P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 22 Nomor 1. Juni 2018 p 127 - 137 Inovasi Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Di Desa Pejaten Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Provinsi Bali Komang Adiputra1. I Nyoman Suardina2. I Wayan Mudra3 Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni. Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Denpasar Program Studi Kriya Seni. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar adiputrakomang81@gmail. Inovasi gerabah Pejaten dikembangkan pertama kali oleh I Wayan Kuturan pada tahun 1960-an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerajinan gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan ditinjau dari segi bentuk, fungsi dan estetika. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan secara deskriftif kualitatif. Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan ini adalah Teori Bentuk menggunakan teori Wong dan Sanyoto mengenai bentuk matra. Ratna mengenai wujud konkret. Sanyoto mengenai wujud kenyataan dan wujud batas/dimensi. Teori Fungsional mengunakan teori Enmud Burke Feldman mengenai fungsi seni dan Soegondho mengenai fungsi gerabah, serta Teori Estetika Parker dan teori Beardsley. Hasil penelitian menunjukkan Gerabah Kuturan dari segi bentuk merupakan gerabah yang diwujudkan untuk menghindari kemonotonan, dengan cara menerapkan macam-macam tema pada produknya. Penerapan unsur rupa seperti garis lengkung dan lurus dapat dilihat pada bentuk maupun dekorasi produk patung, celengan, relief terakota dan lampu taman, bentuk/shapeyang diterapkan berupa bentuk bulat pada bentuk dasar patung taman, celengan dan lampu taman . urung hant. , serta bentuk persegi pada relief terakota dan lampu taman yang meniru bentuk bagian atas sebuah pura atau pelinggih, warna dan bidang atau ruang yang disusun berdasarkan asas desain, yakni kesatuan . , keseimbangan . , kesederhanaan . , aksentuasi . dan proporsi. Produk inovasi I Wayan Kuturan sebagian besar memiliki fungsi sebagai benda pakai dan benda hias, fungsi ini berbeda dengan fungsi gerabah Desa Pejaten sebelumnya, yaitu sebagai perlengkapan upacara serta peralatan dapur. Produk gerabah Kuturan yang berfungsi sebagai benda pakai adalah celengan, sedangkan gerabah yang berfungsi sebagai benda hias adalah patung taman, lampu taman, dan relief terakota. Gerabah I Wayan Kuturan ditinjau dari teori estetika Parker maupun Beardsley adalah produk yang memiliki nilai estetis. Kata kunci : inovasi gerabah kuturan, bentuk, fungsi dan estetika The innovation of the Pejaten pottery was first done by I Wayan Kuturan, this happened in the 1960Aos. This was an attraction for me to study about it. The problem of this study was how I Wayan KuturanAos innovation was in terms of form, function and aesthetics. The study used qualitative method of collecting data which was done through observation, documentation, interviews, and library study. The analys was done qualitative descriptive. The theory used to analyse the problem was the shape theory by Wong and Sanyoto, about real and demention shape. RatnaAos theory about concrete shape, the Sanyoto about real dimention shape. The functional theory by Enmud Burke Feldman is about art function. The SoegondhoAos about pottery function, and the aesthetic theory by Parker as well as BeardsleyAos. The result of the study showed that the KuturanAos pottery seen from its shape has exclusive characterictics, know as the AuKuturanAos styleAy. The Kuturan products are in forms of garden statues, piggy bank, terracotta relief and garden lamps. The Kuturan product are in three dimention shape which sturdy and can be gropped, innovative shape and real, through long process and commercial value. The shape of KuturanAos pottey can be human body and the nature in 3 Ds. The innovative pottery of I Wayan Kuturan has artistic function, that is as a thing to express the community art creativity. The art social function was to make other pottery makers to follow him and produced pottery which was of the consumersAos interest. The physical function the his innovative pottery as wearable objects as well as decorative objects. According to Parkers and BeardsleyAos aesthetic theory. I Wayan KuturanAos product has aesthetic value because it suits the 6 principles Komang Adiputra (Inovasi Kerajinan Gerabah. Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 and 3 aesthetic characteristics of handicraft product. The KuturanAos pottery products has the distinguished Balinese ornament or decoration. Beside that, the Kuturan pottery was high level creativity products which was made to order. Keyword : kuturan pottery innovation, shapes, function and aesthetic Proses review : 2 - 30 september 2018, dinyatakan lolos 1 oktober 2018 PENDAHULUAN Desa Pejaten adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kediri. Kabupaten Tabanan. Provinsi Bali. Desa ini merupakan sebuah desa tradisional yang terkenal karena kerajinan barang yang terbuat dari tanah liat, seperti gerabah, genteng dan Desa Pejaten sudah terkenal sejak dahulu sebagai sentra industri kerajinan tanah liat ini. Hal ini ditulis oleh Ardika & Beratha . alam Mudra, 2018: . yang menyatakan AuIts existence in Bali is estimated to have existed since ancient times and is still found in some villages, for example in Pejaten Village in Tabanan Regency, in Banyuning Village in Buleleng Regency. Tojan Village in Klungkung Regency and Ubung Village in Denpasar CityAy. Produk kerajinan tanah liat dari Desa Pejaten berbeda dengan kerajinan yang dapat ditemukan di tempat lain di Bali. Hasil kerajinan tanah liat desa Pejaten ini sudah dipasarkan sampai ke berbagai negara Eropa, seperti Jerman dan Swedia serta negara tetangga Australia (Profil Desa Pejaten, 2015:. Sebagian besar masyarakat Pejaten bekerja pada sektor kerajinan gerabah, genteng, dan keramik yang telah dikerjakan secara turun-temurun. Kerajinan gerabah telah lama digeluti sebelum masyarakat perajin Desa Pejaten mengerjakan keramik modern. Benda gerabah di Bali, khususnya di Desa Pejaten, telah menjadi bagian hidup masyarakat sejak zaman dahulu, sehingga gerabah dapat dikatakan sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dijaga kelestariannya. Benda-benda gerabah sering disebut dengan gerabah tradisional. Saat ini peran benda-benda gerabah tersebut