Institut Riset dan Publikasi Indonesia (IRPI) MALCOM: Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science Journal Homepage: https://journal. id/index. php/malcom Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 Implementation of Geographic Source Routing on V2I at Sudirman Street Pekanbaru City Penerapan Geographic Source Routing Pada V2I di Jalan Sudirman Kota Pekanbaru Heryanto Chandra1*. Linna Oktaviana2. Ery Safrianti3 1,2,3 Program Studi Teknik Informatika. Fakultas Teknik. Universitas Riau. Kampus Bina Widya. KM. 5 Simpang Baru. Pekanbaru. Riau. Indonesia E-mail: 1heryanto. chandra1209@student. linnaoasari@lecturer. id, 3esafrianti@eng. Received Sep 9th 2023. Revised Oct 30th 2023. Accepted Nov 2nd 2023 Corresponding Author: Heryanto Chandra Abstract The utilization and advancement of wireless technology have reached a significant level of maturity and widespread One such application is VANET (Vehicular Ad-Hoc Networ. , a wireless technology integrated into vehicles to enable communication between vehicles (V2V) and infrastructure (V2I). Challenges arising from the dynamic nature and high-speed mobility of VANETs can be addressed through the utilization of routing protocols. However, the existence of numerous wireless network routing protocols necessitates a performance evaluation to determine the most effective routing protocol for implementation. This research focuses on evaluating the GSR (Geographic Source Routin. routing The research methodology employed simulation techniques and relied on supporting software tools like Openstreetmap. SUMO, and OMNET . The evaluation of the routing protocol's performance encompasses Quality of Service (QOS) parameters, including throughput, end-to-end delay, and packet delivery ratio. The study explores various scenarios involving changes in the number of vehicles, vehicle speeds, and the presence of Road Side Units (RSU). Keywords: End-to-End Delay. GSR. Packet Delivery Ratio. Throughput. VANET Abstrak Penggunaan dan perkembangan teknologi nirkabel sekarang sudah sangat maju dan luas. Salah satu contohnya adalah VANET (Vehicular Ad-Hoc Networ. , yang merupakan teknologi nirkabel yang dipasang di dalam kendaraan sehingga kendaraan dapat berkomunikasi satu sama lain (V2V) atau dengan infrastruktur (V2I). Tantangan dalam VANET yang muncul akibat pergerakan dan kecepatan tinggi kendaraan dapat diatasi dengan menggunakan protokol routing. Namun, karena ada banyak jenis protokol routing jaringan nirkabel, diperlukan uji kinerja untuk menentukan protokol routing terbaik yang akan diimplementasikan. Penelitian ini berfokus pada pengujian protokol routing GSR (Geographic Source Routin. Metode penelitian yang digunakan adalah simulasi dan menggunakan perangkat lunak pendukung seperti Openstreetmap. SUMO, dan OMNET . Evaluasi kinerja protokol routing mencakup parameter Quality of Service (QOS) seperti throughput, end-to-end delay, dan packet ratio. Studi ini melibatkan berbagai skenario yang mencakup perubahan jumlah kendaraan, kecepatan kendaraan, dan keberadaan Road Side Unit (RSU). Kata Kunci: End-to-End Delay. GSR. Packet Delivery Ratio. Throughput. VANET PENDAHULUAN Vehicular Ad hoc Network biasa disebut juga VANET merupakan sub-materi dari Mobile Ad hoc Network (MANET). VANET merupakan bentuk dari dari Intelligent Transport System (ITS) yang di desain untuk meningkatkan keselamatan kendaraan di jalan raya . Kendaraan yang berada dalam jaringan VANET bergerak secara autonomous dan terstruktur serta bertukar informasi dengan kendaraan lain yang berada dalam jaringan yang sama VANET dikembangkan khusus untuk mengatasi permasalahan lalu lintas seperti kemacetan, keamanan pengendara, serta kemudahan dalam perjalanan . VANET memiliki empat unsur komunikasi yaitu In Vehicle Communication. Vehicle to Vehicle (V2V). Vehicle to Infrastructure (V2I), dan Infrastructure to Infrastructure (I2I). In Vehicle Communication adalah bentuk komunikasi yang DOI: https://doi. org/10. 