Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 83-89AUAU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. KEPERCAYAAN DIRI DAN KETIDAK JUJURAN AKADEMIK MAHASISWA YANG MENGGUNAKAN OPEN AI Udyani Rengganis Damar Putri1, & Riana Sahrani2 Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: udyani. 705190208@stu. Fakultas Psikologi. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: rianas@fpsi. ABSTRACT Self-confidence is a very important thing that must be owned by every individual because with self-confidence, it can be the main capital in living life. In the rapid development of technology, there is artificial intelligence technology that has many advantages that can improve human life. However, this artificial intelligence technology can also cause new problems in the world of education such as self-confidence for students and students with the cause of the results of decisions made from a job are the result of technological assistance and not from one's own abilities. This study aims to determine the relationship between self-confidence and academic fraud in students who use Open AI. The participants used were 363 subjects and obtained by purposive sampling technique. Self confidence uses the Self Confidence measuring instrument and academic fraud uses the Academic Dishonesty measuring instrument. The results of the analysis using the Pearson correlation test, found that there was a correlation of (-0. with a 000 . <0. It can be concluded that in this study there is a negative and significant relationship between self-confidence and academic fraud in students who use Open AI. Keywords: self-confident, academic fraud. Open AI ABSTRAK Self-confident . epercayaan dir. merupakan hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap individu karena dengan adanya self-confident . epercayaan dir. , dapat menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan. Pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, terdapat teknologi kecerdasan buatan yang memiliki banyak keunggulan yang dapat meningkatkan hidup manusia. Namun teknologi kecerdasan buatan ini juga dapat menimbulkan masalah baru dalam dunia pendidikan seperti ketidakpercayaan diri bagi mahasiswa dan pelajar dengan penyebab hasil keputusan yang dibuat dari sebuah pekerjaan merupakan hasil dari bantuan teknologi dan bukan dari kemampuan diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-confident dengan academic fraud pada mahasiswa yang menggunakan Open AI. Partisipan yang digunakan adalah sebanyak 363 subjek dan diperoleh dengan teknik purposive sampling. Self confident menggunakan alat ukur Kepercayaan Diri dan academic fraud menggunakan alat ukur Ketidakjujuran Akademik. Hasil analisa dengan menggunakan uji korelasi Pearson, ditemukan bahwa adanya korelasi sebesar (-0,. dengan signifikan 0,000 . <0,. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini terdapat hubungan negatif dan signifikan antara self-confident dengan academic fraud pada mahasiswa yang menggunakan Open AI. Kata Kunci: self-confident, academic fraud. Open AI AU PENDAHULUAN Kepercayaan diri adalah karakter pribadi yang mencakup keyakinan terhadap kemampuan individu, memungkinkannya untuk berkembang dan menyesuaikan diri dalam berbagai situasi (Emria et al. , 2. Sikap positif ini memampukan seseorang untuk menilai diri dan lingkungan dengan positif. Kepercayaan diri dapat menciptakan sikap positif, termasuk kejujuran, yang diartikan sebagai perilaku yang didasarkan pada usaha untuk selalu dipercaya dalam kata-kata, tindakan, dan pekerjaan (Yanif, 2. Kejujuran dianggap sebagai sifat yang melekat pada diri seseorang dan penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada era modern ini, masyarakat tampaknya telah mengurangi nilai-nilai kejujuran, yang dapat merusak moral bangsa dan menciptakan perilaku yang tidak jujur. Saat ini, dampak besar dari sistem teknologi juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di bidang pendidikan. Perkembangan dan evolusi teknologi menghasilkan inovasi dalam bidang pendidikan. Dengan terus berkembangnya https://doi. org/10. 