telah banyak diganti oleh benda-benda lain berbahan plastik atau aluminium yang lebih kuat dan tidakmudah pecah. Akibatnya penggunaan gerabah secara perlahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan para perajin khususnya di Desa Pejaten beralih pada kerajinan genteng, keramik modern, bahkan juga bekerja di sektor lain misalnya pariwisata yang lebih memberikan keuntungan secara finansial. Namun ada pula perajin gerabah desa Pejaten yang tetap menekuni profesinya Mereka tetap mempertahankan pembuatan benda-benda gerabah tradisonal Bali tersebut, sekaligus melakukan berbagai inovasi dalam kerajinanannya agar mampu tetap bersaing. Salah satunya dengan mengembangkan desain-desain baru hasil dari pembaharuan desain yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan pengamatan awal di Desa Pejaten diketahui bahwa, inovasi gerabah Pejaten dikembangkan pertama kali oleh I Wayan Kuturan yang beralamat di Banjar Pangkung, ia berkeinginan untuk berinovasi gerabah . ibunya menjadi sesuatu yang berbeda agar nantinya tetap dapat bertahan di tengah zaman yang semakin modern. Kuturan mengawali keinginannya dengan mengeksplorasilima buah periuk ibunya dan hasil eksperimennya tersebut ia sebut patung taman. Dalam perkembangan kerajinan gerabahnya ini. I Wayan Kuturan banyak mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya yakni. I Made Gitera yang memperkenalkannya dengan pelukis bernama Kay It, yang kemudian membantu pemasaran gerabahnya. I Made Tanteri selaku kepala desa saat itu, dan peran pemerintah yaitu UPT PSTKP- Bali yang memberikan berbagai macam Kerajinan gerabah Desa Pejaten ini sangat khas, berbeda dengan kerajinan gerabah dari daerah lain di Bali, seperti di Desa Binoh. Menurut Jayanti . , kerajinan gerabah di desa ini memang mempunyai ciri khas. Mereka membuat barang-barang gerabah seperti kendi, paso dan cobek semata-mata karena warisan, selain itu juga karena faktor ekonomi untuk melayani pesanan alat memasak. Barang-barang yang terbuat dari gerabah tidak dapat digantikan dengan barang yang terbuat dari bahan modern karena menyangkut rasa masakan yang dihasilkan. Daerah Basangtamiang. Desa Kapal juga memproduksi benda gerabah. Mereka memproduksi kap lampu, pemanggangan sate, dan pot ukuran besar untuk memenuhi kebutuhan hotel (Mudra, 2011 : . Mudra . 4 : 12-. juga menyatakan bahwa di daerah Tohpati terdapat usaha kerajinan gerabah yang perajinnya merupakan orang-orang lokal Bali, tetapi mereka mereproduksi gerabah Serang Banten. Pembuatan gerabah Serang Banten dilakukan di Bali sebab mereka telah berpengalaman memesan langsung produk gerabah tersebut namun dalam pengirimannya mengalami resiko besar. Gerabah ini direproduksi di Bali karena jenis gerabah ini memiliki keunikan terutama ukuran yang besar, bentuk dan Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 Hal tersebut di atas yang membedakan dengan karakter kreativitas gerabah Desa Pejaten, kerajinan gerabah Pejaten khususnya hasil karya I Wayan Kuturan jika dibandingkan dengan kerajinan gerabah di Desa Binoh. Kapal maupun Tohpati sangat berbeda bentuk fungsi maupun estetikanya. I Wayan Kuturan lebih banyak membuat gerabah-gerabah dengan bentuk inovatif yang berfungsi sebagai benda dekoratif dengan ciri khas Bali. Pemasaran produk I Wayan Kuturan sangat bagus, oleh karena itu perajin-perajin lain di desa Pejaten tertarik membuat produk serupa sehingga sekarang ini produk gerabah tersebut hampir dikerjakan oleh seluruh perajin gerabah di desa Faktor inilah yang juga dipertimbangkan penulis mengangkat inovasi gerabah I Wayan Kuturan yang akan dibedah dengan teori bentuk, teori fungsional dan teori estetika. METODE PENELITIAN Materi dalam penelitian ini merupakan objek observasi . dan informasi dari hasil pengamatan serta wawancara terhadap narasumber yakni perajin atau pelaku seni, peneliti dan konsumen. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif . Analisis data bertujuan untuk membuat penyederhanaan seluruh data yang terkumpul, menyajikan secara sistematik, kemudian mengolah, menafsirkan dan memakai data tersebut. Riduwan . 4 :. , mengatakan bahwa data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun kuantitatif. Data yang telah memenuhi syarat perlu diolah. Selanjutnya menurut Djarwanto . 4: . metode deskriptif artinya suatu metode pengolahan data dengan cara mengklasifikasikan data secara sistematis, sedangkan kualitatif adalah data yang tidak berupa angka. Dalam Penelitian ini digunakan beberapa teori untuk menganalisis data yang mengenai inovasi kerajinan gerabah I Wayan Kuturan, yaitu teori bentuk dari Wong dan Sanyoto mengenai bentuk matra. Ratna mengenai wujud konkret. Sanyoto mengenai wujud kenyataan dan wujud batas/dimensi , untuk menganalisis bentuk-bentuk gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan, teori fungsional dari Enmud Burke Feldman mengenai fungsi seni dan Soegondho mengenai fungsi gerabah untuk mengkaji fungsi gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan, serta teori estetika dari Parker yang terdiri dari 6 Asas yaitu The Principle of Organic Unity (Asas Kesatua. The Principle of Theme (Asas Tem. The Principle of Thematic Variation (Asas Variasi Menurut Tem. The Principle of Balance (Asas Keseimbanga. The Prinsiple of Evolution (Asas Perkembanga. , dan The principle PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain of Hierarchy (Asas Tata Jenjan. dan teori Beardsley mengenai 3 ciri benda estetis yaitu. Kesatuan (Unit. Kerumitan (Complexit. dan Kesungguhan (Intencit. untuk menganalisis nilai estetika gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan. Inovasi Bentuk Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru. pembaruan atau penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya . agasan, metode, atau ala. (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, 2011:. Pengertian lain mengenai inovasi menurut ahli ekonomi Schumpeter adalah mengkreasikan atau mengimplementasikan suatu menjadi suatu Dengan adanya inovasi maka seseorang dapat menambahkan nilai dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran, sistem pengiriman, dan kebijakan tidak hanya bagi perusahaan tapi juga bagi stakeholder dan masyarakat. Pada tahun 1949 Schumpeter menyebutkan bahwa inovasi ada lima unsur yaitu . memperkenalkan produk baru atau penambahan kualitatif pada produk yang sudah