vailable at http://ejournal. id/index. php/sastra P-ISSN 2337-7712 E-ISSN 2598-8271 Volume 8 No. 1, 2020 page 30-43 Article History: Submitted: 19-12-2019 Accepted: 03-03-2020 Published: 05-03-2020 SPELL OF ENDE LANGUAGE IN UZUZOZA VILLAGE OF ENDE REGENCY MANTRA BAHASA ENDE DI DESA UZUZOZA KABUPATEN ENDE Alexander Bala1. Yohanes Hua2 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Flores Ende. Indonesia1 Alumni PBSI Universitas Flores2 Jl. Sam Ratulangi Ende. Telp. Email: abggawen@yahoo. Email: huayoh@yahoo. URL: https://ejournal. id/index. php/sastra/article/view/1353 DOI: https://doi. org/10. 32682/sastranesia. Abstrak The research is about the spell of Ende Language in Uzuzoza village of Ende Regency based on two main problems, that was finding and describing spellAosform and itAos function. For gathering the data, the research used was an interview and listen tomethod with see, and capable techniques. Formal technique analysis is usedas data analysis of this research. The old theory of literature is used of this research with the concideration that the spell developed in the traditional era in animism and dynamism by using oral languageas the main medium of its delivery. After the data were analysis, the result found that, the spell of Ende language in Uzuzoza village of Ende Regency is generally in the form of poetry because taxtation patters were a-a-a-a, have taxtation . , expecially intonation, that is the persuasion of vowels at the and of word in lines and the linesof that spells is contentsor messages. Lingustically, the spells using personal pronouns, expecially the use of second personal pronouns and third personal pronouns using repetation, and it consistof statement which has adverb of time, adverb of place, and indicating of prohibition. Funcionality, the spell of Ende language in Uzuzoza village of Ende Regency serves as the tribute the AuhighestAy subject which makes them exist and as the symbol of their trus to the ancestors. Key words: spell, shaman, and sua zoza. This is an open access article distributed under the Creative Commons 4. 0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2018 by author and STKIP PGRI Jombang Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Abstrak Penelitian tentang mantra bahasa Ende di Desa Uzuzoza Kabupaten Ende berawal dari dua masalah pokok, yakni menemukan dan mendeskripsikan bentuk dan fungsi mantra. Metode penelitian yang digunakan dalam mengumpulkan data, yakni metode wawancara dan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap. Teknik analisis formal digunakan sebagai teknik analisis data penelitian ini. Teori yang digunakan adalah teori sastra lama, dengan pertimbangan bahwa mantra berkembang dalam masa kebudayaan lisan tradisional dalam kepercayaan animisme dan dinamisme dengan menggunakan bahasa lisan sebagai medium utama penyampaiannya. Setelah dilakukan analisis data, ditemukan bahwa mantra bahasa Ende di Desa Uzuzoza Kabupaten Ende pada umumnya berbentuk syair, karena pola persajakannya adalah a-a-a-a, memiliki persajakan . , terutama asonansi, yakni persajakan bunyi vokal pada akhir kata dalam baris dan baris-baris pada mantra tersebut merupakan rangkaian isi atau pesan. Secara linguistik, mantra-mantra tersebut menggunakan pronomina persona, terutama penggunaan pronomina persona kedua dan pronomina persona ketiga, menggunakan unsur pengulangan atau repetisi, dan berisi pernyataan yang memiliki keterangan waktu, keterangan tempat, dan pernyataan larangan. Fungsi mantra bahasa Ende di Desa