PENYULUHAN POLA PIKIR WAWASAN KRISTEN TENTANG LGBT PADA MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN IPS UNIVERSITAS PELITA HARAPAN DAN GURU SD GMIM LELEMA KABUPATEN MINAHASA SELATAN Devy Stany Walukow*. Roedy Silitonga Email Koresponden: devy. waluko@uph. Universitas Pelita Harapan Diterima: 08-10-2024 Direview: 31-10, 01-11-2024 Direvisi: 02-12-2024 Diterbitkan: 25-12-2024 Keywords: children, church environment, fear of God, responsibility Kata Kunci: anak-anak, lingkungan Gereja, takut akan Tuhan, tanggung jawab p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2024. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract The ease of obtaining information about LGBT and becoming a AolifestyleAo of some people today, has raised concerns in the world of The understanding of gender in the name of human rights can open space for the formation of LGBT in Indonesia. This condition destroys the human concept of God's creation, which is differentiated between men and women. However. LGBT people as individuals created by God, and have fallen into sin, should not receive inhumane treatment. LGBT people need to be given a touch of AoloveAo in the form of education to bring LGBT people to the construction of God's creation. This concept needs to be understood by social science education teachers of Universitas Pelita Harapan and teachers of Elementary School of GMIM Lelema in South Minahasa Regency as the bearers of character building. It turns out that LGBT is associated with the concept of gender and has not been properly understood. The variety of gender thinking in the social sciences about gender requires direction from Christian insights. Activities were carried out in the form of virtual face-to-face through zoom and Pre-Test and Post-Test were conducted. Abstrak Kemudahan memperoleh informasi tentang LGBT dan bahkan menjadi Aulife styleAy sebagian masyarakat dewasa ini menimbulkan keprihatinan dunia pendidikan. Pemahaman gender yang mengatasnamakan HAM dapat membuka ruang terbentuknya LGBT di Indonesia. Kondisi ini menghancurkan konsep manusia ciptaan Tuhan yang dibedakan lakilaki dan perempuan saja. Namun demikian penderita LGBT sebagai individu ciptaan Tuhan dan telah jatuh ke dalam dosa, tidak boleh mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Penderita LGBT perlu dirangkul dengan sentuhan AukasihAy dalam bentuk edukasi untuk membawa penderita LGBT pada konstruksi ciptaan Allah. Konsep ini perlu dipahami oleh calon guru IPS Universitas Pelita Harapan dan guru Sekolah Dasar GMIM Lelema di Kabupaten Minahasa Selatan sebagai pengemban pembentukan karakter. Ternyata LGBT dikaitkan dengan konsep gender belum dipahami secara tepat. Bervariasinya pemikiran gender dalam ilmu sosial tentang gender membutuhkan arahan dari wawasan Kristen. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk tatap muka virtual melalui zoom dan dilakukan Pre-Test dan Post-Test. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 PENDAHULUAN Dewasa ini perkembangan teknologi dan sistem jaringan memberikan banyak manfaat positif bagi perkembangan masyarakat. Meskipun demikian dampak negatif dari kemajuan teknologi dan sistem jaringan tentang hal-hal yang bertolak belakang dengan nilai dan budaya masyarakat Indonesia cukup besar karena selain bersifat masif, juga terjadi secara global. Keresahan yang sedang melanda Indonesia saat ini adalah berkaitan dengan Lesbian. Gay. Biseksual, dan Transgender (LGBT). Hal ini disebabkan karena di beberapa negara sudah menerima dan mengatur LGBT dalam hukum negara sehingga telah menjadikan LGBT sebagai sesuatu yang lumrah, dan hal ini berusaha dimasukkan ke Indonesia dengan menggunakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan negara Demokrasi yang dianut Indonesia. Berita tentang LGBT semakin masif disampaikan ke publik melalui media sosial. