Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dan Self-Efficacy Peserta Didik Irsan Harabi Tangu1*, & Mayun Erawati Nggaba2 Pendidikan Matematika. Universitas Kristen Wira Wacana Sumba. Sumba Timur. Indonesia *Coresponding author: irsantangu@gmail. Diterima: 24 Juni 2025, disetujui untuk publikasi 28 Juni 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Kooperatif Tipe Jigsaw dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan Self-Efficacy peserta didik kelas VIIA di SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek seluruh peserta didik kelas VIIA yang berjumlah 26 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan pada kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy peserta didik mulai dari kegiatan pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada kegiatan pra siklus, tingkat kemampuan pemecahan masalah sebesar 34,77% sedangkan self-efficacy sebesar 57,2%. Setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan model Kooperatif Tipe Jigsaw pada kegiatan siklus I diperoleh peningkatan kemampuan pemecahan masalah menjadi 61,10% sedangkan self-efficacy memperoleh peningkatan menjadi 64,2%. Meskipun pada siklus I terdapat peningkatan namun belum signifikan peneliti melanjutkan siklus II. Pada siklus II, diperoleh peningkatan pada kemampuan pemecahan masalah menjadi 83,37%, dan self-efficacy memperoleh peningkatan menjadi 85%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy peserta didik kelas VIIA pada materi penyajian data. Kata Kunci : Model pembelajaran. Kooperatif tipe jigsaw. Kemampuan pemecahan masalah. Self-Efficacy. Citation : Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dan Self-Efficacy Peserta Didik. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika: 6. , hal. 49 Ae 57. Namun Pendahuluan pembelajaran matematika masih banyak peserta penting dalam kehidupan sehari-hari karena didik yang belum menunjukkan keterlibatan Seperti yang disampaikan oleh Helmi & dalam berbagai konteks (Tampubolon et al. Arsid . , sebagian besar peserta didik hanya Menurut Gagne (Gustiani & Puspitasari, menyimak penjelasan guru tanpa terlibat dalam 2. , terdapat dua objek utama yang dapat diperoleh siswa dari pembelajaran matematika, pembelajaran masih bersifat satu arah dan yaitu objek langsung seperti fakta, keterampilan, didominasi oleh guru. Selain itu, kemampuan konsep, dan aturan, serta objek tidak langsung pemecahan masalah siswa di Indonesia masih seperti kemampuan menyelidiki, menyelesaikan masalah, belajar mandiri, dan sikap positif Berdasarkan data dari Program for International Student Assessment (PISA). Indonesia menempati Teachers peringkat ke-73 dari 79 negara dengan skor 379, menegaskan bahwa terdapat lima kemampuan jauh di bawah rata-rata internasional sebesar 489. matematis penting yang harus dimiliki peserta Tidak hanya itu, self-efficacy atau keyakinan diri didik, yaitu: . komunikasi matematis, . peserta didik juga masih rendah, sebagaimana penalaran matematis, . pemecahan masalah, . diungkapkan Subaidi . , bahwa self-efficacy Belajar National Mathematics Council (NCTM) representasi ide-ide matematis. (Fathani Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika ISSN: 2746-3656 Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. Hasil melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Asrini, matematika di SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu menunjukkan bahwa peserta didik kelas VIIA menghadapi materi yang belum dimengerti. Kondisi Berdasarkan kesenjangan antara kemampuan yang seharusnya peserta didik dan bermanfat sebagi panduan dalam dimiliki peserta didik dengan kenyataan di membangun pengetahuan, gagasan, dan cara berfikir dalam mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai panduan yang menggambarkan Peserta masalah maupun dalam membangun keyakinan penyusunan kurikulum atas kemampuannya sendiri. Hal ini menuntut Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw efektif, kolaboratif, dan mampu meningkatkan membedakannya dari pendekatan pembelajaran keterlibatan siswa secara aktif. Menurut Sanjaya (Alvionita, 2. Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan berkelompok, di mana peserta didik saling bekerja menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Model ini dianggap efektif karena bertanggung jawab. Kooperatif manajemen dalam mendorong peserta didik untuk bekerja dalam model ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, kelompok kecil, berbagi informasi, bertukar organisasi, dan pengendalian proses belajar. Selain gagasan, serta membantu satu sama lain dalam itu, model ini menekankan pentingnya kerja sama memahami materi. Model kooperatif ini juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan aktif antarpeserta didik. Dengan demikian. Jigsaw tidak (Hasana & Shofiyul, 2. hanya mendorong pencapaian kognitif, tetapi juga Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, penelitian ini bertujuan membentuk keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari. untuk meningkatkan kemampuan pemecahan Adapun langkah-langkah masalah dan self-efficacy peserta didik kelas VII SMP, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Tabany . alam Alvionita, 2. meliputi enam tahapan utama. Diharapkan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta kognitif serta afektif peserta didik secara optimal. Jigsaw Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang partisipatif. Kedua, guru menyampaikan informasi atau materi pokok yang akan dipelajari. Ketiga. Tinjauan Teoritis peserta didik diorganisasikan ke dalam kelompok- pendekatan yang akan diterapkan dalam proses kelompok kecil untuk mendalami bagian tertentu belajar mengajar yang akan digunakan termasuk dari materi. Keempat, guru membimbing proses tujuan-tujuan pengajaran, langkah-langka dalam diskusi dan kerja kelompok agar berjalan efektif. kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran. Kelima, dilakukan evaluasi untuk menilai hasil serta pengelolaan kelas (Purnomo, et all, 2. kerja dan pemahaman peserta didik. Terakhir. Tujuannya adalah untuk mencapai hasil tertentu, guru memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja sama dan pencapaian Model Langkah-langkah ini dirancang untuk Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 kolaboratif, dan menyenangkan. Metode Penelitian Kemampuan pemecahan masalah adalah Nggaha Ori Angu pada semester genap tahun ajaran persoalan yang dianggap sebagi masalah, yang 2024/2025, tepatnya mulai tanggal 19 Mei hingga 31 biasanya berupa permasalahn yang tidak rutin. Mei namun adanya pengetahuan dasar erta mental berbagai alat dan bahan yang mendukung proses yang mendasari proses penyelesaian (Kurniawan pengumpulan data secara efektif, antara lain modul Pemecahan masalah bertujuan ajar dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang membangun pengetahuan matematika, karena disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran, angket berawal dari masalah, peserta didik dapat berpikir untuk mengukur self-efficacy peserta didik, tes tertulis lebih dalam untuk dapat menyelesaikannya. berupa soal uraian untuk menilai kemampuan Adapun Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 masalah berdasarkan tahap pemecahan masalah . Merancangkan Memahami Dalam memantau keterlaksanaan pembelajaran. Desain Tindakan kelas (PTK) dengan jenis penelitian Melaksanakan rencana pemecahan permasalahan kuantitatif deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di . Memeriksa kembali dan menarik kesimpulan. SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu, yang terletak di Self-efficacy Kelurahan Makamenggit. Kecamatan Nggaha Ori terhadap kemampuannya dalam melaksanakan Angu, tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi berbagai pengumpulan data yang digunakan tertulis yang terdiri dari tiga butir soal uraian untuk mengukur Tingkat kemampuan pemecahan masalah dan angket yang terdiri dari 30 butir peryataan untuk Baron Byrne Raudatussalamah. Sumba Timur. Teknik adalah tes mengetahui Tingkat Self-efficacy peserta didik. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik Untuk mengukur tingkat self-efficacy dikelas VIIA. Dalam penelitian ini dilakukan dalam (Shofiah Kabupaten dua siklus, masing-masing siklus melalui empat tahap penelitian ini merujuk pada pendapat Hendra et Indikator menurut Kemmis dan Taggart yaitu: Perencanaan, (Rahmawati & Nopriana, 2. , yang mencakup Pelaksanaan. Observasi, dan Refleksi. lima aspek utama self-efficacy peserta didik. Indikator observasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang mengatasi masalah, yaitu keyakinan individu terjadi di lapangan. Setelah memperoleh data primer, dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan. peneliti menyusun prosedur penelitian yang terdiri . keyakinan akan keberhasilan diri, yakni sejauh dari beberapa tahapan. Pada tahap pra-siklus, peneliti mana peserta didik percaya pada kemampuan memberikan tes awal berupa soal uraian sebanyak . tiga nomor untuk mengetahui tingkat kemampuan keberanian menghadapi masalah, yaitu kesiapan pemecahan masalah peserta didik, serta angket berisi dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan. 30 butir pernyataan untuk mengukur tingkat self- . kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri, yang mencerminkan pemahaman peserta didik pembelajaran dilaksanakan selama dua pertemuan terhadap potensi dan keterbatasan pribadi. dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif . kemampuan berinteraksi dengan orang lain, tipe Jigsaw. Di akhir siklus, peneliti kembali yang mencerminkan keterampilan sosial dalam memberikan tes uraian dan angket yang sama guna bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif. Penelitian Selanjutnya, masalah dan self-efficacy peserta didik. Jika hasil pada Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 siklus I belum menunjukkan pencapaian yang dan mengevaluasi solusi juga ditargetkan mengalami diharapkan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus II peningkatan dan berada dalam kategori sedang dengan menerapkan tahapan yang sama seperti pada hingga tinggi. Untuk kategori, peserta didik yang siklus I. Prosedur ini sejalan dengan pendekatan mencapai skor Ou 85% dikategorikan memiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan kemampuan sangat tinggi, 7584,99% tinggi, 60 oleh Kemmis dan Taggart dan telah banyak 74,99% sedang, 4559,99% rendah, dan < 45% sangat digunakan dalam konteks pendidikan Indonesia Sementara itu, pada aspek self-efficacy, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas indikator capaian ditetapkan dengan skor total angket (Sanjaya, 2013. Suyadi, 2. Model pembelajaran mencapai kategori tinggi . inimal 75% dari skor Kooperatif tipe Jigsaw sendiri terbukti efektif dalam maksimu. , disertai peningkatan minimal 15% dari pra-siklus ke siklus II. Setiap indikator seperti pemecahan masalah, dan kepercayaan diri peserta kemampuan mengatasi masalah, keyakinan diri, didik sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian oleh keberanian menghadapi tantangan, kesadaran diri. Ramadhan & Ardiansyah . serta Nurhadi & Rahmawati . mengalami tren peningkatan. Tingkat self-efficacy Teknik analisis data yang digunakan dalam diklasifikasikan berdasarkan persentase skor: Ou 85% penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif, sangat tinggi, 7084,99% tinggi, 5569,99% sedang, 4054,99% rendah, dan < 40% sangat rendah. mengevaluasi perubahan kemampuan pemecahan Pengelompokan ini memberikan gambaran yang jelas masalah dan tingkat self-efficacy peserta didik mengenai perkembangan siswa sekaligus menjadi sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran dasar evaluasi efektivitas intervensi pembelajaran. Kooperatif tipe Jigsaw. Data yang diperoleh dari tes uraian dianalisis dengan menghitung rata-rata skor dan persentase pencapaian pada setiap indikator Hasil Penelitian Berdasarkan kemampuan pemecahan masalah, sedangkan data mengumpulkan data dari hasil tes kemampuan dari angket self-efficacy dianalisis menggunakan skala pemecahan masalah dan hasil angket untuk Likert mengetahui self-efficacy peserta