DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 2, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan Siswa dalam Pendidikan Karakter Monica Innanda Chiaralazzo1*. Ellen Sintya Dewi2 STP-IPI Malang. Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia *Coresponding Author: monica@stp-ipi. Article history Dikirim: 10-04-2026 Direvisi: 20-04-2026 Diterima: 21-04-2026 Key words: Ki Hadjar Dewantara. Memanusiakan Siswa. Pendidikan Karakter. Sistem Among. Abstrak: Pendidikan nasional saat ini menghadapi krisis karakter yang diduga berkaitan dengan masih dominannya pola pendidikan otoriter yang berakar pada sistem kolonial. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Sistem Among Ki Hadjar Dewantara sebagai upaya memanusiakan siswa dalam pendidikan karakter melalui pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Prosedur penelitian mengacu pada kerangka PRISMA yang meliputi tahap identifikasi, seleksi, dan sintesis terhadap 13 artikel terakreditasi . 6Ae2. , dengan analisis data menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara temati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Among merupakan antitesis pendidikan penindasan yang mengedepankan "tuntunan" sesuai kodrat alam dan kemerdekaan. Proses humanisasi dilakukan melalui sinergi Asah. Asih, dan Asuh serta mekanisme Ngerti. Ngrasa, dan Nglakoni untuk mengintegrasikan dimensi cipta, rasa, dan karsa. Reposisi guru sebagai "Pamong" melalui Trilogi Kepemimpinan terbukti menciptakan ekosistem belajar yang demokratis dan inklusif. Filosofi ini tetap relevan sebagai fondasi Kurikulum Merdeka dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila guna menjawab tantangan era digital. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk menguji implementasi empiris Sistem Among dalam konteks pembelajaran konkret guna memperkuat validitas praktis dan kontribusi aplikatifnya dalam pendidikan karakter. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa dan sarana strategis untuk meningkatkan potensi manusia agar mampu berkiprah di tataran yang lebih luas (Efendy, 2. Di Indonesia, amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab negara untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (Ardini et , 2. Namun, pada realitasnya, dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi masalah serius terkait krisis karakter. Penelitian (Efendy, 2. menyoroti banyak sekali permasalahan terkait pendidikan karakter, salah satunya murid yang berani menganiaya gurunya karena tidak terima ditegur. Senada dengan hal itu (Nuri, 2. juga mengungkapkan adanya penyimpangan karakter dalam pendidikan seperti kejadian menyontek masal. Degradasi moral di kalangan pelajar ini kemudian menjadi potret buram yang menunjukkan adanya ketidakserasian antara perkembangan intelektualitas dengan perkembangan karakter. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Penyebab utama dari krisis ini adalah sistem pendidikan yang cenderung terlalu didominasi oleh aspek kognitif . ransfer of knowledg. dan mengabaikan penghargaan terhadap kemanusiaan siswa (Harini & Faroh, 2. Banyak lembaga pendidikan masih terjebak pada pola pendidikan kolonial yang berbasis pada prinsip regering, tucht, en orde . erintah, hukuman, dan ketertiba. (Niyarci et al. , 2. Karakter pendidikan seperti ini dalam praktiknya merupakan bentuk "perkosaan" atas kehidupan batin anak, yang mengakibatkan rusaknya budi pekerti karena siswa senantiasa hidup di bawah paksaan dan tekanan. Akibatnya, pendidikan gagal membentuk manusia yang otentik dan peka terhadap nilai-nilai kehidupan Sebagai solusi atas krisis tersebut, pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui Sistem Among menawarkan pendekatan pendidikan yang transformatif dan humanis (Mahmudah et al. , 2. Sistem Among, yang berakar dari istilah Jawa momong, among, dan ngemong, menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar objek pasif. Melalui semboyan Ing Ngarsa Sung Tulada. Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, pendidikan dijalankan sebagai proses "tuntunan" yang berasaskan kasih sayang, kemerdekaan, dan kodrat alam siswa (Prasetio et al. , 2024. Yuhani & Wijayanto, 2. Pendidikan karakter dalam perspektif Among bukan hanya soal ketaatan administratif, melainkan upaya memanusiakan manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggitingginya. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi filosofi Sistem Among dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang kian kompleks, seperti disrupsi teknologi dan krisis identitas bangsa. Meskipun kebijakan "Merdeka Belajar" saat ini telah mulai mengadopsi nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara, implementasi praksis di lapangan masih menghadapi hambatan berupa kurangnya pemahaman mendalam para pendidik mengenai hakikat memanusiakan siswa (Prasetyo et al. , 2. Oleh karena itu, diperlukan tinjauan sistematis untuk menyintesis berbagai literatur terkait efektivitas Sistem Among dalam membangun karakter siswa melalui pendekatan yang manusiawi. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan relevansi Sistem Among dalam pendidikan karakter, sebagian besar masih bersifat deskriptif-konseptual dan belum menyajikan sintesis komprehensif dari berbagai temuan empiris yang tersebar. Penelitian terdahulu juga cenderung membahas aspek tertentu secara parsial, seperti nilai-nilai filosofis atau implementasi terbatas dalam konteks pembelajaran, tanpa mengintegrasikan dimensi humanisasi pendidikan secara utuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif melalui metode Systematic Literature Review (SLR) mengenai bagaimana Sistem Among Ki Hadjar Dewantara diimplementasikan sebagai upaya memanusiakan siswa dalam pendidikan karakter. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih teoretis bagi pengembangan model pendidikan karakter yang inklusif, holistik, dan relevan dengan identitas kultural bangsa Indonesia di era modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) atau tinjauan pustaka sistematis (Rabiman et al. , 2021. Zein, 2. Prosedur SLR dalam penelitian ini mengacu pada kerangka kerja @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk memastikan proses identifikasi, seleksi, dan analisis literatur dilakukan secara sistematis dan transparan. Penggunaan metode SLR bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyintesis hasil penelitian terdahulu secara komprehensif mengenai implementasi Sistem Among dalam memanusiakan siswa pada pendidikan karakter. Prosedur penelitian ini mengikuti tiga tahapan utama, yakni: . Identifikasi dan seleksi sumber, yang melibatkan pencarian artikel melalui database jurnal ilmiah seperti Google Scholar. SINTA, dan ResearchGate menggunakan kata kunci "Sistem Among", "Pendidikan Karakter", dan "Ki Hadjar Dewantara" (Harini & Faroh, 2. Kajian dan klasifikasi isi, di mana artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi berupa jurnal terakreditasi yang dipublikasikan dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir . untuk menjamin aktualitas data (Sinaga et al. , 2. , dan . Analisis tematik naratif, yaitu proses menghubungkan berbagai gagasan yang ditemukan dalam literatur untuk dikembangkan menjadi narasi utuh mengenai kontribusi teoretis Sistem Among terhadap isu humanisasi pendidikan. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. untuk mendalami makna deskriptif tekstual mengenai pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Proses analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan guna menguji efektivitas serta relevansi nilai-nilai Asah. Asih, dan Asuh dalam konteks pendidikan modern (Efendy, 2. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul dan penganalisis data literatur secara kritis dan reflektif. Pendekatan ini memastikan bahwa temuan penelitian tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga mampu memberikan sumbangsih teoretis bagi pengembangan model pendidikan karakter yang inklusif di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil penelusuran sistematis melalui berbagai database jurnal ilmiah dan setelah melewati tahapan seleksi yang ketat sesuai protokol Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini akhirnya menetapkan sebanyak 13 artikel sebagai sumber data utama. Ke-13 artikel pilihan ini dinilai paling relevan karena secara mendalam menguraikan dasar filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara serta implementasi praktis Sistem Among dalam upaya memanusiakan siswa pada konteks pendidikan karakter. Seluruh artikel