MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Agustus 2023 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 43-56 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index PENDIDIKAN PEREMPUAN PERSPEKTIP SYEKH RIFAAH AL TAHTAWI RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN PEREMPUAN DI INDONESIA Sumaryati 1. Muslih Hidayat 2. Zuhri3. Budi Riyoko4 Institut Agama Islam Al Azhaar Lubuklinggau1,2,3,4 zuhri@iai-al-azhaar. id | budiriyoko. whd@gmail. Abstract: This study discusses Women's Education from the perspective of Sheikh Rifaa Al Tahtawi its relevance to women's education in Indonesia. The purpose of this study is to find out the concept of Women's Education from Rifaah Al Tahtawi perspective and its relevance to women's education in Indonesia. This research is library research. Data collection techniques are carried out by documentation studies. The data analysis method uses content analysis. Content analysis is carried out by thoroughly reading Kitab Al-Murshid Al-Amn Fi TarbiyAl Al-BanAt Wa AlBann, observing matters related to women's education in Kitab Al-Murshid AlAmn Fi TarbiyAl Al-BanAt Wa Al-Bann. Then how relevant is it to women's education in Indonesia. The results of the study concluded that women's education in Kitab Al-Murshid Al-Amn Fi TarbiyAl Al-BanAt Wa Al-Bann is: education should be treated fairly not necessarily differentiated by gender, the purpose of education is to get guidance to purify their souls, to obtain knowledge as a practice to improve the future and understand life in the family this not in line with functionalist structural theory. Its relevance to women's education in Indonesia is that the idea of implementing women's education is carried out by Indonesian women themselves and in its implementation has not been evenly distributed due to cultural barriers that give rise to forms of subordination, marginalization, stereotypes, violence against women, and double workload, so that the impact has not maximized the role of women in realizing the sense of patriotism of the country according to Rifaah Al Tahtawi's expectations. Keyword: Education. Women. Gender. Rifaa Al Tahtawi Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko PENDAHULUAN Islam tidak mengenal emansipasi pendidikan bagi perempuan, bagi Islam, pendidikan adalah hal penting tapi tidak melalui tuntutan emansipasi, kehadiran Islam untuk membebaskan manusia dari penindasan, kebodohan. Islam menganjurkan umadnya untuk menuntut ilmu di negeri manapun, anjuran ini tidak hanya untuk lakilaki tetapi juga perempuan. Islam mengizinkan perempuan dan laki-laki menuntut ilmu secara bersama-sama sehingga nanti membuka peluang bagi laki-laki dan perempuan untuk menduduki jabatan tertentu, oleh karena itu nabi menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Pada dasarnya Islam tidak mengenal konsep perbedaan gender, . ender difference. dan juga emansipasi pendidikan perempuan. Sejauh ini studi tentang emansipasi pendidikan perempuan cenderung melihat dua hal. Pertama studi tentang emansipasi pendidikan perempuan tidak perlu karena Islam sebagai agama sudah terlebih dahulu mengajarkan hal tersebut, pada hakikatnya semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. 1 Kedua, studi tentang perlunya emanasipasi pendidikan perempuan yang menjelaskan dasar pertimbangan untuk melakukan emansipasi pendidikan bagi perempuan telah menyebabkan perbedaan dalam melihat pendidikan perempuan secara mendasar. Dua kecenderungan di atas memperlihatkan bahwa persoalan emansipasi pendidikan perempuan dilihat hanya sebagai satu persoalan padahal emansipasi pendidikan perempuan menyangkut banyak aspek yang tidak diungkapkan secara mendalam dalam studi yang ada terlebih lagi keterkaitan ide dengan keindonesian. Salah satu tokoh dengan pemikiran pembaharuan pendidikan perempuan yang menarik untuk