Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta Kania Rahmatul Ulum1. Endang Caturwati2, dan Enok Wartika3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 kaniarahma212@gmail. com, 2Endang. caturwati@gmail. com, 3enok_wartika@yahoo. ABSTRACT The focus of this study is on the transformation of Genye art as an icon of Purwakarta Regency. The study has been conducted starting from the formation of genye art to the process of changing appearances at various events, namely from 2009 to 2021 at this time. The Transformation theory of Anthony Antoniades . is used to examine the process of changes occuring in genye art gradually regarding the performances in the context of its society as well as internally from the aesthetics sides. Qualitative data are collected by observation both through interviews and documents including performance photos, videos, and other visual objects. The results of the analysis show that the art of genye experienced dynamic changes from the aesthetics elements associated with music, dance, and artistic. Its existence as an icon of a region shows the communityAos identity for their concern and taste for art. Keywords: genye art, transformation, icon. Purwakarta. yang kurang cocok diperbaiki, dan yang tidak cocok diganti. Pada sisi yang lain, menurut Anthony Antoniades . Tranformasi adalah sebuah proses perubahan secara bengangsur-angsur sehingga mencapai ultimate. Perubahan itu dilakukan dengan cara pemberian respon secara eksternal maupun internal, yakni sesuai dengan konteks yang menjadi bagian dari objek yang sedang dikaji. Kesenian Genye merupakan bentuk kesenian Helaran atau dalam kamus Basa Sunda R. Satjadibrata . 0: . disebut, ngarak, arak-arakan: iring-iringan. Dari ketiga kata-kata tersebut digabung menjadi satu kesatuan, yang lebih popular di kalangan masyarakat Purwakarta dengan sebutan Helaran. Kesenian Helaran Genye secara PENDAHULUAN Latar Belakang Istilah Transformasi menurut KBBI diartikan sebagai perubahan bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya dapat juga diartikan pula sebagai perubahan struktur gramatikal menjadi stuktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi atau menata kembali unsur unsurnya http://kbbi. id/transformasi. Pada tataran secara spesifik kaitanya dengan budaya. Umar Tirtarahardja dan L Lasulo . 5: . menjelaskan bahwa transformasi dapat diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lain. Dijelaskan pula dalam tiga bentuk transformasi yakni meliputi: Nilainilai yang masih cocok diteruskan, nilai Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 proporsi terdiri atas penari perempuan, dan penari laki-laki. Penari perempuan berperan sebagai rakyat Genye yang membawa properti sapu Nyere, sedangkan penari laki-laki selain berperan sebagai pembawa properti, dalam pertunjukannya kesenian Genye didukung oleh musik iringan atau tetabuhan alat musik yang terdiri atas instrumen diatonis dan pentatonis di antaranya, kendang, tarompet, bedug, kenong, kecrek, terebangan, gitar, bass, perkusi, serta vokal dari suara perempuan atau Sinden. Lagu-lagu yang digunakan pada umumnya mengambil dari lagulagu tradisional dan lagu-lagu kekinian yang berkembang dan sangat komunikatif di masyarakat di antaranya, seperti lagu Siuh. Mobil Butut. Tumila Diadu Boksen, lagu syantik (Dangdu. , kopi dangdut (Kopl. Selain lagu-lagu tradisional dan lagu kekinian dangdut terdapat lagu yang menunjukan identitas daerah Purwakarta mengangkat dari kuliner khas Purwakarta yaitu lagu Sate Maranggi. Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu bagian dari Provinsi Jawa Barat yang tidak begitu banyak memiliki kesenian Berbeda dengan kabupatenkabupaten lainnya seperti Kabupaten Sumedang. Garut. Tasik. Cirebon. Subang dan yang lainnya, kota-kota tersebut pada umumnya memiliki ciri khas kesenian Pelestarian merupakan hal yang penting dalam mempertahankan kesenian tradisi, dianggap penting karena kesenian akan mengalami transformasi (M. Sofian, 2015: . Adapun Kesenian Genye yang menjadi objek penulisan ini berasal dari Kabupaten Purwakarta. Kesenian Genye ini mempunyai keunikan dibandingkan dengan kesenian lainnya terutama bahan dasarnya yang dibuat menjadi sebuah bentuk wujud seperti manusia yang menitik beratkan pada nilai artistik, menggunakan alat-alat yang biasa dipakai sebagai peralatan dapur di antaranya, ayakan kecil menjadi bentuk wajah manusia, ayakan besar dibentuk sebagai tubuh/badan, kembang bungbuay sebagai penutup bagian bawah, tuding atau tangannya menggunakan potongan bambu kecil sebagai tangan, sapu sabut kelapa sebagai rambut, dan lidi/nyere dibentuk sebagai sayap. Hal ini menjadi ketertarikan tersendiri bagi penulis untuk mengkaji lebih dalam kesenian tersebut kaitanya dengan seni yang menjadi salah satu ikon di Kabupaten Purwakarta tersebut. Dengan pemahaman latar belakang masalah yang telah dideskripsikan pada tulisan di atas, maka judul Au Transformasi Kesenian Genye Kabupaten PurwakartaAy memberikan pemahaman tentang proses perubahan bentuk, sifat, fungsi meliputi: Nilai-nilai yang sesuai dengan masayarakat. Adanya campur tangan prakarsa dan kreativitas seniman terkait untuk berupaya memberikan evalusai hingga mencapai secara maksimal . untuk kelayakan sebagai ikon Kabupaten Purwakarta. Landasan Teori Untuk mengkaji transformasi perubahan-perubahan yang terjadi kaitanya dengan Kesenian Genye di Kabupaten Purwakarta ini, maka Teori Transformasi dari Anthony Antoniades . Antoniades menjelaskan bahwa respon eksternal dan internal menjadi bagian dari perubahan. Lebih lanjut informasiinformasi dari data-data digunakan yang berasal dari sumber terkait baik seniman maupun prakarsa . emangku haja. sebagai dasar untuk mengetahui sejauh mana perubahan-perubahan yang menentukan Rahmatul Ulum. Caturwati. Wartika: Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta sebagai tubuh/badan, kembang bungbuay sebagai penutup bagian bawah, tuding atau tangannya menggunakan potongan bambu kecil sebagai tangan, sapu sabut kelapa sebagai rambut, dan lidi/nyere dibentuk sebagai sayap. Kesenian Genye ini, eksis dipertunjukan dalam bentuk Helaran dari mulai tahun 2009 pada kegiatan Apresiasi Kesenian di Wilayah i (Purwakarta. Kabupaten Bekasi dan Kota Bekas. yang diselenggarakan oleh DISBUDPAR Provinsi Jawa Barat. Kegiatan lain yang mempertunjukan Kesenian Genye di tahun 2009 ini yaitu pada Helaran seni Budaya Purwakarta yang dilaksanakan Dinas Parawisata Kabupaten Purwakarta, selain itu juga dipentaskan pada acara pagelaran seni tradisi Purwakarta di Anjungan Jawa Barat TMII Jakarta. Pertunjukan Kesenian Genye ini selalu ditampilkan dalam penyambutan tamu, hari jadi, dan festival baik di Purwakarta maupun diluar kota, bahkan diluar provinsi dari tahun 2009 sampai dengan 2019 sebelum adanya covid 19. Dengan keikut sertaan Genye dalam event selama 12 tahun terakhir berturut-turut sehingga banyak pengakuan dari luar maupun masyarakat Purwakarta sendiri kepemilikan hak terhadap seni Genye. Kesenian Genye ini pernah menorehkan prestasi pada Festival Kemilau Nusantara yang kebetulan pada waktu itu Prof. Endang Caturwati berperan sebagai Juri pada kegiatan Festival Kemilau Nusantara di Bandung tahun 2016. Pertunjukan Genye Kabupaten Purakarta meraih juara 1. Pada perkembangan selanjutnya, bentuk pertunjukan Kesenian Genye ini mengalami banyak perubahan yang sangat Perubahan-perubahan dari perkembangan seni Genye ini, memberikan warna baru dan menjadikan Kesenian Genye