DISLOKASI DAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN DENGAN TOTAL HIP ARTHROPLASTY: SCOPING REVIEW OF RANDOMIZED CONTROL TRIAL STUDY Wantonoro*1 Program Studi Keperawatan. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta Email. wantoazam@unisayogya. Sigit Harus2 Unit Homecare Rumah Sakit Muhammadiyah Yogyakarta Email. sigitharun@unisayogya. Made Suandika3 Program Studi Anathesi. Universitas Harapan Bangsa Email. madesuandika@uhb. *Corresponding author ABSTRAK Latar belakang: Pasien lanjut usia . paska operasi patah tulang pinggul atau Total Hip Arthroplasty (THA) memiliki permasalahan yang menyebabkan proses penyembuhannya menjadi terganggu, seperti dislokasi pinggul yang pada umumnya terjadi dalam kurun tiga bulan pertama setelah operasi THA. Tujuan: untuk mengetahui kualitas hidup lansia yang mengalami dislokasi paska operasi patah tulang pinggul. Metode: scoping review menggunakan Preferred Reportung Items for Systematic review and Meta-Analyses (PRISMA Flowchar. , dengan kriteria inclusi . Artikel dari tahun 2017-2024, . metode Randomize control trial (RCT), . Artikel tentang dislokasi dan kualitas hidup lansia operasi patah tulang pinggul. Hasil: Pencarian literatur telah mengidentifikasi 1534 artikel, 198 duplikat artikel yang dikeluarkan dan didapatkan 10 artikel RCT yang memenuhi kriteria untuk direview. Ditemukan dua tema utama yaitu. Risiko dislokasi setelah operasi patah tulang pinggul Lansia. penyebab terjadinya dislokasi patah tulang pinggul setelah operasi. dislokasi berulang. kualitas hidup pasien pasca operasi patah tulang pinggul. Faktor yang terkait dengan pemulihan fungsional dislokasi patah tulang pinggul lansia. meningkatkan mobilitas. Terapi hemiarthoplasty. Pendekatan anterior mengurangi dislokasi dibandingkan pendekatan posterior. Kesimpulan: Dislokasi paska operasi patah tulang pinggul menyebabkan perburukan qualitas hidup lansia. Program pencegahan dislokasi paska operasi patah tulang pinggul menjadi hal yang penting dalam proses rehabilitasi pasien. Kata Kunci: Dislocation. Quality of life. Elderly. Hip Fracture ABSTRACT Background: Elderly . post-hip fracture or Total Hip Arthroplasty (THA) patients have problems that cause the healing process to be disrupted, such as hip dislocation that generally occurs within the first three months after THA Aim: to find out the quality of life of the elderly who have post-dislocation of hip fracture surgery. Method: scoping review using Preferred Reporting Items for Systematic review and Meta-Analyses (PRISMA Flowchar. , with inclusion criteria . Articles from 2017-2024, . Randomize control trial (RCT), . Articles on dislocation and quality of life of elderly hip fracture surgery. Results: Literature search has identified 1534 articles, 198 duplicates of articles issued and obtained 10 RCT articles that meet criteria for review. Two main themes are found. Risk of dislocation after the operation of the elderly hip fracture. cause of dislocation of hip fractures after surgery. repeated dislocation. quality of life of patientsAo post-hip fracture surgery. Factors associated with functional recovery of dislocation of elderly hip fractures. increase mobility. hemiarthroplasty therapy. Anterior approach reduces dislocation compared to posterior approaches. Conclusion: Dislocation of hip fracture surgery causes worsening of the quality of elderly life. PostHip fracture dislocation prevention program is important in the patientAos rehabilitation process. Keywords: Dislocation. Quality of life. Elderly. Hip Fracture ISSN : 2502-1524 Page | 205 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study PENDAHULUAN Patah tulang pinggul . ip fractur. pada lansia merupakan masalah yang serius dan dikaitkan dengan fracture berulang karena penurunan kepadatan tulang akibat adanya proses degenerative (Carow et al. , 2017. de Sire et al. , 2. seperti osteoporosis, dislokasi sendi, dan kelemahan jaringan otot (Gao et al. , 2023. Seagrave. Troelsen. Malchau. Husted, & Gromov, 2. Hip fracture dilaporkan internasional, dengan angka mencapai 1,5 juta kasus hip fracture pada lansia di seluruh dunia. Salah satu faktor risiko hip fracture pada lansia yaitu akibat kejadian terjatuh, yaitu dengan 90% kasus (Maidan et al. , 2020. Rathi. Ubare, & Khurana, 2. yang kemudian menyebabkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas terutama pada lansia (Rathi et al. , 2. Disisi lain, treatment seperti Total Hip Arthroplasty dikaitkan dengan tingkat komplikasi pasca bedah, operasi ulang, serta gangguan fungsional yang terjadi pada rentan gerak extrimitas (Bohl et al. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa usia lanjut dikaitkan dengan pemulihan fungsional yang lebih buruk setelah hip fracture (Carow et al. , 2. Sebagian besar faktor yang terkait dengan pemulihan fungsional hip fracture lansia adalah faktor biologis, sosiodemografi, karakteristik dasar pasien, termasuk kapasitas fungsional sebelum terjadi hip fracture (Araiza-Nava et al. , 2. Beberapa komplikasi pasca operasi hip fracture mempengaruhi kualitas hidup ISSN : 2502-1524 Seperti tromboemboli, cedera neurovascular, dislokasi/ ketidakstabilan prostetik, faktur panjang tungkai (Bahardoust. Hajializade. Amiri. Mousazadeh, & Pisoudeh, 2. Dislokasi pasca operasi adalah salah satu komplikasi yang paling mengkhawatirkan setelah treatment hip fracture (Axelrod et , 2. Dilaporkan bahwa 2 dari 4 pasien yang mengalami dislokasi pinggul pada akhirnya memerlukan perawatan ulang (Haller. Working. Ross. Gililland, & Kubiak, 2. Meskipun dalam beberapa dekade terakhir, masalah dislokasi hip disabilitas, mereka menjadi tergantung pada orang lain, dan juga menyebabkan tingginya angka mortalitas (Gausden. Parhar. Popper. Sculco, & Rush, 2. Berbagai risiko dislokasi berkaitan dengan metode pembedahan, penggunaan implan, dan factor interistik pasien (Kristoffersen et al. , 2. , seperti dementia (Kristoffersen et al. , 2020. Li et , 2. Faktor risiko yang berhubungan dengan dislokasi yaitu kondisi penyakit kormirbid pasien (Migliorini et al. , 2022. Svenyy et al. , 2. Pendekatan posterior dan demensia berhubungan dengan peningkatan risiko dislokasi, metode reduksi tertutup mengakibatkan dislokasi dua atau tiga kali lipat lebih sering terjadi ketika menggunakan pendekatan lateral dan posterior langsung dibandingkan ketika hanya revisi akibat dislokasi yang diukur (Jobory. Kyrrholm. Hansson, yIkesson, & Rogmark, 2. Pendekatan posterior diketahui merupakan faktor Page | 206 risiko terkait pembedahan (Svenyy et al. Risikonya bahkan lebih tinggi jika posterior lengkap dilakukan (Jobory et al. , 2021. Svenyy et Beberapa menjadi faktor risiko paling penting untuk dislokasi (J. Gill. Kiliyanpilakkill, & Parker, 2018. Jobory et al. , 2021. Svenyy et al. , 2. pada pasien lansia paska operasi hip fracture. Lansia dengan hip memperoleh kembali kemandirian secara utuh (Bcs et al. , 2. Pasien lanjut usia . paska operasi patah tulang pinggul atau Total Hip Arthroplasty (THA) memiliki permasalahan yang menyebabkan proses penyembuhannya menjadi terganggu, seperti dislokasi pinggul yang pada umumnya terjadi dalam kurun tiga bulan pertama setelah operasi THA. Namun belum terdapat evidence tentang dislokasi terkait dengan pendekatan pencegahan dislokasi dan hasil study yang berkualitas. Sehingga studi ini dilakukan untuk pencegahan dan hasil treatment yang pendekatan intervensi keperawatan. METODE PENELITIAN Scoping Review merupakan salah satu study literature, sejenis sintesis sistematik untuk memetakan bukti pada suatu topik dan mengidentifikasi konsep utama, teori, sumber, dan kesenjangan pengetahuan (Tricco et al. , 2. Metode untuk menyusun scoping review ini peneliti menggunakan acuan PRISMAISSN : 2502-1524 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 ScR penyusunan yang lengkap dan terperinci (M. Page et al. , 2. Pertanyaan scoping review Berikut dengan framework PEO . opulation, exposure, dan outcom. Tabel 1. Framework PEOS (Populatio. Orang lanjut usia/ Lansia patah tulang (Exposure Dislokasi (Outcome s/Them. Kualitas Hidup Lansia Patah Pinggul Study Design Randomized Controlled Trial Berdasarkan kerangka PEOs di atas, pertanyaan scoping adalah bagaiamana kualitas hidup lansia dislokasi setelah operasi patah tulang Menidentifikasi artikel yang relevan Dalam identifikasi artikel yang relevan, peneliti menentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi yang digunakan dalam penyusun scooping review sebagai berikut : Kriteria inklusi Artikel dari tahun 2017-2024 Original research Artikel metode Randomize control trial (RCT) Artikel yang membahas tentang dislokasi dan kualitas hidup lansia operasi patah tulang Kriteria eksklusi Page | 207 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study . Surat ulasan buku . Artikel yang tidak lengkap Seleksi Artikel Proses scoping review peneliti menggunakan 4 database yaitu. PubMed. Scopus. Sciencedirect. EbscoHost. Strategi pencarian literature Pada item search ini menjelaskan strategi pencarian literature. Keyword yang sudah ditentukan, dengan menambahkan AuORAy. AuANDAy yang (((((Dislocatio. AND . ) AND . uality of lif. ) OR . ) AND . lderly parent. ) AND . ip fracture surger. PRISMA flowchar