JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 PENGARUH (NON PERFORMING LOAN (NPL) TERHADAP TINGKAT PENYALURAN KREDIT MODAL KERJA Oleh: Dion Yanuarmawan. SH. MAB POLITEKNIK KEDIRI Abstrak Peran perbankan di dunia perekonomian sangat penting utamanya di Indonesia guna mendukung proses pembangunan. Perbankan yang dapat berperan seperti tersebut ditunjukkan dengan kinerja yang baik. Metode pengukuran kinerja perbankan dapat diketahui dengan profitabilitas atas perbankan tersebut. Setiap jasa yang ditawarkan oleh bank memiliki keunikan tersendiri, salah satu yang menjadi perhatian utama bank adalah tingkat risiko yang dimiliki oleh produknya. Tingginya Non Performing Loan dapat mempengaruhi kebijakan bank dalam menyalurkan kreditnya. Variabel penelitian ini yakni Non Performing Loan sebagai variabel independen dan Tingkat penyaluran kredit modal kerja sebagai variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang Go Public sedangkan sampelnya adalah perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai NPL pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2012 berada pada tingkat NPL cukup stabil tapi hal itu tidak lantas membuat perusahaan-perusahaan tersebut puas terhadap hasil NPL yang rendah tetapi tetap pada konsistennya dalam menjaga kualitas kredit dengan cara melakukan analisis dengan benar untuk menjaga agar tidak terjadi kredit macet. Kata Kunci: Non Performing Loan (NPL). Tingkat Penyaluran Modal Kerja. PENDAHULUAN Latar Belakang. Manusia merupakan makhluk sosial, yang umumnya sulit untuk melakukan suatu kegiatan tanpa bantuan dari orang lain baik itu secara langsung maupun tidak langsung, begitupun dalam kegiatan pemenuhan kebutuhannya terutama dalam memenuhi Kebutuhan perekonomian diantaranya adalah kebutuhan sandang, pangan, dan papan dimana kebutuhan-kebutuhan ini dapat dipenuhi melalui kegiatan industri, perdagangan, pelayanan jasa dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya yang akan menghasilkan penghasilan yang dapat digunakan untuk pemenuhan Kegiatan-kegiatan tersebut, tentunya pada tahapan awal pasti memerlukan modal, baik itu modal kerja atau modal skill. Modal skill dapat diperoleh melalui sarana pendidikan sedangkan modal kerja dapat diperoleh dari modal sendiri maupun pinjaman. Modal yang berasal dari pinjaman biasanya dapat diperoleh dari DION YANUARMAWAN lembaga-lembaga keuangan atau lembaga non keuangan yang memiliki izin operasi untuk melakukan kegiatan dalam bidang keuangan. Salah satu lembaga keuangan yang dapat memberikan pinjaman adalah bank. Bank menurut UU No 10 Tahun 1998 adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat Pemberian kredit oleh bank berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat, bank memberikan bantuan modal kebutuhannya terutama kebutuhan modal kerja melalui sarana kredit. Kredit merupakan salah satu sumber penghasilan bagi bank. Semakin besar jumlah kredit yang disalurkan maka akan semakin besar pula pendapatan bunga yang akan diperoleh oleh bank. Aspek permodalan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam dunia JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 menampung kerugian-kerugian. Sumber dana yang digunakan untuk pemberian kredit dapat berasal dari dana bank itu sendiri dan atau dana pihak ketiga atau dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat. Jumlah kredit yang diberikan dan jumlah dana yang digunakan bank untuk memberikan kredit merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan bank. Kredit yang disalurkan pada masyarakat tidak semuanya bebas dari risiko, ada sebagian memiliki risiko cukup besar dan dapat mengancam kesehatan Kualitas kredit haruslah diperhatikan, karena jika terjadi banyak kredit bermasalah maka akan sangat merugikan bank itu sendiri. Bank konvensional sepenuhnya menerapkan sistem bunga, berbeda dengan bank syariah yang berprinsip bagi hasil dimana segala bentuk kerugian dan keuntungan ditanggung bersama oleh bank dan nasabah sesuai dengan kontrak yang disepakati. Kredit sebagai sumber pendapatan utama serta keharusan bank dalam memikul sendiri tanggung jawab akan risiko yang mungkin terjadi membuat Bank Umum Konvensional lebih rentan terkena kredit bemasalah. Tingkat terjadinya kredit bermasalah biasanya dicerminkan dengan rasio Non Performing Loan (NPL) yang terjadi pada bank tersebut. Semakin rendah rasio NPL maka akan semakin rendah tingkat kredit bermasalah artinya semakin baik kondisi dari bank tersebut. Non Performing Loan merupakan salah satu indikator dalam menilai kinerja fungsi bank, dimana fungsi bank adalah sebagai lembaga intermediary. Tingginya NPL kesehatan bank yang rendah karena banyak sekali terjadi kredit bermasalah di dalam kegiatan bank tersebut. Setiap jasa yang ditawarkan oleh bank memiliki keunikan tersendiri, salah satu yang menjadi perhatian utama bank adalah tingkat risiko yang dimiliki oleh produknya. Terlebih lagi dengan kredit yang disalurkan oleh bank, dimana terdapat kemungkinan akan adanya risiko gagal bayar atau yang biasa kita kenal dengan NPL (Non Performing Loa. NPL ini menunjukkan seberapa besar kolektibilitas bank dalam mengumpulkan kembali kredit yang telah disalurkannya. Tingginya NPL dapat mempengaruhi kebijakan bank dalam DION YANUARMAWAN menyalurkan kreditnya yaitu bank menjadi lebih berhati-hati, karena bank yang tetap memberikan kredit ketika NPL-nya tinggi berarti bank tersebut termasuk risk taken. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengangkat judul AyPengaruh Non Performing Loan (NPL) Terhadap Tingkat Penyaluran Kredit Modal KerjaAy Rumusan Masalah Bank dalam menjalankan kegiatan operasionalnya selalu di bawah pengawasan Hal ini dikarenakan bank merupakan pemegang peran penting dalam Melalui perantaraan bank ini, perekonomian bangsa dengan membuat kebijakan bagi bank umum yang ada untuk menyalurkan dana yang dimiliki dalam bentuk kredit modal kerja kepada sektor riil. Demi pemerintah ini maka ditetapkanlah kreteria yang harus dipatuhi bank menyangkut kondisi internal perbankan yang sehat maka peran bank dalam menyalurkan kredit terutama kredit modal kerja kepada masyarakat akan baik. Kondisi internal bank ini dapat berupa permodalan bank yang dapat dilihat dari nilai CAR, tingkat kolektibilitas kredit yang tercermin dari NPL, serta tingkat profitabilitas bank yang tercermin melaui ROA. Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh NPL (Non Performing Loa. terhadap tingkat penyaluran kredit modal kerja. