Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Available online http://journal. stt-abdiel. id/JA Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekhawatiran atas Sinkretisme di Gereja-Gereja Lereng Merbabu Sianny Astuti DOI: https://doi. org/10. 37368/ja. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana sian@gmail. Abstrak Perjumpaan kekristenan dengan budaya dalam kehidupan sehari-hari merupakan realitas yang tidak dapat Gereja-gereja di Lereng Merbabu pada satu sisi menghadapi budaya Jawa yang mengakar kuat dalam diri anggota jemaat. Di sisi yang lain ada tantangan untuk menjaga kemurnian ajaran kekristenan. Kekuatiran akan terjadinya sinkretisme mewarnai upaya menjawab tantangan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana cara mengurai kekuatiran atas sinkretisme dalam upaya membangun teologi kontekstual di gereja-gereja Lereng Merbabu. Dalam usaha menjawab pertanyaan tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun jenis fenomenologi yang dipilih adalah fenomenologi hermeneutik yang digagas oleh van Manen dan teori yang digunakan untuk menganalisa dan menafsirkan hasil wawancara adalah teori sinkretisme oleh Harrison. Hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan secara umum para partisipan memandang sinkretisme sebagai hal yang negatif. Akibatnya ada kecenderungan menolak sinkretisme dengan alasan menjaga kemurnian ajaran. Upaya membangun teologi yang kontekstual terlihat hanya dari sisi liturgi saja dan belum menyentuh pengajaran. Usulan yang diberikan adalah mengupayakan sikap yang lebih terbuka terhadap budaya. Kata Kunci: budaya Jawa. teologi kontekstual. Abstract The encounter between Christianity and culture in everyday life is an inevitable reality. Churches on the slopes of Mount Merbabu face a Javanese culture that is deeply rooted in their congregations. On the other hand, there is the challenge of maintaining the purity of Christian teachings. Concerns about syncretism color efforts to respond to this challenge. This study aims to answer the question of how to address concerns about syncretism in efforts to develop contextual theology in churches on the slopes of Mount Merbabu. In order to answer this question, a qualitative research method with a phenomenological approach was used. The type of phenomenology chosen is hermeneutic phenomenology as proposed by van Manen, and the theory used to analyze and interpret the interview results is Harrison's theory of syncretism. The results obtained from the field research show that, in general, the participants view syncretism as something negative. As a result, there is a tendency to reject syncretism on the grounds of preserving the purity of doctrine. Efforts to develop contextual theology are only evident in liturgy and have not yet touched on teaching. The suggestion given is to strive for a more open attitude towards culture. Keywords: Javanese culture. phenomenological research. contextual theology. How to Cite: Astuti. Sianny. AuMembangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekhawatiran atas Sinkretisme di Gereja-Gereja Lereng Merbabu. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, no. : 132-146. ISSN 2685-1253 (Onlin. ISSN 2579-7565 (Prin. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 Pendahuluan AuDesa mawa acara. Negara mawa tataAy merupakan peribahasa bahasa Jawa yang berarti setiap daerah memiliki adat kebiasaan masing-masing dalam menjalani kehidupannya, atau dapat pula diartikan setiap tempat memiliki adat istiadat atau kebudayaannya masing-masing. 1 Dengan pemahaman ini maka semestinya masing-masing pribadi menghargai dan menghormati cara hidup dan budaya masing-masing tempat. Tidak mungkin sesuatu paham atau kebiasaan yang baru dipaksa masuk atau diterima begitu saja ke dalam suatu wilayah atau daerah. Hal ini berlaku bagi semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya dalam kehidupan beragama . aca: bergereja sebagai orang Kriste. Namun realitas yang terjadi seringkali bertolak belakang dengan kondisi ideal yang diharapkan. Para pemimpin agama . alam pengertian para pendet. justru seringkali menjadi subyek yang paling sering menabrak atau merusak tatanan tersebut. Pengajaran dogmatis yang diajarkan kepada jemaat dicurigai mengarah pada perusakan adat kebiasaan atau budaya di daerah tersebut. 2 Gereja juga seringkali memasukkan konsep-konsep kekristenan secara utuh tanpa pengolahan terlebih dahulu dan menganggap semua yang berasal dari Aodunia BaratAo adalah baik. Meski demikian tidak sedikit pula yang memiliki kesadaran untuk membangun pengajaran dan atau teologi yang dapat memberi jawab atas perbedaan konteks. Teologi kontekstual dan kontekstualisasi merupakan tema yang sangat diminati dan menjadi Tulisan-tulisan dari hasil penelitian para penulis dalam kumpulan tulisan AyTeologi yang Membebaskan dan Membebaskan TeologiAy sebuah festschrift bagi JB. Banawiratma. memuat tulisan-tulisan dengan tema teologi kontekstual yang sangat kental. Tema yang sama dapat juga dilihat dalam buku AyTeologi InkulturasiAy oleh Emanuel Martasudjita. Bunga Rampai dalam buku AyMeretas Diri. Merengkuh Liyan. Berbagi KehidupanAy. Gereja harus menyadari keberadaan dirinya sebagai bagian dari dunia. Gereja tidak bisa melepaskan diri dari budaya yang mengitarinya. 