Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya Kecamatan Kolono Timur Tahun 2024 DelvianaA*. NirwanaA. MustafaA 1,2,3. Program Studi S1 Keperawatan. Institut Teknologi adan KesehatanaAvicenna. Kendaria Email korespondensi: delvyanna771@gmail. Info Artikel: Diterima: 08 Agustus 2024 Disetujui: 21 Agust 2024 Dipublikasi: Sept 2024 Kata Kunci: Asi eksklusif, nutrisi, pengetahuan, stunting Keywords: Exclusive nutrition, knowledge, stunting Abstrak Latar Belakang: Data Kasus stunting di Sulawesi Tenggara pada tahun 2022 ditemukan 479 Kasus. Konawe Selatan salah satu Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang menyumbangkan kasus sebanyak 162 kasus. Tingginya kasus stunting disebabkan oleh beberapa faktor. Tujuan: untuk mengetahui hubungan pemberian asi eksklusif, asupan nutrisi, dan pengetahuan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas TumbuTumbu Jaya. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional Populasi penelitian sebanyak 461 balita, sedangkan sampelnya sebesar 64 orang yang diambil dengan Teknik consecutive random sampling. Variabel penelitian ini adalah ASI eksklusif, asupan nutrisi dan pengetahuan, sedangkan variabel dependenya stunting. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah chi-squaredengan Tingkat signifikansy 95% dengan menggunakan aplikasi SPSS. Hasil: hasil uji chi-square terhadap variabel ASI Eksklusif . value = 0,. , asupan nutrisi . -value = 0,. , dan pengetahuan . -value = 0,. Kesimpulan: ASI eksklusif, asupan nutrisi, dan pengetahuan ibu berhubungan erat dengan kejadian stunting Abstract Background: Data on stunting cases in Southeast Sulawesi in 2022 were 2,479 cases. Konawe Selata is one of the districts in Southeast Sulawesi that contributed data on 162 cases. Several factors cause the high number of stunting cases. Objective: To determine the relationship between exclusive breastfeeding, nutritional intake, and knowledge of the incidence of stunting in the Tumbu-Tumbu Jaya Health Center working area. Methods: This research design is analytic with a cross-sectional study approach. The study population was 461 toddlers, while the sample was 64 people taken with consecutive random sampling The variables of this study are exclusive breastfeeding, nutritional intake, and knowledge, while the dependent variable is stunting. The test used in this study was chi-squared with a significant level of 95% using the SPSS application. Results: chi-square test results on exclusive breastfeeding variables . value = 0. , nutritional intake . -value = 0. , and knowledge . -value = 0. Conclusion: Exclusive breastfeeding, nutritional intake, and maternal knowledge are closely related to the incidence of PENDAHULUAN Stunting merupakan suatu kondisi dimana terjadi gagal tumbuh pada anak balita . awah lima tahu. disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi berada di dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi dilahirkan. Akan tetapi, kondisi stunting baru akan muncul setelah anak berusia 2 tahun. Stunting pada anak balita ditandai dengan nilai z-score yang berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dari median populasi acuan, sedangkan stunting berat ditandai dengan nilai z-score di bawah -3 SD. (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2. Masa perkembangan dari 24 hingga 59 bulan dianggap sebagai masa kritis untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas tinggi, dengan penekanan khusus pada dua tahun pertama, yang sering disebut sebagai "masa emas" untuk pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal. Fase ini memerlukan perhatian yang besar. Menurut laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan pada tahun 2022, sekitar 22,9% anak di bawah usia lima tahun secara global setara dengan sekitar 154,8 juta Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 anak mengalami stunting pada tahun 2016. Secara regional, angka ini mencakup 87 juta anak di Asia,59 juta di Afrika, 6 juta di Amerika Latin dan Karibia, 31,4% di Afrika Barat, 32,5% di Afrika Tengah, 36,7% di Afrika Timur, dan 34,1% di Asia Selatan. (WHO, 2. Temuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menunjukkan adanya penurunan proporsi anak dengan status gizi sangat pendek dan pendek dari 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018. Secara spesifik, prevalensi balita sangat pendek dan stunting usia 0- 59 bulan di Indonesia tercatat masing-masing sebesar 9,8% dan 19,8% pada tahun 2017. Angka ini meningkat dibandingkan data tahun sebelumnya yang melaporkan prevalensi sebesar 8,5% pada balita sangat pendek dan 19% pada balita pendek. (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2. Data Kasus stunting di Sulawesi Tenggara pada tahun 2022 ditemukan 479 Kasus (Dinkes Sultra 2. Konawe Selata salah satu Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang menyumbangkan data 162 kasus dan data kunjungan balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya Kec. Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan pada bulan Januari sampai dengan April 2024 sebanyak 461 balita (Dinkes Konawe Selatan, 2. Menurut UNICEF dalam BAPPENAS . Beberapa faktor penentu diyakini berkontribusi terhadap kejadian stunting, di antaranya adalah riwayat obstetrik ibu. Hal ini mencakup ciri-ciri ibu seperti perawakan pendek, jarak kehamilan yang berdekatan, paritas tinggi, usia ibu lanjut, dan kehamilan pada usia sangat muda . i bawah 20 tahu. Faktor-faktor ini meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan sering kali diperparah dengan kurangnya asupan nutrisi selama masa Faktor penentu lainnya adalah kegagalan inisiasi menyusui dini, kegagalan memberikan ASI eksklusif, dan penyapihan Selain faktor-faktor individual tersebut, kondisi sosio-ekonomi dan praktik sanitasi juga memainkan peran penting dalam prevalensi stunting (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2. Konsekuensi dari stunting mencakup perkembangan kognitif, motorik, dan verbal yang kurang optimal pada anak-anak, peningkatan kerentanan terhadap kesakitan dan kematian, penurunan tinggi badan saat dewasa, dan penurunan kapasitas belajar dan prestasi akademik. (WHO, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Bwalya. Lemba. Christopher, dan Mutomto . mengidentifikasi berbagai faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita usia 6-23 bulan di Zambia. Faktor tersebut antara lain usia ibu, berat badan lahir, kurangnya suplementasi zat besi selama kehamilan, dan riwayat pemberian ASI eksklusif. Dalam penelitian terpisah. Akombi. Agho. Hall. Merom. Burt, dan Renzaho . , menemukan bahwa stunting berkaitan dengan jenis kelamin, berat badan lahir, status ekonomi keluarga, durasi menyusui melebihi 12 bulan, wilayah geografis, dan riwayat diare pada anak berlangsung selama dua minggu. Demikian pula Cruz. Azpeitia. Suarez. Rodriguez. Ferres, dan Majem . menyoroti beberapa faktor risiko stunting, seperti berat badan lahir, pendidikan dan pekerjaan ibu, tempat tinggal di pedesaan, jumlah anggota keluarga, jumlah anak balita dalam rumah tangga, durasi pemberian ASI eksklusif, dan penggunaan arang untuk Menurut penelitian Indriani. Dewi. Murti, dan Qadrijati . , beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting antara lain tinggi badan ibu, tinggi badan lahir anak, jumlah anggota keluarga, dan peran Sementara itu, penelitian Oktarina dan Sudiarti . mengidentifikasi tinggi Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 badan ibu, tingkat asupan lemak, jumlah anggota rumah tangga, dan sumber air minum sebagai faktor signifikan yang berhubungan dengan stunting pada balita usia 24-59 bulan. Sebaliknya. Setiawan. Machmud, dan Masrul . menemukan bahwa asupan protein, rata-rata frekuensi sakit, status imunisasi dasar, tingkat pengetahuan ibu, jumlah anggota keluarga, dan pemberian ASI eksklusif tidak berkorelasi signifikan dengan kejadian stunting. Sebaliknya, temuan mereka menyoroti bahwa asupan energi, ratarata durasi penyakit, berat badan lahir, tingkat pendidikan ibu, dan pendapatan keluarga berhubungan secara signifikan dengan Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 20 Desember 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya Kec. Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan, terhadap 5 orang tua balita mengalami gejala penyakit stunting seperti berat badan sangat kurus tidak sesuai usia balita di Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya. Hasil wawancara dengan 5 orang tua tersebut diketahui, 3 ibu balita tersebut mengatakan anak tidak diberikan ASI eksklusif, 2 ibu balita mengatakan bahwa Tidak Mengetahui bagaiamana Takaran Asupan Nutrisi yang Baik sehingga Asupan Nutrisi Anaknya tidak METODE Penelitian ini merupakan analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang dimaksudkan untuk melihat hubungan beberapa variabel bebas dengan variabel terikat secara bersamaan tanpa ada tindak Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei tahun 2024 di wilayah kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya Kecamatan Kolono Timur. Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu yang memiliki balita yang memiliki dengan gejala stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya Kec. Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan di bulan Januari sampai dengan April 2024 sebanyak 461 balita, sedangkan sampelnya sebanyak 62 orang yang dihitung menggunakan rumus Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan Teknik consecutive Variabel penelitian ini terdiri dari 2 yakni variabel bebas dalam hal ini pemberian asi eksklusif, asupan nutrisi, dan pengetahuan Sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian stunting Prosedur pengolahan data penelitian ini meliputi penyuntingan, pengkodean, pembersihan, dan tabulasi. Selain itu, analisis data menggunakan dua teknik analisis utama, yaitu analisis univariat dan bivariat, dengan menggunakan uji chi square, dengan interpretasi hasil pengujian dilakukan pada tingkat kepercayaan 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Tabel 1. Karakterisitik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya. Kecamatan Kolono Tahun 2024 Karakteristik Responden 1 Umur Bayi >35 bulan O35 bulan <35 bulan 2 Jenis Kelamin Laki-laki 3 Pendidikan Ortu SMP SMA 4 Pekerjaan PNS IRT Wiraswasta Petani Jumlah Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hubungan ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Tabel 2. Hubungan ASI Eksklusif. Asupan Nutrisi, dan Pengetahuan dengan Kejadian Stunting di wilayah Kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya. Kecamatan Kolono Timur Tahun 2024 Kejadian Stunting P-value Stunting Tidak Total Pemberian ASI Stunitng ASI Eksklusif Tidak Ekslusif 0,000 ASI Eksklusif Asupan Nutrisi Kurang 0,032 Baik Pengetahuan Kurang 0,001 Baik Hasil analisis tabel 2 dapat diketahui bahwa dari 64 responden balita yang menjadi sampel bahwa distribusi frequensi pemberian ASI ekslusif dimana pemberian ASI ekslusif sebanyak 37 atau . ,8%) menyatakan pemberian ASI ekslusif dan sebanyak 27 atau . ,2%) responden diberikan ASI tidak Selanjutnya dapat dilihat dari hasil uji statistik chi-square nilai signifikan sebesar p=. atau (<0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pemberian ASI ekslusif berhubungan nyata dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tumbu-Tumbu Jaya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Lebuan et al. ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif balita dengan kejadian stunting dengan nilai A=0,000 dimana A