didik. endah, sedang, atau tingg. Perbandingan hasil antara pra-siklus, siklus I, dan siklus II digunakan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan Tabel 1. Kemampuan pemecahan masalah peserta Indikator Persenatase Memahami masalah Membuat rencana Melaksanakan rencana Memeriksa kembali dan menarik Rerata 34,77 Rendah Berdasarkan data pada tabel, terlihat bahwa self-efficacy peserta didik secara konkret dan terukur. kemampuan pemecahan masalah peserta didik Pada pada tahap pra-siklus masih tergolong rendah. keberhasilan ditandai dengan tercapainya skor rata- Indikator dengan persentase tertinggi adalah rata minimal 75 . esuai KKM) pada siklus II dan membuat rencana sebesar 41,3%, menunjukkan adanya peningkatan minimal 10 poin pada setiap bahwa sebagian peserta didik mulai mampu siklus, mulai dari pra-siklus hingga siklus II. Masing- menyusun langkah penyelesaian meskipun belum masing indikator seperti mengidentifikasi masalah. Disusul oleh melaksanakan rencana menentukan strategi penyelesaian, menyelesaikan, dengan capaian 37,0%, yang menunjukkan bahwa untuk menilai efektivitas tindakan yang diberikan. Hasil analisis ini memberikan gambaran kuantitatif mengenai peningkatan yang terjadi dan menjadi dasar dalam menarik kesimpulan terkait keberhasilan intervensi pembelajaran yang dilakukan. Indikator capaian penelitian ini dirancang Kooperatif Jigsaw Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 saat menerapkan strategi penyelesaian, banyak mendapat skor 11,0, menunjukkan bahwa masih peserta didik masih mengalami kesulitan. Pada banyak peserta didik yang kurang yakin saat menghadapi kesulitan dan belum sepenuhnya diperoleh sebesar 34,6% mengindikasikan bahwa mengenali potensi maupun keterbatasan dirinya. Secara keseluruhan, skor ini menunjukkan bahwa mengidentifikasi inti permasalahan dalam soal peserta didik membutuhkan strategi pembelajaran Sementara itu, memeriksa kembali dan menarik kesimpulan memiliki persentase keberanian, serta kesadaran diri secara lebih terarah dan mendalam untuk meningkatkan self- 26,0%, lemahnya kemampuan reflektif dan evaluatif efficacy mereka. peserta didik dalam meninjau kembali proses serta hasil penyelesaiannya. Rata-rata keseluruhan dari Siklus I Pada keempat indikator tersebut adalah 34,77%, yang difokuskan pada penguatan dasar kolaborasi dan menunjukkan perlunya intervensi pembelajaran pemahaman konsep melalui penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw. Kegiatan keterampilan pemecahan masalah peserta didik diawali dengan penyusunan modul ajar dan self-efficacy Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis peserta didik pada kegiatan pra siklus dapat silihat masalah kontekstual yang disesuaikan dengan pada tabel 2. materi pembelajaran. Guru membagi kelas ke Sedangkan Hasil dalam kelompok asal dan kelompok ahli, di mana Tabel 2. Tingkat self-efficacy peserta didik pra Indikator Skor Kemampuan mengatasi masalah Keyakinan akan keberhasilan diri Keberanian menghadapi tantangan Kesadaran kelemahan diri Kemampuan berinteraksi dengan orang Total Sedang Berdasarkan data pada tabel 2, tingkat self- masing-masing efficacy peserta didik pada tahap awal . ra-siklu. sama dan interaksi antaranggota kelompok. Pada menunjukkan capaian yang tergolong sedang, dengan total skor 57,2. Indikator dengan nilai pemecahan masalah berupa soal uraian dan tertinggi adalah kemampuan berinteraksi dengan angket self-efficacy guna mengukur perkembangan orang lain sebesar 11,2, yang menunjukkan bahwa awal baik secara kognitif maupun afektif. tertentu dalam kelompok ahli sebelum kembali ke Selama proses berlangsung, guru memberikan bimbingan aktif untuk memastikan masing-masing. Tujuan utama pada siklus ini adalah membangun kemampuan peserta didik dalam memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, serta meningkatkan rasa percaya diri awal melalui kerja sebagian besar peserta didik merasa cukup Berdasarkan nyaman dalam berkomunikasi dan bekerja sama. pemecahan masalah peserta didik pada siklus I Sementara itu, kemampuan mengatasi masalah mengalami peningkatan dibandingkan tahap pra- dan keyakinan akan keberhasilan diri masing- siklus, dengan rata-rata capaian sebesar 61,10% masing memperoleh skor 12,0, mencerminkan yang berada dalam kategori sedang. Indikator adanya rasa percaya diri yang mulai terbentuk membuat rencana memperoleh skor tertinggi meskipun belum optimal. Indikator keberanian sebesar 76,0%, menunjukkan bahwa peserta didik sama-sama langkah-langkah penyelesaian masalah dengan baik. Sementara itu. Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 ,2%), individu dalam menjelaskan materi kepada teman melaksanakan rencana . ,4%), serta memeriksa Namun demikian, untuk mencapai kembali dan menarik kesimpulan . ,8%) masih kategori tinggi, dibutuhkan intervensi lanjutan namun belum optimal, terutama pada aspek keberanian bertindak, dan kesadaran diri siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I telah mendorong peningkatan kemampuan peserta didik dalam merancang dan menjalankan solusi atas masalah matematika, meskipun diperlukan tindak lanjut pada siklus berikutnya untuk menguatkan aspek reflektif dan analitis secara lebih mendalam. Tabel 3. Kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada siklus I Indikator Persenatase Memahami masalah Membuat rencana Melaksanakan rencana Memeriksa kembali dan menarik Rerata 61,10 Sedang Berdasarkan Tabel 4, tingkat self-efficacy peningkatan dibandingkan dengan pra siklus, dengan total skor mencapai 64,2 yang masih berada dalam kategori sedang namun mendekati batas atas kategori tersebut. Indikator dengan skor tertinggi adalah kemampuan mengatasi masalah dan keyakinan akan keberhasilan diri, masingmasing sebesar 13,1, yang mencerminkan bahwa peserta didik mulai menunjukkan keyakinan diri dalam menyelesaikan tugas dan percaya pada Disusul menghadapi tantangan dengan skor 12,8, serta kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri dan kemampuan berinteraksi yang masing-masing memperoleh 12,6. Kenaikan skor ini menunjukkan adanya perkembangan positif dalam aspek afektif dipengaruhi oleh penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I. Model ini memungkinkan peserta didik belajar secara aktif dan kolaboratif, membangun rasa percaya diri melalui diskusi kelompok dan tanggung jawab Tabel 4. Tingkat self-efficacy peserta didik pada Siklus I Indikator Skor Kemampuan mengatasi masalah Keyakinan akan keberhasilan diri Keberanian menghadapi tantangan Kesadaran kelemahan diri Kemampuan berinteraksi dengan orang Total Sedang Siklus II Hasil refleksi pada siklus I menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy peserta didik dibandingkan dengan tahap pra-siklus, capaian tersebut masih berada pada kategori sedang dan belum merata pada semua indikator. Kemampuan peserta didik dalam membuat rencana telah berkembang cukup baik, namun aspek-aspek lain rencana, serta evaluasi dan penarikan kesimpulan masih memerlukan penguatan. Hal serupa juga terlihat pada aspek self-efficacy, di mana peserta didik mulai menunjukkan keyakinan diri dan kemampuan bekerja sama, namun keberanian potensi diri belum maksimal. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan tindakan lanjutan pada siklus II yang lebih menekankan pada pengembangan peningkatan self-efficacy secara lebih mendalam. Oleh model Kooperatif tipe Jigsaw dikembangkan dengan memberikan soal dan aktivitas yang lebih kompleks, mengintegrasikan diskusi terbimbing, refleksi individu, serta evaluasi diri, agar peserta didik tidak hanya memahami konsep, tetapi juga Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 strategi, dan percaya pada kemampuannya secara melakukan evaluasi dan penarikan kesimpulan Pada sistematis serta secara reflektif. Peningkatan ini merupakan hasil diarahkan pada penguatan keterampilan berpikir dari penerapan model pembelajaran Kooperatif tingkat tinggi dan peningkatan self-efficacy secara tipe Jigsaw yang pada siklus II difokuskan pada penguatan berpikir tingkat tinggi melalui diskusi menggunakan model Kooperatif tipe Jigsaw, terbimbing, penyelesaian