Jurnal Social Philantropic 2022. Vol. No. 1, 29-34 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya e-ISSN: x x. p-ISSN: x x Self Efficacy dan Resiliensi pada Mahasiswa yang mengalami Pembelajaran Daring 1Putri Ayu Andira, 2Fathana Gina Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Putriayuandira99@gmail. com, fathana. gina@dsn. Abstrak Adanya pandemi Covid-19 memberikan dampak pada beberapa aspek yaitu kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Dampak yang dirasakan pada dunia pendidikan dengan adanya kegiatan belajar secara daring. Berjalannya pembelajaran daring yang membutuhkan proses adaptasi menimbulkan stres dalam belajar. Stres dalam belajar diperoleh dari tekanan akademik yang menyebabkan tingkat resiliensi mahasiswa menurun. Resiliensi yang rendah akan menyebabkan mahasiswa memberikan reaksi gelisah saat menghadapi masalah atau dalam keadaan tertekan dan membuat cara kerja mahasiswa lebih lama. Salah satu faktor yang berhubungan dengan resilensi adalah self efficacy dimana resiliensi dapat naik atau turun karena self efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan resiliesi pada mahasiswa yang mengalami pembelajaran daring. Adapun teknik yang digunakan yaitu probability sampling dengan pendekatan cluster random sampling dengan sampel penelitian sebanyak 100 sampel. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi antara self efficacy dengan resiliensi sebesar r= 0,499** dan p= 0,000 . <0,. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self efficacy dengan resiliensi. Semakin tinggi self efficacy maka semakin tinggi resiliensi begitupun sebaliknya, semakin rendah self efficacy maka semakin rendah resiliensi. Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor lain yang memiliki hubungan dengan resiliensi mahasiswa seperti religiusitas dan dukungan sosial. Kata kunci: Resiliensi. Self Efficacy. Pembelajaran Daring Abstract The existence of this pandemic Covid-19 has an impact on some aspects like health, economy and education. This virus is spreading around the world specifically in education sector. During the Covid-19 pandemic, students around the world appliying distance learning from their home. This distance learning needs an adaptation process that making students stress in learning. Stress in learning makes many students feel pressure because a lot of assignments which causes the level of student resilience to decrease. Low resilience will make students to be anxious when facing their problems or make them depressed and make them study longer than usual. One of the factors that related to resilience is self-efficacy where resilience can increase or decrease due to self-efficacy. The purpose of this research is to find out the relationship between self- efficacy and resilience in students who experience distance learning. The technique we will use is probability sampling with a cluster random sampling approach with a research sample of 100 samples. The results showed that the correlation coefficient between self-efficacy and resilience was r= 0. and p= 0. <0. The results shows that there is a significant positive relationship between self-efficacy and The higher the self-efficacy, the higher the resilience and it goes for the other way, the lower the selfefficacy, the lower the resilience. This research leads to the ideas for further research are expected to research other factors that have a relationship with student resilience such as religion or social support. Keywords: Resilience. Self Efficacy. Online Learning Self Efficacy dan Resiliensi pada Mahasiswa yang mengalami Pembelajaran Daring PENDAHULUAN Jakarta Raya menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mengalamai stres secara akademik selama pembelajaran jarak jauh karena harus beradaptasi dengan gaya pembelajaran daring yang berbeda dengan pembelejaran tatap muka. Stres pada