Pada Langkah ini peneliti Zotero . eference management softwar. alat bantu untuk melakukan seleksi artikel seperti cek duplikat, seleksi judul, abstrak dan melakukan full text-reading. Temuan jumlah arikel dan proses filter reporting item for systematic reviews Meta-analysis (PRISMA) Flowchart (M. Page et al. , 2. ISSN : 2502-1524 Page | 208 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 ISSN : 2502-1524 Page | 209 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study Data Charting Judul/Penulis/Tahu Effect on healthrelated quality of life of the X-Bolt dynamic plating system versus the sliding hip screw for the fixation of trochanteric fractures of the hip in adults: the WHiTE Four randomized clinical trial (Griffin. Achten. OAoConnor. Cook, & Costa, 2. Early Maximal Strength Training Improves Leg Strength and Postural Stability in Elderly Following Hip Fracture Surgery (Berg. Stutzer. Hoff, & Wang, 2. Effects of electrical nerve stimulation (TENS) on acute postoperative pain Negara Tujuan Jenis Penelitian Pengumpulan Data/ Partisipan Intervensi Hasil Ingris Study ini bertujuan efektivitas klinis dari X-Bolt Hip System (XHS) baru dengan sekrup geser pinggul (SHS) untuk pengobatan patah tulang pinggul karena kerapuhan Jenis penelitian ini coba multisenter controlled trial/ RCT Partisipan terdiri dari pasien berusia 60 tahun ke atas dengan patah tulang pinggul trokanterika direkrut di sepuluh rumah sakit akut NHS Inggris. Peserta secara acak dialokasikan untuk fiksasi fraktur mereka dengan XHS atau SHS. Sebanyak 1. 128 peserta diacak dengan 564 peserta dialokasikan ke setiap Peserta diintervensi dengan dengan XHS atau SHS pada waktu tertentu dalam setahun setelah operasi patah tulang pinggul Terdapat perbedaan rata-rata sebesar 0,029 dalam indeks utilitas yang disesuaikan untuk mendukung XHS tanpa ada bukti perbedaan antara kelompok perlakuan . nterval kepercayaan 95% -0,013 hingga 0,070. = 0,. Perbedaan kualitas hidup terkait kesehatan selama empat bulan antara XHS dan SHS kecil dan tidak penting secara klinis. Tidak ada bukti perbedaan profil keamanan kedua keduanya dikaitkan dengan risiko operasi revisi yang lebih rendah. Norwegia Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan MST dalam rehabilitas dini dalam kekuatan kaki dan stabilitas postur Jenis penelitian ini randomized contro trial/RCT 21 pasien patah tulang pinggul usia >65 tahun diacak untuk menjalani kelompok kontrol fisioterapi konvensional (CG) selama 8 minggu, atau latihan kekuatan maksimal (MST) leg press dan abduksi pinggul 3 kali seminggu. MST dilakukan dengan menerapkan beban berat . -90% dari 1 repetisi maksimal. I RM) dan 4-5 repetisi dalam 4 set. Kekuatan maksimal (I RM bi- dan unilatera. , stabilitas postural . es sikap unipedal. UPS), dan kandungan/kepadatan mineral tulang pemindaian DEXA (BMC/BMD) diukur sebelum dan sesudah rehabilitasi 8 Israel Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pengobatan TENS terhadap intensitas nyeri, dan Jenis penelitian ini randomized contro trial/RCT 41 pasien secara acak diberikan suplemen TENS aktif atau TENS palsu selama 30 Perawatan rehabilitasi standar mencakup lima perawatan terapi fisik setiap hari selama 30 menit yang dimulai 24 jam setelah operasi. Hasil yang diukur ISSN : 2502-1524 Page | 210 Latihan kekuatan maksimal (MST) dan fisioterapi konvensional (CG) stimulasi saraf listrik transkutan (TENS), suplemen aktif atau suplemen palsu selama 30 MST dan fisioterapi konvensional meningkatkan leg press 1RM bilateral masing-masing sebesar 41 27 kg dan 29 17 kg . eduanya p <0,. , sedangkan leg press unilateral 1RM hanya meningkat setelah MST . erbedaan dalam kelompok dan antar kelompok: keduanya p <0,. MST juga mengakibatkan peningkatan penculikan 1RM pada anggota tubuh yang patah . kg, 95%CI: 2-7. p <0,. dan anggota tubuh yang sehat . kg, 95%CI: 3-9. <0,. , sedangkan tidak ada perbaikan yang terlihat pada CG . erbedaan antar kelompok: p <0,. Akhirnya. MST meningkatkan UPS pada anggota tubuh yang patah . <0,. Tidak ada perbedaan yang diamati pada BMC atau BMD setelah 8 minggu. Penurunan nyeri yang jauh lebih besar selama berjalan tercatat pada kelompok TENS aktif dibandingkan dengan kelompok TENS palsu . erbedaan antara hari kelima dan kedua: masing-masing 2,55A1,37 vs 1,06A 1,11. p=0,0. No Tujuan Jenis Penelitian Judul/Penulis/Tahu intensity and mobility after hip fracture: A randomized trial (Elboim-Gabyzon. Andrawus Najjar, & Shtarker, 2. Negara Efficacy of Nutritional Intervention in Elderly After Hip Fracture: A Multicenter Randomized Controlled Trial (Wyers et al. , 2. Belanda