4 Oleh karenanya Gereja harus menentukan sikap yang tepat dalam menjalani dinamika hubungan dengan masyarakat dan Khuswatun Khasanah. AuNguri-Uri Paribasan Jawa: Desa Mawa Cara. Negara Mawa Tata,Ay Nguri-Uri Paribasan Jawa. October 15, 2015, https://nguriuriparibasanjawa. com/2015/10/desa-mawa-caranegara-mawa-tata. Sundoro Tanuwidjaja and Samuel Udau. AuIman Kristen Dan Kebudayaan,Ay Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 1, https://doi. org/10. 46445/jtki. Wahju S. Wibowo and Robert Setio, eds. Teologi Yang Membebaskan Dan Membebaskan Teologi (Fakultas Teologi UKDW & Yayasan TPK, 2. , 3Ae4. Emanuel Pranawa Dhatu Martasudjita. Teologi Inkulturasi: Perayaan Injil Yesus Kristus Di Bumi Indonesia (Penerbit Kanisius, 2. , 54. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . Dalam konteks Indonesia. Gereja harus memunculkan kesadaran untuk membangun teologi yang bercorak Indonesia . alam hal ini budaya Jaw. 5 Untuk itu gereja perlu membangun teologi yang kontekstual. Dalam upaya membangun teologi kontekstual, perjumpaan dan persilangan kekristenan dengan budaya atau tradisi tidak dapat dihindari. Dengan keadaan ini kemungkinan terjadinya sinkretisme sangat terbuka. Perihal sinkretisme memang menjadi permasalahan yang tidak pernah usai dalam perjumpaan agama dan agama lain, maupun dengan budaya. Terjadinya sinkretisme tidak hanya dialami oleh kekristenan dalam perjumpaannya dengan budaya. Achmad Ghozali menyoroti bagaimana sinkretisme terjadi dalam pendidikan di dalam keluarga-keluarga Jawa, saat upaya pendidikan agama Islam (PAI) dilakukan oleh orang tua. 6 Ghozali menemukan pencampuran antara nilai-nilai budaya Jawa yang dipegang teguh dengan praktik keagamaan Islam yang diajarkan dalam keluarga Jawa yang kemudian dikenal sebagai AokejawenAo. Yunasta Sarifa, dkk. juga melihat sinkretisme yang terjadi pada tradisi Aogebyak dusunAo di Mojokerto. 7 Dalam penelitian terungkap bahwa dalam tradisi yang dilakukan turun temurun di dusun Pacet Made. Mojokerto tersebut terjadi sinkretisme antara pengajaran Islam dengan budaya Jawa. Meskipun sama-sama membahas mengenai perjumpaan dengan budaya Jawa, penelitian ini fokus pada upaya kontekstualisasi yang dilakukan oleh gereja, dengan demikian berdasar pada teologi Kristen. Kekristenan dalam upaya misinya juga menghadapi kemungkinan terjadinya Nyuyki dan Van Niekerk memperlihatkan bagaimana perjumpaan Injil dan budaya di Kamerun, yang memungkinkan terjadinya sinkretisme. Dari penelitian ini terlihat upaya menjelaskan bahwa sinkretisme bisa menjadi negatif maupun positif. 8 Jika Injil terlalu kaku, ia menjadi tidak relevan bagi konteks misi, namun jika ia terlalu berusaha menjadi relevan, maka ia menjadi terlalu sinkretis dan kehilangan jati dirinya. Oleh karenanya memperjumpakan Injil dengan konteks harus dilakukan dengan bijaksana. Penelitian ini berupaya melihat sinkretisme dengan lensa yang lebih positif. Eddy Kristiyanto. AuMeretas Teologi Kon(Mult. Tekstual-Liberatif Dalam Perguruan Tinggi Kita,Ay in Teologi Yang Membebaskan Dan Membebaskan Teologi (Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia : Pusat Studi Agama-Agama. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, 2. , 9Ae11. Achmad Ghozali. AuSinkretisme Agama Dan Budaya Bagi Masyarakat Jawa,Ay Javano Islamicus 1, no. : 67Ae79, https://doi. org/10. 15642/Javano. Yunasta Sarifa et al. AuSinkretisme Agama Dan Budaya Pada Bingkai Tradisi Lokal Gebyak Dusun Di Dusun Pacet Made. Mojokerto. Jawa Timur,Ay RiAoayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan 8, no. : 21, https://doi. org/10. 32332/riayah. Peter Siysi Nyuyki and Attie Van Niekerk. AuSyncretism and Inculturation in the NsoAo Context of Cameroon,Ay STJ | Stellenbosch Theological Journal 2, no. : 381Ae400, https://doi. org/10. 17570/stj. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 William H. Harrison mendefinisikan sinkretisme sebagai pencampuran unsur-unsur kearifan atau kebijaksanaan satu agama tertentu kepada agama yang lain. dalam sebuah agama tertentu sangat terbuka kemungkinan suatu pandangan atau elemen muncul, meskipun sesungguhnya pandangan atau elemen tersebut merupakan bagian integral dari agama atau sistem kepercayaan yang lain. 9 Di sisi yang lain Yusak Tridarmanto memaknai sinkretisme dengan cara pandang baru sebagai relasi interaktif unsur-unsur yang berbeda dari kehidupan. Di dalam relasi tersebut ada peristiwa saling memengaruhi dan dipengaruhi, ada penyatuan, ada adopsi, adaptasi dan penyesuaian satu dengan yang lain. 10 Dari kedua definisi di atas, maka sinkretisme sangat mungkin terjadi baik