mahasiswa biasanya berupa reaksi berupa fisiologis, emosi, perilaku dan penilaian kognitif yang disebabkan oleh stresor berupa tekanan, konflik, rasa frustasi, perubahan bahkan beban terhadap diri sendiri (Septiani & Fitria, 2. Stres yang dialami mahasiswa berdasarkan tekanan akademik yang diperoleh selama pembelajaran daring dapat menyebabkan menurunnya tingkat resiliensi siswa (Sari et al. Resiliensi yang rendah atau kurangnya resiliensi yang dimiliki oleh mahasiswa diduga disebabkan oleh tekanan dan rasa cemas yang berlebih (Yuliani et al. , 2. Resiliensi yang rendah akan menyebabkan mahasiswa mencari cara yang lebih mudah untuk menyelesaikan masalah. Hal tersebut diperkuat oleh hasil survey di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya bahwa dari 20 mahasiswa 65% mahasiswa mengatakan bahwa selama pembelajaran ia menyontek tugas teman, selain itu 40% mahasiswa menyatakan bahwa ia lebih sering menyelesaikan tugasnya dengan cara menjiplak tugas temannya atau mencari dari internet dan menjiplaknya. Alhasil dari temuan tersebut, resiliensi pada masa pandemi ini penting dikarenakan kondisi saat ini mempengaruhi kesehatan mental individu karena setiap individu dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi yang terus Oleh karena itu resiliensi yang tinggi akan menjadi faktor protektif stress, sehingga individu yang resilien mampu beradaptasi dan menghadapi masalah- masalah yang ada pada masa pandemi. Menurut Richardson . resiliensi adalah bagaimana seseorang melakukan proses koping terhadap kesulitan atau tantangan yang dialami dengan adanya perubahan yang dipengaruhi oleh faktor protektif. Seseorang yang memiliki resiliensi akan berusaha berjuang berhadapan dengan kesulitan, masalah ataupun penderitaannya (Pragholapati, 2020 . Grotberg . Resiliensi seseorang ditunjukan dengan bagaimana seseorang tidak hanya mampu menyelesaikan masalah secara positif tetapi dapat menganalisi masalah dan mengendalikan emosi negatif yang ada didalam dirinya (Septiani & Fitria. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk tetap berjuang saat berhadapan dengan kesulitan, masalah atau penderitaan yang ada dihidupnya. (Wolin & Wolin, 1994 . Greene, 2. Sejalan dengan pendapat (Reivich & Shatty, 2. resiliensi ialah kemampuan individu mengenai kondisi adversity atau trauma yang dihadapinya dengan kemampuan dan cara yang sehat dan produktif atau dengan reaksi yang Pada mahasiswa resiliensi dapat menentukan bagaimana gaya berpikir dan keberhasilan mahasiswa sebagai peserta didik dalam mengatasi masalah ataupun kesulitan belajar (Sofiachudairi & Setyawan, 2. Menurut Martin dan Marsh mahasiswa yang melakukan resiliensi secara akademik ialah mahasiswa yang dapat menghadapi empat keadaan yaitu, kejatuhan . , tantangan . , kesulitan . , dan tekanan . secara efektif dan dalam konteks akademik (P. Sari & Indrawati, 2. Individu yang memiliki resiliensi adalah individu yang memiliki kapasitas untuk bertahan dan tetap sehat dengan COVID-19 menjadi salah satu masalah yang harus dihadapi oleh hampir seluruh masyarakat dunia. COVID-19 berdampak tidak hanya pada masalah kesehatan fisik tetapi juga sangat berpengaruh bagi kesehatan mental (Ilpaj & Nurwati. Pada dunia pendidikan dampak COVID-19 cukup besar, dampak ini dirasakan oleh berbagai pihak dari pengajar atau guru, orang tua siswa dan peserta didik . iswa atau mahasisw. dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah tinggi yang membuat sekolah bahkan universitas harus ditutup akibat pandemi yang belum selesai (Fredy et al. , 2. Ditutupnya sekolah ataupun sekolah tinggi tidak membuat siswa tidak beraktivitas dalam institusi pendidikan, penutupan sekolah ataupun sekolah tinggi hanya dilakukan untuk pembatasan kegiatan secara fisik, dalam artian bahwa tidak adanya kegiatan secara langsung yang dilakukan oleh siswa tetapi pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau pembelajaran daring (Firman, 2. Berjalannya pembelajaran daring membutuhkan proses adaptasi dan usaha agar terlaksana dengan baik (Argaheni. Salah satu adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam proses pembelajaran daring ialah adaptasi pada teknologi untuk membantu dan mendukung proses pembelajaran (Ahmed et al. , 2. Adapatasi teknologi dilakukan oleh pendidik maupun peserta didik dengan berinteraksi dan melakukan proses pembelajaran secara online atau daring (Herliandry et , 2. Artinya, adaptasi teknologi membuat siswa tidak bisa belajar secara efektif karena keterpaksaan dan siswa tidak biasa dengan belajar melalui online, bukan hanya siswa guru dipaksa harus terbiasa dengan kemajuan teknologi (Purwanto et , 2. Selain itu, muncul dampak positif dan negatif pembelajaran daring pada mahasiswa. Dampak posistif yang didapatkan mahasiswa adanya teknologi membuat siswa lebih mudah mengakses dan memdapatkan materi dengan waktu yang tidak ditentukan, sedangkan dampak negatif yang didapatkan kurangnya niat dalam belajar dan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru atau pengajar (Afni, 2. KPAI menyebutkan bahwa dampak pembelajaran daring membuat tingkat stres pada siswa meningkat, beberapa siswa tidak naik kelas hingga putus sekolah. Mahasiswa merasakan banyaknya tekanan yang mengharuskan mereka tetap belajar secara produktif walau dengan keadaan daring yang mengakibatkan mereka merasa stres dalam belajar (Sari et , 2. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh (Livana et al, 2. mahasiswa dari semua jurusan di 22 dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia menunjukkan dari 1. 129 mahasiswa mengalami stres akibat pembelajaran dari selama pandemi akibat tugas pembelajaran 70,29%, merasa bosan berada dirumah 57,8%, bosan kepada proses pembelajaran daring 55,8%, tidak dapat bertemu dengan orang yang disayangi 40,2%, tidak dapat mengikuti pembelajaran online karena keterbatasan sinyal 37,4%, dan tidak dapat melaksanakan hobi seperti biasanya 35,8% (Livana et al. , 2. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa hampir setengah mahasiswa merasa kurang dapat beradaptasi dengan pembelajaran daring yang mengakibatkan stres pada mahasiswa. Adapun hasil pre-eliminery yang dilakukan oleh peneliti kepada beberapa mahasiswa di Universitas Bhayangkara Self Efficacy dan Resiliensi pada Mahasiswa yang mengalami Pembelajaran Daring kondisi yang secara kolektif dipandang sulit ataupun menekan individu dengan masalah ataupun hal lain (Ungar, 2. Pada mahasiswa yang memiliki resiliensi yang baik dan tinggi akan memiliki kecenderungan sikap yang positif dalam menghadapi rintangan (Fitri & Kushendar, 2. , sedangkan pada mahasiwa yang memiliki resiliensi yang rendah akan merasa lebih dengan mudah menerima dampak berupa perasaan cemas, tertekan dan merasa depresi (Yuliani et al. , 2. Resiliensi menurut Reivich dan Shatte . alam Hendriani, 2. terdiri dari tujuh faktor yang menjadi komponen utama yaitu Emotion Regulation (Regulasi Emos. Impluse Control (Pengendalian Impul. Optimism (Optimism. Casual Analysis (Analisis Kasua. Empathy (Empat. Self Efficacy (Efikasi Dir. , dan Reaching Out. Bandura . mendefinisikan self efficacy sebagai sebagai sebuah keyakinan seseorang dengan kemampuannya untuk melakukan suatu bentuk kontrol terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan kejadian dalam hidupnya. Seseorang dengan self efficacy memiliki keyakinan dan merasa mampu menguasai sebuah situasi dan memberikan hasil yang positif (King, 2. Sejalan dengan pendapat Santrock . yang mengatakan bahwa self efficacy merupakan suatu keyakinan bahwa individu mampu menguasai suatu kondisi dan dapat menghasilkan suatu hasil yang menguntungkan bagi dirinya. Feist & Feist . juga mendefinisikan self efficacy sebagai keyakinan seseorang bahwa mereka mampu melakukan suatu perilaku yang akan