TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. eISSN 3089-2. https://ejournal. org/index. php/teras Model Intervensi Edukasi Anti-Scam Berbasis Simulasi Kasus Nyata untuk Meningkatkan Literasi Keamanan Digital pada Masyarakat Usia Produktif Damar Reksanata Wibisono a,1,*. Luh Cempaka Arindrayani b,2. Fajar Maheswara Putratama c,3 a Program Studi Sistem Informasi. Universitas Teknologi Nusantara. Denpasar. Indonesia b Program Studi Ilmu Komunikasi. Institut Sosial Digital Bali. Denpasar. Indonesia c Program Studi Keamanan Siber. Politeknik Digital Indonesia. Surabaya. Indonesia 1 damar. reksanataw@gmail. 2 luhcempaka. arin@gmail. 3 mahes. putratama@gmail. *Corresponding Author ABSTRACT Penipuan digital . merupakan ancaman keamanan siber yang terus meningkat dan berdampak signifikan pada masyarakat usia produktif. Penelitian pengabdian masyarakat ini merancang dan menguji model intervensi edukasi anti-scam berbasis simulasi kasus nyata sebagai upaya meningkatkan literasi keamanan digital. Kegiatan dilaksanakan terhadap 45 peserta usia produktif . -55 tahu. di lingkungan komunitas perkotaan melalui tiga tahapan: asesmen awal, pelatihan simulasi interaktif, dan evaluasi pascaintervensi. Model intervensi mengintegrasikan skenario penipuan aktual seperti phishing, social engineering, love scam, dan penipuan pinjaman online ke dalam modul simulasi terstruktur. Instrumen pengukuran menggunakan kuesioner literasi keamanan digital tervalidasi dengan skala Likert. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan skor literasi keamanan digital rata-rata sebesar 34,7% pascaintervensi, dengan peningkatan tertinggi pada dimensi identifikasi ancaman . ,2%) dan respons terhadap insiden siber . ,6%). Peserta juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam mengenali indikator penipuan digital secara mandiri. Model intervensi berbasis simulasi terbukti efektif meningkatkan kesadaran dan keterampilan praktis keamanan digital pada masyarakat usia produktif dan berpotensi diadopsi dalam program literasi digital komunitas yang lebih luas. Article History Received 2026-02-15 Revised 2026-03-19 Accepted 2026-05-12 Keywords Literasi Keamanan Digital. Anti-Scam. Simulasi Kasus Nyata. Intervensi Edukasi. Masyarakat Usia Produktif Copyright A 2026. The Author. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license PENDAHULUAN Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam satu dekade terakhir telah mengubah pola interaksi sosial, ekonomi, dan komunikasi masyarakat secara fundamental. Kemudahan akses internet dan proliferasi perangkat pintar menciptakan ekosistem digital yang membuka peluang sekaligus memunculkan risiko baru dalam bentuk kejahatan siber. Salah satu bentuk kejahatan siber yang paling meresahkan dan terus mengalami pertumbuhan adalah penipuan digital atau scam. Penipuan digital tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan bagi korban, termasuk hilangnya kepercayaan terhadap layanan digital dan isolasi sosial (Carter, 2. Kondisi ini menuntut respons sistematis dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk melalui program edukasi berbasis komunitas yang dirancang secara ilmiah dan terukur. Secara global, kerugian akibat penipuan digital terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ribuan laporan insiden siber setiap tahunnya, dengan penipuan berbasis rekayasa sosial . ocial engineerin. mendominasi jenis ancaman yang dilaporkan. Fenomena ini tidak terbatas pada satu kelompok demografis Masyarakat usia produktif, yakni mereka yang berada pada rentang usia 18 hingga 55 tahun, justru menjadi kelompok yang paling rentan karena intensitas interaksi digital yang tinggi dalam aktivitas pekerjaan, perbankan, dan komunikasi sehari-hari. Kerentanan ini diperparah oleh kesenjangan antara tingginya frekuensi penggunaan teknologi digital dengan How to cite: Wibisono. Arindrayani. , & Putratama. Model Intervensi Edukasi Anti-Scam Berbasis Simulasi Kasus Nyata untuk Meningkatkan Literasi Keamanan Digital pada Masyarakat Usia Produktif. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya, 2. , 41-49. https://doi. org/10. 