ANALISIS KESENJANGAN TEKNIK BUDIDAYA TEMBAKAU DI NAGARI BARUAH GUNUNG KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PROVINSI SUMATERA BARAT Nursamsi . Agustinus Mangunsong . Mamang Wahyudi . Muhammad Syahfitra . Novi Yulanda Sari . Friskia Hanatul Qolby . Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Jl. Raya Negara KM 7 Koto Tuo. Harau. Kabupaten Lima Puluh Kota 26271. Sumatera Barat email: samsihutabarat@politanipyk. Abstrak Masalah produktivitas menjadi masalah umum yang dialami petani tembakau di Nagari Baruah Gununang. Kecamatan Bukik Barisan Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat. Produktivitas tembakau berada di bawah produktivitas nasional yang disebabkan oleh teknik budidaya yang tidak sesuai dengan Metode penelitian menggunakan analisis kesenjangan . ap analysi. bertujuan menilai kesenjangan antara teknik budidaya aktual yang dilakukan petani dengan standar budidaya yang seharusnya. Penilaian kesenjangan dengan bantuan check sheet berdasarkan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gap antara budidaya petani dengan standar sebesar 1,2 . %) dengan tingkat kesesuaian 70%. Artinya Teknik budidaya yang dilakukan petani statusnya masih tergolong dalam kategori hampir sesuai dengan standar. Adapun tahapan budidaya yang kurang sesuai standar adalah penanaman. dan penyiangan, penyiraman dan penggemburan. Permasalahan yang menjadi penyebab tidak sesuai standar ini adalah jarak tanam yang rapat, ketiadaan penggunaan pupuk kandang dan dolomit, dosis dan jenis pupuk kimia yang tidak sesuai, dan penyiraman dan pengarian yang kurang Kata kunci: Analisis Kesenjangan. Budidaya. Kesesuaian. Tembakau Abstract Productivity problems are a common problem experienced by tobacco farmers in Nagari Baruah Gununang. Bukik Barisan District. Limapuluh Kota Regency. West Sumatra Province. Tobacco productivity is below national productivity due to cultivation techniques that do not comply with standards. The research method uses gap analysis to assess the gap between the actual cultivation techniques used by farmers and the proper cultivation standards. Gap assessment with the help of a check sheet based on a likert scale. The research results show that the gap between farmers' cultivation and standards is 1. %) with a suitability level of This means that the cultivation techniques used by farmers are still classified as almost in accordance with standards. The stages of cultivation that do not meet standards are planting. and weeding, watering and loosening. The problems that cause non-compliance with this standard are close spacing of plants, lack of use of manure and dolomite, inappropriate dosage and type of chemical fertilizer, and insufficient watering and irrigation. Keywords: Cultivation. Gap Analysis. Suitability. Tobacco. PENDAHULUAN Tembakau (Nicotiana tobacu. masih menjadi komoditas unggulan perkebunan Indonesia, selain kelapa sawit, kopi, kakao, teh dan rempah-rempahan. Tembakau merupakan tanaman semusim yang dapat dipanen daunnya dalam 3-4 bulan dan dikeringkan sebelum dipasarkan. Pada tahun 2022, luas areal perkebunan tembakau di Indonesia 227. 672 hektar, yang terdiri dari 99,77% perkebunan rakyat dan 0,23% perkebunan besar negara. Berdasarkan luas tembakau tersebut tercatat bahwa produksi tembakau dalam negeri mencapai 263. 007 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2. P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Nursamsi, dkk 2024 Sentra produksi tembakau di Indonesia terdapat di pulau Jawa dengan luas 173. 000 hektar, dan Bali-Nusa Tenggara dengan luas 36. 000 hektar. Sedangkan sisanya tersebar di Aceh. Sumatera. Lampung. Jabar. Jateng. Jatim, dan NTB. Pulau Sumatera menjadi daerah ke-3 yang memiliki produksi tertinggi yaitu 5. 