menghasilkan hasil yang diinginkan agar mencapai tujuan yang sesuai dengan yang diinginkan. Self efficacy merupakan keyakinan seseorang dalam mengatasi masalah, individu yang memiliki self efficacy akan dapat mempertimbangkan dan mengatur perilaku sehingga akan dapat meminimalisir hal negatif (Anggraini et al. , 2. Self Efficacy merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi resiliensi dalam mengatasi kesulitan dan beradaptasi dengan tekanan yang ada dengan keyakian untuk dapat menemukan cara mengatasi masalah. Dalam penelitian terdahulu mengenai pengaruh self-efficacy dengan resiliensi yang dilakukan oleh Oktarinum & Santhosi . Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa self efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap resiliensi (Oktaningrum & Santhosi, 2. Aspek penting dalam Self Efficacy ialah bagaimana seseorang memiliki usaha, rasa kepercayaan diri . eyakinan dir. dan rasa optimisme pada dirinya sendiri untuk masa depannya sendiri (Oktaningrum & Santhosi, 2. Keyakinan yang berkaitan dengan self efficacy disini dimiliki individu agar mampu menyelesaikan masalah yang ia alami dan dapat mencapai kesuksesan (Reivich & Shatte, 2. Alwisol . berpendapat bahwa keyakinan disini dapat berupa pelarian individu mengenai tindakan baik atau buruk dan merasa yakin atas suatu tanggungjawab yang harus dihadapi untuk mencapai hal baik. Melihat fenomena diatas, maka peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti apakah ada hubungan antara self efficacy dengan resiliensi pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Dengan ini peneliti berasumsi bahwa semakin rendahnya self efficacy pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya maka resiliensi semakin rendah, sebaliknya jika self efficacy pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya semakin tinggi maka terdapat kemungkinan bahwa mahasiswa juga akan tinggi. METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel Penelitian Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan model korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya yang berjumlah 7552 yang terdiri dari 7 fakultas. Adapun sampel yang digunakan adalah 100 mahasiswa dengan menggunakan teknik probability sampling dengan cara pendekatan cluster random sampling. Cara pemgambilannya dengan cara memilih secara acak atau randomisasi terhadap kelompok subjek, bukan memilih secara individual (Azwar, 2015. Peneliti menggunakan cara acak melalui aplikasi dan mengambil 6 dari 12 program studi yang ada di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Instrumen Penelitian Sementara instrumen dalam penelitian ini mengunakan skala psikologi. Skala yang dogunakan yaitu skala resiliensi dan self efficacy. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala Skala ini disusun berdasarkan aspek dari setiap variabel, akan diturunkan menjadi masing-masing indikator dan itemitem pernyataan. Dalam penelitian ini terdapat dua aitem yaitu, favorable dan unfavorable. Validitas dan Reliabilitas Pada analisis pertama dilakukan uji validitas terhadap kedua variabel. Hasilnya pada variabel resiliensi terdapat 9 aitem gugur dan 31 aitem valid aitem yang dinyatakan valid dari 40 aitem sebelumnya, kemudia pada variabel self efficacy terdapat 7 aitem gugur dan 23 aitem yang dinyatakan valid dari 30 aitem sebelumnya. Standar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 0,30 yang bersumber pada kriteria daya beda item . eriantalo, 2. Analisis kedua yaitu uji relibialitas. Hasil yang didapatkan pada variabel resiliensi yaitu 0,917 dan variabel self efficacy 0,922. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki reliabilitas yang sangat reliabel. HASIL PENELITIAN Hasil Uji Asumsi Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan diperoleh nilai signifikansi . pada resiliensi sebesar 0,060 dan nilai signifikansi . pada self efficacy sebesar 0,151. Hal ini menunjukkan bahwa hasil nilai signifikansi atau p > 0,05 dan dapat dikatakan bahwa kedua variabel terdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji linieritas yang telah dilakukan peneliti diperolah nilai signifikansi . sebesar 0,642. Hal ini menunjukkan bahwa hasil nilai signifikansi atau p > 0,05 yang artinya hubungan dari kedua variabel terdebut bersifat linier. Hasil Uji Kategorisasi Uji Kategorisasi Resiliensi Hasil uji kategorisasi variabel resiliensi menunjukkan bahwa tidak ada mahasiswa yang berada pada tingkat kategori rendah, 65% mahasiswa berada pada tingkat kategori sedang dan 35% mahasiswa berada pada tingkat kategori tinggi. Maka dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah mahasiswa Andira. & Gina. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya berada pada tingkat resiliensi dengan presentase sedang. Sebaliknya, semakin rendah self efficacy makan semakin rendah pula resiliensi. Tabel 1. Kategorisasi Resiliensi PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengolahan data pada penelitian ini dapat analisa dari beberapa pengujian yang dilakukan oleh Hasil pada uji asumsi digunakan untuk menganalisa data penelitian, dalam penelitian ini uji asumsi yang dilakukan yaitu uji normalitas dan linearitas. Pada uji normalitas didapatkan hasil nilai signifikansi sebesar 0,060 pada variabel Resiliensi dan 0,151 pada variabel Self Efficacy. Dapat kita simpulkan bahwa kedua variabel dinyatakan terdistribusi normal, dikarenakan nilai signifikansi lebih dari 0,05. Pada uji linearitas dapat dilihat dari hasil nilai deviation form linearity sebesar 0,642, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara dua variabel bersifat linear . > 0,. Adanya uji normalitas disini merupakan salah satu hal yang cukup penting dikarenaka dengan adanya uji normalitas maka data terdistribusi normal artinya data tersebut mewakili populasi dalam penelitian. Jika uji linear bersifat linear maka menandakan bahwa kedua variabel berada dalam satu garis lurus. Uji linearitas juga merupakan salah satu prasyarat dalam analisis korelasi pearson product moment. Pada uji kategorisasi data pada penelitian ini untuk mengetahui berapa banyak sampel dan pada tingkatan tertentu. Uji kategorisasi pada variabel Resiliensi dodapatkan hasil sebanyak 65% mahasiswa memiliki tingkat Resiliensi yang sedang dan 35% memiliki tingkat Resiliensi yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah atau sebagian besar mahasiswa Universitas Bhayangkara pada kategori sedang. Pada mahasiswa yang memiliki resiliensi yang sedang biasanya akan menunjukkan perasaan gelisah saat dihadapkan dengan masalah ataupun tekanan namun dalam hal ini mahasiswa masih mampu menganalisa masalahnya dengan waktu atau proses yang lebih lama (Sari et al. , 2. Kategorisasi pada Self Efficacy berada pada kategori sedang dengan hasil kategorisasi 7% mahasiswa berada tingkat kategori rendah, 64% mahasiswa berada pada tingkat kategori sedang dan 29% berada pada tingkat kategori tinggi. Menurut Bandura . alam Feist & Feist, 2. pada mahasiswa dengan self efficacy yang rendah biasanya cenderung ragu-ragu dan merasa tidak percaya diri terhadap kemampuannya, bersikap apatis, pasrah terhadap masalah, merasa tidak mampu dan tidak memiliki usaha ketika memiliki kegagalan. Sedangkan pada kriteria sedang mahasiswa hanya cukup memiliki usaha dan cukup percaya diri dengan kemampuannya untuk menghadapi masalah ataupun kendala. Pada mahasiswa dengan self efficacy tinggi cenderung memiliki keyakinan yang tinggi, memiliki perasaan yang tenang dalam mendekati masalah dan kegiatan yang sulit. Pada uji kategorisasi hasil nilai pada penelitian ini mayoritas berada pada ketgori sedang, hal ini sedikit berbeda dengan asumsi awal yang menyatakan bahwa mahasiswa yang sedang menjalani pembelajaran daring memiliki resiliensi yang rendah dan self