Pelayanan Rohani Daring sebagai Ruang Pemulihan Spiritual dan Komunitas Inklusif di Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang Gidion*. Debora Tiurlan Tambunan STT Kristus Alfa Omega Semarang. Indonesia1. Adventist University of Philippines2 Email: gideonjosila@gmail. com, deboratiur@gmail. Email koresponden: gideonjosila@gmail. Submit: 18-03-2026 Review: 11-04-2026 Revisi: 13-04-2026 Diterbitkan: 14-04-2026 Keywords: Digital Pastoral Ministry. Spiritual Fellowship. Sick And Elderly Congregants. Digital Space. Church Social Ministry Kata Kunci: Pastoral Digital. Persekutuan Rohani. Jemaat Sakit Dan Lansia. Ruang Digital. Pelayanan Sosial Gereja p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract This community engagement program was initiated in response to the condition of church congregants experiencing chronic illness and mobility limitations that prevent them from attending in-person worship services, a situation that potentially leads to social and spiritual isolation. The program aimed to develop and implement an interactive online spiritual ministry model for sick and mobility-limited congregants at Bethel Tabernacle Church Kristus Alfa Omega Semarang. The activities were conducted over a three-month period through participatory online worship and fellowship using the Zoom platform, accompanied by pastoral counseling, faith-sharing sessions, and social ministry in the form of home visits and the distribution of basic food assistance to participantsAo The results indicate noticeable emotional and spiritual transformation among participants, reflected in increased engagement in fellowship activities and the formation of meaningful pastoral relationships within the digital space. In addition, participants developed a renewed theological understanding of suffering that fostered spiritual hope and resilience. These findings suggest that an interactive and integrative online ministry can strengthen spiritual well-being while expanding the reach of inclusive church ministry in the digital era. Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilatarbelakangi oleh kondisi jemaat yang mengalami penyakit kronis dan keterbatasan mobilitas sehingga tidak dapat menghadiri ibadah secara fisik di gereja, yang berpotensi menimbulkan isolasi sosial dan spiritual. Program ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan model pelayanan rohani interaktif berbasis daring bagi jemaat yang sakit dan memiliki keterbatasan mobilitas di Jemaat Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang. Kegiatan dilaksanakan selama tiga bulan melalui ibadah dan persekutuan daring menggunakan platform Zoom yang bersifat partisipatif, disertai pendampingan pastoral, sesi berbagi pengalaman iman, serta pelayanan sosial berupa kunjungan dan bantuan sembako kepada keluarga peserta. Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya perubahan sikap emosional dan spiritual peserta, meningkatnya partisipasi dalam persekutuan, serta terbentuknya relasi pastoral yang hangat dalam ruang digital. Selain itu, peserta mengalami pemahaman teologis baru tentang penderitaan yang menumbuhkan pengharapan iman. Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan rohani daring yang interaktif dan integratif dapat Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 memperkuat kesejahteraan spiritual serta memperluas jangkauan pelayanan gereja yang inklusif di era digital. PENDAHULUAN Dalam kehidupan bergereja, kehadiran jemaat dalam ibadah sering dipahami sebagai ekspresi utama dari partisipasi iman. Namun, realitas pastoral menunjukkan bahwa tidak semua jemaat memiliki kemampuan fisik dan psikologis untuk hadir secara langsung di gedung gereja. Keadaan ini secara nyata dialami jemaat yang mengalami penyakit kritis dan kronis, khususnya para lanjut usia yang terbaring sakit dalam waktu yang panjang, jemaat yang mengalami stroke dengan keterbatasan mobilitas, serta individu yang bergumul dengan depresi dan gangguan kesehatan mental. Pada Jemaat Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega di Semarang, terdapat sejumlah jemaat dengan kondisi yang secara rohani sebenarnya rindu untuk hadir di Gereja beribadah dan bersekutu, namun secara fisik tidak memungkinkan untuk datang ke gereja. Kondisi ini menempatkan mereka dalam keterasingan spiritual dan sosial apabila gereja tidak menghadirkan bentuk pelayanan yang kontekstual dan adaptif. Masalah utama yang dihadapi oleh jemaat dengan keterbatasan kesehatan tersebut bukan hanya ketidakmampuan menghadiri ibadah secara fisik, tetapi juga minimnya akses terhadap pelayanan rohani yang bersifat relasional dan interaktif. Sementara ibadah merupakan kunci penting bagi jemaat untuk memiliki persekutuan dengan Allah dan dengan sesama, untuk beroleh kekuatan rohani dan kasih persaudaraan (Gidion et , 2022, pp. 60Ae. Selama ini, pelayanan daring di banyak gereja masih cenderung bersifat satu arah, di mana jemaat sakit hanya menjadi penonton ibadah tanpa ruang komunikasi, pendampingan pastoral, atau interaksi sosial yang bermakna. PkM di bidang pastoral care menegaskan bahwa isolasi sosial dan spiritual pada orang sakit dan lansia dapat memperburuk kondisi psikologis, menurunkan kualitas hidup, serta melemahkan daya tahan iman mereka (Clinebell Jr, 2. Sebab itu pelayanan rohani juga harus menyentuh kebutuhan dalam kondisi sakit dan keterbatasan jangka panjang. Urgensi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini semakin nyata mengingat meningkatnya jumlah lansia dan penderita penyakit kronis di Indonesia, yang berdampak langsung pada kehidupan sosial dan keagamaan mereka (Gidion, 2023, pp. 75Ae. Studi menunjukkan bahwa pelayanan spiritual yang berkelanjutan dan komunikatif memiliki kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan emosional, pengharapan, dan ketahanan mental pasien serta lansia (Puchalski et al. , 2. Dalam konteks gereja lokal, kegagalan untuk menjangkau jemaat sakit secara aktif berpotensi menciptakan kesenjangan pastoral, di mana gereja secara tidak sadar hanya melayani jemaat yang sehat dan mampu hadir secara fisik. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu model pelayanan rohani dan sosial berbasis daring yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, interaksi personal, serta pendampingan pastoral yang berkesinambungan, sehingga jemaat yang sakit tetap merasa menjadi bagian utuh dari tubuh Kristus. Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan model pelayanan rohani interaktif berbasis online bagi jemaat yang mengalami penyakit kritis dan keterbatasan mobilitas di Jemaat Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang. Tujuan kegiatan ini meliputi: . menyediakan ruang ibadah dan pembinaan rohani daring yang bersifat partisipatif dan komunikatif, . memperkuat pendampingan pastoral dan dukungan sosial bagi jemaat sakit dan lansia, serta . meningkatkan kesadaran gereja akan pentingnya pelayanan yang inklusif dan holistik bagi seluruh jemaat tanpa Melalui kegiatan ini, gereja diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang tidak hanya menjaga kesinambungan iman jemaat, tetapi juga memperwujudkan kasih Kristus secara nyata di tengah keterbatasan fisik dan psikologis umat. METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan pelayanan rohani dan sosial yang terintegrasi, bertempat secara daring melalui platform Zoom Meeting sebagai ruang utama pelayanan rohani,(Latif et al. , 2. serta dilengkapi dengan pelayanan kunjungan secara terbatas sebagai bentuk pelayanan sosial. Lokasi daring dipilih untuk menjangkau jemaat yang secara fisik tidak mampu hadir di gedung gereja dalam jangka waktu panjang akibat penyakit kritis, keterbatasan mobilitas, atau kondisi psikologis tertentu. Sasaran kegiatan ini adalah jemaat Gereja Bethel Tabernakel Kristus Alfa Omega Semarang yang tidak dapat berangkat beribadah secara reguler karena kondisi kesehatan tersebut. Waktu pelaksanaan kegiatan berlangsung selama tiga bulan, yaitu pada bulan Agustus. September, dan Oktober, dengan frekuensi pelayanan rohani yang dilakukan secara rutin setiap minggu melalui persekutuan dan ibadah interaktif berbasis daring, dan juga visitasi untuk berbagi berkat sembako. Tahapan pelaksanaan kegiatan diawali dengan pendataan dan identifikasi jemaat sasaran yang membutuhkan pelayanan rohani dan sosial, dilanjutkan dengan pelaksanaan pelayanan rohani daring yang mencakup ibadah dan pelayanan firman, sharing kehidupan, konseling pastoral, serta interaksi dialogis antarpeserta melalui Zoom Meeting. Setiap bulan pelayanan rohani difokuskan pada tema firman yang kontekstual dan relevan dengan kondisi jemaat, yaitu pada bulan Agustus mengangkat tema "Berjalan Bersama Anugerah Tuhan", bulan September dengan tema "Berjalan dalam Pimpinan Roh Kudus", dan bulan Oktober dengan tema "Iman yang Kokoh di Tengah Badai". HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi Sikap Emosional dan Spiritualitas Jemaat Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menunjukkan adanya perubahan yang nyata pada kondisi emosional dan kerohanian jemaat yang mengikuti pelayanan rohani online ini. Sebagian besar peserta menunjukkan kecenderungan sikap Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 pasif, sebelum jemaat mengikuti program ini, murung serta menarik diri dari kehidupan sosial gereja. Kondisi ini terjadi karena penyakit kronis yang berkepanjangan, yang secara tidak langsung memutus relasi sosial mereka dengan komunitas jemaat lainnya. Fenomena seperti ini disebut sebagai isolasi spiritual, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami keterpisahan dari komunitas jemaat sehingga kehilangan dukungan sosial dan spiritual yang seharusnya diperoleh dari kehidupan berjemaat. Penelitian Neil Pembroke menjelaskan bahwa keterpisahan dari komunitas iman dapat menyebabkan penurunan kesejahteraan spiritual dan meningkatnya perasaan kesepian rohani, terutama pada jemaat yang mengalami penderitaan fisik atau suatu penyakit kronis. Sebab itu dukungan komunitas jemaat berfungsi sebagai mekanisme penting dalam menjaga stabilitas emosi dan harapan rohani seseorang dalam menghadapi penderitaan (Pembroke, 2. Pelayanan pastoral yang mampu menjangkau individu yang mengalami keterbatasan mobilitas menjadi sangat penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan rohani jemaat. Selain itu keadaan isolasi rohani seperti ini yang dialami jemaat dengan penyakit kronis, juga memiliki dampak psikologis yang cukup kompleks. Jemaat yang tidak lagi terlibat dalam kehidupan komunitas jemaat sering mengalami penurunan rasa memiliki terhadap komunitas iman, serta merasa dirinya tidak lagi berguna bagi kehidupan gereja. Park dan Slattery dalam penelitiannya menjelaskan bahwa keterlibatan dalam komunitas keagamaan secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan emosional dan ketahanan tohani jemaat yang sedang mengalami penderitaan kesehatan jangka panjang (C. Park & Slattery, 2025, pp. 2444Ae2. Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan komunitas iman mampu memberikan makna baru terhadap pengalaman penderitaan serta membantu individu mempertahankan harapan hidup. Oleh sebab itu absennya jemaat dari kehidupan komunitas gereja dalam jangka waktu lama berpotensi menimbulkan kerentanan spiritual yang memerlukan intervensi pastoral yang kontekstual dan adaptif. Setelah mengikuti persekutuan rohani secara rutin melalui platform Zoom Meeting, perubahan sikap peserta mulai terlihat secara bertahap. Jemaat yang sebelumnya cenderung diam dan pasif mulai menunjukkan ekspresi sukacita serta keterlibatan aktif dalam setiap sesi ibadah. Beberapa peserta bahkan mulai menantikan jadwal pertemuan berikutnya sebagai momen penting dalam kehidupan spiritual mereka. Perubahan ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral tidak selalu harus berlangsung dalam ruang fisik untuk menghasilkan dampak spiritual yang signifikan. Penelitian mengenai pelayanan gereja digital yang dilakukan oleh Campbell dan Tsuria menjelaskan bahwa teknologi digital telah menciptakan bentuk baru dari praktik keagamaan yang memungkinkan komunitas iman tetap terhubung meskipun berada dalam ruang yang terpisah secara Ruang digital dapat menjadi ruang religius yang autentik ketika interaksi yang terjadi di dalamnya tetap mempertahankan unsur relasional, partisipatif, dan spiritual (Campbell & Tsuria, 2021, p. Dengan demikian, penggunaan media digital dalam pelayanan pastoral dapat memperluas dimensi kehadiran gereja bagi jemaat yang tidak mampu hadir secara fisik dalam ibadah. Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. Perubahan sikap emosional yang terjadi pada peserta kegiatan PkM juga menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam komunitas iman memiliki peran penting dalam proses pemulihan kondisi rohani seseorang. Relasi pada komunitas jemaat digital merupakan sarana penting, karena melaluinya kasih Allah dapat dialami secara nyata oleh jemaat yang mengikuti pelayanan daring ini. Ketika jemaat yang sakit tetap dapat berinteraksi dengan komunitas gereja melalui pelayanan daring, mereka tidak lagi merasa sendirian dalam pergumulan hidup yang mereka alami. Hutchings dalam penelitianya menjelaskan bahwa komunitas gereja yang memanfaatkan teknologi digital mampu membangun relasi spiritual yang tetap bermakna bagi jemaat yang berada dalam situasi keterbatasan. Komunikasi digital yang interaktif dapat menciptakan pengalaman kebersamaan spiritual yang mirip dengan pertemuan fisik apabila dikelola dengan pendekatan pastoral yang empatik dan partisipatif (Hutchings, 2. Temuan PkM ini juga menunjukkan bahwa kehadiran pelayanan pastoral daring memberikan ruang bagi jemaat untuk mengalami kembali rasa dimiliki oleh komunitas Perasaan diterima dan diperhatikan oleh komunitas iman merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesejahteraan spiritual seseorang. Koenig mengatakan bahwa dukungan spiritual dari komunitas keagamaan memiliki korelasi yang kuat dengan peningkatan kesehatan mental dan kualitas hidup individu yang mengalami penyakit kronis. Praktik keagamaan yang melibatkan interaksi sosial dan dukungan komunitas mampu meningkatkan rasa pengharapan serta mengurangi tingkat depresi pada pasien dengan kondisi kesehatan jangka panjang (Koenig, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral daring tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga terhadap kesejahteraan psikologis jemaat. Perubahan sikap yang terjadi pada peserta juga menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak selalu bergantung pada keberadaan ruang ibadah fisik. Teknologi digital memungkinkan gereja menghadirkan bentuk baru dari praktik persekutuan yang tetap bermakna secara teologis. Campbell dan Tsuria menjelaskan bahwa komunitas religius yang memanfaatkan teknologi digital dapat membentuk ruang spiritual baru yang memungkinkan umat beriman mengalami kehadiran religius meskipun berada dalam lingkungan virtual. Pengalaman religius dalam ruang digital tetap dapat menghadirkan rasa kebersamaan spiritual ketika ibadah dilakukan secara interaktif dan partisipatif (Campbell & Tsuria, 2021, p. Hal ini sejalan dengan temuan dalam kegiatan PKM ini yang menunjukkan bahwa jemaat tetap mampu mengalami sukacita dan keterlibatan emosional meskipun ibadah dilakukan secara daring. Transformasi dalam sikap emosional dan kerohanian yang dialami oleh peserta kegiatan PKM ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral digital dapat menjadi strategi pelayanan gereja yang relevan di era perkembangan teknologi yang semakin cepat dan Pelayanan daring tidak hanya menjadi solusi kongkret sementara bagi jemaat yang mengalami keterbatasan mobilitas yang secara fisik sulit untuk datang ke gereja, namun pelayanan daring juga dapat menjadi bentuk pelayanan pastoral yang mampu menjangkau kelompok jemaat yang selama ini terpinggirkan secara fisik. Ketika pelayanan digital dirancang secara interaktif, empatik, dan berbasis relasi komunitas, ruang digital dapat berfungsi sebagai sarana pastoral yang efektif dalam memulihkan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 kesejahteraan spiritual jemaat. Temuan ini memperkuat temuan bahwa gereja pada masa kini perlu terus fokus untuk mengembangkan model pelayanan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sehingga gereja tetap mampu menjangkau seluruh anggota tubuh Kristus tanpa terkecuali. Gamba 1: Sedang Menyampaikan Sharing Firman Meningkatnya Partisipasi dan Kerinduan Bersekutu Temuan PkM menunjukkan bahwa partisipasi jemaat dalam persekutuan rohani daring mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama pelaksanaan kegiatan PKM. Konsistensi kehadiran peserta dalam setiap sesi ibadah daring menunjukkan bahwa pelayanan ini tidak hanya dipandang sebagai alternatif sementara, tetapi mulai menjadi bagian dari kebutuhan spiritual mereka. Dalam kajian pastoral kontemporer, tingkat partisipasi jemaat merupakan indikator penting yang menunjukkan keberhasilan suatu program pelayanan gereja. Partisipasi yang tinggi menandakan adanya keterlibatan emosional, spiritual, dan sosial dari jemaat dalam kehidupan komunitas iman. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan daring mampu menjembatani keterbatasan fisik yang dialami oleh jemaat sehingga mereka tetap dapat mengalami persekutuan dengan komunitas gereja. Dengan demikian, keberhasilan pelayanan pastoral tidak hanya diukur dari kehadiran fisik jemaat di gereja, tetapi juga dari kemampuan gereja menciptakan ruang persekutuan yang inklusif bagi semua anggota jemaat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas. Fenomena meningkatnya partisipasi jemaat dalam ibadah daring juga menunjukkan adanya kerinduan spiritual yang kuat di tengah keterbatasan kondisi fisik yang mereka Beberapa peserta secara terbuka menyatakan bahwa mereka merasakan Aukehausan rohaniAy setelah sekian lama tidak dapat mengikuti ibadah secara langsung di Kehadiran persekutuan daring memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali mengalami suasana ibadah dan relasi komunitas iman yang sebelumnya sulit mereka akses. Dalam kajian teologi pastoral, kebutuhan akan persekutuan merupakan salah satu kebutuhan spiritual mendasar dalam kehidupan orang percaya. Gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang komunitas yang memungkinkan jemaat saling menguatkan dalam iman. Oleh karena itu, ketika jemaat yang sakit tetap dapat berpartisipasi dalam ibadah melalui media digital, mereka tetap dapat merasakan kehadiran komunitas iman yang memberi dukungan spiritual dalam kehidupan mereka. Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. Temuan ini sejalan dengan pemikiran Isetti dan Pechlaner dalam penelitiannya yang menegaskan bahwa penggunaan media digital dalam pelayanan gereja telah menciptakan bentuk baru keterlibatan jemaat dalam kehidupan komunitas jemaat. Melalui platform digital, jemaat yang sebelumnya tidak dapat menghadiri ibadah secara fisik tetap dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan pastoral dan persekutuan gereja (Isetti et al. , 2. Penelitian ini juga menegaskan bahwa digitalisasi pelayanan gereja bukan sekadar respons terhadap situasi krisis, tetapi telah menjadi bagian dari praktik pastoral yang berkelanjutan dalam kehidupan gereja modern. Selain meningkatkan partisipasi jemaat secara individual, pelayanan rohani daring juga menunjukkan dampak yang lebih luas dalam lingkup keluarga peserta. Dalam beberapa pertemuan ibadah daring, peserta mulai mengajak anggota keluarga yang tinggal serumah untuk ikut bergabung dalam persekutuan tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral digital tidak hanya menjangkau individu, tetapi juga memiliki potensi memperluas pengaruh spiritual ke dalam kehidupan keluarga. Ketika ibadah dilakukan dari rumah, anggota keluarga secara tidak langsung menjadi bagian dari komunitas iman yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital mampu menciptakan bentuk baru dari komunitas iman yang melampaui ruang fisik gereja. Penelitian Kairupan dan Kahingide menegaskan bahwa pemanfaatan internet dan media digital dalam pelayanan pastoral mampu memperluas jangkauan pelayanan gereja serta menciptakan ruang partisipatif bagi jemaat untuk berbagi pengalaman iman. Media digital memungkinkan jemaat untuk tetap terhubung dengan komunitas gereja meskipun tidak berada dalam satu lokasi fisik (Kairupan et al. , 2. Sebab itu teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan komunitas iman yang baru di era digital. Keterlibatan keluarga dalam ibadah daring juga menciptakan dinamika spiritual baru dalam kehidupan rumah tangga. Ketika ibadah dilakukan dari rumah, anggota keluarga memiliki kesempatan untuk mengalami kebersamaan rohani yang lebih intens dibandingkan dengan ketika mereka hanya mengikuti ibadah di gereja secara individu. Suasana ibadah di rumah memungkinkan terjadinya interaksi spiritual yang lebih personal antara anggota keluarga, seperti berdoa bersama, berdiskusi tentang firman Tuhan, serta saling menguatkan dalam iman. Jadi pelayanan daring yang melibatkan keluarga secara tidak langsung berkontribusi dalam memperkuat spiritualitas keluarga sebagai komunitas iman yang hidup. Peningkatan partisipasi jemaat dalam pelayanan daring juga menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak selalu hanya bergantung pada kehadiran secara fisik dalam ruang gereja. Pasaribu menjelaskan bahwa pengalaman sakral pada ibadah daring tetap dapat terjadi ketika jemaat mengalami perjumpaan spiritual dengan Tuhan melalui media Efektivitas ibadah daring tidak ditentukan oleh ruang fisik, tetapi oleh bagaimana media digital mampu memfasilitasi pengalaman iman yang autentik bagi jemaat (Waruwu et al. , 2. Ibadah daring dapat dipahami sebagai bentuk baru dari ruang sakral yang memungkinkan perjumpaan spiritual antara manusia dan Tuhan dalam konteks dunia Jadi temuan PkM ini memperlihatkan bahwa pelayanan rohani daring