Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya Tamara Avrelia Damayanti S1 Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: Tamara. 21035@mhs. Titin Indah Pratiwi S1 Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: titinindahpratiwi@unesa. Abstrak Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan komponen penting untuk menilai dampak layanan terhadap kinerja akademik, pencegahan perilaku bermasalah, serta pengembangan sosial-emosional siswa. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling pada dua SMA di Surabaya dengan karakteristik kurikulum yang berbeda, yaitu SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Evaluasi dilakukan menggunakan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. untuk memperoleh gambaran pelaksanaan program secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif komparatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan subjek penelitian guru BK, guru mata pelajaran/wali kelas, serta siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program bimbingan dan konseling di kedua sekolah tergolong berhasil dan memberikan dampak positif bagi siswa. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan guna mengoptimalkan kualitas pelaksanaan program bimbingan dan konseling. Kata Kunci: Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling. Program Bimbingan dan Konseling. CIPP (Context. Input. Process. Produc. Abstract The evaluation of guidance and counseling programs is a crucial component in assessing their impact on studentsAo academic performance, behavioral problem prevention, and social-emotional development. This study aims to evaluate the implementation of guidance and counseling programs at two senior high schools in Surabaya with different curricular characteristics, namely SMA Negeri 3 Surabaya and SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. The evaluation employed the CIPP model (Context. Input. Process. Produc. to provide a comprehensive overview of program implementation. This study used a qualitative approach with a descriptive comparative method. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving guidance counselors, subject teachers/homeroom teachers, and students. The findings indicate that the guidance and counseling programs in both schools were generally successful and produced positive outcomes for students. However, several aspects still require improvement to enhance the overall quality and effectiveness of program implementation. Keywords: Evaluation of the Guidance and Counseling Program. Guidance and Counseling Program. CIPP (Context. Input. Process. Produc. karier, akademik, dan pribadi-sosial. Keberhasilan layanan BK tidak hanya diukur dari dukungan emosional yang diberikan, tetapi juga sejauh mana layanan tersebut mampu mempersiapkan siswa secara akademis serta menjadikannya anggota masyarakat yang lebih dewasa dan cakap (Ulfah & Arifudin, 2. Secara operasional, layanan BK di sekolah memiliki tanggung jawab strategis untuk mengembangkan kemampuan akademik, membangun kesadaran diri tentang peluang masa depan, serta membantu siswa mengidentifikasi cita-cita hidup mereka. Selain itu. PENDAHULUAN Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami diri dan mencapai potensi penuh sesuai harapan lingkungannya. Menurut Suherman . alam Ulfah & Arifudin, 2. , layanan ini harus diberikan secara profesional dan mencakup seluruh aspek kehidupan Hal ini menyiratkan bahwa siswa pada setiap jenjang pendidikan perlu memiliki pemahaman serta kemampuan untuk beroperasi dalam tiga bidang utama: Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya konseling berperan penting dalam menyelesaikan masalah pribadi yang menghambat prestasi maupun hubungan interpersonal (Ulfah & Arifudin, 2. Setuju dengan hal tersebut. Tsani . menegaskan bahwa BK merupakan upaya krusial dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui penyelesaian masalah siswa baik