Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 Pengaruh Kombinasi Otago Exercise dan Core Exercise Terhadap Risiko Jatuh pada Lansia Combination Of Otago Exercise and Core Exercise on The Risk Falls in Elderly Vicky Frediyana, *Sevy Astriyana. Diyono Sekolah Tinggi Ilmu Kesehtaan Nasional. Indonesia *Korespondensi e-mail: physio. s@stikesnas. Diterima : 21 Maret 2025 | Ditinjau: 30 Maret 2025 | Disetujui: 25 Mei 2025 | Publikasi Online: 06 Juni 2025 ABSTRAK Risiko jatuh muncul dikarenakan menurunnya fungsi muskuloskeletal dan juga keseimbangan pada lansia. Upaya yang dapat dilakukan lansia untuk menurunkan risiko jatuh dan meningkatkan keseimbangan diberikan otago exercise dan core exercise. Ini adalah sebuah latihan yang aman dan sesuai dengan lansia sehingga dapat membantu meningkatkan fungsi muskuloskeletal dan meningkatkan keseimbangan. Dengan latihan ini maka risiko jatuh pada lansia akan menurun. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi otago exercise dan core exercise terhadap risiko jatuh pada lansia. Metode Penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi penelitiannya adalah semua lansia yang ada di Posyandu Lansia Wijayakusuma. Selanjutnya, responden diambil dengan teknik purposive sampling dan sesuai kriteria sehingga mendapatkan responden sebanyak 18 responden. Pengukuran risiko jatuh mengguanak time up go test dengan melihat skor sesbelum dan sesudah diberikan perlakuan. Berdasarkan hasil pengolahan data uji statistik menggunakan paired t-test diperoleh p value = 0,000 < 0,05 yang berarti ada pengaruh kombinasi otago exercise dan core exercise terhadap risiko jatuh pada lansia. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Terdapat pengaruh dari kombinasi otago exercise dan core exercise terhadap risiko jatuh pada lansia di wilayah Posyandu Lansia Wijayakusuma Kalitan RT 1 RW 2 Penumping. Surakarta. Kata kunci: Otago. Exericse. Core. Jatuh. Lansia. ABSTRACT The risk of falls arises due to decreased musculoskeletal function and balance in the elderly. To reduce the risk of falls and improve balance. Otago exercise and core exercise are given. This is an exercise that is safe and suitable for the elderly so it can help improve musculoskeletal function and improve balance. With this exercise, the risk of falls in the elderly will decrease. to determine the effect of giving a combination of Otago exercise and core exercise on the risk of falls in the elderly. The type of research used in this research is pre-experimental design with a one group pretest-posttest design approach. The research population was all elderly people at the Wijayakusuma Elderly Posyandu. Then, the sample was taken using a purposive sampling technique and according to the criteria to obtain a sample of 18 respondents. Measuring the risk of falling uses the time up go test by looking at the scores before and after treatment. Based on statistical tests using paired t-test, the calculation results obtained were p value = 0. 05, which means that there is an influence of the combination of Otago exercise and core exercise on the risk of falls in the elderly. This is influenced by several factors, namely age, gender and occupation. There is an effect of the combination of Otago exercise and core exercise on the risk of falls in the elderly on the Wijayakusuma Kalitan Elderly Posyandu area. RT 1 RW 2 Penumping. Surakarta. Keywords: Otago Exericse. Core Exercise. Risk of Falls. Elderly. PENDAHULUAN Risiko jatuh didefinisikan sebagai suatu kejadian jatuh yang terjadi pada seseorang dan hal tersebut terjadi karena ketidaksengajaan yang menyebabkan seseorang tiba-tiba sudah tergeletak di lantai atau di tempat yang lebih rendah dengan keadaan sadar maupun tidak sadar dan disertai kesakitan atau luka pada anggota tubuhnya . Kejadian jatuh erat kaitannya dialami oleh para lansia, lansia yang dimaksud adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun lebih . Prevalensi kejadian jatuh pada lansia di Indonesia terjadi peningkatan yang awalnya di angka 2538% meningkat menjadi 32-42% pada lansia berusia lebih dari 65 tahun dan hampir sepertiga lansia pernah mengalami kejadian jatuh serta menimbulkan cedera. Menilik dari tingginya prevalensi kejadian jatuh dapat diketahui bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian jatuh, salah satu faktor penyebabnya adalah kemampuan keseimbangan