57152/malcom. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 menyediakan informasi internal kendaraan berupa keadaan kendaraan secara fisik ataupun pengemudi kendaraan seperti kelelahan, mengantuk dan sebagainya. V2V merupakan bentuk komunikasi antar kendaraan. V2I merupakan bentuk komunikasi kendaraan dengan Road Side Unit (RSU), sedangkan I2I merupakan bentuk komunikasi antar infrastruktur dengan infrastruktur lain . Geographic Source Routing menggunakan informasi dari node tetangga. Geographic Source Routing (GSR) merupakan jenis dari position-based routing protokol pada VANET. Geographic Source Routing (GSR). GSR memiliki beberapa teknik dan mekanisme dalam routing prosesnya. Geographic Source Routing (GSR) ditujukan untuk daerah urban . , dalam GSR kendaraan melakukan perhitungan melalui langkah terpendek dari destinasi menuju daerah tujuan . Telah ada beberapa penelitian terdahulu mengenai GSR dan V2I, salah satunya dilakukan penelitian mengenai GSR untuk mencoba mengatasi permasalahan yang ditimbulkan akibat pergerakan kendaraan yang sangat cepat dan berubah-ubah . Penelitian serupa untuk mengatasi permasalahan dari protokol routing yang kehilangan efiensi dan data akibat pola pergerakan kendaraan yang sangat cepat sehingga diperlukan solusi perhitungan kepadatan kendaraan untuk menentukan rute . Selanjutnya penelitian oleh Zeng dkk, melakukan perhitungan dalam menentukan path yang akan dituju kendaraan berdasarkan lokasi geografis untuk meminimalisir delay . Penelitian selanjutnya yang dilakukan yaitu untuk mencoba meminimalisir delay dengan melakukan perutean geografis dan memilih persimpangan berdasarkan konektivitas . Dilanjutkan dengan penelitian untuk mengatasi pengiriman paket dengan cara menggunakan skema evaluasi bobot jalan . Dilanjutkan dengan penelitian dalam mengatasi delay dan pengiriman paket dengan melakukan tiga mekanisme stigmergy, perilaku sosial dan caching adaptif . Selanjutnya penelitian mengenai permasalahan umum VANET seperti delay, keamanan, dan kualitas layananan serta skalabilitas dan dilakukan survey . Penelitian selanjutnya yang dilakukan adalah membandingan dua kinerja GSR dan AODV untuk mengetahui performa yang terbaik . Selanjutnya mengenai peningkatan keamanan dan kenyamanan dilakukan dengan mencoba mengetahui seberapa besar pengaruh jumlah node terhadapat efektifitas routing protokol tersebut . Selanjutnya penelitian mengenai review dari kinerja beberapa routing protokol dilakukan dengan menganalisa hasil tiap protokol routing dan mencatat serta membandingakan hasilnya . , penelitian terdahulu selanjutnya mengenai pengingkatan sinyal yang menjadi masalah dalam VANET dimana dalam penelitian ini dilakukan penerapan strategi demi mengurangi delay, meningkatkan akurasi lokasi dan kondisi lalu lintas . , penelitian selanjutnya membahas tentang review analisa pertukaran informasi pada V2I untuk mempertimbangkan hal apa saja yang dapat meningkatkan kualitas pertukaran data pada V2I . Penelitian selanjutnya mengenai penggunaan algoritma eco-driving dalam meningkatkan throughput signal . , selanjutnya penelitian mengenai karakteristik V2I serta peningkatannya . , penelitian selanjutnya mengenai beamforming adaptif dalam meningkatkan kapasitas komunikasi V2I . , dan yang terakhir penelitian mengenai pengembangan untuk