dibahas adalah Rifaah Al Tahtawi, sebagai ulama perempuan yang konsen pada isu pendidikan perempuan. Ada beberapa penjelasan Rifaa Al Thahthawi mengenai pendidikan perempuan diantaranya di dalam kitab Al-Mursyid al-Amin li alBanat wa al-Banin. ,menyatakan bahwa: Pertama. Sesungguhnya pendidikan perempuan merupakan suatu hal yang lazim, untuk memperbaiki kehidupan pernikahan, para perempuan belajar membaca, menulis, berhitung, dan lainnya, sesungguhnya pendidikan tersebut menambah adab dan pemikiran perempuan, membuat mereka berlaku baik dalam keluarga, memperbaiki interaksinya dengan laki-laki dalam pembicaraan dan pandangannya, mengatur mereka, serta mengatur eksistensinya untuk menghilangkan lemahnya akal dan kurangnya ingatan dan mengubah perempuan dari kebodohan kepada perempuan yang seperti di atas. 1 Mansour Fakih. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1. , 78. Nasaruddin Umar. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-QurAoan. Paramadina. , xv. Nurjanah Djohantini Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan (Jakarta: Open Society Institute, t. , 49. 2 Siti Zubaidah. Pemikiran Fatima Mernissi Tentang Kedudukan Wanita Dalam Islam (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2. , 10. Syamsul Huda, dkk. Feminisme Dalam Peradaban Islam (Surabaya: Pena Cendekia, 2. , 139. Nurwadjah Ahmad E. Q & Ela Sartika. Tafsir Feminisme terhadap Makiyyah dan Madaniyyah (Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2. , 162. Sara M. Evans. Deirdre Hogan. Pembebasan Perempuan Feminisme. Revolusi Kelas. Dan Anarkisme, (Ttp: Pustaka Osiris, 2. , 16. 44 | MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 | Kedua. Pendidikan bagi perempuan memungkinkan suatu hal dalam mengambil pekerjaan dari apa-apa yang dilakukan laki-laki, berdasarkan kemampuan dan kekuatannya, maka dengan kemampuan yang dimiliki terhadap suatu pekerjaan, maka ia mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri dan ini merupakan kesibukan perempuan dari menganggur. Ketiga. Perempuan yang berpendidikan lebih baik dalam memberikan pendidikan kepada anakanaknya, adab dan pengetahuan yang dimilikinya akan diwariskannya pada akhlak anaknya. Anak perempuan ketika melihat ibunya menelaah buku-buku dan cermat mengurus rumah dan melakukan pendidikan untuk anak-anaknya, maka hal tersebut akan menarik semangat anaknya untuk sama seperti ibuny. Selanjutnya, keempat. Kuatnya larangan perempuan untuk belajar merupakan kebiasaan jahiliah, dan bukan dari ajaran-ajaran Islam. Kelima. Tidak diragukan lagi bahwa keberhasilan perempuan atas kemampuan membaca dan menulis, berakhlak dengan akhlak yang mulia, dan memiliki pengetahuan lebih memperindah sifat yang mulia. Dan hal tersebut lebih dirindukan laki-laki yang berpendidikan daripada kecantikan. Masih menurut Rifaah Al-Thahthawi bahwa Pendidikan perempuan untuk kepentingan bangsa, pendidikan perempuan bukan hanya terbatas pada kegiatan untuk mengajarkan pengetahuan. Akan tetapi, pendidikan juga diarahkan untuk membentuk kepribadian dan menanamkan patriotisme . ubb al-wAl ha. yang tujuan ini selaras dengan kondisi bangsa Indonesia. Banyak tulisan yang membahas tentang pendidikan perempuan dalam perspektip Rifaa Al Tahtawi diantaranya: Pertama. Muhammad Fathur Rahman Hadi,5 dengan tesisnya Rifaa Al-Thatawi Sang Pembaharu Pendidikan Islam, yang membahas tentang reformasi . , tajdid . , altakwir . Secara deskriptif naratif digambarkan juga ide-ide dan gagasan Rifaa Al-Thatawi tentang pembaruan pendidikan Islam yang ketika itu sedang mengalami masa kritis dihubungkan dengan kemajuan barat yang mendominasi dengan Mesir. Kedua. Tesis berjudul Puisi Rifa Al-Tahtawi Sebagai Penyair Pembaharu Pendidikan Dan Sosial Juwairiyah Dahlan. Menariknya tesis ini adalah mencantumkan RifaAoah Al Tahtawi sebagai pembaharu bidang pengajaran. Ketiga, tesis disusun oleh