Penelitian ini bertujuan untuk Pengaruh intervensi nutrisi intensif selama 3 bulan pada lansia setelah patah tulang pinggul terhadap lama rawat inap (LOS). Jenis penelitian ini randomized contro trial/RCT Responden di rekrut secara acak sebanyak 152 lansia usia <55 tahun, penyakit tulang, harapan hidup <1 tahun, terbaring di tempat tidur, 73 intervensi, 79 kontrol Intervensi: konsultasi diet mingguan, diet kaya energi protein, dan ONS . mL per har. selama 3 bulan Effects of a HomeBased Physical Rehabilitation Program on Tibial Bone Structure. Density, and Strength After Hip Fracture: A Secondary Analysis of a Randomized Controlled Trial (Suominen et al. Finlandia Penelitian ini bertujuan untuk Pengaruh Program Rehabilitasi Fisik Berbasis Rumah terhadap Struktur. Kepadatan, dan Kekuatan Tulang Tibialis Setelah Patah Pinggul Jenis penelitian ini Secondary Analysis Randomized Controlled Trial/ RCT Populasi yang terdiri dari pria dan wanita yang dioperasi karena patah tulang pinggul . sia rata-rata 80 tahun, 78% wanit. secara acak dimasukkan ke dalam intervensi . ari1AE. dan kelompok kontrol perawatan standar . ari1AE. adalah rata-rata 10 minggu pasca patah Kelompok intervensi berpartisipasi dalam intervensi Rehabilitasi berbasis rumah selama 12 Intervensi : Program Rehabilitasi Fisik Berbasis Rumah . ermasuk evaluasi dan modifikasi bahaya lingkungan, panduan untuk berjalan aman, manajemen nyeri konseling aktivitas fisik yang memotivasi, dan program latihan di rumah yang progresif dan menahan beban yang terdiri dari latihan penguatan. mobilitas, dengan rehabilitasi standar selama fase akut pasca operasi patah tulang pinggul ISSN : 2502-1524 Pengumpulan Data/ Partisipan Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 Intervensi adalah: intensitas nyeri saat istirahat, pada malam hari dan selama ambulasi. Page | 211 Hasil Selain itu, keuntungan dari TENS aktif ditunjukkan dalam peningkatan jarak berjalan kaki yang lebih besar pada hari kelima dan tingkat mobilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok TENS palsu. Tidak ada efek tambahan dari TENS aktif yang tercatat pada intensitas nyeri saat istirahat dan malam hari serta pada kinerja duduk dan berdiri lima kali. Intervensi nutrisi intensif setelah patah tulang pinggul meningkatkan asupan dan status nutrisi, namun tidak meningkatkan LOS atau hasil klinis. Paradigma yang mendasari intervensi nutrisi pada lansia pasca patah tulang pinggul mungkin harus dipertimbangkan kembali. rehabilitasi fisik berbasis rumah tidak mampu mencegah kerusakan tulang pada lansia setelah operasi patah tulang Ciri-ciri tulang tibialis, baik kortikal maupun trabekuler, terus melemah selama satu tahun setelah patah tulang, baik pada sisi yang retak maupun yang tidak patah. Bersamaan dengan penurunan kekuatan otot, penurunan sifat tulang secara signifikan meningkatkan risiko patah tulang kedua. oleh karena itu, intervensi khusus yang menargetkan tulang dan otot harus dikembangkan untuk memaksimalkan pemulihan pasca patah tulang dan meminimalkan Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study Judul/Penulis/Tahu Negara Tujuan Jenis Penelitian Pengumpulan Data/ Partisipan Intervensi Hasil Higher rate of complications with uncemented to cemented total hip for displaced intracapsular hip A randomized controlled trial of 50 patients (Clement. Van Der Linden, & Keating, 2. Ingris Tujuan utama dari penelitian ini adalah hasil fungsional dari artroplasti pinggul total yang tidak disemen dan disemen (THA) untuk fraktur pinggul intrakapsular yang mengalami Tujuan sekundernya adalah untuk menilai lamanya operasi, kehilangan darah, komplikasi dan tingkat revisi antara kedua kelompok. Jenis penelitian ini randomized contro trial/RCT 50 pasien patah tulang pinggul intrakapsular yang memenuhi kriteria inklusi diacak ke dalam kelompok yang tidak disemen (N= . atau disemen (N= Skor pinggul Oxford (OHS), skor Harris Hip (HHS). EuroQol 5-dimensi (EQ5D), timed get up-and-go (TUG), nyeri dan kepuasan pasien digunakan untuk menilai hasil. Penilaian ini dilakukan pada bulan ke 4, 12 dan 72 setelah operasi, selain TUG yang hanya dinilai pada bulan ke 6 Intervensi : artroplasti pinggul total yang tidak disemen dan disemen (THA) untuk fraktur intrakapsular yang Penelitian dihentikan lebih awal karena signifikan (N= 8. P= 0,. tingkat komplikasi intraoperatif yang lebih tinggi pada kelompok yang tidak disemen: tiga patah tulang femur proksimal dan lima konversi menjadi komponen asetabular yang disemen. Tidak ada yang signifikan (POu 0,. perbedaan dalam ukuran fungsional (OHS. HSS. EQ5D. TUG dan nyer. atau kepuasan