ini lebih terlihat selaras antara bentuk, fungsi dan sebagainya yang kemudian disajikan sebagai pisau analisis dari tulisan ini. Metoda Penelitian Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi naratif. studi ini mencakup biografi, auto biografi sejarah kehidupan atau sejarah tutur (Creswell. Jhon W. : 2. Pendekatan studi naratif akan membahas biografi para tokoh Kesenian Genye, auto biografi pribadi penulis sebagai salah seorang koregrafer yang terlibat dalam Kesenian Genye Sejarah Tutur Kesenian Genye ini melalui analisis narasi Pertunjukan Genye dari tahun 2009 sampai sekarang. Hal ini didasarkan data-data dokumen-dokumen yang ada, yang salah satunya adalah hasil wawancara kepada narasumber . ara pelak. yang terlibat langsung pada Kesenian Genye dari tahun 2009 sampai dengan saat ini . Adapun Fokus utamanya meliputi tiga bagian yang di antaranya adalah Musik pengiring Genye. Koreografi . , dan artistik Kesenian Genye. Dengan langkah-langkah yang dilakukan maka ditemukan perubahan-perubahan yang terjadi secara menyeluruh sesuai dengan keterangan-keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Kesenian Genye mempunyai keunikan dibandingkan dengan kesenian lainnya terutama bahan dasarnya yang dibuat menjadi sebuah bentuk wujud seperti manusia yang menitik beratkan pada nilai artistik, menggunakan alat-alat yang biasa dipakai sebagai peralatan dapur di antaranya, ayakan kecil menjadi bentuk wajah manusia, ayakan besar dibentuk Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 musik, tarian, dan properti, hal ini menjadi daya tarik bagi penulis untuk melakukan penelitian terhadap Tranformasi Kesenian Genye dari tahun 2009 sampai dengan Eksistensi Kesenian Genye di Kabupaten Purwakarta adalah seni yang dibuat berdasarkan kebutuhan Pemda Purwakarta dimasa pemerintahan Dedi Mulyadi. Kesenian Genye ini lahir atas adanya dorongan Dedi Mulyadi untuk menjadikan Purwakarta menjadi Kota Budaya, dimana pada saat itu Purwakarta belum memiliki ciri khas kesenian yang berkembang di Purwakartanya sendiri. Dengan pemikiran itu, maka Deden Guntari selaku ASN Parawisata dan Budaya Kabupaten Purwakarta mewujudkan keinginan dari Bupati Purwakarta tersebut melalui Kesenian Genye. Kesenian Genye sering dikenal masyarakat yaitu sebagai gerakan nyere, sebagai media atau propertinya. Pada sisi yang lain Genye itu sendiri memiliki makna filosofi untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pola hidup bersih, bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman. Lebih lanjut nyere juga memiliki makna tentang kebersamaan atau gotong royong. Kebersamaan dan kebersihan menjadi satu filosofi dalam pengembangan Kesenian Genye ini. Gabungan ikatan lidi dalam jumlah besar, kemudian menjadi simbol kekokohan dan gotong royong, meliputi arti untuk pembersihan. Adapun fokus kajian seperti telah dideskripsikan pada tulisan sebelunya yakni ada tiga hal perkembangan meliputi Musik Genye. Tari Genye, dan Artistik/ properti Genye adalah sebagai berikut. Perkembangan Musik Genye. Perkembangan musik Genye dari tahun 2009 sampai sekarang dapat terlihat dari adanya pergantian komposer dimana pada perkembangannya telah terjadi tiga kali pergantian komposer sehingga musiknya pun mengalami beberapa kali perubahan. komposer Genye yang pertama adalah Noro Roro merupakan composer Genye dari tahun 2011 sampai dengan 2013. Noro dalam pelaksanaannya menggunakan alat musik yang digunakan yaitu alat musik Gambar 1. Noro Sebagai Penata Musik (Dokumentasi: Bayu Banjar, 2. Rahmatul Ulum. Caturwati. Wartika: Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta Lagu-lagu yang digunakan dalam pertunjukan Helaran Genye pada masa komposer Noro diantaranya: Siuh. Mobil Butut. Tumila Diadu