Volume 4 Number 1 . January-June 2026 Page: 1-11 E-ISSN: 2986-6502 DOI: 10. 37680/ssa. Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama Almaydza Pratama Abnisa1. Zubairi1. Lutfia Nursanti1 Institut Asy-Syukriyyah Tangerang. Indonesia Received: 16/02/2026 Abstract Revised: 20/03/2026 Accepted: 18/04/2026 This research aims to develop an effective learning model for instilling Islamic religious values, particularly those related to religious moderation, in slowlearning students in inclusive schools. Slow-learning students require an adaptive and structured instructional approach to understand abstract concepts such as religious moderation. The model developed integrates a visual-kinesthetic approach, experiential learning, and the use of interactive digital media, adapted to their learning characteristics. The trial results showed a significant increase in students' understanding and moderate attitudes toward diversity. This model is recommended as a practical guide for Islamic Religious Education (PAI) teachers in supporting inclusive education and strengthening national character. Slow Learner. Religious Moderation. Development Model. Inclusion. Keywords Corresponding Author Zubairi Institut Asy-Syukriyyah Tangerang. Indonesia. zubairimuzakki@gmail. INTRODUCTON Indonesia adalah negara yang berdiri di atas fondasi kemajemukan . , sebuah anugerah sekaligus tantangan yang harus dikelola dengan bijak. Dalam konteks ini. Moderasi Beragama bukan lagi sekadar wacana teologis, melainkan kebutuhan mendesak bagi keberlangsungan harmoni sosial dan keutuhan bangsa (Hoddin dkk. , 2. Sikap beragama yang ekstrem, baik yang condong pada radikalisme . kstrem kana. maupun liberalisme tanpa batas . kstrem kir. , terbukti merusak tatanan sosial, memicu konflik horizontal, bahkan mengancam ideologi negara. Pancasila. (Moderasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam I di SMA Al-Irsyad Surabaya | Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 2. Generasi muda, khususnya peserta didik di sekolah, merupakan kelompok yang paling rentan terpapar oleh narasi keagamaan yang eksklusif dan provokatif, seringkali melalui media digital dan lingkungan yang kurang terawasi (Zubairi, 2. Oleh karena itu, sekolah memegang peran krusial sebagai benteng utama dalam membentuk karakter siswa. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga lembaga vital yang bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan kebangsaan (Muzakki & Nurdin, 2. Penguatan moderasi beragama telah menjadi agenda prioritas nasional di Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah pluralitas masyarakat. (Hasibuan dkk. , 2. Moderasi beragama dalam konteks pendidikan Islam adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang A 2026 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of Creative Commons Attribution International License (CC BY) . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Published by Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Indonesia Social Science Academic senantiasa berada di tengah, tidak berlebihan . maupun meremehkan . , serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. (Zalnur dkk. , 2. Tantangan muncul ketika konsep ini harus diinternalisasikan pada seluruh peserta didik, termasuk siswa slow learner . iswa lambat belaja. (Amelia, 2. Siswa slow learner memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata teman sebaya, meskipun tidak termasuk dalam kategori intellectual disability. (Devi dkk. , 2. Mereka kesulitan dalam memproses informasi abstrak, membutuhkan pengulangan, dan memerlukan waktu lebih lama untuk menguasai suatu kompetensi. Model pengembangan nilai agama yang ada sering kali bersifat konvensional dan kurang mengakomodasi kebutuhan belajar siswa slow learner, terutama untuk materi yang bersifat konseptual dan abstrak seperti moderasi beragama. (Taufik dkk. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk menghasilkan model pembelajaran PAI yang spesifik, terstruktur, dan adaptif agar nilai-nilai moderasi beragama dapat ditanamkan secara efektif, memastikan bahwa pendidikan inklusi juga berarti inklusi dalam pemahaman keagamaan yang moderat. (Fihri dkk. , 2. Siswa slow learner memiliki Intelligence Quotient (IQ) antara 70-85. Karakteristik utama mereka meliputi: Keterbatasan Kognitif: Kesulitan dalam generalisasi, penalaran, dan pemecahan masalah (NAIRUZAH, t. ) Keterbatasan memori jangka pendek membutuhkan pengulangan dan instruksi yang bertahap, dan gaya belajar harus lebih dominan belajar melalui pengalaman nyata . dan visual, bukan verbal/teoretis. Pendidikan Moderasi Beragama terhadap siswa slow learner bertujuan untuk menginternalisasi sikap WasathiyyahAisikap pertengahan, adil, dan seimbangAidalam praktik keagamaan sehari-hari Pendidikan Moderasi Beragama di SMAIT Latansa Cendekia merupakan investasi jangka Hal ini terselenggara karena adanaya dukungan dari pihak Kemenag RI melalui program Litabdimas, sehingga dengan penelitian ini tidak hanya membentuk pribadi yang saleh secara ritual di kalangan siswa slow learner di SMAIT Latansa Cendekia Tangerang, bukan berarti tidak mampu menerapkan nilai-nilai agama akan tetapi juga terbentuk pribadi yang saleh sosial, mampu hidup harmonis di tengah perbedaan, dan menjadi generasi penerus yang menjaga pilar-pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia METHOD Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pengembangan dengan mengadopsi model analysis, design, development, implementation, dan evaluation, yang dieterapkan pada pada siswa SMAIT Latansa Cendekia (Usman. Almaydza Pratama Abnisa. Zubairi. Lutfia Nursanti / Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama Analisis: Melakukan analisis kebutuhan . nalisis kurikulum PAI, karakteristik slow learner, dan kebutuhan penguatan moderasi beragam. pada siswa SMAIT Latansa Cendekia Perancangan: Merancang kerangka model, silabus, dan instrumen penilaian. Pengembangan: Menghasilkan prototipe model dan bahan ajar . ermasuk modul berbasis visual dan permainan pera. Implementasi: Uji coba model pada siswa SMAIT Latansa Cendekia dengan subjek siswa slow learner. Evaluasi: Mengukur efektivitas model menggunakan teknik pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman kognitif dan skala sikap untuk mengukur perubahan perilaku moderat pada siswa SMAIT Latansa Cendekia. Sumber Data Dalam penelitian ini, kami menggunakan beberapa sumber data sebagai berikut (Syahri, 2. Sumber Data Primer Data primer adalah data-data yang terkait dengan Model pembelajaran bagi siswa Slow Learner dan moderasi beragama pada siswa SMAIT Latansa Cendekia. Sumber Data Sekunder Buku-buku penunjang lain yang relevan dengan pembahasan penelitian dan juga masukan . dari sumber lainnya dari media cetak dan elektronik. Metode Pengumpulan Data (Hadi, 1. Pengumpulan data baik primer maupun sekunder dilakukan dengan studi kasus dengan memahami, mengidentifikasikan, menganalisa dan membandingkan sumber data yang satu dengan yang lain yang terdapat dalam sumber data. Setelah terkumpul lalu diklasifikasikan sesuai dengan sifatnya masing-masing. (Arikunto, 2. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui beberapa tahapan: Survei untuk temuan awal sebelum melaksanakan pengabdian yaitu berkoordinasi dengan pihak Yayasan mengenaikesedian dan kesepakatan waktu pelaksanaan. Pembuatan dan publikasi media informasi melalui poster-poster. Player dan media sosial berupa WA. Facebook. IG dll. Mengedukasi dewan guru dan siswa slow learner secara tatap muka, dengan presentasi dan diskusi serta Tanya jawab Social Science Academic FINDINGS AND DSICUSSIOUN Moderasi Beragama Pada tahun 2019 merupakan tahun yang ditetapkan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai AyTahun Moderasi BeragamaAy. (Manshur & Isroani, 2. Moderasi beragama dijadikan tema besar dalam berbagai programdan kebijakan yang