LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. MEMPERKUAT PENGGEMBALAAN PENTAKOSTA BAGI PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA BERDASARKAN MATIUS 9:35-38 Kornelis Ruben Bobo. Th. Sekolah Tinggi Teologi Berea. Salatiga kornelisbobo@yahoo. ABSTRAKSI Artikel ini berjudul Memperkuat Pengembalaan Pentakosta bagi Pendidikan Kristen di Indonesia berdasarkan Matius 9:35-38. Tujuan penulisan artikel ini adalah agar setiap Pendidik Kristen di Indonesia dapat memperkuat Penggembalaan Pentakosta bagi Peserta Didiknya. Setiap Peserta Didik Kristen dapat digembalakan secara misional dan holistik. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber yang kompatibel dan berbagai literatur yang mendukung. Penulis menemui bahwa Matius 9:35-38 tidak hanya dipahami sebagai strategi penginjilan dan pelayanan yang terintegrasi, tetapi juga dipahami sebagai suatu teks yang menekankan Penggembalaan Pentakosta bagi Pendidikan Kristen di Indonesia. Frase. Aukarena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembalaAy . memberikan petunjuk bahwa dalam realita dan dinamika hidup Peserta Didik Kristen di Indonesia, berdasarkan survei, berita dan pengamatan yang ditemui penulis, kerapkali mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Oleh karena itu, mereka perlu digembalakan. Mereka adalah jemaat yang menggereja di sekolah. Sekolah harusnya dipandang sebagai Dengan demikian, setiap Pendidik Kristen pun perlu semakin diperkuat untuk menggembalakan setiap peserta Didik Kristen di sekolah. Mereka tidak hanya mengemban jabatan struktural, tetapi juga peran fungsional yang dimainkan di mana setiap Pendidik Kristen perlu menggembalakan Peserta Didiknya secara misional dan holistik. KATA KUNCI: Pengembalaan Pentakosta. Peserta Didik Kristen. Pendidik Kristen. Pendidikan Kristen di Indonesia. Matius 9:35-38. ABSTRACT This article is entitled Strengthening Pentecostal Pastoralism for Christian Education in Indonesia based on Matthew 9:35-38. The purpose of writing this article is so that every Christian Educator in Indonesia can strengthen Pentecostal Pastoral Care for their Students. Every Christian Student can be shepherded missionally and holistically. This article uses a qualitative descriptive method using compatible sources and various supporting literature. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. The author finds that Matthew 9:35-38 is not only understood as an integrated evangelism and ministry strategy, but is also understood as a text that emphasizes Pentecostal Pastoralism for Christian Education in Indonesia. The phrase, "because they are tired and abandoned like sheep without a shepherd" . provides an indication that in the reality and dynamics of the lives of Christian Students in Indonesia, based on surveys, news and observations that the author encountered, they are often tired and abandoned like sheep that not shepherded. Therefore, they need to be grazed. They are the congregation who attend church at school. Schools should be seen as churches. Thus, every Christian educator needs to be strengthened to shepherd every Christian student in school. They not only carry out structural positions, but also play functional roles where every Christian Educator needs to shepherd his students missionally and holistically. KEYWORDS: Pentecostal Pastoralism. Christian Student. Christian Educators. Christian Education in Indonesia. Matthew 9:35-38. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. PENDAHULUAN Dinamika kehidupan seseorang ketika di bangku pendidikan memungkinkan seseorang bisa stress. Dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, yang bertajuk AuStudi tentang Stress Akademik pada Peserta Didik Kelas Vi SMP Negeri 18 Pontianak,Ay keempat penulis, yakni Rosanti. Purwanti. Luhur Wicaksono dalam pendahuluan tulisan mereka menyebutkan bahwa: Dalam dunia pendidikan peserta didik diwajibkan untuk mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang diterapkan pada sekolah dan peserta didik juga diharapkan dapat memaksimalkan prestasinya disekolah. Tidak hanya itu, banyak peserta didik yang juga mendapat dorongan dari keluarga untuk mendapatkan prestasi akademik dan mempertahankan prestasi tersebut. Oleh karena banyaknya dorongan tersebut tidak sedikit peserta didik yang tidak nyaman, merasa tertekan dan merasa terbebani oleh keadaan yang mengharuskannya sempurna di sekolah hingga terjadilah stres belajar atau yang sering disebut dengan stres akademik. Lebih lanjut disebutkan bahwa penyebab para peserta didik mengalami stress ketika tuntutan akademik dari pihak sekolah dengan tuntutan prestasi dari pihak keluarga lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan dari pihak peserta didik . aca: siswa dan mahasisw. itu Stress akademik dapat dilihat dari respon perubahan perilaku, penurunan kognitif serta ketidakstabilan emosional mereka. Pada Oktober 2023, media sosial khusus daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dihebohkan dengan sebuah berita tentang seorang anak perempuan mahasiswa. Tepatnya di Facebook atas nama AuDelima AnahidaAy memposting beberapa foto tentang seorang mahasiswi di Poltekes Kupang bunuh diri dengan melompat dari jembatan Liliba. Kupang. Awalnya penulis mendapatkan informasi ini melalui grup WA Sumba, yaitu IKALSABDA. Beberapa rekan di Grup IKALSABDA memberikan komentar demikian. Ausungguh mirisAgenerasi ini sangat rapuhAketika menemui kegagalan yang ada putus asa dan bunuh diriAy sembari memberikan emotikon nangis dan sedih. Yang lain berkomentar dengan nada dugaan. Aufaktor malu dengan keluarga dan teman-teman sehingga almarhum melakukan Ay Hingga Pdt. Rostiana Zogara, salah satu hamba Tuhan GSJA yang tinggal di Depok dan salah satu anggota di Grup IKALSABDA menanggapi. Autertekan dan malu sudah pasti, tapi khan bukan itu jalan keluarnyaA. Karena rapuh dan putus asa jadi ambil jalan pintas,Ay demikian ia lebih lanjut tandaskan. Penulis cek kebenarannya di beberapa Website seperti Merdeka. com, menulis. Aubatal wisuda, mahasiswa lompat dari jembatan liliba. Ay Kemudian di Website katantt. com, menulis AuDiduga stress. Mahasiswa Poltekes Kupang Coba Bunuh Diri di Jembatan Liliba. Ay Hingga Website ExpoNTT dan Detik. com menceritakan kronologi dan sosok mahasiswi Poltekes yang Rosanti. Purwanti. Luhur Wicaksono. AuStudi Tentang Stress Akademik pada Peserta Didik Kelas Vi SMP Negeri 18 Pontianak,Ay Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (September 2. : 1576. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. nekat bunuh diri tersebut. Berdasarkan beberapa sumber tersebut, diketahui bahwa alasan utama mahasiswi Poltekes itu bunuh diri karena ia mendapatkan nilai merah di salah satu Mata Kuliah sehingga mengakibatkan ia batal wisuda. Penulis pun mengkonfirmasi kejadian itu kepada pihak keluarga di Kupang. Ternyata itu Hal mengejutkan, setelah diselidiki, mahasiswi tersebut adalah seorang anak muda yang beragama Kristen. Kita tahu bahwa kekristenan mengajarkan tentang Yesus yang memberikan harapan bukan? Mengapa ada pelajar Kristen yang stress hingga memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup mereka, alias bunuh diri? Beberapa bulan terakhir ini. Indonesia pun kembali dihebohkan dengan berita dua anak muda, mahasiswa dan mahasiswi bunuh diri. Pertama, pada tanggal 18 September 2024, seorang Mahasiswi di Universitas Ciputra. Surabaya dengan inisial NS bunuh dengan lompat dari lantai Berdasarkan informasi, ia bunuh diri karena putus cinta dengan pacarnya. 2 Kedua, pada 1 Oktober 2024, anak dari Pdt. Ronald Daniel, yaitu Raphael David Daniel, juga bunuh diri dengan lompat dari lantai 12 Gedung Q di PCU (Petra Christian Universit. Menurut informasi, ia bunuh diri karena selama ini ia mendapat perundungan dan bully. Yang menarik adalah Bilangan Research Centre (BRC) telah melakukan survei pada tahun 2017 kepada 4. 095 responden berusia 15-25 tahun di 42 Kota dan 7 Koridor Wilayah (Sumatra. Kalimantan. Sulawesi. Jabodetabek. Jawa. Maluku Papua. Bali Nusr. Dalam buku yang berjudul. Dinamika Spiritualitas Generasi Muda Kristen Indonesia,4 hasil yang ditemui oleh BRC. Auresponden yang mengakui bahwa pengaruh personil di sekolah untuk membawa mereka kepada Kristus sangatlah kecil yakni 1,5%. Itu pun, faktor guru yang peduli terhadap kerohanian murid tidak terlalu berkorelasi dengan kerohanian generasi muda, yakni hanya 0,10,2 %. Temuan lain yang mengejutkan dari BRC adalah persentasi responden yang berpikir bunuh diri di sekolah-sekolah Kristen justru lebih tinggi dibanding responden yang sekolah di kantong-kantong non-Kristen. Misalnya sekolah-sekolah Kristen di Jabodetabek . ,6%) dan di Maluku Papua sebesar . ,7%) dibanding sekolah-sekolah non-Kristen di Jabodetabek dan Maluku Papua sebesar 20,4%. Disebutkan tiga alasan utama mengapa mereka pernah berpikir untuk bunuh diri, yaitu masalah keluarga . etidakharmonisan, penuh dengan konflik, tidak kondusif untuk pertumbuhan ima. , stress dan masalah kehidupan . eks dan kekerasan seksua. Mencermati hasil survei ini. BRC pun mempertanyakan. Apakah peran guru sebagai gembala tidak dialami oleh peserta didik Kristen ini? Atau sebaliknya, kehidupan kerohanian mereka tidak bergantung kepada seberapa besarnya kepedulian pendidik kepada peserta didik yang membutuhkan? Mahasiswa UC Bunuh Diri, dikutip dari https://w. com/jatim/berita/d-7547378/7-fakta-pilumahasiswi-uc-lompat-dari-lantai-22-usai-putus-cinta diakses pada tanggal 1 November 2024. Anak Pendeta Ronald Daniel meninggal, dikutip dari https://beritajatim. com/mahasiswa-yang-akhirihidup-di-kampus-petra-ternyata-pernah-jadi-korban-perundungan diakses pada tanggal 1 November 2024. Bambang Budijanto, ed. Dinamika Spiritualitas Generasi Muda Kristen Indonesia, (Jakarta: Yayasan Bilangan Research Centre, 2. , hal. 17-18 dan 107-110. Budijanto, ed. , hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Bertolak dari pengamatan, peristiwa faktual hingga beberapa survei di atas, penulis akhirnya menyadari agar setiap Pendidik Kristen di Indonesia memperkuat penggembalaan Pentakosta bagi peserta didik Kristen secara misional dan holistik. Penguatan Penggembalaan Pentakosta ini harus dimulai dari Pendidikan Tingkat Dasar hingga di Perguruan Tinggi. Dalam Matius 9:35-38, khusus ayat 36, disebutkan. AuMelihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ay Sementara pada ayat 35. Matius menyebutkan tiga pelayanan Yesus ketika berkeliling ke semua desa dan kota yaitu mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Sorga dan melenyapkan segala penyakit. Namun, faktanya. Yesus masih melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Demikian juga dalam konteks Pendidikan Kristen, mengapa masih terdapat peserta didik yang Aulelah dan terlantar?Ay Mereka stress, mendapatkan perundungan dan bully hingga mengambil keputusan yang fatal yakni bunuh diri. Selain edukasi pengetahuan dan moral, apalagi yang perlu diperkuat dalam Pendidikan Kristen di Indonesia? Penulis mencermati beberapa tulisan lain ketika memahami Matius 9:35-38 sebagai suatu strategi penginjilan Yesus. Paling tidak dalam tiga strategi. Yang pertama, setiap orang percaya perlu memiliki belas kasihan sebagai dasar dalam pemberitaan Injil. Strategi kedua, setiap orang percaya perlu bergerak menjangkau segala tempat. Hingga strategi ketiga adalah setiap orang percaya perlu memberitakan dan mengajar tentang Injil Kerajaan Sorga. Selain itu, ada pula yang memahami Matius 9:35-38 sebagai pelayanan misi yang Terutama dalam kalangan kaum Injili, paradigma misi yang terintegrasi dibangun berdasarkan fakta bahwa pengajaran dan mujizat yang Yesus lakukan selama pelayanan-Nya, membuktikan bahwa kuasa perkataan dan karya-Nya adalah bukti otoritas-Nya sebagai Mesias. Anak Allah. Jadi, jika selama ini, pelayanan Yesus hanya dipandang sebagai Pribadi yang memberitakan kabar baik dan menjadikan semua bangsa murid Yesus. Maka gagasan ini kemudian diperluas dalam dua tanggungjawab yaitu penginjilan rohani dengan memberitakan Yesus adalah Juruselamat dan tanggungjawab sosial di antara masyarakat. Sejak tahun 1970, kedua tokoh tersohor yaitu Samuel Escobar dan C. Rene Padila mencetuskan pelayanan misi yang terintegrasi. Nah. Matius 9:35-38 dikonfirmasi sebagai acuan tentang pelayanan misi yang terintegrasi yaitu melalui proklamasi kasih Allah dengan demonstrasi Injil yang diperlihatkan dalam bentuk perbuatan kasih dan kebaikan yang terintegrasi dalam setiap aspek kehidupan. Penulis sendiri menyelidiki bahwa Matius 9:35-38 tidak hanya dipahami sebagai sebuah strategi penginjilan, juga bukan hanya sebagai pelayanan yang terintegrasi, tetapi mempunyai makna penggembalaan Pentakosta yang misional dan holistik. Yang dimaksud dengan penggembalaan Pentakosta yang misional dan holistik artinya pelayanan yang bergantung Samuel Purdaryanto. Hariyanto Hariyanto. Deice Miske Poluan. AuStrategi Misi Penginjilan Yesus: Sebuah Studi Eksposisi Matius 9:35-37. CHARISTHEO Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Februari 2. : 219-223. Yosep. AuTinjauan terhadap Konsep Pelayanan Misi yang Terintegrasi Berdasarkan Pelayanan Yesus dalam Matius 9:35-38,Ay STT SAAT Institutional Repository (September 2. : 1-11. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kepada Roh Kudus untuk peka dan peduli dalam merengkuh kelelahan dan keterlantaran peserta didik Kristen tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga dalam aspek, pikiran, perasaan, emosional hingga tindakan. Aspek holistik pun mencakup latar belakang hidup manusia: pola asuh di masa kecil, keluarga, pendidikan, budaya, karakter, cara berpikir, figur, dan sejumlah aspek terkait lainnya. Sementara misional berarti para pendidik Kristen perlu mempunyai mentalitas membangun, memulihkan dan menyelamatkan agar peserta didik hidup sesuai rancangan Tuhan. Selain dipahami sebagai teks yang mengandung sebuah strategi penginjilan dan pelayanan yang terintegrasi, kedua kelompok yang memahami Matius 9:335-38 di atas, terlalu berfokus pada ketiga pelayanan Yesus, yaitu mengajar, memberitakan Injil dan menyembuhkan segala penyakit. Sementara, pada ayat 36, terdapat satu frase yang tidak kalah penting, yaitu Aulelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ay Penulis ingin membuktikan bahwa Matius 9:35-38 mengandung pesan urgensi bagi setiap Pendidik Kristen untuk memperkuat penggembalaan Pentakosta bagi Peserta Didik Kristen di Indonesia secara misional dan holistik. Demi terarahnya penelitian ini, penulis memberikan dua rumusan masalah: Pendidikan Kristen Memperkuat Penggembalaan Pentakosta bagi Peserta Didik Kristen di Indonesia secara Misional dan Holistik Mencermati Matius 9:35-38 khusus frase Aumereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembalaAy sebagai acuan dalam memperkuat Penggembalaan Pentakosta yang Misional dan Holistik bagi Peserta Didik Kristen di Indonesia. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. METODE PENELITIAN Untuk menyelesaikan rumusan masalah di atas, maka penulis menggunakan metode kualitatif Ae deskriptif secara normatif. Artinya, dalam proses penulisan, akan menggunakan sejumlah literatur yang mendukung penulisan ini. Eksegesis Matius 9:35-38, melalui studi hermeneutika akan mempertimbangkan konteks historis dan konteks sastra dari teks ini. PEMBAHASAN DAN HASIL EKSEGESIS MATIUS 9:35-38 Konteks Historis Injil Matius ditulis oleh Matius, salah satu murid Yesus. Sebelum menjadi murid Yesus, ia menjadi pemungut cukai. Hal ini ditegaskan dalam Matius 9:9-10. Matius 10:3 dan Lukas 5:27. Para bapak gereja seperti Irenius. Eusebius pun sepakat bahwa Matius, pemungut cukailah Kitab Injil Matius diperkirakan ditulis pada tahun 60-70 sM di Antiohkia. Kitab ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi. Donald A. Carson dan Douglas J. Moo menegaskan Aukarena kitab ini memperlihatkan begitu banyak ciri-ciri Yahudi, sulit membayangkan bahwa si pengarang terutama sedang menulis untuk pembaca bukan Yahudi. Ay9 Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa Matius pun menulis untuk jenis-jenis pembaca tertentu, dan bukan hanya pembaca lokal. Tentang kemungkinan pembaca selain Yahudi ini. Richard Bauckham menegaskan bahwa kitab-kitab Injil, pertama kali ditulis untuk dibaca oleh seluruh orang Kristen. Adapun tujuan penulisan kitab Injil Matius dirangkum oleh Carson dan Moo dalam lima Pertama. Yesus adalah Mesias. Anak Daud. Anak Allah. Anak Manusia. Imanuel, sebagaimana yang ditunjuk oleh Perjanjian Baru. Kedua. Matius ingin menunjukkan kepada banyak orang Yahudi, terutama para pemimpin Yahudi yang tidak mampu mengenali Yesus selama pelayanan-Nya justru menolak-Nya. Ketiga. Matius ingin menegaskan bahwa Kerajaan akhir zaman yang dijanjikan telah muncul, dibuka oleh kehidupan . , kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke sorga. Keempat. Matius ingin mengajarkan bahwa pemerintahan mesianik ini sedang berlanjut dalam dunia ketika orang-orang percaya, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, tunduk pada otoritas Yesus, mengatasi pencobaan, bertahan terhadap penganiayaan, menerima ajaran Yesus, dengan segenap hati, dan dengan demikian, menunjukkan bahwa mereka mengangkat tempat Donald A. Carson & Douglas J. Moo. An Introduction to the New Testament. Cetakan Pertama, (Malang: Gandum Mas, 2. , 155-58. Ibid. , 174-75. Richard Bauckham, ed. The Gospel for All Christian: Rethinking the Gospel Audiences, (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , mengutip dari buku Craig S. Keener. A Commentary on the Gospel of Metthew, (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 45-51. Carson & Moo, 176-77. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. sesungguhnya dari umat Allah dan saksi sejati kepada dunia tentang Injil Kerajaan. Kelima. Matius ingin menyingkapkan bahwa pemerintahan mesianik ini bukan saja merupakan penggenapan harapan Perjanjian Lama, melainkan juga pendahuluan dari Kerajaan sempurna, yang akan muncul pada saat Yesus Sang Mesias datang lagi secara pribadi. Konteks Sastra Dalam pembukaan Kitab Injil Matius 1:1, disebutkan AuInilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Ay Menurut Merril C. Tenney. Aukalimat ini mengingatkan pada salah satu bagian dalam Kitab Kejadian yang dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan menggunakan kata-kata yang sama. AuDemikianlah riwayat A,Ay atau AuInilah daftar keturunan AAy (Kej. 2:4. 5:1. 6:9, ds. Ay12 Tenney lebih lanjut menegaska bahwa Matius meneruskan urut-urutan ini yang kemudian melukiskan peruwujudannya dalam diri Yesus. Kedatangan Yesus ini diceritakan sedemikian rupa untuk membuktikan perwujudan janji ilahi yang dinyatakan di dalam Perjanjian Lama dan yang terwujud sebagaian di dalam proses historis yang mendahului kelahiran-Nya. Dalam Injil Matius. Yesus kerapkali melakukan pelayanan dalam bentuk berkhotbah, mengajar dan menyatakan mujizat-Nya. Melalui sejumlah khotbah dan mujizat yang Yesus lakukan, diharapkan orang Yahudi menerimanya. Oleh karena itu. Injil Matius bukan berisi potongan-potongan ajaran, mujizat, dan cerita yang tidak beraturan, tetapi disusun dalam kesatuan yang bermakna demi memperlihatkan bagaimana Mesias menunaikan tugas-Nya di dunia ini. Lagian setiap perbuatan ajaib baik yang dilakukan Yesus maupun murid-murid-Nya bukan bermaksud untuk pamer kekuasaan musiman yang tidak bertujuan. Sebab Yesus berusaha untuk mengajar masyarakat dan memperkenalkan suatu rencana tentang Kerajaan-Nya, bukannya hendak membingungkan mereka atau membuat mereka mengaguminya. Demikian yang ditegaskan lebih lanjut oleh Merril C. Tenney. Ro. Woo Ho menyatakan bahwa AuDi antara banyak hal yang dilakukan oleh Yesus. Matius khususnya menangani pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya. Juga mencatat perintah Yesus untuk mengajar. Yesus memilih murid, berarti melakukan pendidikan. Tuhan bukan hanya Tuhan kita, tetapi sebagai Guru. Dia mengajar kita. 14 Jika Yesus dipandang sebagai Guru, maka setiap orang Kristen yang berprofesi sebagai Guru di dunia Pendidikan, perlu meneladani Yesus. Sang Guru Agung. Matius 9:35-38 merupakan salah satu teks yang mengandung unsur pendidikannya, bahkan pendidikan yang melayani secara misional dan holistik. Berikut, penulis akan analisa teks ini lebih lanjut. Merril C. Tenney. Survei Perjanjian Baru. Cetakan Ketujuh. Malang: Gandum Mas, 2. , 184-88. Tenney, 186-89. Ro. Woo Ho. Mengertikah Apa yang Engkau Baca? Teori dan Praktik Pembacaan Alkitab Secara Menyeluruh, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2. , 70. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Analisa Struktur Teks Oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia, perikop dalam Matius 9:35-38 adalah Belas kasihan Yesus terhadap Orang Banyak. Berikut adalah isi perikop itu dan struktur teksnya. 9:35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan [ Yesus berkeliling ke semua ] desa. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan [ Ia ] memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta [ Ia ] melenyapkan segala penyakit dan [ melenyapkan segala ] kelemahan. 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan [ karena mereka ] terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 9:37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: AuTuaian memang banyak , tetapi pekerja sedikit. 9:38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Ay Setelah mencermati Matius 9:35-38 di atas, dapat dianalisa beberapa hal. Pertama, pada ayat 35, ketika Yesus berkeliling ke semua desa dan kota, tiga hal yang Ia lakukan, yaitu Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat. Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga. dan Yesus melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Kedua, pada ayat 36, disebutkan bahwa ketika Yesus melihat orang banyak itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Mengapa? Dua alasannya, yaitu karena menurut penglihatan Yesus, orang banyak itu lelah dan terlantar. Hingga Yesus menggambarkan mereka Auseperti domba yang tidak bergembala. Ay Ketiga, pada ayat 37-38, secara tidak langsung. Yesus sedang mengimpartasikan hati yang penuh belas kasihan atau menaruh beban. Autongkat estafetAy pelayanan kepada murid-murid128 LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Nya melalui pernyataan ini. AuTuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Ay Kemudian Yesus melanjutkan dengan ajakan sekaligus doa untuk meminta kepada tuan, agar AuIa mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Ay Sebagai kesimpulan dari sub pembahasan ini, penulis ingin mengutip pernyatan Matthew Henry, bahwa AuPerikop ini merupakan pendahuluan atau pengantar bagi pasal berikutnya yang menceritakan tentang Kristus mengutus-rasul-rasul-Nya. Ay15 Jadi, perikop ini bukanlah sebuah perikop yang berdiri sendiri. Karena, itu, berikut, penulis akan eksegesis Matius 9:35-38. Eksegesis Matius 9:35-38. Ayat 35: Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Teks Yunani (Bible Hu. : 35 o aIA A EC EC AUAC AEC EC aC. EO a EnC EIOnC aE. AsEEO E Aa EIC EAC, asO AE UE AE a E . Ayat 35 dimulai dengan kata Audemikianlah. Ay Kata Yunani yang dipakai adalah kai artinya: Audan, tetapi. Ay Kata ini adalah kata penghubung yang menunjukkan keterkaitan dan kesinambungan dengan ayat-ayat sebelumnya. LAI menerjemahkan dengan AudemikianlahAy yang menunjukkan sebuah kesimpulan atau laporan atas apa yang telah dilakukan Yesus di ayat-ayat sebelumnya atau konteks dekatnya. Lebih lanjut Matthew Henry16 menambahkan bahwa penggunaan AudemikianlahAy merupakan kesimpulan dari perikop-perikop sebelumnya yang Karena dalam pasal 4:23 pun menggunakan kata yang sama. Hal ini bertujuan sebagai pengantar yang akan menjelaskan tentang ajaran-ajaran khusus Yesus dalam pasal 5-7 dan mujizat-mujizat-Nya dalam pasal 8 dan 9. Pengulangan ini mempertegas tentang inti pelayanan yang didemonstrasikan Yesus agar mereka percaya. Konteks dekat Matius 9:35-38 disokong oleh empat peristiwa di mana pada ayat 32-34. Yesus menyembuhkan seorang yang bisu. Ayat 27-31. Yesus menyembuhkan mata dua orang Ayat 18-26. Yesus menyembuhkan anak perempuan kepala rumah ibadat yang sakit Hingga di ayat 1-8. Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh. Bahkan satu pasal sebelumnya, yaitu pasal 8 juga masih didominasi oleh peristiwa Yesus menyembuhkan dan Kemudian di antara keempat peristiwa penyembuhan di pasal 9, terdapat dua kisah sisipan, yaitu Matius pemugut cukai mengikut Yesus . yat 9-. , dan AuHal BerpuasaAy . Di pasal 8 pun ada kisah sisipan yang mirip, yakni AuHal Mengikut YesusAy (Mat. 8:18-. Sementara di pasal 10:1-4. Matius memfokuskan pada proses bagaimana Yesus memanggil dan memilih kedua belas murid-Nya . :1-. Yesus mengutus kedua belas murid-Nya dengan Matthew Henry. Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14. Cetakan Kedua, (Surabaya: Momentum, 2. , 433-34. Ibid,. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kuasa dan sejumlah pesan . :5-. Lalu ayat 16-42, sebenarnya masih lanjutan dari ayat 5-15, di mana Yesus memberitahukan kemungkinan-kemungkinan adanya penolakan bahkan penganiayaan dalam melayani. Yesus berpesan kepada mereka. AuLihat, aku mengutus kamu seperti domba di tengahtengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpatiAy (Mat. Namun, orang-orang yang menyambut mereka tidak akan kehilangan upah daripadanya (Mat. Jadi. Matius 9:35-38 sangat berkaitan dengan perikop-perikop sebelum dan sesudahnya bahkan dalam konteks jauh Injil Matius. Setelah kata penghubung Audemikianlah,Ay Matius melanjutkan dengan memberikan keterangan tentang AuYesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ay Berbeda dalam Matius 4:23. Matius memberikan keterangan tempat secara spesifik daerah di mana Yesus berkeliling yaitu Galilea. Frase AuYesus berkeliling,Ay dalam tata bahasa Yunani, menunjukkan pada tindakan Dalam pengajaran, pemberitaan Injil dan menyembuhkan orang sakit. Yesus memberikan perhatian terhadap tempat-tempat terpencil dan juga tempat-tempat ibadah. Di sana. Yesus melayani berbagai orang, bukan hanya yang tinggal di kota-kota besar dan megah, tetapi juga jiwa-jiwa yang tinggal di desa-desa miskin dan terpencil. Yesus mengajar, memberitakan Injil dan menyembuhkan segala penyakit. Di tempat-tempat ibadah pun Yesus melayani. Tujuannya agar Ia dapat memberikan kesaksian kepada sidang majelis di sana, tokoh-tokoh agama seperti Ahli Taurat. Rabi, orang Farisi dan Saduki. Yesus hendak mengedukasi mereka agar pikiran mereka terbuka dan menerima kemesiasan-Nya sebagai Anak Allah. Matius 9:35 memperlihatkan tiga kata kerja pelayanan Yesus. Ketiga kata kerja itu adalah Aumengajar, memberitakan dan melenyapkan. Ay Dalam buku mereka berjudul New Bible Commentary,18 D. Guthrie, ed. , mengatakan bahwa AuTeaching, preaching and healing are the three characteristics of the ministry of Jesus. Ay Lebih lanjut Wycliffe menegaskan bahwa mengajar, memberitakan Injil dan melenyapkan segala penyakit, sebenarnya kembali menegaskan kegiatan Yesus yang dicantumkan dalam Matius 4:23,19 AuYesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Ay Ketika kata kerja ini, yaitu mengajar, memberitakan dan melenyapkan masing-masing menggunakan kata Yunani EO. AsEEO dan asO. Ketiganya merupakan kata kerja present participle active, nominative masculine singular. Menurut penjelasan Ferdinan K. Suawa, 20 dalam bukunya berjudul Memahami Gramatika Dasar Bahasa Yunani Koine, tentang penggunaan partisip. Partisip ketika berfungsi sebagai kata kerja, maka ia mempunyai tens present, future, aorist dan perfekt, tetapi saat partisip berada dalam posisi predikatif . anpa kata Charles F. Pfeffer. Everett ZF. Harrison, ed. The Wycliffe Bible Commentary: Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3 Perjanjian Baru. Cetakan Pertama, (Malang: Gandum Mas, 2. , 51. Guthrie. Motyer. Stibbs. Wiseman, ed. New Bible Commentary Third Edition. (England: Inter-Varsity-Press, 1. , 828. Harrsion, ed. , 51. Ferdinan K. Suawa. Memahami Gramatika Dasar Bahasa Yunani Koine (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. , 148-60. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. , maka partisip berfungsi sebagai kata keterangan yang bertujuan untuk memberikan keterangan terhadap kata kerja pokok. Keterangan itu berhubungan dengan waktu dan sebab Terkait ketiga kata kerja ini, ketiganya berposisi sebagai predikatif dan tidak menggunakan kata sandang. Artinya, pelayanan Yesus ini: mengajar di Sinagoge, memberitakan Injil Kerajaan Allah dan melenyapkan penyakit punya sebab akibatnya. Penyebab Yesus melakukan ketiga pelayanan ini tergambarkan dalam Matius 9:13. AuJadi pergilah dan pelajariah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang Ay Pesan yang serupa disampaikan Yesus, masih dalam Injil Matius, yaitu pasal 9:12. AuYesus mendengarnya dan berkata: AuBukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang Ay Bahkan dalam kitab Injil lainnya. Yesus pun mengatakan. Misalnya dalam Markus 12:17 dan Lukas 5:31. Sepanjang pelayanan Yesus. Ia sungguh menunjukkan kasih yang nyata kepada banyak orang. Akibatnya, banyak orang yang diselamatkan dan dipulihkan. Kata Yunani yang dipakai untuk AumengajarAy adalah EO. Pada umumnya, kata EO ini merujuk pada dua aspek. Di satu sisi berarti mencerahkan seseorang yang sedang membutuhkan petunjuk, tetapi di sisi yang lain berarti seorang guru yang sedang meyakinkan seseorang tentang sesuatu pengetahuan. Selain itu, kata ini juga berarti memberitahukan, mendemonstrasikan, membuktikan, menunjukkan bukti. Sementara bagi para Rabinik Yudaisme, penggunaan kata EO merujuk pada mengeksposisi Hukum Taurat sebagai tempat penyataan kehendak Allah, juga memberikan instruksi yang berkaitan dengan hubungan antara Allah dengan seseorang, antara seseorang dengan sesamanya agar mereka hidup berdasarkan kehendak Ilahi. Khusus dalam Perjanjian Baru, kata EO digunakan sebanyak 95 kali. Baik dalam Injil Sinoptikk. Kisah Para Rasul hingga dalam tulisan Paulus, pemaknaannya terkonsentrasi pada arti to teach, to instruct. Dalam Injil Sinoptik, penggunaan kata EO sangat memperlihatkan bagaimana Yesus berfungsi sebagai figur yang melayani. Di Sinagoge dan Bait Allah. Yesus mengajar dan memproklamirkan Kerajaan Allah. Jadi, sepanjang pelayanannya. Yesus secara konsisten mengajar dan memberitakan Injil (AsEEO). Yesus memberikan instruksi tentang kehidupan. Tujuannya adalah agar orang-orang seperti Yahudi mempunyai cara pandang berbeda tentang Yesus, bukan sebagai Mesias politik, tetapi Mesias. Anak Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari segala dosa. Yesus tidak hanya mengajar dan memberitakan Injil, tetapi dalam banyak peristiwa. Yesus pun menyembuhkan orang sakit. Dalam Matius 9:35, kata AumelenyapkanAy menggunakan kata Yunani asO yang juga adalah bentuk Present Partisip Aktif. Nominatif Maskulin Tunggal. Kata asO dari kata dasar aso, artinya mempedulikan, memperhatikan, melayani, menyembah, terapi, menyembuhkan secara khusus psikisnya. 23 Dari kata aso Gerhard Kittel, ed. Theological Dictionary of The New Testament Volume II. First Printing, (Grand Rapids. Michigan: WM. Eerdmans Publishing Company, 1. , 135-137. Ibid. , 138-40. Aplikasi Hebrew/Greek Interlinear Bible Ae Matthew 9:35. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. kita mengenal kata terapi bahkan digunakan dalam dunia medis. Jadi, terapi berarti menolong . orang lain agar mereka sembuh, melayani dan menyembah Allah. Ketika menjelaskan tentang ayat 35. William Barclay menegaskan bahwa AuYesus adalah Injil yang dibawa oleh Yesus tidak hanya berupa kata-kata, tetapi terus diwujudkan dalam perbuatan nyata. Ay24 Lebih lanjut Barclay menyimpulkan bahwa AuKalau kita membaca seluruh kitab Injil, maka kita akan temukan bahwa Yesus ternyata lebih banyak menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang lapar dan menghibur orang yang susah, ketimbang berbicara tentang Allah. Ay25 Yesus menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan di antara banyak orang merupakan kingdom blessings yang bukan hanya diterima di masa akan datang, tetapi sudah nyata dan bisa dialami masa kini. Kehadiran kesembuhan yang dikerjakan oleh Yesus akan menghancurkan setiap kejahatan manusia. Di bagian akhir ayat 35. Matius menyebut bahwa dalam pelayanan Yesus. Ia Aumelenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Teks Yunani menyebutkan, asO AE UE AE . ibaca: Therapeuo pasan noson kai pasan malakia. Penulis akan menjelaskan secara singkat kedua kata ini: penyakit dan kelemahan (UE dan ). Pertama. UE dari kata dasar nosos artinya penyakit. Kata ini muncul 11 kali dalam PB. Penggunaannya kebanyakan di Injil Sinoptik, di mana Matius sebanyak 5 kali . :23, 24. 8:17. 9:35. Markus sebanyak 1 kali . Lukas sebanyak 4 kali . :40. 6:18. 7:21. Satunya lagi di Kisah Para Rasul 19:12. Dalam penggunaan kata nosos, sakit penyakit yang disembuhkan Yesus misalnya di kitab Injil Matius, khusus pasal 8, terdapat empat penyakit orang yang disembuhkan Yesus yaitu sakit kusta . :1-. , lumpuh . :5-. , sakit demam . :1. , kerasukan . :28-. Juga di pasal 9, terdapat empat kisah di mana Yesus menyembuhkan sakit penyakit yaitu sakit lumpuh . :1-. , sakit pendarahan . :18-. , sakit buta . :27-. , sakit bisu . :32-. Demikiah juga di kitab Injil Markus dan Lukas. Dalam PL, sakit penyakit tidak ada hubungannya dengan dosa. Gagasan tentang dosa adalah suatu penyakit rohani yang tidak pernah ditemukan dalam PL. Sebaliknya moral dan rasa bersalah untuk bertobat dan datang kepada Allah itulah yang ditekankan. Berbeda dengan PB, di mana ada keterkaitan antara dosa dengan sakit penyakit. Sepanjang pelayanan-Nya, ketika Yesus menyembuhkan orang dengan berbagai sakit penyakit, itu merupakan cara Yesus menunjukkan kasih Bapa kepada orang berdosa yaitu keselamatan. Di mana berbagai penyakit disebabkan oleh banyak hal seperti pengaruh setan-setan, bencana kosmik, keadaan abnormal manusia batiniah dan juga benar-benar karena dosa. Penyakit dipandang sebagai kehilangan status hubungan dengan Allah. Jadi, ketika Yesus melayani mereka. Ia tidak hanya menyembuhkan segala penyakit tetapi juga mengampuni segala dosa mereka. Ini adalah William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari Matius Ps. Cetakan kedua. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 575. Ibid,. Frank E. Gaebelein, ed. The ExpositorAos Bible Commentary. with The New International Version Volume Grand Rapids. Michigan: Zondervan Publishing House, 1. , 120-21. Sutanto. Hasan. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid II. (Malang: Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. , 540. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. panggilan utama Yesus saat Allah mengutus-Nya ke dunia, yaitu menuntun orang berdosa dari kehancuran kepada keselamatan dan memulihkan hubungan persekutuan mereka dengan Allah. Selain penyakit yang disembuhkan Yesus, ayat 35 pun mencatat bahwa Yesus melenyapkan segala Aukelemahan. Ay Kata Yunani yang dipakai adalah dari kata artinya kelemahan karena sakit. Kata ini hanya muncul 3 kali dalam PB yaitu Matius 4:23. 9:35 dan 10:1. 29 Kata ini berarti weakness, illness, sickness. Kedua kata ini, baik sonos dan malakia menyertakan kata AE . aca: pasa. dari kata dasar AE . aca pa. artinya semua, setiap, tiap-tiap, masing-masing. Kata pas bukan kata penghubung tapi kata sifat feminim tunggal yang mencakup banyak hal. 30 Artinya, penggunaan kata pas ini terkonfirmasi dengan arti penyakit dalam PB, seperti yang dibahas di atas. Matthew Henry menafirkan bahwa penyakit dan kelemahan itu seperti kebutaan, kelumpuhan, demam tinggi, sakit busung air, disentri, batu kering, encok, batu ginjal, kejang-kejang dan sejumlah penyakit menyiksa lainnya, baik penyakit yang timbul mendadak maupun menahun. Yesus sanggup menyembuhkan semuanya. Pada zaman itu, penyakit-penyakit itu dianggap aib oleh para tabib karena kebal terhadap pengobatan yang mereka berikan. Yesus dalam pelayanan-Nya, justru melalui penyakit dan kelemahan itu, pekerjaanpekerjaan Allah dinyatakan dan memuliakan Allah. Keyakinan ini tersurat dalam Yohanes 9:3, dalam kisah AuOrang yang Buta Sejak Lahirnya. Ay Bermula dari pertanyaan murid-murid-Nya. AuRabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?Ay (Mat. Jawab Yesus: AuBukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku. AAy (Mat. 9:3-4. Penyakit dan kelemahan, selain menyatakan pekerjaan Allah, juga orang-orang yang disembuhkan hingga orang banyak yang menyaksikan penyembuhan itu, memuliakan Allah. Misalnya orang lumpuh yang disembuhkan Yesus, dalam Lukas 5:25. AuDan sektika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Ay Kemudian dalam Lukas 18:43. AuDan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. Ay (Bdk. Mat. 9:8. 15:31. Mrk. 2:12. Lks. 5:25, 26. 