ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Volume 1 . Juni 2025, 62-77 ISSN: 3090-4692 (Onlin. Tersedia online: https://rumahjurnal. id/index. php/arted Upaya Pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta Dandi Afianto1*. Malarsih2 Universitas Negeri Semarang. Indonesia1,2 Email: dandiafianto@students. Abstrak: Tari Loro Blonyo adalah tari yang diciptakan oleh F. Hari Mulyanto. Kar. Hum. seorang penari sekaligus koreografer asal Desa Bonoroto. Karanganyar, pada tahun 1989-an. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta dan bagaimana upaya pelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan serta mengkaji upaya pelestarian Tari Loro Blonyo, termasuk faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelestariannya di Kota Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan Tari Loro Blonyo terdiri atas elemen dasar tari dan unsur tata rupa pendukung. Upaya pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta mencakup tiga aspek utama, yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, serta didukung dan dihambat oleh berbagai faktor tertentu. Kata Kunci: Bentuk Pertunjukan. Loro Blonyo. Upaya Pelestarian. Abstract: The Loro Blonyo Dance is a traditional dance created by F. Hari Mulyanto. Kar. Hum. , a dancer and choreographer from Bonoroto Village. Karanganyar, in the late 1980s. This study investigates the form of the Loro Blonyo Dance performance in Surakarta City and the efforts made to preserve it. The purpose of the study is to describe the structure of the performance and to examine the preservation efforts, including the supporting and inhibiting factors in Surakarta City. The research employs a qualitative method with an ethnochoreological approach. Data were collected through observation, interviews, and The results reveal that the performance of the Loro Blonyo Dance consists of basic dance elements and supporting visual components. Preservation efforts in Surakarta City encompass three main aspects: protection, development, and utilization, all of which are influenced by both supporting and inhibiting factors. Keywords: Performance Form. Loro Blonyo. Preservation Efforts DOI: 10. 70078/arted. A Penulis. Diterbitkan oleh CV ALFA EDU KARYA. CC BY SA: Artikel ini didistribusikan di bawah ketentuan Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Afianto & Malarsih Pendahuluan Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki beragam kesenian tradisional kerakyatan. Tari tradisional kerakyatan adalah jenis tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat lokal sejak zaman nenek moyang hingga saat ini (Soedarsono, 2. Pemahaman ini menempatkan tari rakyat sebagai bentuk seni yang telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Tari tradisional kerakyatan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sebagai penunjang kebutuhan serta ekspresi budaya mereka. Salah satu kota yang masih kental dengan unsur kesenian tradisional kerakyatan adalah Kota Surakarta. Kota ini dikenal sebagai pusat budaya di Jawa Tengah karena keberagaman seni dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Berbagai bentuk kesenian tumbuh dan berkembang di Surakarta, baik kesenian yang berasal dari lingkungan keraton seperti tari tradisional klasik, maupun kesenian yang lahir dari masyarakat desa seperti tari tradisional kerakyatan. Salah satu bentuk tari kerakyatan yang dilatarbelakangi oleh kebutuhan dan kepercayaan masyarakat adalah Tari Loro Blonyo. Tarian ini muncul sebagai respons terhadap fenomena mistis yang terjadi di masyarakat Desa Bonoroto. Karanganyar. Beberapa peristiwa yang dianggap sebagai pertanda oleh masyarakat memunculkan kebutuhan akan sebuah bentuk doa atau permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari sinilah lahir sebuah tarian yang mengandung makna permohonan agar terhindar dari hal-hal buruk yang dapat merugikan masyarakat desa. Tari Loro Blonyo diciptakan oleh Bapak Hari Mulyanto. Tarian ini memiliki semangat doa yang ditujukan kepada Tuhan. Kata loro berarti "dua orang" dan blonyo berasal dari bahasa Jawa diblonyoi yang berarti "diwarnai" atau "dihias". Tari Loro Blonyo menggambarkan sosok Dewi Sri dan Raden SadanaAisepasang patung Loro Blonyo yang diyakini oleh masyarakat Jawa sebagai simbol keberkahan, keselamatan, dan Dalam perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi. Tari Loro Blonyo mengalami berbagai transformasi. Pada awal penciptaannya, tarian ini diberi nama Tari Sren oleh Seiring waktu, nama dan bentuk pertunjukannya mengalami perubahan. Dahulu, tarian ini difungsikan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen dan harapan agar terhindar dari bencana. Kini, fungsinya berkembang menjadi bagian dari pertunjukan seni, pariwisata, dan pelestarian budaya. Aspek-aspek seperti penggunaan