dibuat. (Zalnur dkk. , 2. Dalam pelaksanaan setiap kegiatannya, lembaga ini selalu berusaha untuk menempatkan diri sebagai lembaga moderasi atau penengah dalam berbagai keberagaman dan desakan arus disrupsi yang berpengaruh terhadap berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa dan beragama. (Moderasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam I di SMA Al-Irsyad Surabaya | Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, t. ) Moderasi beragama merupakan suatu konsep guna menjaga kerukunan umat beragama. Konsep tersebut tidak hanya bertujuan untuk terciptanya memoderasikan agama, akan tetapiuntuk memoderasikan cara mengetahui dan menerapkan ajaran agama dalam situasi di tengah kehidupan masyarakat yang Hal tersebut sebagaimana penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa melalui Kementerian Agama Republik Indonesia kegiatan moderasi beragama dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian bangsa dan negara untuk mengatasi problematika radikalisme dan terorisme yang terjadi di kalangan masyarakat di Indonesia. (Muqit dkk. , 2. Kegiatan moderasi beragama yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sangat membantu setiap orang, kelompok, lembaga bangsadan Negara untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman tentang sikap-sikap moderat,(Labaso, 2. adanya penetapan moderasi beragama menjadikan arah kebijakan negarayang jelas dalam rangka membentuk karakter sumber daya manusia Indonesia yangbaik dan moderat, yaitu sumber daya manusia yang berpedoman kuat pada hakikat ajaran dan nilai agama, mengutamakan kepentingan umum, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan komitmen kebangsaan. Oleh sebab itu adanya penguatan moderasi beragama menjadi salah satu langkah strategis pencapaian visi Indonesia maju. (Muqit dkk. , 2. Secara konstitusional, penguatan moderasi beragama juga memiliki landasan hukum yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 yang menerangkan bahwa terdapat kewajiban negara untuk menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanyadan kepercayaanya masing-masing. Selain itu, perlindungan terkait kebebasan beragama juga tercantum dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Kewajiban negara untuk melindungi kebebasan beragama dimana hal ini secara khusus menjadi tugas Kementerian Agama. Hal tersebut sesuai dengan Perpres Nomor 83 Tahun 2015 tentang Kementerian Agamayang menyatakan bahwa Kementerian Agama memiliki tugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan bidang agama untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintah. Moderasi beragama tidak hanya difokuskan dalam lingkup masyarakat saja, akan tetapi juga dalam Almaydza Pratama Abnisa. Zubairi. Lutfia Nursanti / Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama lembaga pendidikan. (M. Pd. I, t. Hal tersebut dapat diketahui melalui lima strategi utama penguatan moderasi beragama salah satunya yaitu penguatan sistem pendidikan dengan sudut pandang moderasi beragama, yang mencakup pengembangan kurikulum, materi dan proses pengajaran, pendidikan untuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, dan penerimaan tenaga pendidik secara menyeluruh. Selain itu, dalam implementasinya guna untuk memperkuat program moderasi beragama dalam lembaga pendidikan, stakeholder atau jajaran Kementerian Agama juga melakukan kajian terhadap bahan ajar atau kurikulumyang berkaitan dengan moderasi beragama di lembaga pendidikan agama, pendidikan keagamaan, dan di institusi pendidikan tinggi negeri. (Muzakki, 2. Hal tersebut dikarenakan lembaga pendidikan dipercaya sebagai salah satu cara yang baik dan efektif guna melaksanakan sebuah perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. (Abnisa & Zubairi, 2. Oleh karenanya penguatan moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan harus mendapatkan perhatian utama Pengembangan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam Pengembangan nilai-nilai agama Islam merupakan inti dari Pendidikan Agama Islam (PAI) dan bertujuan untuk membentuk peserta didik yang memiliki karakter . mulia, beriman teguh, dan mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. (Zubairi. Nurdin, dkk. , 2. Model pengembangan nilai ini harus terintegrasi, komprehensif, dan kontekstual. Model Integrasi Kurikulum Model ini menekankan bahwa nilai-nilai PAI tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran PAI itu sendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran lain dan seluruh aktivitas sekolah. (Fihri , 2. Dalam penerapannya seorang guru mata pelajaran Biologi mengaitkan penciptaan alam semesta dengan kebesaran Allah . Guru Sejarah membahas nilai-nilai kepemimpinan dan keadilan dari tokoh Islam. Guru Matematika mengajarkan kejujuran dalam berhitung. (Zubairi dkk. Hal ini nenunjukkan bahwa ajaran Islam relevan dan menjadi landasan bagi semua bidang ilmu dan aspek kehidupan. Model Pembiasaan dan Keteladanan Nilai-nilai spiritual dan moral tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi harus menjadi dan diperkuat melalui keteladanan dari seluruh civitas akademika. (Muzakki, 2. Pembiasaan dengan melaksanakan salat berjamaah secara rutin, membiasakan mengucapkan salam, membiasakan menjaga kebersihan, dan membiasakan bertutur kata sopan. (Zubairi. Muljawan, dkk. Sementara Keteladananseorang guru, kepala sekolah, dan staf adalah teladan utama dalam kejujuran, disiplin, kedermawanan, dan sikap profesional yang Islami. Social Science Academic . Model Studi Kasus dan Pemecahan Masalah Model ini mengajak peserta didik untuk aktif dalam memahami dan menginternalisasi nilai melalui analisis situasi nyata dan pengambilan keputusan moral. (Adab, t. ) Dalam penerapannya dengan mendiskusikan kasus-kasus kontemporer seperti bullying, korupsi, atau hoax dari perspektif ajaran Islam. (Muzakki, 2. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasi nilai . isalnya, kejujuran, keadilan, kasih sayan. yang dilanggar dan merumuskan solusi Islami. Mengembangkan kemampuan penalaran moral dan pemahaman kontekstual terhadap nilai-nilai agama. Model Kegiatan Ekstrakurikuler Keagamaan Nilai diperkaya dan diamalkan dalam kegiatan terstruktur di luar jam pelajaran formal, menciptakan lingkungan belajar yang Islami. (Irawan dkk. , 2. Seperti kegiatan Rohis (Kerohanian Isla. yang mengadakan kajian, bakti sosial, dan peringatan hari besar Islam, dan Pesantren Kilat yang memperdalam praktik ibadah dan akhlak, serta kegiatan Mentoring Keagamaan yang membimbing secara intensif dan personal oleh seorang guru. (Masud dkk. , 2. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengamalkan . dan mendalami . nilai-nilai PAI secara sukarela dan mendalam. Pengembangan nilai PAI yang efektif memerlukan sinergi antara kurikulum . , pembiasaan . , dan lingkungan . (Mizal, 2. Model yang ideal adalah model yang mengombinasikan keempat pendekatan di atas: Integrasi dalam semua pelajaran. Keteladanan dari pendidik. Klarifikasi Nilai melalui kasus, dan Pengamalan melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga nilai-nilai PAI tertanam kuat dan menjadi pedoman hidup. (Ruslan & Latif, 2. Di tengah pusaran dinamika sosial dan isu-isu keagamaan yang kian kompleks, konsep Moderasi Beragama telah menjadi sorotan utama dalam wacana keislaman global, khususnya di Indonesia. Jauh sebelum istilah "moderasi" populer. Islam telah memperkenalkan konsep Wasathiyyah Ae jalan tengah, sikap yang adil, seimbang, dan tidak berlebihan . dalam praktik keagamaan. (Taufik dkk. , 2. Wasathiyyah bukanlah upaya memoderasi ajaran agama, sebab ajaran Islam sendiri secara inheren sudah moderat dan seimbang. Moderasi beragama adalah upaya untuk memoderasi cara pandang, sikap, dan praktik pemeluk agamaagar sejalan dengan prinsip Wasathiyyah tersebut. (Hoddin dkk. Dasar utama konsep ini bersandar pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 143: AaeUA