13:13. Ayat 36. AuMelihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ay Teks Yunani (Bible Hu. : 36 EC ENIC, aEANE a aE. IE E aEI a EA AAUE iNE A. Belas kasihan Yesus yang mendalam ini seringkali disebut sebagai yang mendorong Dia untuk melakukan mujizat. Dalam Injil Matius sendiri, frase Autergeraklah hati-Nya oleh belas kasihanAy kerapkali disebut. Misalnya dalam Matius 14:14, ketika Yesus memberi makan lima Kittel, ed. TDNT IV, 1093-095. Sutanto. PBIK Jilid II, 500. Aplikasi Hebrew/Greek. Interlinear Bible. Matthew 9:35. Henry, 142-43. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. ribu orang. Matius 5:32, ketika Yesus memberi makan empat ribu orang. Matius 20:34, dalam peristiwa Yesus menyembuhkan dua orang buta. Sebelum hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Matius menyebut satu kata kerja yang penting, yaitu Aumelihat. Ay Kata Yunani yang dipakai adalah (Ido. dari kata dasar horao artinya to see, look upon, experience, perceive, discern, beware. Kata merupakan kata kerja bentuk Aorist Participle Active Nominatif Maskulin Tunggal. Arti literalnya adalah telah Menarik bahwa pengertian kata bukan sekedar melihat tetapi mengalami pribadi dan mengetahui atau mengenal dengan jelas. Discern juga berarti ketajaman melihat dengan cara pandang yang berbeda. Jika kita sandingkan dengan kata Ibrani raa bukan saja berarti melihat, tetapi mempedulikan, memberkati, melakukan sesuatu tindakan kebaikan yang nyata. Sebagai Utusan Bapa. Yesus sangat mengenal apa kehendak Bapa bagi-Nya. Yesus tidak memandang orang banyak itu menyusahkan diri-Nya atau mengganggu waktu-waktu istrahatNya. Namun. Yesus memandang mereka sebagai orang-orang yang lelah dan terlantar. Menurut Yesus, mereka perlu pemimpin yang peka dan dapat mengarahkan hidup mereka dengan tepat. Penggunaan partisip aktif waktu lampau (Aoris. , kembali mengingatkan bahwa penggunaan kata ada sebab akibatnya. Terdapat dua alasan . yang mendorong . Yesus ketika Ia melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka. Pertama, karena Yesus melihat mereka lelah. Kedua, karena Yesus melihat mereka terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Wycliffe menafsirkan arti lelah adalah keletihan, cemas, sedangkan terlantar artinya terbaring tak berdaya, karena kelelahan dan Tetapi Yesus melihat orang-orang itu sebagai tuaian rohani yang banyak, yang membutuhkan pekerja-pekerja untuk mengumpulkannya. Kata AumelihatAy juga berarti bahwa Yesus tidak memperhatikan orang banyak yang mengikuti-Nya, tetapi orang banyak yang sambil Ia lewati dan memenuhi daerah pedesaan. Yesus memperhatikan begitu banyaknya jiwa-jiwa yang memerlukan Tuhan di kota dan desa. Belum lagi banyaknya jemaat di setiap rumah ibadah (Sinagog. serta gerbang-gerbang dipenuhi dengan banyak orang. Yesus melihat lebih dari sekedar mata visual yang mengagumi banyaknya mereka secara kuantitas. Namun. Yesus tidak melihat pelayan yang tepat mengarahkan, menuntun dan menggembalakan hidup mereka. Itu sebabnya. Yesus mengarahkan pandanganNya kepada murid-murid dan berharap mereka dapat mengerti maksud-Nya . yat 37-. Guthrie memahami ayat 36 secara umum sebagai the motive is compassion for the people of Israel without a God-given leader. Jadi. Matius 9:36 harus dibaca dalam kaca mata Bilangan 27:15-17, 15 AuLalu berkatalah Musa kepada Tuhan: 16 AuBiarlah Tuhan. Allah dari roh segala makhluk , mengangkat atas umat ini seorang 17 yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat Tuhan jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala. Ay Kemudian dalam 1 Raja-raja 22:17. AuLalu jawabnya: Telah kulihat seluruh Israel bercerai-cerai di gunung-gunung seperti dombadomba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu Tuhan berfirman: Mereka ini tidak punya tuan. bahkan masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat. Ay The Wycliffe Bible Commentary: Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 3Perjanjian Baru. Cetakan pertama, (Malang: Gandum Mas, 2. , 51. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Konteks utama Bilangan 27:15-17 adalah Musa berdoa meminta seorang penerus. Ketika Allah memberitahu dia bahwa ia harus mati, meski di tempat lain ia meminta penangguhan bagi dirinya (Ul. 3:24-. , namun, ketika penangguhan itu tidak diperoleh. Musa memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar pekerjaan Allah dapat dilanjutkan. Perhatian besar Musa tertuju kepada umat Israel Ausupaya umat Tuhan jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala. Yesus membandingkan ini dalam belas kasihan-Nya terhadap orang banyak (Mat. ketika mereka tidak mempunyai pelayan-pelayan yang baik. Jika pemimpin tidak melayani dengan seharusnya, maka umat cenderung berkeliaran dan terpencar, rentan terhadap musuh dan terancam bahaya kekurangan makanan bahkan menyakiti satu sama lainnya. Inilah yang digambarkan Auseperti domba yang tidak bergembala. Ay Dengan memahami konteks Perjanjian Lama dari Matius 9:36 ini, semakin mengafirmasi makna kata AumengajarAy di atas. Bahwa benar, umat Israel sangat perlu figur yang memimpin hidup mereka dalam kebenaran dan keselamatan. Tidak hanya pemimpin, tetapi dia yang peka untuk melihat, mempedulikan, serta sanggup untuk memberikan arahan yang benar kepada Diharapkan, hadirnya pemimpin yang demikian, mereka menjadi kuat dan tergembalakan dengan benar. Dalam konteks Bilangan 27:15-20. Herbert Wolf, 33 dalam bukunya berjudul Pengenalan Pentateukh mengulas secara singkat konteks Bilangan 27:15-20, pemilihan Yosua menggantikan Musa mengindikasikan bahwa Allah tidak ingin membiarkan umat-Nya lelah, tak berdaya dan Allah menghendaki pemimpin yang mempunyai perspektif benar termasuk ketika melihat masalah bukan jadi ancaman, tetapi kesempatan melihat kebesaran dan kemahakuasaan Allah di tengah-tengah umat-Nya. Jadi. Allah tetap ingin menggembalakan umat-Nya melalui orang-orang pilihan-Nya. Tujuannya adalah agar umat Allah kuat, diberdayakan dan terarah hidupnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Kembali kepada Matius 9:36. Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak Menurut Matthew Henry. AuBelas kasihan yang paling kristiani adalah belas kasihan terhadap jiwa-jiwa. inilah belas kasihan yang paling menyerupai belas kasihan Kristus. Ay Menurut Yesus, ada dua hal yang membuat Ia tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu, yaitu karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Penulis setuju dengan pernyataan Matthew Henry di atas. Lebih lanjut Henry menyebut makna kata AulelahAy dalam konteks pendengar saat itu, di mana AuAhli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menjejali mereka dengan gagasan yang kosong, membebani mereka dengan tradisi-tradisi nenek moyang, dan menyesatkan mereka ke dalam banyak kesalahan. Mereka tidak diajarkan mengenai kewajiban mereka dan tidak kenal luasnya hukum Ilahi dan sifat kerohanian dari hukum TauratA. , mereka tidak diberi makanan bergizi dari firman kebenaran. Ay34 Herbert Wolf. Pengenalan Pentateukh. Cetakan Pertama, (Malang: Gandum Mas, 1. , 278-80 Henry, 435-36. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Dalam konteks penerapan di dunia Pendidikan Kristen, setiap Pendidik Kristen perlu terus mengingat bahwa mengedukasi peserta didik tidak sebatas pengetahuan dan informasi akademik, tuntutan tugas dan kegiatan sekolah. Namun, pendidik Kristen terus menggaungkan luasnya kasih Allah bagi setiap peserta didik Kristen. Diperlukan kepekaan dalam mengenal dinamika kehidupan peserta didik apakah mereka dalam keadaan stabil imannya atau menurun karena masalah, tekanan hingga konflik internal mereka. Selain kata Aulelah,Ay Yesus pun menyebut orang banyak itu dengan istilah Aumereka terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ay Hal ini menggambarkan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang yang tidak mempunyai pemandu yang setia menuntun mereka ke dalam perkara-perkara mengenai Allah. Terkait gambaran Audomba yang tidak bergembala. Henry menegaskan bahwa AuTidak ada mahkluk lain yang lebih mudah tersesat , dibandingkan domba, dan apabila domba tersesat, ia semakin tidak berdaya, bingung, terancam bahaya, dan susah mencari jalan pulang. Ay Ini merupakan gambaran tentang jiwa-jiwa yang berdosa seperti domba yang hilang, mereka butuh petunjuk jalan dari gembala untuk membawa mereka pulang. Guru-guru Yahudi mengaku bahwa mereka adalah gembala, tetapi Kristus berkata bahwa mereka bukan gembala, karena mempunyai gembala seperti mereka itu lebih buruk daripada tidak mempunyai gembala sama sekali. Mereka adalah gembala-gembala malas yang menuntun orang semakin jauh dari jalan yang benar, dan bukannya membawa orang kembali pulang, mereka hanya menipu kawanan domba, dan bukannya memberi makanan. Mereka seperti gembala-gembala yang digambarkan dalam Yeremia 23:1-8 dan Yehezkiel 34:1-19. Pelayanpelayan demikian hanya mencari keuntungan diri sendiri, dan bukan kepentingan Kristus dan jiwa-jiwa. Pilihan Allah tidak sembarangan. Allah mempertimbangkan proses kehidupan di mana seseorang dipersiapkan melalui pengabdian menjadi hamba. Dalam konteks narasi Matius 9:3538. Yesus kemudian menaruh tongkat estafet kepemimpinan dan beban pengembalaan itu kepada murid-murid-Nya. Benar apa yang dikatakan oleh Pdt. Nehemiah Mimery, di mana AuYesus melihat orang banyak hidup dalam keadaan yang menyedihkan. Mereka memerlukan seorang Gembala yang Baik. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya untuk berdoa memohon agar Allah memanggil orang-orang untuk mencari yang terhilang untuk menjaga dan melindungi serta memeliharakan yang sudah diselamatkan. Ay35 Jadi, pesan yang Yesus sampaikan tidak hanya kepada murid-murid saat itu, tetapi juga kepada setiap Pendidik Kristen saat ini. Dalam percakapan dengan murid-murid-Nya. Yesus menegaskan pesanya kepada mereka sebagaimana yang disebutkan di ayat 37-38. Ayat 37-38. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: AuTuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Ay Nehemia Mimeri. Komentar Praktis Injil Sinoptis: Injil Matius Ae Markus Ae Lukas, (Jakarta Barat: Mimery Press, t. , 77. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Teks Yunani (Bible Hu. 37 TUEA A EnC EnC aE. O AAEC AsC, aAE AA 38 AEA n E IAI E AAE. IAOC aE aAEC AC E AAE aE. Pada ayat 37 ini. Yesus menggunakan gambaran pertanian. AuTuaian banyak, tetapi pekerja sedikit. Ay Hal ini dikonfirmasi oleh D. Carson sebagai salah satu kontributor penafsiran dalam buku The ExpositorAos Bible Commentary. 36 Di buku itu. Carson mengatakan bahwa jika pada ayat 36. Yesus menggunakan metafora domba, maka di ayat 37 ini. Yesus menggunakan metafora tuaian. Penggunaan metafora tuaian ini bertujuan untuk membangunkan belaskasihan yang serupa kepada murid-murid-Nya. Dengan kata lain. Yesus sedang menggugah hati mereka terhadap tuaian yang banyak itu. Kata Yunani yang dipakai untuk AutuaianAy adalah therismos, kata benda Maskulin Nominatif Tunggal dari kata kerja Therizo arti menuai. Kata therismos itu sendiri dipakai sebanyak tiga belas kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Matius digunakan sebanyak enam kali (Matius 9:37, 38. 13:30, . Selebihnya dalam Injil Markus satu kali . Injil Lukas tiga kali . Injil Yohanes dua kali . dan dalam Kitab Wahyu sebanyak satu kali . Kata therismos artinya tuaian, penuaian yang berarti proses dan waktu menuai. Yang menarik adalah pemaknaan kata therismos ini bukan berbicara tentang waktu penuaian, tetapi hasil tuian. Dengan mengacu pada kata setelah AutuaianAy yaitu Aubanyak,Ay kata Yunani yang dipakai adalah polus. Inggris: plentiful. Kembali Carson38 mengarahkan jika penempatan kata plentiful setelah kata harvest itu sedang menegaskan bahwa Auit makes sense only if here therismos does not mean Auharvest-timeAy but Auharvest-crop,Ay seperti yang digambarkan juga dalam Lukas 10:2 dan Yohanes 4:35b. Jadi, dalam persoalan tuaian yang banyak berarti banyak orang yang siap dituai untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Persoalannya adalah pekerja sedikit. Di satu sisi Yesus memberikan kabar baik bahwa banyak tuaian, tetapi di sisi yang lain Yesus menyampaikan adanya persoalan. Dimana tidak banyak pekerja yang menuai tuaian itu. Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya untuk meminta pekerja-pekerja itu kepada Bapa, yang empunya tuaian itu. Para murid Yesus adalah orang-orang yang mengasihi Yesus. Mereka perlu mempunyai belas kasihan terhadap jiwa-jiwa. Selain itu, mereka harus berdoa kepada Allah agar Dia mengirimkan pekerja-pekerja yang sangat ahli, setia, bijaksana, dan rajin untuk mengerjakan tuaian-Nya. Berdoa agar Allah membangkitkan pekerja-pekerja yang sesuai dengan kehendakNya, yakni mempertobatkan orang berdosa, meneguhkan iman orang percaya, menuntun ke jalan yang benar serta memulihkan hidup mereka. Berdoa agar pekerja-pekerjan itu bekerja bukan untuk kepentingan diri, tetapi kepentingan Kristus dan Kerajaan-Nya. Berdoa untuk melihat apa yang Yesus lihat, merasakan apa yang dirasakan Yesus, dan melakukan apa yang Yesus Frank E. Gaebelein, ed. The ExpositorAos Bible Commentary with The New International Version Volume 8, (Grand Rapids. Michigan: The Zondervan Corporation, 1. , 235. Sutanto. PBIK Jilid II, 372. Gaebelein, ed. , 235. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. 39 Bahkan berdoa agar Allah memberikan hikmat dalam menjangkau jiwa-jiwa, seperti yang dilakukan oleh gereja-gereja Pentakosta. Pentakosta itu sendiri merupakan Gerakan Kristen yang menekankan kepada jiwa-jiwa. Dalam sejarahnya. Gerakan Pentakosta telah membawa transformasi bagi umat manusia. Misalnya pada abad kedua puluh bagi masyarakat Amerika Latin. Gerakan Pentakosta telah memberikan kontribusi dalam perubahan yang sangat signifikan baik perubahan secara spiritual maupun perubahan sosial. Spitter menjelaskan bahwa terdapat lima nilai Pentakosta yang dapat dilihat dalam upaya pelayanan misi gereja Pentakosta di Amerika Latin. Salah satu nilai yang dimaksud adalah penekanan terhadap pengalaman rohani yang membebaskan. 41 Pengalaman ini merupakan pengalaman yang dikerjakan oleh Roh Kudus di mana Tuhan memerdekakan mereka dari tekanan-tekanan sosial. Jose Comblin, salah satu pemimpin agama Katolik di Amerika Latin turut mengakui bahwa The experience of God found in the new Christian communities of Latin America can properly be called experience of the Holy SpiritA. the new experience Christians are finding in those communities that aspire to the integral liberation of the peoples of the continent of Latin America is precisely an experience of the Holy Spirit. Pentakosta itu sendiri sebenarnya mengacu pada kristologi yang dianut, yaitu Full Gospel atau yang dikenal dengan istilah Injil Sepenuhnya, 43 yaitu Kristus sebagai Penyelamat. Penyembuh. Pembaptis dan Raja yang akan datang. Konstruksi kristologi Pentakosta ini sangat relevan jika diterapkan dalam konteks Pendidikan Kristen di Indonesia, terutama dalam aspek penguatan penggembalaan Pentakostasnya secara misional dan holistik. PENGGEMBALAAN PENTAKOSTA Warren W. Wiersbe. Seri Tafsiran Matius: Loyal di dalam Kristus Ae Mengikuti Raja Segala Raja, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1. , 95. Joseph Davis. AuThe Movement Toward Mistysicm to Gustavo GutierrezAos Thought: Is This an Open Door To Pentecostal Dialogue?Ay Brill Pneuma . : 7. Joseph Devis mengutip dari Juan Sepulveda. AuFuture Perspectives for Latin American Pentecostalism,Ay International Review of Mission 87 (April 1. : 191 dan Eldin Villafane. The Liberating Spirit: Toward an Hispanic American Pentecostal Social Ethic (Grand Rapids. MI: Wm. Eerdmans Publishing, 1. , 110-26. Sementara keempat nilai yang lain adalah pertama, kaum Pentakosta cenderung menginginkan komunikasi lisan seperti dalam bentuk kesaksian. Kedua, kaum Pentakosta biasanya spontanitas dalam perilaku dan dalam ibadah mereka. Ketiga,kepercayaan kaum Pentakosta yang sangat kuat terhadap hal-hal yang bersifat supranatural seperti mujizat. Keempat, keyakinan yang kuat terhadap otoritas Alkitab. Secara umum, kaum Pentakosta di seluruh dunia memegang nilai-nilai ini meskipun penekanan dapat bervariasi, tergantung pada budaya dan keadaan lainnya. Diambil dari Octavio Javier Esqueda. AuThe Growth and Impact of Pentecostalism in Latin America,Ay Christian Education Journal . S-33. Esqueda mengutip dari R. Spittler. AuImplicit Values in Pentecostal Mission,AyMissiology: An International Review, 6 . : 409-424. Jose Comblin. The Holy Spirit and Liberation. Translated from the Portuguese by Paul Burns. (Maryknoll. New York: Orbis Books, 1. , xi. Allan Anderson. An Introduction to Pentacostalism (Cambridge: University Press, 2. , 228-34. Allan Heaton Anderson. To The Ends of the Earth, 145-170. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Penggembalaan merupakan salah satu pelayanan penting dalam sebuah gereja lokal. Pelayanan penggembalaan menjadi bagian dari teologi praktika lainnya seperti misiologi dan Terdapat beberapa pakar teologia telah berusaha untuk mendefenisikan arti 44 Misalnya, menurut Thurneysen, penggembalaan merupakan suatu penerapan khusus Injil kepada anggota jemaat secara pribadi. Selain. Thurneysen. Herfst turut mendefenisikan penggembalaan sebagai suatu pelayanan yang menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah dan sesamanya. Hingga H. Faber menyatakan bahwa penggembalaan itu adalah tiap-tiap pekerjaan, yang di dalamnya si pelayan sadar akan akibat yang ditimbulkan oleh percakapannya atas kepribadian seseorang. Hingga Irwanto Sudibyo menegaskan bahwa penggembalaan itu bisa didefiniskan sebagai relasi antara pelayan dan anggota jemaatnya. Dalam jurnal yang ditulisnya. Sudibyo mengelaborasi lebih lanjut tentang panggilan pelayanan sebagai seorang yang menggembalakan jemaat adalah datangnya dari Allah sendiri. Seorang Hamba Tuhan yang terpanggil melayani dalam sebuah gereja dinamakan seorang Gembala Sidang. Gembala Sidang adalah seorang yang mendapat kepercayaan dari Tuhan melalui sebuah gereja setempat untuk menjadi pemimpin dan penggembalaan bagi sidang atau jemaat di gereja setempat tersebut. Seorang Gembala Sidang adalah seorang yang bersedia dengan sungguh-sungguh menggembalakan sekumpulan umat untuk mewujudkan misi-Nya bagi dunia. Penggembalaan tidak hanya dilakukan dalam konteks gereja lokal, tetapi juga di dunia Pendidikan Kristen. Salah satu prinsip dalam penggembalaan baik di gereja lokal maupun di dunia Pendidikan Kristen adalah melayani. Dalam narasi Markus 10:41-45, percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya menegaskan bahwa para penguasa, pemerintah memimpin dengan tangan besi, tetapi Yesus berharap agar para murid-Nya tidak demikian. Yesus ingin agar para murid-Nya memimpin dengan prinsip melayani dan bukan dilayani. Seperti Yesus yang melayani bahkan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Bertolak dari kisah ini, prinsip penggembalaan tidak boleh dilakukan dengan cara memerintah tetapi melayani. Peranan utama dari gembala-gembala rohani adalah untuk menunjukkan teladan dan untuk mencurahkan perhatian kepada kawanan domba. Persoalannya adalah ketika setiap Pendidik Kristen mempunyai kegiatan sekolah atau akademika yang cukup banyak sehingga menyerap sejumlah energi. Akibatnya, mereka kurang memperhatikan atau kurang peka terhadap aspek-aspek atau kebutuhan-kebutuhan lain dari peserta didiknya. Terutama ketika mereka mengalami masalah-masalah misalnya dari rumah yang kemudian berdampak pada kegiatan sekolah. Pendidikan Kristen adalah salah satu lembaga kemanusiaan yang sangat berperan dalam perubahan hidup dan kemajuan peradaban manusia. Terdapat empat komponen yang terlibat dalam proses Pendidikan ini yaitu sekolah . ermasuk pemerintah yang mencanangkan sistem dan kurikulu. , keluarga, peserta didik . urid/mahasisw. dan pendidik itu sendiri . Bons Storm. Apakah Penggembalaan Itu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 1. Irwanto Sudibyo. AuPelayanan Kepemimpinan Penggembalaan Menurut Kisah Para Rasul 20:17-38,Ay Jurnal Teologi Gracia Deo (Januari 2. , 48 - 53. Donald Guthrie. Teologi Perjanjian Baru 3, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 118. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Keberhasilan sebuah Pendidikan sangat ditentukan oleh keempat faktor ini. Namun, ada satu faktor lain yang tidak kalah penting, yakni keimanan . Dalam konteks iman Kristen, maka gereja lokal adalah tempat di mana setiap peserta didik dan pendidik Kristen beribadah. Di gereja lokallah mereka mendapatkan makanan rohani. Mereka bertumbuh semakin serupa dengan Kristus (Kol. Alkitab adalah sumber kebenaran bagi iman dan perilaku bukan hanya di gereja lokal, tetapi juga di dunia Pendidikan. Oleh karena itu, setiap pendidik Kristen, peserta didik Kristen serta kurikulum yang dijalankan di sekolah harus sesuai dengan dengan ajaran Alkitab. Harro Van Brummelen, yang mengutip pemikiran Neil Postman menegaskan bahwa worldview alkitabiah bagi sekolah Kristen tidak hanya sampai pada pengetahuan secara kognitif, kemampuan dan ketrampilan, tetapi harus sampai pada para murid menerima karunia-karunia Kristus melalui Roh Kudus. Oleh karena itu, para guru harus mengundang murid-murid untuk mengkomitmenkan keseluruhan hidup mereka, pemikiran, perkataan, dan perbuatan pada Kristus sebagai Penebus dan Tuhan atas hidup pribadi mereka. Guru harus mendorong murid-murid untuk membuat komitmen pribadi pada Allah dan pada cara hidup Kristen. Buku kedua dari BRC yang terbit tahun 2020, berjudul Kunci Pertumbuhan Gereja di Indonesia. 48 Salah satu temuan yang disampaikan adalah Indeks Spiritualitas Umat Kristen tahun 2021 menyebutkan bahwa tingkat kerohanian Generasi Z dan Generasi Alpha semakin menurun drastis. Bukankah mereka adalah anak-anak Generasi Y . , cucu dari Generasi Baby Boomers, atau Cicit dari Generasi Pembangun? Dan mereka saat-saat ini sedang berada di bangku-bangku Pendidikan, baik SD hingga Perguruan Tinggi. Penulis setuju bahwa para Pendidik Kristen seharusnya menjadi orang yang dipercaya untuk menolong dan melindungi peserta didik. Pendidik Kristen sebenarnya mempunyai peluang sangat besar untuk menggembalakan jiwa dari peserta didik. Mengapa? Karena sebagian besar waktu mereka habiskan di sekolah atau kampus. Jadi, peluang ini seharusnya menjadi pendorong para Pendidik Kristen, terutama Pembina Sekolah untuk lebih memperkuat penggembalaan bagi para peserta didik Kristen di sekolah. Beberapa pengamatan di atas secara tidak langsung mendorong untuk memperluas konteks defenisi gereja tidak hanya jemaat yang digembalakan di sebuah gereja lokal, tetapi juga di sekolah atau Perguruan Tingi. Jika di gereja lokal, mereka digembalakan oleh seorang pendeta atau hamba Tuhan atau Gembala Sidang. Namun, di sekolah, mereka digembalakan oleh pengajar . uru dan dosen Kriste. Oleh karena itu, setiap pendidik Kristen harus mendalami fungsi penggembalaan Pentakosta ini di dunia Pendidikan Kristen. Kemudian setiap peserta didik di bangku sekolah atau di perguruan tinggi perlu dipandang sebagai jemaat yang digembalakan secara misional dan holistik. Harro Van Brummelen. Berjalan Bersama Tuhan di Dalam Kelas: Pendekatan Belajar dan Mengajar Secara Kristiania. Edisi Ketiga. Surabaya: ACSI Ae Association of Christian Schools International, 2. , 20. Handi Irawan D. Bambang Budijanto. Kunci Pertumbuhan Gerej di Indonesia: Menyingkap Faktor Pendorong Pertumbuhan Gereja Berdasarkan Temuan Survei Nasional BRC. Budijanto, ed. , 111. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Perluasan makna gereja dan jemaat juga mengubah cara pandang kita bahwa gembala bukan hanya secara struktur tetapi juga secara fungsional. Adellenci Nabunome. Mahasiswa STT Berea Lulusan 2018, dalam skripsinya berjudul :Prinsip-prinsip Penggembalaan Berdasarkan Kitab 1 Petrus dan Implikasinya bagi Gembala Sidang Masa Kini, menyebutkan beberapa pemikir seperti J. Hersfst. Faber, dan Donald Guthrie dalam memberikan defenisi tentang pengembalaan. Kesimpulan Nabunome menegaskan bahwa penggembalaan tidak hanya bicara tentang jabatan, tetapi fungsi yang mengedepankan tanggungjawab melayani orang lain, menunjukkan tindakan konkrit yang dapat mempengaruhi pengikutnya untuk melakukan sesuatu yang benar. Pengembalaan dimotivasi oleh kasih dan teladan dari Yesus untuk melayani. Jika kita sepakat bahwa pengembalaan bukan hanya tentang struktur tetapi juga tentang fungsi, maka tidak berlebihan kalau kita memandang setiap Pendidik Kristen di sekolah atau di kampus adalah gembala-gembala. Sementara, para peserta didik Kristen di bangku sekolah dan Perguruan Tinggi dipandang sebagai domba-domba yang perlu mendapatkan arahan, bukan hanya edukasi . engajaran, materi, modu. dan kreatifitas, tetapi juga pengembalaan secara misional dan holistik. Pada hari minggu, mereka . ekolah minggu, remaja dan pemud. adalah jemaat di gereja lokal. Namun, pada hari Senin sampai Jumat bahkan Sabtu, mereka adalah jemaat yang menggereja di sekolah. Mereka sedang menggereja di dunia Pendidikan Kristen. Dalam buku. Introduction to Global Missions, bagian chapter 1 disebutkan bahwa AuGod is working in this world today, and he uses churches and individual believers in the process. Ay51 Ketiga penulis buku ini, sepakat bahwa dalam mengerjakan misi-Nya. Allah memakai gereja secara lokal dan juga setiap orang Kristen. Oleh karena itu, mereka perlu mengerti Great Commission sebagaimana yang disebutkan dalam Matius 29:19-20. Misi dalam pengertian tunggal mengacu pada tujuan utama keberadaan gereja, dan dalam pengertian jamak, gereja mengacu pada berbagai upaya yang dilakukan gereja untuk menjangkau dan mengajar orangorang di dunia demi Kristus. Dalam tafsiran penulis, frase Aumenjangkau dan mengajar orangorang di dunia demi KristusAy adalah termasuk di dunia Pendidikan Kristen. Bahkan bukan hanya mengjangkau dan mengajar, tetapi juga menggembalakan mereka. Pentakosta adalah sebuah gerakan yang sangat mengedepankan tentang menjangkau jiwajiwa. Namun, secara teologis. Pentakosta mengedepankan tentang Kristologinya, yang disebut dengan Four Full Gospel. Keempat tiang teologi Pentakosta ini merupakan konstruksi Kristologi, yaitu Kristus sebagai Penyelamat. Kristus sebagai Pembaptis Roh Kudus. Kristus sebagai Penyembuh, dan Kristus sebagai Raja yang akan datang. Penulis sangat setuju dengan beberapa pemikiran Neil Postman yang telah dikutip oleh Harro Van Brummelen di atas. Terutama tentang pengakuan akan Kristus sebagai Penebus yang telah mengampuni dosa, kemudian bagaimaan setiap peserta didik Kristen mendapatkan karuniakarunia dari Roh Kudus. Nah, pemikiran-pemikiran seperti ini juga yang termuat dalam Adellenci Nabunome. Prinsip-prinsip Pengembalaan Berdasarkan Kitab 1 Petrus dan Implikasinya bagi Gembala Sidang Masa Kini, 27-8. Zane Pratt. David Sills. Jeff K. Walters. Introduction to Global Missions, (Nashville. Tennessee: B & H Publishing Group, 20. , 1. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Kristologi Pentakosta. Jadi. Kristus bukan sekedar Pribadi yang dikenal secara teologi dan teori, tetapi Pribadi yang dapat didekati, dapat menggembalakan hidup manusia ke jalan yang benar. Sebagai Penyelamat. Kristus telah mengampuni manusia dari segala dosa dan Melalui karya-Nya di kayu salib, utang karena melukai hati Allah yang tidak mungkin manusia bayar, telah lunas di bayar. Noda karena dosa-dosa masa lalu dihapus William W. Menzies dan Stanley M. Horton, dalam buku mereka berjudul. Doktrin Alkitab, menegaskan bahwa. AuHukuman tidak ada lagi bagi orang yang dengan iman mengulurkan tangannya untuk menerima pengampunan dengan cuma-cuma yang disediakan oleh Juruselamat kita . Yoh. 1:29. Ef. 1:7. Ibr. 9:22-28. Why. Ay52 Bukankah ini kabar baik bagi setiap manusia berdosa. Termasuk para peserta didik Kristen di bangku sekolah. Karena mereka pun adalah manusia berdosa, maka dalam teologi Pentakosta sangat mengedepankan pertobatan dan lahir baru. Apa itu? Secara sederhana, pertobatan artinya berbalik kepada Allah dan meninggalkan dosa. Menzies dan Horton pun memberikan defenisi bahwa AuPertobatan adalah reaksi orang berdosa kepada Roh Kudus yang menginsafkan dia. Tindakan berbalik ini terdiri atas dua unsur: pertobatan dan iman. Ay53 Pertobatan itu melibatkan perubahan cara pandang dan bersikap. Jika selama ini seseorang memandang dosa sebagai sesuatu yang dinikmati, diabaikan, tetapi sekarang dosa dipandang sesuatu yang dijauhi. Demikian juga dengan sikap! Jika selama ini seseorang mempunyai sikap memberontak terhadap kebenaran, maka sekarang seseorang akan hidup berdasarkan kebenaran Allah. Seseorang bukan lagi AudigembalakanAy oleh dosa, tetapi digembalakan dalam kebenaran. Seseorang dapat percaya atau beriman kepada Allah untuk mengalami karya penyelamatan-Nya. Kabar inilah yang para pendidik Kristen terus kumandangkan di ruang Pendidikan Kristen. Sebagai peserta didik Kristen dalam usia yang masih stabil, bahkan mahasiswa sekalipun, tidak luput dari kesalahan dan dosa. Intimidasi, perudungan, bully kerapkali semakin memperpuruk keadaan mereka. Ditambah dengan tuntutan sekolah atau akademik dan harapan keluarga, membuat mereka Aulelah dan terlantar seperti domba yang tidak Ay Mereka stress bahkan bunuh diri. Pada tahun 2013, penulis menjadi salah satu panitia KKR (Kebaktian Kebangunan Rohan. Kesembuhan Ilahi di Sumba Timur yang dilayani oleh Pdt Petrus Agung Bersama timnya dari Jakarta. Penulis berjumpa dengan salah satu pemuda, anggota tim dari Jakarta. masih sangat muda, sekitar 20-an tahun. Ia mengatakan bahwa sebelum ia bertobat, dahulunya ia adalah seorang anak remaja dan pemuda bahkan anak sekolah yang sangat Aunakal. Ay Sejumlah kejahatan ia lakukan baik di rumah, apalagi di sekolah. Namun, ketika ia bertobat dan lahir baru, hidupnya dipulihkan hingga ia terlibat dalam melayani. Bukan hanya itu, ada satu informasi yang ia sampaikan dan sangat mengejutkan. mengatakan bahwa hampir 90% anak remaja pemuda yang terjerumus dalam berbagai kejahatan adalah orang-orang berpotensi. Namun. Iblis menjeremuskan mereka ke dalam dosa. Banyak di William W. Menzies dan Stanley M. Horton. Doktrin Alkitab Cetakan Keempat (Malang: Gandum Mas, 2. , 101. Menizies dan Horton, 103. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. antara mereka yang akhirnya putus sekolah karena seks bebas, minuman terlarang, rokok, stress di sekolah dan rumah, hingga bunuh diri. Ia tidak sebutkan sumber surveinya, tetapi itu yang ia Yang menarik bahwa dalam Kristologi Pentakosta, selain Kristus sebagai Penyelamat, juga dipahami bahwa Kristus adalah Pembaptis Roh Kudus. Terutama Perjanjian Baru, banyak membahas tentang Baptisan Roh Kudus. Misalnya dalam Matius 3:11. Markus 1:8. Lukas 3:16. Menurut French L. Arrington,54 Baptisan Roh Kudus mengandung makna dipenuhi dengan Roh Kudus sebagaiman yang dinyatakan dalam Kisah Para Rasul 1:5. 2:4. Baptisan Roh Kudus adalah pengalaman rohani yang hebat. Oleh karena Kristus telah membaptis dalam Roh, maka Pentakosta percaya bahwa pengalaman baptisan Roh Kudus menjadi pintu masuk untuk mengalami atau mendapatkan karunia-karunia rohani. Orang percaya akan diperlengkapi dengan berbagai karunia untuk membangun tubuh Kristus. 55 Semenjak peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2, para Rasul seperti Petrus telah membuktikan bagaimana karya Roh Kudus memberdayakan hidupnya. Baptisan Roh Kudus merupakan salah satu pengajaran fundamental dalam tradisi teologi Pentakosta. Misalnya Robert P. Menzies dalam bukunya berjudul. Pentecost: This Story is Our Story56 menjelaskan bahwa Kisah Para Rasul 12:13. Paulus dengan jelas berbicara tentang baptisan Roh Kudus sebagai sarana di mana orang menjadi bagian dalam tubuh Kristus. Demikian juga dalam Surat - Surat Kirimannya. Paulus berbicara tentang Roh Kudus sumber penyucian . Kor. 6:11. Rm. , kebenaran (Gal. 5:5. Rm. 8:1-17. Gal. 5:15-. persekutuan intim dengan Allah (Gal. 4:6. Rm. dan pengenalan akan Allah (I Kor. 2:616. 2 Kor. 3:3-. Bahkan Paulus memahami bahwa Roh Kudus adalah sumber utama eksistensi orang Kristen. Pribadi yang sanggup untuk melakukan transformasi tertinggi dan kebangkitan akhir zaman. Roh Kudus adalah karunia kharismatik atau karunia kenabian, sumber kuasa untuk melayani. MISIONAL DAN HOLISTIK Pentakosta percaya karya Roh Kudus sangat misional. Misional artinya setiap Pendidik Kristen mempunyai belas kasihan terhadap peserta didik. Mereka didorong oleh Kudus untuk merengkuh dan merangkul setiap kelemahan dan pergumulan peserta didiknya. Mereka mempunyai mentalitas misi untuk menyelamatkan, membangun dan memulihkan peserta Ini bukan tentang apa yang mereka terima seperti uang, gaji, jabatan, kehormatan, pengakuan tetapi apa yang mereka berikan yaitu belas kasihan yang menggembalakan peserta French L. Arrington. Doktrin Kristen Perspektif Pentakosta (Yogyakarta: ANDI, 2. , 393- 402. William W. Menzies & Robert P. Menzies. Roh Kudus dan Kuasa (Batam Centre: Gospel Press, 2. Robert P. Menzies. Pentecost: This Story is Our Story Cetakan Kedua (Malang: Gandum Mas, 2. 38- LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. William A. Dyrness, dalam bukunya berjudul Agar Bumi Bersukacita: Misi Holistik dalam Teologi Alkitab57 memaparkan bahwa Alkitab mengajarkan misi secara holistik mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Dyrness menegaskan bahwa misi inti teologi Kerajaan Allah. Pemerintahan Allah yang dinamis menghasilkan penyelamatan umat-Nya dan pemulihan seluruh penciptaan. Jika dalam PL. Allah memilih bangsa Israel sebagai umat pilihan-Nya untuk menjadi saksi-Nya di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Namun di dalam PB, setiap orang percaya, dalam hal ini gereja adalah mitra Allah yang dipanggil untuk pergi Ae keluar melayani dan memberitakan Injil ke segala bangsa (Mat. 28:19-. Dalam tafsir Dyrness, panggilan gereja bukan hanya di dalam gedung gereja, dalam hal ini jemaat-orang percaya saja. Namun, misi Kerajaan Allah harus bisa disampaikan di semua dimensi kehidupan dan komunitas manusia dan bahasa, termasuk di dunia Pendidikan Kristen. Inilah yang dimaksud dengan holistik. Bahwa holistik artinya setiap Pendidik Kristen dapat melihat secara utuh kehidupan setiap peserta didiknya. Bukan hanya berfokus untuk mengajar, peserta didik hadir tepat waktu kemudian mendengar dan mengerjakan tugas-tugas. Holistik artinya Pendidik Kristen memperhatikan secara saksama pergumulan-pergumulan teologis, spiritual, psikologi, antropologi, sosiologi, kesehatan, keluarga dari setiap peserta didik. Holistik artinya berpikir secara obyektif atas setiap dinamika kehidupan peserta didik. Pentakosta hadir dengan menawarkan pengalaman bersama Roh Kudus. Pentakosta percaya bahwa Roh Kudus sanggup memulihkan dan memberdayakan hidup setiap orang David Diga Hernandez, menasihatkan untuk AuBerfokus pada Tuhanlah yang membawa kemenangan. Tinggal di dalam Dialah yang membawa transformasi. Saat Anda memandang kepada Yesus. Anda diubahkan dalam gambar yang sama. Tuhan tidak memanggil Anda untuk pergi dari pembebasan kepada pembebasan, tetapi dari kemuliaan kepada kemuliaan. Ay58 KARYA ROH KUDUS DALAM PROSES PENDIDIKAN KRISTEN Roh Kudus adalah Roh Allah yang mendiami setiap hati manusia. Oleh Roh Kudus, orang percaya telah merdeka dari dosa dan hukum maut (Rm. Kehadiran Roh Kudus dalam hidupnya akan menghasilkan buah-buah Roh (Gal 5:22-. Roh Kudus menyelimuti hati setiap orang percaya Audengan kekuasaan dari tempat yang tinggiAy (Lks. Roh Kudus berkarya dalam penciptaan. AuRoh Allah melayang-layang di atas permukaan airAy (Kej. , termasuk manusia (Kej. Setelah manusia jatuh dalam dosa. Roh Kudus yang memperharui hati manusia (Mzm. 51:12-. French L. Arrington mengatakan. AuSebagaimana Roh Kudus memberi kehidupan pada saat penciptaan awal. Dia melakukan hal yang sama dalam penciptaan kembali dan perubahan hati manusia seperti Saul dan Daud. Penciptaan kembali muncul ketika individu-individu membuka hati mereka William A. Dyrness. Agar Bumi Bersukacita: Misi Holistik dalam Teologi Alkitab (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2. David Diga Hernandez. Holy Spirit The Bondage Breaker: Roh Kudus Pemutus Perbudakan Ae Mengalami Kelepasan Selamanya dari Benteng Mental Emosi dan Roh Jahat (Light Publishing: tt, 2. , 119. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. terhadap kuasa pembaharuan oleh Roh Kudus. Roh Kudus memberi kelahiran baru, membuat mereka suatu ciptaan baru, dan melimpahi keselamatan oleh anugerah melalui Ay59 Alkitab menggambar Roh Kudus dengan angin dan napas. Artinya Roh Kudus itu tidak dapat dipegang atau dilihat, kuasanya dan kehadirannya dapat dirasakan dalam hidup manusia. Karya Roh Kudus sangat berperan sentral dalam kehidupan dan pertumbuhan iman orang percaya baik di pribadi, keluarga, dalam pekerjaan, juga dalam pendidikannya. Namun, peranNya kerapkali kurang mendapatkan perhatian. Dalam konteks pendidikan Kristen. Michael J. Anthony60 sedikit resah ketika mengamati Pendidikan Kristen di abad 21. Menurutnya, dalam proses pendidikan dan pertumbuhan untuk menjadi serupa dengan Kristus, peran-Nya Roh Kudus jarang sekali diperhatikan atau setidaknya hanya mendapatkan perhatian kecil. Pengaruh-Nya seringkali dibatasi oleh keengganan kita untuk menggunakan hikmat-Nya, kebenaran-Nya, dan kuasa-Nya sepanjang proses belajar Anthony bahkan memberikan awasan, jika kita tidak memahami dan mengusahakan kerja sama dengan Roh Kudus secara aktif dalam aktivitas mengajar kita, segala usaha kita akan gagal mencapai sasarannya dalam menumbuhkan orang-orang saleh yang menunjukkan buahbuah serupa dengan Kristus. Di sini kita dapat memperhatikan bahwa Roh Kudus sangat berperan dalam proses belajar mengajar di dunia Pendidikan Kristen. Satu pertanyaan mendasar, apa pentingnya peranan Roh Kudus bagi Peserta Didik dan Pendidik Kristen di Indonesia? Pertama-tama, setiap Peserta Didik dan Pendidik Kristen harus menyadari Roh Kudus adalah Pengajar Utama. Yohanes 14:26 mengatakan. Autetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Ay Teks dalam Yohanes 14:26 di atas mengandung makna bahwa Roh Kudus akan menjalankan sebuah peran utama yang dijalankan Yesus selama Ia melayani di dunia, yaitu sebagai Guru. Jika kita membaca keempat kitab Injil, maka kita akan menemukan sebanyak tujuh puluh kali Yesus disebut Guru. Hal ini menunjukkan bahwa mengajar adalah salah satu komponen utama sepanjang pelayanan Yesus di dunia. Itu berarti, sebagai seorang Pendidik Kristen, melibatkan Roh Kudus dalam proses belajar mengajar menjadi sangat penting. Roh Kudus yang akan mengajar maksud-maksud-Nya melalui setiap pembelajaran yang telah disampaikan kepada Peserta Didik. Pendidik Kristen yang melibatkan Roh Kudus sebagai Pengajar Utama, akan lebih mencari pertolongan-Nya dalam setiap bagian kegiatan belajar Michael J. Anthony memaparkan paling tidak terdapat lima elemen karya Roh Kudus dalam proses belajar mengajar. 61 Pertama. Guru. Menurutnya. Jalur pertama yang digunakan Roh Kudus untuk berkarya adalah melalui peran guru. Anthony mengeksposisi Matius 28:19-20 Arrington, 376. Michael J. Anthony, ed. Introduction Christian Education - Fondasi Pendidikan Abad 21 (Malang: Gandum Mas, 2. , 219 - 21. Ibid. , 221 - 27. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. sebagai bagian dari setiap Pendidik Kristen menjalankan Amanat Agung untuk menjadikan murid bagi Kristus. Roh Kudus akan memakai Pendidik Kristen untuk mengajarkan kebenaran yang mengubahkan. Apalagi setiap Pendidik Kristen sungguh menyadari bahwa mengajar adalah salah satu karunia yang Roh Kudus berikan (Rm. 12:3-8. 1 Kor. 12:7-31. Ef. 4:7-. Oleh karena itu, setiap Pendidik Kristen harus sungguh-sungguh berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Selain itu, mereka pun harus menjaga kehidupan yang saleh serta berkomitmen pada kesucian hidup. Elemen kedua adalah Pembelajar. Pendidik Kristen bisa saja seorang yang berbakat dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus, tetapi Pendidik Kristen itu sendiri harus mengijinkan Roh Kudus berkarya di hatinya. Anthony mengutip pemikiran Roy Zuck bahwa Roh Kudus melibatkan diri-Nya secara aktif dalam hati seorang Peserta Didik melalui tig acara yaitu keyakinan, kehadiran terus-menerus dan iluminasi. Menurutnya, ketika seorang Peserta Didik terbuka hatinya kepada Allah, maka Roh Kudus akan menginsafkannya tentang dosa. Ia dapat mengerti Allah dan perbuatan-Nya. Termasuk ketika Pendidik Kristen tidak hadir secara fisik dalam proses belajar mengajar, para Peserta Didik dapat mengalami pencerahan dari Roh Kudus melalui Firman-Nya. Selain elemen Pendidik dan Peserta Didik, elemen ketiga dalam proses belajar mengajar adalah Firman Allah itu sendiri. Fondasi dalam hidup adalah Firman Allah. Dalam 2 Timotius 3:16-17 menegaskan bahwa 3:16 AuSegala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Ay Roh Kudus berkarya untuk menyingkapkan kebenaran. MelaluiNya. Peserta Didik hidup dalam kebenaran dan bukan dalam kesesatan, termasuk mengambil tindakan yang fatal seperti bunuh diri. Roh Kudus yang berkarya melalui Firman-Nya untuk menggenapi rencana-Nya melalui Peserta Didik dan Pendidik Kristen. Elemen keempat adalah Interaksi Pribadi. Meskipun Roh Kudus berkarya di hati setiap Peserta Kristen, namun Ia pun berkarya dalam konteks antar pribadi dalam komunitas yang kecil. Bertolak dari karya Roh Kudus di hari Pentakosta, hanya beberapa orang dalam komunitas para rasul dan beberapa Perempuan yang mengalami kepenuhan Roh Kudus. Namun, karya Roh Kudus terus terjadi atas banyak orang. Hal ini bisa terjadi ketika hubungan yang erat dalam kasih antar pribadi terjalin dalam kasih. Roh Kudus menggerakkan kasih untuk saling merangkul satu dengan yang lain, sebagaimana yang terjadi dengan jemaat mula-mula (Kis. 2:42-. Itu sebabnya. Rasul Paulus mendoakan mereka agar menurut kekayaan dan kemuliaan Allah kiranya menguatkan dan meneguhkan mereka oleh Roh di dalam batinnya (Ef. 3:16-. Yang terakhir adalah elemen Lingkungan Pembelajaran. Roh Kudus pun dapat berkarya melalui dinamikan lingkungan pembelajaran. Misalnya penempatan tempat duduk, pencahayaan, temperatur, visual. Lokasi, luas ruangan, warna, pengalih perhatian atau bau. Anthony menggarisbawahi bahwa meskipun beberapa elemen ini tampaknya terlalu umum untuk dihubungkan dengan karya supernatural yang dilakukan oleh Roh Kudus, kita harus ingat bahwa Allah dapat menggunakan elemen-elemen fisik untuk menata lingkungan bagi pembelajaran rohani di sepanjang sejarah. Anthony menyebutkan seperti Semak terbakar dalam pembelajaran Musa. Kemah Suci atau Bait Allah bagi Kaum Yahudi. Danau Galilea ketika Yesus mengajar LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. murid-murid-Nya bahkan banyak orang berbondong-bondong mengikuti untuk mendengarkan pengajaran-Nya, kamar atas yang digunakan orang percaya mula-mula, ruang penjara di Filipi bagi Paulus dan Silas atau Aerofagus dan para filsufnya Paulus mengilutrasikan signifikansi lingkungan dalam pembelajaran tentang kebenaran. Oleh karena itu. Anthony menghimbau agar Pendidik dan Peserta bekerja sama dengan Roh Kudus dalam merancang secara strategis aspekaspek fisik dan estetika dari lingkungan proses belajar mengajar guna memberikan kebebasan kepada Roh Kudus untuk menggenapi tujuan-Nya. Roh Kudus sungguh berkarya secara nyata. Oleh karena itu, setiap Pendidik dan Peserta Didik harus berjalan dalam Roh, berdoa dalam Roh dan mencari kehadiran-Nya. Pendidik dan Peserta Didik Kristen harus bermitra dengan Roh Kudus secara efektif. Roh Kudus akan memberikan kepekaan dan ketajaman berpikir, mengajar, mendidik dan membimbing setiap Peserta Didiknya. Roh Kudus pula yang akan mengajar melampai batas-batas kemampuan dan pengetahuan para Pendidik Kristen. Roh Kudus yang akan menolong Peserta Didik untuk dipulihkan dari segala masalah dan keterikatan. MEMPERKUAT PENGEMBALAAN PENTAKOSTA BAGI PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA Penulis sangat setuju dengan kelima elemen yang disebutkan oleh Michael J. Anthony di atas sebagai komponen yang saling terhubung untuk berkaryanya Roh Kudus secara nyata bagi Pendidikan Kristen di Indonesia. Namun, kalau kita bertolak dari Matius 9:35-38, ada satu prinsip dasar bagaimana memperkuat Penggembalaan Pentakosta di Indonesia. Prinsip ini dinyatakan di ayat 36, yaitu ketika Yesus melihat orang banyak itu. Autergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka. Ay Respon yang serupa disebutkan dalam Matius 14:14 dalam perikop Yesus memberikan makan lima ribu orang. AuKetika Yesus mendarat. Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakitAy . Mrk. Demikian juga dalam perikop Yesus memberikan makan empat ribu orang (Mat. 15:32. Mrk. Tergerak oleh belas kasihan adalah respon utama Yesus ketika Ia melihat orang banyak mengikut-Nya, ketika Ia melihat orang tidak mempunyai makanan, ketika orang sakit, dan ketika orang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Prinsip ini yang seharusnya terus menerus dimiliki, dihayati, diresapi dan diterapkan oleh setiap Pendidik Kristen di Indonesia. Penulis tidak bermaksud untuk menghakimi Pendidik Kristen bahwa mereka tidak mempunyai belas kasihan. Namun, penulis menghimbau agar belas kasihan seperti Yesus adalah motivasi utama dalam berespon terhadap keberadaan dan permasalahan Peserta Didiknya. Belas kasihan adalah penggerak utama untuk merengkuh Peserta Didik secara misional dan holistik. Emosional subyektif, kepentingan pribadi, tujuan-tujuan individu bukan penggerak, pendorong dan motivasi utama dalam berespon, melainkan belas kasihan. Adalah manusiawi ketika Pendidik Kristen dalam titik tertentu berespon secara emosional dan subyektif terhadap suatu persoalan yang dialami Peserta Didiknya. Namun. Pendidik Kristen harus sesegera mungkin berevaluasi untuk memperbaikinya agar Belas Kasihan Yesus itulah yang menyelimuti LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. Dengan demikian, ketika melihat Peserta Didiknya yang lelah dan terlantar, sakit, lemah, kurang mengerti pembelajaran, ada di ruang kelas tetapi pikirannya di tempat lain, mereka berespon dengan belas kasihan. Dalam konteks respon belas kasihan Yesus. Ia memberikan solusi dengan cara menyembuhkan mereka sakit, memberikan makan kepada mereka yang lapar. Yesus tidak menyuruh mereka pulang dalam kondisi lelah, terlantar, sakit dan lapar. Yesus kuatir Aumereka rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh (Mrk. Pertanyaannya apakah Yesus tidak pernah berespon dengan marah ketika melihat adanya masalah seperti manusia melanggar aturannya? Pernah! Dalam perikop AuYesus Menyucikan Bait AllahAy (Mat. 21:12-17. Mrk. 11:15-19. Lks. 19:45-48. Yoh. 2:13-. Yesus marah. Bukan hanya marah, tetapi Yesus mengusir semua orang yang berjualan di Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati (Mat. Yesus marah karena Rumah Tuhan harusnya tempat untuk orang-orang beribadah, mengalami pemulihan dan kesembuhan (Mat. 21:13 , tetapi mereka menjadikannya sarang penyamun (Mat. Jadi, belas kasihan bukan berarti tanpa respon marah, karena respon marah itu adalah ekspresi emosional yang manusiawi. Patut dicermati bahwa dalam pelayanan Yesus, marah yang dipenuhi belas kasihan akan membawa orang-orang kepada kebenaran, pemulihan, kesembuhan dan keselamatan. Bukan intimidasi dan penghakiman yang merendahkan atau menjatuhkan, tetapi membangun, mendorong orang untuk berubah. Meskipun dalam pelayananNya ada orang-orang seperti Ahli Taurat. Orang Saduki dan Orang Farisi yang menentang-Nya. Namun, pertentangan dari mereka tidak memudarkan belas kasihan Yesus. Oleh karena, setiap Pendidik Kristen perlu terus-menerus untuk dipenuhi dengan belas kasihan seperti Yesus. Selain tergerak oleh belas kasihan sebagai prinsip dasar untuk memperkuat Penggembalaan Pentakosta bagi Pendidikan Kristen di Indonesia, mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah bagi tuntunan hidup setiap Pendidik dan Peserta Didik Kristen di Indonesia. Alkitab bukan dokumen tua layaknya buku Ae buku yang terpampang di rak-rak perpustakaan dan lemari-lemari akademik. Pernyataan pertama dalam Pengakuan Iman GSJA di Indonesia berbunyi. AuAlkitab adalah Firman Allah yang diilhamkan dan tanpa salah. satu-satunya kaidah yang mutlak dan berwenang bagi iman dan perilaku manusia. Ay62 Pendidik dan Peserta Didik Kristen boleh membaca sejumlah buku dan referensi baik hardbook maupun softbook seperti Jurnal atau Artikel dari Internet. Namun. Alkitab harus menjadi fondasi utama dalam dinamika kurikulim Pendidikan Kristen di Indonesia. Selanjunya, setiap Pendidik dan Peserta Didik Kristen harus dipenuhi oleh Roh Kudus terus menerus. Mereka harus mengakui bahwa Roh Kudus adalah Pribadi. Sang Guru Agung yang dapat mengajari mereka Jalan. Kebenaran dan Hidup. Pendidik Kristen bisa terbatas dalam penyampaian materi, tidak peka dengan persoalan-persoalan Peserta Didik. Namun, dengan mereka dipenuhi Roh Kudus dan melibatkan Roh Kudus setiap hari, maka mereka diberdayakan oleh kuasa dan bukan kepentingan pribadinya. Mereka diberikan kepekaan untuk merengkuh Buku Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan GSJA di Indonesia. Kongres XXII. Surabaya, 8-12 Agustus 2011, hal. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. secara misional dan holistik setiap pergumulan Peserta Didiknya. Bukan saja secara akademik, tetapi persoalan-persoalan lain yang berdampak pada kehidupan personal Peserta Didiknya. Demikian juga bagi Peserta Didik. Mereka harus membuka hatinya pada pekerjaan Roh Kudus. Mereka secara pribadi harus mengalami perjumpaan dengan Roh Kudus. Kefasihan dan kepenuhan Roh Kudus oleh Pendidiknya tidak berarti bahwa mereka akan bergantung pada Pendidiknya. Namun, mereka secara pribadi harus bergaul karib dengan Roh Kudus. Mengapa? Karena Roh Kudus akan mengajar mereka untuk tidak tersesat. Roh Kudus akan memberikan kehidupan, mengajari jalan-jalan-Nya, memperbaiki kelakuan dan relasi yang rusak, hingga mendidik mereka dalam kebenaran. Dengan demikian. Peserta Didik tidak terjebak dengan pilihan yang fatal seperti bunuh diri. Pendidik dan Peserta Didik perlu dengan sengaja membangun hubungan yang dinamis dan hangat antar pribadi. Penulis mengusulkan filosofi ini, jika di rumah orang tua anak-anak adalah ayah dan ibunya, maka di sekolah orang tuanya adalah para Pendidiknya. Jika di gereja lokal. Gembala. Ketua Kaum Muda. Guru Sekolah Minggu adalah Pembina Rohani bagi jemaat, kaum muda dan anak-anak, maka di sekolah. Pendidik Kristen adalah Gembala bagi Peserta Didik. Itu sebabnya, penulis memahami bahwa menjadi Pendidik Kristen bukan hanya karena jabatan struktural, tetapi menjalankan fungsi penggembalaan bagi Peserta Didiknya. Demikian juga, dengan Peserta Didik Kristen adalah Jemaat yang menggereja di sekolah-sekolah yang perlu digembalakan secara misional dan holistik. Mendesain lingkungan pembelajaran dengan sengaja merupakan salah satu Langkah lain untuk memperkuat Penggembalaan Pentakosta bagi Pendidikan Kristen di Indonesia. Bukan hanya di ruang-ruang kelas, tetapi di lokasi di mana seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan. Dalam Kejadian 2:15. Allah mengambil manusia dan menempatkan di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Ayat ini mengandung pengertian aplikatif bahwa sekolah dapat menjadi taman Eden yang manusia bisa usahakan dan pelihara. Dalam pengertian, lingkungan sekolah harus dikelola, ditata, dirawat, didesain, dilestarikan, dikembangkan untuk seluas-luasnya bagi Roh Allah berkarya dan mengedukasi secara ekologi setiap Pendidik dan Peserta Didik Kristen. Pihak Pendidikan Kristen dapat melibatkan secara kolaboratif antara Pendidik dengan Peserta Didik dalam merancang estetika lingkungan pembelajaran. Terakhir, memaksimalkan fungsi Bimbingan Konseling (BK). Dengan semakin maraknya kasus bunuh diri, bully, kekerasan seksual, problematik keluarga yang berdampak lurus kepada Peserta Didik, maka Pendidikan Kristen di Indonesia harus mengevaluasi kembali fungsi BK. Apakah sudah menjalankan fungsinya dengan tepat atau tidak. Pendidik BK dapat dilatih secara profesional untuk menangani persoalan-persoalan Peserta Didik. Pendidik BK harus mengembangkan diri melalui training, workshop tentang konseling, psikologi dan disiplin ilmu lainnya yang terkait. Penempatan Pendidik BK diharapkan adalah Pendidik yang profesional. Namun, satu hal harus diingat karena ini adalah Pendidikan Kristen, maka Pendidik BK adalah seseorang yang sungguh-sungguh dipenuhi oleh Roh Kudus. Seseorang yang melakukan Bimbingan Konseling adalah ia yang mencintai Firman-Nya dan menjadikan Alkitab adalah Firman Allah yang menuntun proses bimbingan konselingn bagi Peserta Didiknya. Salah satu prinsip yang Alkitab nyatakan dalam pelayanan Yesus belas kasihan. Seorang Pendidik BK harus mengasihi dengan LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. tulus kepada Peserta Didiknya terlepas dari masalah seberat apapun yang dialami. Belas Kasihan seperti Yesus inilah yang membuat Pendidik BK, di tengah segala kesibukannya Auberkeliling mengajarAy dapat peka melihat bahwa ternyata ada Peserta Didiknya yang sedang Aulelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ay Pendidik BK yang mencintai Firman Allah dengan benar tidak anti dengan disiplin ilmu Justru seorang Pendidik BK akan berintegrasi dengan disiplin ilmu lainnya. Mengapa demikian? Karena persoalan Peserta Didik itu kompleks. Jadi, seorang Pendidik BK harus mempertimbangkan sejumlah aspek sebelum memberikan solusi pemulihan terhadap masalah Peserta Didiknya. Melaluinya. Roh Kudus dapat memberdayakannya untuk menguatkan dan mengarahkan Peserta Didiknya dalam Jalan. Kebenaran dan Hidup. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. KESIMPULAN Dalam konteks Pendidikan Kristen di Indonesia, kita merindukan agar setiap peserta didik mengalami keselamatan dan baptisan Roh Kudus. Ketika mereka dalam titik-titik tertentu, ada persoalan baik dari keluarga, lingkungan, di gereja bahkan di sekolah, mereka tidak stress dan tidak memilih untuk bunuh diri. Melainkan mereka datang kepada Yesus Kristus yang akan memulihkan dan menuntun hidup mereka dalam kebenaran. Para Pendidik Kristen berhati gembala perlu mengerti dinamika ini. Pendidik Kristen dapat diberdayakan oleh Roh Kudus untuk peka dalam menggembalakan para peserta didik yang sedang lelah dan terlantar. Kecemasan dan terabaikan merupakan pergumulan tersendiri bagi setiap Peserta Didik Kristen. Meskipun mereka sudah beragama Kristen, namun, tidak dipungkiri adanya kecemasan dan terabaikan yang mereka alami atau rasakan. Oleh karena itu, diperlukan kepekaan hati melihat seperti Yesus melihat Auorang banyakAy itu. Belas kasihan akan mendorong para pengajar, bukan saja mengajar berdasarkan materi yang sudah disiapkan. Para pendidik Kristen pun perlu peka untuk menggembalakan para peserta didik. Mereka bukan hanya butuh materi, tetapi bimbingan dan arahan untuk mendamaikan mereka dengan Allah. Penulis memilih istilah Penggembalaan Pentakosta untuk menegaskan akan karya Roh Kudus yang tak terlihat oleh kasat mata, tapi sanggup untuk menjamah dan memulihkan setiap hidup Peserta Didik Kristen. Roh Kudus pula yang memberdayakan setiap Pendidik Kristen untuk mengajar, memberitakan Injil dan menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan peserta Didik secara misional dan holistik. Para peserta didik bisa saja terkoneksi dengan materi pengajaran, tetapi sesungguhnya mereka tidak terkoneksi dengan Allah. Mereka belum berdamai dengan Allah. Ketika mereka lulus nanti, mereka akan menjadi pengkritik-pengkritik yang tidak membangun dengan hati, tetapi dengan cacian. Akan berbeda, jika mereka telah berdamai dengan Allah, tidak hanya sampai lulus, tetapi ketika mereka masih di bangku pendidikan, mereka telah memperlihatkan perbuatan-perbuatan Allah nyata melalui hidup mereka. Penulis yakin ketika setiap Pendidik Kristen mengajar atau mendidik. Roh Kudus dapat memberikan kepekaan kepada mereka untuk melihat dengan penuh belas kasihan terhadap peserta didik Kristen yang banyak, tetapi sedang lelah dan terlantar. Roh Kudus yang telah memberikan kuasa kepada Pendidik Kristen akan diberdayakan untuk menggembalakan para peserta didik Kristen. Roh Kudus pula yang mengubahkan hidup setiap peserta didik Kristen. Dengan demikian, setiap peserta didik Kristen semakin terarah hidupnya sesuai dengan rencana dan tujuan Allah. Bahkan bukan hanya peserta didik Kristen, setiap Pendidik Kristen pun dapat diubahkan dan terus diberdayakan oleh Roh Kudus. Dengan demikian, mereka semakin dan terus dipenuhi dengan belas kasihan dalam menggembalakan peserta didik secara misional dan Roh Kudus adalah Pribadi yang dapat didekati. Ia sungguh rindu agar Pendidik dan Peserta Didik dapat saling menjalin suatu hubungan yang akrab, dinamis dan hangat. Pendidik Kristen adalah Orang Tua Peserta Didik Kristen di sekolah. Pendidik Kristen adalah Gembala bagi Peserta Kristen di sekolah. Hubungan ini harus dibangun dengan sengaja, bukan karena LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. karena tuntutan sekolah, tetapi karena itulah kehendak Allah untuk saling mengasihi, saling menguatkan dan saling mendoakan satu dengan lainnya. Pendidik dan Peserta Didik dapat bekerja sama untuk merancang estetika lingkungan Setiap Pendidik dan Peserta Didik mempunyai potensi yang diberikan oleh Allah untuk menata Autaman EdenAy di mana mereka ditempatkan untuk mendapatkan edukasi dan menggembalakan dalam karya Roh Kudus yang membawa pemulihan dan keselamatan. Sebagai Pendidik BK sangat berperan dalam menolong Peserta Didik untuk melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Alkitab-lah yang menjadi pegangan utamanya. Roh Kuduslah yang menuntun bimbingan konselingnya agar Peserta Didik tetap kuat dan terarah. Mengapa? Karena ada Pendidik Kristen. Pendidik BK yang menjalankan fungsi Gembala untuk menggembalakan mereka secara misional dan holistik. Yesus telah melakukan bagian-Nya selama Ia ada di bumi. Murid-murid Yesus pun sudah mengerjakan misi Allah pasca Yesus terangkat ke sorga. Kiranya Pendidik Kristen di Indonesia juga mengerjakan misi Allah untuk memperkuat penggembalaan Pentakosta bagi setiap Peserta Didik Kristen di Indonesia secara misional dan holistik. PENELITIAN LEBIH LANJUT Penulis belum membuat batasan penelitian secara spesifik. Penelitian masih melihat gambaran secara umum berdasarkan pengalaman pribadi, fakta di Kupang, survei di SMP Negeri 18 Pontianak, hingga survei BRC yang juga masih tergolong general. Jadi, penulis sarankan untuk peneliti berikutnya dapat membuat batasan area penelitian. Penelitian berikutnya akan lebih fokus dan mendapatkan temuan yang berguna secara signifikan. Artikel ini dapat menjadi penafsiran ketiga. Jadi, peneliti berikutnya dapat memahami dalam perspektif yang berbeda. Apakah memfokuskan pada ayat 35, ayat 36, atau ayat 37-38 Matius 9:35-38 ini masih perlu untuk dielaborasi lebih spesifik berdasarkan konteks dan kebutuhan yang relevan saat ini. Misalnya, bagaimana peran pengajaran menuntun orang ke dalam pertobatan cara berpikir sebagaimana yang Yesus lakukan. Bagaimana pemaknaan kata therapi dalam konteks Yesus dan relevansi bagi persoalan manusia khususnya pelayanan Kristiani saat ini. Apakah ketiga pelayanan ini satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Ketika mengajar, apakah bisa dipahami sebagai memberitakan Injil sekaligus menyembuhkan? REKOMENDASI Karena artikel terkait Pendidikan Kristen, maka penulis merekomendasikan untuk dibaca oleh setiap Pendidik dan Peserta Didik Kristen baik di Tingkat Dasar hingga di Perguruan Tinggi. Artikel ini dapat menjadi informasi sekaligus masukan untuk menata kurikulum Pendidikan Kristen di Indonesia yang tidak hanya mengajar, tetapi memahami kebutuhan serta keadaan setiap Peserta Didiknya. Demikian juga kepada Peserta Didik itu sendiri, bunuh diri bukan jalan pintas, tetapi membuka hati agar Roh Kudus berkarya dan memulihkan hidupnya. Selain pendidik, orang tua pun dapat membaca artikel ini. Setiap orang tua perlu memahami anaknya secara holistik dan merangkul mereka, apalagi ketika mereka mengalami LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. tekanan, ketidakstabilan emosi, ketertarikan secara seksual, hingga penolakan dan kritikan dari Pendidik bahkan dari rekan sekolahnya. Orang tua tidak bertanya belajar apa hari ini di sekolah, tetapi bagaimana perasaannya, apa yang ia rasakan, bagaimana hubungan mereka dengan Pendidik dan rekan-rekannya, dan lain sebagainya. Gereja adalah pihak ketiga yang perlu membaca artikel ini. Setiap pelayan Tuhan, baik pendeta, ketua kaum muda dan guru sekolah minggu, perlu peka untuk memahami setiap anak. Sebab mungkin dalam seminggu di bangku Pendidikan, mereka mengalami hal-hal buruk, dan berimbas pada antusiasme mereka mengikuti ibadah. Mimbar ibadah dapat menjadi kesempatan bagi anak-anak mengalami lawatan dan pemulihan dari Allah. Yesus memberikan kekuatan baru dan jalan keluar bagi mereka. Roh Kudus memberikan penghiburan dan sukacita. Pada akhirnya, artikel ini direkomendasikan kepada setiap Pendidik Bimbingan Konseling (BK) mulai dari Tingkat Dasar hingga Perguruan Tinggi untuk memandang setiap Peserta Didik, tidak hanya menuntut akademik mereka, tidak tergerak secara emosional dan subyektif ketika ada masalah, tetapi dengan belas kasihan seperti Yesus untuk merangkul mereka ketika gagal, terpuruk, mengalami masalah keluarga, masalah seksual, bahkan kriminal lainnya. Dalam proses bimbingan dan konseling tidak menggurui mereka, tetapi belajar mendengarkan dan menerima mereka apa adanya. Pendidik BK dapat diberdayakan oleh kuasa Roh Kudus dalam menguatkan Peserta Didiknya agar mereka hidup dalam rancangan Tuhan. Selain beberapa pihak yang penulis sebutkan di atas, kiranya artikel ini dapat bermanfat bagi siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca artikel ini. LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol. No. 1(Desember, 2. Available Online at: http://sttberea. id/e-journal/index. php/logia ISSN : 2716-4322 (Ceta. 2716-2834 (Onlin. DAFTAR PUSTAKA