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan perkembangan dan karakter anak, sedangkan peran media sosial bagi anak-anak sangat besar dampaknya karena mudah dikunjungi oleh semua kalangan termasuk anak (Handayani & Maharani, 2. Pendidikan karakter merupakan kebutuhan utama bagi pembentukan karakter peserta didik sejak usia dini. Pembentukan karakter mengacu pada nilai-nilai yang menjadi pedoman dan patokan dalam masyarakat. Pedoman yang digunakan merupakan perpaduan dari nilai-nilai dalam ajaran agama dan nilai-nilai yang digali dari budaya, sehingga nilai-nilainya bersifat universal, karena karakter merupakan perpaduan dari moral, etika, nilai dan akhlak (Ni Putu Suwardani, 2. sehingga pendidikan karakter merupakan suatu keharusan (RofiAoie, 2. yang diberikan kepada peserta didik. Masrukhin mengatakan bahwa proses pembentukan karakter akan memengaruhi cara individu (Masrukhin, 2. Oleh sebab itu pembentukan karakter pada anak Sekolah Dasar dapat dilakukan di kelas ketika proses pembelajaran berlangsung dan dapat diintegrasikan berdasarkan pengetahuan ilmiah sehingga guru harus memiliki kompetensi agar pembentukan karakter berhasil optimal (Marini, 2. Oleh sebab itu calon guru dan guru Sekolah Dasar perlu diberikan edukasi dalam bentuk penyuluhan agar dapat memberikan pencerahan kepada peserta didik dan dapat membentuk karakter peserta didik sesuai dengan hakiki manusia ciptaan Tuhan. Calon guru dan guru harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk membentuk karakter anak, sehingga kemampuan dan keterampilan pedagogi guru menjadi sangat penting (Bukit & Tarigan. Selain memiliki kemampuan dan keterampilan pedagogi, calon guru dan guru harus dibekali dengan kemampuan pengetahuan konsep dasar sebagai hal yang paling Kemampuan tentang sebuah konsep merupakan modal dasar yang harus dimiliki sebagai kompetensi profesional antara lain, menguasai bahan pelajaran dan konsep materi pembelajaran (Syifa, 2. , dan harus memiliki pengetahuan yang luas (Mulyani, 2. , serta memiliki kepekaan sosial dengan lingkungan. Selanjutnya pentingnya memberikan penyuluhan tentang LGBT disebabkan karena Indonesia berada di tengah-tengah negara yang memiliki keberagaman dengan suasana globalisasi dari semua aspek kehidupan (Yuniarto, 2. Apalagi Indonesia sebagai negara demokrasi yang menjunjung kebebasan mengeluarkan pendapat dan hak asasi. Meskipun demikian antara demokrasi, hak asasi dan hukum negara tidak dapat dipisahkan karena merupakan prasyarat bahwa negara hukum pastilah negara yang demokrasi (Irawan, 2. Selain itu Indonesia memiliki ciri khas melalui nilai-nilai Pancasila sebagai modal kapital (Walukow et al. , 2. Oleh sebab itu maraknya penolakan LGBT di Indonesia bukan hanya bertolak belakang dengan Pancasila sebagai landasan idiil, tetapi juga karena melihat LGBT memiliki kecenderungan untuk dapat disembuhkan (Harahap, 2. Selain itu lumpuhnya nilai-nilai keadaban masyarakat yang sulit menemukan kehendak dan kebajikan bersama merupakan mimpi buruk bagi perkembangan bangsa ini (Ni Putu Suwardani, 2. Sebagai calon guru dan guru di PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. sekolah Kristen, membutuhkan pemahaman yang tegas dan jelas untuk keberadaan LGBT. Oleh sebab itu pemahaman secara Alkitabiah terhadap keberadaan laki-laki dan perempuan menjadi sangat penting. Dalam pemahaman Kristen tentang gender, kita dihadapkan pada paradoks antara kesetaraan dan perbedaan yang melekat dalam penciptaan manusia sebagai gambar Allah. Buku-buku seperti karya John Piper dan Kevin DeYoung memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan, meskipun memiliki kesetaraan dalam martabat, juga memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda (Piper & DeYoung, 2. Penting untuk menempatkan diri sesuai dengan design Tuhan: laki-laki tidak hanya sebagai pemimpin tetapi juga sebagai mitra yang mengayomi, dan perempuan tidak hanya sebagai pendukung tetapi juga memiliki kesempatan untuk memimpin dan berkarya. Kesadaran akan batasan dan peran harus diintegrasikan dalam pendidikan peserta didik untuk memahami dan menghargai perbedaan dan kesetaraan dalam kerangka yang benar. Konsep ini mampu menangkal keberadaan kelompok feminisme radikal. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa pembentukan karakter setiap negara memiliki perbedaan yang harus sesuai dengan hukum negara. Perbedaannya terletak pada aspek-aspek yang merujuk pada nilainilai budaya yang dipegang dan dianut oleh setiap negara. Dengan demikian perbedaan pandangan LGBT setiap negara hendaknya perlu dihargai dan dihormati. Baik demokrasi maupun hak asasi pasti memiliki batasan yang telah ditentukan dalam hukum negara. Meskipun demikian Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila menunjukkan definisi LGBT melanggar sila pertama Pancasila. Selanjutnya peserta yang ikut dalam kegiatan penyuluhan ini adalah mahasiswa semester 6 Jurusan IPS Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) di UPH dan guru Sekolah Dasar (SD) GMIM (Gereja Masehi Injili Minahas. di Lelema. Kecamatan Tumpaan. Kabupaten Minahasa Selatan. Provinsi Sulawesi Utara. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini disebabkan karena sebagai calon guru akan terjun ke beberapa sekolah untuk praktek mengajar, tentu saja membutuhkan pengetahuan umum tentang masalah-masalah yang sedang terjadi di masyarakat dewasa ini. Sebagai calon guru IPS kepekaan sosial terhadap masalah sosial di sekitar lingkungan sekolah dan masyarakat sangat dibutuhkan, sehingga perlu diperlengkapi dengan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah sosial tersebut. Selanjutnya profil SD GMIM Lelema merupakan sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1870 dengan nama AuNederlands Zending GenodscapAy (NZG) diganti menjadi Sekolah Rakyat GMIM, kemudian di era tahun 1966 diganti lagi menjadi Sekolah Dasar GMIM. Dengan demikian baik para calon guru dan guru yang mengikuti kegiatan ini berada pada lingkungan pendidikan Kristen yang tentu saja memiliki batasan yang tegas tentang keberadaan laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan Tuhan. Profil calon guru IPS di FIP UPH dan guru di SD GMIM Lelema tentu saja memiliki visi dan misi berdasarkan Alkitabiah. Akan tetapi masalah LGBT merupakan istilah yang masih belum dipahami secara utuh oleh para calon guru dan guru. Selain itu para calon guru dan guru belum mengetahui tentang fenomena yang sedang diperbincangkan di media sosial tentang LGBT. Kepekaan sosial terkait media sosial tentang LGBT belum dilihat sebagai sesuatu yang bersifat mendesak sebagai pergeseran nilai-nilai hakiki sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kendati keberadaan LGBT telah menjadi bagian dari hiburan di televisi dengan menampilkan sisi kecantikan yang tidak natural. Sajian yang diberikan melalui media sosial tentang keberadaan LGBT sangat banyak dijumpai. Keakraban yang tidak normal antar sesama jenis mulai dipertontonkan sehingga dikhawatirkan suasana yang tidak normal tersebut lambat laun menjadi normal pada anak yang tidak mengetahui bahwa hal tersebut merupakan suatu sikap dan tingkah laku yang tidak wajar dalam tatanan masyarakat Indonesia. Menurut Langlois bahwa status LGBT telah dicapai dalam sistem hak asasi manusia oleh PBB dan dengan sengaja dikecualikan dari kewenangan sensualitas dan gender. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 tetapi hanya menerima sedikit hak asasinya untuk kawasan Asia Tenggara dan tidak mendapat pengakuan institusional formal (Langlois, 2. Pendapat Langlois menunjukkan bahwa keberadaan LGBT di Kawasan Asia Tenggara belum didukung oleh hukum negara sehingga ada hak asasi yang terabaikan. Dengan kata lain usaha untuk menjadi LGBT di Kawasan Asia Tenggara mendapat perlakuan hukum yang sama dengan sebagian negara di Eropa dan Barat terus digiatkan. Untuk mencegah AukekuatanAy yang berusaha menggeser nilai-nilai budaya bangsa Indonesia tentang LGBT diperlukan pemberian edukasi. Apalagi pemahaman tentang LGBT dan gender masih kurang seperti hasil yang ditunjukkan ketika dilakukan Pre Test. Oleh sebab itu fokus tulisan ini membahas tentang penyuluhan yang telah diberikan kepada para calon guru IPS di FIP UPH dan guru di SD GMIM Lelema sebagai usaha untuk memberikan edukasi pemahaman mulai dari konsep gender sebagai konsep yang dideskripsikan oleh masyarakat sehingga melahirkan kerancuan pemahaman jenis kelamin dan berdampak pada munculnya LGBT. Pengetahuan yang diperoleh melalui penyuluhan ini diharapkan dapat menciptakan dan membentuk karakter siswa sebagai pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dengan memperhatikan konsep kejatuhan manusia ke dalam dosa sehingga membutuhkan AuperbaikanAy sebagai anugerah yang diberikan Allah melalui Tindakan AukasihAy yang dapat menolong orang lain. METODE PELAKSANAAN Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di Sekolah Dasar GMIM Lelema, beralamat di desa Lelema Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan. Sulawesi Utara. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penyuluhan secara online yaitu menggunakan tool atau perangkat Zoom yang diikuti mahasiswa sebagai calon guru Jurusan Pendidikan IPS di FIP Universitas Pelita Harapan dan guru SD GMIM Lelema sebagai edukasi agar pengetahuan para calon guru dan guru memiliki konsep tentang gender yang benar untuk mengantarkan pemahaman pada konteks LGBT terhadap peserta didik. Untuk mengetahui ketercapaian dari penyuluhan yang diberikan maka dilakukan Pre-Test sebelum diberikan materi dan Post-Test setelah diberikan materi kepada 35 orang peserta, sehingga penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang diperoleh melalui Pre-Test dan Post-Test, kemudian dideskripsikan berdasarkan