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas. Menganalisis pengaruh NPL (Non Performing Loa. terhadap tingkat penyaluran kredit modal kerja. Manfaat Penelitian Memberikan gambaran mengenai faktor yang dapat mempengaruhi bank dalam menyalurkan kredit modal kerja dalam ruang lingkup nasional. JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Bahan masukan bagi bank umum dalam Bahan referensi bagi peneliti selanjutya dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat NPL pada Media informasi bagi masyarakat untuk kecukupan modal berkaitan dengan tingkat NPL dan penyaluran kredit. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu adalah penelitian yang dilakukan sebelumnya di mana objek dan variabel penelitian biasanya hampir sama dengan penelitian yang dilakukan saat ini, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan pembanding terhadap penelitian ini. Fitrianto dan Mawardi . , dengan AuAnalisis Pengaruh Kulaitas Aset. Likuiditas. Rentabilitas. Dan Efisiensi Terhadap Rasio Kecukupan Modal Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek JakartaAy. Maksud dari penelitian ini adalah mengkaji dan analisis pengaruh antara resiko kredit (NPL), resiko asset (NPA), profitabilitas (ROA), (ROE), likuiditas (LDR), dan efisiensi usaha (BOPO) terhadap rasio modal (CAR). Penelitian dilakukan terhadap bank yang telah go public di BEJ dengan data dari tahun 2000 Ae 2004, diambil dari Indonesian Capital Market Dictionary dan JSX Watch Bisnis Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan NPL. NPA. ROE, dan BOPO tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap CAR, sedangkan ROA dan LDR berpengaruh secara signifikan terhadap CAR. Hal ini membuktikan bahwa kecukupan modal tidak hanya berpengaruh pada ke enam factor tersebut namun juga dipengaruhi oleh variabelvariabel lain dan kondisi makro ekonomi. Pasaribu dan Sari . , dengan penelitian yang berjudul AuAnalisis Tingkat Kecukupan Modal dan Loan To Deposit Ratio Terhadap ProfitabilitasAy. Hasil diperoleh dari penelitian tersebut adalah CAR LDR DION YANUARMAWAN (ROA). Maka disimpulkan bahwa Ha diterima, ada pengaruh antara CAR dan LDR bersamasama terhadap perubahan laba. Tingkat Kecukupan Modal (CAR) terhadap Profitabilitas (ROA) Dari uji t statistik diperoleh Ha diterima, yang artinya ada pengaruh antara CAR dengan Profitabilitas (ROA). Pengaruh Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Profitabilitas (ROA). Dari uji t statistik diperoleh Ha diterima, yang artinya ada CAR Profitabilitas (ROA). Irianti . , dengan penelitian yang berjudul AuPengaruh Rasio Kecukupan Modal. Likuiditas, dan Total Dana Pihak Ketiga Terhadap Tingkat Profitabilitas Perusahaan PerbankanAy. Hasil yang diperoleh dari Rasio kecukupan modal menunjukan bahwa . > . dan sig . < sig . artinya ada pengaruh signifikan antara rasio kecukupan modal ( ) terhadap profitabilitas (Y), sehingga hipotesis 1 Likuditas menunjukan bahwa . < . dan sig . > sig . artinya tidak ada pengaruh signifikan likuiditas ( ) terhadap profitabilitas (Y), sehingga hipotesis 2 di Dana pihak ketiga menunjukan bahwa . > . dan sig . < sig . artinya ada pengaruh signifikan antara variabel total dana pihak ketiga ( ) terhadap profitabilitas (Y), sehingga hipotesis 3 diterima. Dari hasil perhitungan secara simultan diperoleh . > . dan sig . < sig . artinya ada pengaruh antara antara rasio kecukupan modal ( ), likuiditas ( ) dan total dana pihak ketiga ( ) secara bersama-sama terhadap profitabilitas (Y), sehingga hipotesis 4 diterima. Anggreni dan Suardhika . , dengan penelitian yang berjudul AuPengaruh Dana Pihak Ketiga. Kecukupan Modal. Risiko Kredit, dan Suku Bunga Kredit pada ProfitabilitasAy. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dana pihak ketiga, kecukupan modal diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR), risiko kredit diukur dengan Non Performing Loan (NPL), suku JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 bunga kredit terhadap profitabilitas pada bank BUMN di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan variabel DPK dan CAR berpengaruh positif, sedangkan NPL dan suku bunga kredit berpengaruh negative terhadap profitabilitas (ROA). Dasar-dasar Teoritis Bank Umum Menurut Undang-undang Republik Indonesia Pasal 5 Nomor 10 Tahun 1998, terdapat dua jenis bank yang dibagi menjadi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum di sini adalah bank yang konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan pengertian Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak Bank umum adalah bank yang di dalam usahanya mengumpulkan dana terutama menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, rekening koran serta memberikan kredit jangka pendek. Indonesia, bank umum disebut bank komersial yang terdiri dari bank pemerintah, bank swasta nasional, dan bank swasta asing. Bank umum atau bank komersial jika ruang lingkup operasinya hanya di dalam negeri saja maka disebut bank non devisa. Jika operasinya bukan hanya di dalam negeri, tetapi mencakup antarnegara disebut bank Semua bank pemerintah yang tergolong dalam bank komersial adalah bank Demikian juga halnya dengan bank swasta asing. Namun tidak semua bank swasta nasional memiliki izin usaha sebagai bank devisa kecuali bila bank tersebut mengajukan izin usaha (Kasmir, 2. Kredit Kebutuhan yang dimiliki manusia selalu meningkat, sedangkan kemampuan dan alat untuk memenuhinya sifatnya terbatas, dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut, seseorang dapat dibantu dimudahkan untuk memenuhinya yaitu dengan jalan dibantu dari aspek permodalannya dalam bentuk kredit. DION YANUARMAWAN Kata kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu AucredereAy yang berarti percaya. Jika seseorang mendapat kredit, berarti orang tersebut telah diberi kepercayaan . , atau dengan kata lain, kredit merupakan bentuk pemberian kepercayaan dari seseorang atau kepercayaan tersebut pada waktunya nanti akan memenuhi segala kewajiban atas apa yang telah dipercayakan sesuai apa yang telah disepakati (Muhammad, 2. Menurut Taufiqurrochman . Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayaranya akan dilakukan ditangguhkan pada jangka waktu yang telah disepakati. Menurut UU No. 10 Tahun 1998. