JSIP 11 . Journal of Social and Industrial Psychology http://journal. id/sju/index. php/sip Nilai Budaya Kolektivisme dan Perilaku Asertif pada Suku Jawa Nufailatun Zakiya A. Sugeng Hariyadi Jurusan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang. Indonesia Info Artikel Abstrak ________________ ___________________________________________________________________ Keywords: collectivism, assertive. Javanese tribe ____________________ Nilai budaya kolektivisme membentuk konstruk diri interdependen yang khas dengan hubungan saling bergantung dan memprioritaskan kelompok dari pada kebutuhan individual. Sering kali demi mempertahankan keharmonisan hubungan dengan orang lain membuat masyarakat Jawa sukar berperilaku asertif karena dikhawatirkan akan menyinggung perasaan orang lain. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah AuTerdapat hubungan negatif antara nilai budaya kolektivisme dengan perilaku asertif pada suku Jawa di Desa PesanggrahanAy. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi dalam penelitian ini merupakan warga Desa Pesanggrahan, dimana desa ini dinilai masih memegang erat nilai kolektivisme. Adapun teknik sampling yang digunakan yakni two stage cluster random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologi, yakni skala perilaku asertif dan skala nilai budaya kolektivisme yang telah dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas skala perilaku asertif sebesar 0,772 . sedangkan hasil uji reliabilitas nilai budaya kolektivisme sebesar 0,905 . angat kua. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi Product Moment. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh nilai korelasi Pearson sebesar -0,543 dengan signifikansi 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima. Abstract Collectivism cultural value, that forms a distinctive interdependent self-construct with interdependent relationships and prioritizing group over individual needs. Frequently in order to maintain harmonious relations with other people, it is difficult for Javanese people to behave assertively because they are afraid that they will offend other people's feelings. The hypothesis proposed in this study is Authere is a negative relationship between collectivism cultural value and assertive behavior of the Javanese tribe in Pesanggrahan VillageAy. The method used in this research was a quantitative-correlational research method. The population in this study are Javanese tribe in Pesanggrahan Village, where this village is considered to still hold tightly to collectivism The sampling technique used was two-stage cluster random sampling. The data collection method was carried out using a psychological scale, namely the scale of assertive behavior and the scale of collectivism cultural value that has been declared valid. The results of the reliability test of the assertive behavior scale are 772 . while the results of the collectivism culture value reliability test are 0. ery stron. The data were analyzed using the Product Moment correlation technique. Based on the hypothesis test, the Pearson correlation value is -0. 543 with a significance of 0. , so it can be concluded that the research hypothesis is ___________________________________________________________________ A Alamat korespondensi: Gedung A1 Lantai 2 FIP Unnes Kampus Sekaran. Gunungpati. Semarang, 50229 E-mail: nzakiya@students. ISSN 2964-4135 Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . PENDAHULUAN Indonesia didominasi oleh suku Jawa. Suku Jawa merupakan kelompok masyarakat yang menganut nilai, kebiasaan, serta kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa ini sendiri memiliki konsep terkait apa yang hidup dalam pikiran, apa yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam kehidupan masyarakat serta dijadikan sebagai satu pedoman hidup masyarakat suku Jawa (Koentjaraningrat dalam Rachim dan Nashori, 2. Terdapat satu stereotip yang melekat pada Suku Jawa, yakni suatu suku yang dikenal dengan sikap lemah lembutnya dan kurang suka berterusterang. Adanya stereotip tersebut turut memengaruhi individu dalam berperilaku. Hal ini dilatarbelakangi oleh sistem nilai budaya Jawa yang begitu mengedepankan tata krama, atau