kegiatan-kegiatan yang HASIL DAN PEMBAHASAN Penyuluhan yang diberikan dengan cara memberikan edukasi tentang LGBT, pada bagian pertama diberikan penyuluhan tentang konsep AuGenderAy dalam kajian ilmu sosial. Tujuannya memberikan penyuluhan kepada calon guru dan guru agar ikut mengedukasi siswa di kelas untuk mencegah masalah-masalah sosial dalam menghadapi, meresponi, menyikapi dengan bijaksana Allah yang disebabkan oleh media sosial. Pemahaman gender di masyarakat masih banyak ditemukan kekeliruan. Kekeliruan terjadi karena memahami gender secara etimologis bahwa gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Menurut Liddell-Scott-Jones A Greek-English Lexicon, definisi utama dalam literatur Yunani Kuno untuk AugenusAy (C) adalah Auras, golongan, atau kerabat. Ay (Ray, 2. Arti golongan dipahami sebagai kelompok yang mengarah pada tipe atau jenis, sejalan dengan pendapat Kessler dan McKenna bahwa pada tahap awal gender dilihat sebagai sesuatu yang dikaitkan dengan aspek psikologis (Jackson & Scott, 2. , yakni melihat PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. kedudukan laki-laki sebagai ordinat dan perempuan sebagai subordinat. Pemahaman yang berbeda tentang gender disampaikan oleh Goffman bahwa gender berkaitan dengan peran laki-laki dan wanita dalam masyarakat (Baligar, 2. Dengan kata lain gender adalah suatu peran yang berhubungan pada pembagian kerja di dalam aktivitas keluarga dan masyarakat. Namun demikian konstruksi sosial tentang gender didefinisikan masyarakat adalah berkaitan dengan psikologis dan kemudian menjadi bentuk dari sosial-budaya karena menjadi kebiasaan pada kehidupan masyarakat. Asumsi ordinat dan subordinat tidak hanya menjadi kebiasaan tetapi sudah menjadi nilainilai yang digunakan oleh masyarakat pada kehidupannya sehari-hari. Permasalahan pemahaman gender di atas kemudian melahirkan suatu situasi dan kondisi menggunakan sarana Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi yakni tentang kebebasan mengaktualisasikan diri melahirkan LGBT sebagai akibat dari gebrakan kelompok feminisme yang menjadi pendukung kesetaraan sosial antara laki-laki dan perempuan dan menentang patriarki (Baligar, 2. Menurut Yudiyanto kelompok yang setuju dengan keberadaan hak-hak LGBT mengharapkan eksistensinya dihargai atas dasar kemanusiaan dan bukan dipandang sebagai perilaku kelainan mental (Yudianto, 2. Berdasarkan kajian-kajian di atas maka penyuluhan ini melihat bahwa penting memberikan edukasi kepada calon guru dan guru tentang pandangan gender dalam kajian ilmu sosial. Kegiatan pada sesi pertama dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tanya-jawab yang dapat dilihat pada tampilan di bawah ini. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Selanjutnya pada bagian kedua, memperlengkapi calon guru dan guru tentang diberikan penyuluhan tentang AuPerspektif Kristen tentang GenderAy seperti gambar di bawah ini. Dalam memahami gender dari perspektif Kristen, masyarakat dihadapkan pada berbagai pandangan yang mencerminkan keragaman cara pandang terhadap peran laki-laki dan perempuan. Perspektif tradisional sering kali memisahkan peran gender menjadi domestik untuk perempuan dan publik untuk laki-laki. Perempuan dipandang sebagai pengurus rumah tangga, sementara laki-laki dianggap sebagai wakil keluarga di ranah publik. Di sisi lain, pandangan progresif mengusung ide kesetaraan gender, menekankan inklusi dan hak-hak individu tanpa memandang perbedaan. Pandangan ini sering kali menghadapi tantangan dalam konteks budaya dan sosial yang berbeda, yang berusaha menyamakan seluruh peran gender tanpa membedakan peran atau hierarki (Storkey, 2. Selanjutnya permasalahan gender kemudian melahirkan suatu situasi dan kondisi menggunakan sarana Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi yakni tentang kebebasan mengaktualisasikan diri melahirkan LGBT sebagai akibat dari gebrakan kelompok feminisme yang menjadi pendukung kesetaraan sosial antara laki-laki dan perempuan dan menentang patriarki (Baligar, 2. Menurut Yudiyanto, kelompok yang setuju dengan keberadaan LGBT mengharapkan untuk keberadaannya dihargai atas dasar kemanusiaan dan bukan dipandang sebagai perilaku kelainan mental (Yudianto, 2. Dengan demikian pandangan yang membatasi peran kaum perempuan menyebabkan munculnya konsep kesetaraan yang menjadi salah satu pemicu lahirnya LGBT. Oleh sebab itu pandangan pastoral yang menawarkan pendekatan lebih fokus pada penanganan isu gender secara individual dengan pendekatan nilai-nilai kasih, kehormatan, dan kesetaraan, hendaknya dilakukan juga pada konteks LGBT. Penanganan masalah LGBT, dilakukan sebagai upaya mengasuh dan memberikan solusi berdasarkan prinsip keadilan dan kebebasan. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan dukungan yang kuat dari keluarga, komunitas, dan masyarakat luas, mengingat pentingnya pengakuan dan dukungan dalam masyarakat yang multikultur dan multiagama (Williams. Sebagai contoh, pendekatan pastoral dapat melibatkan diskusi kelompok yang terbuka mengenai gender dan LGBT serta menerima perbedaan, dengan bimbingan dari pemimpin gereja. Di sisi lain, pandangan komplementarian menekankan kolaborasi antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Dalam pandangan ini, pria dan wanita memiliki peran yang setara namun saling melengkapi baik dalam konteks keluarga, gereja, maupun pendidikan. Dengan demikian, penting untuk mengedepankan pemahaman bahwa kepemimpinan dan tanggung jawab bisa dibagi PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. tanpa mendominasi satu pihak (Piper & Grudem, 2. Sebagai manusia yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah Tritunggal, manusia memiliki status sebagai ciptaan yang tunduk pada aturan Tuhan, namun sebagai individu dengan kebebasan, pikiran, dan kehendak. Ketegangan antara kesetaraan dan individualitas ini mencerminkan paradoks dalam memahami peran gender yang berdampak pada keberadaan LGBT. Meskipun laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan sebagai citra Allah, mereka juga memiliki batasan dan peran yang ditentukan oleh konteks sosial dan konstruksi budaya. Penting untuk menjelaskan kepada peserta didik bahwa meskipun ada kebebasan individu, peran gender dalam konteks Firman Tuhan tetap memiliki batasan dan posisi masing-masing yang harus dihargai dan dipahami (Harper, 2. Dalam konteks ini, kesetaraan gender tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan mengoptimalkan peran masing-masing dengan saling melengkapi. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, belajar, dan bekerja, namun peran mereka dalam keluarga, gereja, dan masyarakat tetap berbeda sesuai dengan desain Tuhan. Model relasi dalam Allah TritunggalAidengan Bapa. Anak, dan Roh KudusAimenunjukkan kesetaraan dalam substansi namun perbedaan dalam peran. Demikian pula, laki-laki dan perempuan, meskipun setara dalam hak dan martabat, memiliki peran yang saling melengkapi dan harus dijalankan dengan penuh penghargaan dan tanggung jawab (Grudem, 2. Dengan demikian dari kajian-kajian di atas menunjukkan bahwa peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan gereja, misalnya, harus didasarkan pada prinsip saling melengkapi, bukan pada dominasi atau ketidaksetaraan. Hal ini dapat membatasi gerakan LGBT bahwa ada hal yang sangat mendasar yang tidak dapat ditemukan dan diwujudkan melalui LGBT, yakni secara hakiki tentu saja wujud laki-laki dan perempuan merupakan dua sosok fisik yang berbeda dan memiliki kenyamanan secara psikologis sebagai manusia ciptaan Allah. Selain itu kajian-kajian di atas menunjukkan pentingnya memberikan edukasi kepada calon guru dan guru tentang pandangan gender dalam kajian ilmu sosial dan wawasan dunia Kristen sehingga dapat memperbaiki dan menghambat keinginan psikologis tentang LGBT pada setiap pribadi. Meskipun pemimpin gereja diharapkan dapat melakukan pastoral tetapi perlu juga dukungan dari para teolog, para akademisi, dan guru sebagai pendidik untuk bersinergi melaksanakan tanggung-jawab sebagai manusia ciptaan untuk menjaga ciptaan Tuhan. Oleh sebab itu pandangan pastoral menawarkan pendekatan yang lebih fokus pada penanganan isu gender secara individual dengan pendekatan nilai-nilai kasih, kehormatan, dan kesetaraan serta isu LGBT sebagai akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa yang perlu diberikan bantuan agar pribadi LGBT dapat dipulihkan. Dalam konteks ini, penanganan masalah gender, termasuk LGBT, dilakukan dengan upaya mengasuh dan memberikan solusi berdasarkan prinsip keadilan dan kebebasan. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan dukungan yang kuat dari keluarga, komunitas, dan masyarakat luas, mengingat pentingnya pengakuan dan dukungan dalam masyarakat yang multikultur dan multiagama (Williams, 2. Sebagai contoh, pendekatan pastoral dapat melibatkan diskusi kelompok yang terbuka mengenai peran gender dan penerimaan perbedaan, dengan bimbingan dari pemimpin gereja. Di sisi lain, pandangan komplementarian menekankan kolaborasi antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Dalam pandangan ini, pria dan wanita memiliki peran yang setara namun saling melengkapi baik dalam konteks keluarga, gereja, maupun Dengan demikian, penting untuk mengedepankan pemahaman bahwa kepemimpinan dan tanggung jawab bisa dibagi tanpa mendominasi satu pihak (Piper & Grudem, 2. Pandangan ini menekankan bahwa peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan gereja, misalnya, harus didasarkan pada prinsip saling melengkapi, bukan pada dominasi atau ketidaksetaraan dan penolakan karena membentengi diri sebagai Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Ausosok yang suci atau benarAy. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam pendidikan agar calon guru dan guru memahami peran gender mereka secara tepat untuk menangkal perilaku LGBT. Calon guru dan guru harus mengajarkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi pemimpin dan berkontribusi secara signifikan dalam berbagai konteks, tetapi juga harus menyadari dan menghargai perbedaan yang ada (Simmons, 2. , sehingga martabat dan kehormatan diri menjadi sangat penting. Selain itu perilaku LGBT dapat diperbaiki melalui sentuhan AukasihAy dan tidak memisahkan, menjauhkan diri, atau membentengi diri sebagai orang yang benar. Dengan pemahaman ini, setiap pribadi ciptaan Tuhan dapat bekerja sama dengan saling menghargai dan memenuhi peran mereka sesuai dengan kebenaran dan kasih Tuhan. Setiap pribadi dapat menjaga keseimbangan antara kesetaraan dan perbedaan dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hasil Pre-Test dan Post-Test Merujuk pada tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yakni memberikan penyuluhan tentang LGBT kepada calon guru IPS pada sebuah perguruan tinggi swasta dan guru pada sebuah sekolah dasar swasta, dan keduanya berbasis Iman Kristiani, maka penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan gagasan dan wawasan tentang gender yang tepat agar dapat mencegah dan memperbaiki terbentuknya LGBT. Keterlibatan peserta dalam mengikuti penyuluhan dapat dilihat pada gambar yang diperoleh dalam rekaman zoom sebagai berikut: Berdasarkan gambar di atas memperlihatkan antusias peserta dalam mengikuti penyuluhan bahwa para peserta menyadari tentang relevansi topik penyuluhan yang disajikan dengan tugas dan tanggung-jawab peserta sebagai calon pendidik dan pendidik terhadap para peserta didik. Namun sebelum pemberian materi maka dilakukan Pre-Test seperti yang digambarkan dalam gambar di bawah ini. PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. Pre-Test yang diberikan berisi 10 pertanyaan dalam bentuk Benar dan Salah. Pertanyaan pertama adalah AuGender adalah membahas tentang jenis kelaminAy, dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban salah berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan yang menjawab benar hanya 30,6 %. Dengan demikian pemahaman tentang konsep dasar gender masih sangat kurang dimiliki oleh para peserta. Pertanyaan kedua adalah AuBerdasarkan Alkitabiah laki-laki dan perempuan setara sebagai ciptaanAy, dari dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban salah berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan yang menjawab benar hanya 19,4 %, sehingga cukup banyak peserta yang mengikuti kegiatan penyuluhan masih belum mampu membedakan antara laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan Tuhan dengan tugas laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang diberikan akal budi. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Pertanyaan ketiga adalah AuLaki-laki dan perempuan merupakan gambar ALLAH yang bermakna di dalam Kasih dan Kebenaran Allah TritunggalAy, dari 30 orang peserta yang memberikan jawaban benar berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa semua peserta menjawab benar yakni 100 %, sehingga pengetahuan tentang manusia sebagai gambar Allah telah dipahami secara baik oleh para peserta. Pertanyaan keempat adalah AuLGBT meremehkan/ merendahkan / menolak setiap orang sebagai gambar rupa ALLAH . Ay dari dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban benar berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa sebesar 91. 7% peserta menjawab benar. Dengan kata lain, peserta memiliki pandangan untuk tidak menerima LGBT sebagai gambar dan rupa Allah. Kendati sebagai manusia ciptaan Tuhan yang telah jatuh ke dalam dosa, perilaku berdosa manusia dapat terjadi kepada siapa saja dan membutuhkan uluran tangan untuk diberikan pastoral. Pertanyaan kelima adalah AuEmansipasi merupakan wujud dari genderAy dari dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban salah berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa hanya 41. 