di dalam maupun di luar sekolah. Namun, dalam realitasnya. Tsani . mencatat bahwa program BK sering kali belum berfungsi optimal akibat keterbatasan infrastruktur, fasilitas yang kurang memadai, minimnya koordinasi dengan guru mata pelajaran, serta rendahnya evaluasi terhadap hasil layanan. Pentingnya perencanaan program yang matang ditegaskan oleh Setiawan . , yang menunjukkan bahwa langkah pertama yang menjamin efisiensi bimbingan dan konseling adalah pelaksanaan analisis kebutuhan . eed assessmen. Meskipun perencanaan yang baik dapat menjadi acuan siswa dalam mencapai kemandirian, implementasinya di lapangan masih menghadapi tantangan berat. Penelitian Ayuna et al. mengungkap bahwa hambatan di sekolah menengah mencakup aspek manajemen, keuangan, kurangnya dukungan pimpinan, hingga beban kerja guru BK yang terdistraksi oleh tugas di luar profesinya. Di tengah berbagai tantangan tersebut, evaluasi program bimbingan dan konseling muncul sebagai komponen yang sangat penting. Dengan evaluasi memungkinkan institusi pendidikan menilai pengaruh nyata layanan bimbingan dan konseling terhadap kinerja akademik, pencegahan masalah perilaku, serta pengembangan kompetensi sosial-emosional siswa (Arsini. Lubis, et al. , 2. Sebagai sebuah proses berkelanjutan, keberhasilan bimbingan dan konseling hanya dapat dinilai melalui evaluasi sistematis yang berfungsi untuk mengkaji, menganalisis, dan memperbaiki program secara khusus maupun pendidikan secara umum. Namun, temuan Wiyono et al. menunjukkan realita yang kontras, di mana kompetensi konselor dalam melakukan evaluasi masih tergolong rendah, khususnya dalam hal penggunaan metode evaluasi yang variatif, penyebarluasan hasil evaluasi kepada pemangku kepentingan, serta pengintegrasian hasil evaluasi untuk merevisi program secara berkala. Kesenjangan antara teori dan praktik ini terlihat nyata melalui fenomena di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Layanan BK di sekolah tersebut cenderung bersifat reaktif-insidental, di mana guru BK umumnya hanya bergerak saat terjadi pelanggaran disiplin atau kasus Kondisi ini bertentangan dengan amanat Permendikbud No. 111 Tahun 2014 yang menekankan bahwa layanan BK harus terprogram dan mencakup bidang pribadi, sosial, belajar, serta karier. Akibatnya, preventif-developmental . encegahan dan pengembangan dir. menjadi terabaikan. Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya dilakukan evaluasi mendalam terhadap program BK di tingkat SMA Negeri dan Swasta di Surabaya. Hingga saat ini, berdasarkan penelusuran literatur, belum ditemukan penelitian yang secara khusus membandingkan pelaksanaan evaluasi program BK antara sekolah negeri dan swasta di wilayah Surabaya, sebagaimana Winingsih . pernah menyinggung adanya perbedaan dinamika evaluasi di kedua jenis institusi tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran objektif mengenai pelaksanaan evaluasi program BK di Surabaya serta merumuskan rekomendasi perbaikan guna memastikan layanan bimbingan dan konseling berjalan efektif dalam mendukung perkembangan holistik peserta METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif komparatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Moleong, 2. , mendeskripsikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menggunakan kata-kata tertulis atau lisan dari subjek yang diamati untuk membuat data Pada penelitian kualitatif, pendekatan yang diambil oleh peneliti tidak didasarkan pada anggapan atau asumsi pribadi, melainkan berfokus pada realitas yang terjadi di lapangan yaitu apa yang dialami, dirasakan, dan dipikirkan oleh subjek penelitian. Menurut (Sugiyono, 2. penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan, proses, prosedur, dan aspek lainnya dari suatu fenomena yang sedang diteliti. Penelitian deskriptif tidak ditujukan untuk menguji hipotesis atau membuat generalisasi, melainkan untuk memberikan informasi yang mendalam mengenai fenomena yang