Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 PENERAPAN PROGRAM BINA KELUARGA BALITA (BKB) TERHADAP STUNTING DI KABUPATEN PASAMAN Legabina Adzkia1. Evi Hasnita2. Rahmat Saputra3 Fakultas Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Jl. Bypass No. Air Birugo Tigo Baleh. Kota Bukittinggi Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock Jl. Soekarno Hata No. Mandiangin Koto Selayan. Kota Bukittinggi e-mail : legabinaadzkia@gmail. Artikel Diterima : 8 September 2023. Direvisi : 25 September 2023. Diterbitkan : 29 September 2023 ABSTRAK Pendahuluan: Stunting merupakan bentuk kegagalan dalam tumbuh kembang pada anak balita atau bayi akibat kekurangan gizi yang nilai z-skornya kurang -2SD. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, ditemukan bahwasanya Kabupaten Pasaman memiliki persentase tertinggi kasus stunting yaitu . ,6%). Tujuan: untuk mengetahui pengaruh program bina keluarga balita terhadap stunting pada balita di Kabupaten Pasaman. Metode: penelitian menggunakan desain quasi experimental design dengan pendekatan onegroup pre-test post-test, dan desain eksperimennya time series design, dengan sampel penelitian memakai total sampling. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu bulan JanuariAeFebruari tahun 2020. Data diolah kemudian dianalisis sampai tahap multivariat dengan uji statistic T-test dependent dan times series analysis untuk melihat peningkatan status pertumbuhan responden yang diamati beberapa kali sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Dapat disimpulkan bahwa sebelum penyuluhan pengetahuan 10,70 dengan SD2,49, sesudah penyuluhan 15,05 dengan SD1,46, sebelum penyuluhan makanan sehat 7,05 dengan SD1,23 dan sesudah penyuluhan 8,45 dengan SD0,51, sebelum penyuluhan pengaturan pola makan 13,90 dengan SD1,51 sesudah penyuluhan 17,30 dengan SD1,12 dan APE sebelum penyuluhan 8,55 dengan SD1,84 dan sesudah penyuluhan 8,65 dengan SD1,30, dan terdapat pengaruh program bina keluarga balita terhadap stunting pada balita dengan nilai p value = 0,0005. Times series analysis didapatkan 6 responden dengan peningkatan status pertumbuhan setelah dilakukan intervensi. Kesimpulan dan Saran: Penyuluhan pengaturan pola makan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap stunting dengan nilai mean 17,30. Diharapkan Puskesmas dapat menerapkan dan melaksanakan program bina keluarga balita (BKB) dalam menangani kejadian stunting. Kata Kunci: bina keluarga balita, stunting Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 78 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ABSTRACT Introduction: stunting is a form of failure in growth and development in children under five or infants due to malnutrition whose z-score is less -2SD. Based on data from the West Sumatra Provincial Health Office, it was found that Pasaman Regency had the highest percentage of stunting cases . 6%). Purpose: to determine the effect of the toddler family development program on stunting in toddlers in Pasaman Regency. Method: the study used a quasi-experimental design with a one-group pre-test post-test approach, and the experimental design was time series design, with the research sample using total sampling. This research was conducted between January and February 2020. The data were then analyzed to a multivariate stage with statistical T-test dependent tests and times series analysis to see the improvement in respondents' growth status observed several times before and after the intervention. Results. It can be concluded that before knowledge counseling 70 with SD2. 49, after counseling 15. 05 with SD1. 46, before healthy food counseling 7. with SD1. 23 and after counseling 8. 45 with SD0. 51, before counseling dietary regulation 90 with SD1. 51 after counseling 17. 30 with SD1. 12 and APE before counseling 8. 55 with SD1. 84 and after counseling 8. 