal. Pelatihan pembuatan buket kreatif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan dan mengembangkan ekonomi kreatif di tingkat lokal. Kegiatan ini dilaksanakan di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat untuk mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif generasi muda di era digital. Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali 20 peserta remaja dengan keterampilan teknis merangkai buket, menumbuhkan kreativitas, serta memperkenalkan strategi pemasaran digital secara sederhana melalui media sosial. Metode pelaksanaan meliputi observasi, penyampaian materi, praktik langsung, dan evaluasi sederhana melalui pretest dan posttest. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan teknis sebesar 85% berdasarkan hasil evaluasi, serta peningkatan kepercayaan diri peserta dalam menghasilkan produk bernilai estetis dan ekonomis. Selain itu, peserta mampu memahami peluang usaha dari produk yang dibuat serta cara memasarkan secara digital. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkuat keterampilan individu, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pengembangan ekonomi kreatif berkelanjutan di desa. Kata Kunci: Buket. Ekonomi Kreatif. Kewirausahaan. Pemasaran Digital. Remaja. ABSTRACT: The lack of entrepreneurial skills among rural youth poses a challenge in creating local employment opportunities. The creative bouquet-making training serves as an effort to foster an entrepreneurial spirit and develop the creative economy at the local level. This activity was carried out in Dusun Lilin. Giri Tembesi Village, as a form of community service aimed at promoting the economic empowerment of young people in the digital era. The main objective of this program was to equip 20 youth participants with technical skills in bouquet arrangement, foster creativity, and introduce simple digital marketing strategies through social media. The implementation methods included observation, material delivery, hands-on practice, and simple evaluations through pretests and posttests. The results showed an 85% improvement in technical skills based on evaluation outcomes, along with increased participantsAo confidence in producing aesthetically and economically valuable products. In addition, participants were able to understand business opportunities from the products they created and learned how to market them Thus, this activity not only strengthened individual skills but also had a positive impact on the sustainable development of the local creative economy. Keywords: Bouquet. Creative Economy. Enterpreneurship. Digital Marketing. Youth. How to Cite: Wulandari. Suardana. Laksmi. , & Yasa. Ekonomi Kreatif : Pelatihan Pembuatan Buket Kreatif sebagai Inovasi Bisnis Pemula bagi Remaja Dusun Lilin. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , 261-273. https://doi. org/10. 36312/nuras. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. PENDAHULUAN Era digital dan globalisasi menuntut adanya perubahan paradigma dalam pembangunan ekonomi desa (Nasution, 2. Perekonomian yang selama ini lebih banyak bertumpu pada sektor formal seperti industri besar, pertanian skala luas, dan layanan berskala besar kini dianggap belum memadai untuk menghadapi tantangan zaman (Suardana, 2. Ekonomi kreatif hadir sebagai salah satu faktor yang mampu menjawab kebutuhan tersebut, di mana kreativitas, keterampilan, serta gagasan inovatif menjadi modal utama dalam menghasilkan nilai tambah suatu produk maupun jasa. Ekonomi kreatif merupakan sektor yang bertumpu pada kreativitas, keterampilan, serta gagasan inovatif sebagai nilai utama dari produk maupun jasa yang dihasilkan (Kusumadewi et al. , 2. Sektor ini diyakini mampu berkontribusi secara nyata dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kemandirian ekonomi (Yusniar et al. , 2. Pada era modern, kreativitas menjadi modal penting untuk dapat bertahan dan bersaing. Kreativitas tidak hanya berkaitan dengan keterampilan seni, tetapi juga dengan kemampuan menghasilkan ide baru serta menemukan peluang di tengah keterbatasan (Sitepu, 2. Remaja sebenarnya memiliki potensi kreativitas yang besar, namun sering kali belum tergarap secara maksimal karena kurangnya akses terhadap sarana dan pelatihan yang memadai. Melalui kegiatan pelatihan seperti pembuatan buket kawat bulu, potensi tersebut dapat digali dan dikembangkan secara lebih