Jurnal Studi Pemuda Volume 14 Nomor 2 tahun 2025 [Tinjauan Buk. Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi. Budaya, dan Generasi Sosial Annisa Dewi Maharani & Ina Yosia Wijaya Universitas Gadjah Mada 22919002@students. Submitted: 5 June 2026. Accepted: 6 June 2026 Judul Buku : Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi. Budaya, dan Generasi Sosial Penulis : Oki Rahadianto Sutopo & Elok Santi Jessica Penerbit : Gadjah Mada University Press Tahun : 2025 ISBN : 978-623-359-592-6 PENDAHULUAN Buku AuTransisi Budaya dan Generasi SosialAy yang ditulis oleh Oki Rahadianto Sutopo dan Elok Santi Jessica, secara umum membahas tiga hal. Pertama, buku ini mendiskusikan term kaum muda sesuai dengan definisi Bourdieu yang dianggap elusif. Sifat elusif berarti makna yang diasosiasikan pada kaum muda akan sukar dipahami karena masifnya kompleksitas yang dihadapi kaum muda sebagai akibat dari perubahan sosial. Kedua, melihat fakta tersebut, akan berusaha untuk memberi penjelasan dan memetakan keragaman perspektif untuk membahas kajian kepemudaan. Ketiga, melalui buku ini diperkenalkan tiga perspektif yang dianggap oleh penulis buku penting dikaji lebih Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda lanjut, yaitu perspektif transisi, budaya, dan generasi sosial. PEMBAHASAN Penulisan buku ini dimulai dengan membahas perspektif transisi yang ada di bab kedua dengan tajuk. AuPerspektif Transisi. Ay Penulis mengidentifikasi bahwa perspektif transisi dimulai oleh kajian yang ditulis oleh Furlong . Tulisan Furlong . membedakan cara mendiskusikan transisi menjadi dua, yaitu life cycle dan life course. Life cycle, melihat transisi kaum muda secara positivistik dan cenderung netral sehingga menjauhkan perspektif transisi dari konteks Annisa Dewi Maharani & Ina Yosia Wijaya sosio-kultural historis. Sedangkan, life course, di sisi lain melihat transisi merupakan proses yang terjadi dalam konteks ruang dan waktu sehingga kaum muda harus bernegosiasi dengan struktur yang ada di sekitar mereka. Meskipun kedua elemen tersebut cenderung berbeda, tetapi keduanya berada dalam cara berpikir yang sama yakni bahwa transisi kaum muda berlangsung secara linear dari satu masa ke masa yang lain. Seiring pengetahuan, variasi opsi untuk melihat transisi Furlong . dan Nilan dkk . contohnya, melihat bahwa transisi yang berlangsung ternyata tidak selamanya bisa berjalan linear sehingga selanjutnya memunculkan perdebatan antar transisi nonlinear kaum muda antara struktur dengan Konsep agensi, selanjutnya dibedakan menjadi tiga: deterministik, voluntaristik, dan Dalam mengulas mengenai konsep agensi, penulis buku juga melakukan eksplorasi pada studi lain mengenai agensi, misalnya Evans . dan du Bois-Reymond . Kedua referensi yang disebutkan penulis buku, membantu menggarisbawahi realita bahwa konsep mengenai agensi dibutuhkan oleh kaum muda supaya tidak terjebak dalam struktur dan risiko. Lebih lanjut, penulis kemudian mengeksplorasi studi dari Beck . yang banyak merenungkan mengenai keberadaan Studi oleh Beck . menekankan bahwa kaum muda terus mengalami risiko yang tidak hanya berhubungan dengan alam, tetapi terus mengalami transformasi sehingga membentuk struktur baru yang kemudian disebut sebagai individualisasi. Individualisasi diterjemahkan sebagai sebuah bentuk agensi kaum muda untuk mempertahankan diri atau perjuangan ketika berhadapan dengan risiko. Pada kondisi ini, natur kaum muda sebagai manusia adalah mengumpulkan kapital yang tentunya secara lebih lanjut dielaborasi tidak hanya berupa uang. Penulis buku melihat bahwa kapital merupakan hasil investasi tenaga, waktu, dan energi yang kemudian mampu berfungsi sebagai modal sosial dan keseluruhan aspek kehidupan. Maka, dapat ditemukan bahwa argumentasi bahwa transisi bersifat nonlinear bisa jadi lebih masuk akal karena dengan variasi risiko yang dihadapi kaum muda dan juga mengonsiderasi keragaman kapital dalam perjuangan bertahan. Masih dalam bab yang sama, penulis buku kemudian mengontemplasikan faktor