Suparjo dengan judul Pengaruh Pemikiran Rifaa AlTahtawi Tahun 1801-1873 Di Mesir dalam tulisan ini dibahas tentang pemikiran Rifaah Al-Tahtawi tentang negara juga tentang kebangsaan dan patriotism, beberapa Jurnal yang membahas masalah ini antara lain: Jurnal Risalah Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam. Devi Fajrin Habibi. Modernisasi Pendidikan Islam Di Timur Tengah Studi Kawasan Mesir Dan Turki. Jurnal Risalah keterangan modernisasi pendidikan di wilayah-wilayah muslim. Jurnal Al Fikru. Bobby Arno Rusady. Pemikiran Pendidikan Rifaa Al Tahtawi. Rifaa Al Tahtawi yang berusaha mengembangkan pamor Islam setelah mengalami kemerosotan. 3 Faizah Binti Awad dkk. Isu-Isu Emansipatoris Pendidikan Islam, cet. Ke-1, (Jawa Barat: Adab, 2. , 6. Listyowati, dkk. Mempromosikan Nilai-nilai Budaya Setara dan Adil Gender, (Yogyakarta: Solidaritas Perempuan Kinasih, 2. , 49. Syarif Hidayatullah,Teologi Feminisme Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 14. 4 Agus santoso, dkk Naskah Sumber Arsip Perempuan Indonesia. Arsip Nasional RI. Oktober 2015, 19. Laily Zaelani, dkk. Narasi Perempuan (Sumatera Utara: HAPSARI dan USAID, 2. , xii. 5 Muhammad Fathur Rahman Hadi, dengan tesisnya Rifaa Al-Thatawi Sang Pembaharu Pendidikan Islam, (Surabaya: UM. Surabaya Publishin. , 2018, 64. Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko Sepanjang pembacaan peneliti terhadap pendidikan perempuan persfektif Rifaah Al Tahtawi yang ditulis, maka ada beberapa perbedaan mendasar yang peneliti temui yakni penelitian sebelumnya tidak membahas pentingnya pendidikan perempuan menurut Rifaah Al Tahtawi, mekipun pada tulisan sebelumnya diungkapkan bahwa Rifaah adalah tokoh pembaharu pendidikan Mesir, padahal pokok bahasan pendidikan perempuan tersebut sangat menarik untuk dibahas, dikaitkan dengan relevansinya dengan pendidikan perempuan Indonesia METODE Jenis penelitian ini adalah penelitan kepustakaan . ibrary researc. , penelitian kepustakaan atau kajian literatur . iterature review, literature researc. 6 Fokus penelitian kepustakaan adalah menemukan berbagai teori, hukum, dalil, prinsip, atau gagasan yang digunakan untuk menganalisis dan memecahkan pertanyaan penelitian yang dirumuskan, adapun sifat dari penelitian ini adalah analisis deskriptif, yakni penguraian secara teratur data yang telah diperoleh, kemudian diberikan pemahaman dan penjelasan agar dapat dipahami dengan baik oleh pembaca, studi literature bisa didapat dari berbagai sumber baik jurnal, buku, dokumentasi, internet dan pustaka dengan menggunakan metode studi kepustakaan atau literatur review, yang berfokus pada hasil penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data memakai metode dokumentasi dengan mencari atau menggali data dari literatur yang terkait dengan apa yang dimaksudkan dalam rumusan masalah, data-data yang telah didapatkan dari berbagai literatur dikumpulkan sebagai suatu kesatuan. Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah analisis anotasi bibliografi . nnotat ed bibliography. Pemilihan sumber didasarkan pada empat aspek yakni:Provenance . , yakni aspek kredensial peneliti dan dukungan bukti, misalnya sumber utama sejarah. Objectivity (Objektifita. , yakni apakah ide perspektif dari peneliti memiliki banyak kegunaan atau justru merugikan. Persuasiveness . erajat keyakina. , yakni apakah peneliti termasuk dalam golongan orang yang dapat diyakini. Value . ilai kontributi. , yakni apakah argumen peneliti meyakinkan, serta memiliki kontribusi terhadap penelitian lain yang signifikan. Penelitian ini data primernya yaitu buku judul yakni AuAl Murshid Al-amin Li-al Banat Wa-al BaninAy yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan Judul The Honest Guide For Educal Ion Of Girl And Boy tahun 1937. serta An Imam In Paris Account Of A Stay In France Bay An Egyptian Cleric 1826-1831. Data Sekunder Data ini hanya bersifat melengkapi dan mendukung baik berupa jurnal, buku maupun bahan lainnya, buku jurnal yang berkaitan dengan tema pendidikan perempuan, kesetaraan gender, riwayat hidup sang tokoh akan dimasukan sebagai data sekunder 6 Ismail Nurdin Metodologi Penelitian Sosial 7 Saifuddin Herlambang Munte, (Surabaya: Sahabat Media, 2. , 171. Studi Tokoh Tafsir Klasik Hingga Kontempoter (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2018 ),. 