Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 Pemberian Ekstrak Sargassum sp. melalui Pakan Komersil Terhadap Nilai Hematokrit dan Diferensial Leukosit pada Ikan Bawal Bintang Trachinotus blochii Azminar Yuliana. Rika Wulandari. Aminatul Zahra. Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji. INFO NASKAH ABSTRAK Sargassum sp. merupakan bahan alami yang dapat digunakan untuk meningkatkan status kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji konsentrasi ekstrak Sargassum sp. yang dicampur ke pakan komersil terhadap profil hematologi ikan bawal bintang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September Ae November 2020. Proses ekstraksi dan uji toksisitas bahan dilakukan di Marine Chemistry Laboratory FIKP, selanjutnya uji invivo dilakukan di Desa Madong. Kelurahan Kampung Bugis. Adapun profil darah ikan Saergassum sp. Limfosit, dianalisis di Marine Biotechnology Laboratory FIKP. Metode penelitian yang digunakan Monosit. Neutrofil. Ikan bawal adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu Kontrol . ppm ekstrak Sargassum sp. , perlakuan A . ppm ekstrak Sargassum sp. , perlakuan B . ppm ekstrak Sargassum sp. , dan perlakuan C . ppm ekstrak Sargassum sp. Hasil penelitian menunjukkan nilai hematokrit tertinggi sebesar 54,65%, persentase limfosit tertinggi sebesar 87,67%, persentase monosit tertinggi sebesar 6,00%, dan persentase neutrofil tertinggi sebesar 7,33%. Pemberian ekstrak Sargassum sp. pada dosis 58 ppm melalui pakan komersil memberikan pengaruh terhadap nilai hematokrit dan persentase limfosit namun tidak memberikan pengaruh terhadap persentase monosit dan neutrofil pada ikan bawal bintang. Kata kunci: Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . Fax. Email: 160254243007@student. zahra@gmail. Provision of Sargassum sp. Extract Through Commercial Feed Against Hematocrit Value and Leukocyte Differential in Pomfret Trachinotus blochi Azminar Yuliana. Rika Wulandari. Aminatul Zahra. Department of Aquaculture. Faculty of Marine Science and Fisheries. Raja Ali Haji Maritime University. ARTICLE INFO ABSTRACT Sargassum sp. is a natural ingredient that can be used to improve the health status of fish. This study aims to test the extract concentration of Sargassum sp. which is mixed into commercial feed against the hematological profile of star pomfret. This research was conducted in September - November 2020. The process of extraction and toxicity tests was carried out at the Marine Chemistry Laboratory FIKP, then in-vivo tests were carried out in Madong Village. Kampung Bugis Village. The fish blood profiles were analyzed at Sargassum sp. Lymphocytes, the Marine Biotechnology Laboratory FIKP. The research method used was experimental using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, namely Monocytes. Neutrophils. Silver control . ppm extract of Sargassum sp. , treatment A . ppm extract of Sargassum fee. , treatment B . ppm extract of Sargassum sp. , and treatment C . ppm extract of Sargassum sp. The results showed that the highest hematocrit value 65%, the highest lymphocyte percentage was 87. 67%, the highest monocyte percentage was 6. 00%, and the highest neutrophil percentage was 7. Provision of SargassumExtract sp. at a dose of 58 ppm through commercial feed has an effect on the hematocrit value and the percentage of lymphocytes but does not have an effect on the percentage of monocytes and neutrophils in pomfret fish. Keywords: Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : . Fax. Email: 160254243007@student. zahra@gmail. Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 PENDAHULUAN Ikan bawal bintang Trachinotus blochii merupakan salah satu spesies yang menjadi komoditas prospektif dan mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi baik di pasar lokal hingga internasional seperti Singapura. Jepang. Kanada. Taiwan, dan Hongkong (Retnani et al. Ikan bawal bintang tersebut dijual dengan harga bisa mencapai rata- rata Rp. 000/kg dan target produksi ikan bawal bintang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Provinsi Kepulauan Riau masih perlu sekitar 34 ton per bulannya agar bisa menjanjikan, (DJBP 2. Oleh karena target produksi cukup tinggi perbulannya maka perlu adanya penanganan khusus agar target produksi ikan bawal bintang terpenuhi. Penangan khusus dapat dilakukan dengan cara pemberian bahan alami melalui pakan untuk meningkatkan status kesehatan ikan agar ikan tetap sehat dan terjaga kualitasnya. Penggunaan bahan alami merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ikan, karena bahan alami selain berfungsi sebagai anti mikroba juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh ikan terhadap lingkungan serta merangsang sistem imun dan fungsi organ yang berhubungan dengan pembentukan sel darah. Bahan alami yang dapat digunakan adalah Sargassum sp. dari jenis alga coklat yang keberadaanya sangat melimpah di Kepulauan Riau namun hanya dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif manusia maupun hewan ternak. Menurut penelitian Dolorosa et al. , jenis alga coklat mengandung senyawa antioksidan dan nilai nutrisi yang tinggi. Senyawa- senyawa aktif yang terkandung pada Sargassum sp. antara lain saponin, flavanoid, fenolik, tanin, steroid, glikosida serta alkaloid dan jenis bioaktif lainnya yang memiliki potensi sebagai imunostimulator (Yunus et al. , yang dapat meningkatkan profil leukosit dalam Penggunaan Sargassum sp. juga perlu diketahui kosentrasi yang tepat dari suatu senyawa agar penggunaanya tidak bersifat toksik yang dapat menyebabkan kemematikan 50% hewan uji, sehingga dapat berdampak terhadap profil darah dari Darah merupakan salah satu parameter kesehatan yang dapat digunakan untuk melihat kelainan yang terjadi pada ikan, baik yang terjadi karena penyakit ataupun karena keadaan lingkungan. Ikan yang sakit akan mengalami perubahan pada profil hematologinya seperti nilai hematokrit dan kelimpahan sel darah putih. Studi hematologi ini merupakan kriteria penting untuk mendiagnosis dan menentukan kesehatan ikan, (Hidayat et al. Salah satu penelitian telah melaporkan tentang penggunaan ekstrak Sargassum pernah dicoba pada ikan lele (Clarias gariepinu. untuk melihat jumlah eritrosit dan diferensial leukosit dan mendapatkan hasil ekstrak sargassum sp. terhadap peningkatan jumlah eritrosit dan persentase limfosit darah ikan lele dumbo, (Rahma 2. Penelitian tentang profil hematologi dengan pemberian ekstrak sargassum sp. pada ikan bawal bintang belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penulis tertarik Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 untuk melakukan kajian mengenai profil hematologi ikan bawal bintang dengan membandingkan efek pemberian ekstrak dengan kontrol. BAHAN DAN METODE Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bawal bintang rachinotus blochii ikan diperoleh dari kelompok pembudidaya maju mandiri Desa Madong. Kelurahan Kampung Bugis dengan ukuran panjang 12,69A0,21 cm dan bobot 31,70A0,73 g. Pakan yang digunakan yaitu pakan megami GR- 04 dan ekstrak Sargassum sp. yang diperoleh dari hasil pembuatan di laboratorium Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Penelitian ini menggunakan metode dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) ang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dan dosis yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut: Kontrol : 0 ppm ekstrak Sargassum sp. pakan Perlakuan A : 38 ppm ekstrak Sargassum sp. pakan Perlakuan B : 58 ppm ekstrak Sargassum sp. pakan Perlakuan C : 78 ppm ekstrak Sargassum sp. pakan Penelitian ini mengacu pada hasil praskrining bahan alami Sargassum sp. yang dilakukan uji toksisitas dengan menggunakan metode brine shrimp lethal test dan mendapatkan hasil LC50 dengan kosentrasi