tari, iringan musik, tata rias, dan busana juga mengalami perkembangan. Meskipun mengalami perubahan. Tari Loro Blonyo tetap mempertahankan ciri khasnya, terutama dalam gerakannya yang berbeda dari tari-tari lain di Surakarta. Busana yang digunakan mencerminkan artefak dari berbagai kesenian rakyat, tata rias yang unik, serta iringan musik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat seni, baik dari kalangan lokal maupun luar daerah. Upaya pelestarian menjadi kunci agar kesenian seperti Tari Loro Blonyo tetap hidup dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Pelestarian tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, karena kesenian tidak akan bertahan tanpa dukungan dari mereka. Keberadaan kesenian juga tidak dapat dipisahkan dari peran pemerintah dan masyarakat dalam memberikan ruang, perlindungan, dan pengembangan bagi seni Vol. No. Juni 2025 | 63 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Pemanfaatan kesenian secara berkelanjutan menjadikannya tetap eksis di tengah arus modernisasi. Salah satu indikator keberhasilan suatu daerah dalam menjaga identitas budayanya adalah dengan terus hidupnya kesenian tradisional yang menjadi daya tarik, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Oleh karena itu, generasi penerus diharapkan mampu melestarikan kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Surakarta. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai Upaya Pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta. Paparan di atas memberikan gambaran awal mengenai pentingnya pelestarian Tari Loro Blonyo sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Surakarta. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnokoreologi serta pendekatan etik dan emik. Pendekatan etnokoreologi merujuk pada teori yang dikemukakan oleh Soedarsono . , di mana "etno" berarti suku bangsa, dan "koreologi" berasal dari bahasa Yunani choros yang berarti tari, serta logos yang berarti ilmu pengetahuan. Etnokoreologi adalah pendekatan ilmiah terhadap tari dalam budaya masyarakat. Selain itu, peneliti juga menggunakan pendekatan etik dan emik. Pendekatan etik merupakan sudut pandang yang berasal dari peneliti sebagai pihak luar, sedangkan pendekatan emik berasal dari perspektif masyarakat yang diteliti (Handayaningrum. Penggunaan kedua pendekatan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan menyeluruh mengenai objek penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa lokasi yang berkaitan langsung dengan subjek dan objek penelitian. Lokasi utama berada di rumah Bapak Hari Mulyanto selaku pencipta Tari Loro Blonyo, yang beralamat di Desa Bonoroto. RT 01/RW 12. Plesungan. Gondangrejo. Karanganyar. Selain itu, observasi dan wawancara juga dilakukan di Gedung Wayang Wong Sriwedari bersama Bapak Destian Aji, penari generasi muda Tari Loro Blonyo. Wawancara tambahan dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Surakarta dengan narasumber Bapak Amir dan Ibu Anis selaku perwakilan dinas. Sasaran dalam penelitian ini mencakup: Bentuk pertunjukan Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta. Upaya pelestariannya, serta Faktor pendorong dan penghambat pelestarian tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga teknik utama sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono . , yaitu observasi, wawancara, dan A Observasi yang digunakan adalah observasi nonpartisipatif, yaitu peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang diamati. Peneliti hanya mengamati dan mencatat informasi yang diperoleh dari interaksi dengan para narasumber. A Wawancara dilakukan secara mendalam dengan Bapak Hari Mulyanto selaku pencipta tari. Ibu Sri Setyoasih sebagai istri dan pendukung, serta Saudara Destian Aji sebagai penari generasi muda. Vol. No. Juni 2. 64 Afianto & Malarsih Dokumentasi meliputi pengumpulan foto, rekaman video, serta arsip-arsip yang relevan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Surakarta. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan metode triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber, dengan berbagai teknik, dan pada waktu yang berbeda. Metode ini digunakan untuk menguji kredibilitas temuan dalam penelitian kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dalam Rohidi . , yang menyatakan bahwa analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan hingga data mencapai titik Proses analisis meliputi tiga tahapan utama, yaitu: Reduksi data. Penyajian data, dan Penarikan kesimpulan. Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara simultan dan membentuk rangkaian proses yang menggambarkan keberhasilan dalam memperoleh dan mengolah data Adapun prosedur penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan dan menganalisis data secara objektif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, kemudian memaparkannya secara deskriptif mengenai upaya pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian mengenai upaya pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta disusun berdasarkan fokus utama penelitian, yaitu aspek sejarah dan bentuk koreografi, yang mencakup unsur gerak, pola lantai, iringan, busana, dan tata rias. Selain itu, upaya pelestarian disajikan berdasarkan tiga aspek utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, sebagaimana dikemukakan oleh Sedyawati . Setiap temuan dijelaskan secara sistematis dan deskriptif sesuai dengan data lapangan yang diperoleh dari lokasi penelitian, yaitu di Desa Bonoroto. Plesungan. Gondangrejo. Karanganyar. Pada bagian ini, analisis interpretatif belum dilakukan. penyajian difokuskan pada temuan empiris sebagai dasar pembahasan lebih lanjut. Sejarah Terbentuknya Tari Loro Blonyo Tari Loro Blonyo diciptakan oleh F. Hari Mulyanto pada tahun 1988Ae1989 dengan judul awal Tari Sren. Seiring waktu, tarian ini mengalami rekonstruksi dan perubahan, baik dari segi nama, struktur koreografi, maupun tampilan visual, sehingga kemudian dikenal dengan nama Tari Loro Blonyo. Awalnya, tarian ini dibawakan oleh istri sang koreografer dengan menggunakan kostum dodot ageng gaya Surakarta, pidih hitam sebagai pelapis tubuh, serta rias wajah putih-putih yang terinspirasi dari paes Tari Bedhaya Ketawang dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebagai informasi tambahan. Tari gaya Surakarta sendiri merupakan salah satu bentuk tari klasik yang berkembang di lingkungan Keraton Surakarta, yang berdiri sejak tahun 1745 oleh Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana II (Supriyanto, 2. Vol. No. Juni 2025 | 65 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Tari Loro Blonyo sempat dipentaskan dalam acara di Taman Budaya Jawa Tengah pada tahun 1994 dengan versi baru yang memperbarui unsur busana dan koreografi. Dalam versi ini, penari perempuan mengenakan sorjan bermotif alas-alasan dan jarik batik motif sekar jagad, yang menyimbolkan keterlibatan semesta dalam mendoakan kesuburan dan kemakmuran. Hal ini mencerminkan peran tari sebagai media ritual yang sarat makna simbolik dan spiritual. Utami . menegaskan bahwa tari tradisional adalah bentuk ekspresi budaya yang mengandung simbol-simbol nilai spiritual dan sosial masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman. Tari Loro Blonyo juga mengalami penyesuaian dalam aspek koreografi, iringan, dan busana sesuai dengan kebutuhan pertunjukan. Bentuk Pertunjukan Tari Loro Blonyo Menurut Malarsih dalam Sari . , latar belakang penciptaan sebuah karya tari memiliki pengaruh langsung terhadap bentuk koreografi yang disusun oleh Bentuk pertunjukan Tari Loro Blonyo dapat dibagi menjadi tiga bagian Maju Beksan Ae bagian pembuka yang menjadi pengantar suasana dan membangun kesan awal. Beksan Ae bagian inti yang menyampaikan nilai, pesan, serta filosofi yang ingin diungkapkan dalam tarian. Mundur Beksan Ae bagian penutup yang menandai berakhirnya pertunjukan dengan elegan. Bentuk penyajian ini merupakan refleksi dari struktur tari klasik gaya Surakarta, yang juga diterapkan dalam pertunjukan Bedhaya Ketawang. Gerak dan Pola Lantai Gerak merupakan unsur utama dan paling mendasar dalam tari. Menurut Hari . alam Murcahyanto, 2. , sebuah karya tari tercipta melalui proses stilisasi, yaitu pengolahan gerak sehari-hari menjadi gerak artistik yang mengandung nilai estetika. Proses ini memerlukan ketekunan, kepekaan, serta pemahaman mendalam terhadap makna gerak. Sebagaimana dalam Tari Bedhaya Ketawang, struktur penyajian Tari Loro Blonyo juga terbagi dalam tiga bagian: maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Masing-masing bagian memiliki rangkaian gerak khas yang mencerminkan nilai-nilai tertentu. Pola lantai dalam Tari Loro Blonyo turut memperkuat penyajian gerak dan mendukung visualisasi keseluruhan karya. Menurut Paranti . , pola lantai merupakan unsur penting dalam komposisi tari karena mengatur posisi dan pergerakan penari di ruang pertunjukan secara seimbang dan harmonis. Pola lantai yang digunakan dalam Tari Loro Blonyo terdiri atas tiga bentuk utama: Gawa Jejer Ae posisi sejajar lurus berpasangan. Melingkar Ae penari membentuk formasi lingkaran. Putri Diam. Laki-laki Mengelilingi Ae penari perempuan berada di posisi tetap, sementara penari laki-laki bergerak mengelilinginya. Vol. No. Juni 2. 