Excellent Midwifery Journal Volume 8 No. April 2025 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 TRANSFORMASI PENGETAHUAN. PERILAKU DAN PERSEPSI REMAJA TENTANG BAHAYA ROKOK ELEKTRIK MELALUI PENYULUHAN MEDIA VISUAL: STUDI PRA DAN PASCA INTERVENSI I Wayan Ferdy Ari Ananda, 2Nur Khasanah, 3Khaula Lutfiati Rohmah 4Herliana Riska, 5Najmatul Rahmi Widadi 1,2,3,5 Universitas Respati Yogyakarta, 4Universitas Sebelas Maret Surakarta ariferdy25@gmail. Nurkhasanah@respati. id , khaulalutfiati@respati. herlianariska@staff. id, najmatulrw. 24@gmail. ABSTRACT Background: The long-term use of electronic cigarettes has been shown to cause adverse effects on health. The substances contained in electronic cigarettes have increased the risk of lung diseases. Method: This study employed a quantitative research method with a quasiexperimental design, utilizing purposive sampling that involved 32 adolescents and parents as Data were collected through pre-tests and post-tests regarding knowledge, behavior, and perceptions before and after providing education using visual media. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test. Results: The results indicated that the educational method using visual media was effective in improving knowledge, but there was no improvement in the variables of behavior and perception. Conclusion: The use of the educational method with visual media was only effective in enhancing knowledge, with no increase observed in behavior and perception variables. Keywords: Electronic Cigarettes. Vape. Adolescents LATAR BELAKANG Penyalahgunaan . di kalangan remaja menjadi isu kesehatan yang semakin memprihatinkan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Penggunaan rokok elektrik sering kali dipandang sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan dengan rokok tembakau konvensional, padahal terdapat bukti yang menunjukkan bahwa rokok elektrik memiliki dampak buruk pernapasan, peningkatan risiko penyakit jantung, dan potensi ketergantungan nikotin yang lebih tinggi pada pengguna muda (CDC, 2. Bahkan. World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa rokok elektrik dapat mengarah pada penggunaan rokok tembakau pada remaja perkembangan otak mereka yang masih dalam tahap pertumbuhan (WHO, 2. Meskipun dianggap lebih aman dibandingkan rokok tembakau, rokok elektrik tetap mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama pada remaja yang masih dalam tahap perkembangan. Meskipun dipromosikan sebagai alternatif yang lebih menunjukkan bahwa produk ini tetap memiliki dampak negatif terhadap Penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko penyakit paruparu, karena beberapa bahan kimia dalam cairan rokok elektrik, seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein, diketahui berpotensi menyebabkan kerusakan paruparu (Travis dkk. , 2. Selain itu, nikotin yang terkandung dalam sebagian besar cairan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan menyebabkan kecanduan (Garcia dkk. Penggunaan rokok elektrik pada remaja juga dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru serta meningkatkan risiko gangguan jantung (Gilmore dkk. , 2. Meskipun rokok elektrik mungkin lebih tembakau, bukti menunjukkan bahwa penggunaan jangka panjang tetap dapat berisiko bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah (Schmidt dkk. , 2. Selain menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang signifikan pada remaja, dengan potensi peningkatan risiko penyakit jantung pada pengguna muda (Liu dkk. Penggunaan ketergantungan nikotin yang lebih tinggi di kalangan remaja, yang dapat berlanjut ke kebiasaan merokok tembakau (Lin dkk. Bahkan, beberapa studi juga menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat menunjukan efek unik nikotin pada otak remaja (Leslie, 2. Permasalahan penggunaan rokok elektrik telah mengalami lonjakan yang signifikan di kalangan remaja, baik di negara maju maupun negara berkembang. Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja global terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja telah meningkat secara signifikan di seluruh Di Amerika Serikat, sekitar 14,1% remaja dilaporkan menggunakan rokok elektrik pada tahun 2023, menjadikannya produk tembakau paling populer di kalangan pelajar (Jamal dkk. , 2. Di Eropa, prevalensi penggunaan rokok elektrik meningkat mencapai >10% di lima negara seperti Italia . ,%) dan Latvia . ,5%) sebagi yang tertinggi (Tarasenko dkk. , 2. Sementara itu, di Asia, prevalensinya lebih rendah, dengan sekitar 3,3% hingga 11,8% remaja di Asia Tenggara menggunakannya (Jane Ling dkk. , 2. Di Australia, sekitar 9% remaja telah mencoba rokok elektrik (AIHW, 2. sedangkan di Afrika, prevalensinya masih relatif rendah, meskipun ada peningkatan di beberapa negara seperti Afrika Selatan (World Health Organization 2. Fenomena ini mencerminkan tren global yang mengkhawatirkan, dengan berbagai faktor, termasuk pengetahuan, persepsi dan perilaku yang mendorong remaja untuk mencoba rokok elektrik (WHO, 2. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . , penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja Indonesia meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, meskipun data prevalensi resmi yang spesifik masih Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) pada tahun 2020, ditemukan bahwa sekitar 15% remaja di Jakarta dan kota besar lainnya mengaku pernah mencoba rokok elektrik. Menurut survey jumlah perokok elektrik pada kalangan remaja di Indonesia mencapai 0% dari total penduduk . 2 juta jiwa remaj. , dimana 5. 8% adalah laki-laki, dan 3% perempuan. Multifaktor penyebab tingginya penggunaan rokok elektrik, bersama dengan persepsi bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok konvensional, turut berkontribusi pada tren yang mengkhawatirkan ini (Susanto. Yogyakarta merupakan satu dari 35 Provinsi yang ada di Indonesia dengan proporsi perokok elektrik terbanyak, yakni mencapai 9,6% pada tahun 2023 (Goodstats, 2. Menurut Data BPS DIY tahun 2024 menunjukkan bahwa 3,65% anak di bawah 18 tahun dan 26,95% kaum muda mengonsumsi rokok (Dinkes Yogyakarta, 2. Tingginya elektrik di kalangan remaja meningkat seiring dengan rendahnya pemahaman mereka tentang bahaya kesehatan yang terkait dengan produk ini. Sebuah studi yang dilakukan oleh (Hartono dkk. , 2. menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja di Asia, termasuk Indonesia, sering kali terkait dengan ketidaktahuan mengenai risiko kesehatan yang serius. Hal ini didukung oleh penelitian Armitage dan Wood . , yang mengungkapkan bahwa banyak remaja di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki persepsi yang kurang tepat tentang bahaya rokok Mereka cenderung meremehkan potensi bahaya kesehatan seperti gangguan pernapasan dan penyakit jantung, yang seharusnya menjadi perhatian serius di kalangan kelompok ini. Keterbatasan pengetahuan ini berkontribusi pada peningkatan prevalensi penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja di Indonesia. Sebuah studi oleh (Fitrika dkk. menunjukkan bahwa video edukasi kesehatan dapat mengurangi inisiasi merokok dengan mempengaruhi sikap terhadap merokok pada remaja. Media visual yang menggambarkan dampak buruk merokok secara jelas dan emosional terbukti lebih efektif dalam menyampaikan pesan daripada metode teks atau suara (Kodriati dkk. , 2. juga menemukan bahwa representasi visual dari pesan anti-merokok di platform media sosial, seperti Instagram, dapat mengurangi meningkatkan kesadaran tentang bahaya Selain itu, (Hasanah dkk. , 