pasien antar Tidak ada perbedaan waktu operasi . = 0,. atau kehilangan darah (P= 0,. antar kelompok. Terdapat dua revisi awal sebelum 3 bulan pasca operasi pada kelompok yang tidak disemen dan tidak ada revisi awal pada kelompok yang disemen, namun hal ini tidak signifikan . og rankP= 0,. Postoperative continuous-flow cry compression therapy in the acute recovery phase of hip fracture surgeryAiA controlled clinical tria (Leegwater et al. Belanda Penelitian ini bertujuan untuk kemanjuran terapi kriokompresi aliran kontinu (CFCT) dalam fase pemulihan akut setelah operasi patah Jenis penelitian ini randomized contro 126 subyek yang ikut serta dalam penelitian ini. Subyek dialokasikan untuk menerima CFCT pasca operasi atau perawatan biasa. Titik akhir primernya adalah skala penilaian numerik (NRS) nyeri pada 72 jam pertama pasca Intervensi: CFCT pasca operasi Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa CFCT memiliki nilai tambah dalam fase pemulihan akut setelah operasi patah tulang pinggul. Jika pasien menyelesaikan jadwal pengobatan CFCT, efek analgesik ringan diamati dalam 72 jam. untuk tungkai bawah, latihan latihan fungsional, dan peregangan. Semua peserta perawatan standa. ISSN : 2502-1524 Page | 212 No Judul/Penulis/Tahu Treatment of the intracapsular fracture for the AofitterAo elderly patients: A controlled trial of total hip arthroplasty hemiarthroplasty for 105 patients (Parker & Cawley, 2. Negara Ingris Tujuan tulang pinggul. Untuk mengetahui pengaruh pengobatan batang tirus yang disemen dan disemen atau artroplasti pinggul total yang disemen (THR) dengan cawan asetabular yang Jenis Penelitian Pengumpulan Data/ Partisipan Jenis penelitian ini randomized contro Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 Intervensi Hasil Dengan total 105 pasien dipilih secara acak. Semua pasien yang dirawat di rumah sakit Peterborough City Hospital dengan fraktur intrakapsular dievaluasi di uji coba (MJP). Semua pasien ditindaklanjuti selama minimal satu tahun menggunakan penilaian hasil fungsional secara buta Intervensi: pengobatan dengan batang tirus yang disemen dan disemen atau artroplasti pinggul total yang disemen (THR) dengan cawan asetabular Pasien yang pembedahan dengan Pasien yang diobati dengan THR memiliki kecenderungan untuk tinggal di rumah sakit lebih lama dan meningkatkan komplikasi medis . dan bedah . dibandingkan dengan mereka yang dirawat dengan hemiarthroplasty. Waktu operasi rata-rata . berbanding 52 meni. dan kehilangan darah saat operasi . ml berbanding 244m. meningkat untuk THR. Hasil akhir dari sisa nyeri dan kembalinya fungsi serupa untuk kedua metode pengobatan. Peningkatan angka kematian yang signifikan secara statistik pada pasien yang mengalami setidaknya satu kejadian dislokasi prostesis pinggul . ari 16,0% menjadi 24,6% pada 90 hari setelah keluar dari rumah sakit, dan 29,5% menjadi 44,7% pada satu tahu. , dan juga secara signifikan menurunkan fungsi kelangsungan hidup pasien di rumah 90 hari (P=0,. dan tindak lanjut satu tahun (P< 0,. Kejadian dislokasi berulang . ,15%) menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi . ingga 60,6%,P<0,. Model regresi Cox multivariat menentukan bahwa dislokasi prostesis adalah satu-satunya variabel yang signifikan (P= 0,. mempengaruhi kelangsungan hidup pasien, meningkatkan risiko kematian sebelum satu tahun masa tindak lanjut sebesar 2,7 kali lipat. Effect of hip dislocation on mortality after hip fracture surgery (Blanco et al. , 2. Spanyol Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek mandiri dari dislokasi prostesis pinggul setelah patah tulang pinggul terhadap hasil kelangsungan hidup Jenis penelitian ini randomized contro Populasi termasuk 6. 631 pasien patah tulang leher femoralis berusia di atas 65 tahun yang menjalani pembedahan dengan hemiartroplasti. Kami membuat cut-off tindak lanjut 30 hari, 6 minggu, 90 hari, dan satu tahun setelah keluar dari rumah sakit untuk menentukan tingkat dislokasi pinggul dan kelangsungan hidup pasien. A10 Posterolateral or Direct Lateral Surgical Approach for Hemiarthroplasty Belanda Untuk hasil 6 bulan dari A Randomized Clinical Trial Pasien berusia 18 tahun atau lebih dengan fraktur leher femur akut dilibatkan, dengan atau tanpa demensia. Operasi sekunder pada pinggul, patah tulang ISSN : 2502-1524 Page | 213 Intervensi: DLA dan PLA kualitas hidup terkait kesehatan 6 bulan setelah operasi, diukur dengan kuesioner 5-Dimensi EuroQol Group (EQ-5D-5L). Hasil sekunder termasuk dislokasi. Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study Judul/Penulis/Tahu After a Hip Fracture (Tol et al. , 2. Negara ISSN : 2502-1524 Tujuan posterolateral (PLA) dan pendekatan lateral langsung (DLA) untuk pada pasien dengan patah tulang pinggul Jenis Penelitian Pengumpulan Data/ Partisipan patologis, atau pasien dengan Page | 214 Intervensi Hasil bersamaan dengan eksperimen alami (NE) di 14 pusat di Belanda ketakutan terjatuh, aktivitas sehari-hari, nyeri, dan operasi ulang. Untuk meningkatkan kemampuan generalisasi, teknik baru digunakan untuk penggabungan data RCT dan NE HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis data Pada terdapat temuan 10 artikel yang sesuai dan berkualitas yang terbit dari tahun Kemudian data charting untuk mengetahui secara rinci dan dapat mengklasifikasikan poin-poin pada setiap artikel terkait, setiap Negara, tujuan, jenis penelitian, pengumpulan data, tema dan sampel serta hasil penelitian atau temuan dari penelitian yang dilakukan. Terdapat beberapa karakteristik dari 10 artikel yang relevan diantaranya karakteristik berdasarkan negara dan kualitas artikel. Karakteristik berdasarkan Negara 10 artikel yang diekstraksi semua artikel dilakukan di Negara maju yaitu. Ingris. Norwegia. Israel. Belanda. Finlandia, dan Spanyol. Karakteristik berdasarkan kualitas Hasil dari kesimpulan artikel yang di screening di dapatkan 10 artikel yang diekstraksi dan dibahas didalam scoping review ini, artikel yang di ekstraksi merupakan artikel yang berkualitas dan terindex scopus Q1. Q2 dan Q3. Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 Mapping Thematis Pada langkah mapping ini penulis mengelompokkan temuan kajian yang menarik yang diulas di artikel tersebut Tabel 3. Mapping Thematis Tema Risiko Dislokasi Lansia Sub Tema Penyebab dislokasi patah tulang pinggul setelah operasi Dislokasi Kualitas hidup pasien pasca operasi patah tulang pinggul Faktor Meningkatkan Terapi Pendekatan Gambar 2. Karakteristik Berdasarkan Kualitas Artikel ISSN : 2502-1524 Jurnal (Griffin et , 2. (Jobory et , 2. (Leegwater (Blanco et , 2. (Suominen (Jobory et , 2. (Blanco et , 2. (Berg , 2. (ElboimGabyzon (Wyers et , 2. (Parker & Cawley, (Blanco et , 2. (Tol et al. (Clement (Leegwater (Jobory et , 2. PEMBAHASAN Tema I. Resiko Dislokasi setelah operasi patah tulang pinggul Lansia Page | 215 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study Sub Tema 1. Penyebab terjadinya dislokasi patah tulang pinggul setelah operasi Faktor risiko dislokasi dapat berhubungan dengan pembedahan, yang berhubungan dengan implan, dan yang berhubungan dengan pasien (Jobory et al. , 2. Dislokasi bukan merupakan indikasi mutlak untuk dilakukannya operasi revisi dan penggantian bagian Risiko operasi terbuka dislokasi yang akan terjadi dan ketidaknyamanan pasien (James R Gill. Pathan. Parsons, & Wronka. Pada tahun 2017. Sadhu dkk . melaporkan ada berbagai bahwa distrofi otot, palsi serebral, neuromuskular, dan alkoholisme terjadi pada 22% pasien dengan hanya satu kelainan dislokasi (Sadhu et al. , 2. Ada beberapa faktor menyebabkan dislokasi. Kelemahan otot, ketidakseimbangan tubuh, dan dislokasi (Gausden et al. , 2. Dislokasi sering ditemukan pada wanita dua kali dibandingkan pada pria setelah artroplasti pinggul Alasan mengapa perbedaan ini mungkin terjadi adalah perbedaan ISSN : 2502-1524 pengukuran antropometri seperti tinggi dan berat badan. Seri tersebut tidak menjelaskan secara jelas risiko dislokasi pinggul pasca terapi (Gausden et al. , 2018. Noticewala et , 2. Osteoporosis dengan kepadatan mineral tulang (BMD) yang rendah juga membuat orang lanjut usia berisiko tinggi terkena patah tulang (Rathi et al. , 2. Sub Tema II. Dislokasi berulang Dislokasi pengobatan pasien dengan patah tulang leher femur mengakibatkan penurunan HRQoL yang signifikan dan terus-menerus selama tahun pertama setelah operasi utama (Leegwater et al. , 2. Hasil ini berbeda dengan situasi pada pasien dengan hanya satu dislokasi, yang sementara HRQoL pada usia 4 bulan tetapi memiliki kualitas hidup yang serupa dengan mereka yang tidak mengalami dislokasi pada usia 12 bulan (Blanco et al. , 2. Pasien memerlukan waktu beberapa bulan untuk mendapatkan kembali fungsi otot normal setelah menjalani operasi (Rathi et al. , 2. Kejadian . ,15%) menunjukkan angka kematian yang lebih tinggi . ingga 60,6%,P<0,. (Blanco et al. , 2. Hasil studi Hermansen dkk . menjelaskan bahwa kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dan pinggul secara nyata dan terus-menerus berkurang di Page | 216 antara pasien dislokasi dibandingkan dengan pasien kontrol selama beberapa tahun terkahir. Oleh karena itu, menghindari episode dislokasi awal adalah penting karena THA tampaknya tidak