7% peserta menjawab benar. Hasil di atas memperlihatkan bahwa peserta masih memahami gender dalam konteks sebagai pemberdayaan diri dan bukan pengembangan diri yang seharusnya dilakukan. Pertanyaan keenam adalah AuLGBTQ muncul akibat pemahaman gender yang salahAy dari dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban benar berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa 97. 2% peserta menjawab Hasil di atas memperlihatkan bahwa peserta masih memahami gender dalam konteks sebagai pemberdayaan diri dan bukan pengembangan diri yang seharusnya Pertanyaan ketujuh adalah AuPeran laki-laki dan perempuan adalah berbedaAy dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban salah berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa hanya 33. 3% peserta menjawab benar. Hasil di atas memperlihatkan bahwa peserta belum memahami gender Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 secara tepat yakni masih memahami gender sebagai jenis kelamin. Pertanyaan kedelapan adalah AuSaat ini sangat penting memberikan edukasi kepada siswa Sekolah Dasar tentang Gender yang membahas perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuanAy dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban benar berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa hanya 97. 2% peserta menjawab benar, sehingga memperlihatkan bahwa peserta memahami pentingnya pembentukan karakter dan etika perilaku yang harus dimiliki setiap peserta didik. Pertanyaan kesembilan adalah AuSaat ini sangat penting memberikan edukasi kepada siswa Sekolah Dasar tentang Gender yang membahas perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuanAy dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban salah berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa hanya 22. 2% peserta menjawab benar. Jika merujuk pada pertanyaan yang diberikan, terlihat bahwa peserta perlu diberikan pemahaman bahwa edukasi tentang perbedaan jenis kelamin antara anak laki-laki dan perempuan untuk saat ini sudah sangat dibutuhkan tentu saja dengan cara penyampaian yang mengacu pada kesopanan bertutur kata yakni menggunakan istilah yang sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat agar tidak terkesan AuvulgarAy. Pentingnya memberikan edukasi tentang perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan adalah untuk menjaga dan menghindarkan kebelum-tahuan anak tentang perbedaan tersebut sehingga tanpa disadari melakukan hal-hal yang tidak patut sebagai nilai dan budaya dari masyarakat Indonesia. Pertanyaan kesepuluh adalah AuMemberikan tanggung jawab yang sama kepada siswa laki-laki dan perempuan bertentangan dengan tradisi masyarakat di masa laluAy dari 35 orang peserta yang memberikan jawaban benar berdasarkan kunci jawaban adalah seperti yang ditampilkan pada diagram batang di bawah ini: PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. Berdasarkan diagram batang di atas menunjukkan bahwa hanya 72. 2% peserta menjawab benar. Peserta memahami bahwa dalam tradisi masyarakat di masa lampau, membedakan anak laki-laki dan perempuan merupakan suatu keharusan untuk Dengan demikian untuk melihat hasil Pre-test secara keseluruhan dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dasar tentang gender yang menyebabkan munculnya kesalahan berpikir tentang LGBT sebagai bagian dari hak asasi dan kebebasan perlu diberikan kepada calon guru dan guru. Tingkat pengetahuan tentang gender yang harus dipahami agar kesalahpahaman tentang LGBT menjadi pengetahuan dari calon guru IPS dan guru sekolah dasar. Setelah diberikan Pre-Test, peserta dibekali dengan konsep gender dalam kajian ilmu sosial dan dilanjutkan dengan gender dalam pandangan Kristen. Kemudian dilanjutkan dengan tanya-jawab antara peserta dengan pemateri, dan dilanjutkan dengan memberikan Post-Test seperti tampilan dibawah ini. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Post Test dilakukan untuk melihat ada-tidaknya peningkatan pemahaman berkaitan dengan materi penyuluhan yang diberikan. Ada beberapa pertanyaan yang diberikan dan cukup strategis sebagai penyuluhan tentang pemahaman LGBT, terutama pertanyaan dalam konteks konsep. Pertanyaan pertama hasil Pre-test hanya mencapai 30. 