ada, . memperkenalkan suatu proses baru ke industri, . membuka pasar baru, . mengembangkan sumber pasokan baru pada bahan baku atau masukan lainnya, dan . perubahan pada organisasi industri (De Jong dan Hartog, 2003:235-. Terkait dengan pengertian tersebut maka dapat dipaparkan bahwa di Desa Pejaten telah dilakukan inovasi produk gerabah dalam hal bentuk, yaitu : Patung Taman Berdasarkan hasil wawancara dapat dikatakan bahwa bentuk patung taman adalah hasil kreatifitas dari perajin itu sendiri, bila I Wayan Kuturan menciptakan bentuk patung taman dari sebuah periuk yang dibalik, sedangkan perajin lainnya membuat patung serupa dengan teknik cetak. Gambar 1. Bentuk periuk sebelum diinovasi (A) dan bentuk sesudah diinovasi menjadi patung taman (B). (Dokumentasi : Adiputra, 2. Komang Adiputra (Inovasi Kerajinan Gerabah. Celengan Gambar 2. Bentuk celengan sebelum diinovasi (A) dan bentuk sesudah diinovasi menjadi bentuk binatang dan tokoh film kartun (B). (Dokumentasi : Adiputra, 2. Celengan yang dahulu diproduksi di Desa Pejaten umumnya sama seperti yang dibuat di daerah lain, yaitu berbentuk menyerupai sebuah kendi yang kemudian ditambahkan lubang kecil tempat memasukkan uang. Seiring berjalannya waktu banyak perajin yang sudah tidak lagi memproduksi celengan Bentuk celengan kemudian dibuat berdasarkan pesanan dari pembeli, contohnya celengan berbentuk babi, ataupun bentuk tokoh pada film kartun seperti Hello Kitty. Mickey Mouse dan Doraemon. Produk celengan digunakan sebagai kotak amal pada acara pernikahan, potong gigi dan ulang tahun anak. Relief Terakota Relief terakota pertama kali dibuat oleh I Wayan Kuturan untuk memenuhi pesanan pembangunan Hotel di Nusa Dua. Terakota sebelumnya hanya berbentuk polos tanpa dekorasi namun sedikit peminatnya. I Wayan Kuturan kemudian mencoba menambahkan dekorasi cerita pewayangan pada terakota polos tersebut. Relief terakota yang sekarang diproduksi lebih banyak menampilkan cerita pewayangan. Saat pertama kali diproduksi untuk dekorasi hotel di Nusa Dua, menurut I Wayan Kuturan relief tersebut menceritakan kehidupan masyarakat Bali dari awal kehidupannya . sampai dengan akhir kehidupan . Produk relief terakota dengan cerita pewayangan karya bapak I Wayan Kuturan yang masih bisa didokumentasikan yaiturelief terakota yang dipasang di gedung Kantor Desa Pejaten dan masih dapat dilihat sampai saat ini. Gambar 3. Bentuk terakota sebelum diinovasi (A), dan Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 bentuk sesudah diinovasi menjadi relief terakota dengan cerita pewayangan (B). (Dokumentasi : Adiputra, 2. Lampu Taman Lampu taman yang diciptakan mengambil bentuk dari lampu taman yang dibuat oleh perajin Bali menggunakan bahan kayu dan ijuk. Karena bahan ini tidak tahan lama maka perajin mulai berinovasi menggunakan bahan tanah liat. Lampu taman biasanya dibuat berdasarkan pesanan dari konsumen terutama dalam hal bentuk, sedangkan untuk dekorasi pembeli mempercayakannya pada perajin. Dekorasi yang banyak diterapkan adalah motif khas Bali. Gambar 5. Bentuk lampu taman berbahan kayu dan ijuk (A), bentuk lampu taman hasil inovasi perajin menggunakan bahan tanah liat meniru bentuk lampu taman berbahan kayu dan ijuk (B), dan lampu taman berbentuk burung hantu (C). (Dokumentasi : Adiputra, 2. Dari produk gerabah tersebut, bila dikaji menggunakan teori yang dikemukakan Dharsono . yaitu penyusunan unsur rupa dalam mewujudkan bentuk diperlukan hukum atau asas penyusunan untuk menghindari kemonotonan, unsurAeunsur rupa tersebut adalah garis, shape/bentuk, warna dan bidang atau ruang yang disusun berdasarkan asas desain, yakni adanya kesatuan. , keseimbangan . baik formal maupun informal, kesederhanaan . ,aksentuasi . dan Kaitan teori tersebut dengan gerabah-gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan adalah gerabah tersebut diwujudkan untuk menghindari kemonotonan, dengan cara menerapkan macam-macam bentuk pada Penerapan unsur rupa seperti garis lengkung dan lurus dapat dilihat pada bentuk maupun dekorasi produk patung, celengan, relief terakota dan lampu taman, shape/bentuk yang diterapkan berupa bentuk bulat pada bentuk dasar patung taman,celengan dan lampu taman . urung hant. , serta bentuk persegi pada relief terakota dan lampu taman yang meniru bentuk bagian atas sebuah pura atau pelinggih, warna dan bidang atau ruang yang disusun berdasarkan asas desain, yakni adanya kesatuan . dapat dilihat dari bentuk mau- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 pun dekorasinya yang saling melengkapi contohnya pada patung taman yang berbentuk manusia yang memaikan alat musik tradisional, dilengkapi dengan dekorasi pakaian adat yang dihiasi motif-motif khas Bali. Produk gerabah Kuturan dari segi keseimbangan . baik formal maupun informal dapat juga dilihat dari bentuk-bentuk produk yang simetris yang semua bagiannya sama seperti pada produk celengan, lampu taman, serta asimetris pada produk patung taman dan relief terakota, kesederhanaan . dapat dilihat dari produk-produk yang bentuk tanpa banyak dekorasi, dapat dilihat dari dua contoh pada patung taman hanya didekorasi dengan motifBali, sedangkan pada celengan burung hantu didekorasi dengan bentuk-bentuk geometri,aksentuasi . atau pengutamaan . Pada produk kuturan adalah bentuk-bentuknya yang khas, yang berbeda dari produk gerabah lainnya yang terkenal dengan sebutan Augaya AuKuturanAy dan proporsi atau keseimbangan objek dengan objek lainnya dalam berbagai hal seperti bentuk, keindahan, ukuran, bahan, keawetan pada produk Kuturan, misalnya patung dan lampu taman sudah sangat proporsional bila digunakan sebagai dekorasi pada sebuah taman, begitu pula relief terakota yang sangat cocok bila digunakan sebagai dekorasi pada dinding terutama pada bangunan dengan gaya artsitektur Bali. Dari produk gerabah tersebut, maka uraian teori serta pendapat tentang bentuk yang ada, akan dirangkum menjadi empat bagian, yaitu teori bentuk matra menurut pendapat Wong dan Sanyoto, wujud kongkrit menurut Ratna, wujud kenyataan dan wujud batas/dimensi menurut Sanyoto sebagai berikut : Bentuk Matra Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dapat melihat secara sekilas benda-benda di sekitar kita misalnya gerabah. Menurut Wong . , dengan pandangan yang hanya sekilas pemahaman kita tentang trimatra tidak akan pernah jelas. Dalam memahami trimatra kita dihadapkan