Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor 2 September 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 105-115 DOI: https://10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat TEOLOGI EKOLOGI BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK Stella Aprilia1* STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya. Indonesia *stellaapriliaa@gmail. Alamat: STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangkaraya. Jl. Tjilik Riwut. Km. No. Kec Jekan Raya. Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah 73112 Korespondensi penulis: stellaapriliaa@gmail. Abstract. This study examines the integration of Huma Betang cultural values from the Dayak community of Central Kalimantan as a foundation for ecological spirituality among Catholic youth. Through a theological-cultural discourse approach, this research explores how the values of belom bahadat . iving together harmoniousl. , handep . utual cooperatio. , and the philosophy of huma betang can be integrated with the principles of integral ecology from Laudato Si'. Findings indicate that local cultural values serve as an effective bridge between Catholic faith and cultural identity, generating contextual ecological Integration strategies include: transforming faith paradigms from anthropocentric to ecocentric, reconstructing pastoral formation based on local wisdom, and strengthening youth communities as agents of ecological change. This research contributes to the development of Indonesian contextual theology that elevates Dayak wisdom as a medium for faith proclamation and environmental advocacy, offering an inculturation model responsive to contemporary ecological crises. Keywords: Ecological Theology. Huma Betang. Catholic Youth. Local Wisdom. Abstrak. Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai budaya Huma Betang masyarakat Dayak Kalimantan Tengah sebagai fondasi spiritualitas ekologis bagi kaum muda Katolik. Melalui pendekatan diskursus teologis-kultural, studi ini mengeksplorasi bagaimana nilai belom bahadat . idup bersama secara harmoni. , handep . otong royon. , dan filosofi huma betang dapat diintegrasikan dengan prinsip ekologi integral Laudato Si'. Temuan menunjukkan nilai budaya lokal menjadi jembatan efektif antara iman Katolik dan identitas kulturan, menghasilkan spiritualitas ekologis kontekstual yang relevan. Strategi integrasi mencakup: transformasi paradigma iman dari antroposentris ke ekosentris, rekonstruksi pembinaan pastoral berbasis kearifan lokal, dan penguatan komunitas kaum muda sebagai agen perubahan ekologis. Penelitian berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual Indonesia yang mengangkat kearifan Dayak sebagai medium pewartaan iman sekaligus advokasi pelestarian lingkungan, menawarkan model inkulturasi yang responsif terhadap krisis ekologis kontemporer. Kata kunci: Teologi Ekologi. Huma Betang. Kaum Muda Katolik. Kearifan Lokal. LATAR BELAKANG Dewasa ini, krisis ekologi yang melanda dunia bukan lagi sekadar persoalan lingkungan hidup, tetapi telah menjadi persoalan multidimensional yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, budaya, bahkan spiritualitas manusia. Kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, perubahan iklim, serta hilangnya keanekaragaman hayati merupakan bukti nyata dari gaya hidup manusia yang semakin menjauh dari prinsip Hal ini juga menggugah kesadaran spiritual umat beriman, termasuk Received: Agustus 27, 2025. Revised: September 10, 2025. Accepted: September 12, 2025. Online Available: September 30, 2025. *Corresponding author, stellaapriliaa@gmail. TEOLOGI EKOLOGIS BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK Gereja Katolik. Fenomena perubahan iklim global, deforestasi masif, dan degradasi ekosistem telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, berdasarkan data IPCC menunjukkan peningkatan suhu global 1,1AC sejak era pra-industri dan telah menyebabkan perubahan iklim makin ekstrem. Di Indonesia, tepatnya di pulau Kalimantan, laju deforestasi mencapai 462. 