Uzuzoza Kabupaten Ende berfungsi sebagai media penghormatan kepada Zat atau Subyek yang AutinggiAy yang menjadikan mereka ada, dan sebagai wujud kepercayaan kepada para leluhur atau nenek moyang. Key words: mantra, dukun, sua zoza. Pendahuluan Mantra merupakan puisi rakyat yang memiliki bentuk, yaitu terdiri dari beberapa deret kalimat, mempunyai durasi panjang pendeknya suku kata, dan irama tekanan berdasarkan irama (Danandjaja, 2002:. Mantra biasa disebut dengan jampi, serapah, sembur, atau puja yang diciptakan dalam kepercayaan dinamisme dan animisme. Isi mantera pada umumnya adalah tentang hal-hal yang bersifat magis, perobatan, maupun pertanian. Mantra berkembang dalam masa kebudayaan lisan-traditional yang diwariskan melalui media tutur kata. Bertutur atau berkata menjadi media utama dalam kehidupan masyarakat lama atau masyarakat tradisional. Menurut Hutomo, kebudayaan lisan-tradisional merupakan Aumutiara yang terlupakanAy atau disebut sebagai Aufosil hidupAy . alam Taum, 2011:. Bagi masyarakat pedesaan, kegiatan bersastra dan berseni dilakukan sehari-hari untuk menghayati dimensi transendennya, sambil mewartakan peristiwa-peristiwa eksistensial mengenai realita-realita paling besar dalam eksistensi manusia: ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende kelahiran, kehidupan, kesakitan, kematian, permohonan mengatasi maut, dan pendambaan keselamatan (Taum, 2011:. Oleh karena itu, sastra lisan berfaedah untuk menopang kepaduan etnis dalam meneguhkan identitas dan rasa aman masyarakatnya (Eilerz, 1995: . Masyarakat Ende di Desa Uzuzoza, merasa seluruh dirinya bergantung pada kekuatan yang menentukan nasibnya, tetapi ada manusia yang juga berusaha dengan berbagai cara untuk memaksa kekuatan itu untuk memenuhi apa yang diinginkannya dengan menggunakan bahasa mantra. Masyarakat setempat percaya bahwa mantra yang diucapkan oleh dukun atau pawang memberi manfaat dan benar-benar berfungsi bagi kehidupan mereka. Dimensi kemanfaatan ini relevan dengan kebijakan pemerintah untuk melindungi dan melestarikan kebudayaan etnik, berupa keseluruhan tindakan manusia yang menggunakan bahasa daerah sebagai medium penyampaian. Mantra dalam bahasa Ende disebut dengan sua soza atau doa. Sua zoza tersebut, di antaranya sua pada saat buka kebun baru, sua pada waktu melahirkan, sua urat bengkak dan urat putus, sua pasang jerat, sua iris moke, dan sua sakit perut. Berikut ini disajikan sebuah mantra menolak makhluk halus yang menyerang otot seseorang di Desa Uzuzoza. Ro riAoa baja eku Sakit sembuh, sakit otot membaik Mbana wazo sai kau Pergi lagi kau sudah Mbere sai neAoe ae Mengalirlah bersama air Mese sai neAoe zer Terbenamlah bersama matahari Mantra di atas berisi tentang permohonan dari dukun atau pawang kepada makhluk halus yang menyerang otot seseorang. Mantra tersebut bermaksud persuasif agar makhluk halus atau roh jahat tersebut berkenan meninggalkan sakit yang diderita. Baris-baris mbana wazo sai kau, adalah inti atau maksud penyampaian yang persuasif, yang bertujuan mengajak makhluk halus untuk menuruti kemauan pembicara, yakni dukun. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan fungsi mantra bahasa Ende di Desa Uzuzozo Kabupaten Ende. Penelitian ini berkenaan dengan sastra lama yang mengacu kepada teks-teks lisan yang bernilai sastra, yakni mantra di Desa Uzuzoza. Teori sastra lama merupakan suatu bentuk penyelidikan yang menghasilkan pengertian sastra, hakikat sastra, jenis-jenis, dan prinsipprinsip tentang sastra lama. Danandjaja, 2002: 2Ae. menjelaskan ciri-ciri STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 pengenal sastra lama, yaitu . penyebaran dan pewarisannya secara lisan, . bersifat tradisional, . terdapat varian-varian yang berbeda, . bersifat anonim, . mempunyai bentuk berumus atau berpola, . berfungsi kolektif, . bersifat pralogis, . merupakan milik bersama . , dan . bersifat polos dan lugu. Sastra lama adalah sastra yang lahir dan hidup dalam masyarakat lama Indonesia atau kebudayaan lama atau lisan yang masyarakatnya masih niraksara. Masyarakat lama yang dimaksudkan dalam sastra lama adalah suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh adat istiadat. Kesustraan lama atau klasik termasuk kesustraan leluri, karena penyebarannya dari mulut ke mulut (Badudu, 1985:. Makin kuat iramanya, makin besar tenaga gaib yang ditimbulkan. Secara hakiki, masyarakat lama merupakan kelompok masyarakat bersastra dalam setiap peristiwa tutur kehidupannya. Peristiwa tutur disajikan dalam komunikasi ucap, baik terjadi secara individual maupun sosial. Model inilah yang akhirnya melahirkan beraneka ragam budaya dan sastra lisan yang menjadi embrio pelahiran sastra-sastra tulis. Bahkan, komitmen ini telah menjadi pemikiran Derrida, bahwa keberadaan negara serta pengaruhnya sangat ditentukan oleh ikatan-ikatan komunal yang secara tradisional terbentuk dan dipelihara dengan baik oleh masing-masing komunitas (Ujan, 2009: i. Mantra selain sebagai karya sastra tradisional, sekaligus juga merupakan sebuah sarana pengobatan. Kalau di dunia Barat, kedekatan dunia sastra dengan dunia kedokteran yang paling menonjol adalah di bidang psikologi atau Di Indonesia bukan orang yang mempunyai gangguan jiwa saja yang diobati dengan kata-kata. Kepercayaan pada mantra adalah kepercayaan pada kekuatan kata-kata: kata dapat membentuk realitas, dapat menyembuhkan orang, tapi juga dapat menyakiti orang (Bandel, 2009:. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat Indonesia terdapat kepercayaan tradisional pada hal-hal gaib yang tidak diakui secara ilmiah. Misalnya, dalam pengobatan asli Indonesia, penyakit biasanya diklasifikasikan sebagai penyakit yang biasa . dan luar biasa . isebabkan oleh kekuatan gai. , sedangkan ilmi kedokteran biomedis tidak mengenal penyakit yang luar biasa seperti itu. Mantra merupakan wacana persuasif yang memiliki tingkat sugestif dan konformitas yang tinggi. Dalam mantra sugesti adalah usaha untuk menjadikan suatu keadaan tertentu terlaksana sebagaimana yang diinginkan pemakai Dukun atau pawang memiliki kuasa AuakuAy, yang oleh karena kuasa itulah dia dapat mengatakan dan menginginkan sesuatu mungkin terjadi walaupun tanpa disuruh. Kuasa dari zat yang sudah dengan sendirinya memberikan sugesti dan kekuatan tambahan melalui kata-kata yang dapat berwujud perintah, permintaan, bahkan ajakan kepada roh-roh yang mendiami suatu objek. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende Konteks tradisional demikian, pengarang akan kelihatan kuno dan ketinggalan zaman. Ini terlihat ketika pelukisan tokoh sebagai takhayul, plot cerita menjadi kacau: semua tokoh, termasuk tokoh yang baik akan kelihatan kuno, kampungan dan bahkan bodoh karena mempercayai sesuatu yang tidak nyata, padahal tokoh-tokoh tersebut berasal dari masyarakat elit intelektual tradisional (Bandel, 2009:. Namun demikian, tidak selalu yang kuno dan kampungan itu begitu buruk atau bodoh sama sekali. Bukankah ide yang ada di belakang mantra, yaitu bahwa realitas merupakan sesuatu yang dapat dibentuk oleh kata-kata ternyata telah kita temukan kembali