SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 11 No. 1, 2023 P19-25 E-ISSN 2798-8678 Variasi Bahasa Interaksi Dalam Transaksi Jual Beli Pada Wilayah Pasar Pelabuhan Samarinda Kajian Sosiolinguistik Helki Agusti1. Rensiana Yudista2 . Ahmad Mubarok3 Program Studi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Mulawarman Jln. Ki Hajar Dewantara No. Samarinda, 75243. Indonesia helkymuhammad@gmail. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan ragam bahasa yang digunakan pada transaksi jual beli di wilayah Pelabuhan Samarinda. Serta memberikan gambaran terhadap penggunaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam interaksi jual beli nya. Secara teoritis hasil penelitian ini bertujuan untuk menambah wawasan kepada pembaca terkait dengan ragam bahasa apa saja yang ada di wilayah kota Samarinda, dalam kajian ilmu Sosiolinguistik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Metode ini gunakan untuk mendeskripsikan dan memaparkan hasil analisis penggunaan ragam bahasa pada transaksi jual beli di wilayah Pelabuhan Samarinda. Kata Kunci : Variasi Bahasa. Sosiolinguistik This study aims to determine the use of various languages used in buying and selling transactions in the Samarinda Port area. As well as providing an overview of the use of language used by the community in buying and selling interactions. Theoretically, the results of this study aim to add insight to readers regarding the various languages in the Samarinda city area, in the study of Sociolinguistics. This research is a type of qualitative research. The method used is descriptive method. This method is used to describe and present the results of an analysis of the use of various languages in buying and selling transactions in the Samarinda Port area. Keywords: Language Variation. Sociolinguistics M. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 PENDAHULUAN Orang-orang dalam masyarakat membutuhkan bahasa. Menurut Purnanto . 2: . Bahasa datang dalam banyak varian, tetapi di antara anggota komunitas bahasa Dapat berkomunikasi dan memahami satu sama lain karena mereka menggunakan bentuk bahasa yang relatif sama ketika berbicara. perbedaan bahasa suatu kelompok sosial tertentu berbeda dengan kelompok sosial Ada dua kemungkinan, pertama, antara kelompok sosial masih saling memahami dalam bahasa yang berbeda. kedua, mereka tidak mengerti satu sama lain. Jika realitas pertama terjadi, itu artinya mereka masih dalam komunitas bahasa yang Jika realitas kedua terjadi, kemudian mereka berada dalam komunitas tutur yang sama berbeda. Tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin dan jenis pekerjaan merupakan faktor penting yang mempengaruhi perbedaan sosiolinguistik. Bahasa yang digunakan oleh guru berbeda dengan yang digunakan oleh pekerja. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Guru lebih berpendidikan daripada seorang buruh. Interaksi sosial terjadi karena adanya kegiatan tuturan para anggota yang menggunakan bahasa tersebut. Pidato berhasil jika didukung oleh faktor-faktor yang menentukannya, misalnya faktor situasional. Bahasa ada karena adanya interaksi Ada bahasa tulisan yang tidak sedinamis bahasa lisan. Bahasa lisan tergantung pada interaksi sosial (Pateda, 1987: . Tanpa interaksi sosial, bahasa mati karena tidak ada aktivitas tutur dalam masyarakat. Dalam peristiwa jual beli tuturan mempunyai peran yang sangat penting yaitu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya masing-masing dari berbagai Pedagang dan pembeli sama-sama menggunakan bahasa dan gesture tubuh dalam berkomunikasi agar tercapainya suatu kesepakatan. Ragam bahasa adalah variasi bahasa berdasarkan pemakaian, menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, dan medium pembicaraan. Menurut Rokhman . ragam bahasa adalah perbedaan variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan topik yang sedang dibicarakan dan juga menurut media Pemilihan ragam bahasa harus mampu disesuaikan dengan tempatnya, seperti ragam bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah akan berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan dalam proses jual beli di ragam bahasa tidak terjadi begitu saja, melainkan ada faktor yang menyebabkan munculnya ragam bahasa tersebut. terjadinya ragam bahasa dapat dipengaruhi oleh faktor nonlinguistik. Faktor nonlinguistik tersebut yaitu faktor sosial dan faktor situasional. Pada faktor sosial, meliputi status sosial, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, usia, dan jenis kelamin. Sedangkan pada faktor situasional, meliputi siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, bagaiman, dimana, dan masalah apa yang dibicarakan. Pasar adalah tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai daerah, hubungan komunikasi yang terjadi antara penjual dan pembeli yang menimbulkan variasi bahasa yang beragam. Setiap wilayah baik itu kecamatan maupun lainnya, tentu memiliki tempat berkumpul dalam hubungan interaksi jual tentunya pada wilayah pelabuhan. wilayah ini merupakan salah satu kelurahan yang berada di kecamatan Samarinda kota, provinsi Kalimantan Timur. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan permasalahan yaitu bagaimana ragam bahasa lisan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda berdasarkan faktor apa yang mempengaruhi adanya ragam M. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 bahasa lisan tersebut. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk . mendeskripsikan ragam bahasa lisan penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda . mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi ragam bahasa lisan penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Oleh sebab itu data yang diperoleh berupa narasi dan deskripsi yang dituliskam dalam bentuk kalimat, dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan dan jenis penelitian ini dipilih sebab tujuan dari penelitian ini yaitu . mendeskripsikan ragam bahasa lisan penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda . mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi ragam bahasa lisan penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda. Pada penelitian ini diperoleh dari tiga alur yaitu pengumpulan data, analisis data, dan Penyimpulan data. Sumber data dalam penelitian ini ialah percakapan antara penjual dan pembeli pada saat melakukan transaksi jual beli yang mengandung ragam bahasa lisan. Dengan data penelitian berupa data verbal tuturan lisan penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar Pelabuhan Samarinda. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, teknik rekam. Tahapan pengumpulan data adalah sebagai berikut, . melakukan observasi secara langsung terhadap kondisi dan situasi transaksi di pasar Pelabuhan Samarinda . melakukan perekaman terhadap partisipan atau penjual dan pembeli yang sedang melakukan transaksi jual beli, . mentranskrip data yang telah diperoleh, . mengidentifikasi data yang telah terkumpul, . mengklasifikasi data sesuai dengan konteks dan instrumen penelitian, dan . menyimpulkan hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian ini menggambarkan apa yang dikatakan pembeli dan penjual di pasar Citra Niaga, kawasan Pelabuhan Samarinda dan faktor yang mempengaruhinya. Suara-suara yang dimaksud adalah suara-suara dari berbagai bahasa lisan didasarkan pada bahasa sosiolek. variasi bisa dengan pilihan kata atau kosa kata yang digunakan oleh penjual dan pembeli dalam transaksi. Kehadiran beberapa bahasa lisan di pasar Citra Niaga disebabkan oleh pembeli dan penjual adalah orang-orang dari berbagai daerah dan tidak ada bahasa yang mendominasi pasar Citra Niaga. Bahasa yang terdapat pada data yang telah dikumpulkan yaitu bahasa Jawa. Banjar dan Kutai. Analisis Variasi Bahasa Dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Citra Niaga Kota Samarida. Data 01 Konteks : tuturan penjual dan pembeli di toko busana tradisional dan modern. (Bahasa Jaw. Penjual : Jeroannya iku akeh lo buk. ( itu pakaian dalam tu banyak lo Buk. Pembeli : hmm? Penjual : kuwi regani mung satus ( itu harganya seratusan aj. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 Pembeli : merek opo pak haji? . erek apa pak haji?) Penjual : Al-Jannah Pembeli : Oh Al-Jannah Penjual : liyane sing lumrah, premium. Enggeh, paling mahal iku. ukan yang biasa, premium. iya, paling mahal itu. Pembeli : Iku gantungan kunci berapa kalo beli 10? (Itu gantungan kunci berapa kalo beli 10?) Penjual : iku satune regane 10 ribu. ( itu satunya harganya 10 ribu. Pembeli : kalo beli 10 kasih 150 ribu lah! . alo beli 10 kasih 150 ribu lah!) Penjual : kalo beli 10 ya 100 ribu ibu, kalo mau lebih yo ngga papa. alo beli 10 ya 100 ribu ibu, kalo mau lebih ya ngga papa. Pembeli : Oiya, lali aku. ( Oiya, lupa aku. Pada tuturan percakapan singkat tersebut menggunakan bahasa Jawa yang masih bercampur dengan bahasa Indonesia. Adanya kata AuPak HajiAy yang