lansia sudah menurun. Keseimbangan dijelaskan sebagai kemampuan untuk Pengaruh Kombinasi Otago Exercise Dan Core ExerciseA| Vicky Frediyana dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 mempertahankan posisi tubuh dalam batas tumpuan, seperti dalam posisi duduk atau berdiri, atau saat memindahkan titik tumpu, seperti saat berjalan . Penurunan keseimbangan pada lansia disebabkan karena menurunnya kemampuan muskuloskeletal tubuh . Penurunan keseimbangan pada lansia yang menyebabkan risiko jatuh meningkat dapat diantisipasi dengan memberikan latihan keseimbangan. Latihan keseimbangan yang dimaksud adalah Latihan yang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan postural yang di dalamnya melibatkan siystem propioseptif. Latihan ini memfokuskan pada propioseptif yaitu untuk mengontrol posisi tubuh dalam keseimbangan, melatih koordinasi otot dan gerakan pada tubuh . Latihan keseimbangan yang benar selama beraktivitas memerlukan koordinasi dari beberapa sistem sensorik terutama sistem propioseptfk, visual dan vestibular . Latihan yang sesuai untuk meningkatkan keseimbangan pada lansia salah satunya adalah Otago exercise dan untuk mendukung latihan ini bisa diberikan kombinasi latihan yang lain yaitu Core exercise. Otago exercise merupakan latihan yang didesain khusus untuk lansia sehingga aman dan bisa meningkatkan keseimbangan serta system vestibular lansia, selain itu latihan ini efektif serta hemat karena bisa dilakukan di rumah . Otago exercise dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pemanasan, latihan penguatan otot dan latihan keseimbangan. Pemanasan menjadi hal yang penting karena berguna untuk mengulur otot dan menjadikan otot lebih elastis untuk diberikan latihan penguatan . Gerakan pemanasan terdiri dari gerakan rotasi kepala, chin tuck, back extention, back rotation, dan ankle movement. Tiap gerakan dilakukan sebanyak 5 repetisi pada masing-masing sisi Setelah diberikan pemanasan maka bisa dilakukan latihan penguatan, latihan penguatan disini difokuskan pada anggota gerak bawah seperti otot fleksor dan ekstensor lutut serta abductor paha. Adapun gerakan Latihan penguatan adalah knee extention, knee flexion, hip abduction, darsal dan plantar flexion. Rangkaian latihan ini dilakukan untuk meningkatkan massa otot sehingga meningkatkan keseimbangan baik statis maupun dinamis . Latihan yang terakhir adalah latihan keseimbangan yang berfokus untuk melatih propioseptif sehingga keseimbangannya akan membaik . Latihan keseimbangan terdiri dari gerakan squat, jalann jinjit, berdiri posisi tandem, jalan tandem, berdiri satu kaki, berjalan menyamping, berjalan dengan tumit, dusuk-berdiri dari kursi, jaln mundur, jalan tandem mundur dan berjalan membentuk angka 8 . Latihan ini diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu . Selain latihan ini, sebagai latihan pendukung untuk melatih otot batang tubuh diberikan core exercise. Core exercise merupakan latihan yang dapat melatih otot core antara lain rectus abdominis muscle, multifidus muscle dan pelvic floor muscle, otot-otot tersebut bekerja sama untuk menghasilkan keseimbangan pada abdominal dan lumbal dan menghasilkan peningkatan pada performa ekstremitas untuk mengontrol atau menjaga posisi tubuh . Latihan yang aman dan bisa diberikan kepada lansia ada 3 yaitu gluteal bridge, leg lifts dan abdominal crunch. Latihan ini termasuk ke dalam latihan isometrik yang menyebabkan kontraksi pada otot-otot core serta anggota gerak bawah dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan otot . Latihan ini juga diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu . Untuk mengukur risiko jatuh pada lansia apakah rendah atau tinggi, bisa menggunakana tes yaitu time up go test. Tes ini dilakukan dengan cara mengukur waktu tempuh sesorang dengan diawali duduk di kursi selanjutnya berdiri dan berjalan kedepan sejauh 3 meter, setelah itu Kembali lagi untuk duduk di kursi. Waktu dihitung ketika sesorang mulai bangkit dari kursi sampai kembali duduk di kursi. Risiko jatuh dikatakan rendah jika waktu yang ditempuh < 14 detik. Sementara itu, jika waktu yang ditempuhOu14 detik maka risiko jatuh tinggi . METODE Jenis penelitian Penelitian ini menggunakan jenis pre-experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest Pengaruh Kombinasi Otago Exercise Dan Core ExerciseA| Vicky Frediyana dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Posyandu