66 Afianto & Malarsih Setiap pola lantai tersebut digunakan untuk memperkuat makna dalam setiap tahapan pertunjukan dan menciptakan dinamika visual yang menarik. Maju Beksan Maju beksan merupakan bagian pembuka dalam struktur penyajian Tari Loro Blonyo. Bagian ini berfungsi sebagai introduksi yang memperkenalkan karakter, suasana, dan niat utama dari pertunjukan tari (Sari, 2. Dalam Tari Loro Blonyo, bagian ini ditandai dengan gerakan maju penari menuju tengah panggung secara beriringan, mencerminkan keharmonisan dan keselarasan antarpenari. Gerakan yang digunakan pada bagian maju beksan merupakan perpaduan antara pacak gulu dan lumaksana, dengan karakter gerak yang lembut, hati-hati, dan anggun. Karakteristik ini menggambarkan nilai kesakralan, serta doa dan harapan yang dibawa oleh tokoh mitologis Dewi Sri dan Raden Sadana. Bagian pembuka dalam tari tradisional berfungsi sebagai penanda transisi antara dunia nyata dan dunia simbolik. Oleh karena itu, maju beksan dalam Tari Loro Blonyo dapat dipahami sebagai bentuk penyambutan bagi penonton untuk memasuki dimensi spiritual pertunjukan. Pada tahap ini, penonton mulai dikenalkan dengan unsur visual seperti busana, riasan wajah, dan pola lantai dasar yang akan dikembangkan pada bagian inti. Beksan Beksan adalah bagian inti dari pertunjukan tari yang berfungsi sebagai pusat penyampaian nilai, pesan, dan filosofi (Sari, 2. Dalam Tari Loro Blonyo, bagian beksan menjadi representasi dari doa-doa kesuburan dan kemakmuran, yang diperankan oleh simbolisasi tokoh Dewi Sri dan Raden Sadana. Ragam gerak utama yang muncul dalam bagian ini antara lain pacak gulu, pendapan, dan lumaksana. Ketiga jenis gerak ini saling terkait dan membentuk rangkaian yang utuh. Gerak-gerak tersebut dapat diulang sesuai kebutuhan dan tempo iringan musik yang digunakan dalam pertunjukan. Gambar 1. Beksan Tari Loro Blonyo Vol. No. Juni 2025 | 67 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Gerakan tangan dan kaki dalam bagian beksan sarat akan makna filosofis. Misalnya, ayunan kaki yang menghentak tanah dimaknai sebagai ajakan kepada makhluk bumi untuk turut serta dalam mendoakan kesejahteraan (Wibowo, 2. Sementara itu, pola lantai seperti melingkar dan adu kanan-kiri menggambarkan hubungan harmonis antara unsur laki-laki dan perempuan, serta menyimbolkan keterhubungan kosmologis antara langit dan bumi. Bagian beksan menampilkan kekayaan estetika dan simbolik yang mendalam. Hal ini sejalan dengan pandangan Soedarsono . bahwa tari kerakyatan berperan sebagai "bahasa simbolik tubuh" yang menyampaikan nilai-nilai luhur melalui ragam gerak yang terstruktur dan bermakna. Mundur Beksan Mundur beksan adalah bagian penutup dalam struktur penyajian Tari Loro Blonyo. Bagian ini berfungsi sebagai penanda bahwa pertunjukan telah mencapai akhir, sekaligus sebagai simbol kembalinya penonton dan penari ke alam nyata setelah memasuki dunia simbolik dan spiritual selama pertunjukan berlangsung. Pada bagian ini, penari melaksanakan gerak lumaksana secara perlahan dan anggun sambil meninggalkan area pertunjukan. Meskipun intensitas geraknya lebih tenang dibanding bagian inti, nilai simbolik tetap dijaga dalam setiap langkah. Gerakan dalam mundur beksan memberikan nuansa reflektif dan kontemplatif, yang menuntun penonton pada suasana akhir yang hening dan bermakna. Menurut Sakanthi . , bagian penutup dalam pertunjukan tari tradisional berfungsi untuk mengembalikan energi spiritual pertunjukan ke ruang asalnya. Oleh karena itu, posisi dan formasi akhir dalam Tari Loro Blonyo disusun sedemikian rupa untuk memberikan kesan penutupan yang utuh dan bermakna. Mundur beksan juga menandai perpisahan antara penari, penonton, dan makna simbolik pertunjukan itu sendiri, serta menutup pengalaman spiritual yang dibangun sejak awal pertunjukan. Iringan Tari Loro Blonyo Menurut Soedarsono . , iringan tari adalah musik pengiring yang memiliki keterkaitan erat dengan gerakan tari. Iringan ini memberikan irama untuk mengatur ritme atau hitungan tari, serta membantu memperkuat ekspresi makna dari setiap Iringan dalam Tari Loro Blonyo berfungsi sebagai pendukung dan menjadi bagian penting yang menyatu dengan struktur penyajian tari. Iringan tersebut mengandung makna simbolik, yang disampaikan secara utuh melalui kombinasi musik dan gerak. Alat musik utama dalam Tari Loro Blonyo adalah lesung, alat tradisional Jawa yang biasa digunakan untuk menumbuk padi. Suara yang dihasilkan dari lesungAiterutama saat ditumbuk bersama-samaAimenghadirkan irama alami dengan nuansa nada yang Inilah yang kemudian menginspirasi koreografer untuk menjadikan lesung sebagai alat musik utama dalam iringan Tari Loro Blonyo. Selain lesung, iringan juga dipadukan dengan lagu-lagu dolanan tradisional Jawa. Vol. No. Juni 2. 