lain yang berpengaruh pada subjektivitas mengenai Penulis buku mempertimbangkan praktik pengendalian subjektivitas kaum muda melalui negara yang direfleksikan melalui konsep Governmentality milik Foucault. Secara singkat, penulis buku menjelaskan bahwa governmentality merupakan usaha negara untuk mengendalikan dan mengawasi subjektivitas terhadap sebuah diskursus melalui Institusi yang dimaksud oleh Foucault, tidak selalu dalam rupa organisasi, tetapi bisa jadi berbentuk pengetahuan yang diinternalisasi melalui beragam praktik. Maka, penulis buku melihat bahwa ada diferensiasi diskursus mengenai kaum muda. AubaikAy dan Au jahat. Ay Dengan selanjutnya menjadi wajar apabila negara AumengendalikanAy. Namun, penulis juga melihat pada fakta bahawa praktik diferensiasi ini terjadi tidak hanya pada term AubaikAy dan Au jahatAy, tetapi juga pada perbedaan posisi antara AudewasaAy dan Aukaum mudaAy yang selanjutnya berpengaruh pada praktik prekariatisasi. Perbedaan kedua term ini tentunya berpengaruh pada dunia kerja yang meletakkan kaum muda sebagai innocent. Adanya diferensiasi antara AudewasaAy dan Aukaum mudaAy inilah yang selanjutnya mampu melanggengkan budaya prekariatisasi pada kaum muda karena dianggap masih rentan dan tidak memiliki perlindungan diri ketika dihadapkan pada misalnya kondisi-kondisi yang seharusnya membutuhkan mereka mengambil Akibatnya, kaum muda sering terjebak sebagai buruh berupah rendah. Pada Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi. Budaya, dan Generasi Sosial menguraikan evolusi diskursus budaya kaum muda, dimulai dari perspektif Chicago School yang mengenalkan konsep deviance. Dikutip dari Williams . , fenomena ini dipahami sebagai upaya kaum muda dalam mengonfrontasi pelabelan diskriminatif yang menyudutkan mereka sebagai kelompok menyimpang karena dinilai melanggar norma sosial. Para akademisi membantah asumsi bahwa perilaku tersebut berakar pada patologi psikologis individu, melainkan mereka memandangnya sebagai respons terhadap tekanan struktur sosial. Perdebatan teoretis muncul ketika Merton . menginterpretasikan resistensi ini sebagai upaya pemenuhan identitas pribadi, sementara Cohen . melihatnya sebagai aksi kolektif dari mereka yang diberi label sebagai outsider. Kelompok ini kemudian mengonstruksi tatanan nilai yang berbeda dari konsensus sosial Pemikiran Birmingham School oleh Brake . yang menjelaskan fenomena tahun 70-an sebagai bentuk perlawanan kelas. Dalam hierarki sosial, kaum muda kerap diposisikan inferior karena statusnya sebagai bagian dari kelas pekerja yang harus bernegosiasi dengan institusi dominan pemegang otoritas. Partisipasi dalam subkultur menjadi instrumen resistensi terhadap hegemoni tersebut. Namun. Clarke . mengkritik dengan menyebut strategi ini sekadar perlawanan simbolik yang gagal Memasuki 90-an, resistensi mengalami pergeseran menuju budaya konsumerisme yang dikaji oleh Manchester School. Redhead . melihat bahwa masa muda tidak lagi didefinisikan sebagai masa perlawanan, melainkan konsumsi produk budaya populer dan adopsi gaya hidup hedonistik melalui club culture. Konsep subcultural capital oleh Thornton . menjadi relevan di mana strata sosial tidak lagi didikte oleh kepemilikan modal ekonomi, melainkan oleh penguasaan terhadap tren budaya yang Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda membentuk identitas kolektif. Dalam era modernitas lanjut, identitas kaum muda menjadi lebih dinamis, yang kemudian dipahami melalui konsep lifestyle dan neo-tribes. Fenomena ini melahirkan kesadaran komunitas di mana individu mencari ruang untuk berbagi pengalaman yang sama, sebagaimana tercermin dalam konsep scene, yakni sebuah ruang interaksi sosial berbasis minat artistik yang Di era digital, konektivitas internet mentransformasi kesadaran komunitas tersebut melampaui batas-batas geografis. Melalui virtual scenes, contohnya, kaum muda mengonstruksi multi identitas yang memfasilitasi ekspresi diri lebih masif. Namun, intensitas interaksi digital ini memicu problematika