Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2025, 28-33 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI PKM Edukasi Metode Pecegahan Bullying pada Anak dan Remaja Suyani1,*. Luluk Rosida2 Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas AoAisyiyah email*: suyanibasyar@unisayogya. Abstrak Fenomena bullying di luar negeri dari tahun 2011 dengan lebih dari 300. 000 siswa dari 48 negara berkembang. Menurut data KPAI 87,6 % anak mengaku pernah mengalamikekerasan di lingkungan sekolah dalam berbagai bentuk. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan dibidang pendidikan sebanyak 1. 480 kasus bullying yang disebut KPAI sebagai bentuk negatif disekolah maupun di Lingkungan. Minimnya Minimnya promosi dalam pencegahan kejadian Bullying terutama Di ASKI Sonopakis. Solusi yang di sepakati bersama mitra adalah Sosialisasi terkait bullying dan metode pencegahan bullying di ASKI sonopakis . Metode pengabdian ini melalui beberapa tahapan. Tahap pertama Assesment yaitu pendataan terkait pengetahuan tentang bullying Tahap dua Planning and development Perencanaan dan persiapan terkait program penyuluhan dan sosilaisasi metode pencegahan bullying. Menyusun lembar balik dan membuat media penyuluhan : poster, leaflet,. Menyusun jadwal pelaksanaan program. Mitra berperan turut dalam merencanakan jadwal program. Tahap tiga Implementation pemberian materi berupa Sosialisasi terkait bullying dan metode pencegahan bullying di ASKI Tahap empat Evaluation setelah pelaksanaan sosialisasi dengan cara pendataan kembali pengetahuan terkait bullying dan metode pencegahannya . Target luaran dari pengabdian masyarakat ini adalah adanya publikasi dalam jurnal pengabdian Mayadani, terbit diberita surat kabar kumparan dan vidio kegiatan di youtube UNISA Yogyakarta. Kata kunci : Remaja. Bullying. Sosialisasi. Edukasi Abstract The phenomenon of bullying abroad since 2011 with more than 300,000 students from 48 developing countries. According to KPAI data, 87. 6% of children admitted to having experienced violence in the school environment in various forms. That number is around 25% of the total complaints in the education sector, amounting to 1,480 cases of bullying which KPAI refers to as negative forms in schools and in the environment. The lack of promotion in preventing bullying incidents, especially at ASKI Sonopakis. The solution agreed upon with the partner is a socialization related to bullying and methods of preventing bullying at ASKI Sonopakis. This service method goes through several stages. The first stage is Assessment, which is data collection related to knowledge about bullying. The second stage is Planning and Development, planning and preparation related to the counseling program and socialization of bullying prevention methods. Preparing flip sheets and creating counseling media: posters, leaflets. Preparing the program implementation schedule. Partners play a role in helping plan the program schedule. The third stage is Implementation, delivering material in the form of socialization related to bullying and methods of preventing bullying at ASKI Sonopakis. The fourth stage is Evaluation after the implementation of the socialization by recollecting data on knowledge related to bullying and its prevention methods. The target outputs of this community service are publications in the Mayadani service journal, publication in the Kumparan newspaper news, and an activity video on the UNISA Yogyakarta YouTube channel. Keywords: Adolescents. Bullying. Socialization. Education This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Bullying adalah sebuah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok orang. Mengidentifikasi jenis dan wujud bullying secara umum https://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 dapat dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu Bullying fisik, meliputi tindakan menampar, menimpuk, menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari keliling lapangan dan menghukum dengan cara push up. Bullying verbal, bullying ini terdeteksi karena tertangkap oleh indera pendengaran, seperti memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memalukan didepan umum, menuduh, menyoraki, menebar gossip, memfitnah. Bullying mental atau psikologis, bullying ini merupakan bullying yang paling berahaya karena tidak tertangkap Praktik ini terjadi secara diam-diam dan diluar pemantauan si korban. Contohnya: memandang sinis, memandang penuh ancaman, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat pesan sms, memandang yang merendahkan, memelototi dan mencibir (Nusantara, 2. Tragedi penindasan atau bullying kerap melibatkan tiga pemeran: penindas, tertindas, dan penonton. Ketiganya tak hanya akrab kita jumpai, tapi juga sering kita jalani. Namun ketiga karakter itu sejatinya juga dimainkan dan dipelajari oleh anak-anak kita dalam keseharian mereka di rumah, di sekolah, atau di tempat bermain (Coloroso, 2. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak-anak terlibat langsung dalam perundungan sebagai pelaku, korban, atau keduanya. Dan banyak dari mereka yang tidak terlibat langsung menyaksikan orang lain dirundung secara teratur. Tidak ada anak yang kebal - anak-anak dari setiap ras, jenis kelamin, tingkatan kelas, dan sektor sosial-ekonomi terdampak. Namun, hal ini tidak harus terjadi, orang tua memiliki kekuatan untuk membantu mengurangi perundungan (Hymel, 2. Fenomena bullying di luar negeri menurut penelitian yang dilakukan oleh (Oliveira. Felipe Resende. de Menezes. Tatiane Almeida. Irffi. Guilherme. Resende Oliveira, 2. , mengatakan bahwa dalam survei dari tahun 2011 dengan lebih dari 300. 000 siswa dari 48 negara berkembang, bahwa lebih dari 50% siswa melaporkan bahwa mereka mengalami bullying di sekolah dan 33 % sampel dilaporkan mengalami pengganggu mingguan. Sedangkan fenomena bullying di Indonesia yang dilakukan oleh penelitian (Nurhayanti. Novoitasari, 2. , mengungkapkan bahwa 10-60 % siswa Indonesia melaporkan mendapat ejekan, cemoohan, pengucilan, pemukulan, tendangan, ataupun dorongan, setidaknya sekali dalam seminggu Huneck dalam (Nurhayanti. Novoitasari, 2. Amrullah Sofyan seorang aktivis Plan Indonesia menyampaikan hasil survei yang dilakukan pada 300 anak SD. SLTP, dan SLTA didua kecamatan di daerah Bogor menunjukkan bahwa sebanyak 15,3% siswa SD, 18% siswa SLTP, dan 16% siswa SLTA sering mengalami tindak kekerasan di sekolahnya. Tindak kekerasan tersebut dilakukan oleh guru 14,7% dan sesama teman sekolah 35,3% . id,). Menurut data KPAI 87,6 % anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah dalam berbagai bentuk. Dari angka 87,6 % tersebut, , 42,1 % dilakukan oleh teman sekelas, dan 28,0 % dilakukan oleh teman lain kelas. Disektor pendidikan dari 2011 sampai agustus 2014. KPAI mencatat 369 pengaduan terkait masalah tersebut. Jumlah itu sekitar 25% dari total pengaduan dibidang pendidikan sebanyak 1. 480 kasus bullying yang disebut KPAI sebagai bentuk negatif disekolah mengalahkan tawuran pelajar, diskriminasi pendidikan, ataupun aduan pungutan liar (KPAI, 2014. Perlindungan dari kasus perundungan sangat di perlukan anak terutama di Sekolah atau tempat belajar dimana tempat itu tidka bisa diawasi orang tua secara penuh, agar anak dapat melakukan kegiatan belajar dengan nyaman dan tenang (Wiyani, 2. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki keunikan dalam konteks sosial budaya karena falsafah Jawa yang dianut sangat kental, namun masih maraknya tindakan bullying di sekolah pada anak membuat hal ini menjadi permasalahan serius di DIY (Bappeda DIY, 2. Berdasarkan Survei Lembaga Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa sejak tahun 2008. Yogyakarta merupakan salah satu diantara 3 kota besar di Indonesia yang memiliki risiko bullying paling tinggi, terdapat 67% dari 1. anak dan remaja yang terlibat dalam kasus bullying (Sejiwa, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Sejiwa dalam (Nurhayanti. Novoitasari, 2. tentang perilaku bullying ditiga kota besar di Indonesia yaitu Yogyakarta. Surabaya dan Jakarta mencatat terjadinya tingkat bullying sebesar 67,5% ditingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 66. 1% ditingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bullying yang dilakukan sesama siswa, tercatat sebesar 41,2% untuk tingkat SMA dan 43,7% untuk tingkat SMP dengan kategori tertinggi bullying psikologis berupa mengucilkan. Peringkat kedua ditempati bullying verbal . dan terakhir bullying fisik . Gambaran kekerasan di SMP di tiga kota besar yaitu: Yogyakarta: 77,5% . engakui ada bullyin. , 22,5% . engakui tidak ada bullyin. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Surabaya: 59,8 % . da bullyin. Jakarta: 61,1% . da bullyin. Upaya penanggulangan bullying secara non penal merupakan upaya pencegahan tindak pidana terjadi di lingkungan. Upaya pencegahan tindak pidana ini dapat dilaksanakan ketika bullying tersebut belum terjadi. Sebelum terjadinya bullying, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mensosialisasikan akibat dari bullying kepada anak naka dimana lingkungan anak anak tinggal (KPAI, 2014. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan secara pribadi kepada pelaku bullying (Wahyuni. , 2. Di Sonopakis Sendiri terdapat Asosiasi Karateka Indonesia (ASKI) dimana anggotanya merupakan anak anak yang ada di lingkungan sonopakis maupun dari luar Sonopakis. Anggota ASKI Sonopakis ada 36 peserta, dengan usia termuda 5 tahun dan tertua 14 tahun. Dari 36 peserta terdapat tingkatan sabuk yang yang bervariasi, yaitu : sabuk putih 4 peserta, sabuk kuning 3 peserta, sabuk orannye 8 peserta, sabuk hijau 6 peserta, sabuk biru 12 peserta dan sabuk ungu 3 peserta. Proporsi peserta berdasarkan jenis kelamin, peserta perempuan 20 dan laki-laki 16 peserta. Proses Latihan yang dilaksanakan seminggu 3 kali dan bervariasinya usia serta tingkatan sabuk memungkinkan anak untuk lebih banyak berinteraksi di saat Latihan dan banyak menimbulkan potensi bullying terutama berupa bullying verbal. Sehingga perlu dilakukan edukasi kepada anak - anak peserta aski sonopakis mengenai bullying dan metode pencegahannya. METODE Metode pelaksanaan pengabdian ini menggunakan teori Participatory Learning and Action (PLA). PLA atau pembelajaran dan praktik partisipatif adalah metode pemberdayaan masyarakat yang juga dikenal sebagai "belajar dengan melakukan" . PLA sangat tepat digunakan sebagai pendekatan proses belajar dan berinteraksi dengan komunitas atau masyarakat. Karena PLA secara efektif menekankan pada proses pembelajaran, dimana kegiatan pembelajaran dibangun atas dasar partisipasi masyarakat dalam segala aspekkegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan ini secara garis besar dapat diuraikan menjadi 3 tahapan besar sebagai berikut: Tahap Koordinasi dan Persiapan Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap koordinasi dan persiapan di antaranya: pertama. FGD tim pengusul bersama mitra membahas teknis program AuEdukasi Metode Pecegahan Bullying pada Anak dan Remaja Anggota ASKI SonopakisAy yang akan dilaksanakan. kedua, penentuan lokasi dan peserta kegiatan pengabdian. Beberapa hal yang dilakukan tim PKM dengan mitra adalah diskusi, penyuluhan dan edukasi. Pada tahap ini juga dilakukan diskusi interaktif dengan mitra dalam rangka menyamakan persepsi mengenai batasan masalah yang akan diselesaikan melalui program. penentuan jadwal kegiatan pelaksanaan program. keempat, persiapan alat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan program. Tahap Pelaksanaan Selanjutnya adalah tahap pelaksanaan. Beberapa langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan yaitu: pertama, sosialisasi tentang gambaran dan tujuan dari PKM. Pada tahap ini juga dilakukan pengenalan IPTEK yang akan diterapkan dalam memecahkan masalah yang dihadapi mitra. pelatihan penggunaan IPTEK. Tahap ini bertujuan untuk peningkatkan kapasitas anggota dan kelompok mitra. Beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini adalah Pembuatan dan pengenalan inovasi matras proning, sosialisasi manfaat dan cara penggunaan. Tahap Monitoring dan Evaluasi Setelah dilakukan pelaksanaan, langkah selanjutnya adalah tahap monitoring dan evaluasi Tahap ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas program AuEdukasi Metode Pecegahan Bullying pada Anak dan Remaja Anggota ASKI SonopakisAy yang dilaksanakan. Pada proposal ini telah disusun cara pengukuran keberhasilan target luaran. Efektivitas program ini diukur melalui Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 pengukuran pengetahuan Peserta ASKI Sonopakis sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan edukasi terkait Bullying. Berberapa langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah monitoring yaitu aktivitas yang ditujukan untuk memantau pelaksanaan program serta capaian yang telah didapatkan. Monitoring diperlukan agar kesalahan awal dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan perbaikan, sehingga mengurangi risiko yang lebih besar. Monitoring ini dilakukan khususnya dalam