68 Afianto & Malarsih Uran-uran A Nini Thowok A Slindang A Cublak-cublak Suweng Lagu-lagu tersebut kaya akan nilai budaya dan pesan moral, dan berperan dalam membangun suasana pertunjukan yang sarat nilai spiritual dan kesakralan. Seiring perkembangan zaman, iringan dalam Tari Loro Blonyo mulai mengalami modifikasi dengan penambahan unsur musik diatonis dan pentatonis, menyesuaikan kebutuhan pertunjukan modern tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya. Busana Tari Loro Blonyo Menurut Soedarsono . , busana tari mencakup seluruh perlengkapan penampilan penari, baik yang terlihat oleh penonton seperti pakaian dan rias, maupun yang tidak terlihat seperti stagen atau dalaman. Busana memiliki fungsi untuk: A Menghidupkan karakter tokoh A Membedakan peran antarpenari A Mendukung gerakan tari secara fungsional dan estetis Dalam Tari Loro Blonyo, busana penari dibagi menjadi dua jenis, yaitu busana penari putri dan busana penari putra. Keduanya dirancang untuk saling melengkapi dalam penyampaian makna pertunjukan. Gambar 2. Busana Tari Loro Blonyo Busana Penari Putri: Penari putri mengenakan: A Sanggul dilengkapi dengan cundul mentul dari janur yang berbentuk bintang, ulat, dan burung. o Bintang melambangkan spirit doa kehidupan o Ulat menggambarkan proses transformasi atau metamorfosis o Burung bermakna harapan agar doa-doa dapat dilangitkan layaknya burung terbang bebas di angkasa Vol. No. Juni 2025 | 69 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Kebaya atau dodot bermotif alas-alasan, simbol dari semesta yang turut serta dalam mendoakan keselamatan dan kesuburan A Jarik bermotif sekar jagad, serta perlengkapan tambahan seperti buntal, sampur, slepe, dan stagen A Rias wajah terdiri dari: o Pidih putih untuk alas wajah o Pidih hitam untuk paes, alis, dan garis mata o Lipstik merah sebagai aksen Busana Penari Putra: Penari putra mengenakan: A Kuluk, yaitu penutup kepala yang biasa dipakai dalam busana pengantin basahan gaya Surakarta. Pada Tari Loro Blonyo, bagian atas kuluk diberi lubang sebagai simbol bahwa spirit doa dapat tersampaikan ke alam langit. A Sorjan bermotif alas-alasan yang disusun dalam bentuk dodot ageng, terinspirasi dari busana pengantin pria Surakarta A Jarik bermotif sekar jagad, dilengkapi dengan buntal, sampur, slepe, dan stagen A Rias wajah serupa dengan penari putri, terdiri dari pidih putih, pidih hitam untuk paes, serta lipstik merah Makna busana Tari Loro Blonyo bersifat dekoratif dan simbolik. Busana menjadi representasi doa-doa masyarakat agraris Jawa yang memohon keselamatan, kesuburan, dan kesejahteraan. Seluruh elemen busanaAidari bentuk, motif, hingga warnaAi dirancang untuk menyampaikan nilai spiritual dan memperkuat karakter tokoh Dewi Sri dan Raden Sadana dalam pertunjukan. Pelestarian Tari Loro Blonyo Pelestarian budaya, sebagaimana dirumuskan dalam draf RUU tentang Kebudayaan . alam Aprianto, 2. , dipahami sebagai upaya mempertahankan eksistensi suatu kebudayaan tanpa membekukannya dalam bentuk-bentuk lama. Pelestarian harus bersifat dinamis, selektif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, serta dilakukan secara berkelanjutan, terarah, dan terpadu. Pelestarian Tari Loro Blonyo bertujuan untuk menjaga keberadaannya sebagai warisan budaya, yang mencakup pengembangan dan pemanfaatannya agar tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat. Teori pelestarian yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati . menjadi acuan penting. Ia menyebutkan bahwa upaya pelestarian budaya setidaknya melibatkan tiga aspek utama: perlindungan, pengembangan, dan Perlindungan Perlindungan merupakan aspek pertama dan paling mendasar dalam pelestarian seni Menurut Sedyawati . , perlindungan dimaknai sebagai usaha untuk menjaga keberadaan seni tari agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi Dalam Tari Loro Blonyo, perlindungan dilakukan melalui beberapa upaya berikut: Pemeliharaan Keaslian Unsur Tari Vol. No. Juni 2. 70 Afianto & Malarsih Upaya ini mencakup pelestarian elemen inti tari yang telah ditetapkan sejak awal penciptaannya oleh F. Hari Mulyanto, seperti: A Gerak tari: mengadopsi gerak kepala gaya Mangkunegaran A Pola lantai: dominan berbentuk melingkar A Iringan musik: menggunakan lesung sebagai alat musik utama A Busana dan rias: mempertahankan unsur simbolik seperti motif alas-alasan, sekar jagad, serta gaya paes yang khas Seluruh elemen tersebut dijaga agar tetap sesuai dengan filosofi awalnya dan tidak kehilangan identitas kulturalnya. Regenerasi dan Pelatihan Pelatihan rutin diberikan kepada generasi muda, terutama melalui sanggar tari dan komunitas seni di Surakarta. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai filosofis serta teknik tari dapat diturunkan secara tepat. Kegiatan pelatihan juga disertai dengan penyelenggaraan workshop, baik di tingkat lokal maupun regional. Dokumentasi Dokumentasi dalam bentuk rekaman video, tulisan ilmiah, dan publikasi media menjadi cara efektif untuk menjaga keberadaan informasi mengenai Tari Loro Blonyo. Dokumentasi ini penting untuk kebutuhan edukasi, penelitian, serta penyebaran pengetahuan ke masyarakat luas. Eksposur Publik Tari Loro Blonyo diperkenalkan secara aktif kepada masyarakat dan wisatawan melalui pertunjukan di tempat-tempat strategis di Kota Surakarta. Kegiatan ini memberikan eksposur budaya dan menjadi bentuk perlindungan melalui pengakuan Perlindungan Unsur Budaya Beberapa unsur yang dilindungi karena mengandung nilai-nilai budaya luhur, antara lain: A Kain batik motif alas-alasan . ebagai simbol semest. A Motif batik sekar jagad . ebagai simbol keberagaman dan harapa. A Corak paes . hususnya dari Tari Bedhaya Ketawan. A Busana adat Jawa seperti sorjan A Lagu-lagu tembang dolanan klasik A Lesung sebagai alat musik dan artefak agraris yang sarat makna Pengakuan Resmi Penetapan Tari Loro Blonyo sebagai maskot Dinas Kebudayaan Kota Surakarta pada tahun 2018 merupakan bentuk perlindungan formal dari pemerintah daerah. Pengakuan ini memberikan landasan hukum dan simbolis bahwa tari ini telah menjadi bagian integral dari identitas budaya kota. Pengembangan Pengembangan merupakan aspek kedua dalam pelestarian budaya yang menekankan pada inovasi dan pembaruan agar seni tradisional tetap relevan, diminati, dan dapat beradaptasi dengan masyarakat modern (Sedyawati, 2. Pengembangan Tari Loro Vol. No. Juni 2025 | 71 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Blonyo dilakukan secara selektif, terarah, dan tetap menjaga nilai-nilai inti, baik dari segi estetika maupun filosofi budaya. Pengembangan Koreografi Sejak diciptakan oleh F. Hari Mulyanto. Tari Loro Blonyo telah mengalami beberapa perubahan koreografi. Versi terbaru yang sering ditampilkan sebagai cucuk lampah dalam acara pernikahan mengalami penyederhanaan dan penyesuaian gerak serta pola Koreografi baru menyesuaikan dengan pertunjukan modern, namun tetap mempertahankan makna simbolis dari tokoh Dewi Sri dan Raden Sadana sebagai lambang kesuburan dan doa kehidupan. Pengembangan Busana dan Tata Rias Busana dalam Tari Loro Blonyo juga mengalami inovasi, dari yang semula menggunakan dodot ageng bergaya klasik, kini berganti menggunakan sorjan bermotif alas-alasan dan jarik motif sekar jagad. Pengembangan ini dilakukan untuk meningkatkan daya tarik visual dan menyesuaikan selera estetika penonton masa kini. Tata rias pun disesuaikan, namun tetap mengandung simbol-simbol penting seperti pidih putih, paes, dan ornamen janur yang menyimbolkan harapan dan spiritualitas. Pengembangan Iringan Musik Musik pengiring awalnya hanya menggunakan tabuhan lesung dan lagu dolanan tradisional seperti Uran-Uran. Nini Thowok, dan Cublak-Cublak Suweng. Seiring waktu, unsur musik diatonis dan pentatonis ditambahkan untuk memperkaya dinamika musikal dan menjangkau penonton yang lebih luas. Perpaduan antara musik tradisional dan kontemporer ini menciptakan suasana pertunjukan yang tetap sakral namun lebih komunikatif secara emosional. Pengembangan Media dan Ruang Pertunjukan Tari Loro Blonyo kini disesuaikan untuk dapat dipentaskan di berbagai jenis panggungAibaik di gedung pertunjukan modern, panggung terbuka, maupun lokasi upacara adat. Tata cahaya dan properti visual turut dikembangkan untuk mendukung penyajian tari secara maksimal, tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya. Karya Turunan dan Kolaborasi Mahasiswa dan seniman muda di Surakarta juga mengembangkan karya-karya tari baru yang terinspirasi dari Loro Blonyo, seperti Srimpi Blonyo dan Bedhaya Merti Desa. Kolaborasi ini mencerminkan proses kreatif yang tetap berpijak pada budaya lokal namun dibuka untuk eksplorasi estetika yang lebih luas. Hal ini memperkaya khazanah seni pertunjukan Jawa sekaligus memperluas jangkauan pengaruh Tari Loro Blonyo. Secara keseluruhan, pengembangan Tari Loro Blonyo menunjukkan bahwa pelestarian tidak bersifat statis, melainkan merupakan proses dinamis yang membuka ruang inovasi, agar seni tradisi tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat Pemanfaatan Pemanfaatan merupakan aspek ketiga dalam pelestarian yang mengacu pada penggunaan seni budaya dalam berbagai konteks sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi, sehingga seni tersebut dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat Vol. No. Juni 2. 72 Afianto & Malarsih (Sedyawati, 2. Tari Loro Blonyo telah dimanfaatkan dalam beragam kegiatan dan ruang yang memperkuat eksistensinya. Fungsi Ritual Tari Loro Blonyo memiliki fungsi spiritual dan sosial sebagai bentuk doa kesuburan, keselamatan, dan perlindungan dari marabahaya. Tari ini kerap digunakan dalam upacara adat seperti merti desa, prosesi penyembuhan, serta sebagai cucuk lampah dalam pernikahan adat Jawa, yang mengandung harapan agar pasangan pengantin hidup sejahtera dan harmonis. Fungsi ini menegaskan peran tari sebagai media komunikasi simbolik dalam masyarakat Jawa. Fungsi Hiburan dan Pariwisata Selain sebagai bagian dari ritual. Tari Loro Blonyo juga dimanfaatkan sebagai pertunjukan hiburan dan daya