71 JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 Pengaruh Good Corporate Governance terhadap ROA dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi : (Studi Empiris pada Perusahaan Sektor Bahan Baku yang Terdaftar di BEI Periode 2019Ae2. Yulia1. Eddy Suratman2. Giriati3 Info Artikel Diterima Maret 12, 2026 Revisi Maret 17, 2026 Terbit Maret 30, 2026 Keywords: Good Corporate Governance. Return on Assets. Firm Size. Basic Materials Sector. Indonesia Stock Exchange ABSTRACT This study analyzes the moderating role of firm size on the relationship between Good Corporate Governance (GCG) mechanisms and Return on Assets (ROA) in basic materials sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for 2019Ae2024. GCG is proxied by audit committee size (KA), board of commissioners' independence (KI), managerial ownership (MAN), and institutional ownership (INST). Firm size is measured by the natural logarithm of total assets. Using purposive sampling, 53 companies were selected, yielding 318 panel observations. The Fixed Effect Model (FEM) was selected based on the Chow test (F=10. 843, p<0. and Hausman test (NA=76. 221, p<0. Managerial ownership was excluded from FEM estimation due to zero within-group variation across all 53 firms. Interaction terms (GCG y Firm Siz. were used to test moderation after mean-centering. Results show: . audit committee size positively and significantly affects ROA (=3. 597, p=0. firm size significantly moderates the effect of board independence on ROA (=795. 150, p=0. , indicating stronger governance effects in larger firms. firm size does not significantly moderate audit committee and institutional ownership effects. These findings support agency theory and Resources-Based View in the Indonesian basic materials sector. Identitas Penulis: YuliaA. Eddy SuratmanA. Giriati3 Sistem Informasi Akuntansi Kampus Kota PontianakA. Universitas Bina Sarana Informatika. Indonesia Ekonomi Pembangunan2,Manajemen1,3. Universitas Tanjungpura. Indonesia Jl. Abdurahman Saleh No. Pontianak. Kalimantan Barat. IndonesiaA Jl. Profesor Dokter H. Hadari Nawawi. Pontianak. Kalimantan Barat 78124. Indonesia1,2,3 Email: yulia. yla@bsi. id, eddysuratman@untan. id, giri_fe@yahoo. PENDAHULUAN Kinerja keuangan perusahaan mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya secara optimal, baik secara efektif maupun efisien. Salah satu indikator profitabilitas yang paling sering digunakan adalah Return on Assets (ROA), karena rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui pemanfaatan seluruh aset yang dimiliki . Nilai ROA yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola aset produktif secara efisien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan investor serta mendukung keberlangsungan usaha dalam jangka Panjang . Sektor bahan baku . asic materials secto. yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki peran strategis dalam mendukung rantai pasok industri manufaktur nasional. Sektor ini mencakup berbagai subsektor penting seperti pertambangan, kimia dasar, pengolahan bahan non-logam, serta industri kertas dan kemasan . Selama periode 2019Ae2024, sektor ini menghadapi berbagai tekanan kompleks, mulai dari pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-. yang mengganggu rantai pasok global, lonjakan harga komoditas setelah pandemi akibat konflik geopolitik RusiaAeUkraina, hingga proses normalisasi harga yang diikuti oleh tekanan inflasi global . (OJK, 2. Situasi tersebut menegaskan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang kuat sebagai dasar dalam menjaga stabilitas dan ketahanan kinerja keuangan. Good Corporate Governance (GCG) merupakan suatu sistem yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan dalam perusahaan dengan tujuan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 efisiensi pengelolaan organisasi. Berdasarkan teori keagenan . , adanya perbedaan kepentingan antara principal . emegang saha. dan agent . dapat memunculkan asimetri informasi serta biaya keagenan yang berpotensi menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, penerapan