yang dapat mematikan 50% hewan adalah 58 ppm, dari hasil tersebut kosentrasi 58 ppm dijadikan nilai tengah untuk menentukan dosis yang akan dilakukan pada uji in-vivo dengan cara diturunkan dan dinaikkan sebanyak 20 ppm. Prosedur Kerja Persiapan Wadah Waring yang digunaka sebanyak 12 buah dengan ukuran waring 80 x 60 x 70 diletakkan dikeramba jaring apung (KJA) ukuran 3x3x3m3. Sebelum digunakan waring dicek terlebih dahulu apakan layak digunakan atau tidak. Kemudian setelah dilakukan pengecekan waring dipasang pada sisi keramba diikat kuat lalu dipasang pemberat pada setiap sisi sudutnya. Persiapan Ikan Uji Ikan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ikan bawal bintang dari kelompok budidaya ikan bawal bintang Desa Madong. Ikan bawal bintang yang digunakan berukuran panjang 12,69 A 0,21 cm dengan bobot tubuh ikan 31,70 A 0,73 g dengan jumlah ikan yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan padat tebar 10 ekor/wadah. Ikan bawal bintang dilakukan adapatasi selama 2 hari sebelum dilakukan pemberian pakan perlakuan. Ikan bawal bintang yang akan digunakan Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 dalam penelitian ini aklimatisasi selama 2 hari untuk penyesuaian pada wadah yang digunakan, setelah hari ke-3 ikan dipuasakan selama A 24 jam agar sisa pakan yang ada di saluran pencernaannya habis sebelum mulai diberikan pakan perlakuan. Persiapan Pakan Uji Pakan yang digunakan adalah pakan komersil dengan merk Megami GR-4. Pakan yang sudah ditimbang sebanyak 1 kg kemudian dipisahkan untuk setiap Selanjutnya ekstrak Sargassum sp. yang sudah disiapkan dengan kosentrasi sesuai dengan perlakuan dicampur dengan putih telur sebanyak 2 ml lalu dikocok hingga homogen. Larutan ekstrak yang sudah homogen tersebut dicampur merata diseluruh permukaan pakan, pemberian ekstrak dilakukan dengan metode penyemprotan spray. Setelah larutan disemprot merata, pakan tersebut dikeringkan selama A1 hari di suhu ruangan lalu disimpan kedalam wadah kering yang tertutup Pemeliharan Pemeliharaan ikan bawal bintang dilakukan selama 30 hari dengan pemberian pakan yang mengandung ekstrak Sargassum sp. sebelum dilakukan pemberian pakan perlakuan ikan bawal bintang terlebih dahulu diaklimatisasi untuk menyesuaikan keadaan ikan dalam wadah penelitian. Pemberian pakan dilakukan secara ad satiation dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari pukul 09:00 00 WIB dengan FR 5% dari biomassa ikan bawal bintang yang dipeliharan, (Anriyono 2. Pengukuran Kualitas Darah Pengukuran kualitas darah dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum pemberian pakan perlakuan, dan setelah pemberian pakan perlakuan. Sebelum dilakukan pengambilan darah pada ikan tersebut terlebih dahulu dipingsankan dengan menggunakan es batu pada suhu 9-10OC sejalan dengan pendapat (Pratasari 2. Kemudian setelah ikan tersebut pingan pengambilan sampel darah diambil secara intramuscular dengan menggunakan syringe 1 ml yang telah dibasahi dengan antikoagulan EDTA. Darah dihisap perlahan sebanyak 0,2 ml kemudian jarum syringe dilepas, dan sampel darah dipindahkan kedalam microtube yang telah dibasahi dengan EDTA dan ditutup rapat agar darah tidak tumpah. Selanjutnya dilakukan pembuatan preparat ulas darah untuk pengukuran kualitas darah yang Nilai Hamatokrit (Anderson dan Siwicky 1. Perhitungan nilai hematokrit dilakukan dengan cara sampel darah ikan dihisap menggunakan tabung mikrohematokrit hingga mencapai mencapai A bagian tabung, kemudian salah satu ujung ditutup dengan parafin sedalam kira- kira 1 cm, sehingga terbentuk disumbat critoseal. Tabung yang telah berisi darah disentrifuge dengan kecepatan 3500 rpm selama 15 menit. Nilai kadar hematokrit dilakukan dengan membandingkan volume padatan sel darah merah dengan volume total darah dengan skala hematokrit. Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 Diferensial Leukosit (Aqualex 2. Pengamatan diferensial leukosit dilakukan untuk menentukan persentase tiap jenis leukosit yang ada di dalam darah. Pengamatan diferensial leukosit dilakukan dengan mengamati preparat ulas darah di bawah mikroskop. Pembuatan preparat ulas darah dilakukan dengan menempatkan setetes darah pada gelas obyek. Gelas obyek pertama diletakkan dengan sudut 45 di atas gelas obyek pertama, lalu digeser ke belakang menyentuh darah sehingga darah menyebar. Gelas obyek kedua kemudian digeser ke arah yang berlawanan sehingga membentuk suatu lapisan tipis Preparat ulas darah dibiarkan kering dalam udara. Setelah itu dilanjutkan dengan proses fiksasi, dengan cara merendam preparat di dalam metanol selama 5 menit, lalu dikeringkan. Preparat kemudian dimasukkan ke dalam larutan Giemsa selama 30 menit, setelah itu dicuci dan dikeringkan. Selanjutnya preparat diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x, dan dilakukan penghitungan masingmasing jenis leukosit hingga mencapai jumlah 100 sel leukosit. Parameter Penelitian Nilai Hematokrit Nilai hematoktir adalah persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipisahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu Anderson et al. Perhitungan kadar hematokrit dihitunggu dengan rumus: Nilai hematokrit (%) = yeyeayesyenyeayeI yeiyeIyes yeIyeCyeeyeCyeO yeayeIyeeyeCyeO yeyeayesyenyeayeI yeiyeayeiyeCyes yeIyeCyeeyeCyeO yeo yayaya% Diferensial Leukosit Perhitungan jumlah absolut dari masing- masing jenis leukosit dihitung dengan rumus: Jumlah jenis leukosit . el/mm. = yeUyenyeayesyeCyeO yeiyeIyes yeIyeCyeeyeO yeUyeIyeayeOyei yesyeIyenyeUyeayeiyeOyei yayaya x 100% Analisis Data Data hasil perhitungan analisis menggunakan uji ANOVA (Analysis of Varianc. SPSS IBM 25 untuk melihat pengaruh nyata antara perlakuan terhadap konsentrasi ekstrak. Data yang berbeda signifikan (F hitung > F tabe. diuji lanjut dengan uji tukey. untuk melihat perbedaan konsentrasi ekstrak antar perlakuan. Data tersebut disajikan dalam bentuk diagram batang. HASIL Nilai Hematokrit Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 16A0. 65A0. 81A0. 63A0. 81A0. 88 A0. 73A0. Nilai Hematokrit (%) 49A0. Hasil perhitungan nilai hematokrit pada ikan bawal bintang selama 30 penelitian dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini: Pra perlakuan Pasca perlakuan Perlakuan Gambar 1. Nilai hematokrit ikan bawal bintang selama penelitian Hasil penelitian nilai hematokrit pada ikan bawal bintang pra perlakuan pakan mendapatkan nilai rata -rata tertinggi ada pada K . ,88A0,15%), diikuti perlakuan A . ,81A0,24%), perlakuan C . ,81A0,22%), dan perlakuan B . ,62A0,20%). Setelah dianalisis menggunakan One-Way ANOVA didapatkan bahwa nilai hematokrit pra perlakuan pakan tidak berbeda signifikan (P> 0,. Sedangkan nilai hematokrit pada ikan bawal bintang pasca perlakuan pakan dengan penambahan ekstrak Sargassum sp. mendapatkan nilai rata Ae rata tertinggi ada pada perlakuan B . ,65A0,27%), diikuti oleh perlakuan A . ,49A0,37%), perlakuan C . ,16A0,37%), dan Kontrol . ,73A0,21%). Setelah dianalisis menggunakan OneWay ANOVA didapatkan bahwa nilai hematokrit pasca perlakuan pakan berbeda signifikan (P< 0,. Diferensial Leukosit Diferensial leukosit merupakan pengamatan darah yang dilakukan untuk mengetahu jumlah sel darah putih dari setiap pengamatan dengan menghitung jumlah sel dari jenis leukosit dibagi 100 kemudian dikali 100% pengamatan tersebut meliputi limfosit, monosit dan neutrofil. Persentase Limfosit Hasil persentase limfosit pada ikan bawal bintang selama penelitian dapat dilihat pada gambar 2. 00A0. 33A0. 47 ab 67A0. 67A0. 33A0. 47 ab 00A0. 00A0. Persentase Limfosit 00A0. Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 Pra perlakuan Pasca perlakuan Perlakuan Gambar 2. Persentase limfosit pada ikan bawal bintang 67A0. 33A0. 33 A 0. 67A 0 . 00A0. 33A0. 