2. dari 7 sampai 9 artikel adanya pengaruh antaraiklan dengan perilaku merokok, khususnya domain Iklan memengaruhi mengenai rokok kegiatan mencoba rokok untuk pertama Selain itu ditemukan bahwa faktor kepadatan iklan serta paparan iklan juga berperan dalam menentukan ada tidaknya pengaruh siginfikan terhadap perilaku merokok siswa sekolah menengah pertama di Indonesia. Hasil studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 10 responden di BKR Karangploso Bantul Yogyakarta diperoleh informasi bahwa >50% remaja merokok elektrik karena meyakini lebih aman dan tidak berdampak negatif pada kesehatan, informan juga menyampaikan bahwa di Wilayah BKR rutin dilakukan berbagai kegiatan tetapi belum pernah ada Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang didukung dengan hasil studi pendahuluan serta penelitian yang relevan maka peneliti tertarik untuk meneliti " Transformasi Pengetahuan, perilaku dan Persepsi Remaja tentang Bahaya Rokok Elektrik melalui Penyuluhan Media Visual: Studi pra dan pasca Intervensi" METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Jenis kuantitatif dengan desain quasi experiment dengan teknik pengambilan melibatkan 32 remaja dan orangtua sebagai Data dikumpulkan dengan pengetahuan, perilaku, dan persepsi. Penyuluhan menggunakan media visual. Waktu penelitian di laksanakan pada bulan Agustus 2024. Pengukuran menggunakan kuisioner pengetahuan dan perilaku yang di adopsi dari penelitian (Delpian. sedangkan kuisioner persepsi di adopsi dari penelitian (Siti Sarah Alawiyah, 2. dengan nilai 0,749. Instrumen Kuisioner yang disusun dengan bentuk pertanyaan menggunakan skala guttman dan likert dengan Uji bivariate. Hasil uji normalitas Kolmogorov-smirnov dengan p=0,000 yang artinya datanya tidak berdistribusi normal dengan menggunakan uji non parametrik Wilcoxon. Kriteria inklusi, ibu yang membawa hp dan dapat membaca serta menulis saat kegiatan HASIL Tabel 1. Karakterstik Responden Frekuensi . Persentase (%) 15-18 (Remaja Mady. 19-21 (Remaja Akhi. 22-40 (Dewasa Awa. 41-60 (Dewasa Mady. Total Laki-laki Perempuan Total Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi Total Variabel Umur Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir Status Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Berdasarkan Table 1 dapat di perempuan yaitu 27 orang ( 84% ). Responden dengan Pendidikan menengah responden merupakan dewasa madya yang sebesar 25 orang . % ). Responden status berusia 41-60 tahun sebanyak 12 orang ( pekerjaan tidak bekerja sebanyak 23 orang 39%). Jenis kelamin Sebagian besar atau . %). Tabel 2. Pengaruh penyuluhan rokok eletrik terhadap pengetahuan, perilaku, dan persepsi Variabel Pretest Postest P_value (%) (%) Baik 40,625 84,375 Cukup 9,375 Kurang 21,875 6,25 Pengetahuan 0,000 Perilaku Berat Sedang 6,25 6,25 Ringan 46,875 34,375 Tidak Merokok 46,875 59,375 Positif 31,25 31,25 Negatif 68,75 68,75 0,304 Persepsi 0, 324 Hasil penelitian dengan nilai . = 0,001 ) Maka dapat disimpulkan bahwa perubahan skor perilaku merokok pada dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah diberikan pendidikan kesehatan Hasil penelitian yang berebeda dari (Utari dkk. yang menunjukan nilai p-value 000 (O0. yang dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara paparan konten media sosial terkait rokok dengan perilaku merokok siswa SMP usia 12-14 tahun di Kota Semarang. Pada variabel persepsi tidak terjadi perubahan sebelum dan sesudah intervensi dengan p=0, 324 yang artinya tidak terjadi peningkatan persepsi setelah dilakukan penyuluhan menggunkan media visual. Hal ini bebanding tebalik dari penelitian oleh (King dkk. , 2. dengan hasil penelitian . <0. yang membuktikan bahwa paparan pasif terhadap citra video penggunaan ENDS sebagai isyarat kondisi dan membangkitkan dorongan untuk merokok pada perokok dewasa muda. Hasil penelitian yang berbeda dari (Mays , 2. dengan hasil (Z=3. p=0. yang artinya bahwa paparan berbagai jenis iklan rokok eletrik mempengaruhi persepsi dan niat perilaku non-perokok dewasa. Menurut penelitian (Vasiljevic dkk. , 2. terdapat perbedaan hasil dengan p=0. 