Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Teks Taru Premana Sebagai Simbolisasi Ekuilibrium Manusia Hindu Dengan Alam Semesta Bali I Nyoman Suka Ardiyasa*. Putu Maria Ratih Anggraini Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia *suka. ardiyasa@gmail. Abstract A holistic understanding of the side effects of chemical drugs, stimulating this era's humans to engage in contemplative movements, using ancient literature to maintain sanitation, physical health and mental health. Taru Premana is the philanthropic mission of Mpu Kuturan to create Hindu people as well as a healthy Bali environment. So, to realize the human mission, humanistic practice begins, to find a variety of herbal The research aims to analyze the Lontar Taru Premana, by looking for a link between health practices and the stimulation of subjects in the preservation of the The research uses a qualitative approach or specifically applies textual studies to undermine searches and reconstructive efforts in understanding the texts of the art of traditional medicine of Bali. The technique of collecting Taru Premana manuscripts as a source of research data is obtained from the process of accumulating ancient writings dealing with traditional medicine. Further, it is analyzed using literary studies as well as philological studies. The compendium on traditional health science taught in Taru Premana is explained specifically in the processing techniques of traditional ingredients, their manufacturing processes and their application, such as bearing, spraying, patching and fixing. The Taru Premana manuscript has an interpretation in other aspects, namely as a symbolization of the internalization of the values of social-religious life. This lontar is an argument for the harmonization of man with his environment, and gives the scheme that man is not a determining entity, but an individual and a cosmic entity forming a typology of dependency. Taru Premana as a means of balancing the existence of humans and the environment . raja dan kamadhu. In other words, man without the presence of nature is meaningless, because the process of life becomes stopped because of the nullity of the supporting life. Lontar Taru Premana plays an important role in the spiritual, social and ecological reality of the Bali Hindu community, as it applies traditional techniques and ecologic balance. Keywords: Taru Premana. Usadha. Mpu Kuturan. Ecological Balance Abstrak Pemahaman holistik efek samping obat-obatan kimiawi, menstimulasi manusia era ini melakukan gerakan kontemplatif, yakni menggunakan literatur kuno untuk menjaga sanitasi, kesehatan fisik serta kesehatan mental. Taru Premana adalah misi filantrofis Mpu Kuturan menciptakan manusia Hindu serta lingkungan Bali yang sehat. Maka, untuk mewujudkan misi kemanusiaan tersebut dimulailah praksis humanistik, untuk mencari beragam jenis obat herbal. Penelitian ini bertujuan menganalisis Lontar Taru Premana, dengan mencari keterhubungan antara praktik kesehatan . dengan stimulasi subjek . didalam melestarikan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif atau secara spesifik mengaplikasikan kajian tekstual untuk melalukan penelusuran dan upaya rekonstruktif dalam memahami teks seni pengobatan tradisional Bali. Teknik pengumpulan naskah Taru Premana sebagai sumber data penelitian ini didapatkan dari proses akumulasi naskah-naskah kuno yang membahas mengenai pengobatan tradisional. Selanjutnya, dianalisis dengan menggunakan studi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH literatur serta kajian filologi. Kompendium mengenai ilmu kesehatan tradisional yang diajarkan dalam Taru Premana tereksplanasi secara spesifik dalam teknik pengolahan bahan-bahan tradisional, proses pembuatan dan pengaplikasiannya, seperti boreh, sembar, tampel dan tutuh. Naskah Taru Premana memiliki interpretasi dalam aspek lain, yakni sebagai simbolisasi internalisasi nilai kehidupan berbasis sosio-religius. Lontar ini menjadi pengejewantahan harmonisasi manusia dengan alam lingkungannya, serta memberikan skema bahwa manusia bukan entitas determinan, melainkan individu dan entitas kosmik membentuk tipologi dependensi. Taru Premana sebagai sarana menyeimbangkan keberadaan manusia dan lingkungan . raja dan kamadhu. Artinya, manusia tanpa kehadiran alam tidak bermakna, karena proses kehidupan menjadi terhenti karena nihilnya penunjang hidup tersebut. Lontar Taru Premana memegang peranan penting dalam realitas spiritual, sosial dan ekologis masyarakat Hindu Bali, karena menerapkan teknik usadha dan keseimbangan ekologis. Kata Kunci: Taru Premana. Usadha. Mpu Kuturan. Keseimbangan Ekologis Pendahuluan Teks kuno dengan tendensi agama Hindu dalam paradigma ilmu pengetahuan, secara integral dipelajari dalam studi filologi. Studi kepustakaan dengan menekankan pada interpretasi sebuah naskah, memiliki tujuan serta muatan substantif, yakni mengonstruksi pemahaman komprehensif untuk melihat, menalar, menelaah sekaligus memahami esensi kehidupan sosio-religius (Ritts & Bakker, 2. Sekaligus melalukan sinkronisasi antara muatan tekstual dengan kejadian empiris . Keberadaan sebuah narasi tertuang dalam bentuk tulisan ataupun verbalisasi yang ditekstualisasi (Civitarese, 2. Dengan kata lain, keberadaan sebuah naskah merepresentasikan ucapan seseorang dan didokumentasikan melalui medium aksara, menjadi medium untuk mewariskan struktur kognitif, dan bisa dipelajari sekaligus diinternalisasi sebagai referensi