24912/jssh. Kepercayaan Diri dan Ketidak Jujuran Akademik Mahasiswa yang Menggunakan Open AI Putri et al. teknologi ini, potensi sumber belajar tidak hanya dimanfaatkan oleh pendidik, tetapi juga menjadi lebih luas. Salah satu aspek dari pemanfaatan teknologi ini adalah penggunaan alat bantu untuk mempercepat pencarian materi pembelajaran yang lebih luas. Meskipun teknologi dalam pendidikan terus berkembang, dampak negatif juga muncul, termasuk perilaku ketidakjujuran dalam konteks pendidikan (Maritsa et al. , 2. Keberadaan teknologi juga semakin ditingkatkan oleh kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mahasiswa. Kecerdasan buatan telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia modern (Shintia, 2. Sebagai contoh. ChatGPT adalah salah satu alat teknologi yang kini banyak digunakan dalam dunia ChatGPT (Generative Pre-Trained Transforme. merupakan chatbot yang menggunakan kecerdasan buatan untuk berinteraksi dengan individu dan membantu mereka menyelesaikan berbagai tugas (Faiz & Kurniawaty, 2. Keunggulan teknologi kecerdasan buatan membawa dampak positif pada kehidupan manusia. Menurut Lestari . , kemajuan teknologi sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dari waktu ke Perkembangan ilmu pengetahuan ini mendukung munculnya teknologi baru, yang mencerminkan kemajuan zaman. Selama ini, kemajuan teknologi telah beralih ke era digital. Perilaku ketidakjujuran dalam konteks pendidikan dapat memberikan dampak negatif pada kemajuan teknologi yang sebenarnya seharusnya memberikan manfaat bagi pendidikan itu Syukron . menyatakan bahwa kemajuan teknologi yang tidak diiringi oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang benar dapat menghasilkan dampak buruk bagi pendidikan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang berkualitas. Keunggulan utama dari teknologi kecerdasan buatan terletak pada potensinya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, terutama melalui kemampuannya dalam mengambil keputusan secara cepat dan akurat berdasarkan data (Laksono et al. , 2. Peneliti mengasumsikan bahwa pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam pendidikan juga dapat menciptakan tantangan baru, seperti kurangnya keyakinan diri pada mahasiswa dan pelajar. Ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa hasil keputusan yang dihasilkan dari suatu tugas mungkin lebih karena bantuan teknologi daripada kemampuan individu sendiri. Fenomena perilaku tidak jujur juga terlihat dalam berbagai kebiasaan di seluruh dunia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Nyamwange. Ondima, dan Onderi . Mereka merujuk pada penelitian dari berbagai sumber yang menunjukkan bahwa sekitar 80% siswa SMA berprestasi dan 75% mahasiswa mengakui terlibat dalam perilaku tidak jujur. Persentase ini telah mengalami peningkatan dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Hampir 21% siswa masih melaporkan terlibat dalam perilaku kecurangan. Terutama, kecurangan dalam ujian sekolah telah meningkat di kalangan siswa di sekolah menengah dan perguruan tinggi di Kenya. Lebih dari 60% siswa di perguruan tinggi dan universitas di Kenya mengakui terlibat dalam kecurangan selama ujian. Sebelumnya. Numi Normasari . telah melakukan penelitian mengenai keterkaitan antara kepercayaan diri dan perilaku kecurangan akademik dalam karyanya yang berjudul "Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Perilaku Menyontek Mahasiswa". Hasil penelitiannya menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara tingkat kepercayaan diri dan kecenderungan melakukan perilaku menyontek. Artinya, semakin tinggi tingkat kepercayaan diri seseorang, semakin rendah kecenderungan untuk melakukan tindakan menyontek, begitu pula sebaliknya. Rumusan Masalah Apakah Kepercayaan Diri berkorelasi dengan Ketidakjujuran Akademik pada Mahasiswa? https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 83-89AUAU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. AU METODE PENELITIAN Jenis penelitian Penelitian ini didasari pada penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian korelasional, yaitu penelitian yang didasarkan pada pertanyaan apakah suatu variabel dapat memberikan perubahan pada variabel lainnya atau tidak. Penelitian ini diawali oleh tahap identifikasi masalah mengenai hubungan self-confident dengan academic fraud pada mahasiswa yang menggunakan Open AI. Selanjutnya dilakukan tinjauan literatur sebagai landasan teori penelitian, penentuan sampel, penyusunan model penelitian, pengembangan hipotesis, pengumpulan dan pengolahan data, pengujian model penelitian, dan diakhiri dengan interpretasi temuan penelitian. Data akan diperoleh melalui kuesioner online yang diisi sendiri oleh responden . elf-administered questionnair. Partisipan Penelitian Karakteristik partisipan ditentukan dengan metode purposive sampling yang