yang terpilih berada dalam rentang publikasi yang mutakhir, sehingga data yang disintesis memiliki aktualitas yang tinggi untuk meninjau kembali nilai-nilai pembebasan dan kemanusiaan dalam pendidikan Indonesia. Temuan-temuan dari ke-13 artikel tersebut kemudian diekstraksi dan disajikan secara ringkas untuk mempermudah proses interpretasi dan sintesis temuan Tabel 1. Sintesis Literatur Mengenai Implementasi Sistem Among dan Upaya Memanusiakan Siswa Penulis Judul Artikel Ridwan Effendi et , . Konsep Sistem Among dalam Pendidikan menurut Temuan utama terkait AuMemanusiakan SiswaAy Pendidikan dipahami sebagai proses pemberdayaan dan pemberian ruang @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Ki Hadjar Dewantara Sinaga et al. ,( 2. Mahmudah et al. Wardani et al. Taufikin, . Fajri & Trisuryanti, . Vitasari & Somanedo, . Masitoh & Cahyani, . Viona et al. , . Harini & Faroh,. Zein, . Niyarci et al. , . Penerapan Sistem Among Dalam Pendidikan Karakter Berdampak Pada Jenjang SD. SMP. SMA Konsep Sistem Among dalam Membentuk Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Menurut Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Pendidikan yang Memerdekakan. Memanusiakan dan Berpihak pada Murid How to Be an Ideal Teacher?: A Content Analysis of Ki Hadjar DewantaraAos Thoughts Gagasan Sistem Among Ki Hajar Dewantara dalam Membangun Pendidikan di Indonesia Sejak 1922 sampai dengan 2021 Model Pembelajaran Pola Asah. Asih, dan Asuh dalam Meningkatkan Animo Belajar Siswa PAUD Penerapan Sistem Among Dalam Proses Pendidikan Suatu Upaya Mengembangkan Kompetensi Guru Relevansi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan implementasinya di Sekolah Dasar di Indonesia Mengurai Dasar Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara: Tinjauan Metaanalisis Perkembangan Pendidikan Abad 21 Berdasarkan Teori bagi siswa untuk berkembang sesuai kodrat, di mana batin siswa dijaga agar tetap dalam keadaan baik tanpa paksaan Sistem Among berkontribusi dalam membangun lingkungan pembelajaran yang humanis serta mendukung perkembangan karakter peserta didik, seperti empati sosial, kemandirian, dan tanggung jawab Menekankan penggunaan pola Asah. Asih, dan Asuh untuk menciptakan lingkungan yang inspiratif, di mana guru berperan sebagai teladan yang memanusiakan keunikan individu siswa Menjelaskan bahwa guru harus menjadi pemberdaya yang tujuannya adalah kemerdekaan peserta didik, menghindari penindasan, dan menghargai keragaman Guru yang ideal harus memiliki dimensi esoteris . berupa hati yang suci untuk dapat mewujudkan peserta didik yang cerdas akal dan luhur budi pekerti secara seimbang Menggeser orientasi pendidikan dari sistem Barat yang otoriter ke arah kebudayaan dan budi pekerti, sehingga intelektualitas selalu dibarengi dengan sikap yang baik Penerapan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang (Asi. terbukti meningkatkan kepercayaan diri dan kenyamanan emosional anak dalam Guru diibaratkan sebagai "Juru Tani" yang merawat tanaman . sesuai sifat alaminya, bukan memaksa tanaman tersebut tumbuh di luar kemampuannya Menekankan peran guru sebagai fasilitator yang memberi kebebasan penuh bagi siswa untuk mengembangkan potensi tanpa paksaan atau ancaman Menyoroti teori "Tunas Muda" yang mencegah hilangnya daya kritis siswa. pendidikan harus membentuk manusia yang peka terhadap budi pekerti dan keheningan batin Menjelaskan pendidikan sebagai upaya pembebasan manusia dari penindasan dan ketidakadilan, serta memberikan kesempatan bagi semua orang untuk memaksimalkan potensi mereka Menekankan bahwa posisi pendidik harus berdampingan . dengan @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Ki Hajar Dewantara Ardini et al. , . Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Indonesia yang dituntun, di mana anak menjadi sentral utama dalam proses pendidikan untuk mencapai kebahagiaan Menggarisbawahi bahwa semboyan Ing Madya Mangun Karsa mencegah guru menganggap siswa sebagai makhluk yang lebih rendah, melainkan sebagai teman yang merangkul peserta didik Berdasarkan data yang disajikan dalam Tabel 1, terlihat adanya benang merah yang konsisten dari ke-13 literatur yang dianalisis. Temuan menunjukkan bahwa Sistem Among secara universal dipandang sebagai antitesis dari pola pendidikan otoriter yang berbasis paksaan dan hukuman . egering, tucht, en ord. Literasi tersebut menegaskan bahwa upaya memanusiakan siswa dilakukan melalui pendekatan 'tuntunan', di mana guru berperan sebagai pamong yang menjaga kemerdekaan batin anak agar tetap dalam keadaan baik (Ridwan Effendi et al. Secara tematik, literatur-literatur ini mengindikasikan bahwa proses humanisasi dalam pendidikan karakter terjadi melalui mekanisme 'Ngerti. Ngrasa, dan Nglakoni'. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui transfer pengetahuan . , tetapi harus melibatkan penghalusan rasa . dan pembiasaan tindakan nyata . (Mahmudah et al. , 2024. Vitasari & Somanedo. Pola ini terbukti relevan di berbagai jenjang, mulai dari penguatan kemandirian di pendidikan anak usia dini hingga pembentukan kepemimpinan di tingkat menengah dan tinggi (Wetu, 2. Sintesis dari temuan-temuan ini selanjutnya akan dibedah lebih dalam pada bagian pembahasan untuk merumuskan reposisi Sistem Among dalam menjawab krisis karakter di era modern. Pembahasan Hakikat Memanusiakan Siswa: Antitesis Pendidikan Penindasan Berdasarkan hasil analisis literatur, esensi terdalam dari Sistem Among adalah upaya "memanusiakan manusia" . melalui pendidikan yang memerdekakan (Fajri & Trisuryanti, 2. Temuan menunjukkan bahwa Sistem Among lahir sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang berbasis pada prinsip regering, tucht, en orde . erintah, hukuman, dan ketertiba. Sistem lama tersebut dinilai "memperkosa" kehidupan batin anak karena memaksa kepatuhan lahiriah melalui ancaman, yang pada akhirnya mematikan daya kreativitas dan jiwa merdeka siswa. Sebaliknya. Sistem Among menggeser paradigma dari pendidikan yang berpusat pada guru . eacher-centere. menjadi berorientasi pada pengembangan potensi unik siswa . tudent-centere. (Sinaga et al. , 2. Memanusiakan siswa dalam konteks ini berarti mengakui bahwa setiap anak memiliki kodrat alam yang harus dirawat, bukan dipaksa tumbuh di luar kemampuannya (Masitoh & Cahyani. Pendidikan tidak lagi dipandang sekadar sebagai instrumen transfer ilmu . ransfer of knowledg. , melainkan sebagai proses pencarian jati diri agar siswa mampu mengatur hidupnya sendiri secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain Sinergi Asah. Asih. Dan Asuh: Pondasi Karakter Holistik Implementasi memanusiakan siswa dilakukan melalui tiga pilar pengasuhan yang terintegrasi, yaitu asah, asih, dan asuh. Konsep ini merupakan inti dari Sistem @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Among yang menempatkan peserta didik sebagai subjek yang berkembang secara utuh, baik secara intelektual, emosional, maupun moral. Asah berfokus pada transformasi intelektual untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan kognitif peserta didik. Dalam perspektif ini, proses pembelajaran tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi mendorong peserta didik untuk aktif mengonstruksi pemahamannya sendiri. Hal ini sejalan dengan temuan Prasetio et al. , . bahwa pendekatan pendidikan Ki Hadjar Dewantara menekankan pengembangan daya cipta dan nalar sebagai bagian dari proses Asih menjadi landasan emosional yang mengedepankan kasih sayang, empati, serta penghargaan terhadap keunikan individu tanpa diskriminasi. Lingkungan belajar yang dilandasi kasih memungkinkan peserta didik merasa aman secara psikologis, sehingga lebih terbuka dalam mengembangkan potensi dirinya. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kasih sayang dalam Sistem Among berkontribusi pada meningkatnya kepercayaan diri dan kenyamanan emosional peserta didik dalam proses belajar (Vitasari & Somanedo, 2. Sementara itu, asuh mencakup bimbingan praktis yang berorientasi pada pembentukan moralitas, kedisiplinan diri, dan tanggung jawab. Dalam konteks ini, pendidik berperan sebagai pembimbing yang menuntun peserta didik agar mampu mengembangkan kemandirian dan ketangguhan mental secara bertahap. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara bertujuan membentuk manusia yang merdeka namun tetap bertanggung jawab dalam kehidupan sosialnya (Sihab & Achmad, 2. Reposisi Pendidik sebagai AuPamongAy dan AuJuru TaniAy Humanisasi pendidikan menuntut adanya reposisi peran pendidik dari sosok yang otoriter menjadi seorang pamong yang membimbing dengan penuh kesadaran Dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, pendidik tidak lagi berfungsi sebagai penguasa kelas, melainkan sebagai fasilitator yang menuntun perkembangan peserta didik sesuai dengan kodratnya. Pendidik diibaratkan sebagai Aujuru taniAy yang merawat tanaman sesuai dengan sifat alaminya. ia tidak dapat memaksa padi tumbuh menjadi jagung, melainkan hanya menyediakan kondisi yang memungkinkan tanaman tersebut berkembang secara optimal. Analogi ini menegaskan bahwa pendidikan bukanlah proses pemaksaan kehendak, melainkan proses pendampingan yang menghargai potensi dan keunikan setiap peserta didik. Pandangan ini sejalan dengan temuan bahwa pendekatan pendidikan Ki Hadjar Dewantara menekankan prinsip kebebasan yang bertanggung jawab dalam proses belajar (Sihab & Achmad, 2. Peran pamong tersebut dijalankan melalui Trilogi Kepemimpinan, yaitu Ing Ngarsa Sung Tulada . endidik sebagai teladan mora. Ing Madya Mangun Karsa . endidik sebagai penggerak dan mitra belaja. , dan Tut Wuri Handayani . endidik memberikan dorongan dari belakang agar peserta didik mandir. Trilogi ini menunjukkan bahwa relasi antara pendidik dan peserta didik bersifat dialogis, bukan hierarkis, sehingga membuka ruang bagi tumbuhnya partisipasi aktif dan kemandirian belajar. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip ini berkontribusi pada terciptanya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. (Prasetyo et al. , 2. @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Pendekatan yang persuasif dan dilandasi kasih sayang ini terbukti mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih demokratis dan manusiawi. Lingkungan belajar yang demikian tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga mengurangi praktik kekerasan dan tekanan psikologis dalam Studi Vitasari & Somanedo . menunjukkan bahwa pendekatan humanistik dalam pendidikan berperan dalam membangun relasi yang sehat antara guru dan peserta didik serta meningkatkan kesejahteraan emosional di lingkungan Reposisi pendidik sebagai pamong dan juru tani menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia, di mana peserta didik tidak hanya dibentuk secara intelektual, tetapi juga didampingi untuk berkembang secara utuh sebagai pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab. Mekanisme AuNgerti. Ngrasa. NglakoniAy dalam Humanisasi Pendidikan Proses pemanusiaan peserta didik dalam pendidikan karakter dioperasionalkan melalui mekanisme ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ketiga tahapan ini mencerminkan pendekatan pendidikan yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berlanjut hingga internalisasi dan praksis nilai dalam kehidupan sehari-hari. Ngerti . menekankan pada aspek kognitif, di mana peserta didik diajak untuk mengenali dan memahami nilai-nilai kebenaran secara rasional. Pada tahap ini, proses pembelajaran berfungsi sebagai ruang pembentukan kesadaran intelektual, sehingga peserta didik tidak sekadar menerima nilai, tetapi mampu memaknai dan mengkritisinya secara reflektif (Syafriza & Ferryka, 2. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan Ki Hadjar Dewantara mendorong berkembangnya daya cipta dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian dari kemerdekaan belajar. Ngrasa . membawa nilai yang telah dipahami ke dalam ranah Peserta didik tidak hanya mengetahui apa yang baik, tetapi juga mampu menghayati dan merasakan makna nilai tersebut dalam dirinya (Asa, 2. Pada tahap ini, empati, kepekaan sosial, dan kesadaran moral mulai terbentuk melalui pengalaman emosional yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan aspek afektif dalam pembelajaran berperan penting dalam membangun karakter dan memperkuat internalisasi nilai. Nglakoni . merupakan puncak dari proses humanisasi, di mana nilai yang telah dipahami dan dihayati diwujudkan dalam tindakan nyata secara konsisten. Karakter tidak lagi berada pada tataran konsep, tetapi tampak dalam perilaku seharihari yang mencerminkan tanggung jawab, kemandirian, dan integritas (Setyaningsih. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang Autahu yang baikAy, tetapi juga Aumau dan mampu melakukan yang baikAy. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa pendidikan berbasis nilai yang diinternalisasi secara bertahap akan lebih efektif dalam membentuk perilaku nyata peserta didik. Keseimbangan antara ngerti, ngrasa, dan nglakoni menunjukkan bahwa pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara mengintegrasikan dimensi cipta, rasa, dan karsa secara harmonis. Integrasi ini menjadi fondasi dalam membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kehalusan budi pekerti serta kemampuan bertindak secara etis dalam kehidupan sosialnya. Relevansi Sistem Among dalam Kebijakan Pendidikan Modern Filosofi Sistem Among terbukti melampaui zamannya dan tetap relevan sebagai landasan konseptual dalam kebijakan pendidikan modern di Indonesia, khususnya melalui implementasi Kurikulum Merdeka (Destiana et al. , 2. Prinsip @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. Aumenuntun sesuai kodratAy yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara selaras dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. , di mana pendidik berperan dalam memahami potensi, minat, dan kebutuhan belajar yang beragam (Mudana, 2. Dalam praktiknya, hal ini tercermin melalui asesmen diagnostik yang bertujuan mengidentifikasi karakteristik awal peserta didik sebagai dasar dalam merancang pembelajaran yang adaptif. Lebih lanjut, implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dapat dipahami sebagai manifestasi kontemporer dari nilai-nilai Sistem Among. Melalui pendekatan berbasis proyek, peserta didik dilibatkan secara aktif dalam pengalaman belajar yang kontekstual, sehingga nilai-nilai seperti kemandirian, gotong royong, dan nalar kritis tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan nyata (Asa, 2. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek berkontribusi dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik serta memperkuat pembentukan karakter melalui pengalaman langsung. Di tengah tantangan era digital, seperti meningkatnya kasus cyberbullying dan kecenderungan individualisme, relevansi Sistem Among semakin terlihat. Nilai asih dapat dikembangkan dalam bentuk empati digital, yaitu kemampuan untuk berinteraksi secara etis dan menghargai orang lain di ruang virtual (Triyaswati. Sementara itu, nilai asuh berperan dalam membentuk disiplin diri serta tanggung jawab dalam penggunaan teknologi. Studi menunjukkan bahwa penguatan pendidikan karakter dalam konteks digital menjadi kunci dalam menjaga kesejahteraan psikologis serta membangun interaksi sosial yang sehat di kalangan peserta didik (Mawara, 2. Sistem Among tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menawarkan kerangka pedagogis yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan kontemporer. Integrasi nilai-nilai tersebut dalam kebijakan pendidikan modern menunjukkan bahwa humanisasi pendidikan tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu beradaptasi secara bijak di era digital. KESIMPULAN Tinjauan sistematis ini menegaskan bahwa Sistem Among Ki Hadjar Dewantara merupakan instrumen fundamental untuk memanusiakan siswa dalam pendidikan karakter dengan mengikis pola otoriter warisan kolonial yang menindas Melalui pendekatan "tuntunan" yang berasaskan kodrat alam dan kemerdekaan, sistem ini secara efektif menyeimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui mekanisme Ngerti. Ngrasa, dan Nglakoni. Hasil akhirnya bukan sekadar kepatuhan lahiriah, melainkan lahirnya manusia merdeka yang memiliki kemandirian berpikir dan keteguhan budi pekerti untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Keberhasilan proses humanisasi ini bertumpu pada reposisi peran pendidik sebagai "Pamong" yang secara konsisten menerapkan trilogi kepemimpinan guna menciptakan ekosistem belajar yang aman, inklusif, dan penuh kasih sayang. Di era disrupsi, filosofi ini terbukti melampaui zamannya dan menjadi fondasi utama bagi transformasi pendidikan melalui Kurikulum Merdeka dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, revitalisasi Sistem Among merupakan investasi jangka panjang yang krusial untuk menjawab tantangan krisis karakter sekaligus @2026 Diksi . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Chiaralazzo & Dewi. Sistem Among Ki Hadjar Dewantara Sebagai Upaya Memanusiakan. mencetak generasi masa depan Indonesia yang cerdas, beradab, dan berdaya saing DAFTAR PUSTAKA