untuk memahami dinamika kehidupan. Masyarakat Bali memandang teks kuno dengan muatan agama Hindu, tidak sekadar sebagai suatu ucapan yang dibakukan atau sebagai narasi yang terdokumentasikan, melainkan dijadikan sebagai horizon dalam menavigasi konteks hidup di tengah zaman yang fluid, serta dioperasionalisasikan sebagai piranti untuk melakukan harmonisasi dengan beragam elemen kehidupan (Russell, 2. Dilain sisi, keberadaan naskah kuno agama Hindu juga diwariskan agar setiap individu menggunakannya sebagai rujukan untuk memecahkan beragam persoalan hidup. Salah satu social problem yang inheren dengan kehidupan manusia adalah persoalan kesehatan (Corazza, 2. Dalam studi agama Hindu, kesehatan dan upaya untuk menanggulangi beragam penyakit terdokumentasikan dalam struktur pengetahuan kuno . ncient knowledg. , di mana tipologi kebijaksanaan untuk merawat tubuh serta sanitasi diri, telah diajarkan oleh leluhur (Das, 2. Ancient knowledge yang dimaksud adalah usadha . lmu tentang kesehata. Jika mengulas usadha. Masyarakat Bali memiliki banyak referensi yang bisa dibaca. Dari sekian banyak bahan bacaan mengenai hal tersebut, ada salah satu naskah lontar dengan ulasan memadukan ketersediaan tumbuh-tumbuhan di alam . dengan kashiat obat, untuk menjaga kesehatan manusia naskah Lontar Taru Premana. Naskah Taru Premana ditemukan dalam berbagai variasi namun yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah naskah Lontar Taru Premana koleksi Gedong Kirtya dengan nomor naskah i d 1854/12 berasal dari Cokorda Ngurah Puri Saren Kauh. Payangan Gianyar. Menggunakan dan mengaplikasikan berbagai jenis tumbuhan dan pola hidup sehat dalam naskah Taru Premana memiliki posisi sentral untuk diimplementasikan saat ini. Mengapa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH demikian. Obat-obatan sebagai produk industri kesehatan memiliki efek samping, baik bagi tubuh manusia maupun bagi lingkungan. Term yang sering dipakai dalam farmakologi dalam menyebut substansi kimiawi dalam setiap obat adalah BKO (Bahan Kimia Oba. Penyelidikan dalam disiplin ilmu tersebut menjelaskan berbagai kandungan obat-obatan hasil industri farmasi, dan implikasi jangka panjang yang dihasilkannya. Substansi dari produk-produk tersebut salah satunya fenilbutazon. BKO ini jika dikonsumsi jangka panjang akan berefek pada berbagai masalah kesehatan, seperti vertigo, hifersensivitas, angio edema, mual, pusing, diare, dan lain sebagainya. Selain kandungan kimiawi tersebut, obat hasil industri juga mengandung berbagai bahan, dan terindikasi berefek pada penurunan fungsi anatomis serta organ vital manusia lainnya. Kandungan tersebut seperti metamfiron, deksametason, prednisone, hidroklortiazid (HCT), dan lain sebagainya. Jika dijabarkan, substansi kimiawi itu dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada manusia, yakni agranulositosis, diabetes, osteoporosis, gangguan mental, euphoria, myopagh, hipertensi, gangguan saluran cerna, gangguan musculoskeletal, gejala endokrin, neuropsikiatri, gangguan pada mata, dan gangguan organ lainnya. Dilain sisi, limbah obat-obatan dengan kandungan BKO, akan menghasilkan residu atau endapan yang berimplikasi pada degradasi kualitas lingkungan, sekaligus mengganggu siklus ekosistem. Dalam analisis serta penjelasan ilmiah, residu limbah kimiawi hasil produksi obatobatan yang mengandung BKO, dapat merusak susunan akuifer. Jika tidak diminimalisasi atau dicegah, maka akan menghasilkan berbagai dampak, seperti meningkatkan kandungan racun pada air, mengubah DNA biota akuatik, dan dalam jangka panjang dapat merusak susunan DNA manusia, jika air yang telah tercemar dikonsumsi atau masuk ke dalam tubuh secara terus-menerus (Corazza, 2. Maka dari pada itu, diperlukan point of view alternatif, untuk membatasi atau meminimalisir penggunaan BKO, baik bagi manusia ataupun residunya pada lingkungan. Pemahaman holistik mengenai efek samping dari penggunaan obat-obatan kimiawi, menstimulasi manusia era ini untuk melakukan gerakan kontemplatif, yakni menggunakan literatur kuno atau referensi pengobatan berbasis tradisional untuk menjaga sanistasi, sistem imun, kesehatan fisik serta kesehatan mental. Penelitian mengenai hasl tersebut dilakukan oleh Arsana . yang menjelaskan teks-teks kuno yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Belanda, penelitian tersebut menekankan tentang struktur anatomis tumbuhan obat, mulai dari daun, tunas, batang, akar, dan lain sebagainya. Dilain sisi, dari proses telaah naskah, ditemukan 128 spesies tumbuhan dengan potensi klinisnya. Dan, tanaman-tanaman tersebut masih bisa ditemukan saat ini, serta secara konsisten dipergunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti diabetes, diuretic, dan lain sebagainya. Selain itu. Candrawati et al. menemukan bahwa jenis tanaman pada naskah Taru Premana seperti jahe merah dan akupresur dapat dimanfaatkan sebagai bahan meningkatkan imun tubuh pada saat pandemi Covid-19. Dengan kata lain, walaupun sastra tersebut telah berumur relatif tua, akan tetapi beragam jenis tanaman yang tertuang didalamnya dapat digunakan untuk menjawab tantangan zaman, khususnya masalah kesehatan saat ini. Dengan kata lain, sistem pengetahuan leluhur pada saat ditemukan, memang belum memberikan jawaban secara klinis, akan tetapi ketika ilmu pengetahuan sudah berkembang, justru warisan pengetahuan tersebut memiliki beragam manfaat. Penelitian ini juga menganalisis naskah Taru Premana, dengan mengambil dua posisi penting yakni