dituturkan oleh pembeli kepada penjual bukan karena kedua dua orang ini saling kenal, melainkan pembeli memberikan sapaan kepada penjual yang lebih tua darinya dan salah satu sebabnya juga penjual menggunakan peci di kepalanya. Data 02 Konteks : tuturan penjual dan pembeli di warung penjual makanan berat. (Bahasa Banja. Penjual : Handak nukar apa ikam, sayur kah? . au beli apa kamu, sayur Pembeli : Sayur asam adakah Cil? (Sayur asamnya ada Tan(Tant. ?) Penjual : Sayur asam habis nak ay, tinggal sayur singkong, santan manis sama sayur bening haja lagi. (Sayur asamnya udah habis nak, sisa sayur singkong, santan manis dan sayur bening saja yang ada. Pembeli : Santan manis, sayur bening? Sayur bening aja gin. antan manis, sayur bening? Sayur bening saja. Penjual : sayur bening haja? (Sayur bening aja?) Pembeli : Inggih cil (Iya Ta. Penjual : tinggal seporsi haja lagi ni (Sisa satu porsi aja lagi in. Pembeli : Pas aja Penjual : Apalagi nak Pembeli : Sambal goreng kadada kah cil? . ambal gorengnya nggak ada kah Tan?) Penjual : kadada lagi dah, ada tahu mau tahu? Enak tahunya tu kada asam. Tahu goreng empat lima ribu. ggak ada lagi dah, ada tahu itu, mau? Enak tahunya itu nggak asam. Tahu goreng, ambil empat butir harganya lima rib. Pembeli : Inggih kasih haja cil ay, paskan sepuluh ribu. ya masukan aja Tan, paskan sepuluh rib. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 Penjual : Handak sambel kah ikam? . au sambel kah kamu?) Pembeli : Sambel buat tahu itu kah? Penjual : Sambel masak, mau kah ikam? . ambel masak, mau kah kamu?) Pembeli : Kada usah gin cil. Kada kawa makanan padas cil ay. ggak usah aja Tan. Ngga bisa makan makanan pedas Tan. Penjual : ohh, ni lah sayur ikam . hh, ini sayurny. Pembeli : Makasilah cil (Terima kasih Tant. Penjual : inggih sama-sama . ya sama-sam. Pada percakapan singkat di atas, tuturan ini mengunakan bahasa Banjar yang masih tercampur dengan bahasa Indonesia. Adanya penggunaan kata Cil atau Acil yang artinya tante adalah salah satu ciri khas bahasa sapaan yang digunakan kebanyakan orang di kota Samarinda karena melihat suku Banjar menjadi salah satu yang paling banyak penduduknya di kota ini. Sama halnya seperti sebelumnya, kata Acil digunakan bukan sebab latar belakang dari pembeli dan penjual ini saling kenal, melainkan untuk menghormati penjual yang lebih tua dibandingkan dengan pembeli. Hal ini juga didukung oleh kata yang diucapkan oleh penjual yaitu AuNakAy kepada Data 03 Konteks : tuturan penjual dan pembeli di stand penjualan jam tangan. (Bahasa Kutai - Dialek Umu. Penjual : Sini hak dulu, awak ndak ncari jam kan. Telekki yang mana awak (Sini dulu, kamu mau cari jam kan. Lihatlah dulu, yang mana kamu mau. Pembeli : oh iya kaik, ndak nelekki dulu stumat. h iya kakek, mau lihat dulu Penjual : ni awak telekki, baikkan jamnya. Jam kanak muda memang modelan jaman minni. 300 ribu maha. (Ini coba kamu lihat, baguskan jamnya. Jam anak muda memang model jaman sekarang. Pembeli : baik leh, tapi kami ncari yang murah dulu haja kaik, yang 50an adakah? . agus ya, tapi kami lagi cari yang murah dulu kek, yang 50an adakah?) Penjual : ada ni, mun awak handak alak haja yang ni 50 haja. da ini, kalo kamu mau ambil aja yang ini 50 aja. Pembeli : iya kaik, aku alak yang ni haja. ya kek, aku ambil yang ini aj. Pada tuturan singkat di atas menggunakan bahasa Kutai dialek umum (Tenggaron. yang sudah tercampur dengan bahasa Indonesia. Pada percakapan ini adanya penggunaan kata kaik yang artinya kakek adalah salah satu sapaan yang kerap kali digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua . dan tak mengharuskan memiliki latar belakang saling mengenal satu sama lain. Data 04 Konteks : tuturan penjual dan pembeli di stand penjualan minuman. (Bahasa Kutai - Dialek Punan. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 Pembeli : Ni brepaan esnya, sama gelakah atau ade ye bede? . ni berapaan esnya, sama semua kah atau ada yang beda?) Penjual : Ade ye 5 ribuan dengan 10 ribuan. Ye tehalus 5 ribu ye pore 10 ribu. da yang 5 ribuan ada yang 10 ribuan. Pembeli : Oh mia yo, bede tempatnya maha yo. (Oh gitu ya, beda tempatnya aja ya. Penjual : Au, ye mana kita handek. ya, yang mana kamu mau. Kubikinkan. Pembeli : rasa stoberi buting, rasa coklat buting. Alakkan ye pore gela. asa stoberi satu, rasa coklat satu. Ambil yang besar semua. Penjual : oke, total 20 ribu. Pembeli : ni pitisnya. (Ini uangnya. Pada tuturan singkat di atas mengunakan bahasa Kutai dialek