optimal. Beberapa tahun terakhir, penggunaan buket bunga dalam berbagai acara sosial seperti wisuda, ulang tahun, dan pernikahan meningkat pesat. Tren ini mencerminkan pergeseran selera konsumen menuju hadiah yang lebih personal dan estetis. Kini, buket tidak hanya berupa bunga, tetapi juga dikreasikan dari bahan lain seperti makanan ringan. Utami et al. menyatakan bahwa buket menjadi media penyampaian perhatian dan kasih sayang sehingga meningkatkan nilai jualnya. Fenomena ini membuka peluang usaha yang luas bagi remaja desa untuk menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan pasar. Berbagai penelitian telah menunjukkan manfaat nyata dari pelatihan keterampilan kreatif seperti pembuatan buket. Salah satunya, studi lapangan di Desa Blang Bayu menyatakan bahwa program ini berhasil membantu masyarakat, khususnya remaja, agar termotivasi memanfaatkan peluang berusaha dalam meningkatkan pendapatan masyarakat (Agustinawati et al. , 2. Demikian pula pada pelatihan lokal lainnya ditemukan bahwa kegiatan serupa menumbuhkan kreativitas peserta dan meningkatkan potensi kewirausahaan mereka. Penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa usaha pembuatan buket kreatif sangat berpotensi sebagai alternatif wirausaha bagi remaja desa. Modalnya minimal, fleksibel dijalankan, dan dapat dilakukan secara mandiri dengan keterampilan sederhana. Namun, kesenjangan antara potensi dan realisasi masih sangat lebar. Berdasarkan observasi awal di Dusun Lilin, dari 38 remaja yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, belum ada satu pun yang memiliki keterampilan merangkai buket atau mengikuti pelatihan kewirausahaan berbasis Padahal, hasil survei pendahuluan menunjukkan bahwa 85% remaja memiliki motivasi tinggi untuk berwirausaha, namun 92% di antaranya mengaku Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. memiliki keterbatasan akses terhadap pelatihan keterampilan praktis dan pendampingan usaha. Kesenjangan inilah yang menjadi urgensi utama dilaksanakannya kegiatan ini, bukan hanya karena minimnya pelatihan, tetapi juga karena adanya potensi besar yang belum terfasilitasi secara optimal. Berdasarkan fenomena tersebut, tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat menyelenggarakan Aupelatihan pembuatan buket kreatif sebagai inovasi bisnis pemula bagi remaja desaAy sebagai bagian dari implementasi Tridarma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini tidak hanya difokuskan pada pemberian keterampilan teknis merangkai buket, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan remaja desa. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, mengubah ide menjadi produk bernilai jual, serta memiliki keberanian untuk memulai usaha kecil secara mandiri. Pelatihan ini dilaksanakan di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, yang dipilih karena minimnya kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan di wilayah tersebut. Remaja sebagai sasaran utama kegiatan diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungannya dengan memanfaatkan kreativitas dan semangat kewirausahaan yang diperoleh dari pelatihan ini. Kontribusi kegiatan ini terletak pada upaya mengisi kesenjangan antara motivasi tinggi remaja dengan ketersediaan akses pelatihan, sekaligus memberikan bukti empiris bahwa pelatihan terstruktur berbasis ekonomi kreatif mampu meningkatkan keterampilan teknis, kepercayaan diri, dan pemahaman kewirausahaan remaja Tujuan kegiatan ini adalah membekali remaja desa dengan keterampilan membuat buket kreatif bernilai jual, memperkenalkan strategi pemasaran digital, menumbuhkan semangat kewirausahaan, serta membangun budaya kreatif yang Secara keseluruhan, pelatihan diharapkan dapat mencetak pola pikir inovatif, adaptif, dan produktif pada generasi muda desa, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi desa serta menjawab tantangan perkembangan zaman secara relevan dan kontekstual. METODE Desain Kegiatan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang menggunakan desain partisipatif dengan pendekatan pelatihan keterampilan berbasis praktik . kill based trainin. Desain kegiatan ini mengadopsi model Action Learning yang menekankan pada siklus belajar melalui pengalaman langsung: teori, demostrasi, praktik, dan refleksi. Kerangka pelaksanaan kegiatan mengikuti tahapan, antara lain: . analisis situasi melalui observasi. persiapan materi. pemberian materi. praktik langsung. evaluasi hasil. Waktu dan Lokasi Kegiatan dilaksanakan melalui program pengabdian masyarakat pada bulan Juni tahun 2025 di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi. Kecamatan Gerung. Kabupaten Lombok Barat. Total durasi kegiatan adalah 360 menit . yang terbagi dalam empat sesi terpisah. Pemilihan lokasi didasarkan pada kajian awal yang mengidentifikasikan: . minimnya program pemberdayaan berbasis ekonomi . tingginya partisipasi remaja dalam kegiatan kemasyarakatan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. belum adanya pelatihan keterampilan wirausaha di wilayah tersebut. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi lokal yang dimiliki oleh para remaja di Dusun Lilin. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan adalah remaja Dusun Lilin dengan Kriteria: . usia 10-19 . aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. bersedia mengikuti rangkaian pelatihan. Jumlah peserta yang terlibat adalah 38 orang, terdiri dari remaja putra dan putri dengan latar belakang pendidikan SD. SMP, dan SMA. Prosedur Kegiatan Observasi dan Analisis Situasi (Durasi 2 Har. Pada tahapan awal program kerja, yaitu observasi, metode observasi dalam kegiatan KKN di Dusun Lilin. Desa Giri Tembesi, dilaksanakan dengan terjun langsung ke lokasi untuk mengamati kondisi dusun, aktivitas masyarakat, serta dinamika sosial yang ada. Hasil observasi menunjukkan bahwa warga Dusun Lilin, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, memiliki tingkat keaktifan yang tinggi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Berdasarkan temuan tersebut, dikembangkan program kerja individu dengan judul AuPelatihan Pembuatan Buket Kreatif sebagai Peluang Bisnis bagi RemajaAy. Program ini diharapkan dapat memanfaatkan semangat dan keaktifan masyarakat, terutama remaja, karena penulis melihat banyaknya remaja dan anak-anak di Dusun Lilin. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi digital sesuai dengan tuntutan zaman modern. Persiapan (Durasi 3 Har. Pada tahapan kedua, yaitu persiapan, penulis menyiapkan materi mengenai teknik dasar pembuatan buket bunga. Materi dirancang sederhana dan mudah dipahami oleh remaja Dusun Lilin, mencakup pembelian bahan, penyusunan bunga, serta teknik pengemasan agar menarik. Selain itu, penulis menyiapkan metode penyampaian yang komunikatif, yaitu ceramah singkat disertai diskusi, sehingga peserta dapat lebih mudah memahami isi materi. Pemberian Materi (Durasi 120 Meni. Tahap ini merupakan penyampaian materi yang telah disusun untuk memberikan penjelasan kepada remaja Dusun Lilin mengenai langkah-langkah pembuatan buket bunga, termasuk pemilihan warna, kombinasi bunga, dan cara merangkai agar terlihat estetis. Penyampaian dilakukan secara interaktif dengan memadukan ceramah dan sesi tanya jawab. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Praktek (Durasi 240 Menit, 2 Ses. Pada tahap praktek, peserta langsung mempraktekkan materi yang telah Remaja Dusun Lilin diberikan kesempatan membuat buket bunga sesuai kreativitas masing-masing, mulai dari menyusun bunga, menata hiasan, hingga melakukan pengemasan. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri peserta dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai estetika dan potensi jual. Kegiatan ini juga mendorong semangat kerja sama dan saling berbagi ide antar peserta dalam suasana yang menyenangkan. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui tiga metode triangulasi, yaitu: Observasi Partisipatif Terstruktur Pengamatan sistematis terhadap aktivitas peserta selama pelatihan dengan fokus pada: . partisipasi aktif. penguasaan teknik. kemampuan problem solving. Penilaian Hasil Karya Evaluasi produk buket menggunakan rubrik dengan lima indikator, antara lain: . kreativitas desain. kombinasi warna. Teknik wrapping. nilai estetika keseluruhan. Skala penilaian menggunakan rentang 1-4 . urang, cukup, baik, dan sangat bai. Dokumentasi Pengambilan foto dan video pada setiap tahapan kegiatan untuk merekam proses dan hasil pelatihan sebagai bukti pelaksanaan dan bahan evaluasi. Indikator Keberhasilan Tabel 1. Indikator Keberhasilan Kegiatan. No. Indikator Target Peningkatan Keterampilan Minimal 50% peserta mampu Teknis membuat buket mandiri dengan kualitas baik. Pengembangan Kreatifitas Minimal 60% perserta menghasilkan desain buket yang variatif dan