65 with SD1, 30, and there is an effect of the toddler family development program on stunting in toddlers with a p value = 0. Times series analysis obtained 6 respondents with improved growth status after the intervention. Conclusion and recommendation: Counseling on dietary arrangements is the most influential variable on stunting with a mean value of 17. It is expected that the Puskesmas can implement and implement the toddler family development program (BKB) in handling stunting incidents. Keywords : toddler family development, stunting Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 79 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index LATAR BELAKANG Keluarga merupakan sebuah Terdapat dua kategori penyebab stunting, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Secara langsung karena masalah gizi dan masalah kesehatan, masalah tersebut Adapun pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan makanan, pola asuh, ketersediaan air minum . (Kementerian Kesehatan RI, 2. Salah satu masalah gizi utama di negara Ae negara berkembang adalah kurangnya kergaman makanan, terutama terdiri dari sumber makanan nabati, serta buah dan sayuran yang terbatas (Trias Mahmudiono et al. Konsep yang memiliki pengertian dan cakupan yang luas dan beragam. Keluarga, dalam konteks sosiologi, dianggap sebagai suatu institusi sosial yang sekaligus menjadi suatu sistem sosial yang ada di setiap Sebagai sebuah institusi sosial kumpulan dari sekelompok orang yang pernikahan, keturunan atau adopsi serta tinggal bersama di rumah tangga biasa (Zastrow, 2. Ketahanan Keluarga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama masalah gizi anak seperti pola asuh, mengonsumsi makanan yang beraneka ragam setiap hari dan berkualitas. Makanan yang baik adalah makanan yang tidak hanya memenuhi standar kualitas melainkan juga memenuhi standar kualitas makanan. Anak mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat sehingga memerlukan zat-zat yang relatif banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Jadi konsumsi anak sudah seharusnya mendapatkan prioritas dalam distribusi makanan keluarga (Ngaisyah, 2. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Data prevalensi stunting nasional pada balita mencapai 37,2 % yang menunjukkan terdapat peningkatan dari tahun 2010 . ,6%) dan 2007 . ,8 %) (Kementerian Kesehatan RI, 2. Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek . di Indonesia. Dari 10 orang anak sekitar 3 Ae 4 oarang anak balita mengalami stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi yang disebabakan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi (Mustikaningrum et al. Layanan Bina Keluarga Balita (BKB) diperuntukkan bagi ibu yang memiliki Para ibu yang memiliki balita pengetahuan dan ketrampilan ibu dalam Pendekatan Bina Keluarga Balita (BKB) adalah melalui pendidikan orang tua khusunya ibu dan anggota keluarga lainnya (Pujiati et al. , 2. Bina keluarga balita adalah BKB pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan sikap ibu serta keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak balita melalui kegiatan rangsangan mental, emosional, intelektual, moral, sosial dengan berbagai media agar menjadi manusia yang Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua, serta anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak balita secara optimal melalui stimulasi / rangsangan fisik, intelektual, mental emosional, sosial dan moral spiritual (BKKBN, 2. Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 80 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Stunting merupakan bentuk kegagalan dalam tumbuh kembang pada anak balita atau bayi di bawah lima tahun akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Penyebab stunting ini disebabkan oleh pola asuh yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya keluarga untuk makanan yang bergizi, sanitasi lingkungan yang kurang baik (TNP2K, 2. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak . ertumbuhan tubuh dan ota. akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak keterlambatan dalam berpikir (Kementerian Kesehatan RI, 2. Sekitar 155 juta anak di bawah 5 tahun menderita stunting. Anak dengan stunting ini memulai hidup mereka pada posisi yang kurang menguntungkan, mereka menghadapi kesulitan pelajaran disekolah, orang tua berpenghasilan rendah, dan menghadapi hambatan dalam berpartisipasi di komunitas mereka (WHO Indonesia. Sebanyak 70 persen remaja putri di India mengalami anemia dan setengah dari remaja berada di bawah indeks massa tubuh normal, yang akan berdampak pada kesehatan kehamilan dan anak-anak mereka di masa depan. Mencegah stunting sangat penting untuk kelangsungan hidup dalam jangka pendek, dan dalam jangka panjang untuk memastikan orang dewasa yang sehat, berpendidikan dan produktif. Mengatasi penyakit berbahaya ini merupakan tujuan penting bagi UNICEF India (UNICEF Indonesia, 2. Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan pada tahun 2007 sekitar 36,8 % pada tahun 2013 mengalami kenaikan sekitar 37,2 % dan pada tahun 2018 mengalami penurunan sekitar 30,8 % tetapi tidak mengalami penurunan signifikan. Hal ini mendapatkan perhatian yang lebih JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 khusus untuk penanganannya (Kementerian Kesehatan RI, 2. Angka stunting di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2010 sebesar 32,8 % (Kementerian Kesehatan RI. Sedangkan data dari hasil diperoleh prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Barat 37,6% (Kementerian Kesehatan RI, 2. , dan terjadi penurunan pada tahun 2018 menjadi 29,9 % dari data pemantauan status gizi (PSG) tahun 2016 dilaporkan bahwa baduta . -23 bula. pendek sebesar 13,1 % sedangkan baduta sangat pendek 4,5 Pada tahun 2017 dilaporkan data baduta 0 -23 bulan pendek sebesar 12,3 % dan baduta sangat pendek 6,3%. Jumlah kasus stunting di Sumatera Barat berdasarkan hasil PSG tahun 2017 adalah 30,6% dan distribusi kasus stunting per Kabupaten atau Kota di Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut Pasaman 40,6%. Solok 39,9%. Sijunjung 38,7%. Solok Selatan 36,2%. Padang Pariaman 33,6%. Tanah Datar 33,0%. Pasaman Barat 32,1%. Kota Solok 31,9%. Agam 31,1%. Kota Padang Panjang 29,6%. Kota Payakumbuh 28,0%. Pesisir Selatan 27,5%. Lima Puluh Kota 27,0%. Dharmasraya 27,0%. Kota Sawahlunto 26,3%. Kota Pariaman 25,9%. Kepulauan Mentawai 25,7%. Kota Bukittinggi 24,5%. Kota Padang 22,6% (Kementerian Kesehatan RI. Berdasarkan penelitian dilakukan oleh (Yuliawati et al. , 2. bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi kejadian stunting Hasil uji statistic diperoleh p_value = 00 maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur terhadap kejadian stuning, hasil uji statistic diperoleh nilai p_value = 0. 90 maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifkan antara jenis kelamin terhadap kejadian stunting, hasil uji statistik diperoleh nilai p_value = 326 maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan terhadap Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 81 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index kejadian stunting, hasil uji statistik diperoleh nilai p_vaue = 0. 72 maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan terhadap antara pendapatan keluarga terhadap kejadian stunting, hasil uji statistik diperoleh nilai p_value = 0. maka disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kunjungan ANC terhadap kejadian stunting dengan nilain OR 5. hasil uji statistik diperoleh nilai p_value = 002 maka disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara konsumsi terhadap kejadian stunting. Hasil uji statistik diperoleh nilai p_value = 0. 