Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra P-ISSN: 1978-8800. E-ISSN: 2614-3127 http://journal. um-surabaya. id/index. php/Stilistika/index Vol. 15 No. Juli 2022, hal 179-194 ANALISIS RESEPTIF ANGKATAN 2000 DALAM SASTRA INDONESIA RECEPTIVE ANALYSIS OF ANGKATAN 2000 DALAM SASTRA INDONESIA Muhri Muhri1*. Ana Yuliati2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. STKIP PGRI Bangkalan. Indonesia 1,2 muhri@stkippgri-bkl. id1, anayuliati@stkippgri-bkl. *penulis korespondensi Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Diterima: 30 Maret 2022 Direvisi: 16 Juni 2022 Disetujui: 27 Juli 2022 Angkatan 2000 sebagai bagian dari sejarah sastra pada mulanya ditolak oleh banyak sastrawan. Melalui perjalanan waktu. Angkatan 2000 tercantum dalam beberapa tulisan ilmiah. Dengan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerimaan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia dan usia sastrawan dan karya sebagai indikator klasifikasi sejarah sastra. Pada dasarnya penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Data kuantitatif tersebut dideskripsikan sehingga hanya menjadi data awal Sumber data utama berupa satu buku usulan Angkatan dan dua buku dan dua penelitian yang menanggapi. Metode analisis menggunakan metode analisis-deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa . Angkatan 2000 diterima sebagai bagian dari sejarah sastra indonesia dan . inklusi sastrawan dalam angkatan tidak mempertimbangkan usia sastrawan dan karya. Kata kunci: sejarah, sastra. Angkatan Article Info ABSTRACT Article history: Received: 30 March 2022 Revised: 16 June 2022 Accepted: 27 July 2022 Angkatan 2000 as part of literary history was initially rejected by many After a few year. Angkatan 2000 was listed in several scientific With this background, the purpose of this study is to describe the acceptance of Angkatan 2000 in Indonesian literature and the age of writers and works as a classification indicator of literary history. Basically, this research includes quantitative research. The quantitative data are then As a result, they are only preliminary data. The main data sources are one book as proposal and two books and two research articles as The descriptive-analytic is used as primary method. Based on the analysis, it can be concluded that . Angkatan 2000 is accepted as part of the history of Indonesian literature and . the inclusion of writers in the batch did not consider the age of the writers and works. Keyword: history, literature. Copyright A 2022. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra DOI: http://dx. org/10. 30651/st. PENDAHULUAN Dalam penulisan sejarah sastra Indonesia, model atau pendekatan angkatan merupakan sistem yang Model pendekatan sastra ini memiliki paling banyak tokoh, seperti H. Jassin. Rosihan Anwar. Ajip Rosidi, dsb. Model ini juga merupakan model yang jamak diajarkan di sekolah. Angkatan Balai Pustaka. Angkatan Pujangga Baru. Angkatan Ao45. Angkatan Ao50. Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 Angkatan Ao66. Angkatan 70. Angkatan Ao80, dan Angkatan 2000 adalah namanama yang populer dalam pembabakan atau klasifikasi sastra indonesia dengan menggunakan model ini. Hal ini disebabkan oleh pengusul model ini yaitu H. Jassin yang memiliki pengaruh paling besar di antara kritikus-krikus (Mahayana, 2017:. Kata angkatan dibatasi sebagai sekelompok orang yg sezaman . epaham ds. (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008:. Definisi nomor 4 ini tidak lagi ditemukan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V. Dalam KBBI V versi digital, angkatan ini ada pada definisi urutan 8 yaitu sekelompok sastrawan yang bertindak sebagai kesatuan yang berpengaruh pada masa tertentu dan secara umum menganut prinsip yang sama untuk mendasari karya sastra (Tim Penyusun KBBI Edisi Kelima. Meskipun berbeda lingkup, dua definisi ini memiliki dua kesamaan, yaitu Aosekelompok orangAo dan yang AosezamanAo. Kata lain atau kata yang bersinonim dengan angkatan adalah Dari muncul sebuah masalah. Angkatan atau generasi dalam sastra tidak sama dengan angkatan atau generasi dalam ketentaraan, dsb. Kelompok orang dalam sekolah dan tentara memiliki awal pengangkatan yang jelas, memiliki usia yang relatif sama, dan memiliki posisi dan tugas yang jelas. Akan ditemukan misalnya siswa SMA Angkatan 1990, siswa pelatihan keterampilan berbicara angkatan kedua tahun 1990, dsb. Dalam kesusastraan, generasi mengarah pada kata sezaman yang bisa berarti seumuran atau berkarya pada rentang waktu yang Jassin . alam Rampan, 2000:. mematok rentang 15 Ae 25 Maka jamak ditemukan rentang antar penulis termuda dan tertua dalam sebuah angkatan bisa mencapai 20 tahun, bahkan lebih. Dalam kehidupan nyata, orang yang usianya terpaut 20 tahun tidak akan bisa disebut satu generasi apalagi seangkatan. Masalah lain dari penetapan persoon ini terjadi karena buku-buku sejarah sastra