dalam masyarakat Jawa dikenal dengan unggah-ungguh, selain itu juga di kalangan masyarakat Jawa berkembang ungkapan-ungkapan seperti Aaja nggugu karepe dheweAo . angan semaunya sendir. Aaja nuhoni benere dheweA . angan menganggap benar sendir. Aaja mburu menange dheweAo . angan minta menang sendir. , dan sebagainya (Soetrisno dalam Wishnuwardhani & Mangundjaya, 2. Hal inilah yang menjadikan masyarakat Jawa cenderung sulit untuk berperilaku asertif karena memiliki kehawatiran apa yang dikatakan atau dilakukannya dapat menyinggung perasaan orang lain. Sejak kecil terbiasa dididik untuk memiliki rasa malu, takut, dan merasa sungkan yang mana berakibat pada terbentuknya rasa kepercayaan diri yang rendah, kurang ekspresif, tidak spontan, dan kurang begitu berinisiatif dalam bertindak (Pratiwi, 2. Monghadan dan Studer menyebutkan bahwa budaya sebagai salah satu elemen yang mengatur bagaimana seharusnya individu berperilaku serta penentu mana perilaku yang dianggap tepat dan tidak tepat . alam Rachim dan Nashori, 2. Budaya sangat kuat memengaruhi bagaimana cara individu berpikir, turut berpengaruh pada emosi bahkan cara bagaimana individu berperilaku, berupa mindset yang dikembangkan sejak masih kecil (Rahmani, 2. Budaya dapat menjadi faktor penentu manusia dalam berperilaku, untuk menentukan bagaimana perilaku yang dianggap tepat dan bagaimana manusia seharusnya Tentu saja hal tersebut juga berpengaruh pada bagaimana cara seseorang dalam menghadapi, merespon ataupun memecahkan permasalahan yang terjadi dalam interaksinya dengan individu lain. Alberti & Emmons . menyatakan bahwa perilaku asertif merupakan perilaku yang mengarah pada kesetaraan dalam hubungan manusia, memungkinkan seseorang untuk bertindak demi kepentingannya sendiri, melalui pengungkapan perasaan yang tulus dan menggunakan hak pribadi tanpa menyangkal hak orang lain. Perilaku asertif memungkinkan individu untuk dapat menyampaikan perasaan positif maupun negatif, sehingga dapat terhindar dari perasaan sedih atau kecewa ketika gagal mengungkapkan apa yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan. Berdasarkan penuturan Taylor, salah satu faktor yang memengaruhi perilaku asertif yaitu budaya. Kebudayaan merupakan pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks yakni meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat . , dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Umiyati, 2. Kebudayaan mengandung beberapa dimensi nilai, antara lain yakni power distance, uncertainty avoidance, individualisme-kolektivisme serta maskulinitas-feminitas (Hoftsede, 1. Nilai budaya adalah nilai-nilai yang dominan dalam suatu masyarakat dengan budaya tertentu, nilai budaya kolektivisme adalah nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat kolektif. Masyarakat kolektif memegang teguh bahwa kepentingan kelompok lebih penting dan diutamakan daripada kebutuhan individual (Riyono, 1. Masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di pedesaan diyakini memiliki nilai budaya kolektivisme yang cukup tinggi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Triandis . kelompok yang berasal dari suatu daerah dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah, misalnya berasal dari pedesaan atau daerah pinggiran kota memiliki tingkat kolektivisme cenderung lebih tinggi dari pada yang berasal dari daerah kota yang mana memiliki kepadatan penduduk tinggi. Lebih lanjut. Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . pada masyarakat perkotaan lekat dengan sifat individualistik yang mana disebabkan oleh lingkungan yang serba bersaing dan memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi dalam beragam aspek (Saebani, 2017:. Desa Pesanggrahan diyakini sebagai salah satu desa yang masyarakatnya masih memegang nilai budaya kolektivisme. Nilai kolektivisme direpresentasikan dengan adanya relasi yang mencerminkan kehangatan, hierarki, saling ketergantungan, memberikan dukungan, saling menyelamatkan muka dan, menjaga perasaan serta menjaga keharmonian hubungan dengan kelompoknya (Lie, et al. , 2008:. Pesanggrahan merupakan sebuah desa yang berada di kabupaten Cilacap, lebih tepatnya di Kecamatan Kroya yang mana luas wilayahnya mencapai 153 Wilayah Desa Pesanggrahan terbagi dalam 4 RW, dan 12 RT yang mana di dalamnya 257 KK. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang yang mana sebagian besar berdagang siomay dikarenakan banyak dari warga Pesanggrahan yang dulunya merantau ke daerah Jawa Barat lalu kembali ke Pesanggrahan dengan berwirausaha. Kebersamaan dan gotong royong masih begitu kental di desa tersebut, mayoritas penduduknya menganut ajaran kejawen sehingga sering kali diadakan ritual tertentu pada hari atau bulan yang di anggap istimewa. Namun, dari semua ritual-ritual tersebut terdapat satu ritual yang menjadi ciri khas dari Desa Pesanggrahan, yakni ritual bobok bumbung. Ritual bobok bumbung sudah dilakukan secara turun temurun, tradisi ini dilaksankan dalam rangka pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Masyarakat Pesanggrahan menabung uang kecil dalam tabung bambu, yang selanjutnya dialokasikan khusus untuk membayar PBB. Sehingga melalui tradisi tersebut, desa ini menjadi salah satu yang tercepat dalam pelunasan PBB. Bobok bumbung ini dilaksanakan sebagai upaya pelestarian tradisi luhur warisan nenek moyang. Masyarakat Pesanggrahan memiliki kebiasaan-kebiasaan unik pada waktu tertentu. Misalnya pada saat lebaran, para warga berkumpul untuk melakukan sungkem kepada sesepuh desa, termasuk kepala desa. Hal itu sebagai wujud dari rasa hormat dan patuh kepada tokoh penting di desa. Nilai budaya kolektivisme masih begitu kental dan melekat pada masyarakat Desa Pesanggrahan. Suseno . alam Susetyo. Widiyatmadi, dan Sudiantara, 2. menyatakan bahwa orang Jawa di pedesaan masih mempertahankan nilai kebersamaan, memiliki sifat khas dan lebih mengutamakan prinsip rukun dan prinsip hormat dalam kehidupan sosialnya. Sehingga sering kali tujuannya untuk mempertahankan kelangsungan hubungan justru menjadi alasan kurangnya perilaku asertif, cenderung memilih untuk memendam apa yang dirasakannya dikarenakan khawatir akan membuat pihak lain merasa sakit hati, padahal dengan terus-menerus membiarkan diri untuk memendam perasaan justru dapat menjadi ancaman terhadap hubungannya dengan orang lain dikarenakan muncul kemungkinan adanya rasa kurang nyaman, atau merasa orang lain memanfaatkan dirinya. Ciri-ciri yang terdapat dalam masyarakat yang menganut nilai kolektivisme adalah individu memilih hidup bersama-sama dan menjadi bagian dan kelompok. Selain itu, inidividu juga menekankan pada tujuan kelompok di atas tujuan pribadi, serta menekankan keinginan dan kepentingan kelompok berada diatas kepentingan pribadi. Hal ini sejalan dengan penelitian Hofstede . bahwa saat dihadapkan pada sebuah konflik, masyarakat yang menganut nilai kolektivis memilih untuk menghindari konflik atau negosiasi, mereka berusaha untuk menghargai orang lain serta mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan pribadinya (Wishnuwardhani & Mangundjaya, 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa antara nilai budaya kolektivisme dan perilaku asertif berkorelasi negatif. Hal ini juga dapat ditinjau berdasarkan aspek dari kedua variabel. Pada aspek nilai budaya kolektivisme, lebih tepatnya aspek harmoni dan penyelamatan muka yang mana menyatakan bahwa masyarakat kolektif menghindari konflik terbuka demi menjaga keharmonian hubungan. Hal ini berlawanan dengan aspek perilaku assertive to stand up for yourself dan to express needs & feelings honestly and comfortably yang menyatakan bahwa Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . individu yang asertif diharuskan untuk mampu menanggapi kritikan dan mengungkap Pada aspek nilai budaya kolektivisme selanjutnya, yakni moderat dan pemerataan yang menekankan bahwa masyarakat kolektif tidak terlalu menuntut hak nya dan menyatakan adanya perbedaan hak, ini bertentangan dengan aspek perilaku assertive to promote equality in person to person relationship dan aspek to exercise personal rights yang mengharuskan individu untuk berperilaku asertif dengan cara mempertahankan hak pribadinya dan menciptakan hubungan yang setara . idak ada yang lebih unggu. Selanjutnya berkaitan dengan aspek keempat nilai budaya kolektivisme, yakni pemenuhan kebutuhan orang lain yang menekan pendapat pribadi serta patuh pada Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan aspek pertama perilaku assertive to be direct, firm, positive, and persistent yang mengharuskan individu untuk dapat mengekspresikan pendapat, perasaan dan pemikirannya secara langsung dan jujur. Terkait dengan nilai kolektivisme, seiring dengan berkembangnya zaman memungkinkan terjadinya pergeseran norma dan nilai budaya. Pergeseran budaya ini tidak bisa lepas dari adanya campur tangan dari komunikasi massa yang mendukung kebebasan berpikir (Hardiansyah. Tamarli dan Hasanah, 2. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Wishnuwardhani dan Mangundjaya . kemajuan teknologi telah menyebabkan pergeseran budaya. Jika zaman dahulu individu harus bertatap muka jika ingin berkomunikasi dengan individu lain, kini telah ada teknologi yang memungkinkan individu untuk berkomunikasi jarak jauh. Kondisi yang meminimalisasi pertemuan tatap muka antar individu ini diduga dapat melemahkan nilai kolektivisme antar individu. Oleh karena itu, dengan dilakukannya penelitian ini akan meninjau apakah telah terjadi pergeseran nilai kolektivisme menjadi individualisme pada masyarakat pedesaan, khususnya Desa Pesanggrahan. Fenomena terkait perilaku asertif pada suku Jawa di Desa Pesanggrahan, para peneliti melakukan studi pendahukuan terhadap 21 orang warga desa tersebut. Hasil dari studi pendahuluan mengenai perilaku asertif tersebut menunjukkan bahwa mayoritas subjek kurang mampu dalam berperilaku asertif, hal tersebut dibuktikan dengan skor rata-rata jawaban AuTidakAy sebanyak 61,2%, sedangkan jawaban AuYaAy memiliki rata-rata sebesar 38,8%. Hubungan negatif antara kedua variabel tersebut juga diperkuat dengan hasil penelitian Eskin . yang mana melibatkan 652 siswa SMA Swedia dan 654 siswa SMA Turki. Hasil penelitian membuktikan bahwa remaja Turki kurang asertif dibandingkan dengan remaja Swedia. Dalam hal ini. Turki mewakili budaya kolektif dan Swedia mewakili budaya individual (Rohyati & Purwandari, 2. Begitupun sebaliknya pada penelitian yang dilakukan oleh Kanagawa. Cross, and Markus (Gea, 2. menyatakan bahwa mayoritas orang Amerika memiliki konsep diri independen . dibandingkan dengan orang Jepang, yang menganut konsep diri interdependen . Hasilnya, orang Amerika lebih banyak memiliki pandangan terhadap diri mereka secara positif dibandingkan dengan orang Jepang. Hal ini dsebabkan karena orang Amerika lebih mampu berperilaku AuasertifAy, sementara orang Jepang sukar memperlihatkan atau menonjolkan diri. Kemampuan untuk berperilaku asertif merupakan salah satu hal yang penting bagi individu dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial dan menjadi hal yang vital bagi kesejahteraan pribadi serta dalam berelasi. Perilaku asertif berpengaruh terhadap bagaimana seseorang mengambil strategi dalam menangani konflik, sehinga memengaruhi kehidupan indivdividu, mulai dari kepuasan kerja, kepuasan pernikahan dan kepuasan hidupnya secara umum (Sheinov, 2. Berdasarkan studi terdahulu ditemukan fakta bahwa beberapa penyakit mental dapat disebabkan oleh perilaku non-asertif atau ketidakmampuan mengekspresikan ide dan perasaan secara terbuka. Akibatnya, kurangnya perilaku asertif sering dihubungkan dengan munculnya kecemasaan dan perasaan malu. Individu yang memiliki skor rendah pada skala asertivitas umumnya lebih cemas dan pendiam (Pfafman, 2. Sehingga penting untuk mampu berperilaku asertif bagi setiap Maka dari itu, dilakukannya penelitian ini ialah bertujuan untuk: . mengetahui hubungan antara nilai kebudayaan kolektivisme dengan perilaku asertif pada suku Jawa di Desa Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . Pesanggrahan, . mengetahui gambaran perilaku asertif pada suku Jawa di Desa Pesanggrahan, . mengetahui gambaran nilai budaya kolektivisme pada suku Jawa di Desa Pesanggrahan. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti mengajukan hipotesis yang berbunyi AuTerdapat hubungan negatif antara nilai budaya kolektivisme dengan perilaku asertif pada suku Jawa di Desa Pesanggrahan". METODE Riset ini termasuk ke dalam jenis penelitian kuantitatif-korelasional, yang melibatkan total 183 orang sebagai sampel dengan kriteria: warga asli Desa Pesanggrahan yang memiliki latar belakang suku Jawa, berusia lebih dari 18 tahun serta berperan sebagai kepala keluarga atau istri kepala keluarga. Terdapat dua variabel yang diteliti dalam riset ini, yakni nilai budaya kolektivisme (X) dan perilaku asertif (Y). Nilai budaya kolektivisme merupakan suatu nilai yang membentuk konstruk diri interdependen . nterdependent construal of sel. , sehingga masyarakat yang mengadopsi nilai budaya kolektivisme cenderung memiliki ikatan emosional yang kuat satu sama lain, menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi sehingga tercipta kehidupan sosial yang saling bergantung antar individu. Perilaku asertif . ssertive behavio. merupakan kemampuan individu untuk mengkomunikasikan atau menyampaikan perasaan, pikiran dan kebutuhannya dengan memperhitungkan hak pribadi tanpa mengabaikan hak orang lain. Teknik sampling yang digunakan yaitu two-stage cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan dua skala psikologi yang disebar secara langsung . terhadap warga Desa Pesanggrahan. Pertama ialah skala perilaku asertif yang disusun berdasarkan tujuh aspek perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti & Emmons . 7:43-. skala ini terdiri dari 30 item yang dinyatakan valid. Skala kedua ialah skala nilai budaya kolektivisme yang disusun berdasarkan lima aspek nilai budaya kolektivisme menurut Riyono . terdiri dari 21 butir pernyataan masingmasing memiliki empat alternatif jawaban. Berdasarkan hasil uji validitas terhadap 31 item skala perilaku asertif, diperoleh hasil bahwa 30 item dinyatakan valid dan hanya terdapat 1 item yang tidak valid yaitu item nomor 13. Item tersebut tidak valid dikarenakan Sign 0,106 > 0,05 sedangkan untuk skala nilai budaya kolektivisme yang terdiri dari 21 item keseluruhan item tersebut valid. Oleh karena itu, seluruh item tersebut dapat disertakan dalam analisis data selanjutnya. Selanjutnya uji reliabilitas pada skala perilaku asertif menunjukkan koefisien alpha cronbachAos sebesar 0,772 . , sedangkan skala nilai budaya kolektivisme memperoleh koefisien alpha cronbachAos sebesar 0,905 . angat kua. Data di olah menggunakan metode analisis data Product Moment yang dilakukan dengan bantuan software pengolah data yakni SPSS. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek dalam penelitian ini salah suku Jawa di Desa Pesanggrahan, dengan rincian sampel sebagai berikut: Tabel 1. Rincian Sampel No Rukun Tetangga (RT) Jumlah KK Total Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . Tabel 2. Uji Hipotesis Correlation Perilaku Asertif Pearson Correlatiom Sig. -taile. Pearson Nilai Budaya Correlatiom Kolektif Sig. -taile. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Perilaku Asertif Nilai Budaya Kolektif Hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel 2. Diperoleh nilai korelasi Pearson sebesar -0,543 dengan signifikansi 0,000. Oleh karena Signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kedua variabel, sehingga hipotesis penelitian yang berbunyi AuTerdapat hubungan negatif antara nilai budaya kolektivisme dengan perilaku asertif pada suku Jawa di Desa PesanggrahanAy diterima. Hubungan tersebut bersifat negatif, artinya semakin tinggi nilai budaya kolektivisme yang dimiliki individu, maka semakin rendah perilaku asertif. Begitupun sebaliknya, semakin rendah nilai kolektivisme yang dimiliki individu, maka semakin tinggi perilaku Menurut perolehan hasil analisis data diketahui bahwa gambaran umum menunjukkan bahwa perilaku asertif pada suku Jawa di desa Pesanggrahan berada dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 95,6%, sedangkan gambaran umum dari nilai budaya kolektivisme dalam kategori tinggi dengan persentase sebanyak 70%. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Kategori (N = . Variabel Klasifikasi Jumlah Persentase Perilaku Asertif Rendah 1,7% Sedang 95,6% Tinggi 2,7% Nilai Budaya Rendah Kolektivisme Sedang Tinggi Secara umum, berdasarkan data yang diperoleh menggunakan skala psikologi dengan total 30 item yang disusun berdasarkan tujuh aspek perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons . 7:53-. dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif pada suku Jawa di desa Pesanggrahan berada dalam kategori sedang. Hal ini dibuktikan berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari 183 subjek. Sebanyak 175 subjek . ,6%) berada dalam kategori sedang, kemudian 5 subjek . ,7%) dalam kategori tinggi, serta 3 subjek . ,7%) dalam kategori rendah. Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa antara nilai budaya kolektivisme dan perilaku asertif berkorelasi negatif. Sheinov . faktor etnis dan budaya berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan seseorang dalam berperilaku asertif hal itu dikarenakan kekhasan persepsi yang ditentukan oleh norma dan nilai yang mengatur perilaku dalan budaya yang berbeda. Hasil dari analisis tersebut sejalan dengan penelitian Eskin . yang melibatkan 652 siswa Swedia dan 654 siswa Turki, dalam penelitiannya tersebut ditemukan hasil bahwa remaja Swedia Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . lebih asertif dibandingkan remaja Turki. Turki mewakili negara kolektif sedangkan Swedia mewakili negara individual. Turki digambarkan sebagai negara dengan budaya kolektif . yang memiliki keterkaitan dan saling ketergantungan, sedangkan budaya Swedia sangat mengedepankan otonomi pribadi . Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Fukuyama dan Greenfield . yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan perilaku asertif antara masyarakat Asia dan Amerika, dimana orang Asia memiliki kecenderungan perilaku asertif lebih rendah dari pada orang Amerika. Hal tersebut dikarenakan dalam budaya Asia lebih mengedepankan nilai keselarasan dan keharmonian. Kebudayaan turut memiliki peran dalam pembentukan perilaku asertif dikarenakan adanya norma-norma tertentu yang dimiliki oleh tiap-tiap anggota masyarakat, norma yang diterapkan tersebut menjadi dasar individu dalam mengekspresikan pendapat atau perilakunya. Sekelompok masyarakat yang memegang nilai budaya kolektivisme mengutamakan keharmonian dan perilaku Tidak jarang komunikasi asertif dipersepsikan agresif, sehingga berdampak pada kurangnya kemampuan individu dalam berperilaku asertif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perilaku asertif suku Jawa di Desa Pesanggrahan berada dalam kategori sedang. Individu yang memiliki perilaku asertif dalam kategori sedang artinya ia sanggup berperilaku asertif baik secara verbal maupun non-verbal, namun ada kalanya mereka sulit untuk berperilaku asertif, terkadang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan secara jujur apa yang dirasakan dan diinginkan (Khaerunnisa. Marjo, dan Setiawan, 2. Terdapat hasil yang berbeda antara fenomena yang peneliti angkat dengan hasil penelitian yang telah diperoleh. Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan terhadap 21 subjek menggunakan pernyataan tertutup memperoleh kesimpulan bahwa masyarakat Desa Pesanggrahan memiliki tingkat perilaku asertif yang cenderung rendah. Sedangkan dari hasil penelitian, secara umum masyarakat Desa Pesanggrahan memiliki tingkatan perilaku asertif yang berada dalam kategori sedang. Oleh karena itu antara hasil dari studi pendahuluan dan hasil penelitian menunjukkan kurang adanya keseuaian, hal ini dapat terjadi dikarenakan jumlah subjek sedikit pada saat studi pendahuluan yakni berjumlah 21 orang sehingga kurang representatif, sementara jumlah sampel penelitian sebanyak 183 orang. Selain itu terdapat faktor lain yang turut memiliki pengaruh terhadap perilaku asertif, salah satunya ialah status pernikahan. Pada umumnya, orang yang sudah menikah lebih asertif daripada individu dengan status lajang (Sheinov, 2. Dalam pernikahan keterampilan untuk berperilaku asertif dan empati sangat dibutuhkan demi tercapainya kepuasan (Mitrofan & Dumitrache, 2. Hal ini sesuai dengan data lapangan, 183 sampel penelitian merupakan individu yang berstatus Sehingga status pernikahan diduga menjadi salah satu faktor yang mendukung berkembangnya perilaku asertif. Variabel nilai budaya kolektivisme pada suku Jawa di desa pesanggrahan diukur berdasarkan lima aspek nilai budaya kolektivisme yang dikemukakan oleh Riyono . Secara umum, masyarakat desa Pesanggrahan memiliki tingkatan nilai budaya kolektivisme tinggi. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebanyak 128 subjek . %) memiliki tingkatan nilai budaya kolektivisme dalam kategori tinggi, sedangkan sisanya sejumlah 55 subjek . %) berada dalam kategori sedang. Masing-masing kebudayaan mempunyai suatu kerangka dasar dalam menyikapi suatu perkara penting yang mana memiliki keterkaitan dengan keberadaan dan keberlangsungan kebudayaan tersebut. Kolektivisme dipandang sebagai suatu struktur yang memaksimalkan ikatan antar-individu dan menggambarkan kondisi masyarakat yang mana setiap anggota terintegrasi dan memiliki ikatan yang kuat dengan kelompoknya. Kolektivisme yang tinggi menandakan adanya Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . kepedulian individu terhadap individu lain dalam kelompok serta mengharapkan orang lain untuk peduli terhadap dirinya secara timbal balik (Septarini & Yuwono, 2. Nilai budaya kolektivisme melahirkan beberapa kecenderungan perilaku khas, yaitu: . sangat memperdulikan akibat dari pengambilan keputusan terhadap orang lain, . memiliki kerelaan tinggi untuk berbagi sumber materi maupun non-materi, . rela dalam menerima pendapat orang lain, . menjaga pembawaan demi mencegah dari kehilangan muka, . menganggap bahwa keberadaan dan dukungan orang lain sangatlah penting, . saling terlibat satu sama lain, . mengedepankan keutuhan kelompok atau keluarga, . keterikatan pada kelompok, . norma kelompok sebagai landasan dalam berperilaku, . mengedepankan keharmonian, . adanya pembedaan antara ingroup dan outgroup, . patuh dan taat pada kewajiban, . rela mengorbankan diri demi kelompok, . relasi antar anggota kelompok yang mencerminkan kehangatan, rasa saling bergantung, menjaga perasaan serta saling memberikan dukungan (Lie et , 2008:224-. Ciri khas dari budaya kolektivisme di atas tercerminkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pesanggrahan. Di desa tersebut hubungan antar-warga terjalin dengan begitu dekat dan rukun, saling tolong menolong, patuh terhadap pemimpin serta terikat pada norma yang Warga setempat rela mengorbankan waktu maupun tenaga demi orang lain. Salah satunya ialah dengan melibatkan diri pada acara-acara desa, seperti kerja bakti, turut serta membantu pada acara hajatan atau kematian dan mengedepankan gotong royong. Berdasarkan penjabaran nilai budaya kolektivisme yang dilihat dari masing-masing aspek yang mewakilkan, menggambarkan bahwa nilai budaya kolektivisme warga Desa Pesanggrahan dalem kategori tinggi yang mana menunjukkan adanya keterikatan yang kuat antar individu, serta budaya gotong royong yang begitu kental. Hal tersebut salah satunya dimanifestasikan kedalam suatu tradisi yang disebut Bobok Bumbung yakni sebuah tradisi di masyarakat setempat yang dilakukan setiap tahunnya untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan cara gotong royong masing-masing menabung dalam suatu batang bambu . Hal inilah yang menjadi tradisi serta keunikan dari Desa Pesanggrahan. SIMPULAN Melalui penjabaran di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara nilai budaya kolektivisme dan perilaku asertif pada suku Jawa di desa Pesanggrahan dengan arah hubungan negatif, yang artinya semakin tinggi nilai budaya kolektivisme maka semakin rendah perilaku asertif. Hal tersebut berlaku sebaliknya, semakin rendah nilai budaya kolektivisme, maka semakin tinggi perilaku asertif. Berdasarkan analisis deskriptif, secara umum perilaku asertif suku Jawa di Desa Pesanggrahan berada dalam kategori sedang sedangkan nilai budaya kolektivisme suku Jawa di Desa Pesanggrahan secara umum berada dalam kategori tinggi. Menurut hasil riset menunjukkan perilaku asertif masyarakat desa Pesanggrahan berada di kategori sedang, maka saran yang diberikan peneliti yakni agar sebisa mungkin untuk dapat meningkatkan perilaku asertif terutama berkaitan dengan aspek to stand up for yourself. Yakni masyarakat diharapkan mampu jujur kepada diri sendiri maupun orang lain, mampu menolak atau berkata tidak ketika memang tidak berkenan melakukan atau menuruti permintaan orang lain. Saran untuk peneliti selanjutnya, diharapkan agar menggali lebih dalam dan lebih kompleks pada aspek demografis subjek. Karena terdapat banyak faktor lain yang memengaruhi perilaku asertif, baik internal maupun eksternal. Nufailatun Zakiya / Journal of Social and Industrial Psychology 11 . DAFTAR PUSTAKA