458 hektare per tahun, mengancam keberlangsungan hutan hujan tropis yang kaya biodiversitas (Nawawi & Evangs Mailoa. Gereja Katolik memandang bahwa penciptaan adalah wujud kasih Allah yang harus dijaga dan dilestarikan, sebagaimana tercermin dalam ensiklik Laudato Si' yang menekankan bahwa tanggung jawab ekologis merupakan bagian tak terpisahkan dari Paus Fransiskus melalui ensiklik ini mengajak umat untuk memahami konsep "ekologi integral" yang menghubungkan perhatian terhadap alam dengan keadilan sosial, mengkritik paradigma teknokratis yang mereduksi alam sebagai objek eksploitasi, dan mengundang seluruh umat untuk mengalami "pertobatan ekologis" yang transformatif (Firdaus et al. , 2. Di tengah berbagai upaya penyadaran ekologis ini, kaum muda Katolik memiliki peran penting sebagai pelopor perubahan dalam membangun spiritualitas yang mencintai Dalam penelitian (Sinta, 2. Yang secara khusus mengkaji rendahnya keterlibatan kaum muda dalam gerekan cinta lingkungan, keterlibatan kaum muda dalam gerakan peduli lingkungan masih kurang optimal, terutama di tingkat lokal yang kaya Banyak di antara mereka kesulitan menemukan cara yang tepat untuk menghayati iman secara ramah lingkungan yang sejalan dengan budaya asal mereka. Melihat fakta yang terjadi maka di sinilah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal sebagai pendekatan kontekstual dalam pendidikan dan pembinaan iman Teologi kontekstual mengajarkan bahwa Injil harus diwartakan dalam bahasa, simbol, dan nilai-nilai yang dapat dipahami dan dihayati oleh komunitas lokal. Indonesia yang sangat plural dan kaya akan kearifan lokal, budaya lokal yang dapat menjadi medium autentik untuk mengalami dan mengekspresikan iman Katolik yang hidup dan Salah satu bentuk kearifan lokal yang kaya nilai ekologis dan spiritual adalah nilainilai yang terkandung dalam budaya Huma Betang masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah yang menawarkan perspektif yang sangat relevan dan kontekstual. Huma Betang Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 105-115 merupakan warisan budaya berusia ribuan tahun yang mencerminkan kebijaksanaan kolektif masyarakat Dayak dalam hidup berkelanjutan dan harmonis dengan alam, menjadi saksi hidup bagaimana manusia dapat hidup dalam harmoni dengan alam selama berabad-abad (Manek, 2. Huma Betang, sebagai rumah panjang tradisional yang menampung berbagai keluarga dalam satu komunitas, bukan sekadar struktur arsitektur, melainkan representasi filosofis tentang kehidupan yang harmonis dengan alam dan sesama. Konstruksi yang menggunakan bahan alami, desain yang mempertimbangkan iklim tropis, dan tata ruang yang mencerminkan hierarki sosial-spiritual menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menjadi ekspresi worldview ekologis. Nilai-nilai fundamental seperti belom bahadat . idup yang bena. , huma betang . olidaritas komuna. , dan handep . aling membant. mencerminkan prinsip-prinsip ekologis yang sejalan dengan visi Laudato Si'. Dalam penelitian (Apandie & Ar, 2. mengungkapkan bahwa masyarakat Dayak memiliki sistem kepercayaan yang menempatkan alam sebagai entitas sakral yang harus dihormati, dengan kosmologi yang mengenal Tuhan sebagai Pencipta yang menciptakan keseimbangan sempurna. Berbagai kajian sebelumnya banyak membahas tentang teologi ekologis secara umum atau kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan secara terpisah, namun belum banyak penelitian yang secara khusus mengkaji integrasi antara teologi ekologis dan nilai budaya Huma Betang dalam konteks penghayatan iman kaum muda Katolik. Hal inilah yang menjadi kebaruan dari penelitian ini, yakni menawarkan sebuah pendekatan teologi ekologis yang berbasis budaya lokal sebagai sarana membina spiritualitas cinta lingkungan di kalangan generasi muda Katolik. Penelitian ini berupaya dalam memperkuat identitas iman yang kontekstual dan relevan dengan realitas sosial budaya tempat kaum muda Katolik berada, mengembangkan teologis yang mengintegrasikan nilai Huma Betang, serta merumuskan model pembinaan iman yang holistik. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya Huma Betang dapat diintegrasikan ke dalam penghayatan iman ekologis kaum muda Katolik serta menggambarkan peran mereka dalam membangun kesadaran dan aksi cinta lingkungan yang bersumber dari iman dan nilai kearifan lokal. TEOLOGI EKOLOGIS BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK KAJIAN TEORITIS Topik mengenai teologi ekologis bukanlah hal yang sepenuhnya baru dalam diskursus teologi masa kini. Sejak diterbitkannya ensiklik Laudato SiAo oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, banyak pemikir teologi Katolik mulai mengangkat isu ekologi bukan hanya sebagai tanggung jawab sosial, tetapi sebagai bagian integral dari spiritualitas dan panggilan iman Kristiani. Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan penuh cinta dan tanggung jawab, teologi tidak lagi hanya berbicara tentang hubungan antara manusia dan Allah, tetapi juga hubungan antara manusia dan seluruh ciptaan-Nya (Meran, 2. Beberapa penelitian terdahulu juga mengangkat pentingnya pendekatan ekologis dalam kehidupan menggereja. Penelitian oleh (Agustinus, 2. Menekankan pentingnya pembinaan religiusitas kaum muda dalam bentuk yang lebih kontekstual dan responsif terhadap krisis zaman. Sementara itu, (Keriapy, 2. Dalam kajiannya mengenai teologi kontekstual mengusulkan pentingnya penggabungan antara nilai-nilai budaya lokal dan ajaran iman Katolik untuk membentuk teologi yang hidup dan Nilai budaya lokal, bila dimaknai dan diolah secara kritis, dapat menjadi pintu masuk yang kuat untuk membentuk kesadaran ekologis yang otentik dan tidak terlepas dari kehidupan umat. Budaya Huma Betang dari masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah menjadi contoh kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai ekologis. Huma Betang bukan hanya sebuah rumah panjang secara fisik, tetapi juga simbol kehidupan bersama yang menjunjung tinggi solidaritas, kesederhanaan, dan harmoni dengan alam. Nilai-nilai ini sangat selaras dengan prinsip teologi ekologis Katolik yang mengajarkan bahwa relasi manusia dengan ciptaan adalah bagian dari relasi manusia dengan Allah. Hidup dalam keselarasan dengan alam bukan hanya tindakan etis, tetapi juga spiritualitas yang menyatu dengan penghayatan iman (Rahmawati, 2. Kaum muda Katolik, dalam hal ini, memiliki peran penting dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai lokal tersebut. Dalam masa pencarian jati diri dan orientasi hidup, kaum muda sangat membutuhkan pendekatan iman yang relevan dan kontekstual. Seperti dijelaskan oleh Fowler . dalam teori stages of faith, kaum muda berada pada tahap perkembangan iman sintetik-konvensional, di mana mereka mulai menyusun kerangka keyakinan berdasarkan pengalaman, relasi sosial, dan budaya. Oleh karena itu. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 105-115 jika iman ingin ditanamkan secara mendalam, maka harus ditawarkan dalam bentuk yang konkret, menyentuh kehidupan, dan terhubung dengan konteks lokal tempat mereka METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis diskursus teologis-kultural. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik objek kajian yang bersifat reflektif, kontekstual, dan mendalam khususnya berkaitan dengan integrasi antara nilai budaya lokal Huma Betang dan teologi ekologis dalam kehidupan kaum muda Katolik. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menggali bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat diinterpretasikan secara teologis dan diinternalisasi sebagai bentuk penghayatan iman ekologis yang konkret di kalangan generasi muda Gereja (Indah Lestari, 2. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui kajian literatur dan studi pustaka yang meliputi dokumen Gereja Laudato SiAo, karya-karya teologi ekologis, studi antropologis mengenai budaya Dayak dan Huma Betang, serta literatur yang berkaitan dengan spiritualitas kaum muda Katolik. Selain itu, data juga dikembangkan dari pengamatan dan refleksi terhadap kehidupan pastoral umat Katolik di Kalimantan Tengah, khususnya yang menyangkut keterlibatan kaum muda dalam isu-isu ekologis dan budaya lokal. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis interpretatif-kritis, yakni dengan menafsirkan data kualitatif dalam kerangka pemikiran teologis dan kultural. Proses analisis dilakukan dalam beberapa tahap: pertama, mengidentifikasi nilai- nilai inti dari budaya Huma Betang, kedua, mengaitkannya dengan prinsip-prinsip teologi ekologis Gereja Katolik nilai-nilai diinternalisasikan oleh kaum muda Katolik dalam penghayatan iman dan cinta Penelitian ini juga mempertimbangkan pengalaman pastoral dan praktik nyata yang berkembang dalam komunitas umat, sebagai bentuk pendekatan kontekstual yang Oleh karena itu, metodologi yang digunakan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga pastoral dan profetis, sejalan dengan semangat inkulturasi dan misi ekologis Gereja masa kini. Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi konkret bagi pengembangan teologi ekologis yang berakar pada budaya lokal, serta TEOLOGI EKOLOGIS BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK menawarkan model pembinaan iman ekologis yang relevan bagi kaum muda Katolik dalam konteks Kalimantan Tengah dan Indonesia secara umum. HASIL DAN PEMBAHASAN Huma Betang sebagai Model Ekologis-Kontekstual dalam Iman Katolik Huma Betang adalah rumah tradisional khas suku Dayak di Kalimantan yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan sosial dan budaya Masyarakat suku Dayak. Struktur bangunan ini mencerminkan filosofi hidup yang mengutamakan kebersamaan, persatuan, dan harmoni antaranggota komunitas. Secara fisik. Rumah ini dibangun memanjang dengan konstruksi dari kayu ulin yang terkenal tahan lama dan kuat. Ketinggian bangunan dari tanah mencapai 3-5 meter, bertujuan melindungi penghuni dari banjir dan serangan binatang buas. Budaya Huma Betang merupakan simbol kuat dari cara hidup masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang mengutamakan kebersamaan, keselarasan dengan alam, dan tata hidup yang bermartabat. Rumah panjang ini bukan sekadar tempat tinggal fisik, melainkan juga struktur sosial dan spiritual yang membentuk nilai- nilai hidup komunitas. Dalam konteks Gereja Katolik, nilai-nilai ini menjadi lahan subur untuk menanamkan spiritualitas ekologis yang bersumber dari iman dan budaya local (Apandie & Ar, 2. Dalam ensiklik Laudato SiAo. Paus Fransiskus menekankan perlunya Auekologi integralAy yang tidak hanya menyangkut lingkungan fisik, tetapi juga keterhubungan sosial, budaya, dan spiritual (Meran, 2. Huma Betang, dengan filosofi hidupnya yang menghargai hubungan manusia dengan alam dan sesama, merupakan bentuk nyata dari ekologi integral tersebut dalam konteks lokal Dayak. Melalui integrasi nilai-nilai ini, teologi ekologis Katolik dapat dihidupi secara lebih kontekstual dan bermakna oleh kaum muda Katolik. Nilai Budaya Huma Betang dan Relevansinya bagi Teologi Ekologis Terdapat tiga nilai utama dalam budaya Huma Betang yang sangat relevan bagi spiritualitas ekologis Katolik, khususnya dalam penghayatan iman kaum muda: Belom Bahadat yang menjadi dasar moral yang tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia, tetapi juga mengatur sikap terhadap alam. Nilai ini menanamkan kesadaran bahwa merusak lingkungan adalah pelanggaran terhadap nilai kehidupan. Dalam terang iman Katolik, hal ini selaras dengan panggilan untuk