sedang dianalisis. Sedangkan penelitian komparatif yang dijelaskan oleh (Sahir, 2. merupakan suatu bentuk penelitian yang dilakukan untuk membandingkan objek penelitian antara subjek yang berbeda serta mengidentifikasi hubungan sebab akibat tanpa memberikan perlakuan terhadap variabel yang telah Selain itu, (Sugiyono, 2. juga menyatakan bahwa membandingkan keadaan satu atau lebih variabel pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada dua waktu yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan salah satu sekolah SMA Negeri (SMA Negeri 3 Surabay. dan salah satu sekolah SMA Swasta (SMA Muhamaddiyah 10 Surabay. di Surabaya. Alasan peneliti memilih tempat tersebut karena sebagai sekolah yang melaksanakan evaluasi program Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya bimbingan dan konseling dengan latar belakang sekolah dan memiliki kurikulum yang berbeda. Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu : Wawancara Menggunakan jenis wawancara tidak terstruktur Observasi Menggunakan jenis observasi non-partisipan Dokumentasi Mendokumentasi berkas hasil check list pedoman observasi dan kegiatan wawancara Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik yang diungkapkan oleh Bogdan & Biklen yaitu dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Moeloeng, 2. Teknik keabsahan yang digunakan adalah triangulasi Menurut (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan data yang menggabungkan berbagai data dan sumber yang Data akan terus digali hingga mencapai titik jenuh, yaitu kondisi di mana informasi yang diperoleh dari informan selanjutnya tidak lagi memberikan temuan atau kategori baru yang berbeda dari informasi sebelumnya. siswa, namun sebaiknya sekolah memperkuat asesmen kebutuhan secara sistematis dan berkala agar program BK tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan pengembangan jangka panjang. Dalam melaksanakan program BK yang baik adalah dengan menyusun dan mengembangkan berdasarkan kebutuhan siswa dan program yang berlangsung sejalan dengan proses penilaian baik mengenai program itu sendiri, kemajuan siswa, maupun kemajuan pengetahuan, keterampilan serta sikap para petugas pelaksana (Hairullah 2. Sementara itu. SMA Muhammadiyah 10 pada komponen konteks lebih fokus saat proses layanan konseling itu sendiri. Keberhasilan layanan dinilai dari adanya perubahan siswa selama sesi konseling, terutama bagi siswa yang memiliki permasalahan kompleks seperti sering tidak masuk kelas dan permasalahan keluarga. Siswa juga melihat BK sebagai tempat yang nyaman untuk bercerita karena hubungan siswa dan guru BK yang cukup dekat. Hal ini menjadi kekuatan utama layanan BK di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, namun sebaiknya keberhasilan program juga dilihat dari ketercapaian tujuan program secara keseluruhan, tidak hanya pada perubahan individu siswa, sehingga dampak layanan BK dapat dirasakan secara lebih luas oleh sistem sekolah. Adapun proses sistematis untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program, termasuk di dalamnya apakah tujuan yang direncanakan telah tercapai dan terealisasi sesuai harapan (Putri, 2. Komponen Masukan Pada komponen masukan, kedua sekolah memiliki kesamaan dalam menyusun program BK berdasarkan kebutuhan siswa, akan tetapi menggunakan pengumpulan data yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan metode pengumpulan data perlu diselaraskan dengan prinsip POP BK, khususnya pada tahap asesmen kebutuhan sebagai dasar perencanaan layanan yang sistematis dan responbilitas. SMAN 3 Surabaya memiliki sistem yang lebih terstruktur, yakni menggunakan instrumen seperti AUM dan DCM untuk memetakan tiga kebutuhan tertinggi siswa pada tiap angkatan kemudian dilengkapi dengan Google Form untuk kelas 11 dan 12 yang berfokus pada isu-isu remaja saat ini. Selain itu, guru BK SMA Negeri 3 Surabaya juga mempertimbangkan hasil evaluasi program sebelumnya dan menerima