alternatif pengobatan dari leluhur dalam rangka memberikan solusi kesehatan, dengan kekayaan alam, tanpa efek samping, serta selaras dengan visi pelestarian lingkungan. Dengan kata lain, penelitian ini tidak hanya berhenti pada proses tafsir naskah Taru Premana dalam aspek klinis, melainkan juga beruapaya membangun kerangka https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH konseptual untuk menjelaskan keberadaan literatur tradisional itu dalam menjelaskan paradigma kesehatan yang linier dengan visi pelestarian alam . Sehingga, state of the art yang dihasilkan dari proses literature review di atas adalah melakukan eksplanasi secara komprehensif mengenai relasi antara manusia dan tumbuhan sebagai representasi dari kosmik . lam semest. Konteks ini menjadi penting untuk di-highlight karena, ketersediaan tanaman obat dan keberfungsiannya bagi kehidupan manusia, harus didasarkan pada asas Artinya, ketersediaan tanaman tersebut tidak boleh hilang, hanya karena terus dimanfaatkan (Hilderbrand & Sritrakool, 2. Maka dari pada itu, penelitian ini akan melakukan analisis mengenai konstruksi kesehatan sesuai dengan tafsir pada teks Taru Premana, konteks kontemplatif mengapa naskah ini bisa muncul, beragam jenis tanaman yang bisa dioptimalisasikan, serta bagaimana interpretasi teks dibaca sebagai basis ideologis untuk melestarikan ketersediaan bahan obat, dan dalam sekup luas dapat membangun habitualisasi soal visi pelestarian lingkungan. Taru Premana secara kontemplatif adalah kompilasi dari perjalanan spiritual Mpu Kuturan, sekaligus menjadi rekam sejarah bagi masyarakat Hindu Bali, mengenai misi filantrofis tokoh tersebut dalam upaya menciptakan manusia Hindu serta lingkungan Bali yang sehat. Maka, untuk mewujudkan misi kemanusiaan itu dimulailah praksis humanistik, untuk mencari beragam jenis obat herbal. Obat herbal berasal dari beragam tumbuhan . potek hidu. Dipilihnya tumbuhan sebagai bahan baku sebuah ramuan kesehatan karena, bahan dasar yang disediakan oleh alam ketika diberikan kepada manusia, tidak akan menimbulkan efek samping. Jika ditelusuri dari lontar Taru Premana, disebutkan ada berbagai jenis tanaman dengan khasiatnya masing-masing, seperti pohon dapdap, kulit pohonnya bisa dipergunakan obat perut kembung. Jika ditambahkan dengan ekstrak tanaman lain seperti katumbah bolong berjumlah sebelas serta uyah areng, maka ekstrak ramuan tersebut akan memercepat proses penyembuhan penyakit perut. Ada juga pohon kelor. Isi dari pohon ini bersifat Dengan struktur anatomis tumbuhan yang bergetah dan berwarna merah, serta sifat akar bersifat panas. Daun dari pohon kelor dapat dimanfaatkan sebagai obat sakit mata. Jika daun tersebut ditambahkan dengan bahan lain seperti jeruk lengis dan uyah areng, maka akan mengoptimalisasi proses penyembuhan sakit mata. Proses penemuan berbagai tanaman obat tersebut diperoleh oleh Mpu Kuturan dari interaksinya dengan Dewa Sankara (Dewa Tumbuha. , dan dalam lontar itu juga dijelaskan bahwa mahaguru tersebut mendapatkan keistimewaan untuk berbicara dengan semua jenis Keistimewaan inilah menjadi latar belakang. Mpu Kuturan, bisa mengenali karakteristik anatomis tanaman, dan kegunaan dari masing-masing bagiannya untuk dikonsumsi sebagai obat. Lontar Taru Premana sebagai warisan dari Mpu Kuturan, tidak berhenti pada proses identifikasi beragam tumbuhan dan potensinya untuk dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Melainkan, keberadaan sastra tersebut juga menjadi fondasi bahwa manusia yang telah mengambil sesuatu dari alam dalam hal ini untuk proses penyembuhan diri, harus mengambil secara proporsional . esuai kebutuha. Sekaligus, apapun yang telah dimanfaatkan harus dijaga kelestariannya, untuk menjaga ketersediaan bahan-bahan tersebut bisa digunakan dikemudian hari. Dengan kata lain, teks mengenai usadha dan tanaman obat, juga mengandung ideologi pelestarian lingkungan (Warde. Robin & Sorlin. Beragam teks agama Hindu menyebut inherenitas antara manusia dengan tumbuhan serta alam semesta sebagai relasi antara Praja dengan Kamadhuk. Kamadhuk atau esensi keberadaan lingkungan yang tidak hanya merepresentasikan alam fisik, tetapi juga merepresentasikan alam sosial, agama Hindu menyebutnya dengan istilah makrokosmos . lam semest. dan mikrokosmos . lam sosial serta entitas badaniah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH manusi. (Sastrawan & Giri, 2. Kamadhuk mengajarkan tentang cara pandang dan penalaran tentang keberadaan manusia dengan alam fisiknya bukanlah sesuatu yang Keberadaan human sphere dan natural sphere adalah elemen yang selalu Mekanisme siklis diantara keduanya tidak bisa dilepaskan dan saling memengaruhi satu sama lain (Arney et al. , 2. Terciptanya disharmoni salah satu sub tersebut, khususnya kamadhuk sebagai natural sphere, maka akan mengganggu tatanan kosmik . lam semest. secara keseluruhan (Sastrawan & Giri, 2. Disinilah Lontar Taru Premana memberikan internalisasi bahwa, keberadaan manusia (Praj. bukanlah entitas absolut dalam memanfaatkan tumbuhan/lingkungan (Kamadhu. Dengan kata lain, lontar ini juga bersubstansi untuk menyelaraskan kehidupan manusia dengan makrokosmos, atau adanya tendensi pelestarian lingkungan pada teks tersebut. Penelitian ini akan menganalisis terkait substansi Lontar Taru Premana, dengan tujuan mencari keterhubungan antara praktik kesehatan . dengan stimulasi subjek . didalam melestarikan lingkungan. Dengan menggunakan sudut pandang filologi . erguna untuk melacak teks kuno