menjaga ciptaan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 105-115 sebagai bentuk kasih kepada Allah. Handep yang merupakan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam menghadapi segala tantangan, termasuk dalam menjaga lingkungan. Nilai ini mencerminkan prinsip solidaritas sosial Gereja, kaum muda dipanggil untuk bertindak bersama demi kebaikan bersama. Huma Betang sebagai simbol kesetaraan, persatuan dalam keberagaman, dan hidup bersama dalam damai, menjadi model komunitas yang dapat diterjemahkan dalam kehidupan menggereja. Gereja sebagai rumah bersama . omus ecclesia. dipanggil untuk menciptakan ruang hidup yang mencerminkan semangat Huma Betang yang inklusif, adil, dan ramah lingkungan (Maresty & Zamroni, 2. Kaum Muda Katolik sebagai Agen Spiritualitas Ekologis Kontekstual Kaum muda Katolik memiliki peran yang sangat penting sebagai agen transformasi dalam mengembangkan spiritualitas ekologis yang kontekstual, terutama dalam konteks krisis lingkungan yang semakin mengancam keberlanjutan hidup. Generasi millennial , yang tumbuh dalam era digital dan kesadaran ekologis global, memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu-isu lingkungan sambil tetap berakar dalam tradisi iman Katolik. Melalui pendekatan yang dialogis dan inklusif. Dalam konteks ini, budaya Huma Betang menjadi titik temu antara iman dan identitas budaya. Dengan memahami nilai-nilai luhur dalam Huma Betang, kaum muda dapat merumuskan spiritualitas ekologis yang membumi dan Serta tidak lagi melihat iman sebagai sesuatu yang asing dari budaya mereka, melainkan sebagai kekuatan yang justru memberi makna dan arah pada kehidupan (Tukan et al. , 2. Pentingnya mengangkat nilai-nilai budaya ini ke dalam proses pembinaan iman, maka kaum muda tidak hanya akan merasa diterima, tetapi juga diberdayakan untuk menghidupi iman secara kontekstual. Ini penting agar penghayatan iman tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi kekuatan transformatif dalam hidup mereka sehari-hari, termasuk dalam relasi dengan lingkungan hidup. Strategi Integrasi Nilai Budaya Huma Betang dalam Spiritualitas Ekologis Integrasi nilai budaya Huma Betang ke dalam spiritualitas ekologis kaum muda Katolik tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan pendekatan strategis yang menyentuh tiga ranah utama, transformasi paradigma iman, rekonstruksi TEOLOGI EKOLOGIS BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK pembinaan pastoral, dan penguatan praksis ekologis yang berbasis komunitas (Apandie & Ar, 2. Transformasi paradigma iman: membangun kesadaran teologi kontekstual Langkah pertama yang sangat penting adalah membongkar cara pandang kaum muda yang masih memisahkan iman dari tanggung jawab ekologis. Kesadaran bahwa merawat ciptaan adalah bagian dari spiritualitas harus ditanamkan sejak awal, dengan memperkenalkan konsep Auekologi integralAy bukan sekadar sebagai doktrin, melainkan sebagai cara hidup kristiani yang bersumber dari Injil dan diwujudkan dalam budaya Nilai belom bahadat sebagai pedoman hidup perlu ditafsirkan secara teologis sebagai bentuk konkret dari kasih kepada Allah dan sesama, termasuk alam semesta, pendekatan naratif sangat efektif, mendongeng ulang kisah Penciptaan dari Kejadian 1-2 dalam cahaya kosmologi Dayak, menunjukkan bagaimana alam bukan benda mati, tetapi ciptaan yang sakral. Rekonstruksi Pola Pembinaan Iman: Dari Transmisi ke Partisipasi Strategi kedua adalah mengubah pola pembinaan pastoral yang selama ini cenderung satu arah . menjadi model yang partisipatif dan kontekstual. Pembinaan iman harus memberi ruang bagi kaum muda untuk mengolah nilai budaya mereka secara teologis, bukan sekadar menerima ajaran secara dogmatis. Contoh konkretnya adalah mendorong retret lingkungan hidup berbasis adat, di mana peserta tidak hanya merenung di alam terbuka, tetapi juga belajar dari tokoh adat, melakukan praktik