peningkatan komunikasi antar kendaraan dan infrastruktur pada VANET . Penelitian serupa sebenarnya telah ada dilakukan oleh Hadiwiriyanto. Rezky. Primantara Hari Trisnawan, and Kasyful Amron dengan judul "Implementasi Protokol Geographic Source Routing (GSR) Pada Vehicular Ad-Hoc Network (VANET) untuk Komunikasi Kendaraan Dengan Road Side Unit (RSU)". Dari hasil tersebut ditujukkan GSR memiliki performa yang baik pada daerah urban, namun hasil penelitian tersebut belum tentu sama jika diterapakan pada daerah urban lain dengan situasi yang berbeda serta penelitian terdahulu menggunakan software umum seperti NS-2 yang dimana hasil yang didapat mungkin bisa berbeda jika menggunakan software yang berbeda seperti OMNET . Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk menerapkan dan mengembangkan protokol Geographic Source Routing (GSR) di Jalan Sudirman. Pekanbaru. Riau dan melakukan analisis terhadap hasil yang didapatkan, pengujian dilakukan berdasarkan hasil dari perancangan dan implementasi dengan tiga skenario uji yaitu kepadatan kendaraan, kecepatan kendaraan dan jumlah variasi RSU dengan rentang waktu pengujian adalah 200 detik. Hasil dari pengujian akan dianalisis. METODOLOGI Lokasi dan waktu yang penulis gunakan dalam penelitian ini berlokasi di Jalan Sudirman. Kota Pekanbaru. Riau. Luas daerah penelitian adalah 3000m y 3000m. Metode yang digunakan adalah metode survei, dan peneliti mengambil sampel berupa para pengendara dan pengguna jalan di lokasi tersebut. Setelah melakukan tahapan studi literatur, penulis mulai melakukan pengumpulan data, kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan map, dan tahapan terakhir adalah penerapan protokol Geographic Source Routing (GSR) dan menganalisa hasilnya menggunakan tiga parameter uji yaitu throughput, end-to-end delay dan packet delivery ratio. MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 MALCOM-03. : 312-323 Mulai - Studi Literatur - Pengumpul an Data (Titik koordinat. Pengumpul an sampl. Proses Create Map: - Convert map. - Convert map. Ti dak Apakah Create Map Berhasil ? Perancangan Geographic S ource Routing (GSR) Apakah Rancangan Berhasil ? Ti dak Hasil dan Kesimpulan Seles ai Gambar 1. Flowchart Alur Penelitian Gambar 1 merupakan diagram alir atau alur flowchart yang digunakan dalam penelitian ini pada bagian Studi literatur adalah langkah pencarian sumber informasi dan materi mengenai Geographic Source Routing (GSR). Studi Literatur Pada bagian studi literatur ini, penulis melakukan research mengenai VANET dan protokolnya yaitu Geographic Source Routing (GSR). Research yang dilakukan adalah mencari penelitian sejenis berupa jurnal dan penelitian terdahulu serta buku-buku yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Proses Create Map Proses Create Map bertujuan untuk membuat peta area penelitian. Area tersebut ialah Jalan Sudirman Pekanbaru . itik awal 0. 536029A 101. 447686A dan titik akhir 0. 510514A101. 449120A) dengan luas 3000m y Mulai Menentukan Area Penelitian Cap ture Area yang dipilih Proses Create Map. Apakah Create Map. xml berhasil? Tidak Selesai Gambar 2. Flowchart Alur Pembuatan Real Map Penerapan Geographic Source Routing Pada V2I. (Chandra et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 Pada gambar 2 merupakan proses pembuatan real map yang dibutuhkan dalam penelitian ini pada tahapan pertama dimulai dengan cara mencari titik koordinat dari daerah yang akan dijadikan studi kasus. Perancangan Geographic Source Routing (GSR) Geographic Source Routing (GSR) merupakan suatu protokol routing berbasis position-based yang dipadukan dengan topologi jaringan dan memanfaatkan map guna