dan mengetahui konjungsinya dengan konsteks terkin. , teori antropologi agama . elacak relasi manusia dengan alam, yang dipayungi dengan dogma-dogma agam. , teori batas akal-sub teori antropologi agama . erfungsi untuk menjawab analogi kehadiran Tuhan melalui tumbuhan, sebagai cara sederhana untuk mengontekstualisasikan causa prima yang tidak bisa ditangkap oleh akal sehat manusi. , serta menghadirkan kehadiran Tuhan melalui tumbuhan sebagai media penyembuh. Metode Penelitian ini mengaplikasikan jenis metode kualitatif, dengan pendekatan Pendekatan/kajian tekstual memberikan atensi dan penekanan pada proses akumulasi serta interpretasi pada berbagai referensi, di mana referensi yang sudah diakumulasikan tersebut ditafsirkan dengan tujuan mendapatkan penjelasan secara holistik untuk bisa dikontekstualisasikan dengan realitas yang sedang dikaji. Pendekatan tekstual yang digunakan sebagai basis untuk mengumpulkan sumber atau literatur berupaya untuk memahami keberadaan pustaka Taru Premana sebagai aspek pengetahuan lokal masyarakat Bali mengenai tumbuhan obat dan pola integarif penciptaan kehidupan klinis . Taru Premana sebagai salah satu lontar dan bersubstansi ancient knowledge, maka dapat dikategorikan sebagai sumber data sekunder. Hal tersebut disebabkan. Taru Pramana yang dikaji didapatkan dari berbagai tempat, dan secara morfologis ataupun gramatikal adalah hasil interpretasi orang lain. Dengan kata lain, sumber data yang didapatkan dari naskah tersebut tidak dihasilkan secara langsung melalui proses dialog dengan narasumber, melainkan sumber data diakumulasikan sebagai hasil pengumpulan berbagai naskah dan tafsirnya. Dilain sisi, teknik penentuan sumber data berupa lontar-lontar relevan, didapatkan melalui mekanisme purposive, artinya peneliti sudah menentukan lokasi atau tempat apa saja yang akan dikunjungi untuk mendapatkan sumber teks yang diinginkan, yang dalam hal ini adalah teks Taru Pramana. Untuk mendapatkan bahan analisis, maka proses penentuan naskah dilakukan dengan memelajari berbagai literatur di Gedong Kirtya Singaraja. Bali. Instrumen penelitian ini menggunakan kerangka tabel mengenai naskahnaskah apa saja yang berisi pengetahuan lokal mengenai teknik penyembuhan tradisional Bali. Melalui kerangka tabel yang digunakan sebagai insrumen itulah, peneliti memiliki gambaran tentang naskah-naskah apa saja yang harus dikumpulkan, dibaca, dianalisis dan Teknik pengumpulan data diaplikasikan dengan memberikan tafsir dan membuat kerangka konseptual mengenai naskah Taru Pramana, proses ini adalah cara data gain dan akumulasi berbagai pokok bahasan dari lontar tersebut yang berfungsi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH untuk bahan analisis pada sub bahasan. Pada teknik pengumpulan data ini, peneliti memberikan tiga fokus utama yakni fakta, pendapat dan kontekstualisasi Taru Pramana dalam berbagai aspek, seperti penyembuhan dan konsepsi harmoniasi antara manusia dan alam semesta. Analisis data dilakukan dengan cara mengaplikasikan mekanisme studi literatur, untuk mengurai diskursus Taru Pramana yang menekankan pada aspek klinis . dan ekologis . elestarian alam semest. Analisis tersebut juga diperkuat dengan aplikasi teori filologi untuk melihat linieritas tekstual dan kaitannya spek dengan Hasil dan Pembahasan Taru Peamana dalam berbagai interpretasi, dijelaskan dalam berbagai Reposisi teks yang dianggap penting dan memiliki substansi kontekstual, menjadikan keberadaan naskah ini memiliki potensi untuk dielaborasi dalam berbagai Hasil interpretasi dalam penelitian ini, memosisikan teks Taru Premana tidak hanya dalam sekup kesehatan berbasis kebudayaan lokal, melainkan melihat naskah tersebut sebagai penjabaran mengenai keseimbangan relasi antara manusia dan alam semesta . Naskah Taru Premana yang didapatkan dari proses akumulasi literatur lokal di Gedong Kirtya. Singaraja, memberikan berbagai sudut pandang kesehatan berbasis kebudayaan, spiritual dan adanya tendensi harmonisasi antara manusia dan alam semesta sebagai subjeknya (Ngurah, 1. Secara leksikal, keberadaan naskah ini menjadi ancient legacy bagi peradaban masyarakat Bali, khususnya dalam aspek sanitasi dan upaya menjaga kesehatan, baik fisik, emosional dan spiritual. Warisan Mpu Kuturan yang terdokumentasikan dan diakses sampai hari ini, menghasilkan beragam interpretasi dan pemaknaan yang sifatnya multidimensional. Penjelasan penting yang menitikberatkan keberadaan lontar ini adalah identifikasi beragam tumbuhan, termasuk pepohonan yang memiliki aspek fungsionalitas bagi perkembangan serta siklus hidup manusia. Entitas alam semesta dan realitas ekologisnya, menyediakan ekosistem dan aspek ekologis dalam menunjang kualitas hidup individu atau masyarakat Bali secara umum. Dengan menciptakan relasi inheren dengan alam semesta dan beragam aspek yang ada di dalamnya, seperti tumbuhan, manusia diposisikan sebagai subjek yang tidak hanya menggunakan tetapi ada status moral untuk menjaga keberlangsungan tumbuhan-tumbuhan tersebut, termasuk menjaga khasiat Taru Premana secara gramatikal dan kontekstual, diposisikan sebagai naskah yang menjelaskan keberadaan pepohonan ataupun tumbuhan, yang memiliki kekuatan, manfaat serta khasiat penyembuh. Proses penyembuhan dan upaya rekonstruktif untuk menciptakan masyarakat yang sehat, didapatkan dari proses pemanfaatan semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, kulit pohon, daun, buah bahkan rantingnya. Sub komponen dari tumbuhan tersebut