6% tetapi setelah diberikan penyuluhan data Post-Test mengalami peningkatan menjadi 88. seperti yang ditunjukkan dalam diagram batang di bawah ini. Dengan demikian penyuluhan yang diberikan menyebabkan terjadi peningkatan pengetahuan pemahaman gender dari segi konsep. Jadi terjadi perubahan pemahaman tentang gender. Gender tidak berbicara jenis kelamin tetapi membahas tentang peran, tanggung-jawab dan peran. Demikian juga untuk pertanyaan nomor 2 Pre-Test hanya 4% dari peserta yang menjawab benar mengalami peningkatan menjadi 6%, dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini. Jadi peserta telah memahami kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan Tuhan. Antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan ketika Tuhan menciptakan manusia yakni ada yang disebut laki-laki dan ada yang disebut perempuan, dengan tugas yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Kemudian pertanyaan nomor 5 bahwa hanya 7% dari peserta yang menjawab benar tetapi mengalami peningkatan menjadi 82. yang dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini. PENYULUHAN POLA PIKIR A (D. Walukow & R. Silitong. Kegiatan para peserta dalam memahami emansipasi telah mengalami perubahan. Emansipasi hanya terbatas pada keterlibatan perempuan dalam melakukan suatu pekerjaan, sedangkan gender berkaitan dengan usaha dan tindakan yang dilakukan untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Oleh sebab itu pemahaman yang keliru menjadi permasalahan dimana perempuan tidak diberikan kesempatan untuk menjadi penggerak dan penggagas. Kondisi ini menyebabkan perempuan berusaha untuk menjadi Aulaki-lakiAy sebagai wujud aktualisasi diri yang keliru. Hal yang sama terjadi juga pada pertanyaan nomor 6 tentang laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda. Pemahaman konsep tentang gender yang masih kurang dimiliki oleh peserta menjadi salah satu pemicu yang dapat menyebabkan muncul pemahaman keliru dan melahirkan ekspresi LGBT. Namun pemahaman masa lalu tentang kedudukan perempuan dalam keluarga yang diberikan pada pertanyaan nomor 10 yang berbunyi AuMemberikan tanggung-jawab yang sama kepada siswa laki-laki dan perempuan bertentangan dengan tradisi masyarakat di masa laluAy, hasil Pre-Test menunjukkan hasil 72. 2% meningkat 9% dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Meskipun secara keseluruhan pemahaman peserta lebih baik yang mungkin disebabkan oleh sejarah R. A Kartini, tetapi masih ada sebagian kecil yang masih memiliki pemahaman yang keliru tentang tanggung-jawab laki-laki dengan perempuan. Secara keseluruhan hasil Post-Test mengalami peningkatan rata-rata yang dapat ditunjukkan pada diagram batang di bawah ini. Dengan demikian perolehan hasil ketika dilakukan Post-Test adalah nilai rata-rata berada pada skor 82 dan berada pada median 80. Mengalami peningkatan perolehan dari Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Pre-Test dengan nilai rata-rata pada skor 60. 56 dengan median 50. KESIMPULAN Pemahaman konsep gender yang benar merupakan kekuatan untuk tidak menjadikan LGBT sebagai AupelarianAy dan Auekpresi diriAy tentang identitas diri yang faktual. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang serupa dan segambar dengan Allah memiliki keindahan dan kemampuan diri sesuai dengan harkat dan martabat dari manusia ciptaan. Penyuluhan tentang LGBT dalam wawasan Kristen sangat penting diberikan kepada calon guru dan guru yang bertitik tolak pada wawasan tentang gender sehingga mampu meletakkan LGBT secara tepat. Selain itu dapat melibatkan diri untuk memberikan bantuan ketika menghadapi sosok pribadi yang telah terperosok pada LGBT. Calon guru dan guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memahami konsep gender secara benar. Setelah mendapatkan penyuluhan ini maka calon guru dan guru mampu membantu dan memberikan solusi penanganan secara tepat tentang LGBT di era revolusi industri digital yang dengan mudah menyebarkan informasi LGBT. Calon guru dan guru berpegang pada wawasan Kristen, mendudukkan manusia sebagai gambar Allah yang diciptakan laki-laki dan perempuan serta hidup berpasangan, tetapi tidak membentengi diri sebagai orang benar. Hal ini yang menjadi permasalahan yang masih sering ditemukan dalam kehidupan orang Kristen. Hasil evaluasi yang dilakukan melalui Pre-Test dan Post-Test dari kegiatan PkM ini menunjukkan peningkatan pemahaman tentang LGBT. Calon guru dan guru harus memberikan edukasi sejak dini sebagai pembentukan karakter kepada generasi muda sejak dini. Oleh sebab itu diharapkan calon guru jurusan IPS di UPH dan guru di SD GMIM Lelema Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan mampu mencegah terbentuknya LGBT sejak usia dini. DAFTAR PUSTAKA