a AeaEA a a a AUaeaueA a AUEa aco aaueaeA a AaOauaao aUaeaue aiU OA a AUa aa aOaaueaI A Artinya: AuDan demikianlah Kami jadikan kamu umat pertengahan . mmatan wasatha. agar kamu menjadisaksi atas . manusia dan agar Rasul (Nabi Muhamma. menjadi saksi atas . Ay(Al-QurAoan Digital Online dan Terjemahan 30 Juz | merdeka. com, t. Almaydza Pratama Abnisa. Zubairi. Lutfia Nursanti / Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama Umat pertengahan . mmatan wasatha. adalah umat yang adil ('ad. , terbaik . , dan seimbang . , yang mampu menjadi teladan dan penengahbagi seluruh peradaban manusia. Kebijakan pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, merumuskan empat indikator kunciuntuk mengukur dan menguatkan praktik moderasi beragama. Keempat pilar ini merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Wasathiyyah Islam di kalangan masyarakat: Komitmen Kebangsaan Moderasi beragama mengharuskan penerimaan terhadap konsensus kebangsaan, yaitu Pancasila dan UUD 1945. (Buku_Saku_Moderasi_Beragama-min. pdf, t. ) Bagi Muslim Indonesia, komitmen kebangsaan adalah bagian integral dari iman. Ulama Indonesia merumuskan bahwa mencintai tanah air . ubbul watha. adalah bagian dari iman. Umat Islam yang moderat menyadari bahwa keberadaan negara adalah berkah . i'ma. yang harus dijagadari segala bentuk ancaman, termasuk ekstremisme keagamaan yang selalu mengatasnamakan pembentukan negara ideal. (Jurnal-jurnal tentang Model Pembelajaran PAI & Moderasi Beragama - Recherche Google, t. Toleransi Toleransi adalah sikap lapang dada untuk menghormati perbedaan, baik perbedaan internal . ntara sesama Muslim dalam mazhabatau praktik furu'iyya. maupun eksternal . engan penganut agama lai. (Zalnur dkk. , 2. Toleransi ditegaskan dalam Al-Qur'an: AuLA ikrAha fid dnAy (Tidak ada paksaan dalam beragama [Al-Baqarah: . Toleransi dalam moderasi bukan berarti menyamakan semua agama, melainkan menghargai haksetiap individu untuk meyakini dan menjalankan ajaran agamanya tanpa intimidasi atau diskriminasi. Anti-Kekerasan Sikap anti-kekerasan adalah penolakan terhadap pemaksaan kehendak dan penyelesaian masalah keagamaan atau kemasyarakatan melalui cara-cara kekerasan, baikfisik maupun verbal . eperti ujaran (NAIRUZAH, t. ) Islam adalah agama salam . Moderasi beragama menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang hikmah . , mau'izhah hasanah . asihat yang bai. , dan mujadalah billati hiya ahsan . erdebat dengan cara yang lebih bai. (QS. An-Nahl: . (Najati, . Akomodatif terhadap Budaya Lokal Islam di Indonesia telah membuktikan diri sebagai agama yang adaptif. Para penyebar agama (Wali Song. menggunakan pendekatan budaya sebagai jembatan dakwah (Islam Nusantar. Moderasi beragama menjunjung tinggi kaidah fikih Islam:(Hoddin dkk. , 2. Al-muhAfazhatu 'ala al-qadm ashshAlih wa al-akhdzu bi al-jadd al-ashlah. (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Social Science Academic Sikap dan perilaku ini memastikan bahwa praktik keagamaan tidak tercerabut dari akar budaya bangsa, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat. Pendidikan ini berupaya untuk mencapai dua sasaran utama: Memperkuat Kedalaman dan Keseimbangan nilai Agama Islam Ini adalah upaya agar siswa memiliki pemahaman agama yang kokoh, namun fleksibel. (Besari, ) Siswa diajarkan untuk mampu menempatkan teks suci (Al-Qur'an dan Hadi. secara proporsional, yaitu memahami konteks di balik teks . sbabun nuzu. dan menerapkannya sesuai dengan realitas kontemporer, dan mencegah sikap ghuluw . dalam beragama yang dapat berujung pada fanatisme, mudah menyalahkan pihak lain . , danmenjustifikasi kekerasan atas nama (YOZ, t. Membangun Karakter Inklusif Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa praktik beragama siswa selaras dengan semangat kebangsaan dan kemajemukan. (Damanik dkk. , 2. Siswa didorong untuk menghargai perbedaan pendapat dalam internal agama . danmenghormati hak beragama penganut keyakinan lain, dan