representasi. Penulis menyoroti bagaimana budaya kaum muda kerap dimaknai ulang oleh media tanpa dikatakan representasi bergantung pada agenda politik pihak yang mengonstruksi. Hal ini berdampak pada bagaimana kita memahami citra kaum muda di ruang publik. Studi kasus dari Mazarella . mengenai representasi perempuan muda di media Amerika . menunjukkan bagaimana narasi mengenai krisis citra diri justru mereduksi identitas mereka menjadi sekadar Aomasalah sosialAo. Bagi kaum muda, labeling serupa pada representasi media melanggengkan stigma kolektif bahwa mereka adalah kelompok yang bermasalah. Lebih jauh lagi, terdapat anggapan bahwa kaum muda bersikap apatis terhadap Penulis berargumen bahwa pelabelan ini jika terus diinternalisasi dapat memadamkan gejolak kaum muda untuk merekonstruksi narasi atas mereka sendiri. Faktanya, muncul upaya untuk memproduksi representasi politik melalui medium non-konvensional, seperti penggunaan stand-up comedy sebagai instrumen kritik sosial berbalut komedi. Melalui ruang ini, kaum muda mampu membangun kesadaran kritis dan solidaritas tanpa harus terlibat langsung dalam politik formal. Bab ini ditutup dengan konklusi bahwa budaya kaum muda bukan sekadar Annisa Dewi Maharani & Ina Yosia Wijaya pemaknaan identitas, melainkan juga upaya memperebutkan narasi. Bab keempat dalam buku ini mengupas mengenai perspektif generasi sosial melalui empat cara. Pertama, penulis buku mengupas Manheim Manheim merupakan salah satu pendiri pemikiran bahwa antara pengetahuan dan sosial memiliki keterikatan di suatu titik tertentu. Hal ini didasari pada fakta bahwa Manheim merupakan salah satu korban pengusiran Nazi sehingga pemikirannya cukup kritis terhadap tradisi pemikiran yang positivis dan yang meromantisasi historis. Apabila disimpulkan, pemikiran Manheim melihat bahwa generation as actuality yang didasari pada tiga aspek: location, actuality, dan unit. Kedua, penulis buku beralih pada studi Bourdieu. Pemikiran Bordieu terharap keberadaan generasi sosial, secara singkat diekspresikan melalui frasa youth is just a word dalam salah satu karyanya di tahun Frasa ini merupakan penyederhanaan dari makna kompleks di balik adanya perjuangan tiap subjeknya. Maka, bagi Bourdieu baik tua maupun muda yang dilihat dari indikator usia, alih-alih berfungsi sebagai data objektif, tetapi menjadi bagian dari konstruksi sosial. Selanjutnya, ketiga, penulis mencoba melihat perspektif generasi sosial yang ada dalam studi kepemudaan. Bagian ini kemudian dibagi lagi menjadi beberapa bagian untuk pengetahuan yang ada dalam lingkup kajian kepemudaan dari perspektif generasi sosial. Ada dua sub-bagian untuk menjelaskan hal ini. Sub-bagian pertama mengumpulkan subjektivitas, dan perubahan sosial. Mengutip dari karya Wyn dan Dwyer di tahun 90-an. Wyn dan Woodman . melakukan penelitian terhadap anak lulus SMA di generasi X dan generasi Y secara berkala selama kurang lebih 20 tahun di Australia. Penelitian ini pada dasarnya merupakan studi untuk memahami kaum muda secara lebih lanjut dengan mempertimbangkan tantangan yang dihadapi pada tiap generasinya. Selaras dengan studi tersebut, studi lain yang dilakukan oleh Wyn dan Woodman . 6, 2. mengungkapkan bahwa pada dasarnya setiap generasi menghadapi perubahan konteks sosial sehingga tiap generasi memegang peranan penting. Pada studi-studi ini. Wyn dan Woodman menekankan bahwa ada urgensi peran negara untuk bisa mengawal kebijakan yang lebih ramah pada perkembangan kaum Sub-bagian kedua, berusaha untuk mengumpulkan kritik yang muncul terhadap perspektif generasi sosial. Setidaknya ada beberapa tokoh yang dikutip dalam sub-bagian ini, misalnya Ken Roberts . dan Alan France dan Steven Roberts . Roberts . melakukan kritik terhadap pandangan linearitas dan memberi pembelaan terhadap pentingnya perspektif transisi dalam melihat konstruksi sosial. Kritik ini menekankan pada pentingnya perspektif generasi sosial dan perspektif transisi secara bersamaan dan sekaligus menekankan bahwa keduanya tidak butuh saling