memiliki aspek fungsional yang beragam, mulai mengobati penyakit ringan sampai kronis. Dilain sisi, literatur yang diwariskan dari pengetahuan klinis Mpu Kuturan tersebut, juga merekomendasikan untuk melakukan proses pencampuran bahan herbal ke dalam ramuan obat yang sedang dibuat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas obat, dan memercepat proses pemulihan pada pasien yang menderita penyakit tertentu. Tumbuh-tumbuhan yang disebutkan dalam Lontar Taru Premana dan memiliki aspek fungsional dalam menjaga kesehatan fisik, emosional, serta spiritual masyarakat Bali diantaranya: gamongan, babakan tingkih don kesuna, bangle, sulasih miik, paya puuh, musi, akah teki, ketimun gantung, pulet putih, jae, nyuh gading, bayam bang, kayu manis, lunak tanak, sibatah lateng, bunut, sampar wantu, juuk, sembung, maduri putih, bintanu, bangsing kresek, waluh pahit, klengbang, kangkong yuyu, dan lain sebagainya. Beberapa spesies yang disebutkan tersebut adalah Sebagian kecil dari klasifikasi tumbuhan yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH disebutkan dalam lontar tersebut. Jika ditelaah. Mpu Kuturan melalui naskah yang beliau tulis, menekankan tentang manfaat herbal sebagai bahan obat-obatan. Eksplanasi lain dari keberadaan tumbuhan yang secara eksplisit ada dalam penjelasan Taru Premana memiliki manfaat secara klinis. Dengan mengonsumsi obat herbal secara rutin, memberikan berbagai manfaat kesehatan dan minimnya efek samping yang dihasilkan. Manfaat kesehatan yang didapatkan dengan konsisten memanfaatkan tumbuhan sebagai obat antara lain, menjaga imun tubuh, anti inflamasi, mencegah penyakit jantung, paru-paru, gagal ginjal, meminimalisir keracunan akibat makanan atau polutan, menjaga kesehatan mata, menjaga kesehatan gigi, dan lain sebagainya. Varian manfaat klinis yang dihasilkan dari campuran bahan herbal, dengan dosis dan aturan konsumsi yang tepat, ini akan mengurangi ketergantungan manusia era modern terhadap obat-obatan berbahan dasar kimia. Dilain sisi, selain memberikan kesehatan secara fisik, penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat juga tidak menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Taru Premana yang secara esensial berupaya membangun kultur sehat dalam kehidupan masyarakat Bali, tidak berhenti pada upaya konstruktif pada bidang klinis. Akan tetapi, keberadaan tumbuhan yang dimanfaatkan juga berdimensi sosio-religius, serta berefek pada tujuan ekologis. Bagi masyarakat Hindu Bali, tumbuhan adalah manifestasi dari entitas kedewataan dan menempatkan Dewa Sankara sebagai entitatas transendennya. Karena tumbuhan direoresentasikan sebagai imanensi Tuhan, maka manusia tidak lagi memandang tumbuhan serta lingkungan sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Dengan kata lain, antara human dan nature tercipta simpul ekologis (Conway, 2. Dilain sisi, tumbuhan dalam pandangan agama Hindu dipersepsikan sebagai entitas hidup, karena adanya Tuhan dalam personifikasi sebagai Stawira . lemen yang memberikan hidup bagi semua tanaman, pohon atau tumbuha. (Leach, 2. Maka dari pada itu, memanfaatkan alam sebagai bagian untuk menunjang kehidupan manusia, sama dengan menghadirkan entitas teologis atau ketuhanan. Konsepsi ini juga berimplikasi bagaimana manusia menciptakan relasi harmonis atau ekuilibrium dengan alam lingkungannya, atau meminimalisir terjadinya kerusakan ekosistem. Dari eksplanasi di atas, tafsir dan eksplanasi pada Taru Premana pada akhirnya memformulasikan penjelasan lebih lanjut mengenai naskah tersebut. Penjelasannya akan diklasifikasikan menjadi dua sub bahasan sebagai berikut. Taru Premana sebagai Aspek Esensial dalam Kehidupan Sosio-Religius Masyarakat Hindu Bali Kompilasi ilmu pengetahuan tradisional sebagai ancient knowledge menjadi skema kognitif masyarakat Bali yang terdokumentasikan dalam berbagai arsip. Arsiparsip tersebut terjewantahkan melalui lontar, kitab, ataupun sastra lainnya. Lebih penting dari itu adalah, bagaimana naskah-naskah tersebut terdokumentasikan dan menjadi basis referensi dalam laku keseharian subjek penerimanya. Salah satu tinggalan naskah yang memiliki posisi penting dalam konstelasi sosio-religius masyarakat Hindu Bali adalah Lontar Taru Premana. Keberadaan teks ini secara substansial adalah kerangka berpikir dari tokoh besar. Mpu Kuturan. Dengan kemampuan yang dimiliki dalam mengenali berbagai jenis tumbuhan herbal, dan klasifikasi kegunannya masing-masing. Pada lintasan sejarah, terkompilasinya catatan penting tentang budaya klinis melalui pengobatan tradisional, dan menjadikan tumbuhan sebagai objek penyembuhnya, ternyata diceritakan dalam berbagai tafsir. Salah satu interpretasi mengenai lahirnya naskah ini ketika Mpu Kuturan ingin melakukan pengobatan, dan membantu masyarakat yang dilanda krisis kesehatan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Naskah Taru Premana adalah catatan percakapan Mpu Kuturan yang sedang melakukan Dewa Sraya di sebuah kuburan, tepatnya pemuunan . empat kremasi jenaza. selama satu bulan tujuh hari. Momen terakhir beliau melakukan liturgi tersebut, muncullah Dewa Sangkara, memberikan anugerah agar orang suci tersebut bisa berbicara dengan semua tumbuhan, dan mengetahui khasiat dari masing-masing tanaman obat itu. Darisinilah muncul dialog dan menghasilkan kompendium mengenai ilmu kesehatan tradisional, di mana tanaman dijadikan sebagai media penyembuhnya. Tanaman-tanaman yang terdokumentasikan dalam lontar itu seperti, pohon cemangga, dengan