menjadikan Pancasila. UUD 1945. NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai konsensus kebangsaan yang tidak dapat diganggu gugat, serta mampu menerima kearifan lokal . ocal wisdo. sebagai kekayaan budaya yang sejalan dengan ajaran agama. (Nashihin dkk. , 2. Bentuk Model Pengembangan Model yang dikembangkan dalam Pendidikan Agama Islam Ae Visual. Interaktif, dan Kinestetik. (Dwiyanto & Harsiwi, 2. seperti berikut: Tabel 1. Model Pengembangan Pendidikan Agama Islam Indikator Moderasi Beragama yang Diperkuat Tahap Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Orientasi Visual Memperlihatkan keragaman budaya/agama di Indonesia. Menyusun skenario role play sederhana . isalnya, simulasi gotong royong di Menghubungkan AlQur'an/Hadis relevan . isalnya, $QS. \text. l-KAfir. : 6$). Mengamati mengidentifikasi nilainilai pada tayangan Melakukan simulasi dan merasakan peran secara langsung. Komitmen Kebangsaan. Toleransi Menjawab pertanyaan bantuan alat bantu . artu Akomodatif Lokal Pengalaman Kinestetik (Role Pla. Kontekstualisasi Nilai (Diskusi Terstruktu. Anti Kekerasan. Toleransi Budaya Almaydza Pratama Abnisa. Zubairi. Lutfia Nursanti / Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama Generalisasi dan Penguatan (Pengulanga. Memberikan edukasi untuk mengulang konsep inti. Menyimpulkan materi dengan bahasa yang Penguatan seluruh indikator Uji Efektivitas Model Hasil uji coba menunjukkan peningkatan yang signifikan pada nilai post-test dibandingkan pre-test pada kelompok eksperimen. Rata-rata peningkatan skor pemahaman moderasi beragama mencapai Uji sikap menggunakan skala Likert juga menunjukkan perubahan positif, terutama pada indikator Toleransi dan Komitmen Kebangsaan. Siswa slow learner lebih mudah menginternalisasi konsep melalui role play yang memberi mereka kesempatan untuk "menjadi" orang yang toleran dalam skenario yang aman. (Devi dkk. , 2. Tabel 2. Perbandingan Hasil Pre-test dan Post-test Pemahaman Moderasi Beragama Kelompok Kontrol Eksperimen Rata-rata Pre-test Rata-rata Post-test Peningkatan (%) Hasil analisis statistik menunjukkan nilai p<0. 05, mengonfirmasi bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok yang menggunakan Model PAI- Visual. Interaktif, dan Kinestetik. kelompok kontrol, menegaskan efektivitas model dalam konteks siswa slow learner. CONCLUSIONS Model Pengembangan Nilai Agama Islam PAI- Visual. Interaktif, dan Kinestetik. terbukti efektif dalam menanamkan dan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama pada siswa slow learner. Pendekatan multisensori, visual, dan kinestetik berhasil menjembatani keterbatasan kognitif siswa dalam memahami konsep abstrak. Model ini menawarkan solusi praktis bagi guru PAI dalam mengimplementasikan pendidikan inklusi yang sejalan dengan agenda penguatan karakter Moderasi Beragama dalam Islam bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga harmoni, persatuan, dan peradaban di Indonesia yang majemuk. Ia adalah manifestasi dari Islam rahmatan lil 'alamin Ae rahmat bagi seluruh alam. Dengan mengamalkan Wasathiyyah yang berpegang teguh pada Komitmen Kebangsaan. Toleransi. Anti-Kekerasan, dan Akomodasi Budaya, umat Islam Indonesia dapat terus menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang damai, adil, dan berakhlak mulia. Social Science Academic REFERENCES Abnisa. , & Zubairi. Personality Competence Educator and Students Interest in Learning. Scaffolding: Jurnal Pendidikan Islam dan Multikulturalisme, 4. , 279Ae290. Adab. Pd I. Penerbit. Meningkatkan Motivasi Belajar Dalam Pendidikan Agama Islam. Penerbit Adab. Al-QurAoan Digital Online dan Terjemahan 30 Juz | merdeka. Diambil 3 Juni 2023, dari https://w. com/quran Amelia. Karakteristik dan Jenis Kesulitan Belajar Anak Slow Learner. Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan, 1. Hal 53. https://doi. org/10. 