Journal of Practice Learning and Educational Development https://digitalpress. gaes-edu. com/index. php/jpled E-ISSN: 2809-1205 Vol 3. No. DOI: 10. 58737/jpled. Submitted: 06-04-2023 Revised: 28-04-2023 Accepted: 28-05-2023 Persepsi Siswa Tentang Instructional Leadership Guru Adhitya Dwi Putra1. Sulastri2 Departemen Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Padang1,2 *E-mail: adhtdwip@gmail. Abstract Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat siswa tentang instructional leadership guru di SMA Negeri 1 Kota Pariaman, yang meliputi: . tujuan pembelajaran, . penerapan iklim sekolah, . penerapan budaya sekolah, . berjiwa kepemimpinan . Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Kota Pariama yang berjumlah 529 siswa. Sampel penelitian adalah 88 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Alat yang digunakan adalah model survei skala Likert. Hasil analisis dan pengolahan datanya memuaskan. Pendapat siswa tentang pelatihan kepemimpinan guru di SMA Negeri 1 Kota Pariaman dapat dilihat dari penjelasan berikut: Tujuan pembelajaran terwujud dengan baik dengan rata-rata 4,3, . penerapan iklim sekolah di kategori baik dengan rata-rata 4,3 . penerapan budaya sekolah dilakukan dengan baik, dengan ratarata 4,1. berjiwa kepemimpinan terwujud dengan baik, dengan rata-rata 4,2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa terhadap kepemimpinan mengajar SMA Negeri 1 Kota Pariamam terwujud dengan baik, dengan rata-rata 4,2 . Keywords: instructional leadership, guru Pendahuluan Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan/menekankan pada pembelajaran, dan komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar dan pengembangan guru, keunggulan layanan dalam pembelajaran, dan pembelajaran di sekolah. (Greenfield, 1. Manajemen pembelajaran adalah perilaku yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru serta mengembangkan kondisi dan hasil belajar yang diinginkan bagi siswa. Menurut Gorton & Schneider . , meskipun definisi ini sangat luas, secara implisit menyiratkan bahwa fokus kepemimpinan pembelajaran adalah pada peningkatan dan pengembangan pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran adalah struktur multidimensi tentang bagaimana pemimpin sekolah mengatur dan mengoordinasikan pekerjaan mereka kehidupan di sekolah, tercermin tidak hanya dalam bentuk pengalaman belajar dan prestasi siswa, tetapi juga dalam lingkungan belajar. Pekerjaan ini sedang dilakukan. Ajaran ini pertama kali dilaksanakan oleh (Hallinger, 1. melalui karyanya yang panjang pada tahun 1980-an. Meneliti hasil penelitian ini, kami menemukan bahwa kepemimpinan kelas memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja akademik siswa dan hasil belajar. Akhirnya, penyelesaian penelitian ini membuka cakrawala baru bagi para praktisi pendidikan dalam meneliti dan mengembangkan model kepemimpinan belajar/mengajar. Menurut (Kusmintardjo, 2. , kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang mengutamakan pembelajaran dan memungkinkan siswa memberikan pelayanan belajar yang prima kepada siswanya karena dapat mempengaruhi, membimbing, dan membimbing siswa dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan observasi lapangan dan pendataan bulan Agustus 2022, pelaksanaan instructional leadership guru di SMA N 1 Kota Pariaman adalah: Masih belum dikelola dengan baik karena . guru kurang terampil dalam menciptakan suasana belajar di kelas, . ketidakmampuan guru berkomunikasi dengan siswa di dalam kelas, . kurangnya kreativitas guru dalam mengembangkan metode pengajaran, dan . kurangnya minat dan kreativitas siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran persepsi siswa terhadap guru manajemen pendidikan di SMA Negeri 1 Kota Pariaman. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dan sifat penelitiannya adalah Tempat penelitiannya adalah SMA N 1 di Pariaman. Populasi adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA N 1 Pariaman yang berjumlah 529 siswa. Sampel penelitian terdiri dari 88 siswa SMA Negeri 1 Pariaman yang dipilih dengan metode simple random sampling menggunakan Slovin. Metode skala likert yang digunakan oleh penulis yang memungkinkan lima tanggapan dipilih pada skala peringkat 1-5. Sebelum menggunakan kuesioner dalam survei, penulis melakukan pengujian kuesioner dan menguji keefektifan kuesioner menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2013. Setelah memastikan bahwa data valid dan reliabel, kuesioner diberikan kepada responden. Dalam