menemukan rute dari node sumber ke node Protokol untuk jaringan kendaraan ini bekerja sangat baik di lingkungan kota yang mana kepadatan lalu lintas tinggi pada siang hari tetapi lebih sedikit pada malam hari. Kondisi ini cocok untuk diterapkan pada lokasi penelitian, yakni Jalan Sudirman Pekanbaru. Menggunakan GSR perlu dilakukan perancangan, yang mana prosesnya dapat dilihat pada flowchart gambar 3. Mulai - Install Library dan Konfigurasi OMNET Perancangan GSR : Modifikasi File Map GSR. Jumlah Road side Uni t. Vehicle. Jenis RSU Apakah Perancangan GS R berhasil ? Ti dak Selesai Gambar 3. Flowchart Alur Penerapan GSR Pada gambar 3 bisa kita lihat, proses penerapan GSR pada OMNET dimulai dengan melakukan instalasi pada library dan melakukan konfigurasi pada OMNET adapun library yang dibutuhkan seperti VeinsInet. Pengujian dan Analisis Pengujian dan analisis penelitian ini menggunakan tiga skenario pengujian serta menggunakan juga tiga parameter pengujian. Skenario pengujian yang digunakan yaitu kepadatan kendaraan, kecepatan kendaraan, dan jumlah variasi Road Side Unit (RSU). Sedangkan untuk parameter yang digunakan adalah throughput, end-to-end, packet delivery ratio. Di bawah ini pada tabel 1 ditampilkan nilai parameter pengujian yang akan digunakan. Tabel 1. Angka Varibel Pengujian Variabel Pengujian Waktu Pengujian 100s, 200s Jumlah Node 20, 30, 40,50, 60 Jumlah RSU 1, 2, 3, 4 Kecepatan Node 20, 40, 50, 60, 70 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini memfokuskan membahas dan memberikan pemaparan tentang hasil dari penerapan protokol VANET yaitu Geographic Source Routing (GSR) di jalan Sudirman Kota Pekanbaru. Pengujian ini dilakukan sesuai dengan skenario yang telah dirancang yaitu dengan menggunakan protokol GSR, pengujian pertama dilakukan dengan kendaraan yang digunakan berjumlah 10, 20, 30, 40 dan 50 node, hasil pengujian yang dianalisis berupa parameter throughput, end-to-end delay dan packet delivery ratio. Pengujian Skenario Jumlah Kendaraan Throughput Pengujian throughtput berdasarakan jumlah/node kendaraan yang bervariasi dapat dilihat pada tabel 2 dan gambar 4. MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 MALCOM-03. : 312-323 Tabel 2. Hasil Pengujian Skenario 1 Throughput No Pengujian Rata-Rata Jumlah Node (Kendaraa. Berdasarkan Tabel 2 hasil pengujian nilai throughput berdasarkan jumlah kendaraan yang berbedabeda mendapatkan hasil rata-rata tertinggi pada jumlah kendaraan 50 dengan nilai rata-rata 1084. 83 bps dan paling rendah pada 10 kendaraan dengan nilai rata-rata 468. 71 bps. bit per second Throughput 1046,90 1072,05 1084,83 739,29 468,71 Node Gambar 4. Grafik Pengujian Nilai Throughput Skenario 1 Berdasarkan gambar 4 menunjukkan hasil pengujian nilai throughput dari berbagai macam variasi banyak kendaraan dengan menggunakan kecepatan random mulai dari 10 km/jam hingga 50 km/jam dan menggunakan satu jenis RSU. Hasil simulasi menunjukkan bahwa protokol GSR mampu memberikan nilai kecepatan transfer paket menjadi lebih baik jika bertambahnya kendaraan. Hal ini dikarenakan GSR menggunakan metode RLS yaitu pengiriman berdasarkan node tetangganya, jika jumlah node/kendaraan semakin banyak maka node tujuan akan semakin cepat ketemu, terlihat nilai throughput tertinggi berada pada jumlah kendaraan terbanyak yaitu 50 kendaraan dengan nilai rata-rata 1084. 