pada bentuk gempal yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi, tanpa berat, menentukan besar ruang yang dikandungnya. Menurut Sanyoto . bentuk gempal atau volume adalah suatu bentuk yang memiliki tiga dimensi, yakni panjang, lebar dan tebal yang merupakan bentuk wungkul yang bisa diraba. Jenis-jenisnya adalah . gempal padat : gempal yang penuh isi, . gempal kosong : gempal yang berongga atau berlubang, . gempal teratur : bentuk gempal yang sifatnya matematis, misalnya bentuk kubus, kotak, silender, kerucut, piramida dan lain-lain, . gempal tidak teratur berupa bentuk bebas, misalnya pohon, batu, hewan, rumah, . gempal nyata: gempal yang sifat PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain tiga dimensinya dapat diraba / wungkul, ( interior, patung, desain produk, kriya dan lain-lai. gempal semu: gempal yang hanya berupa gambar. Pendapat-pendapat tersebut bila dikaitkan dengan gerabah Kuturan dapat dijelaskan padapatung taman ini dibentuk oleh garis-garis lengkung yang membentuk bidang-bidang seperti pada bentuk muka, mata, mulut, tangan maupun kaki. Pada produk lain berupa celengan, relief terakota dan lampu taman juga banyak menggunakan dekorasi menggunakan garis lengkung, dan pada lampu taman berbentuk pura dapat dilihat menggunakan garis lurus pada bagian atapnya, dan gempal yang dibentuk merupakan gempal nyata, karena berbentuk tiga dimensi dan dapat Wujud Kongkrit Ratna . menyatakan, bentuk dalam seni rupa dikaitkan dengan wujud kongkrit dari sebuah karya seni yang dapat dianalisis berbagai hal yang berkaitan dengan unsur-unsur luarnya, seperti bahan-bahan yang dipergunakan, waktu pembuatan, tujuan dan manfaatnya, bahkan juga harganya. Atas dasar bentuklah orang mulai berpikir mengenai isi, sehingga sering dikatakan bahwa bentuk adalah Aubagaimana suatu gejala disajikanAy, sedangkan isi adalah Auapa yang disajikanAy. Kaitannya dengan produk gerabah yaitu patung taman, celengan, relief terakota dan lampu taman adalah bagaimana patung taman ini dibuat dengan tujuan sebagai benda seni yang digunakan sebagai pelengkap taman, benda pakai, maupun benda hias, karya ini dihasilkan dari kreatifitas pembuatnya dan akan berdampak kepada berapa besar nilai jual sebuah dari gerabahtersebut. Produk-produk hasil ini tidak hanya menampilkan bentuk dan dekorasi yang inovatif yang berbeda dari gerabah sebelumnya, namun memiliki manfaat lebih yaitu dapat menguntungkan perajin, karena nilai jualnya yang lebih Wujud Kenyataan Wujud kenyataan yang dimaksud disini adalah wujud atau bentuk nyata yang tampak secara kongkrit dilihat oleh mata (Sanyoto, 2010:7,. Patung taman bentuknya sudah pasti berupa patung,ada bagian berbentuk lengkung, garis ataupun lingkaran yang membentuk sebuah wujud manusia. Celengan berbentuk menyerupai seekor babi atau dibentuk berdasarkan tokoh karakter pada film kartun misalnya Hello Kitty. Relief terakota berbentuk persegi, yang didalamnya terdapat relief cerita pewayangan, dimana pengukiran relief ini banyak menggunakan garis-garis lengkung, dan lampu taman berbentuk sebuah kubus dengan atap limas yang menyerupai Komang Adiputra (Inovasi Kerajinan Gerabah. Pelinggih Gedong . alah satu bangunan pemujaan satu bilik umat Hind. dan ada pula menyerupai burung hantu. Wujud Batas/Dimensi Dimensi atau wujud batas adalah bidang dalam suatu batas tertutup. Dalam seni, bentuk datar adalah sebuah contoh wujud dua dimensi, sedangkan volume adalah bentuk tiga dimensi (Sanyoto, 2010:7,. Dalam karya patung taman ini ada kebebasan dalam berkarya membuat struktur-struktur pembentuk/ penyusun patungantara lain wujud dari bagian-bagian muka, badan, tangan dan kaki, serta perangkat gamelan tradisional Bali. Patung ini dibuat tergantung dari daya cipta kreasi masing-masing perajin. Pada celengan babi dan Hello Kitty menyerupai bentuk aslinya, sedangkan pada relief terakota dibentuk berdasarkan gambar cerita wayang yang dituangkan dalam terakota berbentuk persegi serta lampu taman dibuat sesuai dengan karakter yang ditiru. Semua produk gerabah ini berupa karya tiga dimensi. Inovasi Fungsi Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Sebelum adanya inovasi gerabah Pejaten memiliki fungsi yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat luas, seperti misalnya sebagai peralatan dapur maupun peralatan upacara. Hal ini sesuai pendapat Soegondo . 5: . , gerabah memiliki fungsi sebagai alat yang bermanfaat untuk kehidupan/ keseharian . dan alat keperluan upacara . Jenis-jenis gerabah Pejaten misalnya . , seperti berupa coblong, pasepan, paso, pane, payuk pere/jun, dulang dan lain-lain dan sebagaian lagi merupakan alat yang bermanfaat untuk kehidupan / keseharian . berupa alat-alat Toekio . 7: . , yang menyatakan bahwa dalam seni kriya, fungsinya dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu aspek spiritual atau kejiwaan yang kreatif dan aspek kehidupan sosial. Bila dihubungkan dengan gerabah Pejaten, produk-produk gerabah Pejaten ditinjau dari aspek spiritual atau kejiwaan masyarakat desa Pejaten dari hati nularinya sendiri ingin mengembangkan bakat seninya, menuangkan ekspresinya bergelut di bidang kerajinan gerabah. Sedangkan dari aspek kehidupan sosial berakar dari kerangka kehidupan kolektif sebagaimana kehidupan masyarakat di Desa Pejaten yang keseharianya secara turun-temurun menggeluti profesi sebagai perajin gerabah. Dengan demikian, karya kriya diciptakan tidak hanya untuk keperluan spiritual saja tetapi juga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi, peradaban, dan sebagainya. Dalam pengembangannya perlu adanya keterkaitan dan peran dari konsep tersebut untuk kreatif mene- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 mukan konsep estetis yang matang. Perajin desa Pejaten yakni I Wayan Kuturan yang merupakan penduduk asli desa Pejaten merasa ingin mempertahankan kerajinan gerabah yang telah turun-temurun digeluti oleh leluhurnya, kemudian mencoba membuat suatu produk yang inovatif agar gerabah tetap terjaga eksistensinya. Payuk adalah produk yang pertama diinovasi oleh I Wayan Kuturan. Fungsi sebelumnya adalah sebagai alat dapur. Masyarakat Pejaten dahulu sering membuat payuk yang dijual ke daerah lain sebelum penggunaan alatalat dapur dari bahan aluminium. Setelah banyak yang beralih menggunakan aluminium kemudian payuk ini diubah oleh Kuturan dengan dengan cara dibalik dan ditambahkan