memasukkan penulispenulis yang berbeda dalam buku yang mereka susun. Penetapan ini didasarkan antara lain kedekatan penulis sejarah dengan persoon sastrawan tertentu, referensi yang beragam, dan penafsiran yang berbeda tentang penetapan persoon dalam sebuah angkatan. Angkatan 2000 adalah salah satu AubermasalahAy. Buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia . sebagai pernyataan proklamasi Angkatan 2000 mendapat penentangan dari berbagai Penolakan tersebut tidak secara terang dilakukan. Yudiono K. mencantumkan buku tersebut dalam bukunya Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Padahal buku ini terbit setelah tujuh tahun Angkatan 2000 Penolakan dilakukan oleh beberapa penulis Mujiyanto & Fuady . Dalam buku Kitab Sejarah Sastra Indonesia, mereka tetap mencantumkan Angkatan 2000, tetapi membahas sastra dekade 1990-an secara terpisah. Mereka juga reformasi yang oleh rampan tidak Hal serupa dilakukan oleh Aveling . Penolakan tersebut juga ditunjukkan dengan kegagalan Rampan Bahkan, buku kedua yang dijanjikan tidak pernah terbit. Selain masalah penolakan, buku Rampan Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 tersebut bermasalah dalam penetapan Inklusi sastrawan dilakukan tanpa mempertimbangkan segi usia seperti pendapat Jassin di atas. Jassin secara spesifik menetapkan usia sastrawan sekitar 25 tahun saat sebuah angkatan dicetuskan . 3:35-. Dalam buku Rampan tersebut terdapat sastrawan yang dimasukkan dalam angkatan 2000 yang usianya 40 tahun, bahkan lebih. Sastrawan tersebut antara lain Acep Zamzam Noor. Afrizal Malna. Ahmadun Yosi Herfanda. Bre Redana. Irawan Sandhya Wiraatmaja. Isbedy Stiawan Zs. Jujur Prananto. Kriapur. Maman S. Mahayana. Rani Rachmani Moediarta. Rayni N. Massardi. Remmy Novarais D. Seno Gumira Ajidarma. Sirikit Syah, dan Wahyu Wibowo. Sastrawansastrawan dimasukkan pada generasi sebelumnya. Meskipun demikian, melalui perjalanan waktu. Angkatan 2000 ternyata diterima sebagai bagian dari sejarah sastra Indonesia. Hal ini terbukti dari pencantuman Angkatan 2000 dalam tulisan ilmiah, baik secara eksplisit maupun secara implisit. Dengan mendasarkan pada latar belakang tersebut, diajukan sebuah penelitian berjudul Auanalisis Reseptif Angkatan Sastra IndonesiaAy. Dengan latar belakang ini, penelitian yang mendalam diperlukan untuk memberi kejelasan siapakah yang termasuk dalam sebuah angkatan. Selanjutnya, penelitian ini hendak bermula dari tiga masalah utama yaitu: Angkatan 2000 dalam Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia karya Korrie Layun Rampan, bagaimana resepsi penulis sejarah sastra terhadap tokoh Angkatan Dalam Sastra Indonesia karya Korrie Layun rampan, dan bagaimana faktor usia dalam penetapan . sastrawan ke dalam Angkatan 2000. METODE Secara mendasar penelitian ini lebih menekankan pada kuantitas, yaitu angka usia sastrawan pada angka tengah awal dan akhir sebuah angkatan. Ditinjau dari hal ini penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Analisis kuantitatif tersebut kemudian dijabarkan dalam bentuk Deskripsi tersebut diperoleh dari hal-hal yang berkaitan dengan sastrawan selain usia. Misalnya Joko Pinurbo yang secara usia seusia dengan sastrawan 70/80-an namun ditinjau dari karya berada di lingkup 2000-an. Ditinjau dari hal ini, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Secara keseluruhan penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif deskriptif. Pendekatan menggunakan pendekatan reseptif yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada resepsi atau tanggapan pembaca. Pembaca dalam penelitian ini adalah pembaca-pembaca mempublikasikan hasil kritik dan ulasannya dalam bentuk buku dan laporan atau artikel ilmiah hasil Pendekatan resepsi ini pendekatan yang lebih mengarah pada pendekatan pragmatik dari pada mimetik, ekspersif, dan/atau objektif. Model sejarah sastra yang digunakan adalah model angkatan atau Ditinjau dari pendekatan kritik model ini cenderung masuk ke dalam pendekatan tradisional yang lebih menitik beratkan pada tokoh Model ini juga cenderung berdasarkan peristiwa-peristiwa politik. Sesuai dengan pendekatan dan teori, sumber data penelitian ini adalah Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 berupa dokumen. Dokumen tersebut berupa buku sejarah sastra, hasil penelitian, dan artikel pada media massa, baik cetak maupun elektronik. Dua sumber data pertama adalah sumber data primer, sedangkan sumber data ketiga adalah sumber data Penyertaan artikel media massa tersebut sebagai pelengkap terutama dalam hal biografi penulis yang tidak semua buku bisa dijangkau. Data penelitian berupa namanama sastrawan dalam sumber data. Nama tersebut kemudian dicari data biografinya dengan informasi yang paling penting adalah tanggal lahir dan awal berkarya. Penetapan sastrawan tersebut berdasarkan inklusi dalam tulisan-tulisan ilmiah. Buku utama sebagai usulan atau cetusan Angkatan 2000 