melakukan survei , penulis menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2013 untuk menganalisis data survei dan menggunakan rumus mean. Uji validitas instrument menggunakan aplikasi Microsoft Office 2013 untuk mencari valid per item pernyataan yang digunakan dalam angket penelitian. Uji coba angket diberikan kepada 30 orang siswa dari hasil perhitungan yang berpedoman pada Tabel Product Moment. Untuk mencari reliabilitas angket dengan menggunakan Microsoft Office 2013. Setelah hasil perhitungan reliabilitas diperoleh, dapat disimpulkan, dikatakan bahwa angket penelitian Persepsi Siswa tentang Intructional Leadhership guru di SMA Negeri 1 Pariaman dikatakan Reliabel. Hasil dan Pembahasan Hasil Tabel berikut menunjukkan pengolahan data persepsi siswa tentang instructional leadership guru di SMA Negeri 1 Kota Pariaman Rata-rata Kategori Tujuan Pembelajaran Indikator Baik Penerapan Iklim Sekolah Baik Penerapan Budaya Sekolah Baik Berjiwa Pemimpin Baik Rata-rata Baik Dari data di atas terlihat bahwa rata-rata skor persepsi siswa tentang instructional leadership guru di SMA Negeri 1 Kota Pariaman adalah 4,2 dan penilaiannya disebut baik. Menurut pendapat siswa pada indikator tujuan pembelajaran, hasil yang dicapai adalah 4,3, evaluasi baik. Pendapat siswa tentang indikator penerapan iklim sekolah mendapatkan skor 4. penilaiannya disebut baik. Pendapat siswa tentang penerapan budaya sekolah memberikan hasil 4,1 yang merupakan evaluasi yang baik. Di sisi lain, pendapat siswa pada indicator berjiwa kepemimpinan memberikan nilai 4,2 yang tergolong baik. Pembahasan Rata-rata skor persepsi siswa pada instructional leadership guru di SMA N 1 Kota Pariaman adalah 4,2, dan penilaiannya dikategorikan baik. Untuk pendapat siswa tentang tujuan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kota Pariaman memperoleh nilai rata-rata 4,3 dalam kategori ini . Namun pada sub indikator guru menyampaikan materi pembelajaran mudah dipahami harus ditingkatkan lagi dimana mendapat skor 4,3 dikategori baik, agar siswa dapat dengan mudah memahami istilah-istilah/penggunaan kosakata yang dijelaskan guru di kelas. Kemudian pada sub indikator tujuan pembelajaran yang jelas memperoleh tingkat capaian 4,6 berada pada kategori sangat baik. Ini disebabkan karena guru dalam menyampaikan tujuan pembelajaran selalu memastikan bahwa siswa telah cukup berkonsentrasi pada pelajaran sebelum ia mulai menyampaikan tujuan pembelajaran. menggunakan pemilihan kata-kata yang mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa. Hal inilah yang membuat tujuan pembelajaran dapat disampaikan dengan baik kepada siswa. Sedangkan hasil penelitian mengenai instructional leadership guru pada aspek penerapan iklim sekolah dengan skor rata-rata 4,3 berada pada kategori baik. Pada item yang paling tinggi yaitu 4,5 di sub indikator guru meminta siswa untuk membersihkan ruang kelas sebelum pelajaran dimulai agar ruang kelas menjadi bersih dan nyamanAy. Ini disebabkan karena guru selalu meminta para siswa untuk selalu membersihkan ruangan kelas sebelum memulai pelajaran, dikarenakan apabila kelas dalam keadaan bersih maka proses belajar mengajar akan lebih nyaman dan kondusif. (Rusdydie, 2. menyimpulkan pengertian manajemen kelas adalah segala usaha yang dilakukan untuk mewujudkan terciptanya suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi peserta didik untuk dapat belajar dengan baik sesuai kemampuan mereka. Kemudian skor rata-rata paling rendah pada sub indikator menciptakan hubungan yang harmonis untuk terwujudnya suasana kelas yang kondusif yaitu dengan skor 3,9 dikategori baik. Penyebab rendahnya rata-rata tingkat capaian pada item dikarenakan menurut penilaian siswa, masih ada sebagian guru yang kurang berhubungan baik dengan beberapa siswa yang terkadang membuat suasana kelas kurang kondusif dan menyenangkan, walaupun begitu dilihat dari capaian penelitian ini, item tersebut masih bisa dikategorikan baik, karena memperoleh capaian 3,9 dimana angka tersebut dikategorikan baik. Ditinjau dari penerapan budaya sekolah, penelitian yang telah diuraikan pada mengenai instructional leadership guru pada indikator penerapan budaya sekolah dengan skor rata-rata 4,1 berada pada kategori baik. Item yang paling tinggi yaitu dengan skor rata-rata 4,5 pada sub indikator mengajarkan siswa untuk selalu menolong teman yang lagi mendapat musibah. Ini disebabkan karena apabila ada siswa yang terkena musibah guru selalu mengingatkan para siswa untuk membantu seperti meminta