antar satu agama dengan agama yang lain, satu agama dengan budaya, maupun satu budaya dengan budaya yang lain. Sepanjang melibatkan unsur-unsur kehidupan manusia, setiap perjumpaan atau relasi memungkinkan terjadinya sinkretisme. Kesadaran bahwa sinkretisme sangat mungkin terjadi dalam perjumpaan kekristenan dengan budaya, oleh karenanya bersikap terbuka namun tetap berhati-hati menjadi pilihan. Tujuannya agar proses kontekstualisasi dapat dilakukan tanpa terjebak dalam relativisme dan kehilangan indentitas kekristenan itu sendiri. Dengan pemahaman tersebut maka dalam proses membangun teologi kontekstual, sinkretisme sangat mungkin terjadi. Kemungkinan akan terjadinya sinkretisme ini menjadi salah satu kekuatiran atau kegelisahan dari para pemimpin gereja. Ada kecenderungan pemimpin gereja tidak membangun teologi kontekstual secara memadai dengan alasan ini. Kekawatiran akan terjadinya sinkretisme menjadi masalah yang serius dalam proses Berdasarkan pemaparan yang telah diberikan, maka tulisan ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara mengurai kekuatiran atas sinkretisme dalam upaya membangun teologi kontekstual di gereja-gereja Lereng Merbabu. Dengan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, diharapkan para pemimpin gereja dapat lebih berani dalam membangun teologi yang sesuai dengan konteks pelayanannya. Dalam menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi yang digunakan untuk menjelaskan sebuah gejala atau fenomena yang terjadi di lapangan penelitian. 11 Fenomena atau gejala yang hendak dijelaskan pada penelitian adalah bagaimana pandangan para pemimpin gereja William H. Harrison. In Praise of Mixed Religion: The Syncretism Solution in a Multifaith World (McGillQueens Univ. Press, 2. ix-x. Kees de Jong and Yusak Tridarmanto, eds. Perjumpaan interaktif antara teologi dan budaya: kajian tentang pemahaman dan persepsi mengenai teologi interkultural di Aras Akademis dan Gerejawi (Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia . Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, 2. , 85. Barnawi and jajat Darojat. Penelitian Fenomenologi Pendidikan (Ar Ruzz Media, 2. , 101. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . terhadap budaya lokal, khususnya budaya Jawa dan sinkretisme yang mungkin terjadi saat berupaya membangun teologi yang kontekstual. Adapun tipe fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi hermeneutik, yang digagas oleh van Manen. yang bertujuan mendeskripsikan gejala atau fenomena yang terjadi, kemudian membuat penafsiran atas hasil penelitian yang bertujuan menjembatani antara makna-makna yang berbeda dan pengalaman dari para partisipan. Partisipan yang menjadi subyek penelitian ini adalah 5 pendeta dari 5 denominasi gereja di wilayah kecamatan Gladagsari. Kabupaten Boyolali. Berikut adalah inisial nama . ntuk menghormati privasi partisipa. : (P. Pdt. A, (P. Pdt. B, (P. Pdt. C, (P. Pdt. dan (P. Pdt. Tidak ada jaminan bahwa jawaban para partisipan pasti mewakili pandangan dari denominasi asalnya, namun setidaknya temuan penelitian ini dapat menunjukkan pandangan umum dalam denominasi tersebut. Tempat penelitian . adalah di Kecamatan Gladagsari. Kabupaten Boyolali. Jawa Tengah. Secara geografis, tempat penelitian ada di dataran tinggi lereng gunung Merbabu, pada ketinggian 700-1500 mDPL. merupakan pemekaran wilayah administratif kecamatan Ampel berdasarkan Perda Kabupaten Boyolali No. 18 Tahun 2018. Gambar 1. Peta Kecamatan Gladagsari (Sumber: https://boyolalikab. Teknik pengumpulan data penelitian dilaksanakan dengan wawancara secara langsung . atap muk. oleh penulis sebagai peneliti . nstrument utam. Wawancara yang dilakukan adalah in depth interview . awancara mendala. , dengan pertanyaan semi Ada tiga pertanyaan pokok yang kemudian dikembangkan dalam proses wawancara jika dibutuhkan pendalaman lebih lanjut. Teknik analisa data menggunakan fenomenologi tipe hermeneutik, menuntut peneliti memberikan penafsiran atas hasil atau data empirik yang telah diperoleh. Dalam memberikan penafsiran dan catatan, teori sinkretisme dalam buku In Praise of Mixed Religions oleh William H. Harrison akan John W. Creswell. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Edisi Indonesia 3 (Pustaka Pelajar, 2. , 110. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 digunakan sebagai acuan utama. Teori-teori yang lain akan menjadi tambahan untuk melengkapi pembahasan terhadap hasil penelitian. Pembahasan Sinkretisme dan Orang Jawa Sinkretisme merupakan hal yang bersifat universal. Tidak ada agama yang terbebas dari sinkretisme. 13 Sinkretisme merujuk pada batasan-batasan yang cair, bahkan nyaris tidak tampak dari beberapa agama, apalagi jika agama tersebut berasal dari rumpun budaya yang 14 Dalam banyak hal. Harrison menegaskan bahwa sinkretisme yang terjadi bukan hal yang netral ataupun negatif, sebaliknya justru merupakan hal yang baik dan memberi pengaruh yang positif terutama berkaitan dengan perkembangan atau pertumbuhan agama 15 Penolakan terhadap isu-isu sinkretisme justru mendorong agama dan penganutnya menjadi eksklusif atau bahkan mendorong pada fundamentalisme agama, yang justru dapat memicu hal-hal negatif lainnya. Sejarah juga menunjukkan beberapa keyakinan atau kepercayaan yang runtuh karena penolakan terhadap sinkretisme. 