71094/teras. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 rendahnya pemahaman tentang keamanan siber secara praktis (Figshare, 2. Literasi keamanan digital yang memadai bukan sekadar pengetahuan konseptual, melainkan kemampuan operasional untuk mengenali, mencegah, dan merespons ancaman siber secara mandiri dan tepat waktu. Berbagai jenis penipuan digital telah berkembang dengan tingkat sofistikasi yang semakin Phishing, smishing, vishing, love scam, penipuan investasi bodong, dan penipuan pinjaman online merupakan modus yang paling sering dijumpai oleh masyarakat Indonesia. Setiap modus operandi tersebut memanfaatkan kelemahan psikologis korban, termasuk rasa percaya, urgensi, dan ketakutan, untuk memperoleh data pribadi atau transfer dana secara ilegal (Temcharoenkit, 2. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir turut memperparah situasi ini karena pelaku kini dapat menciptakan pesan penipuan yang sangat personal, deepfake visual, dan suara sintetis yang sulit dibedakan dari komunikasi autentik (Herrera et al. , 2. Kondisi ini menegaskan bahwa pendekatan edukasi konvensional yang bersifat pasif dan informatif tidak lagi memadai untuk membekali masyarakat menghadapi lanskap ancaman yang terus berevolusi. Tinjauan terhadap literatur pengabdian masyarakat dan pendidikan keamanan siber menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari metode ceramah satu arah menuju pendekatan berbasis pengalaman dan simulasi. Pendekatan simulasi terbukti lebih efektif dalam membangun keterampilan identifikasi ancaman karena menempatkan peserta dalam situasi nyata yang mensyaratkan respons aktif, bukan sekadar pemahaman pasif (Ghazinour et al. , 2. Studi yang dilakukan oleh Ambre et al. mengonfirmasi bahwa pendekatan simulasi berbasis gamifikasi dalam pendidikan keamanan siber secara signifikan meningkatkan keterlibatan peserta dan retensi pengetahuan dibandingkan metode Senada dengan itu. Yuan et al. mengembangkan model intervensi metakognitif ImmuniFraug yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap penipuan siber melalui simulasi skenario kasus nyata, dan hasilnya menunjukkan peningkatan kemampuan deteksi penipuan yang signifikan secara statistik. Dimensi inklusivitas menjadi pertimbangan penting dalam merancang program edukasi keamanan digital berbasis komunitas. Pendekatan yang berhasil di satu segmen masyarakat tidak selalu dapat ditransposisikan langsung ke segmen lain tanpa adaptasi kontekstual. Egere et al. menemukan bahwa program edukasi keamanan siber yang dirancang khusus untuk pengguna dengan tingkat literasi rendah di komunitas tertentu memerlukan penyederhanaan bahasa, penggunaan media visual, dan pendekatan berbasis komunitas lokal agar efektif. Sementara itu. Berky dan Odozor . menekankan pentingnya desain edukasi yang inklusif usia, terutama untuk memastikan kelompok yang kurang familiar dengan antarmuka digital tetap dapat memperoleh manfaat dari program keamanan siber. Konteks Indonesia menambah lapisan kompleksitas tersendiri mengingat keragaman latar belakang pendidikan, akses teknologi, dan pengalaman digital yang sangat bervariasi di antara masyarakat usia produktif. Sejumlah inisiatif pengabdian masyarakat di Indonesia telah mulai menjawab kebutuhan ini, meskipun masih terbatas pada segmen tertentu. Mulyana et al. melaksanakan pelatihan literasi digital bagi lanjut usia di Kota Bandung dan menemukan bahwa pendekatan pelatihan terstruktur yang disesuaikan dengan karakteristik peserta mampu meningkatkan pemahaman dasar keamanan digital secara nyata. Nasution et al. melakukan pelatihan keamanan siber dasar bagi pelajar SMA dan mencatat peningkatan literasi digital yang terukur Di tingkat perguruan tinggi. Pohan et al. mengembangkan program sosialisasi keamanan email akademik terhadap ancaman phishing berbasis social engineering dan membuktikan efektivitasnya melalui tes pemahaman pra dan pasca intervensi. Ilhamsyah Mokhram et al. secara spesifik melaksanakan edukasi digital untuk meningkatkan kesadaran pelajar SMK terhadap ancaman cybercrime dan mendokumentasikan peningkatan kesadaran yang signifikan. Inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan tren positif, namun mayoritas masih berfokus pada kelompok pelajar dan belum secara khusus menyasar masyarakat usia produktif di lingkungan komunitas. Kebutuhan akan pendekatan edukasi yang lebih imersif dan berbasis pengalaman juga didukung oleh kajian akademik terkini. Cai dan Li . berargumen bahwa kurikulum pendidikan anti-penipuan yang imersif harus memuat komponen simulasi, refleksi kritis, dan Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 umpan balik instan agar mampu membentuk kebiasaan waspada yang tahan lama. Sarmini et . mengembangkan pendekatan penyuluhan interaktif dan simulasi keamanan digital di tingkat desa untuk menjaga data pribadi dari penipuan pinjaman online, dan hasilnya memperkuat argumen bahwa simulasi berbasis kasus lokal memiliki relevansi dan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan materi generik. Barnett et al. mengembangkan instrumen VESTA yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan finansial dan kemampuan anti-scam, khususnya pada orang dewasa, dengan menekankan pentingnya paparan berulang terhadap skenario penipuan yang realistis sebagai mekanisme pembentukan imunitas kognitif terhadap manipulasi. Meskipun literatur yang ada memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan program edukasi berbasis simulasi, terdapat kesenjangan penelitian yang perlu diisi. Pertama, sebagian besar studi yang ada berfokus pada kelompok usia tertentu seperti pelajar atau lanjut usia, sementara masyarakat usia produktif sebagai segmen pengguna digital paling aktif belum mendapat perhatian yang proporsional. Kedua, model intervensi yang ada jarang mengintegrasikan skenario penipuan lokal yang kontekstual dengan metodologi simulasi yang terstruktur dan terukur. Ketiga, evaluasi efektivitas program masih sering dilakukan secara subjektif tanpa instrumen pengukuran yang tervalidasi secara psikometrik. Zenodo . dalam tinjauan komprehensifnya tentang kesadaran keamanan siber dalam era digital menegaskan bahwa program edukasi yang efektif harus menggabungkan pendekatan berbasis bukti, kontekstualisasi lokal, dan pengukuran dampak yang sahih. Berdasarkan identifikasi kesenjangan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang dengan tujuan utama untuk mengembangkan dan menguji model intervensi edukasi anti-scam berbasis simulasi kasus nyata yang secara spesifik ditujukan bagi masyarakat usia Model ini mengintegrasikan skenario penipuan digital yang bersumber dari kasus aktual di Indonesia ke dalam modul pelatihan interaktif yang dapat dilaksanakan dalam format tatap muka maupun hibrida. Kegiatan ini bertujuan mengukur tingkat literasi keamanan digital peserta sebelum dan sesudah intervensi, mengidentifikasi dimensi literasi keamanan digital yang paling responsif terhadap pendekatan simulasi, serta menghasilkan model intervensi yang dapat direplikasi oleh komunitas atau lembaga lain dalam skala yang lebih luas. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan berkontribusi pada penguatan ketahanan siber masyarakat Indonesia secara sistematis dan berbasis bukti empiris. METODE Desain Kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan desain intervensi pendidikan dengan pendekatan pre-experimental melalui skema one-group pretest-posttest. Desain ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik kegiatan pengabdian berbasis komunitas yang tidak memungkinkan pembentukan kelompok kontrol secara acak. Pendekatan ini memungkinkan pengukuran perubahan literasi keamanan digital peserta secara langsung sebelum dan sesudah intervensi berlangsung, sehingga efektivitas model dapat dievaluasi secara kuantitatif dan terukur. Model intervensi yang dikembangkan mengacu pada prinsip simulasi berbasis kasus nyata yang telah terbukti efektif dalam konteks edukasi keamanan siber (Ghazinour et , 2019. Ambre et al. , 2. Peserta Kegiatan Peserta kegiatan berjumlah 45 orang yang direkrut melalui teknik purposive sampling dari lingkungan komunitas perkotaan. Kriteria inklusi peserta meliputi rentang usia produktif 18 hingga 55 tahun, memiliki akses aktif terhadap perangkat digital dan internet, serta bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Peserta terdiri dari beragam latar belakang pekerjaan, termasuk karyawan swasta, wirausahawan, tenaga pendidik, dan ibu rumah tangga aktif secara digital. Keberagaman profil peserta ini disengaja untuk memastikan bahwa model intervensi yang dihasilkan memiliki generalisabilitas yang memadai terhadap populasi masyarakat usia produktif secara lebih luas. Seluruh peserta menandatangani lembar persetujuan keikutsertaan . nformed consen. sebelum kegiatan dimulai. Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 Pengembangan Modul Simulasi Modul simulasi dikembangkan melalui proses adaptasi sistematis terhadap kasus penipuan digital yang bersumber dari laporan insiden siber di Indonesia. Empat kategori skenario utama diintegrasikan ke dalam modul, yaitu phishing melalui tautan palsu, social engineering melalui komunikasi telepon dan pesan singkat, love scam melalui platform media sosial, serta penipuan pinjaman online melalui aplikasi tidak resmi. Setiap skenario dirancang untuk mereplikasi kondisi nyata yang dialami korban, termasuk teknik manipulasi psikologis yang lazim digunakan pelaku (Sarmini et al. , 2025. Temcharoenkit, 2. Modul disusun dalam tiga level kesulitan progresif: level dasar yang menampilkan indikator penipuan yang eksplisit, level menengah dengan indikator yang tersembunyi, dan level lanjut yang mensimulasikan penipuan berbasis AI seperti deepfake pesan teks. Validasi konten modul dilakukan oleh dua orang pakar keamanan siber dan satu orang praktisi pendidikan komunitas sebelum digunakan dalam kegiatan. Instrumen Pengukuran Instrumen pengukuran yang digunakan adalah kuesioner Literasi Keamanan Digital (LKD) yang dikembangkan secara khusus untuk kegiatan ini dengan mengacu pada kerangka kompetensi keamanan siber yang relevan. Kuesioner terdiri dari 30 butir pernyataan yang mencakup empat dimensi utama, yaitu pengetahuan ancaman siber, kemampuan identifikasi penipuan, perilaku keamanan digital, dan kepercayaan diri dalam merespons insiden. Setiap butir diukur menggunakan skala Likert lima poin, dengan skor total berkisar antara 30 hingga Uji validitas instrumen dilakukan menggunakan korelasi Pearson dengan nilai r-hitung seluruh butir di atas r-tabel . pada taraf signifikansi 5%, sedangkan uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha menghasilkan koefisien sebesar 0,87, yang termasuk kategori Pengukuran dilakukan dua kali, yaitu pada sesi pra-intervensi . dan pascaintervensi . dengan instrumen yang identik. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan dalam satu hari penuh selama delapan jam efektif yang dibagi ke dalam tiga fase berurutan. Fase pertama adalah asesmen awal yang mencakup pengisian pretest, pengenalan konsep dasar keamanan digital, dan pemaparan peta ancaman penipuan digital terkini di Indonesia. Fase kedua merupakan inti kegiatan berupa pelatihan simulasi interaktif yang terbagi menjadi empat sesi sesuai kategori skenario penipuan. Setiap sesi simulasi dijalankan dengan format role-playing terstruktur di mana peserta berperan sebagai calon korban yang harus mengidentifikasi dan merespons upaya penipuan secara langsung, diikuti dengan diskusi reflektif berpandu fasilitator. Fase ketiga adalah evaluasi dan penguatan yang mencakup pengisian posttest, sesi tanya jawab, pemberian panduan praktis keamanan digital, serta diskusi rencana tindak lanjut mandiri oleh peserta. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi Cai dan Li . bahwa kurikulum anti-penipuan yang efektif harus memuat simulasi, refleksi kritis, dan umpan balik instan secara terintegrasi. Analisis Data Data kuantitatif yang diperoleh dari pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji beda rata-rata berpasangan . aired samples t-tes. dengan taraf signifikansi 0,05. Selain uji signifikansi statistik, efektivitas intervensi juga diukur menggunakan Cohen's d sebagai indikator ukuran efek . ffect siz. untuk menentukan besaran dampak praktis dari intervensi yang dilaksanakan. Analisis dilakukan per dimensi LKD untuk mengidentifikasi area literasi yang mengalami peningkatan paling signifikan. Data kualitatif dari catatan observasi fasilitator dan umpan balik terbuka peserta dianalisis secara deskriptif untuk melengkapi interpretasi hasil kuantitatif. Seluruh proses analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik SPSS versi 26. Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Peserta Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 45 peserta dengan distribusi demografis yang beragam. Tabel 1 menyajikan profil peserta berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, dan latar belakang pekerjaan. Tabel 1. Profil Demografis Peserta Kegiatan . Kategori Jenis Kelamin Kelompok Usia Latar Belakang Pekerjaan Pengalaman Menjadi Korban Scam Subkategori Laki-laki Perempuan 18-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Karyawan swasta Wirausahawan Tenaga pendidik Ibu rumah tangga Lainnya Pernah Jumlah . Persentase (%) Tidak pernah Sumber: Data primer kegiatan pengabdian, 2025. Sebanyak 40,0% peserta mengaku pernah menjadi korban atau hampir menjadi korban penipuan digital sebelumnya, yang mengindikasikan tingginya paparan nyata terhadap ancaman scam di kalangan masyarakat usia produktif. Temuan ini konsisten dengan laporan Carter . yang menyatakan bahwa penipuan digital telah menjangkau berbagai lapisan demografis tanpa terkecuali. Hasil Pengukuran Literasi Keamanan Digital Perbandingan skor pretest dan posttest pada keempat dimensi Literasi Keamanan Digital (LKD) disajikan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Perbandingan Skor Pretest dan Posttest per Dimensi LKD . Dimensi LKD Pengetahuan ancaman siber Kemampuan identifikasi Perilaku keamanan digital Kepercayaan diri merespons Total Skor LKD Skor Maks Rerata Pretest Rerata Posttest Selisih Peningkata n (%) Sumber: Data primer kegiatan pengabdian, 2025. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan peningkatan skor total Literasi Keamanan Digital (LKD) rata-rata sebesar 34,7%, dari rerata 80,0 pada pretest menjadi 108,8 pada posttest, dengan rentang skor individual pascaintervensi berkisar antara 89 hingga 138 dari skor maksimum 150. Peningkatan ini terdistribusi secara konsisten di seluruh empat dimensi LKD, meskipun dengan besaran yang bervariasi sesuai karakteristik masing-masing dimensi. Peningkatan tertinggi terjadi pada dimensi kemampuan identifikasi penipuan yang mencapai 41,2%, dari rerata 19,2 menjadi 27,1, yang mengindikasikan bahwa paparan langsung terhadap skenario simulasi secara efektif melatih kemampuan peserta dalam mengenali pola, teknik, dan indikator visual penipuan digital secara konkret. Dimensi kepercayaan diri dalam merespons insiden siber mencatat peningkatan tertinggi kedua sebesar 38,6%, dari rerata 14,8 menjadi 20,5, yang mencerminkan bahwa simulasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 kognitif tetapi juga membentuk keyakinan peserta bahwa mereka mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi penipuan nyata. Dimensi pengetahuan ancaman siber meningkat sebesar 36,8%, dari rerata 17,4 menjadi 23,8, menandakan bahwa pemaparan terstruktur terhadap tipologi dan mekanisme berbagai modus scam berhasil memperluas pemahaman konseptual peserta secara signifikan. Dimensi perilaku keamanan digital mencatat peningkatan sebesar 30,8%, dari rerata 28,6 menjadi 37,4, dan meskipun angka ini merupakan yang terendah di antara keempat dimensi, peningkatan tersebut tetap bermakna secara statistik dan praktis mengingat perubahan perilaku pada umumnya membutuhkan waktu konsolidasi yang lebih panjang dibandingkan perubahan pengetahuan dan sikap dalam konteks intervensi satu sesi. Diagram 1 memvisualisasikan distribusi perbandingan skor keempat dimensi secara ringkas. Diagram 1. Perbandingan Rerata Skor Pretest dan Posttest per Dimensi LKD Hasil Uji Statistik Uji paired samples t-test dilakukan untuk menguji signifikansi peningkatan skor LKD secara keseluruhan maupun per dimensi. Hasil uji statistik disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Paired Samples T-Test per Dimensi LKD Dimensi LKD t-hitung Cohen's d Kategori Efek Sig. 0,000 0,000 Pengetahuan ancaman siber Kemampuan identifikasi Perilaku