(JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. HUBUNGAN KECACINGAN Enterobius Vermicularis DENGAN PERSONAL HYGIENE ANAK SD USIA 7-10 TAHUN The Relationship Between Enterobius vermicularis Infection and Personal Hygiene in Children Aged 7Ae10 Years Kurniawan Dwi Akbar1. Yohani Mahtuti Erni2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maharani. Malang. Indonesia . kbardk29@gmail. com, yohanierni@stikesmaharani. ABSTRAK Infeksi Enterobius vermicularis tetap menjadi masalah kesehatan signifikan pada anak sekolah dasar, khususnya terkait praktik kebersihan diri. Penelitian kuantitatif deskriptif ini bertujuan hubungan antara personal hygiene dan kejadian infeksi pada 23 anak usia 7-10 tahun di SDN Bugul Kidul 1 Pasuruan melalui metode total sampling. Pengumpulan data melibatkan pemeriksaan swab perianal untuk deteksi telur cacing dan kuesioner kebiasaan kebersihan. Hasil menunjukkan 21,7% . terinfeksi, sedangkan 78,3% . bebas infeksi. Analisis korelasi Pearson mengungkap hubungan signifikan antara cuci tangan sebelum makan . =0,. serta cuci tangan pakai sabun-air bersih . =0,. dengan infeksi. Namun, kebiasaan tidak beralas kaki . =0,. dan potong kuku mingguan . =0,. tidak berhubungan Disimpulkan bahwa praktik higiene personal yang baik menurunkan risiko infeksi, sehingga edukasi berkelanjutan bagi anak dan orang tua diperlukan untuk pencegahan. Kata kunci: Enterobius vermicularis. Personal Hygiene. Anak SD ABSTRACT Enterobius vermicularis infection remains a significant health problem in primary school children, particularly in relation to personal hygiene practices. This descriptive quantitative study examined the relationship between personal hygiene and infection incidence in 23 children aged 7-10 years at SDN Bugul Kidul 1 Pasuruan through a total sampling method. Data collection involved perianal swab examination for worm egg detection and hygiene habits Results showed 21. 7% . were infected, while 78. 3% . were infection-free. Pearson correlation analysis revealed a significant association between hand washing before meals . =0. and hand washing with soap and clean water . =0. with infection. However, barefoot habit . =0. and weekly nail trimming . =0. were not significantly associated. It was concluded that good personal hygiene practices reduce the risk of infection, so continuous education for children and parents is needed for prevention. Keywords: Enterobius vermicularis. Personal Hygiene. Elementary School Children PENDAHULUAN Infeksi cacing tetap menjadi masalah kesehatan jangka panjang yang sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi dan kesehatan global yang signifikan. Persoalan Infestasi ini terutama berdampak pada populasi di merupakan penyakit endemik yang sangat wilayah berdaya ekonomi dan sosial rendah. Infeksi ini berpotensi mengakibatkan masalah mengubah kondisi tubuh, menurunkan status Penyakit-penyakit | 16 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. gizi, dan berdampak pada kesehatan secara kesadaran kebersihan seperti perilaku tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan Enterobius vermicularis, terkadang dikenal sebagai cacing kremi, adalah jenis cacing kebersihan kuku ditambah terbatasnya akses yang dapat menyebarkan infeksi. air bersih merupakan faktor kunci yang Faktor lingkungan dan suhu merupakan infeksi Enterobius Riset (Arismawati. Alifariki Fridayani, 2. menunjukkan prevalensi lebih tinggi pada Berdasarkan data kejadian, anak-anak wilayah dataran tinggi ketimbang daerah berusia 7Ae10 tahun merupakan kelompok Hal ini diduga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat di dataran tinggi yang Enterobius vermicularis. Tingginya angka kejadian pada kelompok usia ini berkaitan mengganti pakaian luar dan dalam setelah erat dengan pola hidup di lingkungan sekitar beraktivitas, yang kemudian menjadi salah serta pola pengasuhan dari orang tua. Anak- anak pada rentang usia tersebut cenderung (Lalangpulinga, 2. Berdasarkan . Enterobius WHO vermicularis termasuk jenis nematoda usus dengan manusia sebagai inang utamanya, berpotensi menimbulkan kebersihan sangat berpengaruh terhadap risiko infeksi. Enterobius vermicularis, dikenal juga sebagai Oxyuris Permenkes Nomor 15 Tahun 2017 menyoroti nematoda usus berbentuk seperti jarum kecil. Parasit ini, disebut cacing kremi, secara Indonesia, manusia, terutama daerah usus besar dan sanitasi yang tidak memadai. rektum (Noviati, 2. Manusia berperan Infeksi cacing di Indonesia menunjukkan sebagai satu-satunya inang bagi cacing ini. variasi prevalensi antara 2,5% hingga 62%. Infeksi yang disebabkan parasit tersebut Secara nasional, tingkat infeksi tercatat dinamai enterobiasis atau oksiuriasis (Rafika, 28,12%, peningkatan hingga 80% di beberapa lokasi. Penelitian ini tertarik untuk meneliti baik pedesaan maupun perkotaan. Rendahnya infeksi Enterobius vermicularis pada ana. 17 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. anak sekolah dasar usia 7Ae10 tahun, dengan Berdasarkan riset terdahulu pada siswa fokus pada faktor manusia yang memengaruhi sekolah dasar, infeksi cacing Enterobius vermicularis teridentifikasi (Lalangpuling et dengan kebersihan pribadi . igiene persona. , 2. Penelitian tersebut menerapkan Faktor-faktor tersebut meliputi kebersihan metode periplaswab, yakni menempelkan pribadi anak, serta kebersihan yang dijaga selotip di daerah anus untuk pengambilan oleh orang tua atau pengasuh, terutama pada Dari 31 sampel yang dianalisis, anak usia dini (Zulfa & Patricia, 2. sebanyak 10 sampel . ,81%) dinyatakan Infeksi ini dapat berdampak negatif positif terinfeksi. Sebaliknya, 23 sampel terhadap kondisi gizi anak, menurunkan . ,19%) menunjukkan hasil negatif terhadap infeksi tersebut. penurunan berat badan. Gejalanya pun sering Berdasarkan penelitian serupa dilakukan kali tidak tampak secara jelas atau bahkan oleh Putri et al. , 2020 dengan metode tanpa gejala. pewarnaan eosin menunjukkan bahwa dari 20 sampel yang diperiksa, sebanyak 12 . %) Higiene perorangan merupakan praktik memelihara kebersihan serta kesehatan fisik dan mental diri sendiri. Ketidakmampuan buruknya perawatan kebersihan pribadinya. Aspek ini memegang peranan krusial dalam kehidupan sehari-hari karena berdampak signifikan pada kondisi fisik dan psikologis Pandangan atau kesadaran individu positif Enterobius vermicularis. (Putri et al. Penelitian ini diselenggarakan di SDN Bugul Kidul 1. Kota Pasuruan. Kecamatan Bugul Kidul. Sekolah tersebut memiliki enam ruang kelas untuk jenjang kelas satu hingga Jumlah siswanya tidak terlalu banyak karena hanya berasal dari lingkungan sekitar. Kebiasaan dan budaya seseorang juga negatif Enterobius vermicularis dan 8 . %) berdampak langsung pada kesehatannya. Misalnya, sebagian kasus kematian bisa terjadi akibat kurang menjaga kebersihan, karena menganggapnya sebagai hal yang sepele (Tira et al. , 2. Observasi lapangan menunjukkan beberapa masalah terkait higienitas dan sanitasi: siswa kerap tidak mengenakan sepatu saat istirahat, fasilitas UKS kurang terawat, sarana cuci tangan tidak berfungsi optimal, kondisi toilet kurang bersih, serta ketiadaan sabun untuk Tujuan penyusunan karya ilmiah ini adalah | 18 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. mengenai risiko kesehatan