bulatan sebagai kepala, tangan serta kaki, sehingga terbentuk patung taman. Pada produk celengan, di desa Pejaten pada jaman dulu menyerupai sebuah kendi berfungsi sebagai tempat menyimpan uang. Celengan hanya dibuat sederhana, tanpa dekorasi. Hal tersebut membuat celengan tidak bisa digunakan sebagai benda hias atau benda pajang. Celengan-celengan tanah liat tanpa dekorasi ini kemudian makin berkurang peminatnya, setelah munculnya celengan plastik, serta celengan-celengan berbahan logam yang biasanya dilengkapi dengan dekorasi yang menarik, seperti dekorasi tokoh-tokoh film kartun. Hal tersebut membuat perajin desa Pejaten tidak lagi memproduksi celengan berhaban tanah liat ini. Hal tersebut mendorong I Wayan Kuturan berinovasi membentuk celengan yang unik, sehingga dapat bersaing dengan celengan-celengan berbahan plastik dan logam. Celengan berbahan tanah liat tersebut diinovasi menjadi celengan berbentuk binatang dan tokoh film Sedangkan terakota umumnya berfungsi sebagai lantai dari rumah dan juga halaman rumah. Berkembangnya arsitektur modern membuat terakota jarang dipesan lagi untuk keperluan lantai, karena lantai telah banyak diganti dengan bahan keramik, porselen maupun marmer. Berdasarkan hal tersebut timbul keinginan I Wayan Kuturan untuk membuat terakota menjadi lebih menarik dengan menambahkan relief-relief di atas permukaannya, yang dibuat dengan cara diukir. Relief-relief dikerjakan dengan sangat hati-hati dan dengan keterampilan yang tinggi. Pemerintah juga berperan dalam pengembangan relief terakota ini, menurut I Wayan Kuturan pada saat awal pembuatannya, terakota maupun genteng Pejaten adalah bahan bangunan yang harus digunakan dalam pembangunan Hotel di Nusa Dua atas insstruksi dari Gubernur Bali saat itu yaitu Ida Bagus Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Mantra. Hal tersebut dilakukan guna memajukan industri-industri kerajinan di daerah sendiri di tengah persaingan dengan indutri dari daerah lain terutama Jawa. , . The Prinsiple of Evolution . sas perkembanga. , dan . The principle of Hierarchy . sas tata jenjan. , maka produk kerajinan hasil inovasi dapat dijelaskan sebagai berikut : Produk hasil inovasi I Wayan Kuturan sebagian besar memiliki fungsi sebagai alat yang bermanfaat untuk kehidupan / keseharian . , sebagai benda pakai dan sebagai benda hias . Produk-produk yang berfungsi sebagai benda pakai diantaranya celengan. Celengan dengan ukuran besar biasanya digunakan pada acara resepsi pernikahan atau potong gigi, sedangkan gerabah yang berfungsi sebagai benda hias adalah patung taman, lampu taman, dan relief terakota, produk ini sering digunakan untuk dekorasi pada hotel atau penginapan. The Principle of Organic Unity (Asas Kesatua. The Principle of Organic Unity . sas kesatua. berarti setiap karya yang indah mengandung hanya unsur-unsur yang perlu dan saling mempunyai hubungan timbal balik (Gie, 1983:. Produk kerajinan gerabah I Wayan Kuturan jika dikaitkan dengan asas ini tersusun dari beberapa garis, tekstur dan warna yang sangat penting dalam menunjang bentuk keramik agar terlihat estetis. Susunan garis pada dekorasi produk kerajinan gerabah Kuturan disusun secara geometri yaitu menggunakan proporsi, ukuran dan siku-siku tertentu yang teratur sehingga menghasilkan bentuk yang selaras. Raut garis ada yang lurus dan lengkung. Pada dekorasi patung Kuturan kebanyakan menonjolkan garis lengkung. Selain garis, tekstur juga memengaruhi bentuk gerabah. Gerabah Kuturan bila ditunjau dari fungsi seni, menurut Enmud Burke Feldman 1967 . alam Udiana 2012:. Auada tiga kategori fungsi seni yaitu : Fungsi personal seni mencakup hubungan spiritual dan ekspresi estetis. fungsi sosial seni, bahwa suatu karya seni menunjukkan fungsi sosial apabila karya seni ini mencari atau cenderung memengaruhi perilaku kolektif orang banyak, karya seni diciptakan untuk dilihat, atau dipakai, digunakan khususnya dalam situasi umum, karya seni mengekspresikan atau menjelaskan aspek-aspek tentang eksistensi sosial atau kolektif, . fungsi fisik seni, yang dimaksud adalah suatu karya seni yang mempunyai kegunaan praktis untuk menghiasi atau memberikan dekorasi pada suatu objek. Gerabah I Wayan Kuturan bila dihubungkan dengan teori tersebut maka memiliki fungsi yaitu: . fungsi personal seni, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat Pejaten mengeksperikan kreatifitas seninya dalam kerajinan gerabah tersebut, . fungsi sosial seni, dalam hal ini gerabah Pejaten setelah diinovasi oleh I Wayan Kuturan dengan ciri khasnya membuat para perajin lain terpengaruh untuk ikut serta memproduksinya karena gerabah tersebut diminati oleh konsumen, dan . fungsi fisik seni, hubungannya dengan gerabah I Wayan Kuturan adalah fungsikerajinan gerabah hasil inovasinya banyak digunakan untuk menunjang kepentingan pariwisata disamping sebagai benda dekorasi. Inovasi Estetika Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Produk kerajinan gerabah inovasi Kuturan bila ditinjau dari teori estetika De Witt H Paker yang terdiri dari . The Principle of Organic Unity . sas kesatua. , . The Principle of Theme . sas tem. , . The Principle of Thematic Variation . sas variasi menurut tem. , . The Principle of Balance (Asas Tekstur adalah nilai atau ciri khas suatu permukaan atau raut atau sifat dan keadaan suatu permukaan bidang atau permukaan benda pada sebuah karya seni rupa. Setiap benda mempunyai sifat permukaan yang berbeda. Tekstur dibedakan menjadi tekstur nyata dan tekstur semu. Tekstur nyata adalah nilai raba yang sama antara penglihatan dan rabaan. Sedangkan tekstur semu adalah kesan yang berbeda antara penglihatan dan perabaan. Padaproduk patung taman mempunyai tekstur Tekstur kasar dibagimenjadi tekstur kasar nyata dan tekstur kasar semu. Pada patung diterapkan tekstur kasar semu, seperti pada motif kain terlihat kasar tetapi bila diraba halus. Selain itu, gerabah juga memiliki nilai tersendiri dengan adanya warna. Warna gerabah umumnya coklat, namun pada patung gerabah juga dapat difinishing dengan menggunakan Pada celengan yang mengambil bentuk babi terdiri dari unsur garis lengkung S. Menurut Sanyoto . 