mekanisme GCG seperti keberadaan komisaris independen, komite audit, serta pengaturan struktur kepemilikan diharapkan mampu meminimalkan konflik kepentingan tersebut. Meskipun demikian, temuan dari penelitian sebelumnya masih menunjukkan hasil yang beragam. Penelitian oleh . menunjukkan bahwa GCG memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Sebaliknya, penelitian . melaporkan hasil yang tidak konsisten. Perbedaan hasil tersebut mengindikasikan adanya kemungkinan faktor lain yang berperan sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara GCG dan ROA, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut untuk menjelaskan fenomena tersebut. Ukuran perusahaan . irm siz. diperkirakan berperan sebagai variabel moderator yang penting dalam hubungan tersebut. Teori Resources-Based View . menjelaskan bahwa perusahaan dengan skala yang lebih besar memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber daya, peluang tercapainya skala ekonomi, serta kapasitas tata kelola yang lebih baik. Penelitian . menunjukkan bahwa efektivitas penerapan mekanisme GCG sangat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, di mana perusahaan yang lebih besar cenderung mampu memaksimalkan dampak positif GCG terhadap kinerja keuangannya. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh langsung mekanisme Good Corporate Governance yang terdiri dari komite audit, komisaris independen, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional terhadap Return on Assets (ROA) pada perusahaan sektor bahan baku yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019Ae2024. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji peran ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara mekanisme GCG dan ROA. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengisi kesenjangan penelitian terkait peran kondisional ukuran perusahaan sebagai faktor yang memengaruhi efektivitas penerapan GCG, khususnya pada sektor komoditas di Indonesia. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 1 Teori Keagenan dan Good Corporate Governance . merumuskan teori keagenan . gency theor. yang menjelaskan bahwa hubungan keagenan antara pemegang saham . dan manajemen . menciptakan asimetri informasi dan biaya keagenan. GCG hadir sebagai mekanisme untuk mengatasi masalah keagenan ini melalui pengawasan, transparansi, dan penyelarasan kepentingan . Teori Resources-Based View . melengkapi kerangka ini dengan menjelaskan bahwa kapabilitas dan sumber daya perusahaan yang berkorelasi kuat dengan ukuran perusahaan memengaruhi efektivitas implementasi GCG. 2 Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis Kerangka konseptual penelitian ini menempatkan mekanisme GCG (KA. KI. MAN. INST) sebagai variabel independen. ROA sebagai variabel dependen, dan firm size (LN_SIZE) sebagai variabel moderasi yang memperkuat atau memperlemah pengaruh GCG terhadap ROA. Gambar 1 menyajikan model konseptual VARIABEL INDEPENDEN Good Corporate Governance A Komite Audit (KA) A Komisaris Independen (KI) A Kepemilikan Manajerial (MAN) A Kepemilikan Institusional (INST) VARIABEL DEPENDEN Return on Assets (ROA) VARIABEL MODERASI Firm Size Ln (Total Ase. (LN_SIZE) Gambar 1. Model Konseptual Penelitian Sumber: Dikembangkan oleh penulis, 2026 http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 Komite audit yang lebih besar meningkatkan kualitas pengawasan pelaporan keuangan dan mereduksi risiko manipulasi laba, sehingga berdampak positif pada profitabilitas . Berdasarkan hal tersebut dirumuskan: H1: Komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Komisaris independen berperan mengawasi manajemen secara objektif guna memitigasi perilaku oportunistik dan meningkatkan efisiensi operasional . Berdasarkan hal tersebut dirumuskan: H2: Komisaris independen berpengaruh positif terhadap ROA. Kepemilikan manajerial yang substansial menciptakan penyelarasan kepentingan antara manajemen dan pemegang saham . oal alignmen. , mendorong pengambilan keputusan yang berorientasi nilai . Berdasarkan hal tersebut dirumuskan: H3: Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap ROA. Investor institusional memiliki kapasitas analisis lebih tinggi dan insentif lebih kuat untuk memonitor manajemen sehingga mendorong pengambilan keputusan yang optimal . Berdasarkan hal tersebut dirumuskan: H4: Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap ROA. Firm size yang lebih besar memberikan sumber daya, infrastruktur tata kelola, dan visibilitas publik yang mendukung efektivitas mekanisme GCG dalam meningkatkan profitabilitas . Berdasarkan hal tersebut dirumuskan: H5: Firm size memoderasi . pengaruh GCG terhadap ROA. METODE PENELITIAN 1 Pendekatan dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang menekankan pengujian teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik . Desain penelitian yang digunakan adalah desain kausalitas . ausal research desig. , yakni rancangan penelitian yang bertujuan mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antar variabel yang diteliti . Pendekatan dan desain ini dipilih karena penelitian bertujuan menguji pengaruh mekanisme GCG terhadap ROA serta peran moderasi firm size secara empiris dan terukur. 2 Populasi. Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi penelitian mencakup 82 perusahaan sektor bahan baku yang terdaftar di BEI per Desember Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yang ditetapkan peneliti sesuai tujuan penelitian. Kriteria sampel meliputi: . terdaftar di BEI dan aktif bertransaksi selama 2019Ae2024. menerbitkan laporan keuangan tahunan secara konsisten. tidak mengalami delisting selama periode penelitian. memiliki data lengkap untuk seluruh variabel penelitian. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel akhir 53 perusahaan dengan total 318 observasi . perusahaan y 6 tahu. 3 Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan merupakan data sekunder yang dikumpulkan melalui teknik dokumentasi . ocumentation techniqu. , yakni pengumpulan data dengan cara mempelajari, mencatat, dan menganalisis dokumen-dokumen resmi yang relevan . Dokumen yang digunakan meliputi laporan keuangan tahunan . nnual financial repor. dan laporan tata kelola perusahaan . nnual repor. yang diperoleh dari situs resmi BEI . untuk periode 2019Ae2024. Selain itu, data juga diperoleh dari laporan tahunan masingmasing perusahaan yang dipublikasikan di situs web perusahaan. http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 4 Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Variabel Proksi / Indikator Pengukuran Simbol Rasio (%) ROA Jumlah . ROA (Depende. Laba bersih / Total aset Komite Audit Jumlah anggota komite audit Komisaris Independen Jml. Komisaris Ind. / Total Komisaris Rasio (%) Kepemilikan Manajerial* Saham manajemen / Total saham Rasio (%) MAN Kepemilikan Institusional Saham institusi / Total saham Rasio (%) INST Ukuran Perusahaan (Moderas. Natural log of total assets Ln (Total Ase. SIZE *MAN disajikan secara deskriptif. tidak dapat diestimasi dalam FEM karena zero within-group variation. Sumber: Hasil olahan data, 2026 5 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi data panel . anel data regressio. dengan pendekatan Fixed Effect Model (FEM). Analisis data panel dipilih karena data penelitian memiliki dimensi ganda, yaitu dimensi lintas entitas . ross-section: 53 perusahaa. dan dimensi waktu . ime-series: 6 tahu. , sehingga lebih kaya informasi dibandingkan data cross-section maupun time-series secara terpisah . Pengolahan data menggunakan Eviews-13. Pemilihan model estimasi terbaik dilakukan melalui dua tahap pengujian. Pertama. Uji Chow digunakan untuk memilih antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM), dengan kriteria penolakan HCA apabila nilai F-statistik signifikan . < 0,. Kedua. Uji Hausman digunakan untuk memilih antara FEM dan Random Effect Model (REM), dengan penolakan HCA apabila nilai Chi-square signifikan . < 0,. yang menunjukkan FEM lebih konsisten . Pengujian efek moderasi dilakukan dengan membentuk variabel interaksi antara variabel GCG dan firm size (GCG y LN_SIZE). Sebelum pembentukan interaksi, seluruh variabel di-centering . ikurangi nilai rata-rat. untuk meminimalkan multikolinearitas antara variabel utama dan variabel interaksi . (Hayes. Signifikansi koefisien interaksi digunakan sebagai bukti efek moderasi . 