soal kontekstual yang namun dengan kompleksitas soal dan aktivitas yang lebih menantang. Siswa kembali dibagi dalam kelompok ahli dan kelompok asal, namun pemecahan masalah secara lebih menyeluruh dan pada fase ini mereka tidak hanya bertukar II, masalah secara Proses informasi, tetapi juga diminta menyelesaikan tantangan, kesadaran diri, serta kemampuan Tabel 5. Kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada siklus II Indikator Persenatase Memahami masalah Membuat rencana Melaksanakan rencana Memeriksa kembali dan menarik Rerata 83,37 Tinggi Tabel 6 menunjukkan bahwa tingkat self- menyusun dan melaksanakan rencana secara efficacy peserta didik pada siklus II mengalami Pada akhir siklus II, siswa kembali peningkatan yang sangat baik, dengan total skor diberikan tes uraian dan angket self-efficacy untuk mencapai 85,0 yang termasuk dalam kategori Skor tertinggi terdapat pada indikator pemahaman mendalam, argumentasi logis, serta kesimpulan berbasis analisis. Guru mendorong partisipasi aktif dengan memfasilitasi diskusi terbimbing, memberikan umpan balik reflektif, dan mengajak siswa untuk melakukan evaluasi diri terhadap pencapaian serta proses belajar Kegiatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Hasil kemampuan berinteraksi peningkatan signifikan baik dalam kemampuan masing-masing sebesar 17,2, yang mencerminkan pemecahan masalah matematis maupun dalam peningkatan kepercayaan diri peserta didik dalam keyakinan diri siswa terhadap kemampuannya sendiri. menghadapi situasi belajar yang menantang serta Pada siklus II, diperoleh tingkat kemampuan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dan pemecahan masalah . dan self-efficacy (Tabel bekerja sama secara efektif. Indikator kemampuan Tabel 5 menunjukkan bahwa kemampuan keberhasilan diri juga menunjukkan skor tinggi, pemecahan masalah peserta didik pada siklus II yaitu 16,8, menunjukkan bahwa peserta didik mengalami peningkatan yang sangat signifikan mulai merasa mampu dan percaya diri dalam dengan rata-rata capaian sebesar 83,37%, yang Indikator Sementara itu, kesadaran akan kekuatan dan membuat rencana memperoleh skor tertinggi kelemahan diri mencapai skor 17,0, menandakan sebesar 88,5%, diikuti oleh memahami masalah bahwa siswa telah memiliki pemahaman yang sebesar 85,4%, memeriksa kembali dan menarik lebih baik mengenai potensi dan keterbatasan kesimpulan sebesar 82,7%, serta melaksanakan rencana sebesar 78,2%. Capaian ini menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu merancang, melalui model Kooperatif tipe Jigsaw pada siklus II berhasil menciptakan lingkungan belajar yang tugas-tugas Peningkatan Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 mendukung pengembangan rasa percaya diri, keberanian, dan kesadaran diri siswa secara Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw secara sistematis mampu meningkatkan Tabel 6. Tingkat self-efficacy peserta didik pada Siklus II Indikator Skor Kemampuan mengatasi masalah Keyakinan akan keberhasilan diri Keberanian menghadapi tantangan Kesadaran kelemahan diri Kemampuan berinteraksi dengan orang Total Tinggi kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu secara signifikan. Peningkatan ini tercermin dari perbandingan capaian skor pra siklus, siklus I, dan siklus II baik pada aspek kognitif maupun Pada masalah, terjadi peningkatan rerata dari 34,77% . ategori renda. pada pra siklus menjadi 61,10% . ategori sedan. pada siklus I, dan mencapai 83,37% . ategori II. Peningkatan sebesar 140,9% dari kondisi awal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang berfokus pada kolaborasi, diskusi kelompok, dan 83,37 memberikan dampak positif terhadap pemahaman konsep dan keterampilan berpikir tingkat tinggi Pemecahan Masalah Pra Siklus Siklus I Temuan Self-Efficacy penelitian Ramadhan & Ardiansyah . serta Siklus II Nurhadi & Rahmawati . , yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif mampu Gambar 1. Perbandingan kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy pada setiap tahapan siklus Gambar 1 menunjukkan