unik. Peningkatan Kepercayaan Minimal 70% peserta berani Diri mengeksplorasi ide dan menyelesaikan karya mandiri. Pemahaman Peluang Minimal 70% peserta dapat Usaha menjelaskan strategi pemasaran digital. Teknik Pengukuran Observasi dan Penilaian Hasil Karya Penilaian Hasil Karya Observasi dan Wawancara Wawancara Reflektif Dari 38 peserta, sebanyak 10 peserta . ,3%) mampu menyelesaikan buket secara mandiri dengan kualitas baik, sedangkan 28 peserta lainnya . ,7%) masih memerlukan pendampingan lebih lanjut. Meskipun demikian, seluruh peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan berhasil menyelesaikan karya sesuai dengan kemampuan masing-masing. HASIL DAN DISKUSI Program kerja ini berfokus pada pelatihan pembuatan buket kreatif dari kawat bulu bagi remaja di Dusun Lilin sebagai upaya meningkatkan keterampilan kewirausahaan dan membuka peluang bisnis baru di era digital. Seiring perkembangan zaman, kreativitas tidak hanya menjadi sarana ekspresi diri, tetapi juga dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan (Efendi et al. MustaAoin et al. , 2. Hal ini sejalan dengan teori ekonomi kreatif yang menyatakan bahwa ide, keterampilan, dan inovasi merupakan faktor utama dalam menciptakan nilai tambah suatu produk (Howkins, 2. Program ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, serta praktik langsung, sehingga remaja dapat memperoleh pengetahuan sekaligus Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. pengalaman dalam membuat buket kreatif dari kawat bulu. Sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi Hindu di Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram, penulis berhasil menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utama dari program ini adalah memperkenalkan keterampilan pembuatan buket kreatif kepada remaja Dusun Lilin serta mendorong tumbuhnya inovasi bisnis berbasis ekonomi kreatif. Kegiatan ini juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran, mengingat peran digital marketing yang semakin penting di era modern. Menurut penelitian, media sosial efektif dalam meningkatkan jangkauan pasar produk kreatif dan membuka akses yang lebih luas (Fitri et al. , 2024. Suriadi et al. , 2. Melalui kegiatan ceramah, diskusi, dan praktik pembuatan buket, para remaja diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memahami strategi pemasaran produk. Dengan demikian, pelatihan ini mampu membekali generasi muda agar lebih siap menghadapi persaingan di dunia bisnis Berdasarkan kegiatan yang telah terlaksana, maka dapat dideskripsikan berikut ini. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Tahap Observasi Awal Gambar 1. Observasi Masyarakat. Sebelum pelaksanaan kegiatan pelatihan pembuatan buket kreatif sebagai peluang bisnis bagi remaja Dusun Lilin, tim pelaksana melakukan observasi lapangan untuk melihat kondisi dusun, potensi sumber daya lokal, serta minat remaja terhadap kegiatan kreatif. Hasil observasi menunjukkan adanya antusiasme yang cukup tinggi, namun masih diperlukan pendampingan agar keterampilan mereka memiliki nilai ekonomi. Program ini dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pemberian materi, serta praktik dan evaluasi. Tim pelaksana juga menjalin koordinasi dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat setempat untuk memperoleh dukungan dalam pelaksanaan kegiatan. Melalui koordinasi ini, kegiatan pelatihan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi remaja Dusun Lilin. Dukungan dari masyarakat sangat penting agar menjadi awal terbentuknya kelompok usaha kreatif remaja yang mandiri. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. Tahap Persiapan Gambar 2. Alat dan Bahan Pembuatan Buket. Pada tahap persiapan, tim pelaksana menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan kepada peserta serta menyiapkan berbagai alat dan bahan yang Penyampaian tujuan penting dilakukan agar peserta memahami apa yang akan dikerjakan. Menurut Farwati et al. , penyampaian tujuan berguna untuk meminimalisir kesalahpahaman dalam pelaksanaan kegiatan. Sebelum kegiatan dimulai, tim pelaksana menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pelatihan. Alat dan bahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Tahap Pemberian Materi Gambar 3. Pemberian Materi. Pada tahap kegiatan pemberian materi yang dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2025 dengan durasi 120 menit, peserta