374 ton. Dimana provinsi Sumatera Utara memberikan kontribusi paling tinggi, yaitu 1. 737 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2. Komoditas Tembakau telah memberikan kontribusi positif bagi devisa negara. Pada tahun 2020, jumlah nilai ekspor tembakau sebesar 195,92 Juta Dolar. Dari sisi petani, usahatani tembakau menjadi sumber mata pencaharian utama dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat petani di sentra produksi, seperti di Kabupaten Sampang. Kabupaten Pamekasan. Kota Magelang dan Kabupaten Lima puluh kota (Fauziyah dkk. , 2010. Nuruddin, 2020. Sefrimon, 2018. Sumartono. Akan tetapi masalah klasik yang paling umum dialami petani adalah masalah produktivitas. Akibatnya pendapatan yang diterima petani tidak maksimal. Hal ini juga berlaku pada tanaman Secara nasional produktivitas tembakau 1,18 ton/ha. Di wilayah Jawa produktivitas tembakau 1,12 ton/ha. Sulawesi 0,87 ton/ha, dan Sumatera 0,83 ton/ha. Daerah Sumatera khususnya provinsi Sumatera Barat memiliki produktivitas tembakau paling rendah, yaitu hanya 0,6 ton/ha (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2. Berdasarkan Survey awal di sentra produksi tembakau di Provinsi Sumatera Barat terdapat kesenjangan . antara teknik budidaya tembakau yang dilakukan petani dengan standar budidaya yang seharusnya. Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai penghasil tembakau tertinggi di Provinsi Sumatera Barat memiliki produktivitas tembakau yang jauh dari produktivitas rata-rata Produktivitas tembakau nasional sebesar 1,18 ton/ha, sedangkan Kabupaten Lima Puluh Kota hanya 0,7 ton/ha (Badan Pusat Statistik Kabupaten Lima Puluh Kota, 2. Berdasarkam uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesenjangan teknik budidaya yang dilakukan petani di lapang dengan standar budidaya yang seharusnya. Diharapkan dengan penelitian ini, diperoleh besaran kesenjangan tersebut dan pada tahapan budidaya mana perbedaan tersebut paling tidak sesuai standar. BAHAN DAN METODE Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan dan menganalisis data dengan memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, da keterkaitan antar kegiatan. Penelitian dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi bagaimana teknik budidaya tembakau yang dilakukan petani. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 petani dengan metode pengambilan sampel accidental Tahap pertama penelitian ini adalah melakukan wawancara menggunakan kuesioner terkait teknik budidaya yang dilakukan petani. Terdapat enam kegiatan budidaya yang akan dilihat gapnya, yaitu persiapan bibit dan lahan. proses penanaman. penyiraman, penyiangan dan dan pengendalian hama penyakit. Setiap kegiatan memiliki indikator yang sesuai dengan standar berdasarkan studi literatur dan anjuran dinas perkebunan. Standar ini akan dibandingkan dengan teknik budidaya aktual yang dilakukan oleh petani dengan menggunakan gap analysis. Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Vol. No. 1, 2024 Nursamsi, dkk 2024 Analisis kesenjangan . ap analysi. bertujuan menilai kesenjangan antara teknik budidaya aktual yang dilakukan petani dengan standar budidaya yang seharusnya. Penilaian kesenjangan dengan bantuan check sheet berdasarkan skoring dengan kriteria: sangat tidak sesuai standar . , tidak sesuai standar . , kurang sesuai standar . , hampir sesuai standar . dan sesuai standar . Sementara itu, elemen-elemen dalam setiap kegiatan yang diukur kesenjanganya antara teknik budidaya aktual dan standar yang seharusnya dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan hasil penilaian disetiap elemen kegiatan, selanjutnya nilai yang didapatkan dihitung kumulatif untuk mendapatkan total nilai setiap kegiatan. Selanjutnya dilakukan analisis gap. Semakin besar nilai gap suatu kegiatan maka tingkat kesesuaiannya