karakteristik daging, akar dan juga daun bersifat sedang. Serta memiliki getah berwarna merah. Berkhasiat sebagai loloh penyakit demam. Kemudian pohon pule, dengan struktur daging bersifat sedang, getah panas, dan akar menyejukkan. Ujung batangnya dicampur dengan kelapa bakar, berguna sebagai obat panas. Selanjutnya, pohon cemara, memiliki daging dan daun bersifat panas, akar bersifat sedang. Dengan campuran daun serta sarana tanah tiga kepal yang diambil dari perempatan. Berkhasiat sebagai tutuh mata, obat untuk orang yang terkena pangeger, jaranguyang serta piwelas. Pohon kakopok, dengan struktur anatomis kulit batang bersifat sedang, daun panas, akar bersifat dingin. Dengan campuran bahan seperti kulit batang, pulasahi dan bawang putih, bisa dipergunakan sebagai olesan pada seorang ibu hamil. Dan masih banyak varian deskriptif mengenai tanaman obat dalam naskah tersebut. Kompendium mengenai ilmu kesehatan tradisional yang diajarkan dalam Taru Premana tereksplanasi secara spesifik dalam teknik pengolahan bahan-bahan tradisional, proses pembuatan dan pengaplikasiannya. Teknik-teknik tersebut, pertama. Boreh adalah obat tradisional Bali yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang karakter atau sensasi panas, sejuk. Bermanfaat untuk menyejukkan kulit, menghangatkan tubuh, mengurangi nyeri, pegal, meningkatkan kesehatan kulit, mengatasi gejala penyakit ringan . lu, pile. Umumnya terbuat dari rimpang-rimpangan yang memiliki sifat atau karakter hangat, seperti kunyit, jahe, kencur. Dan biasanya ditambah dengan tumbuhan penghangat seperti cengkeh serta kayu manis. Prosesnya bahan-bahan tersebut ditumbuk serta dicampurkan dengan air hangat atau minyak kelapa, sehingga menyerupai pasta. Dioleskan boreh tsb secara merata pada kulit yang dirasa sakit atau yang ingin diaplikasikan. Boreh hanya digunakan diaplikasikan untuk penggunaan luar, khususnya kulit. Kedua, sembar. Sembar adalah obat tradisional Bali yang dibuat dengan bahan-bahan alami, biasanya memadukan rimpang-rimpangan ataupun rempah lainnya. Akan tetapi, bahan-bahan tersebut setelah melalui proses ekstraksi . rosesnya sama seperti bore. , proses pengaplikasiannya memadukan teknik pengobatan tradisional dengan praktik-praktik spiritual serta lokal. Praktik-praktik spiritual ataupun lokal tersebut terlihat dari pelafalan mantra ataupun bait-bait khusus. Biasanya, sloka yang diucapkan bertujuan untuk mengumpulkan energi alam, sehingga proses penyembuhan pasien, dilakukan secara dua arah, yakni secara skala dan Ketiga tampel. Tampel memiliki pengertian yang sama seperti boreh ataupun Proses pembuatannya juga sama seperti boreh. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ramuan ini terdiri dari tanaman apotik hidup, rempah, serta rimpangrimpangan. Cara untuk mengaplikasikannya adalah dioleskan seperti salep. Tampel juga diaplikasikan pada bagian luar tubuh, dan menggunakan sloka tertentu sebagai cara untuk memaksimalkan proses pengobatan. Keempat tutuh. Tutuh merupakan obat tradisional Bali yang terbuat dari berbagai bahan tradisional. Secara spesifik, tutuh memiliki kesamaan dengan jamu, yakni semua ekstrak tumbuhan yang sudah diperas dan dicampur dengan air hangat ataupun madu, diminum oleh pasien. Selain bermanfaat untuk penyembuhan secara fisik, tutuh juga bermanfaat untuk menyeimbangkan psikologis serta aspek emosional pasien. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sama halnya dengan sembar dan tampel, ekstraksi tutuh juga menggunakan pendekatan spiritual ataupun kultural khas Bali, yakni ramuan yang telah selesai dibuat, akan diberikan mantra tertentu, sebelum nanti diminum oleh pasien. Pokok bahasan yang dijabarkan dalam teks Taru Premana tidak berhenti pada aspek substantif mengenai keberadaan tumbuhan obat dan manfaat kesehatannya. Melainkan, naskah tersebut dapat diinterpretasikan dalam aspek lain, yakni sebagai simbolisasi internalisasi nilai kehidupan berbasis sosio-religius. Pecakapan antara Mpu Kuturan dengan Dewa Sangkara, dan berlanjut dengan semua tanaman obat, adalah pengejewantahan nilai harmonisasi antara manusia sebagai subjek dengan alam lingkungannya. Secara analogis, jabaran dialogis antara tokoh-tokoh yang disebutkan dalam naskah merepresentasikan struktur anatomi yang saling bersinggungan, memiliki arsiran dan inheren satu sama lain. Keberadaan Mpu Kuturan dan manusia menjadi faktor penentu dalam menjaga alam semesta (Bhuana Agun. Naskah Taru Premana memberikan skema atau kerangka berpikir bahwa, manusia bukan lagi sebagai entitas determinan dalam memanfaatkan alam, melainkan antara individu dan entitas kosmik harus diredefinisi agar membentuk tipologi dependensiAA Dengan kata lain, diantara dua elemen tersebut membentuk simpul dan jika satu elemen terdistraksi, akan memengaruhi entitas lainnya. Berbicara mengenai keberadaan teks Taru Premana yang secara konsruktif membentuk ide keseimbangan antara alam dan manusia, dapat dilacak dengan mengunakan perspektif teori filologi. Paradigma yang ditawarkan oleh selinkung tersebut adalah melakukan pelacakan pada teks-teks kuno, dan mencari konjungsinya dengan konteks terkini. Artinya, keberadaan lontar ataupun naskah dengan umur relatif tua, justru memiliki relevansi dan bersifat faktual untuk membaca realitas hari ini. Sama halnya dengan ancient knowledge Mpu Kuturan dalam naskah Taru Premana. Secara sosio-religius, keberadaan teks tersebut tidak terbatas pada upaya klinis untuk menciptakan keadaan masyarakat yang