dibimbing untuk memahami teknik pembuatan buket dari kawat bulu secara runtut, meliputi: . pengenalan jenis-jenis buket kreatif. teknik dasar pembuatan. tips memilih bahan yang terjangkau namun tetap menarik secara visual. strategi pemasaran sederhana yang dapat diterapkan remaja untuk memulai usaha. Materi disampaikan secara interaktif melalui metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi langsung untuk Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. mempermudah pemahaman peserta. Kegiatan ini juga diakhiri dengan sesi tanya jawab agar peserta dapat mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami dan memperdalam pengetahuan yang telah diperoleh. Tahap Praktek Setelah peserta memahami maksud dan tujuan kegiatan serta mengetahui alat dan bahan yang akan digunakan, tahap selanjutnya adalah praktik. Tahap praktek menjadi momen paling menarik dalam pelaksanaan pelatihan pembuatan buket kreatif sebagai peluang bisnis bagi remaja Dusun Lilin. Pada sesi ini, peserta dibimbing secara langsung untuk membuat buket, dimulai dari: . pemilihan bahan. cara pembuatan. penyusunan rangkaian. pemberian sentuhan akhir agar terlihat rapi dan menarik. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 25 Juli 2025, ini merupakan lanjutan dari materi yang telah diberikan pada Jumat, 11 Juli 2025. Antusiasme peserta terlihat dari keseriusan mereka dalam mengikuti arahan, keberanian mencoba teknik baru, serta kreativitas dalam memadukan warna dan dekorasi. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan teknis remaja dalam membuat buket, ketelitian dalam proses perangkaian, serta berkembangnya kreativitas mereka dalam menghasilkan karya yang unik. Selain itu, pelatihan ini juga membangkitkan rasa percaya diri peserta untuk memanfaatkan keterampilan tersebut sebagai peluang usaha di masa depan. Gambar 4. Praktek Membuat Buket Bunga. Gambar 5. Tahap Akhir (Wrappin. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. Tahap akhir dalam pembuatan buket adalah proses wrapping atau pembungkusan rangkaian bunga agar terlihat rapi dan menarik. Pada tahap ini, peserta mulai menyusun bunga di atas kertas, kemudian melipat dan mengikatnya dengan hati-hati agar hasilnya kokoh. Setelah itu, buket dihias dengan pita sehingga tampak sederhana namun tetap cantik dan layak dijadikan karya. Gambar 6. Tahap Evaluasi. Gambar 7. Hasil Pelatihan. Tahap evaluasi pada pelatihan pembuatan buket sebagai inovasi bisnis bagi remaja dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterlibatan dan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Dokumentasi kegiatan tidak hanya berfungsi sebagai bukti pelaksanaan, tetapi juga menggambarkan antusiasme serta kreativitas remaja dalam mencoba keterampilan baru. Foto-foto yang diambil memperlihatkan proses penyusunan bunga dari kawat bulu hingga tahap wrapping atau pembungkusan buket secara utuh. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta dengan rentang usia 10-19 tahun. Berdasarkan hasil evaluasi, diperoleh data sebagai berikut: . sepuluh peserta . ,3%) mampu menyelesaikan buket secara mandiri sesuai arahan dengan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. kualitas baik, yang menunjukkan penguasaan teknik yang memadai. dua puluh delapan peserta . ,7%) masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut karena keterampilan dasar mereka belum merata. seluruh peserta . %) menunjukkan semangat tinggi serta berhasil menyelesaikan rangkaian buket sesuai kemampuan masing-masing. Tantangan utama yang dihadapi peserta adalah kesulitan dalam menjaga kerapian bentuk bunga dan proses wrapping. Namun, melalui bimbingan dan latihan berulang, peserta mampu memperbaiki kesalahan serta menghasilkan karya sesuai kemampuannya. Aspek menarik dalam evaluasi ini adalah adanya variasi kreativitas dari peserta, terutama pada penggunaan kombinasi warna, pita, dan susunan rangkaian sehingga setiap buket terlihat unik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar peserta masih belajar, terdapat potensi untuk mengembangkan ide-ide kreatif yang dapat diarahkan menjadi peluang usaha Secara keseluruhan, evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan ini berdampak positif, tidak hanya dalam memberikan keterampilan membuat buket bunga, tetapi juga dalam menumbuhkan rasa percaya diri, semangat kewirausahaan, serta pemahaman awal tentang peluang