Boksen. Komposer kedua pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 ini dilakukan oleh Hendarsyah lagu-lagu yang digunakan pada masa ini adalah Oray-orayan dan Sate Maranggi. Komposer ketiga dalam pertunjukan helaran Genye ini dilakukan oleh Asep Aung alat musik yang digunakan hampir sama dengan yang sebelumnya, lagu-lagu yang digunakan Sate Maranggi. Daun Puspa. Dari ketiga kompser ini masih perlu adanya pengembangan dari segi musik karena belum ada musik yang sesuai dengan tema dan makna dari seni Genye sendiri seperti beberesih. Apalagi jika memiliki alat musik yang khas mendirikan wilayah Purwakarta. Perkembangan Tari Genye. Dalam tari Genye pun perkembangannya dapat dilihat dari perubahan-perubahan koreografer. Pada tahun 2009 dilakukan oleh bukan penari sehingga hanya jalan biasa yang dikasih property. Lina Marlina sebagai koreografer pada tahun mengembangkan gerakan tariannya yaitu mengeskplorasi gerakan mengayun sapu Gambar 2. Hendarsah sebagai Penata Musik (Dokumentasi: Bayu Banjar, 2. Gambar 3. Asep Aung sebagai Penata Musik (Dokumentasi Bayu Banjar, 2. Gambar 4. Penari Genye (Dokumentasi: Bayu Banjar, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 bersama Beni yang saat itu merupakan koreografer yang ditunjuk oleh tim. Pada masa ini banyak gerakan-gerakan baru hanya saja untuk penamaan gerakan pada masa ini pun belum nampak. Pada tahun 2015 koreografer dilakukan oleh Kania Rahmatul Ulum dimana pada masa ini, mulai membuat penamaan pada gerakan-gerakan yang sudah ada ditambah menciptakan gerakan-gerakan Tujuan penamaan ini supaya ketika helaran itu tidak sulit untuk melakukan improvisasi karena para penari sudah faham gerakan-gerakan sehingga pada masa ini Genye mendapatkan Juara 1 Pada Festival Kemilau Nusantara. Gambar 5. Koreografer Lina 2011 (Dokumentasi: Bayu Banja. dengan ragam pola lantai. Pada masa ini belum ada penamaan khusus pada gerakan-gerakan yang digunakan. Pada perkembangan berikutnya yakni pada tahun 2014 koregrafer digantikan oleh Agus dan Beni dimana pada saat itu ada bantuan dari program Disbudpar Jawa Barat yaitu Pemberdayaan Sarjana Seni sehingga Agus yang ditugaskan dari Provinsi Jawa Barat menjadi koreografer Gambar 7. Koreografer Kania Rahma 2015 (Dokumentasi: Bayu Banja. Ada beberapa permasalahan yang belum tergarap dalam tari Genye ini diantaranya Genye laki-laki yang masih hanya berjalan saja tanpa ada gerakangerakan khusus, serta pada penari Belok pun belum terkonsep dalam pertunjukan helaran ini. tarian masih terfokus di penari perempuan saja. Perkembangan Properti Genye. Dalam perkembangan properti ini banyak sekali perubahan baik dari kostum penari pada 2009 tidak terkonsep sehingga asal pake baju tari, selanjutnya pada tahun Gambar 6. Koreografer Agus dan Beni 2014 (Dokumentasi: Bayu Banja. Rahmatul Ulum. Caturwati. Wartika: Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta Gambar 8. Perubahan Kostum Sayap 2014 (Dokumentasi: Bayu Banja. 2011 sudah membuat kostum khusus untuk penari yang berbahan dasar karung Selanjutnya pada tahun 2016 dibuat kembali kostum yang sesuai dengan konsep Genye, menggunakan sayap yang terbuat dari lidi. Selain itu juga properti untuk pemusik dari awal tidak begitu banyak properti, pada tahun 2013 sudah menggunakan properti dan pada tahun 2016 sudah dibuatkan kereta khusus untuk pemusik. Semetara untuk Genye sendiri mengalami beberapa perubahan dari pertama Genye ini menggunakan topeng sebagai bentuk mukanya dengan hiasan nyere yang dijadikan sayapnya dan pembawa Genye pun menggunakan topeng. Pada tahun 2012 Genye pun mengalami banyak perubahan terutama menyesuaikan konsep dengan terbuat dari anyaman bambu. Sehingga Genye ini terbagi menjadi Gambar 9. Kereta Musik 2015 (Dokumentasi: Bayu Banja. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Gambar 10. Genye 2009 (Dokumentasi: Abi Jawahi. Gambar 11. Genye 2012 (Dokumxentasi: Bayu Banja. bagian kepala, tangan, serta sayap yang terbuat dari bahan bambu, lidi. Sementara orang pembawa Genyenya mulai tidak terlihatan tertutup oleh bagian bawah Genye. Pada tahun 2012 perubahan terjadi adanya penambahan raja Genye, yaitu Genye yang besar yang tidak bisa dimainkan oleh satu orang, perlu beberapa orang untuk mengangkat Genye ini. Dimainkan lebih dari 30 orang dengan berbagai peran yang menggerakan Genye ukuran besar tersebut. Genye pun pada tahun 2015 dipercantik kembali dengan adanya beberapa penambahan aksesoris terutama pada bagian bawah untuk menutupi pembawa Genye. Selain dari properti yang sudah ada ternyata ada pengaruh dari faktor ekternal yaitu adanya pesanan dari Bupati untuk Gambar 12. Genye Besar 2012 (Doumentasi: Bayu Banja. Rahmatul Ulum. Caturwati. Wartika: Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta Gambar 13. Genye 2015 (Doumentasi: Bayu Banja. menambahkan Belok dalam pertunjukan Genye ini. Belok merupakan manusia lumpur yang menyimbolkan kotoran yang harus Belok juga mengalami proses perubahan dimana sudah menggunakan aksesoris seperti kolotok dan penutup kepala yang terbuat dari asepan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kesenian Genye ini merupakan sebuah proses perubahan yang dilakukan untuk memperbaiki kesenian Genye kedepannya yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Perubahan ini terjadi bukan hanya Genyenya saja, melainkan dari seluruh yang berperan dalam kesenian ini. Semua kreator memikirkan perubahan-perubahan menuju ultimate tanpa melupakan konsep awal dimana nilai kebersamaan. Gambar 14. Belok 2012 (Dokumentasi: Bayu Banja. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Gambar 15. Belok 2021 (Dokumentasi: Renggani. diharapkan sebagai ikon Kabupaten Purwakarta perlu pendalaman lebih. Dalam hal koreografi Genye sendiri belum maksimal karena belum tergarap dengan baik. Hal ini juga dari segi musik yakni lagu-lagu yang dimainkan, belum ada yang baku, sehingga sampai saat ini Kesenian Genye di Purwakarta belum memiliki ciri khas dan pola yang baku. Hal ini dapat diliat dari musik introduksi . maupun musik Akhir . nilai kebersihan dan kepatuhan kepada pimpinan yang digambarkan raja Genye dan dari filosofi sapu nyere sendiri. SIMPULAN Perubahan Kesenian Genye terjadi karena faktor dari luar maupun faktor dari dalam. Adanya campur tangan kehadiran para kreator, juga keinginan dari (Bupat. menjadi faktor yang menentukan. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan kaitanya dengan bentuk-bentuk transformasi yang ada. Seni Genye masih belum mencapai titik maksimal, masih banyak hal yang perlu evaluasi dan direvisi baik dari segi musik, tari, maupun properti untuk kemudian menjadi ikon Kabupaten Purwakarta. Perubahan-perubahan yang terjadi masih dalam tataran bentuk, bahwa perubahan awal saat menggunakan topeng, disempurnakan dengan menggunakan bongsang, menggunakan ayakan. Pada sisi lain kontek isi maupun tema yang Saran Perlu adanya upaya lebih mendalam agar Kesenian Genye dapat memiliki kebaruan dan berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Perlu pula adanya pelestarian melalui pendidikan formal maupun non formal khususnya dunia pendidikan agar Kesenian Genye sebagai warisan budaya yang dapat benarbenar mewakili harapan dan pengakuan masyarakat Purwakarta. Rahmatul Ulum. Caturwati. Wartika: Transformasi Kesenian Genye Kabupaten Purwakarta Sofian. Siaran Radio Citra 99,4 FM: Media Pelestarian Tembang Sunda Bagi Siswa Sekolah Dasar. Mimbar Sekolah Dasar,2. ,99-117. doi:http://dx. org/ mimbar-sd. Daftar Pustaka