pada zaman pascamodern Justru orang yang disebut primitif itu dimuliakan karena kuatnya emosi yang dilahirkannya dalam nyanyian-nyanyian dan dalam pemakaian bahasa yang spontan, belum dijinakkan oleh rasio yang mengekang keaslian dan kemurnian emosi manusia (Teuuw, 1984: . Penuturan sebuah mantra, orang-orang di sekitar sama sekali tidak punya kepentingan dengan dialog yang sedang dilaksanakan. Kita betul-betul menjadi orang yang tersisih lantaran kata-kata dalam bahasa makhluk halus itu tidak mengandung makna apa-apa bagi kita, hanya mengandung makna kekuatan gaib yang hanya dimaklumi oleh sang dukun atau pawang. Dukun atau pawang adalah seorang yang dikenal sebagai penghubung masyarakat, baik sesama anggota masyarakat maupun dengan roh-roh halus. Dilihat dari segi bentuk, mantra merupakan salah satu bentuk karya sastra dan termasuk jenis puisi lama. Irama serta korespondensinya menyerupai puisi, maka mantra dianggap prototipe puisi (Eddy, 1991:. Sebagai prototipe puisi, mantra merupakan ekspresi kerinduan batin manusia kepada alam yang memiliki rima dan irama. Sehingga, mantra merupakan sebuah peristiwa dialog dalam kesunyian, antara dukun atau pawang dengan zat atau roh gaib yang sedang dituju. Mantra sebagai sastra lisan berfungsi untuk menunjang perkembangan bahasa dan sastra, serta mengungkapkan alam pikiran, sikap, dan nilai kebudayaan masyarakat setempat, sebagai sarana gagasan yang mendukung pembangunan manusia Indonesia secara keseluruhan. Selain itu. Danandjaja . mengemukakan mantra berfungsi sebagai sistem proyeksi, alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, sarana pendidikan, dan alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota penggunanya. Hal yang sama dikemukakan oleh Rukesi dan Sunoto . bahwa mantra mengandung nilai-nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri, dengan Tuhan, alam, dan dengan manusia yang lain. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Sastra lisan adalah sekelompok teks yang disebarkan dan dituruntemurunkan secara lisan yang secara intrinsik mengandung sarana kesustraan dan memiliki efek estetik dalam kaitannya dengan konteks moral maupun kultur dari sekelompok masyarakat tertentu (Taum, 2011:. Oleh karena itu, secara simbolik, sastra lisan merupakan mentifact . akta kejiwaa. tentang kesadaran kolektif mengenai kehidupan, adat-istiadat, keyakinan-keyakinan masyarakat lokal (Taum, 2011:. Metode Penelitian Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik wawancara dan observasi. Bersandar pada data lisan tentang mantra yang dituturkan oleh dukun atau pawang di Desa Uzuzuzo Kabupaten Ende, data disusun, dikelompokkan, dan dianalisis secara kualitatif kemudian disajikan secara deskriptif. Pembahasan Mantra bahasa Ende di Desa Uzuzozo Kabupaten Ende, yang ditemukan dan dianalisis, yakni . mantra untuk buka kebun baru, . mantra kasih makan tanaman, . mantra tahan angin, . mantra sakit perut, . mantra waktu melahirkan, . mantra urat putus, . mantra tahan hujan, . mantra jaga rumah, . mantra pasang jerat, dan . mantra tolak roh makhluk halus. Dari sepuluh mantra di atas disajikan analisisnya sebagai berikut. Mantra Buka Kebun Baru (PoAoo Rok. Data . tentang mantra buka kebun baru terdiri atas dua tahap, yakni tahap duduk omong bersama . usu nggua nama mbap. , dan tahap pelaksanaan membuka kebun baru. Tahap Susu Nggua Nama Mbapu (Duduk Omong Bersam. Tahap susu nggua nama mbapu adalah tahap duduk dan omong bersama-sama. Bentuk syair pada tahap ini terlihat pada data di bawah ini. Data 1: JaAoo wai