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kredit merupakan sejumlah nominal tertentu yang dipercayakan kepada pihak lain dengan penangguhan waktu tertentu yang dalam pembayarannya akan disertakan adanya tambahan berupa bunga sebagai kompensasi atas risiko yang ditanggung oleh pihak yang memberikan Bahwa di dalam pemberian kredit, unsure kepercayaan adalah hal yang sangat mendasar yang menciptakan kesepakatan antara pihak yang memberikan kredit dan pihak yang menerima kredit untuk dapat melaksanakan hak dan kewajiban yang telah peminjaman sampai masa pengembalian kredit serta imbalan yang diperoleh pemberi pinjaman sebagai risiko yang ditanggung jika terjadi pelanggaran atas kesepakatan yang telah dibuat. Unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian fasilitas kredit adalah sebagai berikut (Kasmir, 2. Kepercayaan. Kepercayaan yaitu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan akan benar-benar diterima kembali di masa yang akan datang. JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Kesepakatan Kesepakatan ini terjadi antara pihak pemberi kredit dan penerima kredit yang dituangkan dalam suatu perjanjian yang berisi hak dan kewajiban masingmasing Jangka waktu. Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Risiko Penyebab tidak tertagih sebenarnya dikarenakan adanya suatu tenggang waktu pengembalian . angka wakt. Semakin panjang jangka waktu suatu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan perusahaan, baik risiko yang disengaja oleh nasabah yang lalai, maupun risiko yang tidak disengaja. Balas jasa Balas jasa merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan nama bunga. dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, terutama penyaluran kredit sebagai kegiatan utamanya, bank selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang berkaca dari kondisi krisis di tahun 1998 lalu. Prosedur dan kebijakan bank dalam menentukan pemberian kredit juga diperketat dalam rangka menjaga tingkat keberlangsungan kegiatan bank sebagai bentuk tanggung jawab bank atas kepercayaan masyarakat dalam menyimpan dananya di bank yang bersangkutan. Menurut Kusmiyati . , agar kegiatan operasional bank dapat berjalan dengan lancar maka kredit, sebagai salah satu produk perbankan, harus deprogram dengan baik dan Kegiatan penyaluran kredit tersebut harus didasarkan pada beberapa aspek, antara Yuridis, yaitu program perkreditan harus sesuai dengan undang-undang perbankan perbankan dan ketetapan Bank Indonesia. Ekonomis, yaitu menetapkan rentabilitas yang ingin dicapai dan tingkat bunga kredit yang diharapkan. Kehati-hatian, artinya besar plafond kredit (Legal Lending Limit atau Batas Minimum DION YANUARMAWAN Pemberian Kredi. harus didasarkan atas hasil analisis yang baik dan objektif berdasarkan asas 5C, 7P, dan 3R dari setiap calon peminjam. Kebijaksanaan, adalah pedoman yang menyeluruh baik lisan maupun tulisan yang memberikan suatu batas umum dan arah tempat management action akan Kebijaksanaan perkreditan dilakukan antara Bankable, artinya kredit yang akan dibiayai hendaknya memenuhi kriteria: Safety, yaitu dapat diyakini kepastian pembayaran kembali kredit sesuai jadwal dan jangka waktu kredit Effectiveness, artinya kredit yang diberikan benar-benar digunakan Kebijaksanaan penanaman dana yang selalu dikaitkan dengan sumber dana bersangkutan. Investasi dana ini disalurkan dalam bentuk antara lain : Investasi primer, yaitu investasi yang dilakukan untuk pembelian sarana dan prasarana bank seperti pembelian kantor, mesin dan ATK. Dana ini harus berasal dari dana sendiri karena sifatnya tidak produktif dan jangka waktunya panjang. Investasi sekunder, yaitu investasi yang dilakukan dengan menyalurkan kredit kepada masyarakat. Investasi ini sifatnya produktif. Jangka waktu tabungan agar likuiditas bank tetap Kebijaksanaan risiko, maksudnya dalam penyaluran kreditnya harus indikator yang dapat menyebabkan cara-cara Kebijaksanaan penyebaran kredit, maksudnya kredit harus disalurkan kepada beraneka ragam sektor JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 peminjam yang banyak. Kebijaksanaan kreditnya harus memperhitungkan perekonomian, persaingan antar bank, dan tingkat inflasi untuk menetapkan suku bunga kredit. Menurut Sukmaliya . , bahwa dalam pemberian kredit dibutuhkan perhitunganperhitungan yang mendalam yang meliputi berbagai prinsip, asas, atau persyaratan tertentu meskipun dalam kenyataannya hal tersebut tidak dapat dengan mudah diterapkan oleh bank. Terdapat 3 konsep tentang prinsip-prinsip atau azas dalam pemberian kredit bank secara sehat, antara lain sebagai berikut : Prinsip-prinsip 5C, antara lain : Character . atak atau kepribadia. Character merupakan salah satu memutuskan pemberian kredit. Bank mempunyai tingkah laku yang baik dan bersedia melunasi hutangnya pada waktu yang ditentukan. Dan untuk mengetahui watak debitur ini tidaklah semudah yang dibayangkan, terutama untuk debitur yang baru pertama kali. Capacity . Pihak bank harus mengetahui dengan pasti kemampuan calon debitur dalam menetukan besar kecilnya pendapatan atau penghasilan perusahaan di masa yang akan datang. Capital . Prinsip ini menyangkut berapa banyak dan bagaimana struktur modal yang dimiliki oleh calon Struktur permodalan di sini adalah tingkat likuiditas modal yang telah ada, apakah dalam bentuk uang tunai, harta yang mudah diuangkan, atau benda lain seperti bangunan. Condition . ondisi Prinsip kondisi ekonomi ini terkait dengan sektor usaha calon debitur. DION YANUARMAWAN prospek usaha tersebut di masa yang akan datang. Collateral . aminan atau aguna. Jaminan atau agunan merupakan harta benda milik debitur atau pihak ketiga yang diikat sebagai agunan andaikata terjadi ketidakmampuan debitur tersebut untuk menyelesaikan hutangnya sesuai dengan perjanjian Jaminan mempunyai dua debitur tidak mampu membayar dengan jalan menguangkan atau menjual jaminan tersebut. Kedua, sebagai akibat dari fungsi pertama ialah sebagai faktor penentu jumlah kredit yang diberikan. Prinsip-prinsip 5P Party . Maksud dari prinsip ini adalah bank menggolongkan calon debitur ke dalam kelompok tertentu menurut character, capacity, dan capital. Purpose . Maksud dari tujuan di sini adalah tujuan penggunaan kredit yang diajukan, apa tujuan sebenarnya dari kredit tersebut, apakah mempunyai aspek sosial yang positif dan luas atau Bank masih harus meneliti digunakan sesuai tujuan semula. Payment . umber pembiayaa. Setelah mengetahui tujuan utama dari kredit tersebut maka hendaknya kemungkinan-kemungkinan besarnya pendapatan yang akan dicapai, sehingga bank dapat menghitung kemampuan dan kekuatan debitur untuk membayar kembali kreditnya serta menentukan cara pembayaran dan jangka waktu pengembaliannya. Profitability . emampuan mendapatkan keuntunga. Keuntungan di sini maksudnya bukanlah keuntungan yang dicapai oleh debitur semata melainkan juga diterima oleh bank jika kredit JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 diberikan terhadap debitur tertentu dibanding debitur lain atau dibanding tidak memberikan kredit. Protection . Perlindungan maksudnya adalah untuk berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak terduga maka untuk melindungi kredit yang diberikan antara lain adalah dengan meminta jaminan dari debiturnya. Prinsip-prinsip 3R Return . asil yang dicapa. Merupakan penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh perusahaan debitur setelah kredit tersebut diberikan, apakah hasil tersebut dapat menutup pengembalian pinjamannya serta bersamaan dengan itu memungkinkan pula usahanya dapat berkembang terus atau tidak. Return di sini dapat pula diartikan keuntungan yang akan diperoleh bank apabila memberikan kredit kepada pemohon. Repayment . embayaran kembal. Bank harus menilai berapa lama perusahaan pemohon kredit dapat sesuai kemampuan perusahaan serta cara pembayarannya. Risk Bearing Ability . emampuan untuk menanggung risik. Bank harus mengetahui dan menilai sampai sejauh mana perusahaan pemohon kredit mampu menanggung risiko kegagalan andaikata terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Permohonan pengajuan kredit ditujukan untuk maksud yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhan calon debitur. Bank pun menyesuaikan produk kredit yang ditawarkan dengan kebutuhan calon debitur. Menurut Kasmir . , jenis kredit yang disalurkan dapat dilihat dari berbagai segi yang salah satunya adalah dari segi kegunaannya, dari situ akan terlihat dua jenis golongan kredit : Kredit Investasi, yaitu kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek atau kredit baru dimana pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan biasanya kegunaan kredit ini DION YANUARMAWAN adalah untuk kegiatan utama suatu Kredit Modal Kerja (KMK), merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan Contoh kredit modal kerja ini diberikan untuk membeli bahan baku, membayar gaji pegawai atau biayabiaya lainnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan. KMK merupakan kredit yang digunakan untuk mendukung kredit investasi yang sudah Menurut Andraeny . , jika dilihat dari segi kegunaannya, masih terdapat satu golongan lagi selain Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja, yaitu Kredit Konsumsi. Kredit konsumtif sendiri maksudnya adalah kredit yang digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang atau jasa-jasa yang dapat memberi kepuasan langsung terhadap kebutuhan manusia. Contohnya adalah kredit yang digunakan unuk perbaikan rumah, untuk pembelian kendaraan, dan lain-lain. Walaupun pada awalnya kredit ini bersifat konsumtif namun melalui multiplier effect secara tidak langsung kredit tersebut akan produksi barang dan atau jasa yang dibeli oleh Kredit Modal Kerja Menurut Andraeny . , kriteria dari modal kerja yaitu kebutuhan modal yang habis dalam suatu siklus usaha yang dapat dilihat dari neraca perusahan berupa uang kas bank ditambah dengan piutang dagang ditambah dengan persediaan baik persediaan barang jadi, barang dalam proses, dan persediaan bahan baku. Jika yang dibicarakan modal kerja bersih maka perlu dikurangi dengan Current Liabilitisnya. Modal kerja menunjukkan sejumlah dana yang tertanam atau terikat pada aktiva lancar yang dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas Istilah lain dari modal kerja adalah gross working capital . odal kerja Modal kerja bila dikurangi dengan kewajiban-kewajiban jangka pendek . tang lanca. sering disebut net working capital . odal kerja bersi. Besarnya modal kerja yang dibutuhkan dipengaruhi dua faktor. JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 perputaran modal kerja . iklus kerj. Faktor-faktor Mempengaruhi Penyaluran Kredit Perbankan Capital Adequacy Ratio (CAR) Permodalan merupakan hal yang pokok bagi sebuah bank, selain sebagai penyangga kegiatan operasional sebuah bank, modal juga sebagai penyangga terhadap kemungkinan terjadinya kerugian. Modal ini terkait juga menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi atas dana yang diterima nasabah. Terjaganya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang amat penting artinya bagi sebuah bank karena dengan demikian, bank dapat operasional selanjutnya. (Sinungan, 2. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 3/21/PBI/2001, menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko yang dinyatakan dalam rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). Perhitungan CAR ini pada prinsipnya adalah bahwa untuk setiap penanaman dalam bentuk kredit yang mengandung risiko maka harus disediakan sejumlah modal yang disesuaikan dengan persentase tertentu sesuai jumlah penanamannya tersebut (Budiawan. Rasio ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa jika dalam aktivitasnya bank mengalami kerugian, maka ketersediaan modal yang dimiliki oleh bank mampu mengcover kerugian tersebut. Modal merupakan salah satu sumber dana menjalankan kegiatan operasi. Mengenai pendirian suatu bank, bank sentral menetapkan modal minimum yang harus dipenuhi atau disetor pada saat pendirian bank (Muljono, 1. Modal ini oleh Kasmir . dikelompokkan ke dalam kategori sebagai berikut : Modal inti terdiri atas modal disetor cadangan-cadangan dibentuk dari laba setelah pajak. Secara rinci modal inti dapat berupa : Modal disetor. Agio saham. Cadangan umum. DION YANUARMAWAN Cadangan tujuan. Laba yang ditahan . etained earnings. Laba tahun lalu. Laba tahun berjalan. Bagian . inority interse. Modal pelengkap Modal cadangan-cadangan yang dibentuk tidak dari laba setelah pajak dan pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Secara rinci modal pelengkap dapat berupa: Cadangan revaluasi aktiva tetap. Cadangan penghapusan aktiva yang Modal kuasi, yaitu modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau utang dan mempunyai ciri-ciri, antara Tidak dijamin oleh bank yang dengan modal . dan telah dibayar penuh. Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan Bank Indonesia. Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank melebihi retained earnings dan cadangancadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum dilikuidasi, dan Pembayaran dalam keadaan rugi atau labanya membayar bunga tersebut. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang memenuhi syarat-syarat sebagai Ada perjanjian tertulis antara bank dengan pemberi pinjaman. Mendapat persetujuan dahulu dari Bank Indonesia. Hubungan ini pada saat bank mengajukan permohonan menyampaikan program pembayaran JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah dibayar Minimal berjangka waktu lima tahun. Pelunasan sebelum jatuh tempo mendapat persetujuan dari Bank Indonesia, dan dengan pelunasan tersebut permodalan bank tetap sehat. Hak tagihnya dalam hal terjadi likuidasi berlaku paling akhir dari . edudukannya sama dengan moda. Jumlah pinjaman subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai modal untuk sisa jangka waktu lima tahun terakhir adalah jumlah pinjaman subordinasi dikurangi amortisasi yang metode garis lurus. Maksimum pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal pelengkap adalah sebesar 50% dari modal inti. Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Menurut Andraeny . ATMR merupakan penjumlahan dari aktiva yang tercantum dalam neraca dan aktiva yang bersifat administratif. Langkah-langkah perhitungan penyediaan modal minimum bank adalah sebagai berikut : ATMR aktiva neraca dihitung dengan mengalikan nilai nominal masingmasing aktiva yang bersangkutan dengan bobot risiko dari masing-masing pos. ATMR administratif dihitung dengan mengalikan nominal administratif yang bersangkutan dengan bobot risikonya. Total ATMR = ATMR aktiva neraca ATMR aktiva administratif. Rasio kecukupan modal tersebut dihitung Modal Bank CAR = X 100% Total ATMR Hasil perhitungan rasio di atas kemudian dibandingkan dengan kewajiban modal penyediaan minimum yang ditentukan oleh Bank International Settlement, yaitu sebesar DION YANUARMAWAN Namun, setiap bank memiliki cara sendiri dalam mengelola permodalannya, apakah bank tersebut termasuk risk averse yaitu cenderung memilih cara yang aman seperti menyalurkannya lewat SBI atau risk taker modalnya untuk sesuatu lebih berisiko, seperti Kredit ini dikatakan berisiko karena setiap saat memiliki potensi menjadi kredit macet dan hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap CAR-nya. Namun sebenarnya penurunan angka CAR bukanlah suatu masalah sepanjang masih bias memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank of international Settlements (BIS), yaitu sebesar delapan persen (Kasmir, 2. Non Performing Loan (NPL) Kelancaran debitur dalam membayar kewajibannya, yaitu pokok angsuran dan bunga, adalah sebuah keharusan. Karena bank merupakan lembaga intermediasi perbankan yang tugasnya menampung dan menyalurkan dana dari dan ke masyarakat. Sehingga pembayaran kredit oleh debitur merupakan sebuah keharusan agar kegiatan operasional bank tetap dapat berjalan dengan lancar. Apabila pembayaran kredit oleh debitur maka berarti bank tidak bisa mendapatkan kembali modal yang telah dikeluarkannya, dan hal ini tentu saja dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank dan bisa berefek pada penurunan tingkat kepercayaan masyarakat. Tingkat kesehatan bank merupakan hal yang penting yang harus diusahakan oleh manajemen bank. Pengelola bank diharuskan memantau keadaan kualitas aktiva produktif yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatannya (Harlen Butar-butar dan Aris Budi Setyawa. Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif Penggolongan kolektibilitas aktiva produktif sampai sejauh ini hanya terbatas pada kredit yang diberikan. Ukuran utamanya adalah ketepatan pembayaran kembali pokok dan bunga serta kemampuan debitur baik ditinjau dari usaha maupun nilai agunan kredit yang bersangkutan (Andraeny, 2. Bank sendiri sudah memiliki kriteria menggolongkan kemampuan debitur, dalam JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 mengembalikan pembayaran pokok atau angsuran dan bunga sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati, yang diatur dalam Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia Nomor 31/147/KEP/DIR tahun 1998. Dalam surat keputusan tersebut kredit digolongkan menjadi lima, yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet. Tingkat kolektibilitas kredit yang dianggap bermasalah dan dapat mengganggu kegiatan operasional adalah kredit macet atau dikenal dengan Non Performing Loan (NPL) yang mana merupakan persentase kredit bermasalah . engan criteria kurang lancar, diragukan dan macet terhadap total kredit yang disalurka. NPL ini dapat juga diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan baik akibat faktor kesengajaan yang dilakukan oleh debitur maupun factor ketidaksengajaan yang berasal dari faktor luar (Meydianawathi, 2. Rasio Non Performing Loan (NPL) ini dapat diformulasikan sebagai Komponen kredit bermasalah di atas merupakan kredit yang kolektibilitasnya digolongkan ke dalam tingkat kurang lancar, diragukan, dan macet. Bank yang mengalami peningkatan penyaluran kredit akan memiliki kemungkinan adanya Non Performing Loan yang meningkat sejalan dengan beban. Hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi pertumbuhan modal bank. Selain besarnya beban operasional dan meningkatnya NPL yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pembagian deviden yang tidak seimbang dengan laba ditahan karena modal bersih bank mencerminkan jumlah dana yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat (Budiawan, 2. Return On Asset (ROA) Laba merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam sebuah usaha, termasuk juga bagi usaha perbankan. Alasan dari pencapaian laba perbankan tersebut dapat berupa kecukupan dalam pemenuhan dalam DION YANUARMAWAN memenuhi kewajiban terhadap pemegang saham, penilaian atas kinerja pimpinan, dan meningkatkan daya tarik investor untuk menanamkan modalnya. Laba yang tinggi membuat bank mendapat kepercayaan dari masyarakat yang memungkinkan bank untuk menghimpun modal yang lebih banyak sehingga bank memperoleh kesempatan meminjamkan dengan lebih luas (Kasmir. Berdasarkan laporan-laporan keuangan dari bank dan juga literaturliteratur, bunga merupakan unsur atau komponen pendapatan yang paling besar. Hasil yang diperoleh yaitu 75% dari bunga, sedangkan yang 25% berasal dari pendapatan jasa lainnya (Kasmir, 2. , yang berarti pendapatan terbesar bank menyalurkan kreditnya. Selain itu, jika kita melihat struktur aset bank, pinjaman merupakan earning asset yang paling besar jika dibandingkan dengan golongan aset lainnya. Tingkat laba atau profitability yang diperoleh oleh bank ini biasanya diproksikan dengan return on asset (ROA). Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan keuntungan atau laba keseluruhan. Semakin besar nilai ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari penggunaan aset. Rasio ini diperoleh dengan cara membagi laba bersih dengan total aktiva. Menurut Dendawijaya . , terdapat dua cara perhitungan rasio ini yaitu secara teoritis dan secara praktis . esuai perhitungan Bank Indonesi. Jika secara teoritis yang digunakan adalah laba bersih setelah pajak dibagi dengan total asset. Sedang menurut ketentuan Bank Indonesia dan yang diformulasikan sebagai berikut berikut : Menurut Andraeny . , alasan penggunaan ROA ini dikarenakan Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas profitabilitas suatu bank yang diukur dengan aset yang mana sebagian besar dananya berasal dari masyarakat dan nantinya, oleh bank, juga harus disalurkan kembali kepada JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, maka standar ROA yang baik adalah sebesar 1,5%, meskipun ini bukan suatu keharusan. Kerangka Pemikiran Bank dalam penyaluran kreditnya memiliki faktor-faktor dari sisi internal perbankan yang mampu mempengaruhi Pada penelitian ini, terdapat salah satu faktor yang diduga berpengaruh secara signifikan terhadap penyaluran kredit tersebut, yaitu kecukupan modal. Tingkat kecukupan modal bank memiliki kaitan dengan penyaluran kredit karena terdapat ketentuan yang disyaratkan oleh otoritas moneter terkait masalah permodalan Sehingga penyaluran kredit oleh bank ini dipengaruhi oleh besarnya kecukupan modal yang dimiliki oleh bank. Tingkat diproksikan dengan Non Performing Loan (NPL) mempunyai hubungan yang erat dengan penyaluran kredit perbankan. Pada saat tingkat NPL meningkat berarti tingkat kolektibilitas kredit dari nasabah akan menurun yang menyebabkan bank mengalami hambatan dalam mengumpulkan modalnya dan bank akan lebih berhati-hati sehingga akan berpengaruh terhadap penurunan penyaluran kredit oleh bank. Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka di atas, dapat ditarik sebuah kerangka pemikiran teoritis dari penelitian ini seperti yang tampak pada gambar berikut : Gambar 1 Kerangka Pemikiran Teoritis Non Performing Loan (NPL) (X. Tingkat Penyaluran Kredit Modal Kerja (Y). Berdasarkan kerangka pemikiran teoritis di atas maka dapat ditarik hipotesis untuk penelitian, yaitu : H1 : Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap penyaluran kredit modal kerja pada bank umum di Indonesia. METODE PENELITIAN DION YANUARMAWAN Metode merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan (Sugiyono. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris,dan sistematis. Variabel Penelitian. Pengertian dari variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2. Variabel Independen Variabel Independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat . Variabel bebas dalam penelitian adalah Non Performing Loan (NPL). Rasio Non Performing Loan merupakan tingkat bermasalah yang masuk dalam kriteria kurang lancer, diragukan dan macet. Jumlah kredit bermasalah tersebut lalu dibandingkan dengan total kredit yang Siregar . menyatakan bahwa adanyan Non Performing Loan ini perlu diperhatikan oleh bank dalam penambahan kredit tanpa disertai analisis yang baik maka akan meningkatkan kredit bermasalah. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Kredit Bermasalah NPL = x 100% Kredit yang disalurkan Variabel Dependen Variabel merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas . Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat penyaluran kredit. Definisi Operasional. Berikut adalah tabel definisi operasional dari variabel yang diteliti : Tabel 1: Definisi Operasional Variabel JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Variabel Definisi NPL (Non Performin g Loa. Dana i kepada bank Formu NPL = Kredit Total Kredit Skala Rasio Populasi dan Sampel Populasi adalah gabungan dari seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal atau orang yang memiliki karakteristik yang serupa yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti karena itu dipandang sebagai sebuah semesta penelitian (Ferdinand, 2. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan perbankan yang Go Public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode Sampel merupakan subset dari populasi dan terdiri dari beberapa anggota populasi. Subyek ini diambil karena dalam banyak kasus tidak mungkin meneliti seluruh anggota populasi sehingga dibentuk perwakilan populasi (Ferdinand, 2. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling dilakukan dengan memilih sampel dengan tujuan tertentu secara subyektif kriteria-kriteria ditetapkan dan harus dipenuhi oleh sampel. Kriteria-kriteria sampel secara purposive sampling dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Perusahaan sektor perbankan yang Go Public dan terdaftar dalam BEI selama periode 2008-2012. Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan secara konsisten periode 31 Desember disampaikan kepada Bank Indonesia. Perusahaan menyajikan secara lengkap laporan keuangan dan rasio-rasio yang dibutuhkan dalam penelitian ini selama 5 tahun berturut-turut. Memiliki laba yang positif dan konsisten selama periode 2008-2012, karena dengan laba yang positif maka tidak akan terdapat DION YANUARMAWAN mengakibatkan masalah pada pengolahan Berdasarkan kriteria tersebut maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 16 perusahaan, yaitu : Bank Victoria Internasional Bank Kesawan Bank Swadesi Bank Central Asia Bank CIMB Niaga Bank Nusantara Parahyangan Bank Danamon Bank Internasional Indonesia Bank Mandiri Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Negara Indonesia Bank OCBC NISP Bank Pan Indonesia Bank Permata Bank Rakyat Indonesia Jenis Sumber Data Metode Pengumpulan Data Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai pusat data yang ada, antara lain pusat data di perusahaan, badan-badan penelitian dan sejenisnya yang memiliki poll data (Ferdinand, 2. Biasanya data ini dapat diperoleh dari publikasi lembaga yang berwenang, perpustakaan atau penelitian terdahulu. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah berdasar laporan Pengumpulan datanya dilakukan dengan memilah-milah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memenuhi kriteria selama periode amatan 2013-2015. Karena penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu tersebut, maka populasi dan sampelnya merupakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2013-2015. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dengan dua cara yaitu : Studi pustaka. Melakukan telaah pustaka, eksplorasi dan mengkaji berbagai literatur pustaka seperti jurnal, masalah, dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian. JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 Dokumentasi Mengumpulkan data dengan cara mencatat dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu pencatatan data yang berhubungan dengan Kecukupan Modal. Non Performing Loan (NPL) dan Penyaluran Kredit. Metode Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana untuk pengolah data karena hanya menggunakan satu veriabel independen dan satu veriabel (Algifari. Sebelum mendapatkan hasil yang baik (Ghozali, 2. Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan bebas memiliki distribusi normal, karena metode regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali. Mengetahui signifikansi data apakah terdistribusi normal atau tidak, maka dapat dilakukan analisis grafik atau dengan analisis statistik. Analisis grafik, dapat dilihat melalui grafik normal distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi Jika data terdistribusi normal, maka data akan tergambarkan dengan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2. Uji Normalitas dengan menggunakan analisis statistik, digunakanlah uji Non-parametrik Kolmogorov-Smirnov dengan probability plot. Pada uji kolmogorov-smirnov (KS), suatu data dikatakan normal jika mempunyai asymptotic significant lebih dari 0,05. Uji Autokorelasi Uji Ghozali . bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 . Jika terjadi autokorelasi maka Penggunaan metode ini dalam penelitian ini dengan menggunakan Uji Durbin-Watson dengan ketentuan sebagai berikut: DION YANUARMAWAN Tabel 2 Ketentuan Uji Durbin-Watson Hipoteis Nol Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Keputusan Jika Tolak 0 < d < dl No decision dl O d O du Tolak 4 Ae dl < d < 4 No decision 4 Ae du O d O 4 Ae dl Tidak du < d < 4 Ae du Uji Heteroskedastisitas Uji Ghozali . bertujuan untuk menguji ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda disebut heteroskedastisitas. Untuk heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterplot, dengan dasar Model regresi yang lebih baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas karena data cross section mengandung berbagai ukuran . ecil, sedang, dan besa. Regresi Sederhana Regresi sederhana yang digunakan untuk menganalisis pengaruh Non Performing Loan terhadap tingkat penyaluran kredit modal Model regresi yang digunakan dalam pengujian ini yaitu regresi linier sederhana dimana Non Performing Loan variabel bebas (X) dan tingkat penyaluran kredit modal kerja merupakan variabel terikat JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 (Y). Bentuk model regresi linier sederhana adalah sebagai berikut: Y = a bX Keterangan: Y = Tingkat penyaluran kredit modal kerja (Variabel terika. a = Konstanta b = Koefisien variabel bebas X = Non Performing Loan (Variabel Beba. Koefisien Determinasi Koefisien (Uji menyatakan proporsi dari total Y yang dapat diterangkan oleh variabel X. Nilai koefisien determinasi adalah nol atau satu. Nilai r2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel dependen terbatas. Nilai yang mendekati semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Indriyanti, 2. Nilai r2 yang mendekati satu maka dinyatakan bahwa variabel bebas semakin kuat menerangkan variabel terikat, sebaliknya apabila r2 mendekati nol maka dinyatakan variabel bebas semakin lemah dalam menerangkan variabel terikatnya. Nilai koefisien determinasi diperoleh dari kuadrat nilai koefisien korelasi. Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam korelasi product moment adalah dengan menggunakan uji t. Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat dengan asumsi independen lainnya konstan. Penolakan dan penerimaan hipotesis didasarkan pada tingkat signifikansi () sebesar 5%. Bila nilai t hitung > nilai t tabel, maka H0 ditolak atau, jika signifikansi t < 0,05 maka H0 ditolak atau jika signifikansi t > 0,05 maka H0 diterima. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Gambaran Obyek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2008-2012 dan mengeluarkan laporan keuangan selama periode penelitian tersebut. Jumlah total bank yang Go Public dan terdaftar di BEI selama periode penelitian tersebut sebanyak 18 bank. DION YANUARMAWAN Namun, terdapat dua bank yang dikeluarkan dari sampel penelitian karena bank tersebut mempunyai nilai laba sebelum pajak yang negatif selama beberapa tahun dalam periode amatan tersebut sehingga jumlah sampel yang digunakan adalah 16 bank. Pemilihan bank yang Go Public sebagai sampel penelitian karena bankbank ini bersifat terbuka dalam hal pelaporan kinerjanya dan mereka mengeluarkan laporan keuangan setiap Dengan begitu, maka masyarakat dapat memantau kinerja perbankan, terlebih lagi perusahaan yang terdaftar di BEI ini sebagian besar juga menduduki pangsa pasar yang besar di sektor perbankan Indonesia ini. Selama tahun 2008-2012 terdapat beberapa bank yang selalu berada di peringkat empat teratas dalam menyalurkan kredit modal kerjanya, antara lain Bank Central Asia. Bank Mandiri. Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia. Sedangkan bank yang selalu menyalurkan Kredit Modal Kerjanya adalah Bank Kesawan. Bank Swadesi, dan Bank Victoria Internasional. Penyaluran kredit dari tahun 2008-2012 oleh bank-bank yang Go Public di BEI ini cenderung meningkat meskipun kenaikannya tetap fluktuatif. Bahkan krisis di tahun 2008 perekonomian Indonesia, tidak membuat penyaluran Kredit Modal Kerja oleh bank menjadi merosot. Dengan tetap tingginya kredit modal kerja yang disalurkan maka sektor produksi yang membutuhkan bantuan modal kerja pun terbantu dan mampu bertahan di tengah krisis. Statistik Deskriptif Statistik desriptif merupakan metode numerik dan grafis untuk mengenali pola informasi informasi tersebut dalam bentuk yang diinginkan. Jenis data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu data yang berbentuk nominal dan data yang berbentuk rasio. Data dalam statistik rata-rata . , maksimum, minimum, standar deviasi, varian, sum, kurtosis dan skewness, dan range. Hasil statistik deskriptif terhadap variabel penelitian disajikan pada tabel berikut ini. JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 dalam grafik normal probability plot pada 1 menghasilkan titik-titik yang mengikuti alur garis diagonal dan tidak Min Max Rata-rata menyebar jauh di sekitar garis diagonal. Hasil NPL 80 0,04895 0,05380 0,05133 ini menunjukkan bahwa data dalam model Valid N regresi telah terdistribusi secara normal. Uji Autokorelasi (Sumber: Data Diola. Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji Hasil statistik deskriptif pada tabel 4. 1 berasal apakah dalam model regresi linier ada dari 80 data observasi yang merupakan hasil korelasi antara kesalahan pengganggu pada perkalian antara periode penelitian selama 5 periode t dengan kesalahan pengganggu pada tahun dengan jumlah perusahaan yang . Hasil dijadikan sampel, yaitu sebanyak 16 autokorelasi ditunjukkan oleh tabel berikut. Hasil Tabel 4: deskriptif yang dapat dijelaskan dengan baik Hasil Perhitungan Durbin-Watson adalah data yang berbentuk rasio. DW Hitung DW-Tabel (N=80, k=. Non Performing Loan yang terjadi pada 4-dU periode penelitian memiliki nilai rata-rata 1,7708 2,2292 sebesar 5,13%, dengan nilai minimum sebesar (Sumber: Data Diola. 