bahwa penerapan Kooperatif Jigsaw keterampilan menyelesaikan masalah secara aktif. Demikian pula, peningkatan signifikan juga self-efficacy. Total berhasil meningkatkan kemampuan pemecahan meningkat dari 57,2 . ategori sedan. pada pra masalah dan self-efficacy peserta didik secara siklus menjadi 64,2 pada siklus I, dan mencapai signifikan pada setiap siklus. Pada kemampuan 85,0 pada siklus II . ategori tingg. Persentase pemecahan masalah, terjadi lonjakan sebesar peningkatan total sebesar 48,6% menunjukkan 76,6% dari pra siklus ke siklus I, dan kembali bahwa model Jigsaw tidak hanya meningkatkan meningkat sebesar 36,4% pada siklus II. Secara pemahaman akademik, tetapi juga membangun keseluruhan, peningkatan mencapai 140,9% dari kepercayaan diri peserta didik dalam menghadapi kondisi awal. Adapun self-efficacy mengalami tugas pembelajaran. Peserta didik menunjukkan kenaikan 12,2% pada siklus I, lalu melonjak lagi perkembangan positif dalam semua indikator self- sebesar 32,4% di siklus II. Total peningkatan dari pra siklus ke siklus II mencapai 48,6%. Temuan ini dilakukan secara bertahap dalam mendorong Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan perkembangan kognitif maupun afektif peserta belajar kooperatif yang dikembangkan melalui model Jigsaw mampu menciptakan ruang aman dan suportif bagi siswa untuk mengekspresikan Tangu. , & Nggaba. Penerapan Model Pembalajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 1. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 ide, belajar dari rekan sebaya, serta merefleksikan Kehidupan Sehari-Hari Dalam Masyarakat. proses belajar mereka. Program Keberhasilan strategi ini diperkuat oleh intervensi yang dilakukan secara bertahap melalui Studi Matematika Universitas Negeri Medan, 2. , 1Ae10. Hasana. , & Shofiyul, himami A. MODEL dua siklus, di mana pada siklus II fokus Pembelajaran Menumbuhkan Keaktifan Belajar Siswa . aktivitas yang lebih kompleks serta refleksi dan Jurnal Studi Kemahasiswaan Vol. No. evaluasi diri. Hasil ini mendukung pandangan April 2021 P-Issn Kooperatif Dalam Alvionita . dan Suyadi . bahwa strategi Subaidi. Self-Efficacy Siswa Dalam pembelajaran kooperatif seperti Jigsaw efektif Pemecahan Masalah Matematika. OcIgma, dalam mengembangkan aspek kognitif dan afektif 1. , 64Ae68 Helmi. , & Arsid. Perbandingan Jigsaw Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan Strategi React Dan Strategi Konvensional. Elips: Jurnal Pendidikan Matematika, 2. Oleh Kooperatif menumbuhkan self-efficacy peserta didik secara 33Ae50. Kurniawan. Setiawan. , & Hidayat. Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Penutup Matematis Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasa. Siswa Smp maka dapat disumpulkan bahwa penerapan model Datar. Inovatif, 2. , 271Ae282. Berbantuan Soal Ontekstual Pada Materi Bangun Ruang Sisi Jurnal Pembelajaran Matematika kemampuan pemecahan masalah dan self-efficacy Rahmawati. , & Nopriana. Self peserta didik kelas VIIA di SMP N 1 Nggaha Ori Efficacy Siswa : 7 Indikator Keyakinan Diri Dan Angu. Adapun saran Bagi guru, bahwa penerapan Tantangan Dalam Pembelajaran Matematika Smp. , 101Ae108 menunjukan hasil yang baik pada ranah kognitif. Purnomo. Metode Dan Teknik maka guru dapat menerapkan model ini di kelas Pengumpulan untuk materi-materi tertentu pada mata pelajaran Tindakan Kelas (Classroom Action Researc. Bagi peneliti selanjutnya, peneliti Pengembangan Pendidikan, 8. , 251Ae256. masih terbatas salah satunya adalah terkait waktu Fathani. Medan. Pemecahan. pembelajaran didalam kelas yang singkat sehingga Matematis. Kooperatif. Jigsaw. , & hanya digunakan satu kali pertemuan dalam siklus. Geogebra. Diharapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berbantuan memaksimalkan waktu sehingga lebih banyak pertemuan dalam satu siklus sehingga hasilnya Data Dalam (N. Penelitian Penerapan Model Geogebra Sebagai. 7, 796Ae805 Shofiah. , & Raudatussalamah. SelfEfficacy Dan Self- Regulation Sebagai Unsur lebih maksimal. Penting Dalam Pendidikan Karakter. 214Ae229. Daftar Pustaka