004 maka disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara IMD terhadap kejadian stunting, hasil uji statistik diperoleh nilai p_value =0. maka dapat disimpilkan ada hubungan yang signifikan antara ASI eksklusif terhadap kejadian stunting dengan nilai OR = 9. Kabupaten Pasaman termasuk dalam 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk intervensi anak stunting (TNP2K, 2. Data pemantauan status gizi Tahan 2016 di Kabupaten Pasaman di temukan angka stunting sebesar 37 % dan pada tahun 2017 prevalensinya meningkat menjadi 40,6%. Berdasarkan Laporan Pemantauan Status Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman pada Tahun 2017 dengan angka kejadian stunting sebesar 940 kasus dari 3600 anak balita yang ada di Kabupaten Pasaman. Kabupaten Pasaman yang termasuk ke dalam tiga kabupaten lokus stunting di Provinsi Sumatera Barat sedang bekerja keras untuk menurunkan angka prevalensi kejadian stunting. Untuk itu diperlukan identifikasi faktor penyebab masalah tersebut melalui riset-riset terukur agar akar permasalahannya dapat dihilangkan. Penelitian mengetahui variabel dependen kejadian stunting, variabel independen program bina keluarga balita. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasy experimental dengan pendekatan OneGroup Pre-Test & Post-Test dengan rancangan multivariat times series analysis. Penelitian ini adalah penelitian yan gtidak ada kelompok pembanding . , tetapi sudah dilakukan observasi pertama . re-tes. yang memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanaya eksperimen (Notoatmodjo, 2. Populasi adalah semua ibu yang memiliki balita . -59 bula. dengan Kabupaten Pasaman. Teknik pengambilan sampel keinginan peneliti. Data dikumpulkan melalui pengisian Pengolahan data dilakukan melalui editing, coding, entry, cleaning, dan tabulating dan data analisis secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji T-test dependent. HASIL Rata-rata intervensi sebelum dan sesudah terhadap stunting di Kabupaten Pasaman Tabel 1 Rata-Rata Pengetahuan Intervensi Sebelum Dan Sesudah terhadap Stunting Mean Mean Stunting Sebelum Sesudah Penyuluhan KKB 20 10,80 15,05 Penyuluhan pemberian makanan 20 7,05 8,45 pada bayi dan anak Penyuluhan pengaturan pola 20 13,90 17,30 APE 8,55 8,65 Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 82 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa dari 20 responden ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting di Kabupaten Pasaman diperoleh rata-rata pengetahuan penyuluhan program BKB sebesar 10,70, sedangkan rata-rata pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan BKB yaitu meningkat menjadi 15,05. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dewi and Aminah, 2. menyebabkan tingginya angka balita stunting usia 6-23 bulan di Indonesia. Salah satu hambatan utamanya adalahpengetahuan yang tidak memadai dan praktik-praktik gizi yang tidak tepat. Secara khusus dijelaskan bahwa pengetahuan dan praktik yang menjadi hambatan utama adalah pemberian ASI eksklusif yang masih sangat kurang dan rendahnya pemberian makanan pendamping yang sesuai. Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna pada skor pengetahuan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok . =0,006. p=0,. , terdapat perbedaan rerata yang bermakna pada skor feeding practice sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok . =0,002. p=0,. Pada (Yovi, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test pengetahuan serta sikap ibu hamil kelompok eksperimen dan juga kelompok kontrol . =0,. Terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil pengetahuan dan sikap antara ibu hamil kelompok eksperimen dengan ibu hamil kelompok kontrol . =0,. Yang berarti terdapat pengaruh penyuluhan terhadap perubahan pengetahuan dan sikap ibu hamil kelompok eksperimen dan pemberian penyuluhan meningkatkan pengetahuan. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Sehingga, menurut asumsi peneliti dapat disimpulkan bahwa penyuluhan mengenai gizi pada ibu meningkatkan pengetahuan dan dapat mengurangi risiko kejadian stunting pada balita umur 6-59 bulan. Penyuluhan mengenai gizi ini sebaiknya tidak hanya diberikan kepada ibu dengan balita yang stunting saja, namun juga diberikan kepada ibu mulai dari masa kehamilan sehingga dapat mencegah terjadinya stunting. Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa dari 20 responden ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting di Kabupaten Pasaman rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak atau makanan sehat yaitu 7,05 sedangkan rata Ae rata pengetahuan sesudah dilakukan penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak yaitu 8,45. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Yati, 2. menunjukkan hasil uji statistik ada pengaruh pola pemberian makanan dengan stunting pada balita usia 36-59 bulan di Desa Mulo dan Wunung di Wilayah Kerja Puskesmas Wonosari I dengan nilai p value . ,001<0. Penelitian (Hanum and Khomsan, 2. menunjukkan bahwa stunting lebih banyak terjadi pada balita dengan proporsi sebesar 29,8%. Keadaan ini diduga karena semakin tinggi usia anak maka kebutuhan energi dan zat gizi semakin meningkat. Tingginya diakibatkan oleh kurangnya asupan energi karena pola makan balita tidak teratur. Hasil Pemantauan Gizi balita di Kabupaten Sleman tahun 2015 diperoleh 12,86 % stunting, 7,53 % underweight, dan 3,57 wasting. Untuk itu perlu upaya perbaikan gizi balita salah satunya yang pemantauan orang tua dengan pemberian makanan bayi dan anak melalui PMBA. Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 83 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Menurut asumsi peneliti bahwa salah satu yang menyebabkan terjadinya kasus stunting ialah Pemberian makanan bayi dan anak yang kurang. Selain itu para tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam peningkatan status gizi pada balita dan mengatasi masalah status gizi yang ada. Diharapkan pelayanan kesehatan penyuluhan, dan edukasi mengenai status gizi balita yang diberikan kepada orang tua balita agar status gizi balita sesuai dengan status gizi yang sesuai pada usianya. Berdasarkan bahwa dari 20 responden ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting di Kabupaten Pasaman, diperoleh rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan . ,30%). Sejalan dengan penelitaian yang dilakukan (Aramico et al. , 2. Hasil analisis uji statistik hubungan antara pola makan dengan status gizi menunjukkan hubungan yang signifikan . <0,. dan OR 6,01. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menjelaskan ada hubungan antara pola makan dan status gizi stunting . =0,. dan OR 3,3. Hasil tersebut menjelaskan bahwa anak dengan pola makan kurang berisiko 3 kali lebih tinggi untuk menjadi stunting. Penelitian di Brazil membuktikan bahwa anak dengan pola makan kurang atau mengonsumsi asupan protein di bawah rata-rata kecukupan gizi per hari, berisiko 1,5 kali lebih besar mengalami stunting . =0,. Dari penelitian ini juga diketahui bahwa anak dengan asupan lemak di bawah ratarata konsumsi per hari berisiko 2 . besar mengalami stunting . < 0,. Sementara (Selamawit BG, 2. di Ethopia menjelaskan bahwa hubungan antara kekurangan gizi dan yang tidak kurang gizi mengalami perubahan yang cepat pada JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 pola makan dan kegiatan fisik pada balita. Pola makan yang kurang baik akan berpengaruh terhadap kejadian stunting. Sehingga, istilah isi piringku dengan gizi dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pola makan yang kurang baik juga akan berpengaruh terhadap asupan gizi terutama asupan zat-zat gizi yang berperan pada pertumbuhan anak. Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa dari 20 responden ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting di Kabupaten Pasaman diperoleh rata Ae rata tumbuh kembang sebelum dilakukan pemberian alat permainan edukatif yaitu 8,55 dan tumbuh kembang sesudah dilakukan pemberian alat permainan edukatif meningkat menjadi 8,65. Sejalan (Febrianan, 2. yaitu Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: . hasil keterampilan motorik halus anak sebelum menggunakan alat permainan educatif maze alur tulis mendapatkan skor rata-rata 6,00 . hasil keterampilan motorik halus setelah menggunakan alat permainan educatif maze alur tulis mendapatkan rata- rata skor 8,26 . terdapat perbedaan yang signifikan pada penggunaan alat permainan maze alur tulis terhadap keterampilan motorik halus, hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan uji-t diperoleh ( = 12,18 > = 2,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan alat permainan educatif maze alur tulis terhadap keterampilan motorik halus anak. Penelitian (Pantaleon et al. , 2. memperlihatkan keterkaitan antara stunting dengan perkembangan motorik dan mental yang buruk pada usia kanak-kanak dini, serta prestasi kognitif, dan prestasi sekolah yang buruk pada usia kanak-kanak lanjut. Masalah balita pendek menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 84 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index dari kondisi ibu atau calon ibu, masa janin, dan masa bayi atau balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita. Seperti masalah gizi lainnya, tidak hanya terkait masalah kesehatan, namun juga dipengaruhi berbagai kondisi lain yang secara tidak langsung mempengaruhi (Achadi, 2. menunjukkan Indonesia termasuk dalam 17 negara, di antara 117 negara, yang mempunyai tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting dan overweight pada balita. Dari hasil perhitungan SPSS 16 diketahui nilai 18 t hitung 3,167 dimana t tabel 2,715 t hitung > t tabel, hal ini menunjukkan nilai stimulasi lebih kecil daripada nilai setelah mendapat edukasi. Nilai signifikansi p = 0,002 . <0,05 ) pemberian edukasi terhadap pemberian stimulasi tumbuh kembang anak orang tua anak dengan stunting (Hati, 2. Tabel 2 Perbedaan rata-rata Pengetahuan Dilakukan Intervensi Sebelum dan Sesudah terhadap Stunting Stunting Mean Sebelum Mean Sesudah Mean Differen Penyuluhan 20 10,80 15,05 -43,5 KKB Penyuluhan 7,05 8,45 -1,40 pada bayi dan anak Penyuluhan pengaturan 20 13,90 17,30 -3,40 pola makan APE 8,55 8,65 -1,00 Berdasarkan tabel 2 didapatkan rataAe rata skor pengetahuan kasus stunting sebelum dilakukan penyuluhan program BKB yaitu 10,70. Dan skor pengetahuan JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 sesudah penyuluhan BKB yaitu meningkat menjadi 15,05. Perbedaan kedua variabel yaitu -4,35. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Oktavianisya et al. , 2. yang menyatakan ada pengaruh signifikan penyuluhan kepada ibu balita terhadap pengetahuan ibu tentang pola makan balita dengan nilai p<0,05 . , ada pengaruh signifikan penyuluhan terhadap berat badan menurut umur balita p<0,05 . ,0. , dan ada pengaruh signifikan penyuluhan terhadap berat bandan menurut tinggi badan balita dengan nilai p<0,05. ,0. Penyuluhan diberikan mempengaruhi pengetahuan ibu sehingga merubah perilaku ibu untuk menyusun pola makan dengan meningkatkan jumlah asupan gizi hingga kebutuhan energi, protein dan karbohidrat. Hasil ini sejalan pula dengan penelitian Margawati and Astuti . yang menyatakan terdapat pengaruh penyuluhan makanan sehat bagi balita terhadap tingkat pengetahuan ibu di TK Bangkit Mojoagung. Selain itu juga didukung penelitian (Astuti et al. , 2. yang menyatakan bahwa berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam pemberian menu seimbang pada PEMBAHASAN Dalam penelitian ini penyuluhan terhadap ibu mempengaruhi pengetahuan dan sikap ibu mengenai masalah stunting. Pengetahuan yaitu berupa memahami atau mengevaluasi dari penyuluhan yang diberikan, sedangkan sikap tindakan untuk menerima atau menghargai. Edukasi gizi merupakan bagian kegiatan pendidikan kesehatan, didefinisikan sebagai upaya terencana untuk mengubah perilaku masyarakat dalam bidang kesehatan. Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 85 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index edukasi gizi sebagai suatu proses yang formal untuk melatih kemampuan klien atau meningkatkan pengetahuan klien dalam memilih makanan, aktivitas fisik, dan perilaku yang berkaitan dengan pemeliharaan atau perbaikan kesehatan (Dewi and Aminah, 2. Menurut asumsi peneliti bahwa penyuluhan yang dilakukan pada ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting dengan kasus stunting sangat efektif. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sebelum diberikannya penyuluhan dan sesudah diberikan penyuluhan . Hasil ini sejalan dengan penelitian (Yovi, 2. tentang penyuluhan atau edukasi yang diberikan kepada ibu terhadap stunting menyatakan bahwa pengaruh penyuluhan terhadap perubahan pengetahuan dan sikap ibu hamil kelompok eksperimen dan pemberian penyuluhan menjadi salah satu cara dalam meningkatkan pengetahuan. Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa diperoleh perbedaan rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak yaitu 7,05. Dan perbedaan rata Ae rata penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak yaitu meningkat menjadi 8,45 Perbedaan kedua variabel yaitu -1,40. Strategi pencegahan dan penurunan stunting adalah melalui intervensi gizi spesifik, intervensi gizi sensitif dan lingkungan yang Salah satu kegiatan sosialisasi pentingnya nutrisi pada 1000 HPK untuk mencegah stunting adalah kegiatan pemberian makanan bayi dan anak yang tepat dan jadwal pemberian makanan pada bayi dan anak sebaiknya teratur, durasi makan tidak lebih dari 30 menit dan tidak menawarkan makanan camilan pada saat makanan utama (Kementerian Kesehatan RI, 2. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Penelitian ini sejalan (Prakhasita. Antara pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita 12-59 bulan . =0,002 . r=0,. Semakin baik pola pemberian makanan maka tingkat kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Tembak Wedi Surabaya akan berkurang sehingga pola pemberian makanan harus ditingkatkan. Menurut asumsi penelitian tentang stunting menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum diberikan pemberian makanan bayi dan anak dan sesudah diberikan pemberian bayi dan anak terhadap kejadian stunting pada ibu yang memiliki bayi dengan keadaan stunting. Dan diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan sosialisasi dengan ibu khususnya memiliki balita agar mau melaksanakan PMBA yang sesuai. Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa diperoleh perbedaan rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan penyuluhan pengaturan pola makan sebesar 13,90. Dan nilai perbedaan rata- rata pengetahuan meningkat menjadi 17,30 sesudah dilakukan penyuluhan pengaturan pola makan. Perbedaan kedua variabel yaitu -3,40. Hasil Uji statistik menunjukkan bahwa p value sebesar 0,0005. nilai 0,0005 < . artinya Ho ditolak yang berarti bahwa ada perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pengaturan pola makan pada ibu yang memiliki balita 0-59 bulan dengan keadaan stunting dan balita yang terdiagnosis stunting di Kabupaten Pasaman Tahun 2019. Bagi anak Ae anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur. Dalam satu porsi makan setengah piring diisi oleh sayur dan buah. Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 86 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index setengah lagi diisi dengan sumber protein baik hewani maupun nabati dengan proporsi lebih banyak dari pada karbohidrat (Dwijayanti, 2. Menurut asumsi peneliti bahwa pengaturan pola makan ibu tentang stunting menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum diberikan pengaturan pola makan dan sesudah diberikan pengaturan pola makan terhadap kejadian stunting pada ibu yang memiliki bayi dengan keadaan stunting. Dengan mengubah perilaku pola makan sehat dan memberikan makanan yang tepat pada anak akan menjauhkan anak dari stunting. Pola makan yang sehat yang dimaksud yakni dengan asupan karbohidrat, protein, dan vitamin yang seimbang, dan mengonsumsi buah sayur juga dapat menambah gizi sehat dan tinggi badan Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa diperoleh perbedaan rata Ae rata tumbuh kembang sebelum