akibat infeksi dilaksanakan di SD Bugul Kidul 1. Kota Berdasarkan Kegiatan Pasuruan, pada tanggal 21-25 Mei 2025. tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji Subjek penelitian mencakup populasi anak prevalensi infeksi Enterobius vermicularis di berusia 7-10 tahun, dengan jumlah sampel kalangan siswa SDN Bugul Kidul 1 berusia 7- sebanyak 23 anak yang diambil menggunakan 10 tahun. Oleh karena itu, kajian ini teknik Total Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuisioner, vermicularis dan sedangkan pengolahan data memanfaatkan kecacingan Enterobius praktik personal hygiene anak SD pada kelompok usia tersebut, yang tercermin dalam judul penelitian yang dipilih. perangkat lunak Excel dan SPSS. Alat dan bahan yang digunakan yaitu 1. Cellophane tape (Plastik pereka. Objek Glass. BAHAN DAN METODE Spatel Label. Handscoon. Mikroskop. Penelitian ini menerapkan pendekatan HASIL Tabel 1. Jawaban Kuisioner Siswa-Siswi SD Bugul Kidul 1 Kategori Minum Obat Cacing Hasil Kuisioner Tidak . Ya . Jumlah Presentase Tidak . Ya . Mencuci Tangan Sebelum Makan Tidak . Ya . Tidak . Ya . Tidak . Ya . Tidak . Ya . Mencuci Tangan Menggunakan Air Bersih Dan Sabun Pakai Alas Kaki Tidak . Ya . Tidak . Ya . Bermain Di Tanah Tidak . Ya . Tidak . Ya . Mengguting Kuku Tidak . Ya . Tidak . Ya . Data Primer 2025 Tabel 1 menunjukkan . mengonsumsi obat cacing. Sebanyak 2 91,3%) ,7%) tidak meminumnya karena | 19 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. absen sekolah, sebagaimana dikonfirmasi 11 siswa . ,8%) yang menggunakan alas Tabel Kebiasaan bermain di tanah (Tabel . 2 memaparkan bahwa 17 siswa . ,9%) dilaporkan oleh 16 responden . ,6%), baik mencuci tangan sebelum makan, sementara 6 di sekolah maupun di rumah setelah pulang. ,1%) tidak melakukannya. Terkait bahan pencuci tangan (Tabel . , 14 responden Tabel 6 mendokumentasikan . ,9%) menggunakan air bersih dan sabun, praktik perawatan kuku: mayoritas . siswa sedangkan 9 siswa . ,1%) tidak. Tabel atau 87,0%) tidak pernah memotong kuku 4 mengungkapkan 12 siswa . ,2%) tidak seminggu sekali, hanya 3 siswa . ,0%) yang memakai alas kaki sehingga terjadi kontak melakukannya secara rutin. ,4%) langsung antara telapak kaki dan tanah. Tabel 2. Korelasi Personal Hygiene Dengan Kecacingan Enterobius vermicularis Anak SD Bugul Kidul 1 Kategori Jawaban Frekuensi (N) Presentase (%) Nilai . P-Value Arah Korelasi Minum Obat Cacing Mencuci Tangan Sebelum Makan Mencuci Tangan Dengan Air Bersih dan Sabun Pakai alas Kaki Ya/Tidak Positif Ya/Tidak 001 (< Negatif Ya/Tidak (< 0. Negatif Ya/Tidak (> 0. Positif Bermain Di Tanah Ya/Tidak (> 0. Positif Mengguti ng Kuku Ya/Tidak (> 0. Negatif Pearson vermicularis dengan kebiasaan minum obat menunjukkan hubungan positif yang sangat cacing, berdasarkan nilai signifikansi 2-tailed lemah pada Tabel 1, dengan nilai r sebesar (Sig. ) sebesar 0,458 > 0,05. Data Primer 2025 Hasil 0,163. Tidak terdapat korelasi yang signifikan Enterobius Analisis korelasi Pearson pada Tabel 2 | 20 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. Hasil pada Tabel 5, dengan nilai r sebesar 0,349. signifikansi dua-ekor (Sig. = 0,. yang Peluang seseorang untuk meningkatkan skor lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa ujiannya meningkat seiring dengan frekuensi meningkatnya frekuensi mencuci tangan permainan ground play mereka. Temuan tes dan bermain di lapangan tampaknya tidak terinfeksi Enterobius berhubungan secara statistik, sebagaimana Perilaku cuci tangan menjadi ditunjukkan oleh nilai signifikansi 2-tailed (Sig. ) sebesar 0,103 > 0,05. -0,. terkontaminasi berpotensi menyebarkan telur Temuan