Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 Penguatan Nilai Agama dan Budi Pekerti dalam Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kurikulum Merdeka Elok Huurun MaknuninA. Abdul Rouf A. AKB Al-Muhajirin Jombang. Indonesia AUniversitas Darul AoUlum Jombang. Indonesia Email: elokkhurunmaknunin@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam memperkuat nilai agama dan budi pekerti pada anak usia 3Ae4 tahun di KB Al-Muhajirin berbasis Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru kelompok B KB Al-Muhajirin, sedangkan informan terdiri atas wali kelas dan guru pendamping. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai agama dan budi pekerti dilaksanakan melalui tiga strategi utama, yaitu . pembiasaan dan keteladanan, . kegiatan edukatif dan interaktif, serta . kerja sama dengan orang tua. Strategi pembiasaan dan keteladanan diterapkan melalui rutinitas harian seperti mengucapkan salam, berdoa, menjaga kebersihan, berbagi, dan meneladani perilaku guru sebagai figur panutan. Kegiatan edukatif dan interaktif dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar, bercerita, bernyanyi, dan bermain peran yang mampu meningkatkan partisipasi aktif anak serta mendukung perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan Kerja sama dengan orang tua dilakukan melalui komunikasi intensif dan pelibatan orang tua dalam program sekolah untuk memastikan kesinambungan penanaman nilai di rumah dan di sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di KB Al-Muhajirin mendukung penguatan karakter anak secara holistik melalui pendekatan yang kolaboratif, kontekstual, dan berpusat pada kebutuhan perkembangan anak usia dini. Kata Kunci: nilai agama, budi pekerti, pendidikan anak usia dini. Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada fase ini, anak mengalami perkembangan pesat tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek sosial, emosional, moral, dan spiritual. Penanaman nilai agama dan budi pekerti sejak dini menjadi sangat penting karena anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, terutama guru dan orang tua (Anwar & Cholimah, 2. Oleh karena itu, pendidikan pada jenjang PAUD tidak seharusnya hanya Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 berorientasi pada pencapaian kemampuan akademik awal, melainkan juga harus menekankan pada pembentukan karakter yang kuat. Nilai agama dan budi pekerti merupakan komponen penting dalam pendidikan karakter anak usia dini. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai fondasi moral dan spiritual yang membimbing anak dalam bersikap dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial. Penelitian menunjukkan bahwa penanaman nilai agama dan moral melalui pembiasaan dan keteladanan guru dapat membentuk karakter anak secara efektif (Meilasari & Ichsan, 2. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari praktik pembelajaran sehari-hari di lembaga PAUD. Sejalan dengan itu. Kurikulum Merdeka hadir sebagai kebijakan pendidikan yang memberikan fleksibilitas kepada guru dan satuan pendidikan untuk merancang pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada peserta didik. Dalam konteks PAUD, kurikulum ini membuka ruang yang luas untuk mengintegrasikan nilai agama dan budi pekerti ke dalam berbagai aktivitas pembelajaran, baik melalui kegiatan rutin, pembiasaan, maupun pembelajaran berbasis pengalaman (Netri & Mursid, 2. Dengan demikian, penguatan karakter tidak hanya menjadi tujuan tambahan, tetapi menjadi bagian integral dari proses Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di PAUD berpotensi memperkuat penanaman nilai agama dan moral anak. Netri dan Mursid . menemukan bahwa Kurikulum Merdeka memungkinkan guru mengintegrasikan nilai agama dan moral dalam kegiatan pembelajaran harian melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama dengan orang tua. Temuan ini sejalan dengan Zahra dan Djamas . yang menyatakan bahwa kebijakan kurikulum PAUD, termasuk Kurikulum Merdeka, dapat mendukung penguatan nilai agama dan moral apabila diimplementasikan secara konsisten dan terencana. Selain itu, penguatan nilai agama dalam konteks Kurikulum Merdeka juga dikaitkan dengan upaya penanaman nilai moderasi beragama dan akhlak mulia sejak dini. Hidayati. Zaini, dan SyaAoroni . menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuat nilai-nilai religius dan moral anak usia dini melalui pembelajaran yang kontekstual dan partisipatif. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya mengenal nilai agama secara konseptual, tetapi juga membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, keberhasilan penanaman nilai agama dan budi pekerti sangat dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan guru. Anwar dan Cholimah . menunjukkan bahwa strategi yang efektif dalam menanamkan nilai agama dan moral pada anak usia dini meliputi pembiasaan, keteladanan, pemberian contoh konkret, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua. Temuan ini diperkuat oleh Meilasari dan Ichsan . yang menyatakan bahwa metode pembiasaan dan kegiatan rutin keagamaan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan sikap religius dan moral anak. Di sisi lain, kajian tentang kurikulum pendidikan agama Islam untuk anak usia dini juga menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang sistematis dan sesuai dengan tahap Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 perkembangan anak. Rahayu. Formen, dan Isdaryanti . menegaskan bahwa kurikulum pendidikan agama Islam di PAUD perlu dirancang secara integratif agar mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak secara seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan nilai agama dan budi pekerti tidak cukup hanya melalui kegiatan insidental, tetapi harus terintegrasi dalam keseluruhan proses pembelajaran. Meskipun berbagai penelitian tersebut menunjukkan pentingnya penanaman nilai agama dan budi pekerti pada anak usia dini, masih terdapat sejumlah celah penelitian. Sebagian besar studi lebih menekankan pada deskripsi praktik pembelajaran atau implementasi kurikulum secara umum, tetapi belum banyak yang mengkaji secara mendalam strategi konkret guru dalam mengintegrasikan nilai agama dan budi pekerti dalam kerangka Kurikulum Merdeka di satuan PAUD tertentu (Zahra & Djamas, 2023. Netri & Mursid. Padahal. Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk lebih kreatif, reflektif, dan adaptif dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter anak usia dini sangat dipengaruhi oleh sinergi antara sekolah dan keluarga. Anwar dan Cholimah . menegaskan bahwa tanpa adanya kesinambungan antara nilai yang diajarkan di sekolah dan yang dibiasakan di rumah, penanaman nilai agama dan moral pada anak tidak akan berjalan secara optimal. Oleh karena itu, strategi penguatan nilai agama dan budi pekerti perlu dirancang secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Dalam konteks pendidikan Islam, penguatan nilai agama dan budi pekerti sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang bagi pembentukan generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur. Nurjamilah . menyatakan bahwa implementasi pendidikan agama Islam pada anak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk perkembangan moral dan religius anak, terutama melalui pembelajaran yang bersifat aplikatif dan kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama pada PAUD tidak hanya berfungsi sebagai pengenalan konsep, tetapi juga sebagai sarana pembiasaan sikap dan perilaku. Berdasarkan observasi awal di KB Al-Muhajirin, terlihat bahwa lembaga ini telah berupaya mengintegrasikan nilai agama dan budi pekerti melalui berbagai kegiatan pembiasaan seperti doa harian, salam, hafalan surat pendek, serta pembiasaan perilaku sopan dan peduli. Namun, tantangan masih muncul dalam hal konsistensi pelaksanaan dan penyesuaian strategi pembelajaran dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Kondisi ini menguatkan temuan penelitian sebelumnya bahwa implementasi kurikulum dan strategi penanaman nilai sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru (Netri & Mursid. Hidayati et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai strategi penguatan nilai agama dan budi pekerti dalam pendidikan anak usia dini berbasis Kurikulum Merdeka. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi celah dalam literatur dengan memberikan gambaran empiris tentang bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi strategi penanaman nilai agama dan budi pekerti secara sistematis dan kontekstual di satuan PAUD. Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan kajian pendidikan Islam dan PAUD, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi guru dan pengelola lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter anak usia METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena strategi guru dalam menanamkan nilai agama dan budi pekerti pada anak usia dini dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menggali makna, proses, dan konteks secara alami melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian (Moleong, 2. Sementara itu, pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan faktual praktik pembelajaran serta pembiasaan yang terjadi di lapangan (Sugiyono, 2. Penelitian ini dilaksanakan di KB Al-Muhajirin. Kecamatan Mojoagung. Kabupaten Jombang. Jawa Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposif dengan pertimbangan bahwa lembaga tersebut secara konsisten mengembangkan pembelajaran berbasis nilai agama dan budi pekerti serta telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Subjek penelitian adalah guru kelompok B yang mengajar anak usia 3Ae4 tahun. Adapun informan utama dalam penelitian ini terdiri atas wali kelas dan guru pendamping, karena keduanya terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta memiliki pemahaman mendalam tentang perkembangan perilaku peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara non-partisipan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai aktivitas pembelajaran, interaksi guru dan anak, serta kegiatan pembiasaan yang mencerminkan penanaman nilai agama dan budi pekerti (Iskandar, 2. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada wali kelas dan guru pendamping untuk menggali informasi mengenai strategi yang digunakan, alasan pemilihan strategi, serta kendala dalam pelaksanaannya (Sugiyono, 2. Selain itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data, meliputi modul ajar, rencana pembelajaran, visi dan misi sekolah, serta foto kegiatan pembelajaran yang relevan dengan fokus penelitian (Sugiyono, 2. Keabsahan data dalam penelitian ini dijamin melalui teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari wali kelas dan guru pendamping, sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penggunaan triangulasi bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas data dan meminimalkan bias peneliti (Sugiyono, 2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Rijali, 2. Pada tahap kondensasi data, peneliti menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data disajikan Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 dalam bentuk uraian naratif dan pengelompokan tema agar mudah dipahami. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian hingga diperoleh temuan yang didukung oleh data yang konsisten dan dapat HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi guru dalam menanamkan nilai agama dan budi pekerti (NABP) pada anak usia 3Ae4 tahun di KB Al-Muhajirin serta implikasinya terhadap pembentukan karakter anak. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan wali kelas dan guru pendamping, serta dokumentasi kegiatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penanaman NABP dilaksanakan melalui tiga pendekatan utama, yaitu: . pembiasaan dan keteladanan, . kegiatan edukatif dan interaktif, serta . kerja sama dengan orang tua. Ketiga strategi tersebut saling melengkapi dan membentuk satu sistem pembinaan karakter yang terintegrasi. Pertama, strategi pembiasaan dan keteladanan menjadi fondasi utama dalam penanaman nilai agama dan budi pekerti di KB Al-Muhajirin. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru secara konsisten menampilkan perilaku yang dapat diteladani anak, mulai dari cara berpakaian yang sopan, tutur kata yang santun, hingga sikap sabar dan ramah dalam Pembiasaan dilakukan sejak anak datang ke sekolah hingga pulang, seperti mengucapkan salam, berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah pada tempatnya, serta berbagi dengan teman. Kegiatan ini tidak diajarkan secara instruksional semata, tetapi melalui praktik langsung yang diulang setiap hari sehingga menjadi rutinitas yang melekat pada diri anak. Wawancara dengan wali kelas menguatkan temuan ini bahwa penanaman NABP tidak hanya dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran inti, tetapi juga dalam seluruh rangkaian aktivitas harian anak, termasuk saat baris-berbaris, bermain, makan bersama, hingga kegiatan keagamaan seperti hafalan doa dan surat pendek. Guru juga memantau perkembangan setiap anak melalui indikator NABP yang kemudian dilaporkan kepada orang tua. Dengan demikian, pembiasaan dan keteladanan tidak hanya berfungsi sebagai strategi pedagogis, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol perkembangan karakter anak secara berkelanjutan. Kedua, strategi melalui kegiatan edukatif dan interaktif menunjukkan bahwa penanaman nilai agama dan budi pekerti diintegrasikan ke dalam kegiatan bermain sambil Guru merancang berbagai aktivitas yang bersifat tematik, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik anak usia 3Ae4 tahun. Kegiatan tersebut meliputi praktik ibadah sederhana . eperti wudhu dan sholat dhuh. , bercerita kisah nabi dan rasul, bernyanyi lagulagu religi, bermain peran, menyusun balok, finger painting, kolase, serta aktivitas sensorimotor lainnya. Hasil observasi memperlihatkan bahwa anak-anak terlibat aktif dalam kegiatan tersebut, menunjukkan antusiasme, rasa ingin tahu, serta keberanian bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan nilai agama. Guru menanggapi pertanyaan anak dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia, sehingga nilai-nilai yang disampaikan dapat dipahami secara Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 Penggunaan media visual seperti boneka, gambar, buku cerita bergambar, dan animasi juga terbukti membantu meningkatkan perhatian dan pemahaman anak terhadap pesan moral yang disampaikan. Selain itu, pengelolaan kelas dilakukan secara fleksibel namun tetap terarah. Anak diberi kesempatan memilih aktivitas, tetapi tetap dalam koridor aturan yang disepakati. Evaluasi perkembangan anak dilakukan melalui observasi harian yang mencakup aspek sosial, bahasa, motorik, dan sikap religius, kemudian dirangkum dalam laporan perkembangan yang disampaikan kepada orang tua setiap bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi edukatif dan interaktif tidak hanya berfungsi untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai dan pembentukan sikap. Ketiga, strategi