bisnis kreatif di kalangan Pemberdayaan Ekonomi Kreatif melalui Pelatihan Pembuatan Buket Pemberdayaan ekonomi kreatif melalui pelatihan pembuatan buket menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan keterampilan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Menurut Simamora et al. pemberdayaan ekonomi kreatif berhasil dilakukan melalui pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pendampingan yang saling melengkapi dalam menciptakan kemandirian ekonomi. Pelatihan pembuatan buket dinilai relevan karena bahan mudah diperoleh, tekniknya sederhana, dan memiliki pasar yang luas, mulai dari kebutuhan ulang tahun, wisuda, hingga perayaan komunitas. Hasil pengabdian di beberapa daerah menunjukkan bahwa peserta mampu membuat buket berkualitas tinggi (Agustinawati et al. , 2. Pelatihan ini juga menjadi peluang usaha, khususnya bagi ibu rumah tangga maupun remaja (Meidawati et al. , 2. Kehadiran ekonomi kreatif dapat menjadi alternatif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, mengingat pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada produktivitas serta daya cipta masyarakat yang memiliki kemampuan berinovasi (Putri et al. , 2. Kontribusi terhadap Ekonomi Kreatif Desa Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan perekonomian, menumbuhkan dampak sosial yang positif, serta memperkuat citra baik suatu Kehadiran ekonomi kreatif dapat menjadi alternatif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, mengingat pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada produktivitas serta daya cipta masyarakat yang memiliki kemampuan Kegiatan ini berkontribusi dalam menciptakan pola pikir inovatif di kalangan generasi muda, yang pada gilirannya mampu memperkuat perkembangan ekonomi kreatif dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pelatihan sederhana dengan bahan yang mudah diperoleh Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 4. October 2025. Page, 261-273 Email: nurasjournal@gmail. terbukti menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan remaja SIMPULAN Pelaksanaan pelatihan pembuatan buket kreatif di Dusun Lilin menunjukkan bahwa pemberdayaan remaja melalui kegiatan berbasis keterampilan kreatif mampu memberikan dampak positif, baik secara individu maupun sosial. Berdasarkan hasil evaluasi, kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan teknis, kreativitas, dan kepercayaan diri peserta dalam menghasilkan karya yang bernilai jual. Dari 38 peserta, 26,3% mampu menyelesaikan buket secara mandiri dengan kualitas baik, sementara seluruh peserta menunjukkan antusiasme dan kreativitas dalam menghasilkan desain yang variatif. Selain itu, pengenalan strategi pemasaran digital memberikan wawasan baru mengenai peluang usaha di era modern yang berbasis teknologi. Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada upaya mengisi kesenjangan antara motivasi tinggi remaja . %) dengan keterbatasan akses pelatihan . %), serta memberikan bukti empiris bahwa pelatihan terstruktur berbasis ekonomi kreatif mampu meningkatkan keterampilan teknis, kepercayaan diri, dan pemahaman kewirausahaan remaja desa. Pelatihan sederhana dengan bahan yang mudah diperoleh terbukti menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan serta menciptakan pola pikir inovatif dan adaptif di kalangan generasi muda. Meskipun capaian kegiatan menunjukkan hasil yang positif, masih terdapat tantangan berupa heterogenitas kemampuan peserta yang memerlukan pendampingan berkelanjutan. Oleh karena itu, disarankan untuk mengembangkan program lanjutan berupa: . pendampingan intensif bagi peserta yang belum mencapai kemandirian. pembentukan kelompok usaha kreatif remaja sebagai wadah kolaborasi. pelatihan lanjutan mengenai optimalisasi pemasaran digital serta manajemen usaha sederhana. Dengan demikian, program ini dapat berkontribusi secara berkelanjutan dalam memperkuat ekonomi kreatif dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa. SARAN Berdasarkan pelatihan yang telah dilakukan, beberapa saran dapat diberikan, antara lain: . menyelenggarakan pendampingan lanjutan bagi peserta yang belum mampu membuat buket secara mandiri. membentuk kelompok usaha kreatif remaja sebagai wadah kolaborasi dan pengembangan kreativitas. memberikan pelatihan lanjutan mengenai pemasaran digital dan manajemen usaha sederhana untuk mendukung kemandirian ekonomi. REFERENSI