16 Dengan demikian sinkretisme dapat dinilai dengan cara yang lebih positif dan terbuka. Harrison mencatat tiga bentuk sinkretisme antara lain . sinkretisme simestris, adalah upaya memadukan unsur-unsur atau elemen-elemen suatu agama dengan agama yang lain, secara seimbang. Perubahan terjadi pada keduanya, meskipun tidak selalu memengaruhi identitas agamanya. sinkretisme asimetris, merupakan upaya mencangkokkan unsurunsur dari suatu agama tertentu ke dalam agama yang lain . ebagai yang utam. dengan tetap mempertahankan identitas dan kendali atas unsur-unsur yang dimasukkan. Sehingga meskipun terjadi perubahan karena masuknya unsur-unsur tersebut, identitas dan kendali utama tetap dikuasai oleh agama yang melakukan upaya sinkretisme tersebut. sinkretisme refleksif, merupakan bentuk lain dari sinkretisme asimetris. Yang membedakan keduanya adalah bahwa unsur-unsur dari agama . isalnya agama A) yang akan dipadukan merupakan refleksi dari unsur agama . isalnya agama B) yang hilang atau terabaikan atau terlupakan. Dengan demikian perpaduan ini membuat agama yang melakukannya menjadi lebih bermakna atau memperdalam makna karena upaya sinkretisme yang dilakukannya17. Harrison. In Praise of, 3Ae33. Harrison. In Praise of, 74. Harrison. In Praise of, 94Ae95. Harrison. In Praise of, 151Ae59. Harrison. In Praise of Mixed Religion, 95Ae96. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . Pada lain sisi ada pihak-pihak yang menolak atau menentang sinkretisme yang dapat diidentifikasi sebagai kelompok anti sinkretisme. Ada tiga kelompok yang diidentifikasi sebagai anti sinkretisme. pertama adalah kelompok yang meyakini bahwa hanya agama yang lemah atau inferior yag dapat melakukan sinkretisme . elompok Hendrik Kraeme. kelompok yang menganggap bahwa sinkretisme merupakan kompromi yang tidak sesuai dengan kebenaran . elompok fundamentali. ketiga kelompok yang menganggap sinkretisme sebagai kemurtadan yang harus dihancurkan (Wahabisme Saud. Meskipun Harrison memandang sinkretisme dengan sangat positif, harus diakui bahwa ada kemungkinan terjadi sinkretisme yang negatif. Apabila pencampuran unsur-unsur terjadi secara berlebihan dan tanpa pertimbangan maka sebuah agama atau budaya justru akan kehilangan makna dan identitas utamanya. Oleh karena itu perlu ditegaskan pula sejauh apa sinkretisme boleh atau tidak boleh dilakukan. Nyuyki dan Van Niekerk mengutip Turner: sinkretisme yang dilakukan dengan mengadaptasi unsur-unsur budaya tertentu dan mentransposisikannya sehingga dapat mengekspresikan agama tersebut dengan cara yang baru . esuai kontek. tanpa kehilangan ciri-ciri utama . maka ia dapat disebut sinkretisme kritis. 19 Dan hal ini dikategorikan sinkretisme yang positif. Sebaliknya jika pencampuran tersebut sampai mengakibatkan suatu agama atau budaya kehilangan ciri utamanya . , maka ia harus dikategorikan sebagai sinkretisme yang negatif. Dengan demikian saat melakukan upaya kontekstualisasi, ciri-ciri utama kekristenan harus menjadi pusat perhatian yang tidak dapat dikompromikan. Orang Jawa menyukai ketenangan dan harmoni,21 sehingga memiliki cara beragama yang mengedepankan keselarasan dengan lingkungannya, baik itu dengan orang yang seagama, yang berbeda agama maupun dengan alam sekitarnya. Jadi yang paling penting bagi orang Jawa adalah hidup dalam keharmonisan. Tentu saja hal ini menjadikan orang Jawa terlihat sangat toleran. Meski tidak sepenuhnya menerima, tetapi yang nampak di permukaan adalah toleransi yang tinggi. Tidak semua yang nampak dipermukaan menunjukkan keadaan yang sebenarnya. 22 Setidaknya hal ini nampak secara nyata di wilayah penelitian ini. Sedikitnya ada lima agama (Islam. Kristen protestan. Katolik. Hindu dan Budh. yang dianut oleh penduduk kecamatan Gladagsari. Selain agama-agama tersebut ada pula Harrison. In Praise of Mixed Religion, 20. Nyuyki and Van Niekerk. AuSyncretism and Inculturation in the NsoAo Context of Cameroon,Ay 389. Nyuyki and Van Niekerk. AuSyncretism and Inculturation in the NsoAo Context of Cameroon,Ay 388. Soedjipto Abimanyu. Babad Tanah Jawi (Laksana, 2. , 28. Suwardi Endraswara. Falsafah Hidup Jawa (Cakrawala, 2. , 24. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 aliran kepercayaan, kebanyakan adalah kejawen dan sapto darmo yang dianut oleh beberapa orang, meskipun di kartu tanda penduduk (KTP) mereka tetap ditulis agama tertentu. wilayah penelitian ini. Islam tetap menjadi agama mayoritas yang dianut, disusul kemudian Kristen Protestan. Katolik dan Budha. Dari yang bisa diamati, semua penganut agama bisa hidup berdampingan dalam damai, bahkan dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi serta sifat orang Jawa yang mencintai kedamaian membuat suasana beragama sangat minim konflik. Hampir tidak ada perselisihan yang dilatar belakangi masalah agama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada penganut agama yang sangat fanatik terhadap keyakinan agamanya. Istilah yang sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari bahwa mereka beragama sebagai orang Jawa. AuJadi kalau Islam ya Islam Jawa. Kristen ya Kristen Jawa dan seterusnya. Ay Bambang Supriyadi dkk menyatakan Aukesadaran diri meripakan hal yang sangat penting dan hal tersebut jelas terwujud dalam toleransi yang sangat besar yang dimiliki manusia Jawa. Toleransi adalah respon terhadap berbagai realitas. Toleransi secara mendasar dapat terlihat sebagai sebuah kearifan dalam menerima dan mengembangkan perubahan yang datang dari dalam maupun luar budaya Jawa. Ay24 Dengan pandangan ini dapat dipahami bahwa orang Jawa mengembangkan sikap toleransinya sebagai satu respon terhadap berbagai realitas yang ada di lingkungan hidupnya. Hal tersebut termasuk agama, yang dapat dikatakan sebagai pengaruh atau perubahan yang berasal dari luar budaya Jawa. Pendapat senada dikemukakan oleh Bambang Noorsena yang memandang orang Jawa sangat lentur, luwes dan toleran. Semua agama dapat masuk dan diterima dengan terbuka oleh orang Jawa, mulai dari Hindu dan Budha, menyusul kemudian Islam, baru setelahnya Katolik dan Kristen. Padahal saat itu orang Jawa sudah punya agamanya sendiri dan memanggil Tuhan dengan nama Hyang. 25 Semua agama yang masuk kemudian mengalami penyesuaian, sehingga dapat dikatakan bahwa orang Jawa sangat sinkretis. Beberapa hal memang tidak bisa dipisahkan dan menjadi ciri khas orang Jawa pada Contohnya adalah pandangan kosmologis Jawa Aysedulur papat lima pancerAy. Orang Jawa meyakini bahwa setiap manusia dilahirkan dengan empat elemen gaib yang Data statistic dari Kecamatan tidak cukup akurat karena kecamatan ini baru berdiri melalui pemekaran wilayah di tahun 2020, sehingga data-data yang akurat dan lengkap mengenai jumlah penduduk dan pembagiannya menurut agama memang belum bisa diperoleh. AuIn Search of the Power of Javanese Culture against the Cultural Urbanization in Kotagede. YogyakartaIndonesia - ScienceDirect,Ay accessed February 19, 2023, https://w. com/science/article/pii/S1877042812057412. Pudjaprijatma, ed. Pijar-pijar berteologi lokal: berteologi lokal dari perspektif sejarah dan budaya. Cet. (Pustaka Percik. Salatiga bekerjasama dengan Penerbitan Sinode GKJ, 2. , 15Ae26. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . mengitari dan melindunginya. Empat elemen yaitu kakang kawah, adhi ari-ari, getih lan puser . etuban, ari-ari, darah dan tali pusa. Selain empat elemen tersebut terdapat pancer . yaitu diri sendiri, yang merupakan penyeimbang untuk menciptakan keselarasan atau 26 Berdasarkan pandangan kosmologis ini, orang Jawa senantiasa berusaha menjaga keselarasan dan keharmonisan semesta mereka. Salah satu cara menjaga keharmonisan dan keselarasan yaitu dengan mematuhi tradisi dan budaya yang sudah dilakukan turun temurun. Segala hal yang dilakukan diyakini akan menjaga keselarasan dan Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan keberagamaan di wilayah penelitian juga menjadi hal yang patut dicermati. Teologi pentakostalisme yang merupakan aliran teologi sebagian besar gereja di wilayah penelitian beranggapan bahwa budaya di luar kekristenan sebagai budaya pagan. Pandangan seperti ini mungkin saja diturunkan dari perilaku para misionaris saat membawa Injil ke tanah Jawa. Sikap superior kolonial yang merendahkan manusia dan budaya lokal, bahkan menganggap penginjil pribumi (Kyai Sadrak. yang menggunakan pendekatan-pendekatan kontekstual sebagai hal uyang sinkretis. Sikap seperti ini kemudian diadopsi dan nampak dari sikap gereja terhadap budaya Dengan pandangan ini maka anggota jemaat yang masih melaksanakan bagian-bagian dari tradisi dianggap tidak patuh pada Firman Tuhan dan bersikap sinkretis. Tradisi-tradisi tersebut antara lain slametan . , besik punden Ae Ruwahan dan Saparan - Nyadran . embersihkan maka. , dhawuhan . embersihkan mata ai. Sebagian dari tradisi tersebut melibatkan persembahan . kepada para penunggu/ Danyang/ Hyang, meski demikian di antara jemaat sudah memahami untuk mendoakannya secara Kristiani. Pandangan Pemimpin Gereja terhadap Budaya dan Sinkretisme Jawaban yang muncul mengenai budaya, secara umum para partisipan mengasosiasikan budaya dengan kebiasaan atau adat istiadat, yang dilakukan terus menerus dan sulit diubah. Jawaban-jawaban ini dapat dikategorikan sebagai pemahaman yang sangat Bagi kebanyakan orang budaya memang selalu dikaitkan bahkan disamakan dengan adat istiadat atau kebiasaan sebuah komunitas. Endraswara. Falsafah Hidup Jawa, 1-12. Emanuel Gerrit Singgih. AuA Postcolonial Biography of Sadrach: The Tragic Story of an Indigenous Missionary,Ay Al-JamiAoah: Journal of Islamic Studies 53, no. : 376Ae78, 2, https://doi. org/10. 