semakin rendah dan memiliki kekurangan- kekurangan yang perlu diperhatikan. Menurut Palan . dalam Fuah dkk. , . gap dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut: ycyeOyeayeOyeUyeCyei ycyeIyeiyeIyeayeUyeCyeayeOyeCyea . cyeCye. = yeA Oe yc ycyeOyeayeOyeUyeCyei ycyeIyeiyeIyeiyenyeCyeOyeCyea = yaIya ya yayaya% yaIyao Keterangan: Y = Teknik budidaya sesuai standar yang seharusnya X = Teknik budidaya aktual yang dilakukan oleh petani Setelah diperoleh nilai kesenjangan, maka dilakukan pengambilan keputusan untuk mengetahui tingkat kesesuaian teknik budidaya yang dilakukan petani. Pengambilan keputusan tingkat kesesuaian budidaya yang telah diterapkan mengacu pada kriteria yang tertera pada Tabel 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi dan Produktivitas Tembakau Petani Jumlah petani dalam penelitian ini sebanyak 30 petani tembakau yang tergabung dalam kelompok tani tembakau. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata luas lahan yang dimiliki petani adalah 0,38 ha dengan jenis lahan tegalan. Lahan tegalan . adah huja. adalah lahan dengan jenis tanah kering yang pengairannya bergantung pada air hujan. Tembakau yang di tanam berada di sekitar kaki bukit barisan dengan topografi lahan berupa perbukitan dan bergelombang. Varietas tembakau yang dibudidayakan petani adalah jenis Rudo Jawa . enis tembakau berdaun leba. yang dijual dalam bentuk rajangan yang sudah dikeringkan atau dijemur (Gambar . Bibit tembakau yang di tanam diperoleh dari hasil panen tembakau sebelumnya. Begitu terus menerus hingga F tak terhingga. Produksi tembakau petani bervariasi tergantung jumlah tanaman dan luas lahan. Satuan produksi yang familiar di lingkungan petani tembakau adalah lambo. 1 lambo terdiri dari 100 helai. Satu helai terdiri dari 2 samia. Sehingga dalam satu lambo terdapat 200 samia. Berat 1 lambo tergantung kualitas tembakau dan tingkat kekeringan. Rata-rata dalam 1 kg tembakau rajangan kering terdiri dari 7 samia atau sekitar 35-40 kg dalam dalam 1 lambo. Produktivitas tembakau rata-rata petani adalah 0,51 ton/ha. Produktivitas ini berada jauh dibawah produktivitas kabupaten . ,7 ton/h. dan Nasional . ,18 ton/h. Produktivitas yang rendah disebabkan oleh cara budidaya yang tidak sesuai P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Nursamsi, dkk 2024 Teknik budidaya petani masih didominasi dengan padat karya. Yaitu budidaya yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia daripada mesin. Tenaga kerja yang digunakan terdiri dari tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Budidaya tembakau yang dilakukan di Nagari Baruah Gunuang seperti budidaya pada umumnya. Budidaya tembakau yang dilakukan terdiri dari pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemupukan, pengairan, penyiangan, pembunbunan, pemangkasan dan pengendalian hama dan Teknik Budidaya Tembakau yang Sesuai Standar Budidaya tembakau yang baik, dimulai dari persiapan lahan. Tanah sebelumnya digemburkan dan dibuat bedengan . kemudian ditaburi pupuk kandang dan dolomit. Bedengan yang diolah didiamkan selama dua minggu sambil mempersiapkan persemaian dan pembibitan. Bibit yang telah berumur 40-45 hari kemudian dipindahkan dan ditanam ke bedengan. Bibit yang ditanam sebelumnya harus dipangkas daunnya. Tujuannya untuk memperlambat laju perkembangan daun bibit sebelum dipindah tanam. Sehingga tanaman tembakau memiliki perkembangan yang sama. Sehingga mempermudah dalam proses pemeliharaan tembakau. Setelah penanaman, selanjutnya adalah tahap pemeliharaan. Pemeliharaan terdiri dari pemupukan, penyiraman, penyiangan, pembunbunan, pemangkasan dan pengendalian hama penyakit. Pemupkan tembakau dilakukan dua kali selama masa tanam. Pemupukan pertama dilakukan pada 7-10 HST, dan pemupukan kedua pada 20-25 HST. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk yang mengandung unsur hara Nitrogen. Fosfat, dan Kalium Clorida. Pupuk dapat berasal dari pupuk tunggal seperti Urea. TSP, dan KCL maupun pupuk majemuk seperti NPK. Apabila menggunakan pupuk tunggal, maka kebutuhan pupuk Urea dalam satu hektar adalah 600 kg. TSP 360 kg, dan KCL 360 kg. Pemeliharaan seperti penyiraman sebaiknya dilakukan minimal sekali dalam seminggu, penggemburan dua kali selama masa tanam, dan pembunbunan dilakukan dua kali selama masa tanam juga. Pembumbunan merupakan penutupan akar tanaman yang timbul di atas permukaan tanah dengan cara menguruk/menimbun dari tanah di sebelah kanan-kirinya. Pembumbunan berfungsi untuk memperkokoh sosok tanaman. Pembumbunan akan lebih efisien jika dilakukan bersamaan dengan penyiangan agar tenaga kerja tidak terbuang banyak. Pemeliharaan selanjutnya adalah pemangkasan. Pemangkasan memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas dan produktivitas tembakau. Pemangkasan terdiri dari pembuangan bunga . dan wiwilan . Pemangkasan dilakukan dengan menghilangkan 3-4 daun lembar daun di bawah bunga. Sementara pemangkasan tunas ketian . dilakukan setiap 3 hari Proses terakhir dari budidaya adalah penyiangan dan pengendalian hama penyakit. Pada penyiangan sebaiknya dilakukan minimal 3 kali selama masa tanam. Sedangkan pengendalian hama penyakit dapat berupa menghilangkan atau memangkas daun yang terserang penyakit dan melakukan penyemprotan dengan pestisida. Apabila ada tanaman atau bagian tanaman yang terserang penyakit, sebaiknya segera dipangkas atau dicabut dan membakar tanaman yang sakit Tanaman atau sampah yang tertumpuk yang berpotensi menjadi host bagi hama dan penyakit sebaiknya dibersihkan disekitar lahan. P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Nursamsi, dkk 2024 Tingkat Kesenjangan dan Kesesuaian Teknik Budidaya Teknik budidaya tembakau apabila dilakukan dengan benar sesuai standar tentu akan memberikan mutu dan hasil yang lebih baik. Standar budidaya yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari cybex. id serta sumber lain yang dianggap relevan berupa buku dan narasumber . Menurut Eka dkk. , . , faktor budidaya seperti penggunaan jumlah pupuk TSP, jumlah pupuk ZA, jumlah pupuk ZK, dan jumlah pestisida, berpengaruh terhadap jumlah Tabel 3. menunjukkan nilai kesenjangan dan kesesuaian budidaya tembakau yang dilakukan petani di Nagari Baruah Gunung. Tabel 3. menunjukkan hasil perhitungan kesenjangan dan tingkat kesesuaian teknik budidaya tembakau yang dilakukan petani. Nilai aktual budidaya yang dilakukan petani sebesar 2,81. Nilai ini memiligi gap 1,19 dengan nilai standar 4. Secara umum, teknik budidaya tembakau yang dilakukan petani hampir sesuai standar dengan tingkat kesesuaian 70,75%. Keseluruhan teknik budidaya yang dilakukan petani, mulai dari penanaman sampai pengendalian hama penyakit, hanya teknik budidaya bagian pemangkasan yang dilakukan petani yang sesuai dengan standar, dengan tingkat kesesuaian 82%. Dari enam kegiatan budidaya yang dilakukan, penanaman dan pemupukan memiliki gap paling tinggi setelah kegiatan penyiraman dan penggemburan. Cara penanaman dan pemupukan yang dilakukan kurang sesuai standar. Cara penanaman yang dilakukan petani tembakau masih kurang sesuai dengan standar dengan tingkat kesesuaian 62,75%. Pada kegiatan penanaman, indikator yang digunakan adalah jarak tanam, waktu penanaman, dan ada tidaknya pemangkasan bibit dan penyulaman. Jarak tanam yang digunakan petani tidak memenuhi standar minimal. Jarak tanam berrvariasi mulai dari 50 cm x 50 cm, 30 cm x 40 cm, 50 cm x 100 cm, 60 cm x 60 cm, 70 cm x 70 cm, 40 cm x 90 cm, 30 cm x 60 cm, 60 cm x 100 cm, 30 cm x 30 cm. Jarak tanam ideal pada tanaman tembakau adalah 90x90, 120x50, 100x70 atau setidak-tidaknya berjarak 70x50 cm. Artinya