keamanan digital Kepercayaan diri merespons Total Skor LKD 9,42 11,87 1,31 1,58 Besar Besar 8,73 10,15 0,000 0,000 1,19 1,44 Besar Besar 13,26 0,000 1,67 Besar Sumber: Hasil analisis SPSS v. 26, 2025. Kategori Cohen's d: kecil < 0,2. sedang 0,2-0,8. besar > 0,8. Seluruh dimensi LKD menunjukkan nilai signifikansi p < 0,001, yang berarti peningkatan yang terjadi tidak bersifat kebetulan melainkan merupakan dampak nyata dari intervensi Nilai Cohen's d total sebesar 1,67 mengindikasikan ukuran efek yang besar, menegaskan bahwa model intervensi berbasis simulasi kasus nyata memiliki dampak praktis yang substansial terhadap peningkatan literasi keamanan digital peserta. Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 Pembahasan Temuan kegiatan ini memperkuat argumen bahwa pendekatan simulasi berbasis kasus nyata secara konsisten menghasilkan peningkatan literasi keamanan digital yang lebih terukur dibandingkan metode edukasi pasif. Peningkatan paling signifikan pada dimensi kemampuan identifikasi penipuan . ,2%) sejalan dengan temuan Ambre et al. yang menunjukkan bahwa paparan langsung terhadap skenario simulasi ancaman siber meningkatkan kemampuan deteksi peserta secara substansial karena melibatkan proses kognitif aktif, bukan sekadar penerimaan informasi. Mekanisme yang sama divalidasi oleh Yuan et al. melalui model ImmuniFraug, di mana intervensi metakognitif berbasis simulasi terbukti membentuk pola pikir waspada yang lebih tahan lama pada mahasiswa. Peningkatan signifikan pada dimensi kepercayaan diri merespons insiden . ,6%) merupakan temuan yang penting secara praktis. Kepercayaan diri merupakan prediktor perilaku keamanan digital yang kuat karena individu yang merasa mampu merespons ancaman cenderung mengambil tindakan pencegahan secara proaktif (Barnett et al. , 2. Fakta bahwa dimensi ini meningkat hampir setara dengan dimensi identifikasi penipuan menunjukkan bahwa simulasi tidak hanya melatih kemampuan kognitif pengenalan ancaman, tetapi juga membentuk efikasi diri peserta dalam menghadapi situasi penipuan nyata. Dimensi perilaku keamanan digital mencatat peningkatan terendah di antara empat dimensi . ,8%), meskipun tetap signifikan secara statistik. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa perubahan perilaku memerlukan waktu dan reinforcement yang lebih panjang dibandingkan perubahan pengetahuan dan sikap, yang merupakan karakteristik umum intervensi perilaku jangka pendek (Figshare, 2. Temuan ini mengindikasikan perlunya program lanjutan berupa pendampingan berkala pascapelatihan untuk mengonsolidasikan perubahan perilaku yang telah dimulai selama intervensi. Egere et al. merekomendasikan pendekatan serupa dalam konteks komunitas dengan tingkat literasi bervariasi, di mana sesi tindak lanjut terbukti memperkuat internalisasi perilaku aman secara Analisis berdasarkan subkelompok usia menunjukkan pola yang menarik. Peserta pada kelompok usia 26-35 tahun mencatat peningkatan skor LKD total tertinggi . ,2%), sementara kelompok usia 46-55 tahun mencatat peningkatan terendah namun tetap substansial . ,4%). Perbedaan ini tidak mengindikasikan bahwa program kurang efektif untuk kelompok usia lebih tua, melainkan mencerminkan perbedaan titik awal pemahaman dan keakraban dengan antarmuka digital. Temuan ini selaras dengan rekomendasi Berky dan Odozor . yang menekankan pentingnya adaptasi konten dan kecepatan penyampaian berdasarkan karakteristik usia peserta agar program edukasi keamanan siber tetap inklusif dan efektif lintas generasi. Mulyana et al. juga menemukan pola serupa dalam pelatihan literasi digital bagi kelompok lanjut usia di Bandung, di mana penyesuaian metode penyampaian berhasil menghasilkan peningkatan pemahaman yang bermakna. Skenario love scam dan penipuan pinjaman online mencatat tingkat kesulitan identifikasi tertinggi pada sesi pretest, dengan hanya 31,1% dan 28,9% peserta yang mampu mengidentifikasi indikator penipuan secara tepat sebelum intervensi. Setelah simulasi, angka tersebut meningkat masing-masing menjadi 73,3% dan 71,1%. Temuan ini relevan mengingat kedua modus penipuan tersebut merupakan yang paling banyak dilaporkan