adalah Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan . Selain buku utama ini ada dua buku sejarah sastra dan dua penelitian tentang Angkatan 2000. Dua buku tersebut yaitu Pengantar Sejarah Sastra Indonesia yang ditulis oleh Yudiono . dan Kitab Sejarah Sastra Indonesia ditulis oleh Yant Mujiyanto dan Amir Fuady . Dua penelitian yang dijadikan sumber penelitian yaitu AuPotret Eksploitasi Perempuan Oleh Penulis Perempuan Dalam Susastra Angkatan 2000-An: Kajian Feminisme Dalam Susastra Indonesia. Ay Penelitian oleh Nanik Setyawati. Zainal Arifin. Larasati, and Icuk Prayogi . dan AuSudut Pandang Feminisme Pengarang Perempuan dan Pengarang Laki-Laki Terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel Angkatan 2000. Ay Penelitian oleh Sofiatin. Dadang Sunendar. Sumiyadi, and Andoyo Sastromiharjo . Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber primer yaitu objek penelitian berupa buku dan penelitian yang tercantum tersebut. Sesuai dengan sumber data, data dikumpulkan dari objek penelitian di Analisis data menggunakan metode analisis-deskriptif. Data yang terkumpul dianalisis, diberi skor kemudian dideskripsikan. Langkah atau prosedur penelitian melalui Tahapan tersebut dimulai menganalisis data dengan memetakan sastrawan berdasarkan yang tertulis dalam buku dan artikel ilmiah dan membuat tabel berdasarkan awal karya dan usia. Setelah koleksi dan tabulasi data, langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan hasil temuan dan menyimpulkan berdasarkan temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Sastrawan Angkatan 2000 dalam Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia Oleh Korrie Layun Rampan Sebagai sebuah cetusan. Angkatan 2000 dicetuskan oleh Korrie Layun Rampan (KRL) dengan buku antologi Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang terbit tahun 2000. Buku ini tidak sepenuhnya diterima. Hal ini terbukti dari gagalnya penjualan buku ini sehingga buku kedua tidak pernah Terlepas dari gagalnya buku ini menarik minat pembaca, ternyata Angkatan 2000 tetap menjadi bagian dari sejarah sastra Indonesia. Hal ini terbukti dari adanya bab atau sub-bab yang mengulas atau memasukkan Angkatan 2000 sebagai bagian dari pembabakan atau periodisasi sastra dalam buku sejarah sastra dan penelitian sejarah sastra. Korrie Layun Rampan mengikuti klasifikasi dengan sistem angkatan atau generasi seperti Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 yang dilakukan oleh H. Jassin. Bahkan, dalam Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir yang berkelindan dengan buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. KLR mendedikasikan buku itu terutama Auuntuk guruku: Dr. JassinAy (Rampan, 2009:vi. Seperti Jassin. KLR mengklasifikasi sejarah sastra menjadi angkatan-angkatan yaitu: Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an . Angkatan Pujangga Baru atau Angkatan 33 . Angkatan Ao45 . Angkatan Ao66 . Angkatan Ao70/Ao80 . Angkatan (Rampan, 2000:xxi. Seperti pada masalah penelitian, pada sub bagian ini diulas siapa saja yang ditetapkan sebagai sastrawan Angkatan 2000 oleh Korrie Layun Rampan. Seperti diketahui, buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia . merupakan buku yang pertama kali mencetuskan Angkatan 2000. Selanjutnya penerimaan oleh penulis sejarah sastra yang menulis karya mereka setelah terbitnya buku Angkatan Sastra Indonesia. Pada buku tersebut dicantumkan 76 sastrawan beserta karyanya dalam bentuk antologi. Daftar nama sastrawan tercantum pada Sebagai sebuah cetusan, buku ini memiliki kelemahan yang signifikan. Salah satu kelemahan buku ini adalah adanya sebagian tokoh yang sudah populer pada generasi sebelumnya namun dimasukkan ke dalam Angkatan Afrizal Malna. Acep Zamzam Noor. Abidah El Khalieqy. Isbedy Stiawan Zs. Soni Farid Maulana, dsb. adalah beberapa tokoh yang sudah dikenal pada 1980-an. Selain itu, buku ini juga terkesan tergesa-gesa Untuk angkatan yang bertajuk angka 2000, buku ini terbit pada tahun tersebut dan memuat karya sastra tahun 1990-1999 (Rampan, 2000:xx. Padahal sebuah angkatan seharusnya memiliki ruang sebelum dan sesudah angka tahun. Angkatan 45 misalnya memasukkan tokoh sastrawan yang menulis zaman Jepang juga sastrawan sesudah tahun Angkatan 45 dan Angkatan 66, dengan demikian, beririsan pada masa transisi antara tahun 1945 dan 1966. Ketergesagesaan tersebut berakibat pada adanya sejumlah sastrawan yang aktif menulis pada tahun 2000-an tidak dicantumkan dalam buku tersebut. Djenar Maesa Ayu adalah salah satu tokoh 2000-an yang tidak tercantum dalam Angkatan 2000 usulan Rampan. Jika ditinjau dari karya, karya Djenar Maesa Ayu diterbitkan awal 2000-an dan memiliki semangat Angkatan 2000 seperti pada karya Ayu Utami yang ditetapkan sebagai pelopor novel. Nama-nama yang tidak tersebut dalam buku ini kemudian ditulis oleh penulis sejarah sastra yang meresepsi karya Rampan tersebut. Resepsi Penulis dan Peneliti Sejarah Sastra terhadap Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia karya Korrie Layun Rampan Setelah terbitnya Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan, terbit beberapa buku dan penelitian terkait dengan Angkatan 2000. Penamaan angkatan tidak harus sama dengan cetusan seperti yang dilakukan oleh Korrie Layun Rampan. Berikut tanggapan buku-buku dan penelitianpenelitian sejarah sastra Indonesia terhadap Angkatan 2000. Buku-buku Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 sejarah sastra Indonesia tersebut diurut berdasarkan tahun terbit. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia . oleh Yudiono Berbeda dengan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, buku ini tidak Pendektatan sejarah sastra yang digunakan dalam buku ini bukan didasarkan pada pengarang yang cenderung ekspresionis seperti pada sistem Angkatan. Buku ini juga tidak menggunakan sistem periode dan kritis seperti pada buku A. Teeuw Modern Indonesian Literature . yang cenderung berpendekatan objektif. Buku ini juga tidak berpendekatan periodis seperti buku Ajip Rosidi Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia . Yudiono (YKS) mengajukan pembagian perkembangan kesusastraan menjadi empat bagian . Masa Pertumbuhan 1900-1945 . Masa Pergolangan 1945-1965 . Masa Pemapanan 1965-1998 . Masa Pembebasan 1998-Kini Ditinjau dari rentang waktu dan YKS menggunakan pendekatan sosio-politik sebagai pembabakan dalam sejarah Masa pertumbuhan dimulai dengan 1900 yang merupakan awal bangkitnya Budi Utomo. pergolakan dimulai pada angka tahun Indonesia. pemapanan berangka tahun 1965 yang merupakan tahun keruntuhan Orde Lama dan lahirnya Orde Baru. masa pembebasan yang berangka tahun runtuhnya Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi. Pada keempat masa tersebut, masa pembebasan adalah masa paling dekat dengan Angkatan Pendekatan politis terlihat pada dasar pembabakan atau klasifikasi. Angka tahun yang digunakan selalu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa politik nasional. Selain itu latar belakang klasifikasi selalu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa politik Pendekatan sosiologis, di sisi lain, mengingat uraian dalam buku ini berkaitan dengan hal-hal seputar sastra yang berada di luar sastra misalnya lomba-lomba komunitaskomunitas sastra, dsb. Dalam buku ini YKS seperti Akibatnya, ada kerancuan tokoh satu Dalam masa pembebasan misalnya dibahas Pramoedya Ananta Toer yang dibahasnya sebagai tokoh masa pergolakan. Pramoedya juga dibahas pada Masa Pemapanan dan Masa Pembebasan. Karya Pramoedya masuk dalam bacaan terpilih pada tiga masa dari empat masa yang ditawarkan YKS. Hal ini membingungkan pembaca yang sudah terbiasa dengan pola angkatan dan periode. Dalam buku ini YKS, secara tidak langsung, menolak Angkatan 2000 yang dicetuskan oleh KLR. Penolakan ditunjukkan dengan tidak dicantumkannya buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia sebagai referensi pada daftar pustaka. Padahal, tidak mungkin sebuah buku sejarah sastra yang terbit 2007 tidak mengenal buku KLR yang terbit pada tahun 2000. Paling tidak buku tersebut bisa dijadikan rujukan sebagai sebuah Selain tidak ada dalam daftar YKS pembabakan sejarah sastra Indonesia Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 secara berbeda dengan model generasi atau angkatan yang jamak dikenal. Penolakan ditunjukkan bahwa 19901999 yang diusulkan KLR dimasukkan sebagai masa pemapanan 1965-1998. Sepintas rentang waktu KLR masuk dalam masa pemapanan. Namun ternyata YKS mengusulkan Masa Pembebasan yang rentang waktunya ditulis 1998-kini. Dengan ini YKS seperti menyatakan bahwa pergantian generasi dari Orde Baru menuju Orde Reformasi dimulai tahun 1998 sebagai tanda kejatuhan Orde Baru. Karena sifat pendekatan yang terlalu sosio-politis ini, buku ini hampir tidak memotret unsur kekhususan sistem karya sastra dan ketokohan dalam setiap masa. Buku ini hanya berharga jika pembaca hendak melihat peristiwa sastra dari sudut pandang murni di luar sistem sastra. Secara tidak langsung, tetap bisa dinyatakan bahwa buku ini menanggapi Angkatan 2000 dengan penolakan. Tanggapan atau resepsi tersebut ditunjukkan dengan penggunaan latar belakang yang sama antara Angkatan 2000 dengan Sastra Masa Pembebasan yaitu sama-sama didasarkan pada peristiwa sosio-politik keruntuhan Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi. Bedanya. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia memotret karya menjelang runtuhnya Orde Baru antara 1990-2000, sedangkan sastra masa pembebasan dalam buku YKS memotret pasca runtuhnya Orde Baru yaitu mulai 1998-sekarang. Pada buku YKS ini disebutkan secara terpencar sejumlah penulis yang baru berkiprah pada masa pembebasan. Berdasarkan kiprah tersebut, di antara tokoh yang disebutkan, penulis baru inilah yang layak dimasukkan sebagai penulis masa pembebasan. YKS menyebutkan penulis-penulis muda pada tahun 2000-an antara lain Agus Noor. Ane Balgis. Anto Narasoma. Anwar Putra Bayu. Laksana. Beni Setia. Diyan Kurniawan. Djenar Maesa Ayu. Eka Kurniawan. Fira Basuki. Helvy Tiana Rosa. Jajang B. Kawentar. Muhammad Syafiq. Nurhayat Arif Permana. Oka Rusmini. Puthut E. Putu Fajar Arcana. Putu Vivi Lestari. Raudal Tanjung Banoa. Shanti Syarif. Taufik Wijaya, dan Wayan Sunarta. Tokoh-tokoh ini adalah tokoh-tokoh yang aktif pada tahun 2000-an. Kitab Sejarah Sastra Indonesia . oleh Yant Mujiyanto dan Amir Fuady Berbeda dengan YKS yang menolak atau menjadi antitesis KLR, dalam buku Kitab Sejarah Sastra Indonesia. Yant Mujiyanto dan Amir Fuady (YM-AF) menjadi sintesis dari dua buku pertama. Buku yang terbit 2014 ini, menggabungkan kedua buku di atas dengan menyebut dalam judul bab AuSastra Dekade 90-an dan Angkatan 2000Ay (Mujiyanto and Fuady, 2014:. Buku ini juga mengikuti model penulisan sejarah sastra dengan sistem angkatan. Klasifikasi sastra menggunakan pola klasifikasi yang sama dengan KLR di Buku ini menyebutkan sebagian besar nama-nama yang disebutkan dalam buku KLR dan YKS dan ditambah tokoh-tokoh yang berbeda dua buku sebelumnya. AuPotret Eksploitasi Perempuan oleh Penulis Perempuan dalam Susastra Angkatan 2000-An: Kajian Feminisme Dalam Susastra Indonesia. Ay . Penelitian oleh Nanik Setyawati. Zainal Arifin. Larasati, and Icuk Prayogi. Penelitian ini fokus pada eksploitasi perempuan. Tidak seperti buku sejarah sastra yang menetapkan Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 sejumlah tokoh sebagai bagian dari sebuah angkatan, penelitian ini memusatkan perhatian pada empat penulis perempuan, yaitu Ayu Utami. Dewi Lestari. Djenar Maesa Ayu, dan Fira Basuki. Sayangnya, pembatasan ini tidak disertai dengan daftar penulis Angkatan 2000. Dalam hal penamaan, penelitian ini menyebut Angkatan 2000 dengan Angkatan 2000-an. Penamaan terkesan penetapan Angkatan 2000 seperti yang ditetapkan oleh KLR yang mendaftar anggota angkatan. Selain itu dari empat nama penulis perempuan tersebut, hanya Ayu Utami yang terdapat dalam buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. AuSudut Pandang Feminisme Pengarang Perempuan Pengarang Laki-Laki Terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel Angkatan 2000Ay . Penelitian oleh Sofiatin. Dadang Sunendar. Sumiyadi. Andoyo Sastromiharjo Seperti penelitian sebelumnya, penelitian ini menulis secara eksplisit AuAngkatan 2000Ay. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, penelitian ini hanya memasukkan tokoh-tokoh penulis Pembagian penulis, sesuai dengan fokus penelitian, didasarkan pada jenis kelamin, yaitu penulis atau pengarang laki-laki dan perempuan. Dari jumlah tersebut dalam penelitian, ada satu kejanggalan dalam penelitian tersebut. Ihsan Abdul Quddus dengan novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan Ae setelah ditelusuri Ae merupakan penulis Mesir. Buku novel Selain itu, tidak ada penjelasan asal rujukan tabel sastrawan Angkatan 2000 tersebut. sastrawan juga tidak disertai alasan yang memadai. Dengan demikian, bisa dinyatakan bahwa pemasukan tokoh dalam daftar merupakan ijtihad dari para peneliti tersebut. Usia sebagai Indikator Penetapan Sastrawan dalam Angkatan 2000 Seorang ilmuwan sejarah sastra memasukkan nama sastrawan ke dalam sebuah angkatan tentu melalui pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan yang dipakai seharusnya pertimbangan objektif dan dilakukan dengan teliti dan tersistem untuk melahirkan sebuah acuan terhadap pemahaman generasi sastra yang juga memudahkan pemahaman terhadap perkembangan kesusastraan nasional. Berdasarkan penelitian terhadap sumber-sumber ilmiah tentang sejarah sastra di atas, ternyata penulisan sejarah sastra tidak sepenuhnya dilakukan dengan baik dan cermat. Hal ini bisa disimak pada pencantuman tokoh sastrawan yang dimasukkan dalam Angkatan 2000. Rentang usia dari tokoh sastra tersebut 57 tahun. Dari daftar tersebut sastrawan tertua kelahiran 1925 dengan usia 75 pada Sastrawan termuda kelahiran 1982 dengan usia 18 tahun pada tahun 2000. Tahun 2000 merupakan titik tengah Angkatan 2000 memanjang dari 1990 Ae 2010. Pertanyaannya, bisakah seseorang yang berjeda 57 tahun dianggap sebagai satu Pertanyaan retoris tersebut bisa dijawab dengan menilik kembali arti kata angkatan. Kata ini pada tingkatan tertentu memiliki kesamaan dengan Dengan mengganti kata tersebut dengan sinonimnya, yaitu kata generasi. Angkatan 2000 atau 2000-an mengacu pada sastrawan-sastrawan pada miliu angka 2000, bisa 5 sampai Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 10 tahun sebelum dan sesudah angka 2000 tersebut. Dengan kata lain generasi sastrawan 2000-an adalah sastrawan-sastrawan yang berkarya pada miliu tahun 2000. Jassin menggunakan rentang 15 Ae 25 tahun. Untuk memudahkan pelacakan, usia sastrawan bisa menjadi indikator pertama sabelum menentukan karya. Jassin . dalam Angkatan 66 Prosa dan Puisi menyatakan bahwa yang termasuk dalam Angkatan 66 adalah sastrawan yang pada tahun 1966 berusia kira-kira 25 tahun. Ajip Rosidi . dengan sudut pandang sastrawan muda yang terlibat dalam polemik dan pembaruan rata-ratu berusia 30-an tahun. Berdasarkan angka 25 dan 30 dari Jassin dan Ajip Rosidi, bisa ditetapkan bahwa Angkatan 2000 adalah sastrawan-sastrawan yang pada tahun tersebut berusia 20 Ae 35 tahun. Karena bukan indikator satu-satunya, angka tersebut bisa ditoleransi 5 tahun sesudah atau sebelum rentang tersebut Toleransi ini misalnya pada kasus seorang sastrawan yang sudah menulis dari kecil sehingga menghasilkan karya yang sudah matang sebelum usia 20 tahun atau sebaliknya ada sastrawan yang terlambat dalam berkarya sehingga menghasilkan karya di usia lebih dari 30 tahun pada tahun 2000-an. Untuk mendeskripsikan hal tersebut berikut disajikan ulasan tentang sumber-sumber tersebut. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan. Pada buku ini, ada beberapa sastrawan yang usianya pada tahun 2000 telah mencapai 40 tahun. Sebagai anggota sebuah angkatan usia tersebut sudah terlalu matang. Hal ini kemudian sastrawansastrawan tersebut telah berkarya pada tahun 1980-an atau telah berkarya 20 Jika menilik kelayakan, tokoh-tokoh dimasukkan pada Angkatan 80. Namanama tersebut antara lain: Ahmadun Yosi Herfanda. Bre Redana. Dimas Arika Miharja. Faruk H. Irawan Sandhya Wiraatmaja. Isbedy Stiawan Zs. Jujur Prananto. Kriapur. Maman S. Mahayana. Rani Rachmani Moediarta. Rayni N. Massardi. Remmy Novarais . Seno Gumira Ajidarma. Sirikit Syah. Wahyu Wibowo. Yanusa Nugroho, dan Zoya Herawati. Penulispenulis tersebut berusia 40 bahkan di atas 40 tahun pada tahun 2000 yang merupakan titik tengah Angkatan 2000. Sastrawan tersebut juga sudah berkarya pada tahun 1980-an. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia oleh Yudiono K. YKS dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia secara spesifik menyebutkan penulis-penulis baru dari jalur penerbitan (K. , 2007:. Dari semua daftar penulis dalam berbagai kategori, kategori inilah yang lepas dari tumpang-tindih daftar nama angkatan. Meskipun, hampir tidak menemui kejanggalan usia, namun beberapa sastrawan yang terdapat dalam daftar tersebut sulit dicari datanya, baik profil penulis maupun karyanya. Nama-nama yang janggal secara usia, misalnya Anto Narasoma usia 40 tahun pada tahun 2000. Anwar Putra Bayu usia 40 tahun, dan Beni Setia usia 46 tahun. Ditinjau dari karya yang sudah diterbitkan ketiga nama tersebut sudah menerbitkan karya sastra mereka pada tahun 80-an. Anto Narasoma (AN) sudah menerbitkan buku sejak 1988 (Narasoma, n. Penulis ini bisa ditoleransi mengingat karya awalnya Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 berangka tahun 1988 sudah agak jauh dari angka tengah 1980. Serupa dengan AN. Anwar Putra Bayu (APB) juga sudah menulis tahun 1983 ketika masih sangat muda. Akan tetapi kiprahnya dalam kesusastraan baru dimulai pada awal dan sesudah 1990-an. Kitab Sejarah Sastra Indonesia ditulis oleh Yant Mujiyanto dan Amir Fuady Pada buku ini, ada beberapa nama yang dimasukkan dalam Angkatan 2000, tetapi sastrawan tersebut sudah berusia di atas 40 tahun pada tahun Sastrawan tersebut adalah: Achmad Munif. Andrik Purwasita. Zawawi Imron. Rahardi. Mukti Sutarman. Riantiarno. Pandir Kelana. Remy Sylado, dan Yant Mujiyanto. Dari nama-nama, tersebut Pandir Kelana (PK) tertua. PK telah berusia 75 tahun pada tahun 2000. Ditinjau dari karya. PK telah menulis novel pada 1981. Nama ini lebih cocok untuk dimasukkan dalam angkatan 70/80. Achmad Munif (AM) berusia 55 pada tahun 2000. Penulis ini dilahirkan pada tahun 1945. Meskipun termasuk senior pada tahu 2000. AM baru menerbitkan buku pada tahun 2000-an. Dengan demikian. AM masih layak dimasukkan dalam Angkatan 2000-an. Dengan karakteristik yang sama Andrik Purwasita. Mukti Sutarman, dan Yant Mujiyanto. Hal tersebut berbeda dengan D. Zawawi Imron. Raintiarno dan Remy Sylado (Yapi Tambayon. Tokoh-tokoh tersebut sudah populer pada tahun 1980-an. Dengan demikian, tokoh-tokoh tersebut lebih cocok dimasukkan dalam Angkatan 70/80. AuPotret Eksploitasi Perempuan oleh Penulis Perempuan dalam Susastra Angkatan 2000-An: Kajian Feminisme Dalam Susastra Indonesia. Ay Penelitian oleh Nanik Setyawati. Zainal Arifin. Larasati, and Icuk Prayogi. Pada perempuan ini disebutkan hanya empat Tokoh sastra tersebut adalah Ayu Utami. Dewi Lestari. Djenar Maesa Ayu. Fira Basuki. Tokoh-tokoh sastra tersebut berusia 25 sampai 30 tahunan pada tahun 2000. AuSudut Pandang Feminisme Pengarang Perempuan Pengarang Laki-Laki Terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel Angkatan 2000. Ay Penelitian oleh Sofiatin. Dadang Sunendar. Sumiyadi. Andoyo Sastromiharjo Ada beberapa nama yang ditinjau dari usia mengandung kejanggalan dalam karya penelitian ini. Nama-nama tersebut, yaitu: Ahmad