30604/jika. Arikunto. Metode peneltian. Jakarta: Rineka Cipta, 173. Besari. Pendidikan Keluarga Sebagai Pendidikan Pertama Bagi Anak. Buku_Saku_Moderasi_Beragama-min. Diambil Januari https://babel. id/public/files/kristen/Buku_Saku_Moderasi_Beragama-min. Damanik. Sitanggang. , & Sari. Integration Of Science and Spirituality In Higher Education Based On Tarekat In Indonesia. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Devi. Rahayu. , & Dhani. Strategi Pembelajaran Bagi Siswa Lamban Belajar (Slow Learne. Inpres Oeba Kota Kupang. Abdi Masyarakat, 4. https://doi. org/10. 58258/abdi. Dwiyanto. , & Harsiwi. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Anak Slow Learner Dalam Pembelajaran Di SDN Baddurih. Algoritma : Jurnal Matematika. Ilmu Pengetahuan Alam. Kebumian Dan Angkasa, 2. , 106Ae114. https://doi. org/10. 62383/algoritma. Fihri. Saepudin. Husaini. , & Syafrin. Model Pengembangan Kurikulum Kaderisasi Ulama Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta Masa Depan. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Hadi. Statistik dalam Basica Jilid 1. Penerbit Andi. Hasibuan. Lubis. , & Usiono. Konsep Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Karakter Siswa di Era Globalisasi Pada MAN 1 Padangsidimpuan. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Hoddin. Wahidmurni. Basri. , & Barizi. Moderasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam I di SMA Al-Irsyad Surabaya. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Irawan. Marfiyanti. Arif. , & Zulherma. Model of Religious Education and Moral Development in Special Detention Center for Children. Khalifa: Journal of Islamic Education, 5. , 46Ae65. Jurnal-jurnal tentang Model Pembelajaran PAI & Moderasi BeragamaAiRecherche Google. Diambil 5 Januari https://w. com/search?q=Jurnaljurnal tentang Model Pembelajaran PAI & Moderasi Beragama&rlz=1C1SQJL_enID974ID9 74&oq=Jurnaljurnal tentang Model Pembelajaran PAI & Moderasi Beragama&gs_lcrp=EgZjaHJvbWUyB ggAEEUYOTIHCAEQIRiPAjIHCAIQIRiPAtIBCTcwMjdqMGoxNagCCLACAfEFfWjqoelZkcE&s ourceid=chrome&ie=UTF-8 Labaso. Konsep Pendidikan Keluarga Dalam Perspektif Al-Quran Dan Hadis. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 15. , 52Ae69. https://doi. org/10. 14421/jpai. Manshur. , & Isroani. Tantangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Era Digital. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Masud. Izzuddin. , & Yusuf. Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Sequential Model pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam: Studi pada UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Almaydza Pratama Abnisa. Zubairi. Lutfia Nursanti / Model Pengembangan Nilai Agama Islam pada Siswa Slow Learner untuk Penguatan Moderasi Beragama Mizal. Pendidikan Dalam Keluarga. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2. , 155Ae178. Moderasi Beragama Dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam I di SMA Al-Irsyad Surabaya | Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam. Diambil Januari https://jurnal. id/index. php/ei/article/view/7270 Pd. Ilmu Pendidikan Islam. Penerbit Adab. Muqit. Nawafil. , & Djuwairiyah. Desain Baru Dalam Menangkal Radikalisme Agama Melalui Pembelajaran Fiqh Multi Madhab di Mahad Aly Situbondo. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12. https://doi. org/10. 30868/ei. Muzakki. Keteladanan Seorang Guru Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Asy-Syukriyyah, 16. , 5Ae50. Muzakki. Urgensi Pendidikan Akhlak di Usia Dini. Jurnal Asy-Syukriyyah, 19. , 50Ae79. Muzakki. , & Nurdin. Formation of Student Character in Islamic Religious Education. EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 3. Article 3. NAIRUZAH. Pengaruh model pembelajaran problem based learning berbantuan alat peraga terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VII pada materi garis dan sudut di SMP Negeri 16 Semarang tahun pelajaran 2015/2016. Najati. AoUtsman. AoUsmani. Al-quran dan ilmu jiwa / Mohammad AoUtsman Najati (Bandun. Pustaka.