Hasil analisis korelasi Pearson pada Tabel 6 menunjukkan hubungan negatif didukung oleh penurunan kasus meskipun antara pemasangan kuku sekali seminggu peningkatan hasil tes teramati minimal. dengan nilai r sebesar -0,204. Tidak terdapat Berdasarkan Tabel 3, analisis korelasi korelasi yang signifikan secara statistik antara Pearson menunjukkan hubungan negatif hasil tes dan pemasangan kuku sekali signifikan dengan helminthiasis . = -0,. seminggu, berdasarkan nilai signifikansi 2- Hasil uji mengindikasikan perbaikan kecil tailed (Sig. ) sebesar 0,350 > 0,05. pada kondisi tangan setelah penerapan cuci PEMBAHASAN tangan menggunakan sabun dan air bersih. Berdasarkan kajian Bedah dan Harun Signifikansi statistik (Sig. 2-taile. , infeksi Enterobius vermicularis pada 0,035, lebih kecil dari 0,05, membuktikan manusia terjadi melalui kontaminasi tangan bahwa sabun lebih efektif membersihkan atau benda oleh telur parasit ini. Penelitian kotoran tangan dibandingkan air tanpa sabun. Hubungan ditunjukkan oleh hasil uji analisis korelasi Analisis statistik menunjukkan Pearson sebesar -0,083 pada Tabel 4. Hasil tes sedikit membaik dengan mengenakan sepatu. frekuensi mencuci tangan sebelum makan dan Mengenakan sepatu tidak memiliki dampak infeksi . =0,196. p>0,. Prevalensi pada yang signifikan secara statistik terhadap skor tes dalam set data ini, menurut nilai mencapai 16,7%, berbanding 0,00% pada signifikansi 2-tailed (Sig. )sebesar 0,708 > kelompok yang jarang melakukannya. Data 0,05. Temuan Pearson mencuci tangan setelah buang air besar dan menunjukkan hubungan yang cukup positif infeksi tidak dilaporkan secara komprehensif | 21 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. dalam riset ini. Parasit ini berkembang biak penelitian mengindikasikan bahwa faktor dalam saluran pencernaan inang. dominan yang mempengaruhi tingginya Analisis korelasi Pearson hubungan angka kecacingan kemungkinan besar adalah rendahnya tingkat sanitasi lingkungan serta kecacingan Enterobius vermicularis. Nilai koefisien korelasi . = -0,. menunjukkan Rendahnya sanitasi dan higiene tersebut termanifestasi dalam kurangnya upaya anak Signifikansi statistik . = 0,. melebihi batas 0,05. Temuan ini mengindikasikan lingkungan sekitarnya. pemakaian alas kaki tidak berpengaruh Hasil anak-anak. signifikan secara statistik terhadap hasil didapatkan nilai . sebesar signifikansi 0. pemeriksaan kecacingan pada data penelitian. menunjukkan adanya hubungan yang bersifat Dengan demikian, tidak terdapat hubungan positif sedang, ketika seseorang bermain bermakna antara kebiasaan memakai alas kaki ditanah, semakin sering bermain di tanah, dan kejadian kecacingan di SD Bugul Kidul cenderung terdapat peningkatan hasil pada Hal ini didukung observasi bahwa sebagian Nilai Signifikansi (Sig. 2-taile. besar responden yang jarang memakai alas sebesar 0,103 > 0. 05 dapat disimpulkan bahwa, tidak dapat disimpulkan secara Berdasarkan analisis korelasi dalam meyakinkan bahwa kebiasaan bermain di penelitian ini, tidak ditemukan hubungan pemeriksaan hasil tidak signifikan secara signifikan secara statistik antara kebiasaan Meskipun erdapat kecenderungan memakai alas kaki dan kejadian kecacingan, hubungan positif antara kebiasaan bermain meskipun secara teoritis hubungan tersebut tanah dengan tingkat kecacingan, namun (Laudia et al. , n. ) mengamati hubungan tersebut tidak signifikan sehingga bahwa murid Sekolah Dasar umumnya tidak dapat disimpulkan adanya hubungan menunjukkan kesadaran rendah terhadap yang kuat anatara keduanya. kebersihan lingkungan dan personal. Perilaku Berdasarkan seperti tidak mengenakan alas kaki saat