masukan dari guru mata pelajaran sehingga input program lebih komprehensif. Penyusunan program BK di SMA Negeri 3 Surabaya telah selaras dengan POP BK, terutama pada asesmen kebutuhan dan perencanaan program. Namun, sebaiknya seluruh data input diintegrasikan dalam dokumen program tahunan dan semesteran BK sebagaimana dalam POP BK, sehingga kesinambungan layanan program dapat terjaga. Hal ini dipaparkan oleh Putri . yang berisi bahwa program BK yang lebih HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling ini menggunakan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. Model evaluasi ini memiliki tujuan guna menunjukkan efektifnya program BK menyeluruh berdasarkan empat komponen model evaluasi CIPP, yang artinya model CIPP ini menjabarkan keseluruhan program mulai dari tahap perencanaan sampai dampak dan hasil yang telah diciptakan oleh program BK. Pengembangan Program BK Di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya Komponen Konteks Pada komponen konteks, kedua sekolah memiliki tujuan dasar program BK yang sama yakni pemenuhan pada kebutuhan perkembangan siswa, namun keduanya menunjukkan fokus dan kondisi yang berbeda sesuai dengan lingkungan masing-masing sekolah. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan perumusan tujuan operasional yang lebih spesifik agar arah program BK di tiap sekolah lebih terukur dan mudah dievaluasi. Di SMA Negeri 3 Surabaya, layanan BK diarahkan untuk mengoptimalkan perilaku siswa, seperti peningkatan kedisiplinan, pemahaman minat-bakat, dan penurunan masalah yang kerap dialami siswa. Permasalahan siswa yang beragam menjadi dasar ketika menyusun program BK, dan siswa beranggapan bahwa BK sebagai wadah dalam membantu mereka memahami diri serta menghadapi kebingungan terutama terkait perjurusan. Hal ini mengindikasikan bahwa layanan BK telah responsif terhadap kebutuhan Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya terencana akan lebih menjamin terjadinya perubahan secara berkelanjutan. SMA Muhammadiyah 10 Surabaya menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan secara langsung. SMA Muhammadiyah 10 tidak menggunakan instrumen angket secara rutin, kecuali angket untuk penjurusan di Sebaliknya, guru BK mengumpulkan kebutuhan siswa melalui percakapan langsung, termasuk menggali masalah yang dialami siswa di lapangan. Pendekatan ini dianggap relevan karena banyak siswa merupakan atlet yang memiliki kebutuhan khusus terkait manajemen waktu dan kondisi psikologis yang harus ditangani secara Hal ini menunjukkan kesesuaian fleksibilitas layanan dalam POP BK, namun agar hasil asesmen informal tersebut tetap didokumentasikan secara sistematis sesuai standar POP BK, sehingga dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program BK dan evaluasi keberhasilan layanan. Seharusnya pelaksanaan evaluasi BK membutuhkan pola kerja yang sistematis, agar lebih mudah dalam mengaplikasikannya (Ardianti. Fahrozin dalam Mustika . menyatakan ketika melaksanakan program BK, guru BK tentunya tidak dapat bergerak sendiri, perlu adanya dukungan dan bantuan dari pihak sekolah agar program BK dapat mencapai hasil yang maksimal. Hal ini kedua sekolah menunjukkan pola yang sama. SMAN 3 Surabaya melibatkan waka kurikulum, waka kesiswaan, hing, ga kepala sekolah Sementara SMA Muhammadiyah 10 Surabaya menekankan kolaborasi wali kelas, khususnya melalui kegiatan home visit. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara guru BK dan wali kelas telah sesuai dengan POP BK yang menekankan layanan BK sebagai tanggungjawab bersama, namun agar peran masing-masing pihak dirancang secara lebih formal dalam terstruktur organisasi dan rencana operasional BK agar pelaksanaan program lebih terarah dan berkelanjutan. Kedua sekolah sama-sama menjaga komunikasi aktif antara guru BK dan guru mata pelajaran, meskipun bentuknya berbeda menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Pelaksanaan Program BK Di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya Komponen Proses Pada komponen proses, kedua sekolah sama-sama menunjukkan pelaksanaan program BK yang berjalan menghadapi kendala internal yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan layanan serta dinamika kolaborasi dengan wali kelas. Kendala pada komponen proses tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan pembagian peran dan pola kerja antar guru BK yang belum sepenuhnya seimbang. SMAN 3 Surabaya cenderung mengalami kendala yang lebih kompleks, terutama terkait kurangnya alokasi waktu layanan, sarana prasarana yang belum memadai, serta beban permasalahan siswa yang seringkali sepenuhnya diberikan kepada guru BK. Hal ini dapat mengindikasikan proses layanan BK di SMA Negeri 3 Surabaya berpotensi mengalami ketidakefektifan apabila tidak didukung oleh pengaturan waktu yang jelas dan distribusi tanggungjawab yang lebih seimbang antara guru BK dan pihak sekolah yang lain. Padahal menurut Winkel dalam Nasution . program bimbingan yang baik seharusnya direncanakan secara terjadwal dan menjadi bagian dari sistem sekolah, termasuk kegiatan belajar mengajar. Berbeda dengan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya yang menunjukkan proses layanan lebih fleksibel dan kolaboratif. Meskipun ada perbedaan pendapat antara guru BK dan wali kelas, dinamika tersebut tidak menghambat pelaksanaan layanan karena kedua pihak berfok us pada kebutuhan siswa. Fleksibilitas dan komunikasi terbuka menjadi faktor pendukung keberlangsungan proses layanan BK, terutama membutuhkan respon cepat. Kedua sekolah mengandalkan komunikasi dan koordinasi dengan wali kelas sebagai bagian penting dari proses layanan. Kolaborasi menjadi elemen utama dalam memastikan permasalahan siswa dapat ditangani sesuai dengan kebutuhan. Baik SMAN 3 Surabaya maupun SMA Muhammadiyah 10 Surabaya melakukan evaluasi secara berkala, meskipun mekanismenya berbeda. Meskipun evaluasi telah dilakukan, proses evaluasi masih dapat ditingkatkan agar tidak hanya berfungsi sebagai refleksi kegiatan, tetapi juga sebagai dasar perbaikan berkelanjutan dalam pelaksanaan layanan BK. Keduanya tetap memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan proses layanan yang responsif terhadap kondisi dan kebutuhan siswa (Putri, 2. Komponen Hasil Pada komponen produk, kedua sekolah menunjukkan bahwa pelaksanaan program BK menghasilkan dampak yang dirasakan oleh siswa, guru, maupun sistem sekolah, meskipun bentuk dan tingkat efektivitasnya berbeda. Hasil program BK di kedua sekolah telah memberikan dampak positif, namun pemanfaatan hasil evaluasi produk masih perlu diperkuat agar pengembangan program dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan. SMA Negeri 3 Surabaya hasil program lebih banyak terlihat pada peningkatan diri dan capaian akademik siswa. Guru mata pelajaran menilai adanya peningkatan hasil penjurusan serta berkurangnya keterlambatan siswa, sementara siswa merasakan manfaat langsung dari layanan konseling yang membuat mereka lebih memahami arah masa depan. Meski demikian, evaluasi produk menunjukkan bahwa pengembangan program belum direncanakan secara khusus, dan siswa berharap Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya layanan BK lebih aktif terutama dalam pendampingan Layanan BK telah memberikan dampak positif bagi siswa, namun peneliti menemukan bahwa pengembangan program lanjutan belum direncanakan secara khusus. Oleh karena itu, disarankan agar sekolah memanfaatkan hasil evaluasi sebagai penguatan layanan BK, terutama dalam pendampingan karier yang lebih intensif dan terstruktur sesuai kebutuhan siswa. Hal ini didukung oleh pendapat Stufflebeam dalam Wirawan . yang menyatakan keberhasilan suatu program tidak hanya melihat dari prosesnya akan tetapi juga hasil akhir yang diciptakan oleh program tersebut. Sementara hasil program BK di SMA Muhammadiyah 10 Surabaya tampak melalui peningkatan keterampilan