jarak antar tanaman . arak dalam barisa. tidak boleh kurang dari 50 cm dan jarak antar bedengan . arak antar barisa. tidak boleh kurang dari 70 Jarak tanam disesuaikan dengan daun tembakau yang lebar agar tidak terjadi overlapping. Selain jarak tanam, hal lain yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produktifitas tembakau yaitu pemeliharaan tanaman baik pemupukan, pengairan, pendangiran dan penyiangan, pemangkasan bunga dan ketiak daun serta pengendalian hama dan penyakit. Pemupukan umumnya dilakukan sebanyak dua kali menggunakan pupuk N (Urea dan ZA), pupuk P (TSP. DSP atau Double Super Phospate. FMP atau Fused Magnesium Phospat. , dan pupuk K (ZK dan KCL) dengan dosis masing-masing pupuk bergantung pada varietas tanaman dan kondisi tanah (Cahyono, 2. Pada budidaya bagian pemupukan, dosis pupuk petani masih jauh dari stnadar. Ketidaksesuaian ini karena dosis pupuk yang dugunakan petani tidak sesuai standar yang baik. Kebutuhan pupuk yang diabaikan petani adalah pemberian N dan TSP yang jauh dari cukup, dan hanya beberapa petani yang menggunakan pupuk KCL pada tanaman tembakaunya. Bahkan banyak petani hanya memberikan satu jenis pupuk yaitu pupuk Urea. Rata-rata dosis pupuk TSP yang digunakan petani berkisar 20-200 kg/ha. Sedangkan standar dosis TSP sebaiknya sebanyak 600 kg/ha. Rendahnya produktivitas tembakau tersebut selain disebabkan oleh berkurangnya luas areal, juga disebabkan oleh praktek budidaya yang masih berdasarkan pengalaman secara turun temurun dan belum diterapkannya teknik budidaya yang tepat atau good agricultural practices (GAP) oleh petani. Prinsip pertanian GAP merupakan teknologi budidaya yang mencakup sejumlah aspek mulai dari P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Nursamsi, dkk 2024 pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT), panen, serta pemrosesan tembakau untuk menghasilkan produksi dan mutu yang optimal dengan berbasis pada kelestarian lingkungan dan kesehatan makhluk hidup. Peningkatan produksi temabakau juga dapat dilakukan dengan mengoptimalkan input produksi seperti ketersediaan tenaga kerja, penggunaan pupuk organik dan anorganik serta pemakaian pestisida untuk pengendalian OPT (Pertiwi & Arianti, 2. Penurunan produktivitas dapat terjadi karena petani tidak berproduksi secara efisien. Hal ini terlihat adanya kesenjangan . antara produksi actual yang diperoleh petani dengan potensi produksi maksimal yang dapat dihasilkan. Artinya, cara atau teknik budidaya yang dilakukan petani, masih belum mampu memberikan hasil produksi maksimal. Penyebabnya dapat terjadi karena cara budidaya yang tidak tepat, penggunaan input-input input produksi yang tidak sesuai, cara pemeliharaan yang tidak sesuai dengan seharusnya, dan faktor-faktor lain (Fauziyah dkk. , 2. Faktor budidaya berperan penting menentukan keberhasilan usahatani tembakau. Faktor budidaya tembakau berupa cara pembibitan, proses pemeliharaan dan cara panen mempengaruhi kuantitas tembakau yang dipanen. Pemeliharaan seperti pemupukan yang tepat akan meningkatkan pertumbuhan tembakau. Dengan mengoptimalkan input produksi seperti penggunaan pupuk kendang, pupuk kimia, dan penggunaan pestisida dapat meningkatkan produksi (Pertiwi & Arianti. SIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yaitu tingkat kesesuaian dan kesenjangan teknik budidaya tembakau di Nagari Baruah Gunuang, statusnya masih tergolong dalam kategori hampir sesuai dengan standar. Adapun tahapan budidaya yang kurang sesuai standar adalah penanaman. dan penyiangan, penyiraman dan penggemburan. Permasalahan yang menjadi penyebab tidak sesuai standar ini adalah jarak tanam yang rapat, ketiadaan penggunaan pupuk kandang dan dolomit, dosis dan jenis pupuk kimia yang tidak sesuai, dan penyiraman dan pengarian yang kurang. DAFTAR PUSTAKA