Wijayakusuma Kota Surakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada 22 November Ae 17 Desember 2023 Populasi dan Sampel Populasi yang diambil adalah lansia yang tergabung dalam posyandu Wijayakusuma dan yang menjadi responden dipilih melalui seleksi kriteria inklusi dan juga kriteria eksklusi sejumlah 18 orang reponden. Kriteria inklusi terdiri dari: . lansia berusia O 60tahun dengan nilai TUGT >14 . mampu berjalan tanpa alat bantu. bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusi:. lansia tidak mengalami ftaktur/masa penyembuhan fraktur pada anggota gerak bawah. tidak memiliki deformitas pada anggota gerak bawah. Kriteria drop out: . tidak mengikuti latihan 3 kali berturut-turut. pada masa penelitian responden sakit yang mempengaruhi kemampuan mobilitas responden. Pengumpulan Data Pengumpulan data diambil dengan cara pengisian lembar data diri serta kesediaan menjadi selanjutnya sebelum dan sesudah diberikan perlakuan akan dites dengan time up and go test . Perlakuan diberikan selama 4 minggu yang nantinya diolah dalam proses olah data. Pengolahan dan Analisis Data Data diproses menggunakan alat pengolahan data yaitu spss. Dalam pengolahannya dilakukan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui normalitas datam dan juga uji hipotesis paired t test untuk menentukan bagaimana pengaruh perlakuan yang diberikan. HASIL Hasil yang didapatkan dari pemberian perlakuan kombinasi otago exercise dan core exercise terhadap risiko jatuh lansia selama 4 minggu di Posyandu Wijayakusuma adalah sebagai berikut Distribusi reponden berdasarkan usia Tabel 1 Distribusi usia No Usia Frekuensi Persentase Jumlah Distribusi responden pada kelompok penelitian ini didominasi pada rentang usia 65-75 tahun yaitu berjumlah 13 orang . %). Distribusi Responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis kelamin Frekuensi Persentase(%) Laki-laki 33,33 Perempuan 66,66 Jumlah Responden pada penelitian ini di dominasi oleh perempuan yaitu berjumlah 12 orang, hal ini disebabkan karena populasi di posyandu ini lebih banyak perempuannya. Distribusi Responden berdasarkan jenis pekerjaan Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pengaruh Kombinasi Otago Exercise Dan Core ExerciseA| Vicky Frediyana dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 Pekerjaan Pensiunan Ibu rumah tangga Pekerja swasta Pedagang Jumlah Frekuensi . Persentase(%) 16,66 66,66 11,11 16,66 Pekerjaan yang paling banyak dikerjakan oleh responden adalah ibu rumah tangga, karena memang responden didominasi oleh perempuan Perolehan waktu Time Up Go Test Tabel 4 Perolehan waktu Time Up Go Test Keseimbangan Pre Test Post Test Frekuensi Min Mean Max Frekuensi Min Mean Max Baik 15Ao 18,44Ao 21Ao 11Ao 15,28Ao 19Ao Kurang Baik Dilihat dari tabel perolehan waktu tersebut terjadi perubahan yang cukup baik. Ada 5 orang yang sebelumnya masuk dalam kategori keseimbangan kurang baik (>14 deti. menjadi baik (<14 deti. , hal ini menandakan bahwa risiko jatuh yang dimiliki oleh sempel menurun. Dari nilai rata rata keseluruhan responden juga terjadi penurunan 3,1 detik. Perbandingan data pre dan post hasil TUGT 20 19 19 19 20 16 15 16 16 16 16 18 19 17 17 17 16 17 17 Pre Post 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Grafik 1 perbandingan data pre dan post hasil TUGT Dilihat dari grafik tersebut diketahui semua responden memperoleh waktu yang lebih cepat untuk post test dibanding pre test. Dan untuk waktu post terbaik di angka 11 detik. PEMBAHASAN Penelitian tentang pengaruh kombinasi Otago exercise dan core exercise terhadap ririko jatuh pada lansia di dapatkan hasil tentang distribusi lansia menurut usia, pekerjaan, jenis kelamin dan hasil TUGT. Seperti yang di dapatkan dalam tabel 1, distribusi responden pada kelompok penelitian ini didapatkan rentang usia 62-64 tahun berjumlah 5 orang . %), sedangkan pada rentang usia 65-75 tahun berjumlah 13 orang . %). Lansia dari mulai usia 62 tahun sudah mengalami peningkatan risiko jatuh. Menurut Siregar . tercatat setidaknya 25-38% lansia yang berumur 65 tahun lebih, mengalami peningkatan risiko jatuh sekitar 32-42% dan hampir sepertiga lansia pernah jatuh dan mengalami cedera. Hal tersebut dapat dipengaruhi dari latar belakang kehidupan lansia itu sendiri seperti jenis kelamin dan juga pekerjaannya. Pengaruh Kombinasi Otago Exercise Dan Core ExerciseA| Vicky