83 bps. End-to-end Delay Pada pengujian End-to-end delay, pengujian dilakukan dengan melihat lama waktu permintaan pengiriman dengan proses yang dilakukan. Pengujian dilakukan dengan variasi banyak kendaraan mulai dari 10, 20, 30, 40 dan 50 kendaraan. Tabel 3 dan gambar 5 menunjukkan hasil nilai End-to-end delay dari skenario variasi banyaknya kendaraan. Tabel 3. Hasil Pengujian Skenario 1 End-to-end Delay No Pengujian Rata-Rata Jumlah Node (Kendaraa. Tabel 3 menunjukkan hasil simulasi nilai End-to-end delay. Hasil simulasi paling rendah ditunjukkan pada jumlah node 30 dengan nilai rata-rata 2. 27 ms, sehingga banyaknya node ini yang paling cepat dalam Sedangkan yang paling lama ditunjukkan pada jumlah kendaraan rata-rata 40 kendaraan dengan nilai rata-rata 2. 59 ms. Penerapan Geographic Source Routing Pada V2I. (Chandra et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 End-to-end Delay 2,59 2,58 2,45 2,38 2,27 Gambar 5. Grafik Pengujian Nilai End-to-end delay Skenario 1 Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai End-to-end delay pada protocol GSR mengalami kenaikan dan penurunan, penurunan terjadi karena terjadi penumpukan permintaan sehingga sedikit mengalami delay. Packet Delivery Ratio Pada pengujian Packet delivery ratio dilakukan dengan skenario variasi kendaraan yang berbeda-beda, mulai dari 10, 20, 30, 40 dan 50 kendaraan. Tabel 4 dan gambar 6 menunjukkan hasil simulasi dengan protokol GSR. Tabel 4. Hasil Pengujian Skenario 1 Packet Delivery Ratio Pengujian Rata-Rata Jumlah Node Pada tabel 4 menunjukkan bahwa persentase nilai Packet delivery ratio paling rendah berada pada jumlah kendaraan 10 dengan nilai rata-rata sebesar 51. 94%, sedangkan yang paling tinggi berada pada jumlah kendaraan 30 dengan nilai rata-rata sebesar 94. Packet Delivery Ratio 89,53 94,21 87,39 87,34 51,94 Gambar 6. Grafik Pengujian Nilai Packet Delivery Ratio Skenario 1 Berdasarkan gambar 6 menunjukkan bahwa protocol GSR mengalami peningkatan dalam nilai Packet delivery ratio. Pengujian Skenario Kecepatan Kendaraan Pengujian ini dilakukan sesuai dengan skenario yang telah dirancang yaitu dengan menggunakan protokol GSR, pengujian kedua dilakukan dengan skenario kecepatan yang bervariasi mulai dari 10, 20, 30, 40 dan 50 km/jam. Hasil pengujian yang dianalisis berupa parameter throughput, end-to-end delay dan packet delivery ratio. MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 MALCOM-03. : 312-323 Throughput Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi kecepatan kendaraan yang berbeda-beda dengan kecepatan 10, 20, 30, 40 dan 50 km/jam. Tabel 5 dan gambar 7 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai throughput dengan variasi kecepatan yang berbeda-beda. Tabel 5. Hasil Pengujian Skenario 2 Throughput No Pengujian Rata-Rata Jumlah Node Tabel 5 menunjukkan nilai throughput terkecil berada pada kecepatan 10 km/jam dengan nilai ratarata sebesar 513. 8 bps, sedangkan nilai throughput terbesar berada pada kecepatan 40 km/jam dengan nilai rata-rata sebesar 1148. 03 bps. Throughput bit per second 1133,14 1148,03 1139,09 822,74 513,82 Kecepatan . m/ja. Gambar 7. Grafik Pengujian Nilai Packet Delivery Ratio Skenario 2 Gambar 7 menunjukkan nilai throughput mengalami peningkatan di setiap perubahan kecepatan semakin meningkat. End-to-end Delay Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi kecepatan kendaraan yang berbeda-beda dengan kecepatan 10, 20, 30, 40 dan 50 km/jam. Tabel 6 dan gambar 8 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai Endto-end delay dengan variasi kecepatan yang berbeda-beda. Tabel 6. Hasil Pengujian Skenario 2 End-to-end Delay No Pengujian Rata-Rata Kecepatan Tabel 6 menunjukkan nilai End-to-end delay terendah pada kecepatan 10 km/jam dengan nilai ratarata sebesar 1. 72 ms. Sedangkan nilai End-to-end delay tertinggi pada kecepatan 50 km/jam dengan nilai rata-rata sebesar 2. 