14421/ajis. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 Pertanyaan berikutnya mengenai pandangan para pemimpin gereja terhadap budaya. Secara umum dinyatakan bahwa ada hal positif ditemukan di dalam budaya, para partisipan merujuk pada perilaku-perilaku yang secara moral etis dianggap baik atau positif. Dapat dikatakan bahwa contoh-contoh perilaku yang disebutkan oleh para partisipan adalah nilainilai normatif dalam komunitas atau masyarakat. Selain itu anggapan bahwa ada hal positif dalam budaya dikaitkan dengan bermanfaat atau tidaknya suatu budaya . nsur buday. dalam upaya pekabaran Injil. Artinya apapun bentuk unsur budaya tersebut, selalu positif atau baik jika ia berguna bagi pekabaran Injil. Dengan demikian pekabaran Injil menjadi standar penilaian bagi baik atau buruknya suatu budaya. Pertanyaan mengenai apa itu sinkretisme, tema jawaban yang muncul adalah perpaduan, pencampuran, penggabungan kepercayaan dan budaya. Sedangkan saat ditanya mengenai apa pendapat atau pandangan mengenai sinkretisme, tiga pendeta tegas menyatakan tidak boleh melakukan sinkretisme (P1. P2. dan dua lainnya menyatakan tergantung tujuannya apa (P3. Dari temuan lapangan diketahui bahwa semua pendeta menyatakan jika tidak ada sinkretisme, atau secara tidak langsung mereka menolak adanya sinkretisme dalam kekristenan. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, maka dapat ditemukan secara implisit maupun eksplisit bahwa praktik sinkretisme terjadi dalam gereja yang mereka pimpin. Contoh sederhana ketika Pdt. A menyatakan Autetapi ada bentuk budaya yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kepercayaan, seumpama tarian, jadi kalau di gereja kami tarian dari adat, bahkan seluruh adat yang ada di Indonesia pernah ditarikan dengan pakaian yang adat. Ay Dari kutipan kalimat di atas, secara tidak sadar sinkretisme sudah terjadi. Meskipun secara eksplisit yang bersangkutan menolak disebut sinkretis tetapi budaya telah diadopsi dan diasimilasikan dalam ibadah kekristenan. Dengan tradisi Pentakostal-Karismatik yang menjadi latar belakangnya, penolakan para partisipan dapat dipahami karena anggapan bahwa pencampuran adalah kesalahan yang tidak bisa dilakukan. Para pendeta beranggapan bahwa pencampuran dapat merusak kemurnian, kesalehan dan kesucian hidup yang menjadi penekanan dalam teologi Pentakonta selain dari penekanan pada karunia-karunia Roh Kudus. Dengan demikian penekanan pada kemurnian ajaran, kesalehan dan kesucian hidup menjadi hal utama. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Harrison, maka sinkretisme yang terjadi dan dipraktikkan dalam gereja-gereja yang diteliti rata-rata berada pada posisi sinkretis Th. van den End. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas, 19th ed. (BPK Gunung Mulia, 2. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . asimetris, di sana terlihat secara jelas, bahwa terjadi pencampuran yang tidak seimbang, di mana kekristenan bertindak sebagai yang lebih superior dan budaya hanya dianggap sebagai alat saja. Bahkan budaya hanya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal ini untuk mengabarkan Injil, agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Tidak ada tujuan yang lebih tinggi sampai kepada mengembangkan atau melestarikan unsur budaya yang diambil, atau bahkan mungkin keinginan untuk merefleksikan suatu unsur atau bagian dari kekristenan yang mulai dilupakan atau diabaikan. Jadi budayaAedalam hal ini seni tari, seni musik, tata busana dllAedianggap hanya sebagai satu alat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kekeristenan atau mewartakan Injil. Tanpa tujuan pewartaan Injil, maka sinkretisme adalah hal yang tabu untuk dilakukan, bahkan ditolak sedemikian rupa. Di lain sisi apa yang dilakukan gereja memang membuktikan bahwa memang batasan-batasan antara agama dan budaya sangat cair, bahkan sangat sulit menentukan batasan yang tegas di antara keduanya. Cairnya batasan sebenarnya dapat dilihat dari bagaimana para pendeta menggunakan musik, tarian dan busana Jawa dalam liturgi ibadah gereja masing-masing. Kenyataan bahwa dalam sinkretisme yang kritis ini identitas kekristenan tidak berubah, namun tantangan dari konteks lokal dapat dijawab. Melalui buktibukti mengenai cairnya batasan-batasan ini para pemimpin gereja seharusnya menyadari bahwa sinkretisme memang ada. Sinkretisme bukan sesuatu yang harus dihindari. Sinkretisme justru dapat menjadi sesuatu yang baik, dalam hal ini untuk mewartakan Injil, tentu saja menjadi alat yang baik untuk pengembangan kekristenan. Berbanding terbalik dengan sikap para pendeta, sikap jemaat dalam temuan penulis di penelitian awal menunjukkan bahwa jemaat Kristen di lereng Merbabu umumnya, dan di kecamatan Gladagsari kabupaten Boyolali khususnya, sangat sinkretis. Seperti umumnya orang Jawa dalam beragama yang mengedepankan harmoni atau keselarasan, secara umum jemaat Kristen di wilayah penelitian mementingkan toleransi yang harmonis dengan agama lain dan budaya Jawa. Mereka sering mengungkapkan bahwa mereka beragama sebagai orang Jawa. AuJadi kalau Islam ya Islam Jawa. Kristen ya Kristen Jawa dan seterusnyaAy. Jadi sesungguhnya baik disadari atau tidak, jemaat Kristen lebih terbuka dengan sinkretisme. Pemahaman ini diperoleh selama berada di lapangan penelitian, melalui pembicaraan dan pergaulan bersama dengan warga masyarakat, baik dari jemaat-jemaat Kristen maupun dari warga masyarakat yang memeluk agama lain. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 Sikap jemaat yang demikian juga menjadi perhatian Ki Atma dalam pengantarnya di buku Pijar-pijar Berteologi Lokal. Adapun bentuk sinkretisme yang dilakoni oleh para Jemaat, dapat penulis asumsikan sebagai sinkretisme simetris, di mana pencampuran yang terjadi saling mengisi dan memberi makna, bahkan membangun makna-makna yang baru untuk saling berkembang. Sebagai contoh di lingkungan dukuh Doro . empat penulis tingga. terdapat tradisi peringatan kematian seperti pada umumnya masyarakat Jawa. Tujuh hari pertama setelah kematian, biasanya diadakan acara AuTahlilanAy menurut tradisi Islam Abangan. Bagi Jemaat Kristen, tradisi ini tetap dilaksanakan, dengan simbol-simbol yang diberi makna Kristiani, doa yang dinaikkan dan khotbah yang disampaikan dengan cara Kristen. Dengan perilaku ini, tradisi tetap terjaga dan berkembang dengan baik, sedangkan kekristenan tidak dipandang sebagai kepercayaan asing yang menolak tradisi dan budaya lokal. Upaya Gereja Lokal dalam Membangun Teologi Kontekstual Yang terakhir mengenai bagaimana Gereja membangun teologi atau pengajaran yang kontekstual, semua partisipan menyatakan pemanfaatan seni berupa lagu-lagu, tarian, pakaian, wayang, sepanjang seni tersebut tidak melibatkan roh-roh dan penyembahan Dari apa yang diungkapkan oleh para pendeta, penulis menemukan bahwa mereka belum sepenuhnya memahami makna membangun teologi dan pengajaran yang kontekstual. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban mereka yang hanya fokus pada contoh-contoh praktis yang mereka lakukan atau gunakan sebagai alat mewartakan Injil. Hal-hal seputar konsepkonsep teologi kontekstual tidak muncul. Demikian juga dengan bagaimana mereka menyampaikan pengajaran-pengajaran gereja secara lebih kontekstual tetap tidak muncul di Sikap eksklusif ditunjukkan oleh para partisipan. Mereka dengan lugas menyatakan menggunakan unsur budaya tertentu, seperti musik, lagu-lagu, tarian dan busana daerah untuk membuat liturgi ibadah yang kontekstual. Namun dalam hal pengajaran teologis luput dari perhatian para partisipan. Belum ada upaya yang nyata untuk membangun konsep teologi yang dapat mengakomodasi budaya lokal. Pudjaprijatma, ed. Pijar-pijar berteologi lokal: berteologi lokal dari perspektif sejarah dan budaya. Cet. (Turusan. Salatiga: Pustaka Percik. Salatiga bekerjasama dengan Penerbitan Sinode GKJ, 2. , xix Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . Rekomendasi bagi Pembangunan Teologi Kontekstual dalam Konteks Lereng Merbabu Sebelum memberikan usulan mengenai bagaimana mengurai kekuatiran atas sinkretisme dalam upaya membangun teologi kontekstual di gereja-gereja Lereng Merbabu. maka perlu dipaparkan lebih dahulu temuan-temuan dalam penelitian di atas. Pertama, para pendeta baik secara eksplisit maupun implisit mempraktikkan sinkretisme asimetris, di mana mereka menggunakan unsur-unsur budaya tertentu untuk kepentingan gereja, dalam hal ini untuk mewartakan Injil, tanpa mengubah bentuk dan identitas dari kekristenan. Kedua, sekalipun para pendeta menjawab bahwa mereka melakukan upaya kontekstualisasi dalam pengajaran gereja, namun para pendeta tidak bisa menjelaskan konsep kontekstualisasi yang mereka lakukan. Hanya contoh-contoh kegiatan atau praktik yang mereka lakukan saja yang dijelaskan melalui proses wawancara. Berdasarkan temuan-temuan tersebut maka usulan yang dapat diajukan melalui tulisan ini bagi gereja-gereja di Lereng Merbabu. Pertama, memandang sinkretisme dengan cara pandang yang lebih positif, mengingat sinkretisme adalah hal yang universal dan bahkan bisa menjadi penanda bahwa sebuah keyakinan atau agama sehat dan mampu beradaptasi dengan konteksnya. Kedua, berupaya membangun teologi yang sesuai dengan konteks budaya lokal, dengan membuka wawasan dan menghindarkan diri dari bersikap eksklusif dan menghakimi budaya, dan menganggap bahwa budaya Barat yang dibawa para misionaris sebagai budaya Kristen. Sebenarnya para pendeta sudah berupaya membuat liturgi yang kontekstual, dari sikap itu dapat dilihat ada keterbukaan, meski belum maksimal. Ketiga, bersikap lebih terbuka dengan menggali lebih dalam dan luas mengenai budaya Jawa yang dikembangkan dalam konteks Lereng Merbabu. Jika ditelisik lebih lanjut budaya Jawa sangat mengedepankan keharmonisan dan keselarasan dengan sekitarnya. 