memiliki potensi besar dalam meningkatkan partisipasi jemaat dan memperkuat kerinduan mereka untuk bersekutu dalam komunitas iman. Kehadiran teknologi digital Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 memungkinkan gereja untuk menjangkau jemaat yang sebelumnya terpinggirkan karena keterbatasan fisik, sehingga mereka tetap dapat mengalami persekutuan dan pertumbuhan iman. Selain itu, pelayanan daring juga membuka peluang baru bagi gereja untuk memperluas jangkauan pelayanan hingga ke dalam kehidupan keluarga. Dengan demikian, pelayanan pastoral digital tidak hanya menjadi solusi praktis dalam situasi tertentu, tetapi juga dapat menjadi strategi pelayanan gereja yang relevan dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat di era digital. Gambar 2 Sharing Permasalahan Hidup Rekonstruksi Pemahaman Teologis tentang Penderitaan Pada PkM ini diperoleh informasi bahwa kegiatan rohani virtual yang dilakukan secara terstruktur, mampu mengubah cara jemaat memahami penderitaan yang dialami. Sebelum mengikuti program pelayanan daring, sebagian peserta memiliki pandangan teologis yang cenderung negatif terhadap pengalaman sakit yang mereka alami. Penyakit sering ditafsirkan sebagai hukuman dari Tuhan atau sebagai tanda bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Pemahaman teologis yang keliru seperti ini sering kali memunculkan rasa bersalah, ketakutan, bahkan keputusasaan dalam kehidupan iman Keadaan jemaat yang mengalami konflik antara pengalaman hidup yang sulit dengan keyakinan iman yang mereka miliki disebut fenomena existential spiritual Jika tidak ditangani secara pastoral, kondisi ini dapat memperburuk kesejahteraan emosional dan spiritual jemaat, khususnya bagi mereka yang sedang menghadapi penyakit kronis atau keterbatasan fisik. Peserta mulai mengalami proses pemahaman ulang terhadap makna penderitaan dalam kehidupan iman, ketika mendengarkan firman Tuhan yang disampaikan secara konsisten dalam setiap pertemuan daring. Firman Tuhan yang disampaikan tidak hanya berfungsi sebagai pengajaran doktrinal, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual yang membantu peserta menafsirkan kembali pengalaman hidup mereka. Penelitian di bidang pastoral care menunjukkan bahwa proses rekonstruksi makna spiritual dapat membantu individu mengembangkan ketahanan spiritual dalam menghadapi situasi kehidupan yang Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. sulit (Gidion, 2. Proses ini memungkinkan individu melihat penderitaan bukan hanya sebagai pengalaman negatif, tetapi sebagai bagian dari perjalanan iman yang dapat memperdalam relasi dengan Tuhan. Pemaknaan ulang terhadap penderitaan merupakan salah satu fungsi penting pelayanan pastoral. Neil Pembroke mengatakan bahwa pelayanan pastoral bertujuan membantu jemaat yang sedang mengalami krisis kerohanian dalam menafsirkan kembali pengalaman hidup mereka melalui perspektif iman Alkitabiah. Proses pembentukan kedewasaan rohani sering kali terjadi justru melalui pengalaman penderitaan, karena dari situasi itulah seseorang belajar mempercayakan hidupnya kepada pemeliharaan Allah (Pembroke, 2025, p. Penderitaan perlu dipahami bukan sebagai hukuman ilahi, tetapi sebagai ruang di mana pertumbuhan iman dapat terjadi melalui relasi yang lebih dalam dengan Tuhan. Proses rekonstruksi makna penderitaan juga berkaitan dengan aspek emosional dalam kehidupan iman. Tjernys dkk menjelaskan bahwa emosi memiliki peran penting dalam proses pastoral care. Individu yang mengalami penderitaan sering kali memerlukan ruang pelayanan pastoral yang aman untuk mengekspresikan emosi mereka, seperti kesedihan, kemarahan, atau kebingungan spiritual (Tjernys et al. , 2. Melalui pendampingan pastoral yang empatik, emosi dapat ditransformasikan menjadi pengalaman spiritual yang lebih konstruktif. Sebab itu pelayanan pastoral yang efektif tidak hanya memberikan jawaban teologis, tetapi memberikan ruang untuk mengolah pengalaman emosional mereka dalam terang iman. PkM ini menghasilkan temuan yang menjelaskan bahwa tema-tema firman yang disampaikan selama kegiatan pelayanan memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi kehidupan peserta. Topik seperti AuBerjalan Bersama Anugerah TuhanAy dan AuIman yang Kokoh di Tengah BadaiAy membantu jemaat memahami bahwa kasih Tuhan tidak bergantung pada kondisi fisik manusia. Tema-tema tersebut memberikan kerangka teologis yang menegaskan bahwa penderitaan tidak memutus relasi antara manusia dengan Tuhan. Penderitaan sebenarnya dapat menjadi ruang untuk iman diperbaharui melalui pengharapan kepada karya Allah. Pemahaman ini membantu jemaat memandang penderitaan sebagai bagian dari perjalanan iman dalam pemeliharaan Tuhan. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa rekonstruksi makna rohani dapat meningkatkan ketahanan mental dan spiritual jemaat dalam menghadapi penderitaan. Nwafor dan Vandenhoeck mengatakan bahwa praktik pastoral yang membantu individu menemukan makna spiritual dalam pengalaman hidupnya dapat meningkatkan ketahanan psikologis dan memperkuat tujuan hidup. Komunitas iman memiliki peran penting dalam membantu individu memahami kembali makna penderitaan melalui narasi iman yang memberi pengharapan (Nwafor & Vandenhoeck, 2. Jadi penting sekali dukungan komunitas gereja, sebagai faktor penting dalam proses pemulihan spiritual jemaat yang sedang mengalami penderitaan. Selain itu perubahan pemahaman teologis yang terjadi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral daring memiliki fungsi formatif dalam kehidupan jemaat. Pelayanan firman yang disampaikan secara kontekstual tidak hanya menambah pengetahuan teologis, tetapi juga membentuk cara pandang iman yang lebih dewasa terhadap realitas kehidupan. Jemaat belajar memahami bahwa penderitaan dapat dimaknai dalam relasi iman dengan Tuhan. Jadi pelayanan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 pastoral daring berhasil menjadi ruang pembelajaran spiritual yang membantu jemaat menafsirkan kembali pengalaman penderitaan mereka dalam terang kasih Tuhan. Terbentuknya Relasi Pastoral dalam Ruang Digital Respons dan testimoni peserta dalam kegiatan pelayanan rohani daring ini menunjukkan bahwa kehadiran gereja melalui media digital mampu membangun relasi pastoral yang bermakna bagi jemaat yang mengalami keterbatasan mobilitas. Banyak peserta menyatakan bahwa mereka tetap merasa diperhatikan dan didampingi oleh gereja, meskipun mereka tidak hadir secara fisik dalam ibadah gereja. Perasaan diperhatikan tersebut memiliki dampak psikologis yang penting karena mampu mengurangi rasa kesepian yang sering dialami oleh penderita penyakit kronis maupun lansia yang hidup dengan keterbatasan aktivitas sosial. Neil Pembroke mengatakan bahwa pelayanan pastoral yang efektif tidak hanya berfokus pada penyampaian ajaran iman, tetapi juga pada pembentukan relasi empatik yang mampu meneguhkan identitas rohani seseorang di tengah penderitaan. Jadi relasi pastoral yang terbentuk melalui pelayanan daring dapat berfungsi sebagai sarana pemulihan kerohanian bagi jemaat yang sedang mengalami isolasi sosial. Temuan PkM ini juga menunjukkan bahwa pelayanan rohani yang dilakukan melalui platform digital, tetap mampu menghadirkan pengalaman rohani yang autentik bagi Antusiasme jemaat terlihat secara jelas dalam sesi pujian dan penyembahan selama ibadah daring berlangsung. Meskipun ibadah dilakukan melalui media digital, para peserta tetap terlibat secara emosional dalam menyanyikan lagu pujian, menaikkan doa, serta merespons firman Tuhan yang disampaikan. Keterlibatan emosional ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak semata-mata bergantung pada kehadiran fisik dalam ruang ibadah, tetapi juga pada kualitas relasi dan kehangatan suasana rohani yang tercipta dalam persekutuan tersebut. Campbel dan Tsuria mengatakan bahwa teknologi komunikasi dapat menjadi sarana yang efektif untuk memediasi pengalaman religius dan membangun keterhubungan spiritual di antara anggota komunitas iman (Campbell & Tsuria, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa ruang digital dapat menjadi medium baru bagi gereja untuk menghadirkan pengalaman spiritual yang relevan bagi jemaat masa kini. Peserta juga menunjukkan tingkat keterbukaan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, hal ini terlihat pada sesi sharing dan konseling. Pada awal pertemuan sebagian peserta masih menunjukkan sikap ragu dan cenderung pasif dalam menyampaikan pergumulan hidup mereka. Berjalannya waktu suasana persekutuan semakin hangat dan penuh empati, sehingga jemaat mulai berbagi pengalaman pribadi, pergumulan iman, serta kebutuhan doa secara lebih terbuka. Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa aman emosional yang terbentuk dalam komunitas merupakan faktor penting dalam mendorong keterbukaan individu. Rodrigo mengatakan bahwa kehadiran relasi yang empatik dan suportif dalam pelayanan pastoral dapat meningkatkan rasa percaya diri seseorang untuk mengekspresikan pengalaman emosional yang selama ini terpendam (Rodrigo, 2. Sebab itu keberhasilan pelayanan daring ini tidak hanya Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. terletak pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada pendekatan pastoral yang mampu menciptakan lingkungan relasional yang aman. Hubungan akrab yang terbentuk dalam ruang digital, memperlihatkan bahwa komunikasi yang empatik dapat melampaui keterbatasan ruang fisik. Pada gereja tradisional, relasi pastoral sering kali diasosiasikan dengan pertemuan tatap muka secara langsung antara pelayan dan jemaat. Perkembangan teknologi komunikasi telah membuka kemungkinan baru bagi gereja untuk membangun relasi pastoral melalui media digital. Hutchings mengatakan bahwa praktik pelayanan gereja secara daring selama beberapa tahun terakhir telah mengubah cara komunitas iman membangun relasi pastoral, di mana interaksi digital dapat menciptakan rasa kedekatan spiritual meskipun tidak terjadi pertemuan fisik secara langsung (Hutchings, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral digital dapat menjadi bentuk adaptasi gereja dalam merespons perubahan sosial dan teknologi di era modern. Pelayanan daring juga berperan dalam memperkuat relasi antarjemaat di dalam komunitas persekutuan. Peserta mulai saling memberikan dukungan doa, berbagi pengalaman hidup, serta menyampaikan kata-kata penguatan kepada sesama anggota Interaksi ini menciptakan ikatan rohani yang memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari komunitas jemaat yang saling menopang. Chye dan Huan mengatakan bahwa komunitas keagamaan yang memanfaatkan teknologi digital secara aktif cenderung memiliki manfaat positif yang lebih tinggi, karena interaksi digital memungkinkan anggota komunitas tetap terhubung meskipun berada dalam kondisi yang berbeda secara geografis maupun fisik (Chye & Huan, 2. Jadi ruang digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang komunitas yang memperkuat relasi sosial dan spiritual jemaat. Temuan