51 ms. Penerapan Geographic Source Routing Pada V2I. (Chandra et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 End-to-end Delay 2,49 2,43 2,42 2,51 1,72 Kecepatan . m/ja. Gambar 8. Grafik Pengujian Nilai End-to-end delay Skenario 2 Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai End-to-end delay semakin tinggi. Hal ini bisa terjadi dimana kendaraan kecepatannya meningkat dan RLS tidak dapat menjangkau node tujuan. Packet Delivery Ratio Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi kecepatan kendaraan yang berbeda-beda dengan kecepatan 10, 20, 30, 40 dan 50 km/jam. Tabel 7 dan gambar 9 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai Packet delivery ratio dengan variasi kecepatan yang berbeda-beda. Tabel 7. Hasil Pengujian Skenario 2 Packet Delivery Ratio No Pengujian Rata-Rata Kecepatan Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Packet delivery ratio terendah yaitu pada kecepatan 10 km/jam dengan nilai rata-rata sebesar 95. 04%, sedangkan nilai Packet delivery ratio tertinggi berada pada kecepatan 50 km/jam dengan nilai rata-rata sebesar 95. 43 %. Packet Delivery Ratio 95,43 95,36 95,32 95,32 95,04 Kecepatan . m/ja. Gambar 9. Grafik Pengujian Nilai Packet Delivery Ratio Skenario 2 Gambar 9 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada nilai Packet delivery ratio dari kecepatan 10 km/jam ke kecepatan 20 km/jam, kemudian mengalami sedikit penurunan pada kecepatan 30 km/jam, tetapi setelah itu mengalami kenaikan lagi pada kecepatan 40 dan 50 km/jam. Pengujian Skenario Jumlah Variasi RSU Pengujian ini dilakukan sesuai dengan skenario yang telah dirancang yaitu dengan menggunakan protokol GSR, pengujian ketiga menggunakan skenario SRU yang bervariasi. Hasil pengujian yang dianalisis berupa parameter throughput, end-to-end delay dan packet delivery ratio. MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 MALCOM-03. : 312-323 Throughput Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi jumlah RSU yang berbeda-beda dengan jumlah 1, 2, 3 dan 4 RSU. Tabel 8 dan gambar 10 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai throughput dengan variasi jumlah RSU yang berbeda-beda. Tabel 8. Hasil Pengujian Skenario 3 Throughput No Pengujian Rata-Rata Jumlah RSU Tabel 8 menunjukkan bahwa nilai throughput terkecil dari skenario variasi jumlah RSU adalah pada jumlah 1 RSU dengan nilai sebesar 1047. 58 bps, sedangkan nilai throughput terbesar pada jumlah 4 RSU dengan nilai 1092. 62 bps. Throughput 1092,62 Bit per second 1073,35 1071,64 1047,58 Jumlah RSU Gambar 10. Grafik Pengujian Nilai Throughput Skenario 3 Pada gambar 10 menunjukkan nilai throughput pada skenario variasi jumlah RSU mengalami kenaikan di setiap penambahan RSU. Hal ini di sebabkan karena semakin banyaknya jumlah RSU memungkinkan jangkauan RLS semakin luas artinya letak kendaraan yang lumayan jauh masih dapat End-to-end Delay Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi jumlah RSU yang berbeda-beda dengan jumlah 1, 2, 3 dan 4 RSU. Tabel 9 dan gambar 11 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai End-to-end delay dengan variasi jumlah RSU yang berbeda-beda. Tabel 9. Hasil Pengujian Skenario 3 End-to-end Delay No Pengujian Rata-Rata Jumlah RSU Pada Tabel 9 menunjukkan nilai End-to-end delay dari skenario variasi jumlah RSU, nilai tercepat berada pada jumlah 1 RSU dengan rata-rata sebesar 2. 46 ms dan terlama berada pada jumlah 4 RSU dengan rata-rata nilai sebesar 2. 