31 Hal ini dapat menjadi kesempatan yang sangat baik untuk membangun teologi yang kontekstual. Bisa saja mengawali dengan memaknai secara kristiani tradisi-tradisi yang masih diikuti oleh beberapa jemaat, seperti peringatan kematian . iga hari, tujuh hari, 40 hari dan seterusny. Prosiding webinar memberdayaan warisan tradisi religius hasil penelitian Fakultas Teologi. UKDWSinode GKJ. Sabtu, 4 Desember 2021. Cetakan pertama (Yaysan Taman Pustaka Kristen Indonesia, 2. , 30Ae32. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 132-146 Kesimpulan Dari seluruh pembahasan di atas dapat ditarik simpulan bahwa para partisipan secara umum memandang budaya sebagai adat kebiasaan yang dianut oleh masyarakat. Partisipan juga melihat kebudayaan memiliki sisi positif terutama berkaitan dengan moralitas dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Para partisipan memandang sinkretisme dengan cara yang negatif bahkan cenderung menolak adanya sinkretisme. Meskipun ada dua orang partisipan yang mempertimbangkan sinkretisme dengan tujuan tertentu, namun saat didalami lebih lanjut dapat dilihat kecenderungan penolakan tetap muncul. Penolakan ini dapat dinilai sebagai bagian dari usaha untuk menjaga kemurnian ajaran dan doktrin gereja yang bercorak pentakosta-karismatik. Sekalipun sudah dilakukan namun belum ada keseriusan dalam membangun teologi kontekstual. Yang dilakukan hanya liturgi kontekstual, namun pengajaran yang sesuai konteks belum dilaksanakan. Usulan yang diberikan untuk perbaikan dalam mengurai kekawatiran atas sinkretisme adalah membuka wawasan dan bersikap lebih terbuka terhadap budaya agar dapat memahami budaya secara lebih mendalam. Membuka diri untuk melihat sisi positif dari sinkretisme. Kepustakaan Abimanyu. Soedjipto. Babad Tanah Jawi. Laksana, 2014. Barnawi, and jajat Darojat. Penelitian Fenomenologi Pendidikan. Ar Ruzz Media, 2018. Creswell. John W. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Edisi Indonesia 3. Pustaka Pelajar. End. Th. van den. Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. 19th ed. BPK Gunung Mulia, 2007. Endraswara. Suwardi. Falsafah Hidup Jawa. Cakrawala, 2012. Ghozali. Achmad. AuSinkretisme Agama Dan Budaya Bagi Masyarakat Jawa. Ay Javano Islamicus 1, no. : 67Ae79. https://doi. org/10. 15642/Javano. Harrison. William H. In Praise of Mixed Religion: The Syncretism Solution in a Multifaith World. McGill-Queens Univ. Press, 2014. AuIn Search of the Power of Javanese Culture against the Cultural Urbanization in Kotagede. Yogyakarta-Indonesia - ScienceDirect. Ay Accessed February 19, 2023. https://w. com/science/article/pii/S1877042812057412. Jong. Kees de, and Yusak Tridarmanto, eds. Perjumpaan interaktif antara teologi dan budaya: kajian tentang pemahaman dan persepsi mengenai teologi interkultural di Aras Akademis dan Gerejawi. Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia . Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, 2018. Sianny Astuti: Membangun Teologi Kontekstual di Tengah Kekuatiran atas Sinkretisme di . Khasanah. Khuswatun. AuNguri-Uri Paribasan Jawa: Desa Mawa Cara. Negara Mawa Tata. Ay Nguri-Uri Paribasan Jawa. October https://nguriuriparibasanjawa. com/2015/10/desa-mawa-cara-negara-mawatata. Kristiyanto. Eddy. AuMeretas Teologi Kon(Mult. Tekstual-Liberatif Dalam Perguruan Tinggi Kita. Ay In Teologi Yang Membebaskan Dan Membebaskan Teologi. Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia : Pusat Studi Agama-Agama. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, 2016. Martasudjita. Emanuel Pranawa Dhatu. Teologi Inkulturasi: Perayaan Injil Yesus Kristus Di Bumi Indonesia. Penerbit Kanisius, 2021. Nyuyki. Peter Siysi, and Attie Van Niekerk. AuSyncretism and Inculturation in the NsoAo Context of Cameroon. Ay STJ | Stellenbosch Theological Journal 2, no. : 381Ae https://doi. org/10. 17570/stj. Prosiding webinar memberdayaan warisan tradisi religius hasil penelitian Fakultas Teologi. UKDW-Sinode GKJ. Sabtu, 4 Desember 2021. Cetakan pertama. Yaysan Taman Pustaka Kristen Indonesia, 2022. Pudjaprijatma, ed. Pijar-pijar berteologi lokal: berteologi lokal dari perspektif sejarah dan Cet. Pustaka Percik. Salatiga bekerjasama dengan Penerbitan Sinode GKJ. Sarifa. Yunasta. Wahid Nur Tualeka, and Mahmud Muhsinin. AuSinkretisme Agama Dan Budaya Pada Bingkai Tradisi Lokal Gebyak Dusun Di Dusun Pacet Made. Mojokerto. Jawa Timur. Ay RiAoayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan 8, no. : 21. https://doi. org/10. 32332/riayah. Singgih. Emanuel Gerrit. AuA Postcolonial Biography of Sadrach: The Tragic Story of an Indigenous Missionary. Ay Al-JamiAoah: Journal of Islamic Studies 53, no. : 2. https://doi. org/10. 14421/ajis. Tanuwidjaja. Sundoro, and Samuel Udau. AuIman Kristen Dan Kebudayaan. Ay Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 1. https://doi. org/10. 46445/jtki. Wibowo. Wahju S. , and Robert Setio, eds. Teologi Yang Membebaskan Dan Membebaskan Teologi. Fakultas Teologi UKDW & Yayasan TPK, 2016.