tarik budaya bagi wisatawan. Pertunjukan dilakukan di berbagai lokasi seperti hotel, taman budaya, museum, dan tempat wisata di Kota Surakarta. Pemanfaatan ini memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak luas, juga meningkatkan nilai ekonomi budaya melalui industri pariwisata. Fungsi Edukasi Tari Loro Blonyo diperkenalkan melalui workshop, pelatihan, dan seminar yang ditujukan kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Kegiatan ini berfungsi sebagai media pendidikan karakter dan budaya, sekaligus memperluas jaringan Melalui edukasi, generasi muda diajak untuk memahami dan mencintai budaya tradisional. Fungsi Identitas Budaya Penetapan Tari Loro Blonyo sebagai maskot resmi Dinas Kebudayaan Kota Surakarta sejak tahun 2018 menjadi bentuk pemanfaatan simbolik. Hal ini memperkuat identitas kultural kota dan memberikan legitimasi bagi keberadaan tari sebagai representasi nilai-nilai luhur masyarakat Surakarta. Ruang Ekspresi Seniman Tari Loro Blonyo secara rutin ditampilkan dalam berbagai festival seni, lomba tari tradisional, serta agenda seni di tingkat lokal maupun nasional. Pementasan ini memberikan ruang bagi seniman untuk berkarya, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi seni di tengah arus globalisasi. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelestarian Tari Loro Blonyo Faktor Pendukung Pelestarian Pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta didukung oleh berbagai faktor, baik dari segi nilai budaya yang melekat, dukungan kelembagaan, hingga keterlibatan masyarakat dan inovasi yang adaptif terhadap zaman. Nilai Filosofis dan Religius Tari Loro Blonyo mengandung nilai filosofis mendalam sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran, yang diwujudkan dalam tokoh mitologis Dewi Sri dan Dewa Sadana. Nilai ini sangat relevan dengan kultur masyarakat agraris Jawa, khususnya dalam ritual adat Methik Padi. Keberadaan nilai spiritual tersebut menjadikan Tari Loro Blonyo hiburan dan bagian dari identitas budaya Vol. No. Juni 2025 | 73 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni serta praktik religius masyarakat. Nilai-nilai ini memperkuat ikatan emosional dan sosial masyarakat terhadap keberlangsungan tari. Dukungan Pemerintah Daerah Pemerintah Kota Surakarta, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, telah memberikan dukungan konkret terhadap pelestarian tari ini, di antaranya melalui penetapan Tari Loro Blonyo sebagai maskot kebudayaan kota sejak tahun Selain itu, diselenggarakan pula workshop tari terbuka untuk masyarakat, yang bertujuan meningkatkan partisipasi publik serta memperkuat transfer pengetahuan antar generasi. Peran Komunitas Seni Pelestarian Tari Loro Blonyo juga diperkuat oleh komunitas seni lokal dan para pelaku tari yang secara aktif terlibat dalam pelatihan dan pementasan. Mereka berperan penting dalam menjaga orisinalitas unsur tari, mulai dari ragam gerak, busana, hingga iringan musik. Keterlibatan komunitas dapat menjaga kesinambungan praktik dan mendorong regenerasi penari sebagai bagian dari pewarisan budaya. Inovasi dan Adaptasi Pengembangan koreografi, tata busana, iringan musik, dan media pertunjukan dilakukan secara selektif dan adaptif, menjadikan Tari Loro Blonyo lebih relevan di tengah dinamika masyarakat modern. Inovasi ini memungkinkan tari tampil dalam berbagai konteks, seperti acara pernikahan, pertunjukan budaya, dan festival, tanpa kehilangan nilai tradisionalnya. Kemampuan beradaptasi ini menjadi daya tarik bagi generasi muda dan memperluas jangkauan audiens. Dokumentasi dan Publikasi Adanya dokumentasi berupa video pertunjukan, tulisan ilmiah, dan publikasi media menjadi sarana penting dalam menyebarluaskan pengetahuan mengenai Tari Loro Blonyo. Dokumentasi ini mempermudah akses informasi bagi masyarakat umum, akademisi, dan wisatawan, sekaligus memperkuat dasar pelestarian secara berkelanjutan. Faktor Penghambat Pelestarian Meskipun memiliki berbagai dukungan, pelestarian Tari Loro Blonyo juga menghadapi sejumlah tantangan yang berpotensi menghambat keberlangsungannya secara optimal. Menurunnya Minat Generasi Muda Pengaruh globalisasi dan modernisasi menyebabkan sebagian besar generasi muda kurang tertarik pada seni tradisional. Budaya populer, seperti musik modern, media sosial, dan bentuk hiburan digital lainnya, dinilai lebih atraktif dan mudah diakses. Akibatnya, regenerasi penari menjadi tantangan serius dalam pelestarian Tari Loro Blonyo. Keterbatasan Dana dan Fasilitas Upaya pelestarian memerlukan dukungan finansial yang cukup untuk pelatihan, produksi pertunjukan, dokumentasi, serta pemeliharaan busana dan properti tari. Keterbatasan anggaran dari pemerintah maupun pihak swasta menyebabkan beberapa program pelestarian tidak dapat dijalankan secara Vol. No. Juni 2. 