Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 2. 2020, 23-28 http://ojs. id/ojs/index. php/JBKB ISSN 2685-0753 . ISSN 2685-2039 . KEEFEKTIFAN TEKNIK SELF INSTRUCTION UNTUK MEREDUKSI PERILAKU KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA MAHASISWA FKIP UNIVERSITAS SLAMET RIYADI SURAKARTA Ahmad Jawandi Eko Adi Putro. Ferisa Prasetyaning Utami Universitas Slamet Riyadi Email: ahmadjawandi@unisri. Abstrak Keberadaan internet khususnya jejaring sosial telah mampu menjadikan dunia sebagai small village . esa keci. yang melampaui batas-batas jarak dan Media sosial yang digunakan secara berlebihan dan menimbulkan kecanduan akan berdampak negatif bagi perkembangan remaja. Alternatif solusi yang bisa dilakukan dalam mereduksi kecanduan media social adalah dengan menggunakan pendekatan secara kognitif dan perilaku melalui teknik Self Instruction. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mereduksi kecanduan media sosial pada mahasiswa melalui teknik teknik self instruction. Metode penelitan menggunakan eksperimen dengan rancangan nonequivalent group pretest-postest control design. Populasi penelitian adalah mahasiswa FKIP UNISRI, sedangkan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala perilaku kecanduan media Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon yang menunjukkan nilai signifikansi kelompok eksperimen sebesar 0,002 < 0,05, artinya teknik self instruction efektif untuk mereduksi perilaku kecanduan media sosial pada Penelitian ini merupakan penelitian dasar yang menghasilkan prinsip dasar dari teknologi, formulasi konsep dan aplikasi teknologi, hingga pembuktian konsep penelitian dengan indikator TKT 3. Kata Kunci : perilaku, kecanduan media sosial, self insruction PENDAHULUAN Globalisasi memberikan perubahan Perubahan tersebut terlihat dari perkembangan teknologi yang semakin pesat dalam berbagai bidang. Salah satu masyarakat khususnya generasi muda adalah internet (Asmani, 2012:. Pengaruh internet sangat besar bagi generasi muda khususnya pada pelajar. Mereka memanfaatkan internet baik untuk mengerjakan tugas sekolah, sarana komunikasi, sumber informasi terkini, eksis ataupun sekedar mengisi waktu luang. Berdasarkan riset yang dilakukan Yahoo . alam Asmani, 2012:. enam puluh empat persen pengguna internet di Indonesia adalah remaja usia 15-19 tahun. Melalui internet seseorang dapat berkomunikasi dan bertukar berbagai bentuk informasi dari seluruh penjuru Mudahnya seseorang dalam berkomunikasi saat ini dimanapun dan kapanpun membawa dampak besar dalam kehidupan. Salah satunya penggunaan media sosial yang semakin menjamur dikalangan masyarakat, khususnya kalangan remaja. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein . mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2. 0, dan yang pertukaran user-generated content. Hampir seluruh manusia diberbagai belahan dunia mengetahui, memahami serta menggunakan media sosial karena Facebook, twitter, whatsapp dan instagram adalah beberapa media sosial yang paling aktif Keberadaan internet khususnya jejaring sosial telah mampu menjadikan dunia sebagai small village . esa keci. yang melampaui batasbatas jarak dan waktu. Media sosial dikalangan remaja dalam berkomunikasi dan bertukar informasi secara bebas, luas tanpa batasan ruang dan waktu. Namun apabila media sosial digunakan secara kecanduan akan berdampak negatif bagi perkembangan remaja. Hal ini akan menjadi tantangan besar bagi dunia Peserta didik lebih sering menggunakan media sosial dan mengakibatkan kecanduan sehingga mereka melupakan tugas utama mereka sebagai pelajar. Media sosial juga membuat peserta didik menjadi malas bersosialisasi dalam dunia nyata dan terlarut dalam dunia maya. Hal ini membuat seseorang yang berjarak dekat dengan kita terasa jauh dan yang jauh menjadi dekat. Terkadang peserta didik menggunakan media sosial hanya untuk kesenangan atau sebagai pelarian dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Dalam jurnal Waldo . yang Correlates Internet Addiction among Adolescents. Young dan Rogers menjelaskan bahwa apabila seringkali seseorang menggunakan internet sebagai upaya melarikan diri dengan berkomunikasi melalui internet. Terdapat klasifikasi mengenai pengguna internet