susu nggua nama mbapu Saya mau susun upacara omong adat Tana koAoo Doni Tanahnya Doni Watu koAoo Tadji Batunya Tadji Tendo tembu zoka bhoka ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende Tanam tumbuh tumpah tumbuh Penggunaan pronomina jaAoo . pada data . di atas menggambarkan bentuk jamak kami. Lebih lanjut kami yang tergantikan melalui jaAoo . diterangkan atau diperjelas dengan kehadiran dua nama Doni dan Tadji yang mewakili keseluruhan masyarakat petani di Uzuzozo. JaAoo . menunjuk pada dukun laki-laki yang sedang mengumpulkan orang untuk membicarakan urusan Komunikannya adalah laki-laki yang dalam garis keturunan patrilinial sebagai pewaris keturunan yang tampak pada penamaan dua nama berjenis kelamin laki-laki . ama kampun. , yakni Doni dan Taji. Walaupun seluruh petani . menghadiri acara susu nggua nama mbapu, namun doa atau mantra yang disampaikan oleh pawang dengan menyebut nama Doni dan Tadji, telah menyebut masyarakat Uzuzozo secara keseluruhan. Mantra pada data di atas, juga berisi penyampaian, bahkan pengharapan kepada Wujud Tertinggi, yaitu Dua NggaAoe. Pada baris junjung tanah . uAou tan. Junjung tanah . uAou tan. , junjung . uAo. yang secara konotatif ditafsirkan sebagai menuruti atau menaati perintah. Karena yang dijunjung adalah di atas kepala, maka menandakan penghormatan terhadap sesuatu yang berada di atas. Di sini artinya masyarakat Ende umumnya dan masyarakat Uzuzozo menempatkan diri mereka sebagai manusia yang sepenuhnya bergantung pada penyelenggaraan Wujud Tertinggi. Wujud Tertinggi dianggap sebagai Pencipta semesta alam raya dan segala isisnya yang berfungsi bagi keberlangsungan hidup semua yang ada di muka bumi ini. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan dalam mantra buka kebun baru . oAoo rok. berbentuk syair seperti terlihat pada data . berikut ini. Data 2: Sozera suza singi Sehari muncul di pinggir Sopoa joAoa raAoi Besok sampai di atas Tubu mbuza Kayu terangkat Ape mbabhe Teras terbongkar Are nai jawa nuka Padi naik jagung naik Secara linguistik, pilihan kata . mantra pada data . , seperti Audi pinggirAy. Audi atasAy. AuterangkatAy. AuterbongkarAy, dan AunaikAy memberikan STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 penekanan, bahkan untuk mempertegas maksud yang disampaikan dukun atau Pengulangan preposisi di pada di pinggir dan di atas, menggambarkan makna berurutan. Dengan maksud bahwa permohonan kepada sesuatu yang sedang dimohonkan jangan sampai terlewatkan. Awalan Aeter pada terangkat, terbongkar menyatakan makna super. Artinya, tidak ada sesuatu yang lain yang ingin disampaikan, kecuali agar mereka dapat memperoleh hasil yang baik. Kehadiran unsur nomina padi . dan jagung . merupakan simbol penghidupan masyarakat petani di Desa Uzuzozo. Padi dan jagung adalah dua pasangan yang saling melengkapi dan tak tergantikan dengan nomina lain. Bahwa selain tanaman-tanaman hortikultura lainnya, padi dan jagung menjadi tanaman wajib yang siap ditanam oleh masyarakat petani. Sedangkan, diksi bambu pada bhaki rua, dapat ditafsir dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni pertama bambu sebagai sarana tempat air mengalir mengairi tanaman, dan kedua agar tanaman dapat tumbuh lurus, tinggi, dan menghasilkan buah berlimpah, ibarat bambu. Mantra Kasih Makan Tanaman (Belanggend. Data 3: Are jawa ata iwa tembu Padi jagung yang tidak tumbuh Wai tembu wazo Agar tumbuh kembali Mantra pada data . di atas, terlihat munculnya pengulangan . kata tumbuh . pada baris tiga dan empat. Kata tembu pada baris ketiga menyatakan