mencapai (Hermansen. Viberg, & Overgaard. Dislokasi menyebabkan nyeri langsung dan memerlukan rawat inap untuk mengurangi dislokasi pinggul, seringkali memerlukan Laporan menunjukkan bahwa dislokasi ulang terjadi pada sekitar 50% pasien yang pada akhirnya memerlukan operasi ulang setelah dislokasi awal (Hermansen et al. , 2. Oleh karena itu, dislokasi langsung yang besar dan berpotensi bertahun-tahun . Licensed_Under_Creative_Common s_Attribut. Pdf, n. Meskipun merupakan komplikasi yang cukup pemahaman tentang hasil yang dilaporkan pasien terkait dengan kualitas hidup terkait kesehatan secara keseluruhan dan fungsi pinggul subjektif, seperti yang sistematis baru-baru ini (Hermansen. Haubro. Viberg, & Overgaard. Sub Tema i. Kualitas hidup pasien pasca operasi patah tulang pinggul Penggantian pinggul adalah ISSN : 2502-1524 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 menggantikan sendi panggul dengan implan buatan, atau sendi panggul Penggantian pinggul dapat dilakukan sebagai penggantian total atau sebagian (Blanco et al. , 2023. Jobory et al. , 2. lebih dari sepertiga pasien memiliki kualitas hidup rendah . %), kurang dari seperempat pasien memiliki kualitas hidup tinggi . %) , dan kurang dari separuh pasien memiliki kualitas hidup rata-rata . %) di antara pasien yang diteliti pasca operasi artroplasti pinggul (Mohamed Abdel Razeq. Fouad Abdalla, & Nabil Abd El Salam, 2. Artroplasti pinggul disebutsebut sebagai salah satu prosedur ortopedi yang paling sukses dan Serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan kembali melakukan aktivitas yang menuntut fisik (Fontalis et al. Suominen et al. , 2. Beberapa komplikasi pasca operasi HA, sehingga mengurangi kualitas hidup pasien, komplikasi yang sering terjadi seperti komplikasi luka, tromboemboli, dislokasi, gangguan otot abductor, sera infeksi sendi periprostetik (Bahardoust et al. Keberagaman fungsional dan keadaan yang diamati pada lansia mungkin disebabkan oleh efek kumulatif dari kesenjangan kesehatan yang terjadi sepanjang masa hidup, yang dikenal sebagai keuntungan atau kerugian Page | 217 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study kumulatif (Araiza-Nava et al. , 2. Meskipun dislokasi merupakan komplikasi yang relatif umum dan sebelumnya mengenai dampak dislokasi terhadap kualitas hidup pasien yang dilaporkan menjalani artroplasti karena patah tulang leher femoralis (Ho et al. , 2. Tema II. Faktor yang terkait dengan pemulihan fungsional dislokasi patah tulang pinggul lansia Sub Tema Meningkatkan Meningkatkan mobilitas yang ukuran jarak, kecepatan dan penggunaan alat bantu serta kemapuan untuk menggerakkan diri masyarakat (Elboim-Gabyzon et al. Kapasitas fungsional atau fungsionalitas diartikan sebagai kemampuan dalam diri seseorang sehari-hari memerlukan pengawasan, arahan kemampuan melakukan tugas dan menjalankan peran sosial dalam kehidupan sehari-hari (Berg et al. Wyers et al. , 2. Salah satu faktor risiko yang menyebabkan kejadian patah tulang dilaporkan pada 90% kasus. Hal ini juga terkait dengan penurunan kapasitas fungsional dan koordinasi ISSN : 2502-1524 bertambahnya usia (Araiza-Nava et , 2. Artroplasti pinggul yang tidak stabil biasanya berfungsi dengan baik di antara kejadian dislokasi, namun pasien tidak bergantung pada pinggul yang dioperasi dan terus-menerus takut akan dislokasi tambahan sehingga melakukan aktivitas tertentu seharihari (Suominen et al. , 2. Pasien dengan patah tulang pinggul mungkin tidak dapat memperoleh kembali kemandirian karena edema ekstremitas bawah yang parah dan penurunan kekuatan ekstensi lutut edema, terutama setelah operasi (Vestyl. Debesay, & Bergland. Gangguan pernapasan dan masalah lain yang mobilitas dapat dihindari oleh terapis dengan menggunakan latihan beban pada ekstremitas bawah fungsional (Rathi et al. , 2. Selain itu juga terapi fisik juga dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan perlindungan serta kinerja berjalan, sehingga memungkinkan lansia menjadi lebih stabil (Rathi et al. , 2022. Suominen et al. , 2. Sub Tema II. Terapi Dislokasi prostesis pinggul adalah salah satu komplikasi potensial yang paling disorot setelah Page | 218 artroplasti pinggul, namun informasi terkini mengenai efek dislokasi terhadap kelangsungan hidup pasien patah tulang pinggul lanjut usia kurang (Tol et al. , 2. Laporan lokal terus mendokumentasikan peningkatan jumlah pasien patah tulang pinggul (Downey. Kelly, & Quinlan, 2019. Parker & Cawley. Setengah dari fraktur ini akan terjadi intrakapsular dan sebagian fraktur displaced. Biasanya fraktur pergeseran pada pasien lanjut usia pengganti (Blanco