6 Model Penelitian Penelitian ini menggunakan dua persamaan regresi data panel sebagai berikut: Model 1 Ae Utama (Pengaruh Langsung GCG terhadap ROA): ROAACu = CAKAACu CCKIACu CEINSTACu CESIZEACu A AACu . Model 2 Ae Moderasi (Pengaruh GCG yang Dimoderasi Firm Size terhadap ROA): ROAACu = CAKAACu CCKIACu CEINSTACu CESIZEACu CI(KAySIZE)ACu CI(KIySIZE)ACu CN(INSTySIZE)ACu A AACu . Di mana ROAACu = Return on Assets perusahaan i pada tahun t. = konstanta. = koefisien regresi. = efek individu perusahaan . ntity effect. AACu = error term. KA = komite audit. KI = komisaris independen. INST = kepemilikan institusional. SIZE = firm size (Ln total ase. = variabel interaksi . http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Statistik Deskriptif Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Minimum Maksimum Rata-rata Std. Dev. ROA (%) -8,63 16,62 4,22 4,25 KA Ae Komite Audit . 3,08 0,32 KI Ae Komisaris Independen (%) 0,33 0,50 0,36 0,06 MAN Ae Kep. Manajerial (%)* 0,00 0,10 0,01 0,02 INST Ae Kep. Institusional (%) 0,14 0,93 0,66 0,14 SIZE Ae Firm Size (Ln Ase. 14,93 19,51 17,18 0,23 *MAN disajikan secara deskriptif. tidak dapat diestimasi dalam FEM karena nilai identik sepanjang 2019Ae2024 . ithinvariation = 0,. untuk seluruh 53 perusahaan sampel. Sumber: Hasil olahan data, 2026 Berdasarkan Tabel 2. ROA rata-rata perusahaan sektor bahan baku sebesar 4,22% dengan standar deviasi 4,25%, mencerminkan volatilitas kinerja akibat fluktuasi harga komoditas (Putra & Wahyudi, 2. Proporsi komisaris independen rata-rata 35,73% telah memenuhi ketentuan minimum 30% yang disyaratkan POJK No. 33/POJK. 04/2014. Kepemilikan institusional yang tinggi . ata-rata 65,57%) mengindikasikan dominasi investor institusional dalam struktur kepemilikan. Kepemilikan manajerial sangat rendah . ata-rata 0,98%) dan bersifat konstan sepanjang periode penelitian untuk seluruh sampel, mencerminkan karakteristik struktural sektor bahan baku Indonesia di mana kepemilikan manajerial ditetapkan dalam struktur kepemilikan jangka panjang. 2 Penanganan Kepemilikan Manajerial dalam Fixed Effect Model Kepemilikan manajerial (MAN) tidak dapat diestimasi dalam Fixed Effect Model karena memiliki variasi within-group yang bernilai nol . ithin-variation = 0,. untuk seluruh 53 perusahaan sampel sepanjang 2019Ae2024. FEM bekerja dengan cara men-demean data Ai setiap nilai variabel dikurangi rata-rata perusahaannya sendiri. Ketika nilai MAN identik setiap tahun dalam satu perusahaan, hasil demeaning menghasilkan nol untuk semua observasi, menyebabkan perfect collinearity dengan konstanta dan model tidak dapat diestimasi . Kondisi ini bukan merupakan kesalahan pengumpulan data, melainkan mencerminkan realita empiris bahwa struktur kepemilikan manajerial di sektor bahan baku Indonesia sangat stabil sekali ditetapkan dalam anggaran dasar dan akta pendirian perusahaan, jarang diubah dalam rentang waktu penelitian. Hal serupa diamati oleh . yang mencatat rendah dan stabilnya kepemilikan manajerial pada emiten Indonesia secara Oleh karena itu. MAN hanya disajikan secara deskriptif dalam penelitian ini, dan kondisi ini merupakan keterbatasan teknis FEM, bukan keterbatasan fundamental dari penelitian. 3 Pemilihan Model Data Panel Tabel 3. Hasil Uji Chow dan Uji Hausman Uji Statistik p-value Kesimpulan Uji Chow (CEM vs FEM) F = 10,843 0,000 FEM lebih baik Uji Hausman (FEM vs REM) NA = 76,221 0,000 FEM lebih baik Sumber: Hasil olahan data, 2026 Hasil Uji Chow (F = 10,843. p < 0,. menunjukkan FEM lebih baik dari Common Effect Model (CEM), mengonfirmasi adanya efek individual yang signifikan antar perusahaan. Uji Hausman (NA = 76,221. http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 < 0,. mengonfirmasi FEM lebih tepat dari Random Effect Model (REM) karena terdapat korelasi antara efek individual dengan variabel independent . Dengan demikian. FEM