53 ms. Penerapan Geographic Source Routing Pada V2I. (Chandra et al, 2. ISSN(P): 2797-2313 | ISSN(E): 2775-8575 End-to-end Delay 2,54 2,52 2,48 2,46 2,44 2,42 2,53 2,50 2,48 2,46 Jumlah RSU Gambar 11. Grafik Pengujian Nilai End-to-end delay Skenario 3 Terlihat pada gambar 11 menunjukkan kenaikan nilai End-to-end delay dengan skenario variasi pada RSU. Packet Delivery Ratio Pengujian ini dilakukan dengan skenario variasi jumlah RSU yang berbeda-beda dengan jumlah 1, 2, 3 dan 4 RSU. Tabel 10 dan gambar 12 menunjukkan hasil simulasi untuk nilai Packet delivery ratio dengan variasi jumlah RSU yang berbeda-beda. Tabel 10. Hasil Pengujian Skenario 3 Packet Delivery Ratio No Pengujian Rata-Rata Jumlah RSU Terlihat pada tabel 10 menunjukkan nilai Packet delivery ratio dengan skenario variasi jumlah RSU. Nilai Packet delivery ratio terkecil berada pada jumlah 4 RSU dengan persentase rata-rata sebesar 97. dan nilai terbesar berada pada 2 RSU dengan persentase rata-rata sebesar 98. Packet Delivery Ratio 98,07 97,59 97,09 96,96 Jumlah RSU Gambar 12. Grafik Pengujian Nilai Packet Dellivery Ratio Skenario 3 Pada gambar 12 menampilkan grafik nilai PDR dimana protokol GSR mendapatkan nilai PDR yang meningkat lalu menurun, nilai PDR mengalami peningkatan pada jumlah RSU 2, peningkatan ini disebabkan karena ketika protokol GSR mengirimkan RREQ ke RSU terdekat yaitu 1 dan 2 tidak mengalami drop paket karena masih dalam jangkauan RLS. Namun ketika jumlah RSU 4, dimana RSU dihitung terlalu jauh dari RLS yang menjadi penyebab banyak paket yang langsung drop. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian penulis telah mendapatkan beberapa kesimpulan, adapun kesimpulan tersebut adalah hasil analisa dari penerapan protokol Geographic Source Routing terdiri dari tiga skenario. Skenario MALCOM - Vol. 3 Iss. 2 October 2023, pp: 312-323 MALCOM-03. : 312-323 pertama dengan variasi jumlah kendaraan mendapatkan nilai throughput tertinggi dalam skenario 50 jumlah dengan nilai rata-rata 1084. 83 bps dan nilai paling rendah dengan rata-rata 468. 71 dengan jumlah 10 kendaraan, nilai End-to-end delay tertinggi rata-rata sebesar 2. 59 ms dengan jumlah 40 kendaraan dan nilai terendah memiliki nilai rata-rata 2. 27 dengan jumlah 30 kendaraan dan nilai Packet delivery ratio tertinggi rata-rata sebesar 94. 21% pada jumlah 30 kendaraan dan nilai terendah memiliki nilai rata-rata 51,94% dengan 10 jumlah kendaraan. Skenario kedua dengan variasi kecepatan kendaraan mendapatkan nilai throughput tertinggi dengan nilai rata-rata 1148. 03 bps pada kecepatan 50 km/jam dan nilai terendah pada kecepatan 10 km/jam dengan rata-rata 513. 82, nilai End-to-end tertinggi dengan nilai rata-rata 2. 51 ms pada kecepatan 50 km/jam dan terendah pada kecepatan 10 km/jam dengan nilai rata-rata 1. 72 ms dan nilai Packet delivery ratio tertinggi dengan nilai rata-rata 95. 43% pada kecepatan 50 km/jam dan terendah pada 10 km/jam dengan rata-rata 95. Skenario ketiga variasi jumlah RSU mendapatkan nilai throughput tertinggi dengan nilai rata-rata 1092. 62 bps pada jumlah 4 RSU dan nilai rata-rata terendah adalah 1047. 58 bps pada variasi 1 RSU, nilai End-to-end tertinggi dengan nilai rata-rata 2. 53 ms dengan variasi 4 RSU dan terendah denga rata-rata nilai 2. 46 bps pada variasi 1 RSU dan terakhir nilai Packet delivery ratio tertinggi dengan nilai rata-rata 98. 07% pada variasi 2 RSU dan terendah dengan rata-rata 96. 96% pada variasi 1 RSU, berdasakan hasil analisis diatas maka bisa disimpulkan protokol Geographic Source Routing memang memiliki performa yang bagus serta peningkatan kecepatan kendaraan, jumlah variasi RSU sengat mempengaruhi nilai throughtput, end-to-end, dan packet delivery ratio dan hasil dari penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih disampaikan kepada semua pihak-pihak yang terlibat dan mendukung penelitian ini dari awal hingga selesai. REFERENSI