00 A 0. Persentase Monosit 00 A0 . Hasil penelitian persentase limfosit ikan bawal bintang pra perlakukan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi pada perlakuan K. A dan C dengan nilai yang sama yaitu . ,00%) dan terendah pada perlakuan B yaitu . ,67A0,47%). Setelah dianalisis menggunakan One-Way ANOVA didapatkan bahwa persentase limfosit pra perlakuan pakan tidak berbeda signifikan (P> 0,. Sedangkan pasca perlakuan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi ada pada perlakuan B . ,67A0,47%), diikuti oleh perlakuan C . ,33A0,47%), perlakuan A . ,33A0,84%), dan kontrol . ,00A0,82%). Setelah dianalisis menggunakan One-Way ANOVA didapatkan bahwa persentase limfosit pasca perlakuan pakan berbeda signifikan (P< 0,. Persentase Monosit Hasil persentase monosit pada ikan bawal bintang selama penelitian dapat dilihat pada gambar 3. Pra perlakuan Pasca perlakuan Perlakuan Gambar 3. Persentase monosit pada ikan bawal bintang Hasil penelitian persentase monosit ikan bawal bintang pra perlakuan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi pada perlakuan B . ,67A0,47%), diikuti oleh Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 perlakuan A dan C . ,33A0,47%), dan Kontrol . ,00A0,00%). Sedangkan pasca perlakuan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi ada pada perlakuan A . ,00A0,82%), diikuti oleh perlakuan Kontrol . ,00A0,00%), perlakuan C . ,67A0,47%), dan perlakuan B . ,33A0,47%). Setelah dianalisis menggunakan OneWay ANOVA didapatkan bahwa persentase monosit pasca perlakuan pakan tidak berbeda signifikan (P< 0,. 67A0. 00A0. 67A0. 67A0. 33A0. 71A0. 33A0. 33A0. Persentase Neutrofil Persentase Neutrofil Hasil persentase neutrofil pada ikan bawal bintang selama penelitian dapat dilihat pada gambar 4. Pra perlakuan Pasca perlakuan Perlakuan Gambar 12. Persentase neutrofil pada ikan bawal bintang Hasil penelitian persentase neutrofil ikan bawal bintang pra perlakuan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi pada perlakuan B dan C . ,67A0,47%), diikuti oleh perlakuan Kontrol dan A . ,33A0,47%). Setelah dianalisis menggunakan OneWay ANOVA didapatkan bahwa neutrofil pra perlakuan pakan tidak berbeda signifikan (P<0,. Sedangkan Persentase neutrofil pada ikan bawal bintang pasca perlakuan pakan mendapatkan nilai rata- rata tertinggi ada pada perlakuan kontrol . ,33A0,51%), diikuti oleh perlakuan C . ,00A0,00%), perlakuan A . ,71A0,51%), dan perlakuan B . ,67A0,47%). One-Way ANOVA didapatkan bahwa persentase monosit pasca perlakuan pakan tidak berbeda signifikan (P< 0,. PEMBAHASAN Kadar hematokrit merupakan perbandingan antara sel darah merah dengan plasma darah, serta berpengaruh terhadap pengaturan sel darah merah. Pengukuran ini merupakan persentase eritrosit dalam darah lengkap setelah spesimen darah disentrifugasi dari hasil pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan keadaan kesehatan ikan. Hasil pengamatan nilai hematokrit setelah dilakukan pemberian pakan ekstrak Sargassum sp. pada perlakuan Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 A. B, dan C menunjukan peningkatan dibandingkan kontrol dengan nilai tertinggi ada pada perlakuan B yaitu sebesar . ,65A0,27%). Hal ini sejalan dengan penelitian Azuwarita . , bahwa peningkatan kadar hematokrit pada ikan yang diberi ekstrak Sargassum sp. cenderung meningkat serta mampu menstimulasi respon dalam bentuk peningkatan kadar hematokrit sampai kisaran tertentu. Menurut Astuti et al. , bahwa meningkatnya persentase hematokrit, diduga karena pengaruh dari pemakaian imunostimulan. Imunostimulan berpengaruh terhadap nilai hematokrit walaupun dengan presentase yang kecil. Kadar hematokrit juga dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh dari pemakaian imunostimulan sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui kondisi ikan setelah pemberian imunostimulan, (Putra et al. Data hematokrit normal pada ikan bawal