Frediyana dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 Tabel 2, responden pada penelitian ini di dominasi oleh perempuan yaitu berjumlah 12 orang, sedangkan untuk responden laki-laki hanya berjumlah 6 orang. Diketahui bahwa lansia berjenis kelamin laki-laki cenderung memiliki masa otot yang lebih baik daripada lansia perempuan, karena pada umumnya lansia laki-laki pada usia muda melakukan pekerjaan yang lebih mengutamakan kekuatan otot. Oleh karena itu, gangguan keseimbangan yang menyebabkan risiko jatuh pada lansia lebih besar terjadi pada perempuan daripada laki-laki (Andry dkk, 2. Perihal pekerjaan, lansia cenderung berkurang dalam melakukan pekerjaan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada lansia yang masih bekerja diusia senja ini. Bagi lansia yang masih bekerja atau masih berkegitan secara rutin maka kekuatan otot pada tubuhnya masih terus digunakan dan lebih terjaga dibandingkan lansia yang tidak memiliki aktivitas dan kegiatan rutin . Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga menjadi pekerjaan yang paling banyak populasinya yaitu sebanyak 12 orang dengan persentase 66,66%, diikuti dengan pekerjaan pensiunan dan pedagang yang sama sama berjumlah 3 orang dengan persentase 16,66%. Sementara itu, untuk pekerjaan yang lain ada pekerja swasta yang hanya ada 2 orang dengan persentase 11,11%. Responden dalam penelitian ini cenderung memilki pekerjaan pada masa lalunya dengan aktivitas yang kurang sehingga risiko jatuh pada responden cukup Untuk mengukur apakah lansia memiliki risiko jatuh tinggi atau rendah dapat digunakan time up go test. Setelah dilakukan penelitian, diperoleh waktu untuk pretest dan posttest terjadi perubahan seperti yang ada pada tabel 4, dimana untuk pretest dari keseluruhan responden tidak ada yang memiliki perolehan waktu kurang dari 14 detik. Sementara itu, setelah dilakukan intervensi dan dilakukan posttest, terdapat 5 responden yang mendapatkan perolehan waktu kurang dari 14 detik. Dari kelima responden diketahui bahwa semua responden tersebut usianya kurang dari sama dengan 65 tahun sehingga usia mempengaruhi risiko jatuh lansia sama seperti penelitian Siregar . bahwa usia 65 tahun risiko jatuhnya meningkat. Faktor lainnya adalah pekerjaan pada lansia, kelima lansia memiliki latar belakang pekerjaan yang memiliki aktivitas cukup baik yaitu guru olahraga, pedagang dan pekerja swasta serta 3 dari 5 lansia ini adalah seorang laki-laki karena menurut penelitian dari Munawarah . bahwa lansia yang bekerja sebagai ibu rumah tangga serta berjenis kelamin perempuan lebih tinggi risiko jatuhnya. Dilihat dari data penurunan perolehan waktu antara pre dan post pada grafik 1 perbandingan hasil TUGT pre dan post intervensi, terjadi penurunan yang bervariasi pada seluruh responden, penurunan paling banyak di angka 5 detik yang diperoleh oleh dua responden. Sementara itu, untuk penurunan paling sedikit yaitu 2 detik yang diperoleh oleh 6 responden. Untuk rata rata penurunan berada di angka 3,1 detik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dengan didukung oleh hail penelitian dari penelitipeneliti sebelumnya maka pada penelitian ini terjadi pengaruh dari perlakuan yang diberikan terhadap kondisi risiko jatuh yang dialami oleh lansia. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan sebelumnya oleh Aidin . yang menyatakan bahwa Otago Exercise dan Core Exercise dapat meningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlakuan atau pemberian Otago Exercise dan Core Exercise kepada lansia dapat membantu untuk mengurangi risiko jatuh yang dibuktikan dengan penurunan rata-rata perolehan waktu posttest. Dalam kajian ini terdapat beberapa kekurangan yang dapat diperbaiki oleh peneliti selanjutnya yang mempunyai tema penelitian yang serupa. dari segi responden sebenarnya sudah cukup cukup banyak jiak diambil dalam satu komunitas, namun jika peneliti selannjutnya bisa mendapatkan responden yang lebih banyak serta beragam maka hasil yang diperoleh akan lebih baik lagi. Selain itu, ada faktor lain yang bisa dikaji lebih dalam oleh peneliti selanjutnya guna mendapatkan perbandingan fakot-faktor yang berkaitan dengan penelitian ini. Pengaruh Kombinasi Otago Exercise Dan Core ExerciseA| Vicky Frediyana dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 262 - 268 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/532 DAFTAR PUSTAKA