ini memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral digital dapat menjadi bentuk pelayanan inklusif yang menjangkau jemaat yang selama ini terpinggirkan karena kondisi kesehatan atau keterbatasan Banyak gereja secara tidak sadar hanya berfokus pada jemaat yang mampu hadir secara fisik dalam kegiatan ibadah dan pelayanan gereja. Padahal terdapat kelompok jemaat yang tidak terlibat secara aktif karena fisik yang membatasi mereka. Pelayanan daring memberikan kesempatan baru bagi gereja untuk menjangkau kelompok jemaat yang sebelumnya sulit dilibatkan dalam kehidupan komunitas iman. Degei menyatakan bahwa penggunaan teknologi digital dalam pelayanan pastoral mampu meningkatkan aksesibilitas pelayanan gereja bagi jemaat yang memiliki keterbatasan fisik atau tinggal jauh dari pusat kegiatan gereja (Degei, 2. Hasil PkM ini menunjukkan bahwa relasi pastoral dalam ruang digital bukan sekadar alternatif sementara, melainkan dapat menjadi bagian penting dari strategi pelayanan gereja di era Melalui pendekatan pastoral yang empatik, komunikasi yang terbuka, serta penggunaan teknologi yang tepat, ruang digital berfungsi sebagai ruang persekutuan yang aman bagi jemaat untuk mengalami dukungan emosional, penguatan iman, serta kehadiran komunitas gereja dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, pelayanan pastoral digital tidak hanya menjawab kebutuhan praktis jemaat yang memiliki keterbatasan mobilitas, tetapi juga memperluas pemahaman gereja mengenai bagaimana relasi pastoral dapat dibangun dalam konteks masyarakat digital yang terus berkembang. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Gambar 3 Saling Memberikan Motivasi Integrasi Pelayanan Rohani dan Pelayanan Sosial Pelaksanaan kegiatan PkM ini memperlihatkan bahwa pelayanan gereja yang efektif tidak hanya berfokus pada hal-hal rohani semata, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial jemaat secara nyata. Tim pelayanan PkM juga memberikan bantuan sosial berupa paket sembako dan multivitamin kepada keluarga peserta yang mengalami keterbatasan ekonomi akibat kondisi kesehatan yang mereka alami. Langkah ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja dipahami sebagai pelayanan yang menyentuh kebutuhan jemaat secara Pelayanan gereja yang responsif terhadap kebutuhan sosial jemaat merupakan wujud nyata dari kasih Kristus yang dinyatakan melalui tindakan konkret kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan hidup. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pelayanan rohani dan pelayanan sosial tidak dapat dipisahkan, melainkan saling melengkapi dalam membangun jemaat secara menyeluruh. Bantuan sosial yang diberikan memiliki makna yang jauh lebih dalam, dibandingkan sekadar dukungan materi. Banyak peserta mengungkapkan rasa haru dan syukur karena merasa tidak dilupakan oleh gereja meskipun mereka sudah lama tidak dapat hadir dalam ibadah secara fisik. Kehadiran tim pelayanan PkM yang datang mengunjungi rumah mereka, memberikan pengalaman pastoral yang sangat bermakna. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelayanan pastoral tidak hanya terjadi dalam ruang ibadah, tetapi juga melalui tindakan kasih yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Park mengatakan bahwa dukungan sosial yang diberikan oleh komunitas orang percaya, memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis dan spiritual individu yang sedang menghadapi penyakit kronis. Keterlibatan komunitas iman dalam memberikan bantuan sosial mampu mengurangi rasa kesepian serta meningkatkan rasa memiliki terhadap komunitas gereja (S. Park, 2. Pelayanan yang mengintegrasikan aspek spiritual dan sosial dikenal sebagai pendekatan pastoral holistik, pelayanan ini memperhatikan jemaat secara menyeluruh, yaitu mencakup dimensi spiritual, emosional, sosial, dan bahkan ekonomi. Pelayanan pastoral yang holistik bertujuan membangun kesejahteraan manusia secara integral Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. melalui relasi empatik, dukungan komunitas, serta tindakan nyata yang menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan hidup seseorang. Neil Pembroke menjelaskan bahwa pelayanan gereja yang hanya berfokus pada dimensi spiritual tanpa memperhatikan kondisi sosial jemaat sering kali tidak mampu menjawab pergumulan nyata yang dihadapi oleh anggota jemaat (Pembroke, 2. Jadi integrasi pelayanan rohani dan pelayanan sosial merupakan bentuk pelayanan yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan jemaat masa kini. Pelayanan digital yang disertai dengan aksi sosial nyata mampu menciptakan pengalaman komunitas yang lebih kuat bagi anggota jemaat, karena mereka tidak hanya menerima pengajaran rohani tetapi juga merasakan dukungan praktis dalam kehidupan. Integrasi antara pelayanan rohani dan pelayanan sosial dapat memperkuat kebermaknaan pelayanan gereja bagi jemaat. Dukungan sosial yang diberikan oleh gereja memiliki dampak yang amat penting pada kesehatan mental dan kerohanian jemaat. Jemaat yang sedang mengalami penyakit kronis dan juga keterbatasan fisik uantuk hadir beribadah di gereja, sering kali menghadapi tekanan psikologis berupa kecemasan, kesepian, serta rasa tidak berdaya terhadap kondisi hidup yang sedang mereka alami. Dukungan sosial dari komunitas sesama jemaat dapat menjadi sumber kekuatan, yang membantu mereka untuk dapat tetap memiliki pengharapan dalam menjalani pergumulan kehidupan. Edwards dkk dalam penelitiannya mengatakan bahwa jemaat yang menerima dukungan