46 | MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 | HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian pada kitab Al-Murshid al-Amn fiTarbiyat al-BanAt waal-Bann karya Syekh Rifaa Al Tahtawi peneliti menemukan bahwa: Pertama. Pendidikan perempuan merupakan satu hal yang penting untuk kemajuan bangsa, bagi Rifaa Al Tahtawi, perempuan yang mempunyai kwalitas akan lebih dihargai dan dihormati di masyarakat, dibandingkan dengan perempuan yang hanya mampuh mengurusi rumah tangga, oleh karena itu pendidikan perempuan adalah syarat mutlak untuk memajukan bangsa. Pendidikan yang baik hanya dapat dicapai dengan mengajarkan hukum-hukum agama. Kedua. Laki laki dan perempuan secara fisik tidak berbeda jauh sama sama memiliki mulut, dua tangan serta yang lainnya dengan demikian mereka dengan yang lain di dunia ini berasal dari dunia, dan mereka tidak memiliki pengaruh dalam apa pun, manusia mmepunyai akal, kesucian, keadilan dan keberanian. Ketiga. Kelebihan manusia adalah karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya atas semua mahluk, serta penuguasaan terhadapnya, tidak ada keraguan bahwa manusia dengan pendidikan dia akan mendapat pengetahuan, seni dan kerajinanAy. Kesimpulan: Diusia muda bagi setiap individu baik laki laki maupun perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebagai amalan untuk memperbaiki masa depan, merupakan hal yang lazim untuk memperbaiki kehidupan pernikahan para wanita belajar membaca menulis berhitung sesungguhnya pendidikan tersebut akan menambah adab dan pemikiran wanita membuat mereka berlaku baik dalam keluarga Rifaa Al Tahtawi. Keempat. Karena Allah tidak menciptakan perempuan di luar kendali laki laki dan tidak ada kebalikannya, laki laki dan perempuan secara fisik tidak berbeda jauh sama sama memiliki mulut, dua tangan serta yang lainnya dengan demikian anak-anak Adam sama dengan tubuh mereka dengan yang lain di dunia ini berasal dari dunia, dan mereka tidak memiliki pengaruh dalam apa pun, manusia mempunyai akal, kesucian, keadilan dan keberanian. Kelima. Tidak seorangpun oleh Allah diciptakan dengan kondisi bodoh karena mengharuskan pemdidikan/pembelajaran Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan perempuan merupakan satu hal yang penting untuk kemajuan bangsa, bagi Rifaah Al Tahtawi, perempuan yang mempunyai kwalitas akan lebih dihargai dan dihormati di masyarakat, dibandingkan dengan perempuan yang hanya mampuh mengurusi rumah tangga, oleh karena itu pendidikan perempuan adalah syarat mutlak untuk memajukan sebuah Rifaah Al Tahtawi berpendapat bahwa pendidikan perempuan merupakan keharusan, perempuan bukan saja mengerjakan tugas rumah tangga tetapi boleh juga melakukan tugas yag dikerjakan lali laki, dengan pendidikan perempuan akan sejajar dengan laki laki. Inilah nilai islam yang diyakini oleh Rifaah Al Tahtawi berkaitan dengan pendidikan perempuan. Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. 47 | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko Dengan pendidikan perempuan akan tumbuh kesadaran bukan saja terhadap hak dan dirinya dalam keluarga tetapi juga memunculkan kesadaran untuk mencintai tanah airnya, oleh karena itu pendidikan diusahakaan memalui pendidikan di rumah dan juga sekolah serta perguruan tinggi. Menurut Rifaah Al Tahtawi pelarangan perempuan untuk tidak berkiprah di luar rumah apalagi tidak mendapat pendidikan bertentangan dengan cita cita islam yang ingin mengangkat derajat perempuan, perempuan menurut Rifaah Al Tahtawi itu sejajar dengan laki laki dan pelarangan pendidikan untuk perempuan tidak ditemukan ayat ayat Alqurannya. Dengan demikian menurut Rifaah Al Tahtawi pendidikan perempuan itu merupakan ajaran islam yang harus dipenuhi. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susena. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakerna. tahun 2020 dan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA). Berdasarkan data Susenas 2020, persentase jumlah penduduk laki-laki . , 26%) lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan . ,74%). Kesenjangan capaian antara laki-laki dan perempuan di bidang pendidikan masih dirasakan. Rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, penduduk yang memiliki ijasah pendidikan di bidang STEM (Science Technology Engineering Mat. masih lebih tinggi laki-laki dibandingkan perempuan. Berdasarkan hasil data dapat dijelaskan bahwa teori sosial structural fungsionalisme yang berisi cara menjaga keseimbangan dan harmonis dalam hidup bermasyarakat yang dikemukanan oleh Talcott Parson jika dianalisa dengan pendapat Rifaah Al Tahtawi tentang pentang pendidikan perempuan dan relevansinya dengan kesetaraan gender adalah bertentangan. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Rifaah Al Tahtawi yang menginginkan semua semua harus mendapat pendidikan tidak dilihat dari jenis kelamin. Rifaah Al Tahtawi berpendapat bahwa pendidikan secara universal hal ini bertentangan dengan teori structural fungsional yang berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat yang harmonis dan teratur maka masyarakat harus menjamin peran dan fungsinya berdasarkan jenis kelamin, pembagian peran dan tugas yang serasi antara laki laki dan Rifaah Al Tahtawi berpendapat bahwa pendidikan perempuan merupakan keharusan, perempuan bukan saja mengerjakan tugas rumah tangga tetapi boleh juga melakukan tugas yag dikerjakan lali laki, dengan pendidikan perempuan akan sejajar dengan laki laki. Inilah nilai islam yang diyakini oleh Rifaah Al Tahtawi berkaitan dengan pendidikan perempuan. Dengan pendidikan perempuan akan tumbuh kesadaran bukan saja terhadap hak dan dirinya dalam keluarga tetapi juga memunculkan kesadaran untuk mencintai tanah airnya, oleh karena itu pendidikan diusahakaan memalui pendidikan di rumah dan juga sekolah serta perguruan tinggi. 8 Iwan Abdulah. Sek. Gender & Reproduksi Kekuasaan (Yogyakarta: Yayasan Adi Karya, 2. , 5. 9 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, (Kemen pA). Sylvianti Angraini, ,Profil Perempuan Indonesia Tahun 2021, h 9 48 | MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 | Menurut Rifaah Al Tahtawi pelarangan perempuan untuk tidak berkiprah di luar rumah apalagi tidak mendapat pendidikan bertentangan dengan cita cita islam yang ingin mengangkat derajat perempuan, perempuan menurut Rifaah Al Tahtawi itu sejajar dengan laki laki dan pelarangan pendidikan untuk perempuan tidak ditemukan ayat ayat Alqurannya. Dengan demikian menurut Rifaah Al Tahtawi pendidikan perempuan itu merupakan ajaran islam yang harus dipenuhi. Secara sosial relevansi pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi dengan pendidikan perempuan di Indonesia yaitu perempuan masih banyak yang belum meningkatkan kwalitasnya, di Indonesia pendidikan bukan merupakan satu hal yang penting karena pemahaman agama yang keliru dan budaya patriaki yang melekat erat, kewajiban perempuan menuntut ilmu dikalahkan dengan konsep budaya perempuan hanya di kasur, di dapur dan di sumur. Sehingga dalam masyarakat dikenal konsep Au gadis tuaAy ini bertentangan dengan upaya Rifaa Al Tahtawi untuk meningkatkan kwalitas perempuan, pendidikan perempuan di Indonesia semestinya perlu dikembangkan lebih lanjut agar kesetaraan gender dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, hal