iuran seikhlasnya kepada para siswa yang nantinya akan diberikan ke siswa yang tertimpa musibah. Sedangkan skor rata-rata paling rendah adalah pada sub indikator mengajarkan siswa untuk saling menghargai satu sama lain yaitu dengan skor 3,91 berada di kategori baik. Penyebab rendahnya rata-rata tingkat capaian pada item ini, karena menurut penilaian siswa, masih terdapat beberapa guru yang masih membeda-beda kan siswa disaat berbeda pendapat antara siswa, walaupun begitu dilihat dari capaian penelitian ini item tersebut masih bisa dikategorikan baik, karena memperoleh 3,9 dimana angka tersebut dikategorikan baik. (Freire, 2. Seorang pakar pendidikan pembebasan mendefinisikan bahwa pendidikan bukanlah Aumenara gadingAy yang berusaha menjauh dari realitas sosial dan budaya. Sebaliknya, pendidikan harus mampu menciptakan masyarakat yang berbudaya dan berpendidikan, bukan masyarakat yang hanya mengagungkan kelas sosial sebagai hasil dari kekayaan dan kemakmurannya. Kemudian penelitian yang telah diuraikan pada indikator mengenai instructional leadership guru pada sub indikator berjiwa pemimpin dengan skor rata-rata 4,2 berada pada kategori baik. Pada sub indikator yang paling tinggi yaitu dengan skor rata-rata 4,6 pada item memberikan pesan moral kepada siswa pada setiap pelajaran. Ini disebabkan guru selalu memberikan pesan moral kepada siswanya pada saat proses belajar mengajar, karena bias meningkatkan moral dan sifat positif untuk para siswanya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 (SISDIKNAS) menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah Auuntuk mengembangkan keterampilan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang layak dalam rangka pendidikan kehidupan bangsa, dengan tujuan mengembangkan peserta menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, sadar, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab Sedangkan skor rata-rata paling rendah yaitu pada sub indikator memberikan contoh berperilaku baik kepada siswa yaitu dengan skor 3,8 berada di kategori tinggi. rendahnya rata-rata tingkat capaian pada sub indikator memberikan contoh berperilaku baik kepada siswaAy karena menurut penilaian siswa, masih terdapat beberapa guru yang terkadang pada saat memulai dan mengakhiri pembelajaran ataupun pada saat proses pembelajaran berlangsung guru lupa untuk memberi contoh berperilaku baik kepada siswa-siswa nya,harusnya setiap memulai ataupun mengakhiri pembelajaran hendaknya guru selalu memberikan contoh berperilaku baik agar biasa dicontoh oleh siswanya. Walaupun begitu dilihat dari capaian penelitian ini item tersebut masih bisa dikategorikan tinggi, karena memperoleh 3,8 dimana angka tersebut dikategorikan baik. Hal ini dikemukakan oleh (Yaumi, 2. bahwa karakter menggambarkan kualitas moral seseorang yang tercermin dalam semua perilakunya, yang meliputi unsur keberanian, kekuatan, kejujuran dan kesetiaan atau perilaku dan kebiasaan yang Karakter ini dapat berubah karena pengaruh lingkungan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengembangkan karakter dan menghindari terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menipu. Jadi dapat disimpulkan bahwa instructional leadership guru sudah berjalan dengan baik, namun ini hendaknya lebih ditingkatkan lagi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, persepsi siswa tentang instructional leadership guru di sekolah SMAN 1 Pariaman, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: . Persepsi siswa tentang kepemimpinan guru di SMA N 1 Kota Pariaman terhadap tujuan pembelajaran dalam kategori baik, dengan rata-rata 4,3. Persepsi siswa tentang instructional leadership guru di SMA N 1 Kota Pariaman tergolong baik ditinjau dari pelaksanaan iklim sekolah dengan nilai rata-rata 4,3 termasuk kategori baik, . persepsi siswa tentanag instructional leadership guru di SMA N 1 Kota Pariaman tergolong baik pada indikator penerapan budaya sekolah dalam kategori baik, rata-rata 4,1, . pemahaman siswa tentang instructional leadership guru SMA N 1 dalam kategori sangat baik. untuk indikator bimbingan, skor rata-rata adalah 4,2. Oleh karena itu, untuk usulan ke depannya, kepemimpinan pembelajaran guru di SMA Negeri 1 Kota Pariaman harus lebih memperhatikan kepemimpinan pengajaran guru dan menyelenggarakan pelatihan, seminar untuk meningkatkan kepemimpinan pengajaran guru. Kepada guru-guru SMA N 1 Kota Pariaman, untuk lebih meningkatkan manajemen pembelajaran agar suasana belajar menjadi menyenangkan. Daftar Pustaka