0 : . garis lengkung ini yang sering disebut Auline of beautyAy. Garis sebagai bentuk mengandung arti lebih dari titik, karena dalam bentuknya sendiri garis menimbulkan kesan tertentu, garis-garis disusun secara geometris sehingga mewujudkan bentuk yang memberi rasa indah karena keserasian dan keseimbangan bentuknya (Djelantik , 1999 :. Garis lengkung dapat dilihat pada bagian kerah baju celengan Hello Kitty sedang garis semu berulang juga dapat dilihat pada dekorasi celengan Hello Kitty pada bagian bulu Pada kedua celengan, teksturnya halus, hal ini disebabkan celengan bersentuhan langsung dengan Komang Adiputra (Inovasi Kerajinan Gerabah. Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 tangan pengguna, sehingga dengan tekstur halus ini dari segi keamanan akan terjaga. Bahkan juga ada juga yang dibuat berdasarkan gagasan, imajinasi atau khayalan perajin itu sendiri. Pada produk gerabah relief terakota, yang pada umumnya menampilkan cerita pewayangan banyak menampilkan garis-garis lengkung, yang disusun untuk menampilkan keluwesan sehingga menampilkan bentuk-bentuk yang natural. Garis semu berulang juga dipilih, sehingga membentuk gerabah yang penuh irama. Menurut Sanyoto . 0 :. garis tersebut membimbing pandangan penikmat agar mengalir kesemua objek yang disusun sehingga pandangan tidak kacau atau jelas, membantu prinsip kesatuan . , menyatukan seluruh objek agar tidak tercerai berai dan membantu memberikan ruang kosong sehingga susunan terasa longgar. Permukaan pada relief terakota ini adalah kasar semu, terlihat kasar namun ketika diraba permukaannya cukup halus. Asas tema pada gerabah Kuturan terdapat pada bentuknya. Bentukgerabah khas gaya Kuturan adalah patung taman berbentuk manusia dengan aktifitasnya salah satunya bermain musik tradisional, pada celengan mengambil tema binatang dan tokoh pada film kartun, relief terakota mengambil tema cerita pewayangan serta pada lampu taman mengambil tema bentuk rumah dan binatang. Sedangkan pada produk gerabah Kuturan yang terakhir yaitu lampu taman, yakni lampu taman yang berbentuk menyerupai pelinggih, pada atas menggunakan garis-garis lurus yang membentuk motif segi enam yang disusun selaras sehingga membentuk seperti susunan atap. Garis-garis lengkung banyak digunakan untuk membenteuk motif ukiran Bali yang sangat luwes, serta tekstur yang teraba kasar, karena tnjolan-tonjolan dari motif ukir Bali tersebut. Pada lampu taman yang berbentuk burung hantu, banyak menggunakan garis lengkung, serta bentuk-bentuk lingkaran, garis lengkung digunakan untuk membentuk bagian bulu dari burung hantu, sehingga dalam karya ini terdapat dua bagian tekstur yang berbeda pada bagian bulu burung hantu teraba kasar, sedang pada bagian depan . teksturnya halus. The Principle of Theme (Asas Tem. The Principle of Theme . sas tem. yaitu satu atau beberapa peran utama baik berupa bentuk,warna pola irama, tokoh atau makna sebagai titik pusat nilai dan pemahaman orang terhadap karya itu. Pada setiap benda seni terdapat suatu ide induk atau peranan yang unggul berupa apa saja seperti bentuk, warna, pola dan irama, tokoh atau makna yang menjadi titik pemusatan dari nilai keseluruhan karya itu (Gie, 1983: 46-. Tema juga diperlukan dalam menciptakan sebuah karya seni. Tema menentukan ide, karakter dan identitas dari suatu karya seni. Menunjukkan pesan kepada orang lain, seperti menonjolkan unsur Ae unsur didalam karya seni tersebut. Bentuk gerabah di Pejaten umumnya mengambil tema, alam sekitar seperti bentuk hewan maupun tumbuhan, manusia dengan kehidupannya sehari-hari, alam benda dengan bentuk kubistis, silendris atau bentuk bebas. The Principle of Thematic Variation (Asas Variasi Menurut Tem. Asas variasi tema yang dimaksud adalah tema harus disempurnakan dan diungkapkan dalam berbagai variasi agar tidak membosankan (Gie, 1983:. Asas variasi tema dalam kerajinan gerabah Kuturan adalah variasibentuk, pada patung dengan berbagai macam aktifitas bermain musik tradisional, asas variasi tema, bentuk gerabah Kuturan adalah patung manusia yang tidak hanya memainkan satu jenis alat musik, namun setiap patung memainkan alat yang berbeda seperti kendang, ceng-ceng, suling dan lainlain, sehingga gerabah yang tercipta memiliki bentuk kreatif dan inovatif. Pada celengan dilihat variasi bentuk binatang dan juga dari karakter film kartun sesuai pesanan pembeli, bentuk binatang yang sering dibuat adalah babi dan ayam, pada relief terakota, setiap relief menceritakan cerita wayang yang berbeda dengan gaya yang berbeda sedangkan pada lampu tama nada 2 variasi yaitu bentuk Pelinggih dan bentuk binatang. The Principle of Balance (Asas Keseimbanga. The Principle of Balance (Asas keseimbanga. adalah kesamaan dari unsur-unsur yang berlawanan atau bertentangan (Gie,1983:. Asas ini juga diterapkan pada produk kerajinan Kuturan. Dharsono . menyatakankeseimbangan memiliki peranan penting dalam seni. Keseimbangan dapat dicapai dengan mengatur letak unsur-unsur hingga terasa tidak berat sebelah antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Dalam karya seni tiga demensi merupakan keseimbangan nyata karena susunan bentuknya, garisnya, tekstur ataupun warnanya. Sementara itu dalam karya seni dua demensi merupakan keseimbangan semu. Prinsip keseimbangan berkenanaan dengan kualitas bobot atau kesan berat ringannya suatu karya. Asas keseimbangan adalah kesamaan dari unsur-unsur yang berlawanan atau bertentangan Setiap karya seni atau desain harus memiliki keseimbangan agar enak dilihat, tenang, tidak berat sebelah tidak menggelisahkan (Sanyoto, 2010:. Ada beberapa jenis keseimbangan yaitu keseimbangan simetris, keseimbangan memancar, keseimbangan sederajat, dan keseimbangan tersem- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 bunyi atau yang sering disebut juga keseimbangan Keseimbangan tersebut dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: keseimbangan formal atau simetris dan keseimbangan non-formal /asimetris/radial/ Keseimbangan simetris yaitu keseimbangan yang diperoleh karena bagian-bagiannya selalu sama. Keseimbangan simetris bersifat statis. Sedangkan keseimbangan asimetris yaitu keseimbangan karena antara bagian-bagiannya tidak sama tetapi tetap seimbang. Keseimbangan ini lebih unik, menarik, dan banyak memberikan banyak variasi. Keseimbangan asimetris lebih bersifat dinamis. Kesimbangan pada patung taman memiliki keseimbangan asimetris yaitu keseimbangan antara ruang sebelah kiri dan kanan meskipun keduanya tidak memiliki besaran yang sama maupun raut yang sama, yang dicirikan dengan patung yang terlihat dinamis, bergerak hidup