sesuatu yang negatif yang didahului oleh kata tidak . , sedangkan kata tembu pada baris keempat menyatakan sesuatu yang positif. Tembu diakhiri dengan kata kembali . Pengulangan . dalam konteks mantra pada data . berfungsi untuk mengungkapkan kembali sebuah harapan yang hampir tak terwujud. Dikatakan hampir karena kondisi ini masih bersifat netral yang berkaitan dengan hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, tentu masyarakat di Desa Uzuzozo tidak menginginkan agar padi dan jagung mati . Karena itu, bagi mereka kondisi yang hampir . ang ditunjukkan melalui kata tidak . masih bisa tertangani dengan pengucapan mantra baris keempat, yakni agar tumbuh kembali . ai tembu waz. Oleh karena itu, kata tidak . di sini mengandung makna belum dan masih memberikan isyarat bahwa masyarakat harus lebih hati-hati karena kondisi yang dimaksudkan tersebut selanjutnya mungkin dapat terjadi. Mantra Tahan Angin (Ine KoAoo Ang. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende Data 4: Sai ata mbeAoo ine koAoo angi Siapa yang tahu induknya angin Angi pongga ndee raze Angin bertiup ke barat Angi pongga ndewe mena Angin bertiup ke timur Angi pongga ndewe reta Angin bertiup ke utara Angi pongga ndewe zau Angin bertiup ke selatan JaAoo ata mbeAoo siAoi duAou Saya yang tahu suruh berhenti Mantra tahan angin pada data . di atas berbentuk wacana percakapan. Percakapan antara pronomina persona tunggal pertama saya . aAo. dengan seseorang yang diajak bicara, yang dalam mantra di atas disebut sebagai pronomina persona kedua, siapa . ai?). Seseorang yang diajak bicara sebagai pronomina persona kedua tersebut bermakna jamak, karena siapa . ai?) dapat mengacu pada orang yang tak tentu, yakni bisa mengacu pada kalian, kamu, sekalian, atau Anda sekalian. Jadi, acuannya kepada seseorang yang bisa berada dalam kumpulan orang. Siapa mengetahui induk atau asal muasal angin, dari empat penjuru mata angina, entah di timur, barat, utara, maupun selatan agar dapat menghentikannya. Mantra Jaga Rumah (Jaga SaAo. Data 5: Nge kau ndewe raze Jauhlah kau ke barat WaAou kau ndewe zau Turunlah kau ke selatan Ndeka mata maAou Di tepi pantai Paze kau ndewe raze Jalanlah kau ke barat Ndeka eko ae Di ekor air Ndaza kau ndewe mena Arahlah kau ke timur STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Acuan kebahasaan yang jamak pada data mantra . di atas, dipertegas lewat wacana mantera selanjutnya yang mengacu pada empat arah mata angin yang berbeda, yakni barat . , timur . , utara . , dan selatan . Acuan kepada seseorang yang berada pada empat arah mata angin yang berbeda tersebut menunjukkan pronomina persona yang bermakna jamak. Walaupun acuannya pada orang-orang yang berada di barat, timur, utara, dan selatan, namun semuanya tetap tunduk pada pesan yang disampaikan oleh orang . aAo. sebagai pronomina persona pertam. Dalam konteks pemerintahan, misalnya peran sebagai pemerintah tampak dalam diri saya . aAo. dan peran yang diperintah . ada pada diri sesorang . Mantra . merupakan mantra yang digolongkan sebagai wacana percakapan yang meliputi proses penyampaian pesan oleh saya kepada orang lain . untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan . ataupun tidak langsung . elalui medi. Media yang dimaksudkan di sini adalah media lisan. Oleh karena itu, terbangunlah sebuah komunikasi, hubungan, penyampaian dan penerimaan pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, dua lembaga atau lebih yang memungkinkan sebuah pesan itu bisa diterima atau dipahami. Komunikasi adalah suatu proses dinamis