kerja sama dengan orang tua merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam keberhasilan penanaman NABP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru membangun komunikasi yang intensif dan berkelanjutan dengan orang tua melalui buku penghubung harian, grup WhatsApp kelas, serta pertemuan rutin seperti rapat wali murid dan kegiatan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH). Melalui media tersebut, orang tua memperoleh informasi tentang perkembangan anak, kegiatan sekolah, serta arahan pembiasaan yang perlu dilanjutkan di rumah. Wawancara dengan guru mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan anak yang beragam menjadi salah satu tantangan utama dalam pembentukan Oleh karena itu, kerja sama dengan orang tua dipandang sebagai strategi untuk menyelaraskan pola asuh di rumah dengan pembelajaran di sekolah. Orang tua tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai mitra aktif dalam mendampingi anak mempraktikkan nilai-nilai agama dan budi pekerti di rumah. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak di KB Al-Muhajirin berlangsung secara holistik melalui integrasi antara pembiasaan, keteladanan, kegiatan edukatif-interaktif, dan kolaborasi dengan orang tua. Karakter yang tampak berkembang pada anak meliputi disiplin, kemandirian, kepedulian sosial, kesopanan, tanggung jawab, serta kesadaran beragama yang ditunjukkan melalui kebiasaan berdoa, berbagi, menolong teman, dan mengikuti kegiatan ibadah sederhana. Temuan ini menegaskan bahwa strategi guru tidak berjalan secara parsial, melainkan sebagai satu kesatuan sistem pendidikan karakter yang terencana dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penanaman nilai agama dan budi pekerti di KB Al-Muhajirin dilaksanakan melalui pendekatan yang komprehensif, yaitu pembiasaan dan keteladanan, kegiatan edukatif dan interaktif, serta kerja sama dengan orang tua. Temuan ini sejalan dengan berbagai kajian pendidikan anak usia dini yang menekankan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi melalui proses yang konsisten, kontekstual, dan melibatkan berbagai pihak (Safitri & Darsinah, 2023. Yuliariatiningsih. Strategi pembiasaan dan keteladanan terbukti menjadi inti dari proses internalisasi nilai. Anak usia dini berada pada fase imitasi, sehingga perilaku orang dewasa di sekitarnya, khususnya guru, menjadi model utama yang ditiru. Temuan penelitian ini menguatkan Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 pandangan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan sikap dan kebiasaan anak (Safitri & Darsinah, 2. Di KB Al-Muhajirin, guru tidak hanya mengajarkan nilai secara verbal, tetapi juga menampilkannya dalam tindakan sehari-hari, seperti bersikap sabar, menyapa anak dengan ramah, menjaga kebersihan, dan melaksanakan Melalui pengulangan yang konsisten, perilaku tersebut bertransformasi menjadi kebiasaan anak, yang pada akhirnya membentuk karakter dasar seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep pendidikan karakter yang menekankan pentingnya habituasi . sebagai sarana internalisasi nilai (Zubaedi, 2. Pembiasaan yang dilakukan di KB Al-MuhajirinAiseperti berdoa, mengucapkan salam, dan berbagiAimenunjukkan bahwa nilai moral dan religius tidak diajarkan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai praktik hidup sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti pada ranah kognitif, tetapi menjangkau ranah afektif dan perilaku anak. Strategi kegiatan edukatif dan interaktif memperkuat proses penanaman nilai dengan cara yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Prinsip bermain sambil belajar yang diterapkan guru selaras dengan teori pembelajaran anak usia dini yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, eksplorasi, dan keterlibatan aktif anak dalam proses belajar (Suyanto & Asep, 2. Melalui cerita teladan, permainan peran, bernyanyi, dan aktivitas kreatif, nilai agama dan budi pekerti disampaikan secara menyenangkan dan Temuan bahwa anak aktif bertanya dan terlibat dalam kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan interaktif tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan kesadaran moral sejak dini. Hal ini sejalan dengan penelitian Yuliariatiningsih . yang menyatakan bahwa metode bercerita, bermain peran, dan kegiatan kelompok efektif dalam menanamkan nilai agama dan moral pada anak usia dini. Dengan kata lain, strategi yang diterapkan di KB Al-Muhajirin memperlihatkan kesesuaian antara praktik di lapangan dan teori pedagogik modern. Selain itu, penggunaan media visual dan aktivitas sensorimotor juga berkontribusi pada penguatan nilai. Media seperti boneka, buku cerita bergambar, dan animasi membantu anak memahami pesan moral secara konkret. Hal ini mendukung pandangan bahwa anak usia dini belajar lebih efektif melalui stimulus visual dan pengalaman langsung dibandingkan penjelasan abstrak (Suyanto & Asep, 2. Dengan demikian, strategi edukatif-interaktif tidak hanya mendukung aspek kognitif, tetapi juga aspek sosial-emosional dan spiritual anak. Strategi kerja sama dengan orang tua menjadi dimensi penting dalam memastikan keberlanjutan penanaman nilai di luar lingkungan sekolah. Temuan penelitian ini menguatkan konsep kemitraan sekolah dan keluarga yang dikemukakan oleh Epstein . , bahwa keterlibatan orang tua merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan anak. Di KB Al-Muhajirin, komunikasi melalui buku penghubung, grup WhatsApp, dan kegiatan parenting seperti SOTH menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyelaraskan pendidikan di sekolah dan di rumah. Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 Kendala yang muncul akibat latar belakang keluarga dan lingkungan anak yang beragam juga menegaskan pentingnya kolaborasi ini. Tanpa dukungan orang tua, nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah berpotensi tidak berlanjut di rumah. Oleh karena itu, strategi guru yang melibatkan orang tua sebagai mitra aktif merupakan langkah yang tepat dan relevan dengan temuan penelitian sebelumnya (Yuliariatiningsih, 2020. Safitri & Darsinah. Dari sisi kontribusi ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian tentang pendidikan karakter anak usia dini, khususnya dalam konteks penanaman nilai agama dan budi pekerti di lembaga PAUD berbasis masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara pembiasaan, keteladanan, kegiatan edukatif-interaktif, dan kerja sama dengan orang tua dapat membentuk satu model praktik baik . est practic. dalam pendidikan karakter anak usia dini. Dari sisi implikasi praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi guru PAUD dan pengelola lembaga pendidikan anak usia dini dalam merancang program penanaman nilai yang holistik dan berkelanjutan. Strategi yang diterapkan di KB Al-Muhajirin menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak memerlukan pendekatan yang kaku, tetapi dapat diintegrasikan secara fleksibel dalam aktivitas sehari-hari anak. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada ruang lingkup yang masih terbatas pada satu lembaga, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati. Selain itu, penelitian ini lebih menekankan pada perspektif guru dan observasi peneliti, sehingga belum menggali secara mendalam perspektif anak dan orang tua secara langsung. Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan subjek dan menggunakan pendekatan mixed methods untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penguatan nilai agama dan budi pekerti pada anak usia 3Ae4 tahun di KB Al-Muhajirin telah dilaksanakan secara terencana dan konsisten melalui tiga strategi utama, yaitu pembiasaan dan keteladanan, kegiatan edukatif dan interaktif, serta kerja sama dengan orang tua. Strategi pembiasaan dan keteladanan terlihat efektif dalam membentuk perilaku religius dan sosial anak melalui rutinitas harian seperti mengucapkan salam, berdoa, menjaga kebersihan, berbagi dengan teman, serta meneladani sikap guru sebagai figur panutan. Sementara itu, kegiatan edukatif dan interaktif yang dikemas dalam bentuk bermain sambil belajar, bercerita, bernyanyi, dan bermain peran mampu meningkatkan partisipasi aktif anak serta mendukung perkembangan aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik secara terpadu. Kolaborasi antara guru dan orang tua juga terbukti memperkuat konsistensi penanaman nilai agama dan budi pekerti baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Secara metodologis, penggunaan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi memberikan gambaran yang komprehensif mengenai praktik nyata penanaman nilai agama dan budi pekerti di KB Al-Muhajirin. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada program pembelajaran formal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keteladanan guru, suasana belajar Vol 10-No 1-2026 ISSN Cetak : 2580-4286 ISSN Online : 2810-0026 yang kondusif, serta kesinambungan pola asuh di rumah. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian pendidikan anak usia dini, khususnya terkait implementasi Kurikulum Merdeka dalam penguatan karakter berbasis nilai agama dan budi pekerti, serta menegaskan pentingnya pendekatan yang holistik dan kolaboratif dalam pendidikan karakter sejak usia dini. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar guru terus meningkatkan konsistensi dalam menerapkan strategi pembiasaan dan keteladanan serta mengembangkan variasi kegiatan edukatif yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pihak sekolah juga perlu memperkuat program kemitraan dengan orang tua melalui komunikasi yang lebih intensif dan kegiatan parenting yang berkelanjutan agar penanaman nilai dapat berjalan selaras antara sekolah dan rumah. Selain itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan subjek yang lebih luas atau menggunakan pendekatan metode campuran . ixed method. agar diperoleh gambaran yang lebih mendalam dan komprehensif mengenai efektivitas penguatan nilai agama dan budi pekerti dalam konteks pendidikan anak usia dini berbasis Kurikulum Merdeka. REFERENSI .