digunakan untuk seluruh estimasi model dalam penelitian ini. 4 Hasil Estimasi Model Utama Tabel 4. Hasil Estimasi Fixed Effect Model Ae Model Utama (Variabel Dependen: ROA) Variabel Koefisien Std. Error t-Statistic Prob. Sig. Arah Konstanta -2,127 105,250 -0,020 0,984 Ae Komite Audit (KA) 3,597 1,726 2,084 0,038 Positif Komisaris Independen (KI) 9,819 19,342 0,508 0,612 Ae Kep. Institusional (INST) 6,823 159,250 0,043 0,966 Ae Firm Size (LN_SIZE) -0,741 0,712 -1,041 0,299 Ae Ae Ae Ae Ae Ae Zero within MAN RA . = 0,0278 | F-statistic = 1,869 | Prob(F) = 0,116 | N = 318 | Perusahaan = 53 Keterangan: ** p<0,05 | ns = tidak signifikan | Ae = tidak dapat diestimasi dalam FEM. Sumber: Hasil olahan data, 2026 5 Hasil Estimasi Model Moderasi Tabel 5. Hasil Estimasi Fixed Effect Model Ae Model Moderasi (Variabel Dependen: ROA) Variabel Koefisien Std. Error t-Statistic Prob. Sig. Moderasi Konstanta 5,151 0,557 9,242 0,000 *** Komite Audit / KA 4,418 2,632 1,679 0,094 Komisaris Independen / KI -9,055 24,727 -0,366 0,715 Ae Kep. Institusional / INST 13,043 158,320 0,082 0,934 Ae Firm Size / LN_SIZE (Moderato. 18,865 9,887 1,908 0,058 Moderator KA y LN_SIZE -3,832 32,333 -0,119 0,906 u Tidak KI y LN_SIZE Ia Temuan Utama 795,150 386,660 2,057 0,041 ue Ya INST y LN_SIZE -21,803 18,678 -1,167 0,244 u Tidak RA . = 0,0512 | iRA = 0,0234 | F-statistic = 1,991 | Prob(F) = 0,057 | N = 318 Keterangan: *** p<0,01 ** p<0,05 * p<0,10 | Variabel di-centering . ean-centere. sebelum interaksi dibentuk Sumber: Hasil olahan data, 2026 6 Pembahasan Pengaruh Komite Audit terhadap ROA (H1 Diterim. Komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA ( = 3,597. p = 0,. , sehingga H1 Pada model moderasi, pengaruh positif ini tetap konsisten pada tingkat signifikansi 10% . = 0,. Temuan ini mendukung teori keagenan . bahwa mekanisme pengawasan internal yang efektif mereduksi perilaku oportunistik manajemen. Hasil ini sejalan dengan Alzeban . yang menemukan karakteristik komite audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan, serta Dewi & Nugrahanti . pada konteks perusahaan Indonesia. Efektivitas komite audit dalam meningkatkan kualitas pengawasan pelaporan keuangan terutama dalam transaksi komoditas yang kompleks berkontribusi langsung pada peningkatan Temuan ini berbeda dari Rachman et al. yang tidak menemukan pengaruh signifikan pada sektor perbankan, menunjukkan bahwa efek komite audit bersifat sektoral. http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 Pengaruh Komisaris Independen terhadap ROA (H2 Tidak Diterim. Komisaris independen tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA secara langsung . = 0,612 pada model utam. , sehingga H2 tidak terdukung. Secara metodologis. FEM berfokus pada variasi within-group sehingga variabel yang variasinya dalam dimensi waktu sangat terbatas seperti proporsi komisaris independen . anya 14,6% dari total variasi berasal dari perubahan wakt. sulit dideteksi pengaruhnya. Hasil ini konsisten dengan Tertius & Christiawan . yang tidak menemukan pengaruh signifikan komisaris independen pada LQ-45, dan Rachman et al. pada sektor perbankan Indonesia. Namun, pengaruh KI terhadap ROA terdeteksi melalui jalur moderasi . ihat tabel . , mengonfirmasi bahwa efektivitas komisaris independen bersifat kondisional. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap ROA (H4 Tidak Diterim. Kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA . = 0,966 model utama. 0,934 model moderas. , sehingga H4 tidak terdukung. Temuan ini berbeda dengan Wardhani & Joseph . dan Permanasari . yang menemukan pengaruh positif, namun konsisten dengan Nurhayati & Medyawati . Variasi within-group kepemilikan institusional yang sangat rendah . anya 0,7% dari total varias. menjadi kendala teknis FEM. Selain itu, homogenitas kepemilikan institusional yang tinggi . ata-rata 65,57%) di seluruh sampel membatasi daya diferensiasi variabel ini dalam menjelaskan perbedaan ROA. Peran Moderasi Firm Size pada Hubungan KIAeROA: Temuan Utama (H5 Diterima Parsia. Temuan terpenting penelitian ini adalah signifikannya