sehat, melainkan ada misi atau ideologi pelestarian lingkungan, keberlanjutan dan bagaimana manusia melekatkan dan AomenubuhkanAo paradigma bahwa keberlanjutan lingkungan adalah bagian untuk menjaga keberlangungan peradaban (Demeulenaere et al. , 2. Taru Premana menjadi basis argumentasi untuk menciptakan diskursus, khususnya dalam aspek ontologis, dalam rangka melihat bagaimana teks dan kebenaran didalamnya bisa bertahan dalam siklus waktu, dan menjadi referensi berpikir dalam melihat keberadaan lingkungan. Terafirmasinya beragam kebenaran dalam naskah tersebut tidak bisa dilepaskan dari kemunculan figur Mpu Kuturan sendiri. Sosoknya ditafsir tidak hanya sebagai tokoh besar, melainkan sebagai pengejewantahan manusia ideal dengan cara berpikir idealis-harmonis. Ada reproduksi knowledge yang terus diciptakan dalam rangka menyelaraskan kedudukan manusia dengan alam semesta. Inilah aspek ontologis dan bertransisi menjadi elemen aksiologis, di mana manusia tidak sekadar paham dengan pentingnya posisi lingkungan, melainkan ikut berpartisipasi untuk menjaganya (Mingming, 2. Secara konklutif, teks mereformasi sebuah konteks menjadi sudut pandang untuk merealisasikan sesuatu. Teks Taru Premana dan kehadiran Mpu Kuturan sebagai tokoh sentral tidak hanya berhenti pada relasi antara manusia dengan alam semesta, melainkan berlanjut pada keyakinan manusia bahwa semua tumbuhan . erkhusus tanaman oba. adalah representasi Tuhan. Dengan kata lain, manifestasi causa prima dalam wujud tumbuhan, menandakan keberadaan palemahan tidak sekadar sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Artinya, antara manusia dengan lingkungan harus mewujud tindakan intersubjektivitas, mengaosiasikan semua elemen alam semesta sebagai kedirian individu itu sendiri. Doktrin mengenai keyakinan semacam ini dijelaskan dalam teori batas akal. Horizon ini menjelaskan keberadaan manusia yang memiliki limitasi dalam menalar entitas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH eksterioris, atau sesuatu di luar dirinya (Hilderbrand & Sritrakool, 2. Maka dari pada itu, proses internalisasi teks yang memadukan entitas tokoh dan keberadaan Tuhan sebagai elemen abstrak, diterima sebagai kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Artinya, eksistensi teks tidak perlu dipertanyakan lagi, karena apapun isi atau substansi didalamnya, adalah medium untuk menciptakan kehidupan konstruktif, harmonis dan berkesinambungan (Song. Page & Fang, 2. Taru Premana dalam aspek ini memegang peranan signifikan untuk meneruskan ide pelestarian, sekaligus membentuk cara pandang manusia, bahwa alam tidak sekadar entitas fisik, melainkan manifestasi dari keberadaan Tuhan/Dewa/Dewata. Maka, merusak keberadaannya, sama dengan merusak relasi manusia dengan pencipta. Kesimpulannya, naskah warisan Mpu Kuturan ini secara gradual menyemaikan ide keseimbangan, menata corak hidup sosioreligius, di mana manusia distimulasi untuk menjaga dan mendefinisikan alam sebagai perwujudan Yang Kuasa. Dewa Sangkara sebagai penguasa tumbuhan diinterpretasikan sebagai analogi kehadiran Tuhan melalui tumbuhan, sebagai cara sederhana untuk mengontekstualisasikan causa prima yang tidak bisa ditangkap oleh akal sehat manusi. , serta menghadirkan kehadiran Tuhan melalui tumbuhan sebagai media penyembuh. Taru Premana sebagai Simbolisasi Ekuilibirum Manusia dengan Alam Semesta (Praja dan Kamadhu. Eksistensi Mpu Kuturan tidak hanya sebatas pada kehadiran individu sebagai persona, akan tetapi menjadi aspek fundamental serta elementer yang melingkupi keseluruhan sistem sosio-religius masyarakat Hindu Bali. Tidak hanya memiliki peranan dalam upaya konstruktif membangun peradaban Hindu, mulai dari sistem keyakinan, klasifikasi sastra berdasarkan realitas hidup masyarakat, liturgi sebagai basis berupacara dan ber-upakara, kehadirannya juga menjalar pada basis hyang-wong-lemah (Tuhan, manusia dan ala. , atau dikenal dengan konsepsi human-nature. Paradigma wong-lemah, kemudian terskematisasi menjadi relasi Prajapati-Praja-Kamadhuk atau kerangka yang menghubungkan secara siklis antara keberadaan Tuhan, manusia dan alam. Keberadaan ketiga entitas tersebut bersifat inheren, dengan memosisikan masing-masing elemen sebagai bagian egaliter. Konsepsi mengenai trinitas tersebut kemudian terjabarkan dalam sebuah naskah kuno bernama Taru Premana. Taru Premana sebagai basis tekstual, kemudian menjalar menjadi paradigma kontekstual. Kontekstualisasi dari paradigma kamadhuk sebagai salah satu warisan dari Mpu Kuturan, dapat dilihat dari internalisasi Taru Premana itu sendiri, yakni melihat segala jenis tumbuhan yang bisa difungsionalisasikan sebagai obat/sarana penyembuhan. Walaupun sudah ditemukan sejak lama, tumbuhan dalam sastra Taru Premana masih ada sampai sekarang, dibudidayakan serta difungsikan untuk merawat esensi Praja . adan fisik manusia dalam esensi fan. Selain dimanfaatkan dalam aspek klinis, keberadaan Taru Premana juga diperuntukkan pada praktik liturgi, sebagai representasi dari kehadiran Tuhan, pada saat upacara keagamaan. Mpu Kuturan mewariskan aspek holistik pada peradaban umat Hindu khususnya di Bali. Karena, melalui medium tanaman bisa dioperasionalisasikan dalam semua realitas hidup, sekaligus menjadi katalisator untuk menciptakan harmonisasi secara vertikal ataupun horizontal. Taru Premana dalam posisinya sebagai elemen ekuilibrium atau sarana untuk menyeimbangkan kehidupan fisik, sosial serta religius, bisa dilihat dari keberadaan manusia dan lingkungan . raja dan kamadhu. , atau relasi pawongan dengan palemahan. Keterhubungan dua entitas ini pada akhirnya menghasilkan corak eudaimonia atau adanya proses pemaknaan mengenai realitas hidup, dan aspek yang menunjang kehidupan. Artinya, manusia tanpa kehadiran alam . , tidak akan bermakna, karena proses kehidupan menjadi terhenti karena nihilnya penunjang hidup tersebut (Puy et al. Dilain sisi, manusia bisa memaknai keberadaannya, karena ada entitas diluar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dirinya yakni alam semesta itu sendiri. Interpretasi keberadaan Taru Premana sebagai sarana untuk menciptakan skema harmonisasi dapat dilihat dari penjelasan mengenai keberadaan praja dengan kamadhuk tidak berada dalam posisi paradoksal ataupun Melainkan, kedua entitas tersebut membentuk skema keterhubungan satu sama lain. Keterikatan dua aspek tersebut terikat dalam simpul fondasional, dan masingmasing dari mereka tidak bisa dieleminir. Karena, jika dieleminasi salah satu bagian antara praja ataupun kamadhuk, maka akan berimplikasi pada entitas atau unsur yang Dengan kata lain, keberadaan naskah Taru Premana melihat keberadaan manusia dan lingkungan berada dalam tegangan biner, yakni meminimalisir kehendak manusia untuk mengeksploitasi alam, dan mendesak setiap individu untuk melakukan pelestarian dalam radius makrokosmik. Agama Hindu sebagai suatu kompendium, mengajarkan keberadaan umat manusia memiliki status egaliter dengan semesta. Maka dari pada itu, naskah penting dari Mpu Kuturan berusaha untuk menyemaian paradigma ekosentrisme, atau prajakamadhuk atau pawongan-palemahan harus terkonstruksi asas resiprokal, atau relasi manusia dan semesta memiliki pola timbal balik, kesadaran diantara elemen-elemen tersebut pada akhirnya melahirkan kesadaran sekaligus kerangka berpikir (Demeulenaere et al. , . manusia dan alam bukanlah objek, melainkan sama-sama berstatus sebagai subjek, dalam tendensi imanen ataupun transenden. Taru Premana sebagai suatu konteks dan pengejewantahan praksis ekologis berbasis agama atau eko-spiritual, menjadi sebuah piranti untuk meminimalisir potensi kehancuran lingkungan. Mengapa demikian? Aspek paling potensial untuk mencegah terjadinya katastrofe dan upaya untuk membangun ekulibirum antara manusia dengan lingkungan adalah mengoptimalisasikan ide, gagasan ataupun konsep yang digali dari tataran fundamental dari kehidupan manusia dalam hakikatnya sebagai homo religious, yakni ideologi agama dan dogma teks sucinya. Dengan kata lain, manusia sebagai individu beragama, akan menjaga keberadaan alam semesta, karena meyakini entitas kosmik sebagai representasi kehadiran Tuhan di dunia (Hernandez et al. , 2. Ide itu didapatkan serta disemaikan dari teks-teks berbasis agama Hindu, khususnya dalam naskah Taru Premana. Jika dijelaskan secara paradigmatis, implementasi dengan mengombinasikan hakikat ide agama dengan praksis ekologis adalah penjabaran dari teori antropologi agama. Teori antropologi agama menjelaskan keberadaan manusia sebagai individu berakal yang seringkali bertindak pragmatis, melacak relasi manusia dengan alam, yang dipayungi dengan dogma-dogma Akan tetapi, sisi pragmatis dan melihat alam sebagai objek, dapat didegradasi dengan intensitas penanaman gagasan agama. Agama memandang, tubuh manusia adalah representasi dari semesta raya, dan semesta raya teridentifikasi dalam struktur anatomis tubuh manusia (Wang. Yu & Cao, 2. Maka dari pada itu, kemunculan ide pelestarian dan penciptaan harmonisasi terhadap lingkungan menjadi cara pandang dan penalaran, bahwa antara tubuh mikrokosmos dengan anatomi makrokosmos bukanlah sesuatu yang distingtif. Melainkan, . raja/pawonga. amadhuk/palemaha. membentuk relasi dependensi, mengisi dan memengaruhi satu sama lainnya (Bourina & Dunaeva, 2. Teori antropologi agama dalam konteks Taru Premana dan implementasi menciptakan asas keseimbangan . menjadi cara untuk melakukan reorganisasi dan penataan ulang mengenai pemahaman, bahwa manusia tidak memegang status penentu lingkungan, melainkan keberadaan mereka di alam raya harus diimbangi dengan kesadaran diri. Bahwa realitas non-human . dan human . sama sekali tidak bisa diabaikan. Argumentasi agama memandang dua elemen tersebut diwajibkan membentuk skema konstrukif, sebagai variabel penting mencapai harmonisasi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kesimpulan Lontar Taru Premana memegang peranan penting dalam realitas spiritual, sosial dan ekologis masyarakat Hindu Bali. Selain berfungsi sebagai rujukan tekstual sebagai upaya menerapkan teknik usadha atau penyembuhan, naskah kuno warisan Mpu Kuturan tersebut, memiliki cakupan luas, terutama dalam rangka mengakomodasi kehendak manusia untuk melestarikan sekaligus menyelaraskan hidup dengan lingkungnnya. Beragam jenis tumbuhan dan khasiatnya masing-masing tidak hanya bertendensi pada upaya pengobatan, melainkan sebagai cakupan untuk melihat realitas kosmis, bahwa keberadaan tumbuhan harus dimanfaatkan sesuai porsinya, tidak secara tendensius digunakan dan pada akhirnya menciptakan eksploitasi. Ketersediaannya perlu dipikirkan, sehingga muncul ide atau gagasan tentang upaya pemeliharaan atau konservasi. Penalaran lebih lanjut dari Taru Premana meletakkan posisi pada tidak sekadar menggunakan, melainkan memikirkan jangka panjang ketersediaan spesies tumbuhan obat tersebut, dan dalam skala lebih besar, berimplikasi pada konteks ekualitas serta ekuilibrium manusia dengan lingkungannya. Daftar Pustaka