terpenting yang segera dilakukan adalah adanya upaya pemerintah untuk melakukan pendidikan perempuan dan relevansinya dengan kesetaraan gender agar perempuan dapat juga berperan dalam masyarakat, mengurus dan mendidik anak sesuai dengan nilai nilai agama. Rifaa Al Tahtawi bahkan mendukung jika perempuan menduduki posisi hakim, pejabat pemerintahan serta lainnya dengan catatan tidak membahayakan diri sendiri, atau saudara saudaranya dan yang terpenting tidak bertentangan dengan Agama Islam. Alasan perempuan tidak boleh memperoleh pendidikan karena mereka tidak dapat bergaul dengan laki laki disebabkan mempunyai fungsi sendiri yang berbeda dengan laki laki, teori struktural Fungsional ini berdasarkan peneliti sudah tidak dapat dipraktikan lagi karena tuntutan kemajuan dan modernisasi. Kesimpulannya secara Eksplanatif teori sturktural fungsional dalam kajian Rifaa Al Tahtawi mempunyai hubungan pertentangan dengan ide pembaharuan pendidikan perempuan dan kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi dibanding dengan teori struktural fungsional secara komperatif lebih unggul konsep pendidikan yang diuraikan oleh Rifaa Al Tahtawi hal ini dibuktikan dengan konsep pendidikan perempuan Rifaa Al Tahtawi bukan saja hanya menghasilkan perempuan yang pintar tetapi juga perempuan yang mempunyai kesadaraan cinta tanah air dan tetap tertanamnya nilai nilai tahuid. Berbeda dengan tiori struktural fungsional yang hanya mementingkan hasil pendidikan perempuan adalah ahli dalam mengurusi rumah tangga. Selain itu Rifaa Al Tahtawi juga menegaskan bahwa pendidikan perempuan itu penting untuk memajukan dan memakmurkan sebuah bangsa, perempuan dapat berperan dalam segala bidang yang menuntut keahlian khusus yang didapat dari pendidikan. Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. 49 | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko Secara implikatif . pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi lebih bersifat manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia, karena hasil pendidikan adalah pembeda manusia dengan binatang, binatang yang dilatih, dididik hanya mampu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuannya. Sedangkan pendidikan yang dilakukan oleh manusia selain memunculkan keahliaan maka nilai kognisi juga diterapkan. Salah satu nilai kognisi yang muncul adalah adab, ahklaq, serta Relevansi Pendidikan Perempuan Perspektif Rifaah Al Tahtawi dengan Pendidikan Perempuan Di Indonesia, menjelang awal abad ke-20, telah terjadi perubahan-perubahan masyarakat di Indonesia,diawali dengan perubahan pandangan , bersamaan dengan itu, gagasan tentang kemajuan mulai bertumbuh, salah satunya mengenai pendidikan perempuan subordinasi, marginalisasi, stereotip, kekerasan terhadap perempuan, dan beban kerja ganda, kekerasan. Tujuan Pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi adalah pada akhirnya untuk memberikan kesejajaran antara laki laki dan perempuan, sehingga diharapkan tidak adanya perempuan yang mempunyai konsep dirinya bodoh, bagi Rifaa Al Tahtawi untuk merubah pandangan perempuan itu di bawah laki laki maka diperlukan peningkatan kwalitas bagi perempuan, perempuan harus dapat bersaing dengan laki laki. Di Indonesia, kesetaraan gender dapat dicapai apabila laki laki dan perempuan menjadi mitra bukan perempuan yang menjadi subordinasi laki laki seperti yang diinginkan oleh penganut teori struktural fungsionalis, perempuan yang tidak memiliki pendidikan akan merasa dirinya lebih rendah dari laki laki sehingga tidak perlu untuk bersaing dengan laki laki dalam kehidupan bermasyarakat. Rifaah Al Tahtawi menganjurkan agar perempuan jangan merasa dibawah . dari laki laki dengan alasan tidak ada mahluk yang dilahirkan dengan kondisi bodoh. Hasil penelitian menunjukan bahwa ide awal pelaksanaan pendidikan di Indonesia berbeda dengan negara lain. Mesir misalnya, pendidikan perempuan di Indonesia banyak dimotori oleh kaum perempuan sendiri semisal R. A Kartini. Rohana Kudus. Siti Walidah, serta Dewi Sartika dan lain lain, sedangkan di Mesir di motori oleh laki-laki seperti Muhammad Ali Pasya. Rifaa Al Tahtawi. Mohammad Abduh, serta Rasid Ridho, perlu kajian lebih lanjut apakah ide ide pembaharuan pendidikan perempuan Indonesia adalah hasil pemikiran perempuan Indonesia sendiri ataukah ada keterkaitan dengan ide ide dari luar Indonesia. 