Volume 1 No 2 : p. E-ISSN : Open Acces PERBANDINGAN NILAI Q GERD PASIEN BPJS RAWAT JALAN YANG MENDAPAT TERAPI ANTASIDA OMEPRAZOL DENGAN ANTASIDA LANZOPRAZOL DI KLINIK PRATAMA X SIDOARJO COMPARISON OF GERD Q VALUE FOR OUTPATIENT BPJS PATIENTS WHO RECEIVED ANTACIDE OMEPRAZOLE THERAPY WITH ANTACIDE LANZOPRAZOLE AT THE PRATAMA X SIDOARJO CLINIC Elly Purwati1. Andri Priyoherianto2. Didik Andito3. Nurfitriyawatie4. Zahrotus Sofia5 Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo. Sidoarjo. Indonesia Koresponden Elly Purwati. Address: Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo. Sidoarjo. Indonesia , email : elly. purwati2021@gmail. Abstrak Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah gangguan saluran pencernaan yang ditandai dengan refluks berulang dari isi lambung ke dalam esofagus, menyebabkan berbagai gejala seperti heartburn, regurgitasi, nyeri ulu hati, dan gangguan tidur. Prevalensi GERD di seluruh dunia berkisar antara 15%-25%, dengan tren meningkat di beberapa negara termasuk Indonesia Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan Nilai Q GERD pasien BPJS Rawat jalan yang mendapat terapi kombinasi obat Antasida golongan PPI [Omeprazol atau lanzoprazo. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan rancangan penelitian yaitu cross sectional, dievaluasi dengan Kuesioner GERD- Q. Hasil: Hasil dalam penelitian ini yaitu obat yang digunakan untuk terapi gerd adalah golongan ppi dan antasida berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan terapi tersebut dapat efektif menurunkan gejala gerd yang dialami oleh pasien, kombinasi antasida lansoprazole/omeprazole antasida sangat efektif untuk menurunkan nilai Q gerd dari data statistic menunjukkan penurunan antara 2 kombinasi tersebut tidak berbeda bermakna P<0. Kesimpulan: Rata-rata penurunan nilai Q GERD pasien BPJS rawat jalan yang mendapat terapi antasida omeprazole, dan antasida lansoprazole di klinik Pratama X Sidoarjo adalah 7,25 , dan 9,875. Kata kunci : Gerd. Antasida. Omeprazol. Lansoprazol Abstract Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a digestive tract disorder characterized by repeated reflux of stomach contents into the esophagus, causing various symptoms such as heartburn, regurgitation, heartburn, and sleep disorders. The prevalence of GERD throughout the world ranges from 15%-25%, with an increasing trend in several countries including Indonesia. Objective: This study aims to compare the Q Value of GERD for outpatient BPJS patients who received combination therapy with antacid PPI drugs [Omeprazole or lanzoprazol. Method: This research uses a descriptive research type using a cross sectional research design, evaluated with the GERD-Q Questionnaire. Results: The results in this research are that the drugs used for GERD therapy are PPI and antacids based on research results showing that this therapy can effective in reducing the symptoms of gerd experienced by patients, the combination of antacid lansoprazole/omeprazole antacid is very effective in reducing the Q value of gerd from statistical data showing that the reduction between the 2 combinations is not significantly different P<0. Conclusion: The average Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. decrease in the Q value of GERD for outpatient BPJS patients who received antacid omeprazole, and antacid lansoprazole therapy at the Pratama X Sidoarjo clinic was 7. Keywords: Gerd. Antacids. Omeprazole. Lansoprazole. PENDAHULUAN Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu gangguan saluran pencernaan di mana isi lambung mengalami refluks secara berulang ke dalam esofagus, yang menyebabkan terjadinya beberapa gejala hingga 1 Beberapa manifestasi klinis dari GERD antara lain, heartburn, regurgitasi, nyeri ulu hati, odinofagia, mual, disfagia, hingga kesulitan tidur pada malam hari. Laju prevalensi kejadian GERD di seluruh dunia sekitar 15%-25%, untuk prevalensi di Asia Timur pada tahun 2005-2010 menjadi 5,2%-8,5%. 