punang (Kota Bangu. Pada tuturan tersebut merupakan bahasa murni yang dituturkan pembeli dan penjual. Adanya penggunaan kata AukitaAy dapat diartikan bahwa pembeli lebih tua dibandingkan dengan penjual. Dalam bahasa dialek Punang, adanya kata-kata tertentu yang digunakan untuk berinteraksi baik lebih tua, sesama maupun lebih Kata AuKitaAy biasanya digunakan untuk menghormati yang lebih tua. Kata AuKulaAy biasanya digunakan untuk sesama atau sebaya. Kata AuKauAy digunakan untuk berinteraksi dengan orang yang lebih muda. Faktor yang Mempengaruhi Variasi Bahasa Lisan Faktor Usia Usia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi variasi bahasa dalam Terlihat pada data keempat yang menunjukkan adanya perbedaan kosakata yang digunakan dengan menyesuaikan pada usia pembeli maupun penjual. Hal ini tentu saja menyebabkan variasi bahasa berpengaruh luas sosial di masyarakat. Latar Belakang Geografis Latar belakang geografis sangat berpengaruh pada variasi bahasa karena setiap masyarakat dari letak geografis yang berbeda memiliki bahasa yang berbeda Seperti pada keempat data di atas yang menunjukkan adanya beberapa bahasa pada satu kawasan pasar atau transaksi jual beli, karena adanya beberapa penduduk daerah yang bermigrasi dari tempat satu ke tempat yang lain. Faktor Gender Gender juga mempengaruhi ragam bahasa sehari-hari yang muncul di pasar Citra Niaga. Dalam percakapan antara pembeli dan penjual dalam suatu transaksi, penjual laki-laki cenderung hanya angkat bicara saat dibutuhkan. Pada saat yang sama, jika penjualnya adalah seorang ibu-ibu maka ia berbicara lebih lancar, merespon pembeli dengan lebih baik, dan mengikuti bahasa pembeli. Menurut Wibowo . , keragaman bahasa berbasis gender atau gender muncul karena bahasa merupakan fenomena sosial yang erat kaitannya dengan sikap sosial, dan perempuan biasanya lebih mengetahui apa yang harusnya dibicarakan dibandingkan dengan laki-laki ketika menggunakan bahasa. Faktor Waktu M. Helki Agusti (VariasiA) Volume 11 No. 1, 2023 Variasi bahasa terjadi karena faktor situasi bahasa. Misalnya dalam suasana formal, bahasa yang digunakan akan formal dan santun. Hal-hal berbeda ketika bahasa digunakan dalam suasana informal, seperti ketika berbicara dengan teman sebaya atau sekelompok teman. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari, namun tidak menutup kemungkinan bahasa yang digunakan adalah bahasa yang hanya dimengerti oleh kelompok ini saja. KESIMPULAN Dalam hubungan interaksi sehari-hari terutama pada kegiatan transaksi jual beli, tidak dapat lepas dari adanya ragam bahasa, dan dialek yang berbeda. Suatu wilayah kota dengan penduduk yang beragam, tentunya menghasilkan dialek bahasa yang bevariasi, salah satunya di kota Samarinda khususnya wilayah Citra Niaga mayoritas bahasa yang digunakan dalam tranksaksi jual beli adalah. bahasa jawa, . bahasa banjar,. bahasa kutai . ialek umum dan dialek punan. Adapun faktor yang mempengaruhi adanya ragam bahasa yaitu. faktor usia . latar belakang geografis . faktor gender . dan faktor waktu. DAFTAR RUJUKAN Anggun. AuSistem Fonologi Bahasa BanjarAy. 11/sistem-fonologi html?m=1 . iakses 27 Februari Fauziah. Faktor Sosiokultural dalam PemakaianBahasa. Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 1. , 154-174. Handani. Zuleva Trio. Ragam Bahasa Lisan Penjual dan Pembeli Dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Dampit. Kabupaten Malang : Kajian Sosiolinguistik. UNISMA : Malang. Hudson. Sociolinguistics. Cambridge: CambridgeUniversity Press. Kartomihardjo. Bahasa Cermin Budaya dan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud. Kridalaksana. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Lubis. Ilham Sahdi, dkk. Variasi Bahasa Sapaan Jual Beli Pedagang Pasar Sangumpal Bonang Padangsidimpuan Kajian Sosiolinguistik. Jurnal Education and Development. Vol. 10 No. 3 : Tapanuli. Putri. Zulaikha Okta . Pemakaian Variasi Bahasa Dalam Masyarakat. Universitas Sebelas Maret : Surakarta. Rokhmansyah. Purwanti. Ainin. Pelanggaran Maksim pada Tuturan Remaja Perempuan Yatim: Kajian Psikopragmatik. JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi. , 4. ,47-52. http://dx. org/10. 26737/jpbsi. 887Safitri. Setiawati. Rias Dwi. Variasi Bahasa Dalam Situasi Tidak Formal Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Tadulako. Jurnal Bahasa dan Sastra. Volume 4 No 1 : Palu. Sudaryanto. ( 2. Metode dan Teknik Analisis Bahasa: Pengantar http://anggunds. com/2012/