bergairah dan kemudaan tetapi berkesan tidak formal. Hal tersebut dapat pula dilihat pada bentuk relief terakota dan celengan Hello Kitty. Sedangkan pada bentuk lampu taman berbentuk burung hantu, terlihat memiliki keseimbangan simetris, karena bagian sebelah kanan sama dengan sebelah kiri. Keseimbangan ini juga dapat dilihat pada produk celengan babi dan keseimbangan sederajat dapat dilihat pada lampu taman yang berbentuk pura karena, dekorasi sebelah kiri dan kanan tidak sama persis, ukiran motif Bali yang diterapkan antara sebelah kiri dan kanan tidak sama. The Prinsiple of Evolution (Asas Perkembanga. The Prinsiple of Evolution . sas perkembanga. adalah makna yang menyeluruh dicapai dari kesatuan dari proses bagian awal yang menentukan bagian-bagian selanjutnya. Asas perkembangan adalah asas yang memiliki ciri pokok dari pertumbuhan atau perhimpunan dari makna keseluruhan (Gie, 1983:. Pada seluruh penggabungan unsur-unsur seni rupa, makna keseluruhan dari gerabah Kuturan adalah menonjolkan bentuk dari produk kerajinannya. Bentuk-bentuk produk Kuturan misalnya patung dikembangkan dari bentuk manusia, yang kemudian ditambahkan alat-alat musik tradisional ataupun tanpa alat musik yang memiliki mimik muka yang ceria dengan gerakannya yang luwes. Celengan dikembangkan dari bentuk-bentuk binatang dengan ditambahkan dekorasi dan dekorasi sehingga betbeda dengan celengan lain karena terilihat ciri khas berupa ukiran Bali. Begitu pula bentuk relief dan lampu taman yang dikembangkan dari ukiran-ukiran Bali. The principle of Hierarchy (Asas Tata Jenjan. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain The principle of Hierarchy . sas tata jenjan. yakni perlu satu unsur yang memegang kedudukan memimpin . nsur utam. sementara yang lain bertindak sebagai pendukungnya. Asas tata jenjang adalah unsur terpenting dari unsur-unsur lainnya dan memerankan kedudukan memimpin yang penting (Gie, 1983 : 47-. Unsur yang penting dalam produk ini adalah bentuk dan ciri khas dari tema yang diambil gerabah Kuturan. Bentuk gerabah Kuturan sangat khas sebagian besar menonjolkan ciri khas Bali. Hal ini adalah salah satu pendukung untuk menampilkan karya yang berbeda dari daerah lain. Sedangkan berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Monroe Beardsley ( Aesthetic : Problem in The Pihiloshopy of Criticis. yang menjelaskan adanya 3 ciri yang menjadi sifat-sifat membuat baik . dari benda-bendaestetis pada umumnya,yaitu . Kesatuan (Unit. , . Kerumitan (Complexit. , . Kesungguhan (Intensit. Bentuk estetis produk gerabah hasil inovasi I Wayan Kuturan dengan teori tersebut dapat diulas sebagai berikut: Kesatuan (Unit. Kesatuan (Unit. dimana suatu karya seni tersusun secara baik dalam hal isi. Produk gerabah Kuturan dalam hal kesatuan, jika dihubungkan dengan teori tersebut maka dapat dilihat gerabah ini telah tersusun secara baik, dan menunjukkan sebuah keserasian, misalnya dalam hal bentuk, pada patung taman menonjolkan bentuk manusia yang terlihat serasi dengan ditambahkan dekorasi pada pakaian dan gamelan yang dimainkannya. Pada produk celengan, juga terlihat kesatuan antara bentuk dan dekorasinya, celengan babi tidak hanya dibentuk menyerupai babi namun ditambahkan dekorasi berupa garis-garis lengkung, pada celengan Hello Kitty diberi warna sesuai aslinya, pada produk teraksota yang awalnya polos kemudian diterapkan relief-relief pewayangan sehingga produk terlihat menarik, begitu pula pada lampu taman, dengan penambahan dekorasi pada gerabah membuat bentuk gerabah menjadi lebih sempurna. Kerumitan (Complexit. Kerumitan (Complexit. , menegaskan bahwa suatu karya seni bukanlah karya yang sederhana, melainkan kaya aka nisi, karena didalamnya pasti terdapat suatu pertentangan dari masing-masing unsur dan berbagai perbedaan yang sangat halus. Gerabah Kuturan berusaha menunjukkan bentuk karyanya yang estetis dibuat kaya dengan isi dan unsur yang saling berlawanan ataupun mengandung perbedaan yang halus inilah yang disebut dengan kerumitan(Complexit. Kuturan menciptakan gerabah yang permukaannya ditambahkan dekorasi agar terlihat menarik yang nantinya akan menjadi keunggulan Komang Adiputra (Inovasi Kerajinan Gerabah. atau kelebihan. Produk kerajinan tidak hanya sekedar bentuk-bentuk sederhana melainkan dibuat melalui kreatifitas yang tinggi dan didukung oleh skill dan pengalaman estetis yang dialami oleh perancang atau perajinnya. Salah satu contoh hasil inovasi Kuturan yang menampilkan kerumitan adalah relief terakota dan lampu taman. Pada produk terakota ini menampilkan kerumitan, dilihat dari garisgaris yang tedapat dalam dekorasi terakota berbentuk wayang, garis tersebut ada yang dibuat lurus, melengkung, dan digoreskan lebih tebal atau lebih tipis untuk menampilkan karya yang sempurna. Produk relief hanya bisa dikerjakan oleh perajin yang memiliki keahlian, karena produk ini tidak dibuat dengan teknik cetak, perajin harus mengukir sendiri setiap bagian dekorasi wayang yang akan terapkan pada terakota. Perajin harus teliti dan hati-hati mengerjakankannya agar garis-garis yang diterapkan bisa membentuk relief wayang sesuai dengan cerita yang diinginkan. Pada produk lampu taman juga menampilkan kerumitan yang dapat dilihat dari dekorasi ukiran khas Bali yang disebut patra, pada lubang cahaya lampu taman tersebut. Dekorasi pada produk ini juga tidak dibuat dengan teknik cetak, namun diukir sendiri oleh perajin. Garis-garis yang berbeda pada setiap ukiran ini juga saling mendukung satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta sebuah karya yang memiliki nilai estetis. Kesungguhan (Intensit. Kesungguhan (Intensit. yang berarti bahwa suatu karya seni adalah suatu yang memiliki kualitas tertentu yang menonjol dan suatu karya yang kosong, misalnya suasana suram atau gembira, sisi lembut atau kasar asalkan merupakan sesuatu intensif atau sungguh-sungguh dapat mengekspresikan suatu Gerabah/ keramik estetis yang baik harus mempunyai suatu kwalita tertentu yang menonjol dan bukan sekedar sesuatu yang kosong, inilah yang disebut dengan kesungguhan (Intensit. Mengolah gerabah menjadi bentuk-bentuk estetis tidaklah mudah karena bahan gerabah merupakan tanah yang Produk gerabah Kuturan contohnya patung taman adalah bentuk gerabah berupa manusia bermain alat musik tradisional Bali, yang merupakan ciri khas dari gaya Kuturan. Jika dicermati patung ini membutuhkan