et al. , 2. Sedangkan menurut Tucker penggantian permukaan asetabular . enggantian pinggul total (Tucker et al. , 2. Bahwa 2/3 pasien yang menjalani hemiartroplasti dislokasi (Jobory et al. , 2. Pendekatan posterior untuk hemiartroplasti dikaitkan dengan risiko dislokasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendekatan lateral langsung (Migliorini et al. , 2. Meskipun dislokasi setelah jarang terjadi, hal ini terkait dengan ISSN : 2502-1524 Journal of Nursing and Health (JNH) Volume 10 Nomor 1 Maret Tahun 2025 Halaman :205- 227 kekambuhan (Rathi et al. , 2. Hemiarthroplasty dilakukan pada pasien dengan gangguan neurologis dan risiko ketidakstabilan, seperti pasien yang pernah mengalami stroke, penyakit parkinson, atau demensia (Ekhtiari et al. , 2. Salah satu efek samping yang potensial dari hemiartroplasti adalah keausan tulang rawan asetabular yang dapat menyebabkan rasa sakit dan berkurangnya nyeri (Parker & Cawley, 2. Sub Tema i. Pendekatan anterior mengurangi dislokasi dibandingkan pendekatan posterior Komplikasi pasca operasi yang terkait dengan patah tulang pinggul dapat mempersulit tindak lanjut pasien ini, termasuk gangguan kognisi dan kematian (Viberg. Fryslev. Overgaard, & Pedersen. Komplikasi pasca operasi yang jauh lebih banyak terjadi pada kelompok posterior dibandingkan dengan kelompok anterior . asingmasing 7 vs 4. P =. Selain itu, dislokasi pinggul secara signifikan lebih banyak terjadi pada kelompok posterior dibandingkan dengan kelompok anterior (Haller et al. Pasien yang menjalani THA dengan pendekatan anterior untuk patah tulang leher femur dapat pinggul yang baik dan kualitas hidup yang baik 12 bulan setelah operasi (Clement et al. , 2. Page | 219 Wantonoro dkk Dislokasi dan kualitas hidup pada pasien dengan total hip arthroplasty: Scoping review of randomized control trial study Untuk osteoartritis primer, pendekatan anterior atau anterolateral baru-baru popularitasnya dan memiliki tingkat dislokasi yang dilaporkan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pendekatan posterior (Leegwater et , 2. Melalui pendekatan anterior langsung dapat mengurangi komplikasi pasca operasi, termasuk dislokasi pinggul dan revisi THA. Pasien dapat mengharapkan hasil fungsional pinggul yang baik dan kualitas hidup yang baik lebih dari 12 bulan setelah operasi (Seagrave et al. , 2. Pasien yang dioperasi dengan pendekatan lateral langsung mengalami dislokasi, dibandingkan dengan 850/11,834 . ,2%) pasien pendekatan posterior adalah faktor risiko terkuat untuk dislokasi (OR = 95% CI 2. 3Ae3. (Jobory et al. Pilihan pendekatan posterior dan demensia dikaitkan dengan peningkatan risiko dislokasi (Tarrant. Attia, & Balogh, 2. Ketika pinggul yang ditangani dengan reduksi tertutup teridentifikasi, penggunaan pendekatan lateral dan posterior langsung masing-masing meningkat dua kali lipat dan tiga kali lipat, dibandingkan ketika hanya revisi akibat dislokasi yang diukur (Tunioi et al. , 2. Kemungkinan besar risiko dislokasi dengan penggunaan pendekatan ISSN : 2502-1524 posterior seperti yang kami amati dapat diperbaiki dengan penggunaan perbaikan posterior yang dilakukan berpengalaman (Jobory et al. , 2. Dislokasi pinggul posterior adalah jenis yang paling umum dan dapat dikurangi dengan melakukan traksi longitudinal dengan rotasi internal pada pinggul. SIMPULAN Operasi patah tulang pinggul adalah prosedur pembedahan yang menggantikan sendi panggul dengan implan buatan atau sendi panggul buatan. Penggantian penggantian total atau sebagian. Lebih dari sepertiga pasien memiliki kualitas hidup yang buruk setelah operasi patah tulang hanya seperempat pasien yang memiliki kualitas hidup yang baik setelah operasi patah tulang pinggul. Artroplasti pinggul dianggap sebagai salah satu operasi ortopedi yang paling sukses dan hemat biaya dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan kembali melakukan aktivitas fisik yang berat. Beberapa komplikasi pasca operasi berhubungan dengan THA, sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien, komplikasi luka, tromboemboli, dislokasi, dan komplikasi umum seperti infeksi sendi periprostetik. Meskipun dislokasi merupakan komplikasi yang relatif umum dan serius, belum ada laporan mengenai dampak dislokasi terhadap kualitas hidup pasien yang dilaporkn n menjalani artroplasti untuk patah tulang pinggul. Keragaman kemampuan fungsional dan Page | 220 status yang diamati pada orang lanjut usia mungkin disebabkan oleh efek kumulatif dari kesenjangan kesehatan yang terjadi sepanjang masa hidup, yang disebut sebagai keuntungan kumulatif atau kerugian kumulatif. DAFTAR PUSTAKA