sosial dari komunitas gereja, cenderung memiliki tingkat ketahanan psikologis yang lebih tinggi, serta kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup. Komunitas jemaat dapat berfungsi sebagai jaringan dukungan sosial gereja, yang membantu meningkatkan kualitas hidup jemaat yang sedang mengalami kesulitan kesehatan (Edwards et al. , 2. Pelayanan sosial yang dilakukan gereja juga berperan dalam memperkuat identitas komunitas iman. Ketika jemaat melihat bahwa gereja hadir secara nyata dalam menolong mereka yang membutuhkan, maka kepercayaan dan keterikatan mereka terhadap komunitas gereja akan semakin kuat. Simorangkir dkk dalam penelitiannya mengatakan bahwa pelayanan gereja yang memadukan pelayanan rohani dengan tindakan sosial nyata mampu meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota jemaat. Pelayanan sosial gereja tidak hanya berfungsi sebagai bantuan praktis, tetapi juga sebagai sarana membangun relasi komunitas yang lebih kuat dan saling peduli (Simorangkir et , 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pelayanan rohani dan pelayanan sosial merupakan strategi pelayanan gereja yang sangat relevan dalam menjangkau jemaat yang memiliki keterbatasan mobilitas maupun kondisi kesehatan yang lemah. Pelayanan rohani yang dilakukan secara daring memberikan penguatan iman dan pengharapan spiritual bagi jemaat, sementara pelayanan sosial yang bersifat kontekstual menunjukkan wujud nyata kasih dan kepedulian gereja terhadap kehidupan Kombinasi kedua pendekatan ini tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan spiritual jemaat, tetapi juga memperkuat relasi komunitas serta membangun rasa kebersamaan dalam tubuh Kristus. Dengan demikian, model pelayanan yang mengintegrasikan aspek spiritual dan sosial seperti yang dilakukan dalam kegiatan PKM ini dapat menjadi contoh praktik pelayanan gereja yang kontekstual, inklusif, dan relevan bagi kebutuhan jemaat di era digital saat ini. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 KESIMPULAN Kegiatan PkM ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan pastoral yang semakin relevan secara global, yaitu bagaimana gereja tetap dapat menghadirkan pendampingan rohani yang bermakna bagi jemaat yang terisolasi karena penyakit kronis dan keterbatasan mobilitas yang tidak dapat hadir secara fisik di gereja. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa implementasi model pelayanan rohani interaktif berbasis daring mampu memulihkan keterhubungan emosional, sosial, dan spiritual para peserta yang sebelumnya mengalami isolasi rohani dari kehidupan komunitas gereja. Melalui persekutuan digital yang berlangsung secara konsisten, peserta secara bertahap mengalami transformasi dari sikap pasif dan menarik diri menjadi lebih terbuka, aktif, serta kembali merasakan sukacita dalam kehidupan iman. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa ruang ibadah digital mampu memperkuat relasi pastoral, meningkatkan kerinduan jemaat untuk bersekutu, serta menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap komunitas gereja. Selain itu, pelayanan firman yang disampaikan secara kontekstual dalam pertemuan daring membantu jemaat merekonstruksi pemahaman teologis mereka tentang penderitaan, sehingga pengalaman sakit tidak lagi dipahami sebagai bentuk hukuman Allah, melainkan sebagai bagian dari perjalanan iman yang membangun kedewasaan iman. Integrasi pelayanan rohani dengan dukungan sosial yang nyata semakin memperkuat pengalaman jemaat bahwa gereja tetap hadir dan peduli terhadap kehidupan mereka. Jadi tujuan utama dari PkM ini yaitu untuk mengembangkan dan mengimplementasikan model pelayanan pastoral daring yang mampu memelihara kehidupan rohani jemaat dengan keterbatasan mobilitas dapat dikatakan telah tercapai secara komprehensif. Lebih dari sekadar program pelayanan praktis. PkM ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan wacana global mengenai pelayanan gereja di era digital dengan menunjukkan bahwa kehadiran pastoral, pembentukan spiritualitas, dan relasi komunitas iman dapat dimediasi secara autentik melalui ruang digital yang dirancang secara relasional dan partisipatif. Nilai kebaruan dari PkM ini terletak pada model pelayanan yang integratif, yang memadukan ibadah daring interaktif, pendampingan pastoral empatik, refleksi teologis mengenai penderitaan, serta tindakan sosial konkret sebagai satu kesatuan pelayanan yang holistik. Temuan ini memperluas perspektif teori mengenai digital religion dengan menegaskan bahwa pelayanan daring tidak sekadar menjadi alternatif teknologis, tetapi dapat berkembang menjadi ekosistem pastoral baru yang memperluas cara gereja membangun solidaritas iman, ketahanan spiritual, dan rasa kebersamaan bagi jemaat yang terpinggirkan secara fisik. Secara praktis. PkM ini merekomendasikan agar gereja secara strategis mengintegrasikan model pelayanan Pelayanan Rohani Daring A (Gidion. Tambuna. pastoral hibrida yang memadukan ruang digital dengan pendampingan pastoral langsung serta pelayanan sosial kontekstual, khususnya bagi jemaat yang menghadapi keterbatasan kesehatan dan mobilitas jangka panjang. Pada akhirnya. PkM ini menegaskan sebuah refleksi penting bagi masa depan pelayanan gereja: ketika teknologi, empati pastoral, dan kasih komunitas bertemu dalam visi pelayanan yang inklusif, maka batas-batas fisik gereja tidak lagi membatasi kehadiran kasih Kristus yang mampu menjangkau bahkan mereka yang paling tersembunyi dalam pergumulan hidupnya. DAFTAR PUSTAKA