interaksi KI y LN_SIZE ( = 795,150. , membuktikan bahwa firm size secara signifikan memoderasi pengaruh komisaris independen terhadap ROA dengan arah penguatan . mplifying moderatio. Artinya, pengaruh komisaris independen terhadap ROA semakin kuat pada perusahaan yang lebih besar, sehingga H5 diterima secara parsial. Temuan ini sejalan dengan VintilE & Gherghina . yang menemukan ukuran perusahaan memoderasi hubungan corporate governance dan kinerja keuangan di Rumania, serta Vo & Nguyen . yang mengonfirmasi peran kondisional firm size pada dampak GCG di Vietnam. Secara teoritis. Resources-Based View . menjelaskan mekanisme ini: perusahaan besar memiliki infrastruktur tata kelola yang lebih mapan, visibilitas publik lebih tinggi, sumber daya untuk mengimplementasikan rekomendasi komisaris independen, dan tekanan pemangku kepentingan yang lebih besar untuk kepatuhan GCG sehingga komisaris independen dapat menjalankan fungsi pengawasan secara lebih efektif dan berdampak nyata pada profitabilitas. Hasil ini didukung pula oleh Syafii & Rahardjo . yang menemukan firm size mempengaruhi efektivitas mekanisme tata kelola dalam konteks Indonesia. Penambahan variabel interaksi meningkatkan RA within dari 2,78% . odel utam. menjadi 5,12% . odel moderas. , dengan iRA = 2,34%, menunjukkan kontribusi penjelasan tambahan yang bermakna dari dimensi moderasi. Nilai RA yang rendah secara absolut merupakan hal yang lumrah pada FEM data panel sektor komoditas, mengingat dominannya faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas global dalam menentukan ROA . Moderasi Firm Size pada KAAeROA dan INSTAeROA (H5 Tidak Diterima untuk KA dan INST) Interaksi KA y LN_SIZE . = 0,. dan INST y LN_SIZE . = 0,. tidak signifikan, menunjukkan bahwa firm size tidak memoderasi pengaruh komite audit dan kepemilikan institusional terhadap ROA. Efektivitas komite audit tampaknya relatif seragam lintas skala perusahaan, ini karena POJK No. 55/POJK. 04/2015 menetapkan standar komite audit yang berlaku konsisten terlepas dari ukuran perusahaan. Sementara homogenitas kepemilikan institusional yang tinggi di seluruh sampel tidak menciptakan perbedaan pengaruh yang cukup besar untuk dimoderasi oleh ukuran perusahaan. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh mekanisme GCG terhadap ROA dan peran moderasi firm size dalam hubungan tersebut pada 53 perusahaan sektor bahan baku BEI periode 2019Ae2024 . http://jurnal. id/index. php/justian JUSTIAN. Jurnal Sistem Informasi Akuntansi Vol. No. Maret 2026, pp. ISSN: 2721-7523 Fixed Effect Model terpilih berdasarkan Uji Chow (F = 10,843. p < 0,. dan Uji Hausman (NA = 76,221. p < 0,. Kepemilikan manajerial (MAN) tidak dapat diestimasi dalam FEM karena zero withingroup variation di seluruh 53 perusahaan sampel, yang merupakan karakteristik struktural sektor bahan baku Indonesia. Berdasarkan hasil pengujian, terdapat tiga kesimpulan utama. Pertama, komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA ( = 3,597. p = 0,. , mendukung peran pengawasan internal dalam meningkatkan profitabilitas sesuai teori keagenan . , sejalan dengan Alzeban . dan Dewi & Nugrahanti . Kedua, firm size terbukti secara signifikan memoderasi pengaruh komisaris independen terhadap ROA ( = 795,150. p = 0,. dengan arah penguatan efektivitas komisaris independen semakin besar pada perusahaan yang lebih besar sesuai dengan Resources-Based View . dan didukung oleh VintilE & Gherghina . serta Vo & Nguyen . Ketiga, firm size tidak memoderasi pengaruh komite audit dan kepemilikan institusional terhadap ROA. Secara praktis, perusahaan besar di sektor bahan baku sebaiknya mengoptimalkan komposisi dan kualitas komisaris independen sebagai strategi peningkatan profitabilitas. Bagi regulator, penguatan standar independensi dan kompetensi komisaris khususnya di perusahaan besar perlu diprioritaskan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan System GMM untuk mengatasi keterbatasan FEM, menambahkan variabel kontrol makroekonomi, serta mempertimbangkan indeks GCG yang lebih komprehensif seperti CGPI. UCAPAN TERIMA KASIH