4,89% dan nilai maksimum sebesar 5,38%. Keterangan: Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian dL : Batas Bawah non performing loan yang dilakukan oleh bankdU : Batas Atas bank umum belum bisa dikatakan berhasil. DW : Durbin Watson walaupun terjadi penurunan setiap tahunnya. Hasil Penurunan ini tidak menandakan bahwa menggunakan nilai signifikansi sebesar 5%, pengendalian non performing loan berhasil jumlah sampel . sebanyak 80, dan 1 variabel dilakukan, karena penurunan yang terjadi independen . Hasil uji autokorelasi tidak signifikan. menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal, karena nilai Durbin-Watson (DW) Uji Asumsi Klasik 959 lebih besar dari Durbin Up . U) Uji Normalitas sebesar 1,7708 dan kurang dari 4-dU sebesar Uji normalitas bertujuan untuk menguji 2,2292, sehingga kita tidak dapat menolak apakah dalam model regresi, variabel hipotesis H0 yang menyatakan bahwa tidak pengganggu atau residual memiliki distribusi ada autokorelasi positif atau negatif. Pengujian yang dapat dilakukan Tabel 3: Hasil Uji Statistik Deskriptif pengganggu atau residual ini adalah dengan melihat grafik normal probability plot, yang hasilnya disajikan dalam grafik berikut. Gambar 2: Grafik Normal Probability Plot Tingkat Penyaluran Kredit Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas ditunjukan oleh grafik Gambar 3: Grafik Hasil Uji Heteroskedastisitas Tingkat Penyaluran Kredit (Sumber: Data Diola. Hasil pengolahan data yang digambarkan DION YANUARMAWAN JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 signifikasi pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Hipotesis nol (H. yang hendak diuji adalah apakah suatu parameter . sama dengan nol atau Ho : b1 = 0, artinya apakah semua variabel independen merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatif (HA) tidak sama dengan nol atau HA : b1 O 0, artinya variabel tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hasil uji t ditujukan pada tabel berikut. Tabel 6: Hasil Uji t (Sumber: Data Diola. Grafik scatterplot pada gambar 3 di atas terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi. Titik-titik ini menyebar menjauh dari titik-titik yang lain karena adanya data observasi yang sangat berbeda dengan data observasi yang lain. Hasil Pengujian Hipotesis Koefisien Determinasi Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil artinya kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat Nilai ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 5: Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Unstandardized Coefficients Std. Error (Constan. -1,768 2,204 -0,802 NPL 98,232 44,030 Sig. 0,425 2,231 0,029* (Sumber: Data Diola. Hasil uji koefisien determinasi di atas menunjukkan bahwa besarnya Adjusted R Square 0,312, sehingga dapat dijelaskan bahwa 31,2% tingkat penyaluran kredit modal kerja dapat dijelaskan oleh non performing loan yang mempengaruhi tingkat penyaluran kredit modal kerja. Sisanya sebesar 68,8% dijelaskan oleh sebab-sebab lain di luar variabel independen yang digunakan dalam penelitian Nilai Standar Error of Estimate (SEE) sebesar 0,73443 menunjukkan bahwa model regresi dapat digunakan secara tepat untuk memprediksi variabel dependen, karena semakin kecil nilai SEE maka semakin tepat sebuah model regresi digunakan untuk memprediksi variabel dependen. Pengujian Koefisien Regresi Parsial (Uji . Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel independen secara individual menerangkan variabel Uji t digunakan untuk menguji DION YANUARMAWAN Model 0,597a Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,357 0,312 0,73443 *Signifikan pada level 5% (Sumber: Data Diola. Hasil uji t pada tabel 6 menunjukkan bahwa variabel independen yang dimasukkan ke dalam model regresi. Hasil perhitungan dengan menggunakan t kritis menunjukkan penyaluran kredit modal kerja, karena nilai t hitung dari variabel ini lebih besar dari t kritis sebesar 1,993 atau t hitung > t kritis, dan t hitung bernilai positif. Dapat disimpulkan bahwa tingkat penyaluran kredit modal kerja dipengaruhi oleh variabel non performing loan, karena nilai signifikansi variabel ini berada di bawah 0,05%, sehingga persamaan matematis yang dapat disusun adalah sebagai berikut. Y = -1,768 98,232X. Pembahasan Hasil Penelitian Non Performing Loan berpengaruh terhadap tingkat penyaluran kredit modal kerja yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil ini dapat dilihat dari nilai t sebesar 2,231 dengan nilai signifikansi sebesar 0,029, dimana nilai ini lebih kecil daripada nilai batas signifikansi sebesar 0,05. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari . dan Meydianawati . , namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fransisca . dan Budiawan . dimana JURNAL AKUNTANSI DAN EKONOMI BISNIS Vol. 6 No. 1 April 2017 NPL tidak berpengaruh terhadap tingkat penyaluran kredit modal kerja. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan sampel dan periode penelitian yang digunakan. Fransisca . dan Budiawan . menggunakan sample bank yang terdaftar di Burasa Efek Indonesia dan periode penelitian dari tahun sebelumterkena dampak inflasi yang tinggi. Penelitian ini menggunakan sampel dengan periode penelitian yang digunakan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012. PENUTUP Simpulan Penelitian kali ini menggunakan variabel Non Performing Loan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan diprediksi atau diperkirakan akan mempengaruhi tingkat penyaluran kredit modal kerja pada bank umum di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai pengaruh Non Performing Loan pada periode penelitian 2008 hingga 2012 pada perusahaanperusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia berdasarkan selama lima tahun berturutturut berada pada tingkat NPL cukup stabil tapi hal itu tidak lantas membuat perusahaan-perusahaan tersebut puas terhadap hasil NPL yang rendah tetapi tetap pada konsistennya dalam menjaga kualitas kredit dengan cara melakukan analisis dengan benar untuk menjaga agar tidak terjadi kredit macet. Saran Pihak manajemen bagi perusahaan perbankan yang telah digolongkan diprediksi sebagai perusahaan yang nilai NPLnya tinggi hendaknya melakukan potensi ancaman kredit macet dapat NPL satu-satunya membuat naik dan turunnya tingkat penyaluran kredit pada masyarakat. DION YANUARMAWAN Penelitian ini bisa dijadikan bagi penelitian selanjutnya untuk dijadikan bahan referensi atau sebagi pedoman dalam penelitian terdahulu sehingga dapat mengetahui tingkat konsistensi pengaruhnya NPL terhadap tingkat penyaluran kredit. DAFTAR PUSTAKA