yang mengalami kecanduan, hal ini bisa dilihat dari intensitas penggunaannya. Intensitas penggunaan internet bisa dilihat dari frekuensi dan durasi penggunaannya. Terdapat Waldo . Young dan Rogers membagi durasi penggunaan internet menjadi dua yaitu : pengguna internet yang sehat dan yang bermasalah. Pengguna yang sehat adalah pengguna yang mengakses internet sebanyak 8 jam perminggu, sedangkan pengguna internet bermasalah adalah yang internet sebanyak 38,5 jam perminggu atau sekitar 5 jam perhari. Hal ini juga bisa sebagai acuan untuk melihat seberapa tingkat gejala kecanduan menggunakan internet. Permasalahan kecanduan media sosial ini juga terjadi pada beberapa mahasiswa FKIP Universitas Slamet Riyadi. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada beberapa mahasiswa menunjukkan beberapa gejala perilaku tersebut. Hal tersebut diungkapkan karena setidaknya setiap kelas ada peserta didik yang secara sembunyi-sembunyi telepon genggam pada saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Beberapa mahasiswa lebih suka memegang handphone untuk membuka instagram, facebook dan whastapp daripada mengobrol dengan temanteman yang ada disekitarnya. Hal yang terjadi jika siswa terus menerus kecanduan media sosial adalah tidak mengenal waktu, tidak peduli dengan sekitar, kurang sosialisasi dengan lingkungan, mengganggu kesehatan, dan malas belajar. Mahasiswa juga selalu eksis dalam melakukan selfie dimanapun tanpa peduli lingkungan untuk di posting ke media sosial. Tidak jarang postingan-postingan berupa status maupun foto malah menjadi bahan bullying diantara mahasiswa di jejaring sosial. Alternatif dilakukan dalam mereduksi kecanduan menggunakan teknik Self Instruction. Self Instruction merupakan salah satu teknik dari pendekatan cognitive behavior therapy, yang melibatkan keyakinan-keyakinan disfungsional yang dimiliki seseorang dan mengubahnya menjadi lebih realistis, serta melibatkan teknik-teknik modifikasi perilaku (Bos dkk, 2. Self instruction memiliki keunggulan, yaitu selain dapat mengganti pandangan negatif individu menjadi positif, metode ini juga dapat mengarahkan individu untuk mengubah kondisi dirinya agar memperoleh konsekuensi yang efektif dari lingkungan. Individu tidak hanya diajak untuk mengubah pandangannya, tetapi juga diarahkan untuk mengubah perilaku yang lebih efektif. Sehingga mengidentifikasi pemikiran yang salah tentang penyalahgunaan media sosial, akibat dari penggunaan media sosial yang berlebihan, kemudian berfikir secara rasional tentang pemanfaatan media sosial yang tepat. Selanjutnya hasil restrukturisasi kognitif itu di aplikasikan dalam bentuk pengubahan perilaku positif. Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pengaruh teknik Self Instruction untuk mereduksi perilaku mahasiswa universitas slamet riyadi Surakarta. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah eksperimen. Pendekatan penelitian eksperimen adalah pendekatan penelitian yang menguji apakah variable independent dependent (Cresswell, 2. Teknik penelitian eksperimen adalah penelitian yang didalamnya terdapat suatu intervensi dan pengukuran sebelum dan setelah diberikan intervensi. Variabel independent di dalam penelitian ini adalah panduan teknik self instruction Penelitian menggunakan desain eksperimen Aunonequivalent group pretest-postest control designAy. Desain ini adalah desain yang sudah memenuhi syarat dilakukannya penelitian kuasi eksperimental. Desain ini merupakan desain yang paling fisibel untuk diterapkan dalam setting Peneliti menggunakan kelompok yang sudah ada, memberi pretest, melakukan perlakuan pada kelompok eksperimen, lalu melakukan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Edy Purwanto, 2013 : . Desain penelitian nonequivalent group pretest-postest control design dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. 1 Desain nonequivalent group pretest-postest control desig. Sampel pada penelitian ini berasal dari mahasiswa FKIP UNISRI yang secara purposive random sampling diambil 12 orang sebagai kelompok eksperimen yang akan diberikan treatment self instruction dan 12 orang sebagai kelompok kontrol. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui keefektivan layanan konseling kelompok CBT teknik self instruction dalam mereduksi perilaku kecanduan media sosial pada mahasiswa UNISRI maka dilakukan analisis data. Perubahan tersebut diketahui setelah dilakukan pretest dan Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan statistik nonparametrik teknik Uji Wilcoxon, yang merupakan analisis untuk menguji perbedaan 2 sampel berpasangan. Alasan nonparametric adalah karena penelitian menggunakan sampel kecil Tabel Uji Wilcoxon Signed Ranks Test Test Statistics kontrol post. eksperimen pre. Tabel diatas menunjukkan hasil uji hipotesis sebagai berikut : Nilai eksperimen sebesar 0,002 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya layanan konseling kelompok CBT teknik self instruction efektif untuk mereduksi perilaku kecanduan media sosial mahasiswa. Nilai signifikasi kelompok kontrol sebesar 0,234 > 0,05. Artinya tidak ada perbedaan nilai pretest dan postest, maka tidak terjadi perubahan yang kecanduan media sosial mahasiswa UNISRI pada kelompok kontrol. Hal ini karena pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Sehingga validitas internal penelitian tetap terjaga, artinya bisa dipastikan bahwa perubahan perilaku kecamduan medsos mahasiswa pada variabel terikat semata-mata adalah akibat dari pemberian treatment. Berdasarkan hipotesis di atas, diketahui bahwa layanan konseling kelompok CBT teknik self instruction efektif untuk mereduksi perilaku kecanduan media sosial mahasiswa. mampu mengelola diri kaitannya dengan intensitas penggunaan media sosial, menunjukkan sikap empati terhadap hubungan sosial secara langsung dan perilaku penggunaan media sosial secara bijak. Hal ini ditunjukkan dengan ikrar janji yang diucapkan dan diterapkan dalam bentuk perilaku nyata, sikap positif dan perilaku penggunaan media sosial pemberian self reinforcement yang ditentukan oleh diri masing-masing Berdasarkan simpulan yang sesuai dengan hasil penelitian, maka dapat diajukan beberapa saran kepada masing-masing pihak sebagai berikut: KESIMPULAN Berdasarkan pelaksanaan penelitian tentang efektivitas layanan konseling kelompok CBT teknik self instruction untuk mereduksi perilaku kecanduan disimpulkan sebagai berikut: Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan karakter yang signifikan antara sebelum dan sesudah treatment. Hal ini memberikan bukti nyata bahwa perilaku kecanduan media sosial mampu diturunkan melalui kegiatan 1. Bagi Lembaga Pendidikan: layanan konseling kelompok CBT Dalam rangka pengembangan teknik self instruction. Penelitian ini kompetensi hidup, peserta didik juga memberikan terobosan baru bagi memerlukan sistem layanan dunia pendidikan mengenai pentingnya pendidikan di satuan pendidikan penggunaan teknik dalam layanan yang tidak hanya mengandalkan bimbingan kelompok yang efektif, layanan pembelajaran mata efisien, ekonomis dan menyenangkan pelajaran/bidang sebagai sarana pendukung dalam manajemen, tetapi juga layanan mengembangkan berbagai kemampuan bantuan khusus yang lebih bersifat psiko-edukatif melalui Teknik self instruction ini, dapat Oleh karena itu distorsi-distorsi Lembaga Pendidikan hendaknya dengan menguji ulang keyakinan mahasiswa dengan berbagai teknik menyediakan akomodasi yang persuasi verbal dan aktivitas yang diberikan secara berulang-ulang sampai pelaksanaan kegiatan bimbingan mahasiswa mampu melakukannya dan konseling agar dapat untuk diri mereka sendiri. teknik selfberjalan dengan optimal. instructional yang diterapkan selama 2. Bagi Pendidik: kondisi intervensi kepada kelompok Dalam era digital diperlukan layanan pendampingan oleh perubahan perilaku yakni mahasiswa pendidik kepada peserta didik dalam upaya pembentukan sikap dan perilaku penggunaan media internet secara bijak. Pendidik perlu melatih social skill pada peserta didik agar komunikasi interpersonal yang baik dan kepekaan sikap empati dalam bersosialisasi. Hubungan yang baik antara Pendidik dan Peserta Didik merupakan suatu hal yang dapat Peserta Didik tugas-tugas perkembangannya dan mengatasi masalah secara bersama. Bagi Peneliti Selanjutnya Direkomendasikan bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian dengan tema yang sama agar menggunakan desain penelitian yang lebih baik dengan sampel yang lebih luas. REFERENSI