bintang dapat dilihat pada gambar 6 bahwa nilai hematokrit normal berkisar antara 46,63%- 46,88%. Menurut Yuni et al. , nilai hematokrit standar adalah sekitar 45% namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung spesies. Menurut Talpur dan Ikhwanuddin . , menyatakan bahwa rendahnya kadar hematokrit dapat menjadi indikasi ikan terserang anemia, karena ikan berhenti makan akibat stress atau serangan penyakit. Pada diagram diatas menujukkan terjadi penurunan nilai hematokrit pada perlakukan C dengan nilai . ,16A0,37%) penurunan tersebut masih berada dalam kisaran normal untuk ditoleransi. Penurunan nilai hematokrit pada perlakukan C ini diperkirakan pada kosentrasi pemberian ekstrak Sargassum sp. ikan tidak mampu mencerna makanan dengan baik, dikarenakan kosentrasi yang diberikan bersifat toksik, hal tersebut susuai dengan uji pendahuluan yang diperoleh pada kosentrasi 58 ppm dapat mematikan 50% hewan uji larva Artemia salina. Menurut Naina et al. Sargassum sp. yang di ekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol 96% secara maserasi mengandung senyawa flavonoid. Senyawa flavonoid ini dapat menghambat daya makan larva sebagai stomach poisoning atau racun perut. Pada penelitian ini dapatkan dikatakan rata- rata nilai hematokrit normal untuk ikan bawal bintang berada pada kisaran 46% sesuai hasil pada kontrol sebelum dilakukan pemberian pakan perlakuan, namun setelah dilakukan pemberian pakan perlakuan mendapatkan kenaikan nilai hematokrit pada ikan bawal bintang tertinggi pada perlakuan B dibandingkan tanpa diberi pakan yang mengandung bahan imunostimulan dengan nilai kenaikan yang didapatkan sebesar 7,77%. Bahan yang dimaksud adalah ekstrak Sargassum sp. yang mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid telah dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus, antiradang, antialergi, dan antikanker, (Miller 1. Kenaikan nilai hematokrit setelah dilakukan pemberian pakan yang mengandung bahan imunostimulan tidak berpengaruh apabila sewaktu- waktu ikan tersebut terserang pathogen berupa bakteri dari luar dengan melihat penurunan persentase hematokrit. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa pemberian ekstrak Sargassum sp. pada ikan kakap putih setelah diuji tantang dengan bakteri Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 Vibrio alginolyticus mengalami penurunan sebesar 25% dari nilai hematokrit tertinggi setelah diberi pakan perlakuan Azuwarita . Penurunan tersebut terjadi dikerenakan jumah sel darah merah dalam tubuh menurun dikarenakan jumlah sel darah putih dalam tubuh sedang diproduksi untuk membersihkan benda asing yang masuk dalam tubuh. Limfosit merupakan sistem kekebalan tubuh non spesifik yang mampu melindungi tumbuh dari serangan mikroba. Hasil persentase limfosit ikan bawal bintang dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan status kesehatan ikan, dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai persentase rata- rata limfosit sebesar 85%, nilai tersebut merupakan hasil pengamatan sebelum dilakukan pemberian ekstrak Sargassum sp. dan setelah pemberian ekstrak Sargassum sp. terjadi peningkatan persentase sebesar 2,67% dengan perlakuan B. persentase nilai limfosit tersebut masih berada dalam kisaran normal untuk ikan laut. Limfosit pada ikan berjumlah sekitar 20- 30% dari sel darah putih yang beredar. Limfosit banyak ditemukan pada hapusan darah ikan. Menurut Bijanti et al. , limfosit berbentuk bulat dengan inti yang besar dan sitoplasma yang sedikit. Gambaran limfosit teserbut dapat dilihat pada gambar 2. Hasil pengamatan dari persentase limfosit setelah dilakukan pemberian pakan ekstrak Sargassum sp. pada perlakuan A. B, dan C menunjukan peningkatan dibandingkan kontrol dengan nilai tertinggi ada pada perlakuan B yaitu sebesar . ,67A0,47%). Data persentase limfosit pada ikan bawal bintang dapat dilihat pada gambar 8 bahwa