kesungguhan dalam pembuatannya, dimana pengrajin harus mencurahkan kreativitasnya agar tercipta karya yang memiliki nilai estetis yang tinggi. Seperti yang telah dijelaskan diatas, kesungguhan juga dapat dilihat nilai yang bersifat lembut atau Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 kasar, gembira atau duka, suram atau ceria. Contoh produk yang menampilkan kesungguhan adalah produk patung Kuturan bermain musik tradisional yang menampilkan nilai gembira dan ceria, seperti pada gambar di bawah ini : Gambar 6. Contoh jenis patung taman yang menampilkan nilai ceria dan gembira (Dokumentasi : Adiputra, 2. Produk gerabah Kuturan setelah dikaji dengan teori estetikamenurut DeWitt H Paker dan teori Monroe Beardsley diatas, dapat dikatakan telah memenuhi kreteria benda yang tergolong estetis, pada teori DeWitt H Paker dijabarkan melalui 6 asas yang lebih terperinci, pada teori Monroe Beardsley dijabarkan hanya dengan 3 asas, namun walaupun demikian, contohnya pada asas Kesatuan (Unit. , pada teori De Witt H Paker dinyatakan bahwa setiap karya yang indah mengandung hanya unsur-unsur yang perlu dan saling mempunyai hubungan timbal balik, dan pada teori Monroe Beardsleykesatuan merupakan sebuah keserasian dalam bentuk, yang mencakup tema, keseimbangan dan variasi tema. Tiga asas dalam 3 asas pada teori Monroe Beardsley sudah mencakup 6 asas yang yang dijelaskan pada teori De Witt H Paker, namun demikian pada ciri pada teori Monroe Beardley yakni kerumitan tidak ditemukan disemua produk Kuturan. Produk-produk Kuturan selain relief terakota dan lampu taman, cenderung menampilkan bentuk-bentuk yang tidak terlalu rumit namun tetap memiliki nilai estetika. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terkait inovasi kerajinan gerabah. I Wayan Kuturan telah berhasil membuat perubahan dari produk sebelumnya. I Wayan Kuturan telah membuat karya inovatif dengan memproduksi bentuk gerabah baru yang khas serta meningkatkan nilai fungsi dan estetika. Ada tiga teori yang digunakan untuk membedah hasil inovasi tersebut baik dari segi bentuk, fungsi maupun estetika, sehingga dapat disimpulkan bahwa, gerabah inovasi I Wayan Kuturan ditinjau dari segi bentuk merupakan gerabah yang diwujudkan untuk menghindari kemonotonan, dengan cara me- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 nerapkan macam-macam bentuk pada produknya. Gerabah Kuturan memiliki ciri khas bentuk yang berbeda dari produk lain yang sering disebut Augaya KuturanAy. Produk tersebut berupa patung taman, celengan, relief terakota dan lampu taman. Dari teori bentuk dapat dinyatakan produk inovasi Kuturan merupakan gerabah yang berbentuk trimatra, yaitu gempal nyata dapat diraba, wujud Konkretnya merupakan produk gerabah yang inovatif, dibuat melalui proses panjang dan memiliki nilai jual dan wujud kenyataan gerabah Kuturan meniru bentuk manusia, binatang, cerita pewayangan dan pelinggih, serta semua produk berbentuk tiga dimensi. Gerabah inovasi I Wayan Kuturan sebagaian besar memiliki fungsi sebagai benda dekoratif, fungsi ini berbeda dengan fungsi gerabah Desa Pejaten sebelumnya, yaitu sebagian besar digunakan sebagai perlengkapan upacara serta peralatan dapur. Ditinjau dari teori fungsi, gerabah Kuturan memiliki fungsi . personal seni, yaitu sebagai tempat mengekspersikan kreatifitas seni masyarakat Pejaten, . fungsi sosial seni yaitu membuat para perajin lain terpengaruh untuk ikut serta memproduksinya karena gerabah tersebut diminati oleh konsumen . fungsi fisik seni yaitu fungsi kerajinan gerabah hasil inovasinya sebagai benda pakai maupun benda hias. Gerabah inovasi I Wayan Kuturan berdasarkan teori estetika Parker dan Beardsley adalah produk yang memiliki nilai estetis, karena masuk ke dalam 6 asas dan 3 ciri yang menyebabkan produk kerajinan tersebut bernilai Produk gerabah estetis ini dapat dilihat dari produk yang memiliki bentuk dengan tema yang beragam, yang diambil dari aktifitas manusia dan alam Produk gerabah Kuturan merapkan dekorasi-dekorasi yang menampilkan ciri khas Bali, selain itu Kuturan juga mengerjakan produk berdasarkan pesanan konsumen yang dibuat melalui kreatifitas yang tinggi dan didukung oleh skill dan pengalaman estetis yang dialami oleh perancang atau perajin. DAFTAR RUJUKAN Dharsono. Seni Rupa Modern. Bandung: Rekayasa Sains Bandung. Bandung. Estetika. Bandung: Rekayasa Sains Djarwanto. Djamarah. Pokok-Pokok Metode Riset. Penulisan Skripsi. Yogyakarta : Liberty. Djelantik. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan. Gie. The Liang. Garis Besar Estetik (Filsafat Keindaha. Yogyakarta : Penerbit Supersukses. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Mudra. I Wayan. Reproduksi Gerabah Serang Banten di Bali. Yogyakarta : Penerbit Deepublish. Pemayun. Tjokorda Udiana Nindhia. Pengaruh Konsep Dan Teori Pada Setiap Elemen Penelitian. Denpasar. ISI Denpasar. Profil Desa Pejaten. Profil Desa dan Kelurahan : Tingkat Desa dan Kelurahan. Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa. Departemen Dalam Negeri. Ratna. I Nyoman Kutha. Metodologi Penelitian. Kajian Budaya Dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Riduwan. Metode & Teknik Menyusun Tesis. Bandung: CV Alfabeta Sanyoto. Sadjiman Ebdi. Dasar- Dasar Tata Rupa dan Desain (Nirman. Yogyakarta : Jalasutra. Elemen-Elemen Seni dan Desain (Nirman. Yogyakarta : Jalasutra. Soegondho. Santoso. Tradisi Gerabah di Indonesia dari Masa Prasejarah Hingga Masa Kini. Jakarta: Himpunan Gerabah Indonesia. Toekio. Soegeng. Mengenal Ragam Hias Indonesia. Bandung:Angkasa. Wong. Wucius. Beberapa Asas Merancang Trimatra. Bandung: Penerbit ITB. Sumber Internet Bali Traditional Pottery As a Cultural Heritage on the Global Competition Era. Mudra. I Wayan. Cultura International Journal of Philosophy of Culture and Axiology Volume 15. Issue 1, 2018. 26 Agustus 2018. https://w. org/cultura/ content/cultura_2018_0015_0001_0049_0063. Desa Kapal, sebagai Sentra Pemasaran Produk Gerabah di Bali. Mudra. I Wayan. ISI Denpasar. 17 Mei 2018. http://w. isi-dps. id/berita/desa-kapal-sebagai-sentra-pemasaran-produk-gerabah-di-bali Leadership As A Determinant Of Innovative Behavior. De Jong dan Hartog. A Conseptual Framework. 11 Januari 2018. http://eim. /pdfez/H200303. Perkembangan Kerajinan Keramik Tradisional Di Desa Binoh. Jayanti. Ni Putu. ISI Denpasar. Mei 2018 http://repo. id/958/1/ PERKEM-