di Indonesia (Sarmini et al. , 2025. Temcharoenkit, 2. Tingkat kesulitan awal yang tinggi pada kedua skenario ini mengonfirmasi bahwa pelaku penipuan digital secara sistematis merancang modus operandi yang mengeksploitasi kelemahan kognitif dan emosional korban, sehingga pendekatan simulasi yang melatih respons emosional sekaligus kognitif menjadi sangat relevan (Herrera et al. , 2. Umpan balik kualitatif dari peserta secara konsisten menyebutkan bahwa format simulasi role-playing merupakan elemen paling berkesan dan paling membantu dalam kegiatan ini. Sebagian besar peserta menyatakan bahwa pengalaman "hampir tertipu" dalam simulasi menciptakan kesadaran visceral yang tidak dapat diperoleh dari membaca materi informatif Temuan kualitatif ini mendukung posisi Ghazinour et al. dan Cai dan Li . Wibisono et al (Model Intervensi Edukasi Anti-Scam. TERAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Sosial Budaya Vol. No. Mei 2026, pp. e-ISSN 3089-2988 bahwa immersivitas pengalaman simulasi merupakan variabel kunci dalam pembentukan literasi keamanan digital yang fungsional. Nasution et al. serta Ilhamsyah Mokhram et . dalam konteks pengabdian serupa juga mencatat bahwa keterlibatan aktif peserta dalam skenario interaktif menghasilkan tingkat retensi pengetahuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendekatan ceramah. Pohan et al. secara khusus mengonfirmasi bahwa simulasi berbasis kasus phishing nyata menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme rekayasa sosial dibandingkan penjelasan konseptual semata. Secara keseluruhan, model intervensi yang dikembangkan dalam kegiatan ini terbukti mampu meningkatkan literasi keamanan digital secara signifikan dan dapat dijadikan acuan bagi program serupa di komunitas lain dengan penyesuaian kontekstual yang memadai (Zenodo. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil mengembangkan dan menguji model intervensi edukasi anti-scam berbasis simulasi kasus nyata sebagai pendekatan sistematis untuk meningkatkan literasi keamanan digital pada masyarakat usia produktif. Hasil kegiatan membuktikan bahwa model intervensi yang dikembangkan efektif secara statistik maupun praktis, ditunjukkan oleh peningkatan skor total Literasi Keamanan Digital rata-rata sebesar 34,7% dengan nilai Cohen's d sebesar 1,67 yang termasuk kategori efek besar. Keempat dimensi LKD, yakni pengetahuan ancaman siber, kemampuan identifikasi penipuan, perilaku keamanan digital, dan kepercayaan diri merespons insiden siber, seluruhnya menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik pada taraf p < 0,001. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan simulasi berbasis kasus nyata yang mengintegrasikan skenario phishing, social engineering, love scam, dan penipuan pinjaman online ke dalam modul pelatihan interaktif mampu membentuk keterampilan identifikasi ancaman dan efikasi diri peserta secara lebih efektif dibandingkan metode edukasi pasif. Dimensi perilaku keamanan digital yang mencatat peningkatan terendah mengindikasikan perlunya program pendampingan lanjutan secara berkala untuk mengonsolidasikan perubahan perilaku yang telah dimulai selama intervensi. Model intervensi yang dihasilkan memiliki potensi replikasi yang tinggi dan dapat diadaptasi oleh komunitas, lembaga pendidikan, maupun instansi pemerintah dalam program literasi digital yang lebih luas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektivitas model ini dalam format daring atau hibrida, memperluas cakupan sasaran ke kelompok rentan lain, serta mengukur keberlanjutan dampak intervensi dalam jangka panjang melalui desain UCAPAN TERIMA KASIH Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta kegiatan yang telah berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan program. Apresiasi juga disampaikan kepada para validator modul simulasi dari kalangan pakar keamanan siber dan praktisi pendidikan komunitas yang telah memberikan masukan substantif dalam penyempurnaan instrumen Kegiatan ini terlaksana atas dukungan institusi pelaksana dan seluruh pihak yang telah memfasilitasi penyelenggaraan program pengabdian masyarakat ini. REFERENSI