10 Andriyeni, dkk. Menguak Relaitas dan Perjuangan Perempuan di Tengah Politik Patriaki. Solidaritas Perempuan, , 62. Wiyatmi. Menjadi Perempuan Terdidik: Novel Indonesia, dan Feminisme (Yogyakarta: UNY Press Kompleks Fakultas Teknik Kampus Karangmalang, 2. , 1. 11 Memperkuat Perempuan untuk Keadilan dan Kesetaraan. Ed: Lusia Palulunga. Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI). November 2017, 23. Abraham Silo Wilar. NU Perempuan: Kehidupan dan Pemikiran Kaum Perempuan NU (T. tp: Pustaka Rihlah Group, 2. , xvi. 50 | MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 | Sepanjang penelitian peneliti menurut Teori structural fungsional menurut peneliti pada dasarnya pendidikan bagi perempuan dalam ajaran Islam termasuk kewajiban agama karena pengetahuan merupakan suatu kebutuhan bagi manusia, pendidikan bagi perempuan tidak terbatas pada pendidikan, maka pendidikan perempuan Indonesia untuk kesetaraan gender peneliti mengambil kesimpulan sementara adalah murni ide dari perempuan Indonesia sendiri. Secara Ekspanatif pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi berkaitan dengan pendidikan perempuan di Indonesia dapat dihubungkan secara historis yakni pendidikan perempuan di Indonesia mengalami kemunduran diakibatkan adanya penjajahan, penjajah hanya melaksanakan pendidikan untuk keluarga bangsawan, hal ini bertentangan dengan pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh Rifaa Al Tahtawi yang ingin agar pendidikan juga diberikan kepada kaum perempuan baik anak kerajaan, bangsawan, maupun rakyat jelata. Secara deskriptif pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi merupakan pengamalan dari ajaran islam, pendidikan merupakan sarana untuk memperoleh pengetahuan agar perempuan mengerti adab, juga pendidikan yang akan mengangkat derajat perempuan dengan status sosialnya di masyarakat dan dinaikan derajatnya oleh Allah. Fungsi pendidikan untuk mengatur masa depan dengan menata apa yang harus diperankan oleh perempuan. Tujuan pendidikan perempuan bukan hanya membentuk perempuan menjadi ahli dalam bidang tertentu tetapi juga agar perempuan sadar kewajibannya terhadap negara. Dengan pendidikan perempuan diharapkan akan mencintai negaranya berlandaskan nilai iman dan islam. Secara komparatif pendidikan perempuan perspektif Rifaa Al Tahtawi dengan kondisi pendidikan perempuan di Indonesia dapat dilihat dari dua hal yakni materi dan Pelaksanaan pendidikan perempuan di Indonesia pada masa penjajahan menganut teori Struktural fungsionalis yaakni bertujuan untuk membentuk perempuan yang ahli mengurus rumah tangga. Dengan materi membaca, menulis, berhitung. Tentunya tidak sejalan dengan pendidikan perempuan yang Rifaa Al Tahtawi inginkan yakni perempuan bukan hanya mampu dalam mengurusi rumah tangga teapi juga harus muncul kesadaran untuk mencintai, membela tanah airnya berlandaskan iman dan islam, sehingga dampak pendidikan perempuan adalah munculnya peran perempuan dalam kehudupan berbangsa dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Selanjutnya, pendapat yang mengatakan fitrah perempuan hanya sebagai pengurus rumah dan merawat semua yang ada di dalamnya, sesungguhnya merupakan pelestarian dari budaya jahiliyah, bagaimana tidak? larangan belajar bagi perempuan sama saja meniscayakan kemunduran, tidak hanya bagi perempuan, tapi juga laki-laki. 12 Faulo Feire. Pendidikan Yang Membebaskan, terj Martin Eran, (Jakarta Timur: Melibas, 2. , 55. Yeni Huriani. Agama Dan Gender: Versi Ormas Islam Perempuan Di Indonesia (Bandung: Lekkas, 2. , 23. 