menggantikan satu sama lain. Selanjutnya. France dan Roberts . , dengan orientasi neo-marxis, berpendapat alih-alih memberikan perhatian pada dimensi reproduksi sosial, lebih memiliki kecenderungan untuk mengutamakan dimensi perubahan. Bagi titik utama untuk memahami bagaimana subjektivitas kaum muda terbentuk, melainkan, kelas sosial seharusnya bisa menjadi alat yang lebih tajam. Hal ini dikarenakan pandangan mereka terhadap adanya tekanan pasar dan kebijakan pemerintah yang membentuk formasi subjektivitas kaum mudaterhadap dirinya sendiri dan masa depan. Namun, pada akhir sub-bagian kedua, disebutkan bahwa ada pembelaan dari Woodman dan Wyn . , bahwa perspektif generasi sosial, tidak berusaha meminggirkan pentingnya analisis pada kelas sosial seperti yang dibayangkan oleh France dan Roberts . Alih-alih, perspektif generasi sosial ini merekognisi adanya interseksi pada Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi. Budaya, dan Generasi Sosial elemen-elemen seperti kelas, gender, ras, dan lain-lain yang mampu menjelaskan kesenjangan sosial secara lebih komprehensif. Terakhir, mengontekstualisasikan dengan kondisi sosialpolitik Indonesia, perspektif generasi sosial dilihat sebagai bagian dari kritik terhadap linearitas dalam perspektif transisi. Hal ini dilihat penting oleh penulis buku karena dalam konteks Indonesia, kaum muda sangat dekat dan bahkan diasosiasikan sebagai subjek Kondisi tersebut tergambar pada adanya pergeseran diksi dari kaum muda menjadi remaja pada era Orde Baru yang diasumsikan bertujuan untuk membentuk pasar. Dalam pentingnya peran media untuk melestarikan dan membentuk diskursus mengenai hal Namun, penulis juga melihat pentingnya peran media sebagai penanda isu generasional yang mampu menunjukkan perjuangan kaum mudayang sedang berlangsung melalui leluconlelucon yang muncul dan pola komunikasi yang ada. Kondisi ini yang selanjutnya dilihat memunculkan sense of togetherness yang memunculkan koneksi antara kaum muda sekarang, yang memang merupakan digital Oleh karena itu, pada akhir bab ini digarisbawahi mengenai peran media di jaman sekarang yang mampu menangkap setidaknya perjuangan kaum muda secara real-time. Bab mengelaborasi diskursus mengenai alternatif bagi pengembangan studi kepemudaan di masa depan yang berpijak pada tiga konsep: transisi, budaya kaum muda, dan generasi sosial. Penulis berargumen bahwa perdebatan antara paradigma subkultur dan pasca subkultur perlu Perspektif subkultur dinilai terlalu deterministik karena mereduksi manifestasi kultural pemuda sebagai aksi resistensi yang berakar pada posisi kelas ekonomi semata sekaligus mengabaikan identitas seperti gender dan etnis. Di sisi lain, meski pasca subkultur menawarkan fluiditas agensi dalam negosiasi identitas tanpa motif perlawanan, perspektif Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda ini kerap dikritik karena abai terhadap isu kesenjangan sosial dan terlalu berorientasi pada gaya hidup kelas menengah yang konsumtif. Hodkinson . menawarkan proposisi untuk menempatkan kolektivitas pemuda bukan sebagai entitas otonom, melainkan sebagai unit analisis yang terintegrasi dengan aspek yang lebih luas, seperti relasi dengan institusi keluarga, sistem pendidikan, dan pasar kerja. Pada menawarkan penyatuan antara perspektif transisi dan perspektif budaya yang secara historis lahir dari kondisi yang berbeda. Perspektif transisi, yang mengakar pada krisis ketenagakerjaan tahun 70-80an, cenderung mengadopsi metodologi kuantitatif longitudinal untuk memetakan hambatan struktural secara Sebaliknya, perspektif budaya lebih menitikberatkan pada metode etnografis mikro guna melihat subjektivitas dan ekspresi simbolik Kurangnya dialog antara keduanya sering kali menjebak studi kepemudaan dalam false binary yang menciptakan pandangan tidak Furlong. Woodman, dan Wyn . mengusulkan perspektif generasi sosial guna menjembatani ketidakseimbangan tersebut yang dapat menyelaraskan dimensi objektifstruktural dengan subjektif-kultural secara Meski