beraktivitas di luar rumah dan kontak aktivitas bermain di tanah dan kejadian langsung dengan tanah lazim ditemukan. Penelitian (Fahru Rizal Isyafa et Meskipun perilaku ini diduga berpotensi , 2. menyoroti keterkaitan antara meningkatkan risiko kecacingan, temuan keterbatasan akses fasilitas sanitasi yang tidak | 22 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. memadai dengan peningkatan infeksi STH. dengan pemeriksaan hasil tidak signifikan Pembuangan limbah rumah tangga yang tidak secara statistik. tepat turut mendukung transmisi helmints Berdasarkan Sanitasi ditemukan korelasi signifikan antara infeksi memfasilitasi kontaminasi tanah, air, dan Enterobius vermicularis dan kebersihan kuku makanan oleh tinja yang mengandung telur Temuan ini bertentangan dengan ekspektasi peneliti, karena secara teori, kuku Berdasarkan penelitian Halleyantoro et yang tidak bersih berpotensi menjadi media . , kuku jari yang panjang berpotensi Seperti dijelaskan (Pengabdian et menurunkan higenitas dan meningkatkan , 2. , kotoran di bawah kuku, termasuk risiko infeksi kecacingan. Kuku panjang dan telur cacing, dapat tertelan saat makan. kotor dapat menjadi media penularan karena Pertumbuhan kuku manusia mencapai 0,5Ae telur cacing mampu menempel padanya. 1,5 mm per minggu. Siswa Sekolah Dasar Selanjutnya, yang tidak memotong kuku minimal dua minggu sekali makanan atau minuman yang terkontaminasi. Kuku panjang yang tidak terjaga kontak dengan pakaian, atau melalui alas kebersihannya berpotensi menjadi tempat Meskipun kebersihan kuku sering disebut sebagai salah satu faktor penyebab mengandung mikroorganisme patogen dan kecacingan, temuan (Hajam et al. , 2. telur parasit. menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat kebersihan tangan dan kejadian infeksi KESIMPULAN DAN SARAN ilai p = 0,. Kesimpulan Dari hasil uji analisis korelasi Pearson Berdasarkan hasil penelitian tentang didapatkan nilai . sebesar signifikansi - Kecacingan Enterobius 204, menunjukkan adanya hubungan yang vermicularis dengan Personal Hygiene anak bersifat negatif, ketika mengguting kuku 1 Sekolah Dasar Usia 7-10 Tahun di SD Bugul minggu sekali. Nilai Signifikansi (Sig. Kidul 1 menunjukkan bahwa : sebesar 0,350> 0. 05 dapat disimpulkan Penelitian ini mengidentifikasi korelasi bahwa, tidak dapat disimpulkan secara infeksi Enterobius meyakinkan bahwa kebiasaan mengguting vermicularis dan kuku satu minggu sekali tidak ada hubungan perorangan, terutama terkait kebiasaan | 23 (JMLS) Journal of Medical Laboratory and Science Vol 5 No 2 . Oktober 2025 DOI: 10. 36086/medlabscience. mencuci tangan memakai sabun serta air tangan sebelum makan dengan air bersih bersih sebelum makan. dan sabun, memakai alas kaki saat Berdasarkan hasil penelitian ini yang bermain di luar rumah, mengguting kuku satu minggu sekali, dan memberi nasehat enterobius vermicularis dengan personal saat bermain di tanah, karena hal ini juga hygiene meliputi : memakai alas kaki, mengguting kuku 1 minggu sekali dan Enterobius vermicularis. bermain di tanah. Bagi Sekolah Sekolah perlu berperan aktif dalam pencegahan infeksi kecacingan melalui Integrasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan di awal sesi kelas. Penyediaan air bersih, sabun, dan sarana cuci tangan di lingkungan sekolah juga penting untuk membiasakan praktik higienis tersebut di kalangan siswa. Bagi Masyarakat Kesadaran tinggi masyarakat dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan domestik Hal pemeliharaan personal hygiene secara konsisten serta pengajaran praktik cuci tangan yang benar kepada anak sejak usia Bagi Orang Tua Bagi DAFTAR PUSTAKA Saran