siswa, terutama pada persiapan masuk perguruan tinggi, pencegahan bullying, dan pelatihan membuat CV. Siswa menilai guru BK tegas dan membantu dalam proses penjurusan, namun merasa program BK belum terlihat secara luas di lingkungan sekolah. Tindak lanjut program cenderung mengikuti arahan pimpinan sekolah, dan terdapat rencana pengembangan layanan terkait penyuluhan narkoba dan kenakalan remaja. Meskipun program BK telah dirasakan manfaatnya oleh siswa, agar hasil dan capaian program disosialisasikan secara lebih luas kepada seluruh warga sekolah, sehingga dampak program BK dapat dirasakan secara sistematis dan meningkatkan dukungan terhadap pengembangan layanan Hal ini juga selaras dengan pernyataan Sink. Cooney, & Adkins dalam Winingsih . yang menyatakan hasil evaluasi akan lebih efektif jika disosialisasikan kepada pengguna utama dalam rangka mendapat umpan balik dari pengguna atau pihak terkait, hasil evaluasi diberikan dengan cara yang dipahami oleh mereka akan membantu pemanfaatan evaluasi. Salah satu tujuan keberhasilan program BK yaitu penurunan angka keterlambatan maupun bullying di sekolah menurut pendapat Devito dalam Putri . menyatakan bahwa sebuah program BK harus mampu mengatasi masalah interpersonal peserta didik. Kedua sekolah telah berhasil mencapai indikator tersebut, sehingga program BK dapat dikategorikan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sekolah, meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek keberlanjutan dan pengembangan program di masa mendatang. Hasil Evaluasi Program BK Di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti, hasil evaluasi program bimbingan dan konseling di SMA Negeri 3 Surabaya menunjukkan bahwa tujuan layanan sesuai dengan kebutuhan siswa, terutama dalam membantu pengembangan pemahaman diri, disiplin, serta penjurusan. Kesesuaian tujuan perlu diperkuat dengan perancangan tujuan yang lebih spesifik dan terukur agar dapat menjadi arah pengembangan program BK jangka panjang. Penyusunan program tersusun sistematis karena berbasis data kebutuhan (AUM. DCM, dan angket digita. serta mendapat dukungan positif dari pihak sekolah. Integrasi data asesmen, evaluasi program sebelumnya, dan masukan guru mata pelajaran dikumpulkan pada satu dokumen perencanaan BK agar kesinambungan program BK pertahun lebih terjaga. Menurut Fatchurahman . kriteria keberhasilan program layanan BK di sekolah yaitu apabila adanya perubahan pada siswa dengan menunjukkan perilaku mampu mengetahui kemampuan dan kelemahan dirinya serta meningkatnya prestasi akademik. Namun, pelaksanaan masih terkendala keterbatasan sarana prasarana, durasi layanan, dan koordinasi dengan wali Perlunya pengaturan waktu layanan serta peran yang lebih seimbang antara guru BK dan wali kelas agar pelaksanaan layanan lebih efektif. Meski demikian, guru BK tetap menjaga keberlangsungan layanan melalui komunikasi aktif dan menindaklanjuti terhadap kasus Program BK memberikan dampak positif terhadap pemahaman diri dan kesiapan akademik siswa, tetapi masih memerlukan perbaikan dalam perencanaan jangka Evaluasi yang telah dicapai dimanfaatkan sebagai dasar penguatan layanan lanjutan, khususnya pendampingan karier siswa secara berkelanjutan. Padahal menurut Fatchurahman . hasil dari evaluasi dapat digunakan sebagai bahan perbaikan, peninjauan ulang, dan penyempurnaan program BK maupun cara Sedangkan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya juga menunjukkan keberhasilan program BK yakni berjalan dengan fokus pada kebutuhan individual siswa melalui asesmen langsung, terutama untuk siswa atlet dan siswa yang memiliki permasalahan keluarga. Seharusnya layanan BK tidak hanya berorientasi pada penanganan kasus, tetapi juga pada pengembangan potensi siswa secara menyeluruh. Hal ini selaras dengan Robinson dalam Fatchurahman . yang menyatakan keberhasilan program akan tampak apabila siswa dapat menurunkan ketegangan emosinya, menunjukkan sikap