demikian, implementasi metode ini memerlukan sumber daya finansial dan komitmen yang besar, serta rentan terhadap risiko generationalism yang kerap dijadikan justifikasi kebijakan kepemudaan. Selanjutnya, penulis mengintegrasikan unsur sosiologi kosmopolitan melalui konsep generasi global. Fenomena ini muncul karena berkembangnya teknologi informasi dan mobilitas transnasional yang memfasilitasi konektivitas pengalaman lintas batas, termasuk memori traumatis. Meski demikian, respons dan konflik terhadap pengalaman tersebut tidak dapat diseragamkan. Edmunds dan Turner . mengungkapkan bahwa terdapat konflik internal antar-generational unit yang dipengaruhi oleh dimensi geografis, gender, agama, dan identitas etnis. Contohnya, dalam Annisa Dewi Maharani & Ina Yosia Wijaya konteks kontemporer, kondisi ketidakamanan global memicu polarisasi antara kelompok generation less yang mengupayakan redistribusi kesejahteraan dan generation more yang lebih defensif demi mempertahankan hak istimewa Dinamika ini dapat memicu potensi konflik antarfaksi global. Sebagai konklusi, penulis menyuarakan urgensi dekolonisasi pengetahuan melalui dialog global yang lebih inklusif. Mengingat mayoritas teori dominan lahir dari konteks sosio-historis Global North, studi kepemudaan yang meminggirkan realitas Global South. Swartz dkk. menegaskan pentingnya menginkorporasikan diversitas pengalaman pemuda di negara berkembang yang masih memiliki keterikatan kuat dengan struktur tradisional seperti kasta dan agama. Melalui pendekatan komparatif dan dialogis, diharapkan muncul narasi-narasi baru yang memosisikan pengalaman pemuda Global South secara setara dalam diskursus global sehingga tercipta pengetahuan yang lebih kontekstual. KOMENTAR Membaca buku ini menjadi pengalaman yang menarik karena ketersediaan referensi literatur yang melimpah sehingga bila tertarik membaca mengenai asal argumen penulis, pembaca dapat langsung merujuk ke referensi yang tersedia. Namun di sisi lain, ketersediaan literatur ini juga sedikit berpengaruh pada referensi meski apabila menilai secara penulisan, buku ini ditulis dengan sangat Pemaparan substansi, mulai dari ragam transisi budaya kaum muda, cara pandang budaya kaum muda, perspektif generasi sosial oleh akademisi, hingga rekomendasi beradaptasi dengan budaya kaum muda seiring berjalannya perkembangan global, ditulis secara sistematis dan menjadikan buku ini padat pengetahuan. Selain itu, koherensi antar bab yang ada dalam buku ini juga sangat berpengaruh pada pengalaman membaca yang memudahkan pembaca untuk mencermati tujuan penulis mengikutsertakan bab tersebut ke dalam Mengingat kompleksitas pengetahuan yang buku ini sertakan, dapat dikatakan bahwa buku ini dirasa dapat menyerupai almanak mengenai studi kepemudaan yang sudah lebih baru dengan mencakup isu lebih terkini. Meski buku ini cukup berhasil dalam menjahit benang merah dari setiap bab, tetapi masih terdapat beberapa aspek yang dapat menjadi catatan. Contohnya dari segi tata bahasa, buku ini dikemas dengan tulisan yang rapi, tetapi pembaca juga perlu cermat terhadap penggunaan kata serapan yang diselipkan oleh penulis, sebab bagi pembaca yang kurang istilah-istilah mungkin akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk memahami esensi dari tulisan ini. KESIMPULAN Buku ini dapat menjadi panduan bagi para peneliti yang baru menekuni isu kepemudaan dikarenakan banyaknya referensi literatur yang tersedia. Misalnya, dari mulai bab keduanya yang sudah secara komprehensif menjelaskan perbedaan sudut pandang yang ada mengenai kajian yang ada di perspektif transisi dan diakhiri dengan diskusi mengenai alternatif pendekatan studi kepemudaan yang bisa dilakukan peneliti studi serupa di masa Di lain sisi, buku ini juga mempunyai materi yang disertakan dalam buku sehingga membuat beberapa bagian terasa berat ataupun penggunaan bahasa yang kompleks. Meski demikian, hal-hal tersebut tidak membuat buku ini menjadi kurang menarik untuk diteruskan Jurnal Studi Pemuda 14. , 2025 id/jurnalpemuda