untuk memahami dan menanggapi tingkah laku manusia baik yang verbal maupun yang nonverbal, dan bukan mengenai katakata saja, tetapi juga tentang perilaku orang. Data 6: Naru si ngere jaAoo naAou Diamlah seperti saya pesan Ndeka rewo temu sai deso Ke tempat lain jangan lagi merambat Pe kau mbera embe sai Hai kau padam sudah Perintah pada mantera . di atas terasa kuat ketika baris pertama mantra pada data . menggunakan kata seru diam . , tenang . te sa. , dan hai . untuk menyarakan seruan atau perintah. Kalau dibubuhi tanda seru (!), maka mantra di atas jelas menyatakan kesungguhan emosi yang kuat dari saya . aAo. pada data . yang sekaligus berfungsi untuk memerintah angin . agar diam dan tenang. Bahkan, agar tidak berpindah ke tempat yang lain. Mantra Waktu Melahirkan (Ngai Sia An. Data 7: Sai ata soAoi Siapa yang angkat ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende Bobi ata soAoi Bobi yang angkat Tiwe ata towa Tiwe yang buka Ndozu ata poru Laba-laba yang kasih turun Semba ata dhemba Semba yang kebas Berbeda dengan mantra pada data . di atas, acuan mantra pada data . ini mengacu pada orang yang dibicarakan atau pronomina persona Pronomina persona ketiga yang bermakna jamak karena membutuhkan kehadiran lebih dari satu orang . , sekaligus menyatakan kumpulan, atau lebih dari satu orang. Kumpulan orang . yang sedang diajak berkomunikasi adalah Bobi. Tiwe. Ndozu, dan Semba. Dalam aspek komunikasi, keempat persona di atas disebut sebagai komunikan atau mitra tutur saya . Masing-masing komunikan mempunyai peran dan tanggung jawab yang berbeda, yakni Bobi bertugas untuk mengangkat. Tiwe bertugas untuk membuka. Ndozu bertugas untuk menurunkan, dan Semba bertugas untuk mengebas. Tugas yang akan diemban oleh keempat komunikan adalah membantu seseorang ibu hamil yang sedang melahirkan. Tujuannya aga proses melahirkan . dapat berjalan aman dan lancar. Mantra Urat Bengkak (Ura Bow. dan urat putus (Ura Ngget. Data 8: Sai ata mbeAoo Siapa yang tahu Ine koAoo ura bowa Induknya urat bengkak Moso muna ki Busuklah dia Ngera bea ki Hancurlah dia Eku mbeju ki Lunakkan dia Keta ngga ki Dinginkanlah dia Ine koAoo ura nggeti Induknya urat putus Dhuki wazo si STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Sambung lagi sudah Seperti halnya mantra secara umum yang mengandalkan kemujarabannya pada kekuatan verbal atau kekuatan kata-kata, maka mantra penyembuhan urat bengkak . ra bow. dan mantra penyambungan urat putus . ra ngget. pada data . di atas mengandalkan kekuatannya pada kekuatan kata-kata. Dapa dibaca bahwa kekuatan penyembuhan urat bengkak berada pada penggunaan kata-kata: busuk, lunak, dan dingin. Tiga deretan kata ini digunakan karena secara proses penyembuhan busuk . ang mungkin menyerupai benda seperti bat. mengalami proses pelunakan atau pencairan, dan akhirnya mengalami proses pendinginan. Penggunaan kata sambung . menandaskan sebuah seruan, bahkan perintah yang harus segera dilakukan kepada orang yang membuat putus urat orang lain . idak dituturkan dalam mantera . untuk menyambung kembali urat yang putus. Dalam mantra, katakata berkuasa, karena dari sanalah muncul kemampuan seni yang merupakan corak partisipasi dalam menggapai kekuasaan atau keuntungan. Komunikasi seperti ini merupakan proses penerusan kembali cara komunikasi tradisional atau budaya lisan bagi pertukaran informasi antarbudaya yang berbeda (Eilerz, 1995:. Mantra Tahan Hujan (Taha Ur. Data 9: Ru ruma nuka Arus awan naik Sesi meti zia Tutup kering lubang TuAou ngere mbue seo Kering seperti kacang goreng