3 Dari hasil penelitian di Indonesia, prevalensi GERD mengalami peningkatan. 4 Pada Maret 2016, prevalensi penyakit refluks gastroesofagus yang terdiagnosis dengan menggunakan endoskopi di Jakarta sebesar 22,8%. Hasil penelitian Bunga dkk pada tahun 2020, subjek dengan pola makan buruk dan mengalami GERD sebanyak 34,2%. Untuk subjek dengan pola makan baik dan tidak mengalami GERD sebanyak 86,5%. 5 Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Alika dkk pada tahun 2021, dari 86 responden, 55 orang memiliki kebiasaan konsumsi kopi dan 31 orang tidak memiliki kebiasaan konsumsi kopi. Responden yang tidak penyakit GERD berjumlah 74 orang . 0%) dan yang menderita penyakit GERD berjumlah 12 orang . 0%). Meningkatnya prevalensi kejadian GERD dipengaruhi oleh berbagai faktor Perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas dan pola makan yang salah, menjadi faktor meningkatnya kejadian GERD. Yang dimana GERD merupakan salah satu jenis gangguan pencernaan yang cukup sering terjadi di masyarakat, tak terkecuali mahasiswa sehingga dapat mengganggu aktivitas dan menurunkan kualitas hidup. Salah satu dampak yang sering timbul dan menjadi faktor risiko lain dari GERD yaitu berat badan lebih. Meningkatnya tren konsumsi makanan rendah gizi dan tinggi lemak jenuh pada Masyarakat , ditambah dengan aktivitas fisik yang sedikit, menyebabkan angka kejadian berat badan lebih menjadi 8 Faktor lain yang dapat menyebabkan kejadian GERD yaitu konsumsi kopi yang berlebihan. Dalam kehidupan mahasiswa, banyak yang berpendapat bahwa ngopi merupakan kegiatan yang digemari. Tak sedikit merupakan bagian dari gaya hidupnya. Beberapa faktor risiko tersebut dapat meningkatkan kejadian GERD sehingga menyebabkan timbulnya berbagai gejala, seperti adanya rasa terbakar di dada, nyeri ulu hati, mual, insomnia karena heartburn atau regurgitasi. 2 Maka, untuk GERD GERD-Q. Kuesioner GERD-Q sederhana yang telah tervalidasi dan terus dikembangkan untuk praktisi mengidentifikasi, membantu diagnosis, menilai respon untuk menangani praktik klinis pada pasien GERD. Kuesioner GERD- Q terdiri dari 6 komponen pertanyaan terdiri dari 4 komponen gejala refluks . rediktor positif GERD) dan 2 sebagai prediktor negatif GERD. Kuesioner GERD-Q mempunyai nilai prediksi positif yang tinggi, yaitu 92% sedangkan untuk nilai prediksi negatif yang rendah, yaitu 22% untuk GERD. Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis menggunakan rancangan penelitian yaitu cross sectional. Pada penelitian ini metode pengambilan sampel yaitu Total Sampling. Sampel yang digunakan adalah Pasien yang bersedia menjadi sampel penelitian dan pasien yang mengisi kuesioner dengan mekanisme yang disediakan oleh peneliti sebagai kriteria inklusi , pasien yang tidak mengisi kuesioner dengan melewati batas waktu, dan pasien yang mengisi kuesioner tidak lengkap. adalah kriteria eksklusi dalam penelitian. Untuk sampel tumbuhan dengan menyebutkan sumber lokasi pengambilannya dan bagian yang Tahapan/Jalannya Penelitian Setelah mendapatkan surat etik penelitian. Peneliti melakukan penelitian dengan mengikuti praktek dokter, jika ada pasien yang datang berobat keklinik dan terindikasi terserang penyakit GERD, maka pasien tersebut diambil sebagai sampel dan diberi lembar informed Consent, setelah itu mengisi lembar kuisioner GERD Q dengan di pandu oleh peneliti , agar pasien memahami Peneliti memberikan menjelaskan mekanisme penelitian terapi GERD minggu 1 sampai dengan minggu 3 berikutnya. Peneliti mencatat data pasien dan no HP untuk memantau kepatuhan pasien minum obat selama mengikuti penelitian. Bagi Pasien yang tidak kembali ke klinik . Peneliti memberikan ketentuan batas waktu yaitu selama 3 hari dengan cara menghubungi pasien , dan jika pasien memutuskan tidak kembali maka dianggap gugur atau tidak dijadikan sampel penelitian. Analisa Data Berdasarkan data tabel di dapatkan responden sebanyak 62 pasien terdiri dari laki laki 22 orang . ,5%] dan Perempuan sebanyak 40 orang . ,5%] . Pasien menderita GERD umur 20 - 40= 32, sedangkan umur 41-70 = 30 Berdasarkan data tabel didapatkan pasien GERD mendapat terapi kombinasi antasida Omeprazole sebanyak=32 [ 53,3 % ] sedangkan antasida lansoprazole sebanyak 30. ,7%]. Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Tabel 1. Distribusi Jenis Kelamin Pasien Dan Umur Yang Mengalami Gerd Berdasarkan Kuesioner Gerd-Q Kategori Jenis Kelamin Persen % Umur Laki-laki Perempua n Total 20-40= 32 41-70=30 Menderit a GERD 35,48 64,52 Tabel 2. Distribusi Jenis Obat Yang Dikonsumsi Untuk Meredakan Gejala Gerd Kategori dosis Jenis obat Jumlah % Antasida omeprazole 32. ,3%] Antasida lanzoprazole 30. ,7%] Tabel 3. Nilai Q Gerd Pasien Dgn Terapi Kombinasi Lanzoprazol Antasida Q1 Lansoprazole Q2 Lansoprazole Rata Rata Penurunan Penggunaan Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Tabel 4. Nilai Q Gerd Pasien Dgn Terapi Kombinasi Omeprazole Antasida Q1 Omeprazole Q2 Omeprazole Rata Rata Penurunan Penggunaan Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Tabel 5. Nilai Statistik Q Gerd Terapi Lansoprazole Antasida/Omeprazole Antasida Medident Journal | https://ejournal. id/index. php/jkk/index Volume 1 No 2 : p. Berdasarkan tabel 4 diatas, terjadi pernurunan nilai Q gerd pasien yang mendapat terapi antasida lanso maupun antasida omeprazole. Berdasarkan tabel 5, data statistik nilai Q gerd terapi lansoprazole antasida/omeprazole menunjukkan hasil p<0,00. HASIL DAN PEMBAHASAN Terapi medikamentosa merupakan terapi menggunakan obat-obatan. PPI merupakan salah satu obat untuk terapi GERD yang memiliki keefektifan serupa Jika dibandingkan dengan obat lain. PPI terbukti paling efektif mengatasi gejala serta menyembuhkan lesi esofagitis1,8-11 Yang termasuk obat-obat golongan PPI adalah omeprazole 20 mg. Pantoprazole 40 mg, lansoprazole 30 mg, esomeprazole 40 mg, dan rabeprazole 20 mg. PPI dosis Tunggal umumnya diberikan pada pagi hari sebelum makan pagi. Sedangkan dosis ganda diberikan pagi hari sebelum makan pagi dan malam hari sebelum makan malam. Selain PPI, obat lain dalam pengobatan GERD adalah antagonis reseptor H2, antasida, dan prokinetik . ntagonis dopamin dan antagonis reseptor Antagonis reseptor H2 dan antasida digunakan untuk mengatasi gejala refluks yang ringan dan untuk terapi maintenance dikombinasi dengan PPI. Yang termasuk ke dalam antagonis reseptor H2 adalah simetidin . x 800 mg atau 2 x . , ranitidin . x 150 m. , farmotidin . x 20 m. , dan nizatidin . x 150 m. Prokinetik merupakan golongan obat yang berfungsi mempercepat proses pengosongan perut, sehingga mengurangi kesempatan asam lambung untuk naik ke Obat golongan prokinetik termasuk domperidon . x 10 m. dan metoklopramid . x 10 m. Dalam penelitian ini, obat yang digunakan untuk terapi gerd adalah golongan ppi dan antasida berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan terapi tersebut dapat efektif menurunkan gejala gerd yang dialami oleh Hal ini ditunjukkan dari hasil tabel 3 dan 4. Kombinasi antasida lansoprazole/omeprazole antasida sangat efektif untuk menurunkan nilai Q gerd dari data statistic menunjukkan penurunan antara 2 kombinasi tersebut tidak berbeda bermakna P<0. KESIMPULAN Rata-rata penurunan nilai Q GERD pasien BPJS rawat jalan yang mendapat terapi antasida omeprazole di klinik Pratama X Sidoarjo adalah 7,25 Rata-rata penurunan nilai Q GERD pasiien BPJS rawat jalan yang mendapat terapi antasida lanzoprazol di klinik Pratama X Sidoarjo adalah 9,875 Perbedaan nilai Q GERD pasien yang mendapat terapi antasida omeprazole dengan antasida lansoprazole di klinik Sidoarjo penurunan yang tidak berbeda bermakna. DAFTAR PUSTAKA