menggunakan kriteria tertentu dalam pengambilan sampel penelitian. Dengan kriteria responden yang digunakan dalam pemilihan sampel penelitian yaitu mahasiswa yang pernah menggunakan open AI selama minimal 5 . kali dalam kurun waktu 6 bulan terakhir untuk menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan pada studi perkuliahan dengan tujuan melakukan kecurangan akademik, berstatus sebagai mahasiswa atau mahasiswi, dan berusia dalam rentang 17 hingga 24 Setting dan peralatan penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kampus Universitas umum secara online dengan waktu penelitian dimulai dari bulan Juni 2023 sampai September 2023. Alat ukur penelitian Definisi operasional self-confident atau kepercayaan diri mencakup kesadaran individu terhadap kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya. Ini melibatkan keyakinan diri, kepuasan terhadap diri baik secara batin maupun jasmani, kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut, dan keterampilan untuk mengendalikannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Rindiasari, dkk . , telah mengembangkan sebuah alat ukur untuk kepercayaan diri yang dikenal sebagai Alat Ukur Kepercayaan Diri. Skala ini dirancang untuk mengukur aspek-aspek spesifik dari kepercayaan diri, termasuk keyakinan akan kemampuan diri, optimisme, objektivitas, tanggung jawab, dan realitas rasional. Alat ukur ini terdiri dari 10 item yang dinilai oleh subjek. Alat ukur self-confident ini diadaptasi dari penelitian Rindiasari . , yang membangunnya berdasarkan dimensi-dimensi self-confident, termasuk keyakinan akan kemampuan diri, optimisme, objektivitas, tanggung jawab, dan realitas rasional. Rindiasari . mengevaluasi reliabilitas instrumennya dengan memproses data menggunakan perangkat lunak SPSS dan mengamati nilai CronbachAos Alpha, yang mencapai 0,446. Sementara itu, peneliti menemukan bahwa reliabilitas instrumen dengan blueprint mencapai 0,615. Selanjutnya, validitas instrumen dievaluasi dengan menggunakan corrected item-total correlation, di mana korelasi tiap butir dengan total dianggap valid jika nilai tersebut melebihi batas 0,2. Secara umum, nilai corrected item-total correlation yang lebih besar dari 0,2 mengindikasikan kevalidan pernyataan (Sugiyono, 2. Definisi operasional academic fraud atau kecurangan akademik merujuk pada suatu cara atau tindakan yang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, umumnya terkait dengan hasil yang diinginkan, dan melibatkan perilaku tidak jujur yang dapat menyebabkan perbedaan pemahaman dalam menilai atau menginterpretasikan sesuatu. Faradiena . melakukan https://doi. org/10. 24912/jssh. Kepercayaan Diri dan Ketidak Jujuran Akademik Mahasiswa yang Menggunakan Open AI Putri et al. modifikasi dan kombinasi alat ukur kecurangan akademik dari dua instrumen, yaitu Academic Dishonesty Scale (McCabe, 1. dan Academic Dishonesty Instrument (Iyer, 2. , dengan menyesuaikan beberapa item sesuai kondisi di Indonesia untuk menghindari bias budaya. Selanjutnya. Faradiena . mengembangkan alat ukur kecurangan akademik yang dikenal sebagai Alat Ukur Ketidakjujuran Akademik. Skala ini secara spesifik mengukur aspek-aspek kecurangan akademik, termasuk perilaku menyontek, bantuan dari luar, plagiarisme, dan penggunaan gadget saat menyontek pada saat ujian . lectronic cheatin. Alat ukur academic fraud ini diadaptasi dari penelitian Faradiena . yang dibangun berdasarkan dimensi-dimensi kecurangan akademik, melibatkan aspek seperti perilaku menyontek, bantuan dari luar, plagiarisme, dan penggunaan gadget saat menyontek. Faradiena . melakukan analisis reliabilitas melalui pengolahan data menggunakan perangkat lunak SPSS dan menilai nilai CronbachAos Alpha, yang mencapai 0,89. Sementara itu, peneliti menemukan bahwa reliabilitas instrumen dengan blueprint mencapai 0,945. Selanjutnya, validitas instrumen dinilai dengan menggunakan corrected item-total correlation, di mana korelasi tiap butir dengan total dianggap valid jika nilai tersebut melebihi batas 0,2. Umumnya, jika nilai corrected item-total correlation lebih besar dari 0,2, maka pernyataan tersebut dianggap valid (Sugiyono, 2. Prosedur penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan single-cross sectional, yang berarti informasi dikumpulkan dari sampel yang mewakili populasi hanya dalam satu periode waktu (Malhotra dan Birks, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dengan mendistribusikan kuesioner online yang respondennya mengisi sendiri . elf-administered questionnair. Kemudian hasil dari pengumpulan data melalui kuesioner tersebut akan diolah sesuai dengan pengolahan dan teknik analisis data yang ditetapkan dalam penelitian. AU HASIL DAN PEMBAHASAN Uji normalitas data Penelitian ini memanfaatkan Uji Kolmogorov-Smirnov sebagai alat uji normalitas data, di mana hasil dianggap berdistribusi normal jika nilai signifikansi . ) lebih besar dari 0,05. Pengujian ini bertujuan untuk mengevaluasi distribusi data dalam suatu kelompok atau variabel, untuk menentukan apakah distribusi data tersebut mengikuti pola normal atau tidak. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,073, yang melebihi nilai 0,05, dengan jumlah sampel sebanyak 363 responden. Hal ini menjelaskan yakni besar residual berdistribusi normal maka uji normalitas telah terpenuhi. Uji linearitas data Penelitian ini menggunakan nilai signifikan Deviation from Linearity sebagai uji linearitas data, yang dimana hasil akan terdapat hubungan secara linear jika memiliki nilai sig. > 0,05. Tujuan dilakukannya pengujian adalah untuk melihat hubungan secara linear antara variabel independen dengan variabel dependen. Diperoleh nilai Deviation from Linearity Sig. sebesar 0,186 atau lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear antara variabel Self Confident (X) dengan variabel Academic Fraud (Y). Uji hipotesis https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 83-89AUAU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. pada uji hipotesis penelitian menggunakan uji korelasi dengan menggunakan analisis correlation pearson, dalam pengambilan keputusan dikatakan terdapat korelasi antar variabel apabila nilai signifikansinya kurang dari 0,05 (Sugiyono, 2. Tabel 1 Hasil Uji Hipotesis (Korelas. Correlations Self_Confident Self_Confident Academic_Fraud Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Academic_Fraud Berdasarkan tabel 3 diatas, didapatkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan juga dengan r hitung (-0,. < r tabel . , yang berarti terdapat hubungan antara self confident dengan academic fraud dan nilai korelasi negatif (-0,. menandakan bahwa arah hubungan kedua variabel bersifat negatif, yang berarti semakin tinggi tingkat kepercayaan diri maka semakin rendah kecurangan akademik, dan sebaliknya jika semakin rendah tingkat kepercayaan diri maka semakin tinggi kecurangan akademik. Pembahasan Berdasarkan hipotesis yang menyatakan bahwa self-confident memiliki korelasi dengan academic fraud pada mahasiswa yang menggunakan Open AI, ditemukan bahwa nilai korelasi adalah r = (-0,. dengan nilai signifikan p = 0,000. Hasil ini mengindikasikan bahwa hubungan antara self-confident dan academic fraud memiliki arah korelasi yang signifikan, namun tidak sejajar dengan tingkat korelasi yang tinggi. Data menunjukkan distribusi normal dengan nilai signifikan sebesar 0,073 > 0,05, dan terdapat hubungan linear antara variabel independen dan variabel dependen dengan nilai signifikan sebesar 0,186 > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat self-confident, maka semakin rendah tingkat academic fraud, dan sebaliknya. Kesimpulan ini didukung oleh fakta bahwa self-confident, yang diartikan sebagai keyakinan seseorang dalam mengatasi masalah dengan baik dan memberikan dampak positif pada orang lain, memiliki peran penting dalam mengurangi tingkat academic fraud. Self-confident mencakup sikap positif, kesadaran diri, berpikir positif, kemandirian, serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Self Confident atau kepercayaan diri merujuk pada keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk mengatasi suatu masalah dengan situasi terbaik dan mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sikap self-confident mencakup kemampuan seseorang untuk menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan memiliki kemampuan untuk meraih dan memiliki segala sesuatu yang diinginkan (Novita, 2. Ketidak memiliki self confident atau kekurangan dalam kepercayaan diri dapat memiliki dampak negatif pada individu, seperti kehilangan tujuan hidup dan semangat perjuangan, kurangnya sikap kemandirian, pandangan yang sempit karena bergantung pada orang lain, merasa bahwa pekerjaan yang dihadapi sulit sehingga cenderung gelisah, kurangnya ketelitian dalam melakukan pekerjaan, dan kecenderungan untuk menarik diri dari interaksi dengan lingkungan sekitar (Supratiknya, 2. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang untuk membangun dan terus melatih self confident atau kepercayaan diri. Hal ini bertujuan agar individu tersebut dapat mengembangkan karakteristik orang yang percaya diri, seperti berpikir positif, tidak https://doi. org/10. 24912/jssh. Kepercayaan Diri dan Ketidak Jujuran Akademik Mahasiswa yang Menggunakan Open AI Putri et al. bersikap agresif, tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain, memiliki tanggung jawab, berani menerima dan mengatasi penolakan, serta berani menjadi diri sendiri. Dalam konteks kecurangan akademik, didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk mencapai hasil yang baik, namun berasal dari perilaku tidak jujur yang dapat menimbulkan perbedaan dalam penilaian atau interpretasi suatu hal (Lozier, 2. Kecurangan akademik dapat berdampak negatif pada pelakunya, seperti ketidakmampuan untuk sukses di masa depan, kerusakan moral pada diri sendiri, kesulitan dalam pengembangan akademik, kehilangan kepercayaan diri, kesulitan dalam menyelesaikan masalah, dan kecenderungan untuk malas dalam pendidikan (Torres, 2. Oleh karena itu, kecurangan akademik menjadi aktivitas yang merugikan bagi pelakunya, terutama jika tidak ada penanganan atau solusi yang diberikan terhadap tindakan Kepercayaan diri yang kurang dapat menjadi penyebab utama tindakan kecurangan Orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah cenderung merasa tertekan untuk mencapai standar prestasi yang dianggap memadai oleh masyarakat atau lingkungan akademik. AU KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan antara self-confident . epercayaan dir. dan academic fraud . ecurangan akademi. pada mahasiswa yang menggunakan Open AI, dengan nilai korelasi sebesar (-0,. Angka ini mengindikasikan bahwa arah hubungan kedua variabel tersebut bersifat negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat self confident . epercayaan dir. , maka semakin rendah tingkat academic fraud . ecurangan Sebaliknya, jika tingkat self confident . epercayaan dir. semakin rendah, maka tingkat academic fraud . ecurangan akademi. cenderung lebih tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wacana ilmiah terhadap pengembangan ilmu pengetahuan bagi ilmu psikologi pada umumnya dan ilmu psikologi pendidikan pada khususnya, dengan memberi kontribusi mengenai masalah self-confident dan academic fraud. Penelitian ini diharapkan dapat membantu memperluas pandangan tentang kepercayaan diri tidak hanya sebagai konsep psikologis umum, tetapi juga dalam konteks spesifik dalam bidang akademik. Dengan demikian pemahaman tentang bagaimana kepercayaan diri mempengaruhi perilaku mahasiswa di lingkungan pendidikan akan dipandang secara lebih luas. Kepercayaan diri tidak sekadar berarti merasa baik tentang diri tanpa dasar yang kuat. Sebaliknya, kepercayaan diri seharusnya berasal dari pemahaman yang realistis terhadap kemampuan, prestasi, dan potensi diri. Mempunyai pemahaman yang seimbang tentang kepercayaan diri memiliki peran penting dalam menjaga integritas akademik tanpa merasa perlu mencari jalan pintas. Mahasiswa juga perlu memiliki pemahaman menyeluruh mengenai dampak negatif dari academic fraud atau kecurangan Selain risiko akademik seperti diskualifikasi atau penurunan nilai, kecurangan akademik juga dapat merusak citra pribadi dan profesional seseorang. Terungkapnya kecurangan dapat mengakibatkan gangguan pada reputasi di mata dosen dan teman sekelas. Dengan menyadari konsekuensi ini, diharapkan mahasiswa akan lebih termotivasi untuk membangun kepercayaan diri melalui usaha yang jujur dan konsisten. Selain itu, mahasiswa juga perlu memahami bahwa tanggung jawab atas keberhasilan akademis berada pada diri mereka sendiri, yang merupakan langkah pertama dalam membangun kepercayaan diri. Mengambil inisiatif dalam proses pembelajaran dan menyadari bahwa setiap keberhasilan atau kegagalan merupakan hasil dari upaya dan dedikasi pribadi. Dengan mengakui tanggung jawab ini, mahasiswa diharapkan akan merasakan kebanggaan yang tumbuh dan menjadi dasar dari kepercayaan diri yang kuat. https://doi. org/10. 24912/jssh. Jurnal Serina Sosial Humaniora AU AU Vol. No. Juni 2024 hlm: 83-89AUAU ISSN-L 2987-1506 (Versi Elektroni. Ucapan Terima Kasih (Acknowledgemen. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada seluruh responden yang telah menyempatkan waktunya untuk berpartisipasi dalam mengisi kuesioner pada penelitian ini dan juga kepada pihak-pihak yang lainnya sudah membantu menyelesaikan artikel ini. REFERENSI