ekologis bersama, dan menulis refleksi iman pribadi yang berakar pada budaya Dayak. Proses ini menjadikan kaum muda bukan objek, tetapi subjek aktif dalam merumuskan makna iman dalam relasi dengan lingkungan. Penguatan Praksis Komunitas: Dari Aksi Simbolik ke Gerakan Transformatif Kaum muda perlu terlibat dalam aksi nyata yang tidak hanya simbolik, tetapi memiliki dampak transformatif secara ekologis dan sosial. Spirit handep . otong royon. bukan hanya jargon lokal, melainkan prinsip sosial-ekologis yang harus diwujudkan dalam gerakan kolektif. Gereja lokal dapat membentuk AuKomunitas Muda Huma BetangAy yang fokus pada eco-justice: pemantauan kerusakan lingkungan di wilayah adat, edukasi ekologis di sekolah-sekolah Katolik, dan advokasi terhadap isu deforestasi atau pencemaran. Dalam Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 105-115 komunitas ini, nilai huma betang sebagai rumah bersama dijadikan model gereja yang terbuka, setara, dan peduli lingkungan. Implikasi terhadap Spiritualitas dan Identitas Kaum Muda Katolik Integrasi nilai budaya Huma Betang ke dalam spiritualitas cinta lingkungan memiliki dampak yang transformatif bagi kaum muda Katolik, terutama dalam tiga aspek utama, penguatan identitas iman lokal, pembentukan karakter ekologis, dan pemulihan relasi iman-budaya (Maresty & Zamroni, 2. Pertama, penguatan identitas iman lokal terjadi ketika kaum muda tidak lagi melihat ajaran Gereja sebagai warisan luar yang asing, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya mereka sendiri. Ketika nilai-nilai Dayak seperti handep dan huma betang dikaitkan dengan ajaran kasih dan keadilan ekologis Katolik, terjadi proses inkulturasi yang membangun rasa memiliki terhadap iman Katolik yang hidup dan membumi. Kedua, spiritualitas cinta lingkungan membentuk karakter kaum muda menjadi pribadi yang beriman ekologis: mencintai ciptaan, bersikap kritis terhadap kerusakan lingkungan, dan aktif dalam aksi pelestarian. Hal ini sangat penting mengingat kaum muda sering berada di tengah gempuran budaya konsumtif dan individualistik yang menjauhkan dari semangat ekologis. Ketiga, relasi antara iman dan budaya yang sebelumnya terpisah seringkali menyebabkan keterasingan identitas. Dengan pendekatan ini, kaum muda justru menemukan titik temu antara dua akar iman Katolik dan budaya Dayak (Melo & Firmanto, 2. Ini membuka ruang spiritual yang holistic. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Huma Betang dari masyarakat Dayak Kalimantan Tengah memiliki kekayaan spiritual dan ekologis yang sangat relevan untuk diintegrasikan ke dalam penghayatan iman cinta lingkungan kaum muda Katolik. Nilai seperti belom bahadat . idup bena. , handep . otong royon. , dan filosofi huma betang . idup bersama dalam kesetaraa. tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga sejalan dengan prinsip ekologi integral dalam ajaran Gereja Katolik, sebagaimana ditekankan dalam ensiklik Laudato SiAo. Strategi integrasi nilai budaya ini melibatkan transformasi paradigma iman yang menyatukan spiritualitas dengan tanggung jawab ekologis, rekonstruksi metode pembinaan iman yang kontekstual dan partisipatif, serta penguatan komunitas kaum TEOLOGI EKOLOGIS BERBASIS NILAI BUDAYA HUMA BETANG DALAM PENGHAYATAN IMAN DAN CINTA LINGKUNGAN BAGI KAUM MUDA KATOLIK muda sebagai agen perubahan ekologis. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya teologi ekologis, tetapi juga membangun jembatan antara iman dan budaya, antara Gereja dan komunitas adat. Integrasi nilai Huma Betang ke dalam spiritualitas kaum muda membuka ruang bagi terbentuknya identitas iman yang kontekstual, spiritualitas ekologis yang membumi, dan partisipasi aktif dalam merawat bumi sebagai rumah Kaum muda Katolik, jika dibina dengan pendekatan kontekstual, dapat menjadi generasi transformatif yang memperjuangkan keadilan ekologis secara profetis dan kreatif. Saran