dilakukan pemberian alat permainan edukatif yaitu 8,55. Perbedaan rata-rata tumbuhkembang sesudah dilakukan pemberian alat permainan edukatif menjadi 8,65. Perbedaan kedua variabel yaitu -1,00. Salah satu media kesehatan yang memiliki jenis kegiatan yaitu penyuluhan dan bermain dengan Alat Permainan Edukatif (APE). Upaya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu dan anggota keluarga lainnya pendidikan proses tumbuh kembang balita serta meningkatkan keterampilan ibu dan mengusahakan tumbuh kembang anak secara optimal antara lain dengan stimulus mental dengan menggunakan permainan alat edukatif (APE) . JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Pengaruh Intervensi Stunting Di Kabupaten Pasaman Hasil Uji statistik menunjukkan didapatkan rata-rata skor pengetahuan sesudah penyuluhan yaitu 15,05 dengan standar deviasinya 1,46, penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak 8,45 dengan standar deviasi 0,51, penyuluhan pengaturan pola makan 17,30 dengan standar deviasi 1,12 dan tumbuh kembang pemberian alat permainan edukatif yaitu meningkat menjadi 8,65 dengan standar deviasi 1,30. Hasil Uji statistik menunjukkan bahwa p value sebesar 0,0005. nilai 0,0005 < . artinya Ho ditolak yang berarti bahwa ada pengaruh program Bina Keluarga Balita terhadap stunting di kabupaten Pasaman Tahun 2020. Setelah dilakukan analisis lanjut diperoleh perbedaan masing-masing variabel yaitu yang berbeda adalah penyuluhan dengan pola makan, pemberian makanan bayi dan alat permainan edukatif, pola makan dengan pemberian makanan bayi dan anak serta alat permainan edukatif. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa kegiatan penyuluhan merupakan kegiatan yang menghasilkan perbedaan paling baik yaitu -6,25. BKB merupakan upaya meningkatkan pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan sikap ibu serta keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak balita melalui kegiatan rangsangan mental, emosional, intelektual, moral, sosial dengan berbagai media agar menjadi manusia yang Jurnal Menara Medika Vol 6 No 1 September 2023 | 87 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Tabel 3. Pengaruh Intervensi Terhadap Stunting Stunting N Mean P value Penyuluhan 20 15,05 1,46 0,0005 KKB Penyuluhan 20 8,45 0,51 0,0005 makanan pada bayi dan anak Penyuluhan 20 17,30 1,12 0,0005 pola makan APE 20 8,65 1,30 0,0005 Bina Keluarga Balita (BKB) adalah keterampilan dan kesadaran ibu serta anggota keluarga lain dalam membina tumbuh kembang balitanya melalui rangsangan fisik, motorik, kecerdasan, sosial, emosional serta moral yang berlangsung dalam proses interaksi antara ibu/anggota keluarga lainnya dengan anak Menurut asumsi peneliti penerapan program BKB sangat efektif dilakukan dalam kasus stunting. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dalam menangani atau mencegah terjadinya stunting pada anak Selain itu kegiatan ini juga berkontribusi pada tindakan ibu untuk melaksanakan arahan dari hasil program yang disarankan. Dalam pelaksanaan metode yang baik, perlu dilakukan perencanaan yang baik mengenai keadaan terkini, materi yang padat dan dikemas secara menarik serta penentuan responden yang tepat. Semua metode . enyuluhan, pengaturan pola makan, pemberian makanan bayi dan anak dan alat permainan edukati. memiliki efektivitas masingmasing dalam perubahan peningkatan pengetahuan ibu yang memiliki balita dengan keadaan stunting. JMM 2023 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan perbedaan rata-rata skor pengetahuan dilakukan penyuluhan program bina keluarga balita sebelum dan sesudah yaitu -4,45, perbedaan rata Ae rata skor dilakukan penyuluhan pemberian makanan bayi dan anak atau makanan sehat sebelum dan sesudah yaitu -1,40. Perbedaan rata-rata skor dilakukan penyuluhan pengaturan pola makan sebelum dan sesudah yaitu -3,40, perbedaan rata - rata skor dilakukan pemberian alat permainan edukatif sebelum dan sesudah yaitu -1,00. UCAPAN TERIMA KASIH