Tohari. Budi Sardjono. Cristine Hakim. Emha Ainun Nadjib. Mustofa Wahid Hasyim. Nh. Dini. Pramudya Ananta Toer. Putu Wijaya. Remy Sylado, dan T. Thamrin. Penulis tersebut, pada tahun 2000 telah berusia lebih dari 40 tahun. Bahkan ada beberapa nama yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Beberapa nama sudah dikenal pada angkatan Nh. Dini dan Pramudya Ananta Toer, misalnya, telah dikenal pada Angkatan 66. Ahmad Tohari. Emha Ainun Nadjib. Putu Wijaya, dan Remy Sylado telah dikenal sebagai tokoh Angkatan 70/80. Berdasarkan kriteria usia dan usia karya, dua dimasukkan dalam Angkatan 2000. Budi Sardjono. Mustofa Wahid Hasyim, dan T. Thamrin tidak terlalu dikenal pada angkatan sebelumnya. Ketiga tokoh ini produktif di usia tinggi Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 sehingga lebih dikenal pada 2000-an. Karena itu, nama-nama tersebut bisa dimasukkan dalam Angkatan 2000. Kasus berbeda pada Andi Eriawan dan Anggi D. Widowati. Kedua nama ini tidak bisa ditelusuri tahun lahir Namun, ditinjau dari usia karya, mereka menulis setelah tahun Anggi D. Widowati menulis novel antara lain Langit merah Jakarta . Laras . , dan Ibuku (Tida. Gila . Andi Eriawan menulis novel antara lain Always. Laila . Love For Show . , dan Ruang Rindu . Berdasarkan usia karya kedua penulis ini dapat dimasukkan ke dalam Angkatan 2000. Klasifikasi Sastrawan Berdasarkan Usia Setelah analisis resepsi dan analisis nama-nama sastrawan yang masuk dalam angkatan Berikut disajikan nama-nama sastrawan yang dikutip dari sumber penelitian tersebut. Abdul Wachid B. Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Achmad Munif Adi Wicaksono Afifah Afra Amatullah Afrizal Malna Agus Noor Agus R. Sarjono Ahmad Fuadi Ahmad Nurullah Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmadun Yosi Herfanda Alberthiene Endah Andrea Hirata* Andi Eriawan Andrik Purwasita Ane Balgis Anggi D. Widowati Anto Narasoma Anwar Putra Bayu Arie M. Tamba Arif B. Prasetyo Laksana Aslan A. Abidin Asma Nadia Ayu Utami Beni R. Budiman Beni Setia Bre Redana Budi Sardjono Cecep Syamsul Hari Cristine Hakim Dewi Lestari Dianing Widya Yudhistira Dimas Arika Miharja Diyan Kurniawan Djenar Maesa Ayu Doddy Achmad Fawdzy Dorothea Rosa Herliany Edi. Iyubenu Eka Kurniawan Endang Susanti Rustamaji Faruk H. Fira Basuki Gol A Gong Gus TF Habiburrahman El Shirazy Handri TM Helvy Tiana Rosa Hamdi Salad Intan Paramadhita Herlinatiens Herwan F. Mardi Luhung I Wayan Arthawa Indra Tranggono Irawan Sandhya Wiraatmaja Isbedy Stiawan Zs Iwan Setyawan Jajang B. Kawentar Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Joko Pinurbo Joni Ariadinata Jujur Prananto Kriapur Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 Kris Budiman Kurnia J. Kusprihyanto Namma Lan Fang Lea Pamungkas Linda Kristanti (Linda Christant. Shoim Anwar Maman S. Mahayana Medy Loekito Moh. Wan Anwar Mona Sylviana Muhammad Syafiq Muhidin M. Dahlan Mukti Sutarman Mustofa Wahid Hasyim Nenden Lilies A. Ninit Yunita Nurhayat Arif Permana Nur Zain Hae Oka Rusmini Omi Intan Naomi Oyos Saroso HN Puthut E. Putu Fajar Arcana Putu Vivi Lestari Radhar Panca Dahana Rainy M. Hutabarat Rani Rachmani Moediarta Ratih Kumala Raudal Tanjung Banoa Rayni N. Massardi Remmy Novarais D. Prasetya Utomo Seno Gumira Ajidarma Shanti Syarif Sirikit Syah Sitok Srengenge Soni Farid Maulana Sony Karsono Sosiawan Leak Suryadi Thamrin Tasaro Gk Taty Haryati Taufik Ikram Jamil Taufik Wijaya Tere Liye Tjahjono Widijanto Tomy Tamara Triyanto Triwikromo Ulfatin Ch Wahyu Wibowo Wayan Sunarta Wiji Thukul Wowok Hesti Prabowo Yant Mujiyanto Yanusa Nugroho Yusrizal K. Zhaenal Fanani Zoya Herawati. Pembahasan Setelah menyajikan deskripsi berdasarkan masalah penelitian, pada bagian ini didiskusikan gambaran secara umum hasil penelitian di atas. Gambaran kondisi kepenulisan sejarah sastra indonesia memiliki masalah dalam beberapa aspek. Penulis kurang dikenal Setelah membaca beberapa karya ilmiah sejarah sastra di atas, banyak penulis yang sulit ditelusuri latar Kesulitan diakibatkan antara . kesalahan penulisan nama, . nama yang AukebanyakanAy membuat pencarian data menjadi rancu, . mencantumkan hasil karya sastra. Kesalahan penulisan nama misalnya pada buku Mujiyanto & Fuady . Radhar Panca Dahana ditulis Radar tanpa setelah . Ahmad Syubbanuddin Alwy ditulis dengan pada kata Alwy. Cecep Syamsul Hari ditulis Cecep Samsul Hadi. Nama mirip seperti Anggi D. Widowati membuat hasil pencarian menjadi rancu. Dalam pencarian di internet muncul nama-nama yang sama atau mirip. Tidak satu pun dari nama Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 Untungnya, penelitianan Sofiatin et al. tersebut dicantumkan judul karya. Setelah mencari berdasarkan judul karya, ternyata terjadi salah penulisan Anggi pada nama tersebut ditulis kurang satu huruf. Seharusnya ditulis Anggie, bukan Anggi tanpa . Pencantuman sastrawan tanpa mencantumkan karya menjadi salah