efficacy yang rendah hal ini kemungkinan peserta didik sudah beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring jadi mereka dapat menghadapi tekanan dan mereka bukan lagi pada tingkatan yang rendah, tetapi pada tingkatan Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adhiman & Mugiarso . bahwa hasil penelitian Jumlah Sampel Kategori Rendah Sedang Tinggi Presentase Uji Kategorisasi Self Efficacy Hasil uji kategorisasi variabel self efficacy menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 7% mahasiswa berada pada tingkat kategori rendah, 64% mahasiswa berada pada tingkat kategori sedang dan29% mahasiswa berada pada tingkat kategori tinggi. Maka dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya berada pada tingkat resiliensi dengan presentase sedang. Tabel 2. Kategorisasi Self Efficacy Jumlah Sampel Kategori Rendah Sedang Tinggi Presentase Hasil Uji Hipotesis Uji Korelasi Uji korelasi yang digunakan pada pnelitian ini adalah uji korelasi pearson product moment yaitu untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara self efficacy dengan resiliensi. Pada penelitian ini hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut. Tabel 3. Uji Korelasi Koefisien Variabel Jumlah Sig Korelasi Subjek Resiliensi Self 0,499** 0,000 Efficacy Berdasarkan hasil uji korelasi diatas hasil menunjukan nilai koefisien korelasi antara resiliensi dengan self efficacy 499** dengan taraf signifikansi . < 0. Maka dapat disimpulkan bahawa variabel self efficacy dengan resiliensi memiliki hubungan yang signifikan pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Hasil yang didapatkan pada uji korelasi memiliki nilai positif yang signifikan antara self efficacy dengan resiliensi yang dapat diartikan bahwa semakin tinggi self efficacy makan akan semakin tinggi Self Efficacy dan Resiliensi pada Mahasiswa yang mengalami Pembelajaran Daring memaparkan bahwa peserta didik sudah dapat menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh dalam hal ini berhubungan dengan tingkat resiliensi yang sedang oleh sebab itu saat ini siswa merasa sudah dapat menyesuaikan pembelajaran dari walau masih merasakan tekanan dan kendala yang harus Bila dilihat dari aspek-aspek dalam variabel, pada variabel resiliensi aspek yang memiliki tingkat rendah ialah pada aspek relationship disebabkan oleh kurangnya mahasiswa membangun hubungan yang jujur, bisa mendukung satu sama lain dengann kualitas yang baik. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pada masa pandemi ini lebih sulit berinteraksi dikarenakan pembelajaran daring dan keterbatasan untuk bertemu secara fisik. Aspek dengan tingkat tinggi pada variabel resiliensi ialah aspek insight, insight sendiri merupakan bagaimana individu dapat mempelajari bagaimana perilakuperilaku yang ada dalam hidupnya, artinya mahasiswa sudah mampu mempelajari kegagalan yang ia lakukan dimasa lalunya dan berusaha mencari jalan lain yang lebih tepat. Pada variabel self efficacy aspek dengan tingkat rendah ialah aspek keleluasaan . , keleluasaan sendiri berkaitan dengan keleluasaan tugas yang dilakukan dan bagaimana individu mengatasi atau menyelesaikan tugas dengan keyakinan yang ia miliki, rendahnya tingkat keleluasaan dapat disebabkan oleh kurangnya keyakinan yang ia miliki dimana individu hanya dapat berfokus pada satu hal. Pada variabel self efficacy aspek yang berada pada tingkat tinggi ialah aspek magntude, magnitude sendiri berkaitan dengan kemampuan individu menyelesaikan tanggungjawab dengan tingkat kesulitan yang berbeda, artinya individu dapat menyelesaikan masalah dari bebagia tingkat kesulitan tetapi ia hanya dapat berfokus pada satu hal saja. Hasil uji korelasi yang dilakukan oleh peneliti antara resiliensi dan Self Efficacy dengan menggunakan teknik Pearson Product Moment diketahui hasil koefisien korelasi sebesar 0,499** dengan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. Dilihat