Mara ngere awu zapu Kering seperti abu dapur Mutu pota mara ngera Kumpul hilang kering menyebar Siko sia zera singga Buka terang matahari bersinar Dari aspek bentuknya, mantra tahan hujan . aha ur. pada data . di atas memiliki persajakan . pada setiap akhir baris. Persajakan bunyi yang dimaksudkan adalah persajakan bunyi vokal a, u, a, o, u, a, dan a, masing-masing terdapat pada kata: nuka, mutu, zia, seo, zapu, ngera, dan singga. Persajakan . pada kata-kata di atas membantu mempertegas dan memperkuat susunan baris-baris mantra, sekaligus akan membantu kohesivitas dan keterjalinan ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Bala dan Hua Ae Mantra Bahasa Ende hubungan antara baris yang satu dengan baris yang lain. Secara khusus, pengulangan bunyi . pada mantra di atas disebut asonansi, karena terdapat kombinasi bunyi-bunyi vokal pada akhir kata setiap baris yang sekaligus memberikan penekanan atas apa yang dimaksudkan oleh pawang atau dukun. Mantra Pasang Jerat (Tona Raw. Data 10: Tena nggena Pasang kena Peri bedhi Bambu menjepit SoAoo poa nggena Besok pagi kena Wengi rua bhedhi Lusa terjepit Ndewe raze kau maAoe nge Ke barat kau jangan pergi Ndewe zau kau maAoe waAou Ke selatan kau jangan turun Mai ndewe ndia Datanglah ke sini Ndeka roe riAoa Ke tempat bahagia Berdasarkan bentuknya, mantra pasang jerat . ona raw. pada data 11 di atas mengandung beberapa bentuk bahasa mantra. Pertama, terdapat pernyataan yang menunjuk pada keterangan waktu, yakni pada besok pagi . oAoo po. , dan lusa . engi ru. Kedua, terdapat pernyataan yang menunjuk pada keterangan tempat, yakni pada ke barat . dewe raz. , ke selatan . dewe za. , ke sini . dewe ndi. , dan tempat bahagia . oe riAo. Ketiga, terdapat pernyataan yang berisikan larangan pada jangan turun . aAoe waAo. Simpulan Setelah proses analisis data tentang mantra bahasa Ende di Desa Uzuzozo Kabupaten Ende, maka disimpulkan bahwa mantra-mantra di Desa Uzuzozo yang dijadikan sebagai sampel, pada umumnya berbentuk syair, karena pola persajakannya adalah a-a-a-a, dan baris-baris pada mantra tersebut merupakan rangkaian isi atau pesan. Secara khusus, mantra-mantra tersebut mengandung pronomina persona, terutama penggunaan pronomina persona kedua dan pronomina persona ketiga, menggunakan unsur pengulangan atau repetisi. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 memiliki persajakan . , terutama asonansi, yakni persajakan bunyi vokal pada akhir kata dalam baris, dan berisi pernyataan yang memiliki keterangan waktu, keterangan tempat, dan pernyataan larangan. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada reviewer yang telah memberikan input berharga demi kesempurnaan artikel ini dan berbagai pihak yang terlibat dalam. Rujukan Badudu. Jus. Sari Kesusastraan Indonesia 1. Bandung: Pustaka Prima. Danandjaja. James. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip. Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti. Eddy. Tusthi Nyoman. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Ende: Nusa Indah. Eilerz. Yosef-Franz. Berkomunikasi Antara Budaya. Ende: Nusa Indah. Ruhesi dan Sunoto. Nilai Budaya dalam Mantra Bercocok Tanam Padi di Desa Ronggo. Kecamatan Jaken. Kabupaten Pati. Jawa Tengah: Kajian Fungsi Sastra. BASINDO: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra Indonesia dan Pembelajarannya. Volume No. 1AeApril 2017 (Onlin. , (Https: //w. id, diakses 26 November 2019. Bandel. Katrin. Sastra. Perempuan. Seks. Yogyakarta: Jalasutra. Mbete. Meko Aron, dkk. Khazanah Budaya Lio-Ende. Ende: Pustaka