satu masalah pada penulis yang kurang dikenal. Ahmad Munif pada buku Mujiyanto & Fuady . Nama ini jamak ditemukan dalam masyarakat muslim di Indonesia. Beruntung meski kurang dikenal terdapat beberapa publikasi yag tersimpan di situs jejaring atau blog. Ternyata masalah ini terjadi karena penulisan nama. Nama sastrawan ini adalah Achmad Munif dengan pada Achmad. Kurang Hati-Hati Memasukkan Sastrawan dalam Sebuah Generasi. Kekurang hati-hatian tersebut bisa berbentuk sentimen pribadi atau golongan, kurang periksa, dan Sentimen pribadi dan memasukkan nama-nama yang tidak dikenal luas hanya karena kedekatan personal atau golongan. Kasus seperti ini tidak hanya terdapat pada Angkatan 2000 tetapi juga pada angkatan Nama-nama tidak dikenal ini menjadi masalah serius mengingat sejarah yang ditulis adalah sejarah sastra Indonesia atau sejarah sastra nasional, bukan sejarah sastra lokal atau Kurang masalah yang sering muncul dalam penulisan sejarah sastra. Kurang periksa muncul dalam bentuk paling buruk adalah memasukkan karya terjemahan sebagai karya sastra Indonesia. Hal ini ditunjukkan penelitian berjudul AuSudut Pandang Feminisme Pengarang Perempuan dan Pengarang Laki-Laki Terhadap Tokoh Perempuan dalam Novel Angkatan 2000Ay yang memasukkan Ihsan Abdul Quddus seorang penulis mesir. Pemasukan ini didasarkan pada karya terjemahan yang terbit tahun 2000-an berjudul Aku Lupa Bahwa Aku Seorang Perempuan . udul asli A)OIO IO IA. Semua Penulis Sejarah Sastra tidak Mempertimbangkan Usia Masalah ini sering muncul pada tokoh-tokoh yang konsisten produktif Penulis sejarah sastra sering tidak membaca usia sastrawan dan Kerancuan seperti ini kadang-kadang disebabkan sudut pandang berbeda pada beberapa tulisan, misalnya pada Pengantar Sejarah Sastra Indonesia YKS. Buku menggunakan model Angkatan. Plot sejarah sastra dibingkai dalam plot sosiopolitik dengan mendasarkan pada karya dan tahun. Dengan model ini seorang sastrawan akan ditulis pada semua rentang waktu jika sastrawan tersebut menulis pada ketiga rentang Pramudya Ananta Toer, misalnya, menulis pada tiga periode dari empat periode yang diusulkan YKS. Pramudya Ananta Toer dimasukkan dalam Masa Pergolakan . Masa Pemapanan . , dan Masa Pembebasan . 8Kini . 7 berdasarkan tahun terbit buk. Pendekatan-Pendekatan dan Lain Kemungkinan Penelitian keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain pada sumber data Muhri. Yuliati/Analisis Reseptif Angkatan A Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 15 No. Juli 2022 Hal 179-194 dan pendekatan-pendekatan lain yang tidak dilakukan pada penelitian ini. Sumber data merupakan kelemahan utama dari peneltian ini mengingat jumlah sumber data utama masih terbatas pada tiga buku dan dua Penelitian ini akan menjadi lebih mendalam dan lebih akurat jika jumlah sumber data semakin melimpah. Selain keterbatasan sumber data, keterbatasan metodis. Penelitian ini hanya mempertimbangkan angka dengan sedikit deskripsi tentang angka Pendekatan yang mungkin bisa dijadikan penyempurna adalah Dengan pendekatan ini, klasifikasi Ae selain berdasarkan usia Ae bisa didekati struktur, baik kesamaan karakteristik bentuk, maupun kesamaan karakteristik Selain itu, pendekatan ekspresif juga bisa menjadi alternatif lain. Dalam pendekatan ini, pelaku bisa menjadi salah satu sumber data. Pelaku dalam sejarah sastra adalah penulis sastra tersebut, bisa juga seniman lain yang Dari saksi sejarah ini, bisa diketahui gerakan-gerakan dan ide-ide yang berkembang pada tahun 2000-an. Penelitian ini membatasi pada pendekatan kuantitatif mengingat pendekatan ini masih jarang dilakukan di Indonesia. Penelitian ini tidak menafikan pendekatan-pendekatan lain yang mungkin dilakukan. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Angkatan 2000 diterima sebagai salah satu pembabakan sejarah. Simpulan ini Angkatan 2000 secara langsung dan penyebutan rentang tahun dalam miliu 2000 sebagai bagian dari klasifikasi. Selain KLR, buku YM-AF dan penelitian Sofiatin et al. secara langsung Angkatan 2000. Penelitian Nanik Setyawati et al. menyebut angkatan ini dengan Angkatan 2000-an, menambahkan akhiran -an setelah angka 2000. YKS meskipun tidak menyebutkan angkatan Masa Pembebasan. Masa pembebasan ini bertahun 1998 Ae sampai kini . Selain itu penulisan sejarah sastra Indonesia tidak mempertimbangkan usia sastrawan dan usia karya. Kesimpulan ini dikuatkan dengan pemasukan beberapa sastrawan yang telah terkenal pada periode atau angkatan sebelumnya ke dalam Angkatan 2000. Hal ini bisa diketahui dengan penelusuran usia sastrawan dan tahun awal mereka berkarya. Ada nama-nama dimasukkan dalam dua atau lebih Penelitian ini adalah penelitian Bisa dipastikan terdapat banyak kekurangan dalam penelitian Bagi peneliti yang tertarik untuk disarankan untuk menggunakan data yang relatif lengkap dan melimpah untuk menghasilkan hasil penelitian yang lebih tajam dan akurat. DAFTAR PUSTAKA