pelasaan pemberian penyuluhan dan edukasi pada mitra. Urutan pelaksanaan program disesuaikan dengan metode PLA dan juga target serta tujuan pelaksanaan masing-masing program. Secara garis besar alur pelaksanaan program PKM AuEdukasi Metode Pecegahan Bullying pada Anak dan Remaja Anggota ASKI SonopakisAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan dalam pengabdian ini didasarakan pada solusi untuk permasalahan mitra. Hasil dari pelaksanaan program pengabdian ini antara lain : Penyuluhan pengetahuan tentang bulliying Koordinasi dengan pengurus ASKI (Asosiasi Karate Indonesi. Sonopakis Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta untuk meningkatkan pengetahuan Kepada peserta ASKI dalam hal Bullying. Setelah diskusi dilaksanakan, kemudian dilakukan penyuluhan dan edukasi tentang Bullying. Bullying merupakan sebuah kondisi dimana telah terjadi penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilakukan oleh perseorangan ataupun kelompok. Penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan dilakukan pihak yang kuat tidak hanya secara fisik saja tetapi juga secara mental. Perilaku bullying juga dapat disebut dengan peer victimization ataupun hazing (Nusantara, 2. Menurut (Rigby, 2. bullying adalah tindakan menekan atau mengintimidasi anak lain baik secara fisik maupun verbal dan biasanya terjadi ketidak seimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Gambar 1. Penyuluhan pengetahuan tentang bulliying Edukasi Cara Pencegahan dan pelaporan Korban Bullying Pemberian Edukasi terkait bagaimana mencegah Bullying sangat penting untuk diberikan ke ASKI Sonopakis guna mencegah terjadinya kejadian Bullying. Program pencegahan ini merupakan langkah efektif yg dilakukan untuk mengatasi bullying. Peran dari pelatih di ASKI Sonopakis sangant penting untuk membrikan kesadaran penuh tentang bullying dan mengembnagkan kebijakan yang tegas dan konsisten terhadap perilaku bulliying (Costrie, 2. Untuk mencegah agar tidak menjadi korban tindakan bullying antara lain yang dapat lakukan adalah: Hindari membawa atau memakai barang-barang mahal atau uang yang berlebihan Jangan sendirian terutama di tempat sepi Hindari cari gara-gara dengan pelaku bullying Jangan berada di dekat dengan oarang yang suka melakukan tindakan bullying atau berada di sekitar Kenali dan perhatikan pelaku bullying Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Jangan ikut-kutan melakukan tindakan bullying dalam bentuk apapun Gambar 2. Cara Pencegahan dan pelaporan Korban Bullying Evaluasi Program Melakukan evaluasi setelah pelaksanaan program kegiatan dengan melakukan pendataan kembali pengetahuan tentang bulliying dan bagaimana metode pencegahan bulliying. Peran mitra dalam hal ini bersama-sama penggalangan komitmen untuk mencegah terjadinya bulliying di ASKI Sonopakis. Monitoring selanjutnya dilakukan oleh sinpei atau pimpinan ASKI Sonopakis. Hasil kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan peserta ASKI tentang bulliying dan metode pencegahan bulliying. Berdasarkan evaluasi yang didapatkan melalui kegiatan pretest dan posttest terhadap 36 peserta adalah peningkatan pengetahuan yang awalnya pengetahuan baik hanya 35 % menjadi 90 %. Pelaksanaan pengabdian masyarakat secara umum berjalan dengan baik, terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambatdalam pelaksanaan pengabdian masyarakatini antara lain: Kerjasama dengan sinpei atau pimpinan ASKI berjalan baik. Lokasi mitra berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal tim pengabdian sehingga mudah dijangkau oleh tim melaksanakan kordinasi dengan mitra. Gambar 3. Pemateri dan Peserta Program Penyuluhan dan Edukasi Bullying SIMPULAN Kesimpulan dari kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan peserta ASKI Sonopakis tentang bulliying dan metode pencegahan bulliying. Luaran dari kegiatan ini berupa publikasi jurnal pengabdian masyarakat, video kegiatan yang diunggah di youtube yang di HKIkan dan media online. Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan peserta ASKI Sonopakis dapat mencegah terjadinya bulliying baik di ASKI Sonopakis maupun di luar ASKI. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih dan apresiasi diberikan kepada Universitas AoAisyiyah Yogyakarta. ASKI sonopakis sebagai mitra dan semua fihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. DAFTAR PUSTAKA