13 Supardi Bado, dkk. Bicara Kesetaraan Gender Dari Sumatera Hingga Papua. Aliansi Jurnalis Independen (Aj. Indonesia. Desember 2018, 10. 14 Sylvianti Angrain, edt. Profil Perempuan Indonesia 2020. Kementerian pA RI, 2020. , ix. Jurnal Sosial Politik. Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Universitas Indonesia. kampus UI Depok. Vol 1 No 2, 2011, 95. Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. 51 | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko Karena, dua jenis manusia ini ujung-ujungnya pasti saling berinteraksi dan bekerjasama,maka, kerjasama dengan orang yang tidak berpengetahuan adalah sia-sia Pandangan tentang pendidikan bagi kaum perempuan, pada dasarnya merupakan artikulasi dari konsep pencerahan . lTanwi. dan pembaharuan . l-Tajdi. dalam Islam. Secara sosial relevansi pendidikan perempuan perspektif Rifaah Al Tahtawi dengan pendidikan perempuan di Indonesia yaitu perempuan masih banyak yang belum meningkatkan kwalitasnya, di Indonesia pendidikan bukan merupakan satu hal yang penting karena pemahaman agama yang keliru dan budaya patriaki yang masih dipegang teguh. Hasil riset terkini menunjukan bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan masih rendah meskipun adanya momentum GDI Gender Development index, jurnal PALASTREN. Vol 8 No 2 Desember 2015. Dailatus Syamsiyah. Perempuan Dalam Tantangan Pendidikan Global, hal ini membuktikan bahwa pendidikan perempuan di Indonesia masih belum memenuhi harapan Rifaah Al Tahtawi. Jika hal itu dibiarkan terus terjadi maka akan berdampak pada pendidikan dimasa depan, bangsa yang maju dengan peradaban yang besar adalah bangsa yang melaksanakan pendidikan secara universal, tidak tergantung jenis kelamin 15 Lusia Palulungan. Ed. Perempuan. Masyarakat Patriarki &Kesetaraan Gender, cet. Ke-1 (Makassar: Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI), 2. , 4. Jurnal. Musawa. Vol. No. Juli 2017. Pusat Studi Wanita UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. , 157. 16 Sri Djoharwinarlien,Dilema Kesetaraan Gender. Center for Politics and Government (PolGo. Fisipol UGM. September 2012, 5. 17 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, (Kemen pA). Sylvianti Angraini. Ed. Profil Perempuan Indonesia Tahun 2021, 9. 52 | MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 MODERATION: Vol. 03 No. Agustus 2023 | KESIMPULAN Pendidikan perempuan menurut Syekh Rifaah Al Tahtawi dalam Kitab AlMurshid Al-Amn Fi Tarbiyah Al-BanAt Wa Al-Banna adalah pendidikan seharusnya diperlakukan secara adil tidak harus dibedakan berdasar jenis kelamin, pendidikan sebagai perkembangan indera bayi dari awal kelahirannya hingga dewasa, dengan pendidikan seseorang dapat petunjuk untuk menyucikan jiwanya juga memperoleh ilmu pengetahuan sebagai amalan untuk memperbaiki masa depan serta memahami kehidupan keluarga. Hak pendidikan perempuan adalah belajar, membaca, menulis, berhitung, dalam proses pelaksanaan pendidikan perempuan adalah mempunyai bakat yang sama untuk dididik bersama laki laki, selain itu juga mempunyai hak untuk meningkatkan kwalitas dirinya. Relevansi pendidikan perempuan perspektif Syekh Rifaah Al-Tahtawi dengan pendidikan perempuan di Indonesia dalam konteks kekinian masih sangat relevan karena banyak perempuan Indonesia yang belum sadar akan hak dan kewajibannya terhadap bela negara sehingga masih menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting karena aadanya factor budaya yang masih dipegang teguh. Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko: [Pendidikan Perempuan Perspektip Syekh Rifaah Al Tahtawi Relevansinya Dengan Pendidikan Perempuan di Indonesi. | Sumaryati. Muslih Hidayat. Zuhri dan Budi Riyoko REFERENSI