dari hasil nilai uji korelasi dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan searah antara dua variabel dikarenakan tidak munculnya nilai negatif. Artinya, jika Resiliensi rendah, maka Self Efficacy rendah, begitupun sebaliknya, jika Resiliensi tinggi, maka Self Efficacy akan tinggi. Dengan demikian hipotesis alternatif (H. yang menyatakan adanya hubungan antara Resiliensi dan Self Efficacy pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dapat diterima, sedangkan hipotesis nihil (H. yang menyatakan tidak adanya hubungan antara Resiliensi dan Self Efficacy pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ditolak. Menurut Reivich dan Shatte . alam Hendriani, 2. Self efficacy merupakan keyakinan bahwa individu mampu menyelesaikan masalah yang ia alami dan dapat mencapai Self efficacy disini merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai resiliensi, karena merupakan salah satu faktor kognitif yang akan membantu seseorang untuk menentukan sikap dan perilaku dalam menghadapi masalah dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Oleh karena itu tingkat self efficacy memiliki hubungan dalam menentukan tingkat resiliensi pada mahasiswa. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim & Fakhrurrozi . dengan judul penelitian AuEfikasi Diri dan Resiliensi pada MahasiswaAy pada oenelitian ini hasil korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara efikasi diri dan resiliensi hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri maka semakin tinggi juga tingkat resiliensi, sebaliknya semakin rendah tingkat efikasi diri makan semakin rendah tingkat resiliensi. Dari hasil wawancara peneliti yang dilakukan sebelumya, mahasiswa merasa pada masa pembelajaran daring mahasiswa merasa tekanan adaptasi pada masa pembelajaran daring hal ini menyebabkan Resiliensi pada mahasiswa menurun dikarenakan kurangnya minat belajar dan menyebabkan mahasiswa kurang dapat menyelesaikan Berhubungan dengan self efficacy mahasiswa juga merasa keyakinan dalam menyelesaikan masalah menurun, mahasiswa merasa ragu-ragu dalam menyelesaikan masalah tetapi mahasiswa merasa memiliki rasa tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah. Rata-rata hasil nilai kategorisasi pada kedua variabel menunjukkan hasil bahwa mahasiswa berada pada kategori sedang hal ini dapat disimpulkan mahasiswa sudah cukup beradaptasi walau masih belum pada kategori yang tinggi. Hasil uji korelasi antara self sefficacy dan resiliensi menunjukkan nilai 0,499** dan terdistribusi positif, yang artinya terdapat hubungan yang positif antara self efficacy dan resiliensi. Dapat disimpulakn bahwa hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nihil (H. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara resiliensi dan self efficacy pada mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Hubungan tersifat positif yang artinya semakin tinggi resiliensi maka self efficacy akan semakin tinggi, begitupun sebaliknya semakin rendah resiliensi maka self efficacy akan semakin rendah. Berkaca dari kesimpulan di atas maka mahasiswa hendaknya dapat meningkatkan konsentrasi belajar agar tingkat resiliensi dan self efficacy dalam menghadapi ataupun menyelesaikan masalah lebih meningkat. Selain itu, bagi tenaga pengajar hendaknya dapat mengajar dengan cara yang lebih efektif dengan cara-cara mudah dipahami oleh mahasiswa. Juga bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti faktor lain yang memiliki hubungan dengan resiliensi pada mahasiswa seperti religiusitas dan dukungan sosial. Teori-teori penelitian yang digunakan dapat diperbaruhi dengan teori-teori yang lebih update atau teori terbaru agar dapat menyesuaikan dengan keadaan saat ini. Begitupun dengan populasi dan sampel yang ingin diteliti harus dilihat dari keadaan saat ini agar lebih sesuai dengan fenomena saat ini. DAFTAR PUSTAKA