74 Afianto & Malarsih Hal ini berdampak pada frekuensi pertunjukan dan kualitas proses Minimnya Dokumentasi Ilmiah dan Sistematis Meskipun terdapat dokumentasi visual dan deskriptif, penelitian akademik yang mendalam dan dokumentasi sistematis tentang sejarah, filosofi, dan teknik Tari Loro Blonyo masih terbatas. Kekurangan ini berisiko menghilangkan informasi penting dan menyulitkan pelaku seni serta peneliti dalam mempertahankan keaslian dan pengembangan tari secara berkelanjutan. Persaingan dengan Hiburan Modern Tari tradisional harus bersaing dengan bentuk hiburan modern yang lebih cepat menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi muda. Hal ini menyebabkan Tari Loro Blonyo cenderung kurang diminati sebagai bentuk hiburan, dan hanya dilihat sebagai bagian dari acara tertentu, bukan kebutuhan estetika atau spiritual yang terus-menerus dicari. Berkurangnya Fungsi Sosial-Ritual Perubahan pola hidup masyarakat dan semakin jarangnya pelaksanaan upacara adat seperti merti desa dan methik padi menyebabkan berkurangnya fungsi Tari Loro Blonyo dalam kehidupan sosial masyarakat. Jika fungsi ini semakin hilang, maka keberadaan tari sebagai bagian dari praktik budaya kolektif juga terancam mengalami pengurangan makna dan relevansi. Pelestarian Tari Loro Blonyo ditopang oleh nilai filosofis yang kuat, dukungan kelembagaan, partisipasi komunitas, serta inovasi yang terukur. Namun, tantangan berupa modernisasi, minimnya dokumentasi ilmiah, dan keterbatasan pendanaan perlu diatasi secara strategis dan kolaboratif. Pelestarian yang berhasil bukan hanya mempertahankan bentuk tari, melainkan juga memastikan nilai, fungsi, dan praktiknya tetap hidup dalam masyarakat yang terus berubah. Kesimpulan Penelitian ini secara komprehensif mengungkap bahwa pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota Surakarta merupakan implementasi nyata dari teori pelestarian budaya yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati, yang mencakup tiga aspek utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Ketiga aspek ini terlihat secara integral dalam bentuk pertunjukan dan praktik pelestarian Tari Loro Blonyo. Secara struktural. Tari Loro Blonyo terdiri dari tiga bagian utama: maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Gerakan yang digunakan, seperti pacak gulu, pendapan, dan lumaksana, berpadu harmonis dengan pola lantai dan ekspresi simbolis yang mendalam. Kostum penari yang menggunakan motif batik alas-alasan dan sekar jagad, serta iringan musik yang memadukan bunyi tradisional dari tabuhan lesung dengan unsur musik karawitan modern, memperlihatkan kesinambungan antara tradisi dan inovasi. Aspek perlindungan ditunjukkan melalui pelestarian elemen-elemen asli tari, seperti dokumentasi koreografi, rias, kostum, serta pengakuan resmi Tari Loro Blonyo sebagai maskot kebudayaan Kota Surakarta. Aspek pengembangan tercermin dalam inovasi bentuk pertunjukan, adaptasi busana, penambahan elemen musik modern, serta penciptaan karya-karya turunan yang melibatkan generasi muda. Sementara itu. Vol. No. Juni 2025 | 75 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni aspek pemanfaatan terlihat dari fungsi Tari Loro Blonyo dalam berbagai konteks sosial dan budaya, seperti upacara adat, prosesi pernikahan, pertunjukan wisata, hingga kegiatan edukatif seperti pelatihan dan workshop. Tari Loro Blonyo berperan sebagai warisan budaya yang dilestarikan dalam bentuk statis, juga menjadi bagian yang hidup dalam dinamika sosial dan budaya masyarakat Surakarta. Keberhasilan pelestarian ini tidak lepas dari sinergi antara seniman, komunitas seni, institusi pemerintah, akademisi, dan masyarakat secara luas, yang secara kolektif menjaga keberlanjutan warisan budaya ini melalui perlindungan nilainilai asli, inovasi kreatif, dan pemanfaatan fungsional di berbagai bidang kehidupan Ucapan Terimakasih Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, penulis menyampaikan terima kasih atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga artikel berjudul AuUpaya Pelestarian Tari Loro Blonyo di Kota SurakartaAy ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, dan motivasi yang telah diberikan selama proses penulisan berlangsung. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada para narasumber dan partisipan yang telah berkenan meluangkan waktu serta memberikan informasi penting yang sangat mendukung kelengkapan data dalam penelitian ini. Tidak lupa, penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang tua, kakak, sahabat, dan rekan-rekan yang senantiasa memberikan dukungan moral dan semangat selama proses penyusunan artikel ini. Semoga karya ini dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang seni dan pelestarian budaya, serta menjadi referensi yang bermanfaat bagi pembaca dan peneliti selanjutnya. Referensi