keterbukaannya, serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara objektif. Meskipun responsif, perencanaan program belum terdokumentasi secara sistematis karena tidak menggunakan instrumen angket yang komprehensif. Asesmen langsung yang telah berjalan sebaiknya dilengkapi dengan catatan dan dokumentasi sistematis sebagai dasar perencanaan program jangka menengah dan panjang. Pelaksanaan layanan berlangsung secara adaptif berkat koordinasi yang baik antara guru BK dengan wali kelas, meskipun sesekali terdapat perbedaan pendapat ketika rapat. Koordinasi yang sudah terjalin perlu dipertahankan dan diperkuat Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling dengan Model CIPP di SMA Negeri DAN SMA Swasta Surabaya agar perbedaan pendapat tidak menghambat konsistensi layanan BK. Hasil program terlihat pada peningkatan kesiapan penjurusan, pencegahan bullying, serta keterampilan siswa. Namun, visibilitas program masih rendah sehingga dibutuhkan penguatan publikasi layanan dan optimalisasi jam BK. Hasil dan capaian program BK dapat disosialisasikan secara lebih luas sehingga dampak layanan dapat dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Padahal menurut Winkel dalam Nasution . program bimbingan yang baik seharusnya direncanakan secara terjadwal dan menjadi bagian dari sistem sekolah. agar program bimbingan dan konseling di kedua sekolah dapat terlaksana lebih optimal dan efektif. Saran Berdasarkan hasil evaluasi dan kesimpulan di atas, maka peneliti memberikan beberapa saran untuk meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling: Saran untuk komponen input adalah melengkapi instrumen pendukung layanan bimbingan dan konseling agar pelaksanaan layanan dapat berjalan lebih terarah dan terukur Saran untuk komponen process adalah dengan mengalokasikan jam khusus atau jam tertentu yang lebih banyak agar program bimbingan dan konseling dapat berjalan lancar dan maksimal Saran untuk komponen product ada baiknya rencana pengembangan program bimbingan dan konseling yang lebih inovatif agar lebih optimal dalam memenuhi kebutuhan siswa PENUTUP Simpulan Pengembangan program bimbingan dan konseling di SMA Negeri dan SMA Swasta Surabaya, dapat disimpulkan bahwa pengembangan program BK di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya memiliki tujuan yang sama yakni disusun dengan berdasarkan kebutuhan siswa. Program BK memiliki peran yang cukup penting untuk mendukung pada akademik, pribadi, dan sosial siswa. Khususnya dalam pemahaman minat dan bakat, menemukan gaya belajar, serta perubahan ke arah yang lebih positif. Namun, pengembangan program di kedua sekolah masih memerlukan penguatan agar lebih terencana dan Selanjutnya terkait pelaksanaan program bimbingan dan konseling, hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan BK di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya telah berjalan dan memberikan kontribusi positif bagi siswa, seperti penurunan keterlambatan dan bullying. Meskipun demikian, pelaksanaan program masih menghadapi beberapa kendala, antara lain keterbatasan jam khusus layanan BK, dinamika kolaborasi antara guru BK dan pihak sekolah yang membutuhkan waktu dalam menyelaraskan, serta keterbatasan sarana dan prasarana. Kendala tersebut memengaruhi optimalisasi pelaksanaan layanan, meskipun tidak mengurangi peran penting program BK dalam mendukung perkembangan siswa. Berdasarkan hasil evaluasi program bimbingan dan konseling, dapat disimpulkan bahwa secara menyeluruh program BK di SMA Negeri 3 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 10 Surabaya dinilai berhasil dan memberikan dampak nyata yang positif bagi siswa dan lingkungan sekolah. Evaluasi menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih positif serta peningkatan kesiapan akademik. Namun, beberapa aspek atau komponen program BK masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengembangan dan perbaikan berkelanjutan DAFTAR PUSTAKA