003 yang artinya paparan PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian pada variabel pengetahuan menunjukan adanya peningkatan dengan p=0,000 yang artinya terdapat peningkatan pengetahuan setelah di berikan penyuluhan menggunakan media visual. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Dewi, 2. dengan hasil Sebanyak mengalami peningkatan skor pengetahuan dengan pvalue . = 0. setelah diberikan sosialisasi menggunakan media yang telah dikembangkan. Hasil penelitan yang sejalan di temukan dari penelitian (Sinundeng dkk. , 2. dengan p-value = 0,000 yang mengindikasikan bahwa penggunaan media audio visual terhadap pengetahuan dan sikap peserta didik tentang bahaya merokok. Pada variabel perilaku menunjukan bahwa sebelum dan sesudah intervensi tidak mengalami perubahan dengan p=0,304 yang artinya tidak ada peningkatan perilaku peserta sesudah penyuluhan menggunakan media visual. Berbanding terbalik oleh penelitian (Sartika & Sari, 2. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan . = 0,. , menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual efektif dalam meningkatkan perilaku berhenti merokok Hasil penelitan yang berbeda didapatkan dari penelitian (Tosubu dkk. iklan rokok eletrik mengurangi persepsi anak-anak tentang bahaya rokok tembakau. Dinkes Yogyakarta. Evaluasi Implementasi Perda Kawasan Tanpa Rokok di DIY: Langkah Menuju Udara Bersih Sehat. https://dinkes. id/berita/d etail/evaluasi-implementasi-perdakawasan-tanpa-rokok-di-diy-langkahmenuju-udara-bersih-dan-sehat Fitrika. Wijaya. , & Romli. PENGARUH MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP INTENSI BERHENTI MEROKOK PADA REMAJA BERBASIS THEORY PLANNED BEHAVIOR (Studi di SMK Sultan Agung 1 Tebuireng Kelas 2 Jurusan TAV). Garcia. Gornbein. , & Middlekauff, . Cardiovascular autonomic effects of electronic cigarette use: A systematic Clinical Autonomic Research, 30. , 507Ae519. https://doi. org/10. 1007/s10286-02000683-4 Gilmore. Reveles. , & Frei. Electronic cigarette or vaping use among adolescents in the United States: A call for research and legislative action. Frontiers in Public Health, https://doi. org/10. 3389/fpubh. Goodstats. Rokok Elektrik Jadi Favorit Warga Yogyakarta [Datase. https://data. id/statistic/roko k-elektrik-jadi-favorit-wargayogyakarta-gjW2k Hartono. Yan. Chen. Ma. Deng. Sun. Li. Dao. , & Deng. Knowledge, attitude, and practice of e-cigarette use among comparative study between China and Indonesia. Tobacco Induced Diseases, 22(Jul. , 1Ae12. https://doi. org/10. 18332/tid/190636 Hasanah. Gayatri. , & Ratih. Pengaruh Iklan terhadap Perilaku Merokok Siswa: Literature KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di lakukan, dapat di simpulkan bahwa pada variabel pengetahuan terdapat peningkatan hasil sebelum dan sesudah penyuluhan, tetapi pada variabel perilaku dan persepsi tidak terdapat perubahan yang dapat di simpulkan bahwa sebelum dan setelah penyuluhan tidak efektif. Selain itu, perlu juga di lakukan penelitian lebih lanjut terhadap variabel perilaku dan persepsi dengan menggunkan metode yang berbeda agar hasil penelitian terdapat peningkatan terhadap variabel perilaku dan persepsi SARAN Saran yang dapat di berikan adalah kedpada remaja dan orangtua lebih memperhatikan perkembangan remaja agar dapat merubah perilaku dan persepsi dalam penggunaan bahaya rokok eletrik agar meminimalkan terjadinya penyakit akibat dari rokok eletrik. DAFTAR PUSTAKA