persentase limfosit normal berkisar antara 84,67% - 85,00% hasil tersebut merupakan kondisi normal pada ikan bawal bintang yang dipelihara. Hasil tersebut sejalan dengan pendapat Preager et al. kisaran normal limfosit ikan lele yaitu berkisar antara 74-86%. Hasil pada gambar 8 didapatkan bahwa terjadi penurunan pada persentase limfosit pada perlakukan C hal tersebut diduga bahwa penurunan tersebut terjadi dikarenakan bahan asing yang masuk dalam tubuh ikan tidak mampu diserap dengan Peningkatan persentase limfosit pada tubuh ikan menandakan sistem imun ikan semakin meningkat. Dari hasil yang telah didapatkan jumlah limfosit lebih banyak dari monosit dan neutrofil, hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rustikawati . , bahwa persentase limfosit pada ikan lebih banyak dibandingkan jumlah monosit dan neutrofil. Novita et al. , sel limfosit memiliki presentasi tertinggi dibandingkan dengan sel lain. Proporsi yang tinggi disebabkan oleh fungsinya dalam menyediakan zat kebal tubuh. Limfosit tersebut akan membesar yang kemudian membentuk antibodi spesifik sesuai dengan antigen memberikan rangsangan. Peningkatan persentase limfosit dikarenakan adanya benda asing yang masuk kedalam tubuh. Benda asing tersebut berupa ekstrak Sargassum sp. akro alg. yang dicampur melalui pakan (Rahma et al. , dan merupakan bahan imunostimulan sehingga mampu meransang pembentukan kekebalan tubuh nonspesifik ikan. Pengingkatan persentase limfosit merupakan refleksi keberhasilan Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 sistem imunitas ikan dalam megembangkan respon imunitas seluler . on spesifi. sebagai pemicu untuk respon kekebalan. Pada dasarnya sel limfosit terdiri dari sel B dan Sel T. Sel B mempunyai kemampuan untuk bertranformasi menjadi sel plasma yaitu sel yang memproduksi antibodi. Sedangkan sel T sangat berperan dalam kekebalan berprantaraan sel dan mengontrol respon imun. Menurut Mundriyanto et al. , mekanisme kerja limfosit dalam peranannya untuk sistem kekebalan tubuh berfungsi menyediakan zat kebal untuk pertahanan tubuh dengan cara mengenali antigen melalui reseptor spesifik pada membran sel. Pada limfosit T, ketika tubuh atau jaringan terpapar oleh antigen, maka limfosit T tidak mampu mengenal antigen tersebut sendirian tanpa melalui reseptor Dengan adanya sel reseptor spesifik ini memungkinkan sel T lebih cepat mengenali antigen yang ada sehingga langsung memberikan reaksi kekebalan dan menstimulasi sel B untuk mengeluarkan antibodi. Pemberian ekstrak Sargassum sp. ini akan menstimulir proses produksi lisozim dan komplemen yang akan mengaktifkan limfosit B untuk berdiferensiasi sehingga akan lebih aktif dalam memproduksi antibodi spesifik. Menurut Inanova et al. , bahwa banyak pendapat yang melaporkan penelitian yang berhubungan dengan aktivitas dari makro alga Sargassum sp. imunostimulan dalam upaya melawan serangan penyakit pada manusia dan serangan hewan darat lainnya. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan bahwa dari jenis bahan tersebut dapat merangsang perkembangan limfosit secara in-vivo dan in-vitro. Monosit berperan sebagai magrofag dan banyak dijumpai pada daerah peradangan atau infeksi. Hasil pengamatan jumlah monosit dari setiap perlakuan selama penelitian yaitu berkisar antara 5,33 Ae 6,67% dengan persentase tertinggi setelah dilakukan pemberian pakan dengan ekstrak Sargassum sp. yaitu pada perlakuan A sebesar . ,00A0,82%), dibandingkan dengan Kontrol. Data persentase monosit pada ikan bawal bintang dapat dilihat pada gambar 10 bahwa persentase monosit normal berkisar antara 6,000% - 6,67% hasil tersebut merupakan kondisi normal pada ikan bawal bintang yang dipelihara. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian pakan mengandung ekstrak Sargassum sp. dan tanpa pemberian ekstrak Sargassum sp. tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap persentase monosit ikan bawal bintang. Persentase monosit pada penelitian ini masih berada dalam kisaran normal untuk ikan air laut. Hal ini diperkuat oleh Hardi . , bahwa persentase monosit normal ikan kakap putih sebanyak 100% dan 10% diatas kisaran normal sedangkan 0% dibawah kisaran normal. Persentase monosit di dalam darah ikan sekitar 0,1% dari total populasi leukosit yang bersirkulasi. Pernyataan ini didukung oleh pernyataan Rustikawati . , bahwa jumlah sel limfosit paling banyak, kemudian sel neutrofil dan jumlahyang paling sedikit adalah sel monosit. Hasil yang diperoleh saat pengamatan mendapatkan bentuk sel monosit intinya berbentuk seperti ginjal atau bilobus dan bentuknya bermacam- macam, pada umumnya mencapai 50% dari volume sitoplasma, bentuk sel monosit tidak Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 Pengecatan menggunakan bantun giemsa maka inti sel akan bewarna biru atau sitoplamsa bewarna biru kepucatan. Kromatin inti monosit lebih bergranuler dan kurang memadat jika dibandingkan dengan inti. Monosit bersifat lebih kuat untuk melakukan fagosit dibandingkan dengan neutrofil dan dapat memfagosit partikel- partikel yang lebih besar. Oleh karena itu fagositosit yang matang disebut magrofag dan beredar dalam jaringan (Bijanti et al. Hasil yang didapakan dari persentase monosit cenderung menurun dikarena tidak adanya infeksi yang dapat meransang monosit dalam tubuh ikan bawal bintang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Utami et al. , bahwa rendahnya proporsi monosit berkaitan dengan fungsi monosit itu sendiri yaitu sebagai magrofag, dimana monosit tidak terlau banyak dibutuhkan untuk memfagosit, dikarenakan belum adanya infeksi yang masuk dalam tubuh yang merangsang produksi monosit. Pengamatan terhadap rataan persentase neutrofil dalam darah ikan bawal bintang menunjukkan bahwa jumlah neutrofil cenderung menurun saat dilakukan pengamatan pada hari ke-30. Setelah dilakukan pemberian pakan ekstrak Sargassum menunjukan persentase neutrofil tertinggi pada kontrol yaitu sebesar . ,33A0,47%) dibandingkan dengan perlakuan A. B, dan C yang diberi dengan ekstrak Sargassum sp. penurunan jumlah neutrofil tersebut dikarenakan tidak adanya infeksi yang dilakukan selama penelitian. Data persentase neutrofil pada ikan bawal bintang dapat dilihat pada gambar 12 bahwa persentase neutrofil normal berkisar antara 8,33% - 8,67% hasil tersebut merupakan kondisi normal pada ikan bawal bintang yang dipelihara. Hasil tersebut sejalan (Robert 2. , persentase neutrofil pada ikan lele normal adalah 6- 8% dari proporsi leukosit yang ada. Menurut Delma dan Brown . , persentase neutrofil cenderung meningkat pada saat terjadi penyakit bakteri karena neutrofil keluar dari pembuluh darah menuju daerah infeksi. Karena susuai fungsi utama neutrofil adalah menghancurkan bahan asing melalui proses fagositik. Hartika et al. , juga mengemukakan bahwa presentasi neutrofil yang rendah menunjukkan tidak adanya serangan mikroorganisme sehingga neutrofil belum banyak diproduksi oleh tubuh ikan. Sedangkan Mahasri et al. , melaporkan bahwa berdasarkan fungsinya neutrofil tidak terlalu berperan dalam proses pertahanan tubuh terhadap lingkungan sehingga tubuh ikan tidak melakukan produksi sel neutrofil dan presentasinya dalam darah menjadi berkurang. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah bahwa pemberian ekstrak Sargassum sp. berpenaruh terhadap peningkatan nilai hematokrit dan persentase limfosit pada ikan bawal bintang pada dosis yang tertinggi di perlakuan B yaitu 59 ppm. Hasih hematokrit yang didapatkan sebesar 54,65% dan persentase limfosit sebesar 87,67%. Intek Akuakultur. Volume 5. Nomor 2 . Tahun 2021. E-ISSN 2579-6291. Halaman 36-49 UCAPAN TERIMAKASIH Terimakah penulis ucapakan kapadah semua pihak yang ikut membantu dari awal penelitian hingga terselesainya jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA