p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 http://mediteg. id/index. php/mediteg PEMBERDAYAAN KELOMPOK POSYANDU WANATIRTA DALAM PEMBUATAN TEH HERBAL GEMITIR UNTUK MENUNJANG KEMANDIRIAN BAHAN BAKU OBAT Muhammad Eka Putra Ramandha1*. I Nyoman Bagus Aji Kresnapati2. Baiq Yulia Hasni Pratiwi3 Program Studi Farmasi. Fakultas Kesehatan. Universitas Bumigora. Mataram. Nusa Tenggara Barat. Indonesia123 1ramandha@universitasbumigora. Abstrak Tujuan kegiatan pengabdian ini yaitu yaitu meningkatkan pelayanan kesehatan di Kelompok Posyandu Wanatirta dan membantu menurunkan resiko atau kejadian hipertensi dan kolesterol pada lansia. Target pengabdian yaitu kader posyandu wanatirta yang berjumlah 25 Metode tahapan pengabdian ini yaitu: . perencanaan, . sosialisasi, . pelatihan, dan . Sebelum dilakukan sosialisasi, dilakukan pemberian kuisioner tentang pengetahuan seputar tanaman herbal bunga gemitir. Setelah dilakukan penyuluhan kemudian dilanjutkan pemberian kuisioner kembali masyarakat untuk mengetahui sejauh mana masyarakat telah teredukasi dari pemanfaatan penyuluhan yang disampaikan. Hasil kuisioner menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan informasi sebelum dan sesudah penyampaian materi dan demosnrasi pemnafatan teh bunga gemitior kepada masyarakat sebesar 58,17%. Hasil uji indepent T test menunjukkan terdapat perbedaan nyata secara signifikan sebelum pemberian penyuluhan dan sesudah pemberian penyuluhan pemafatan teh herbal bunga gemitir . <0,. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan nyata antara sebelum pemberian infromasi dan sesudah penyampaian informasi kepada lansia di desa sesaot, kecamatan narmada. Kata Kunci: Bunga gemitir. Demonstrasi. Penyuluhan. Pengabdian Kepada Masyrakat Abstract The aim of this service activity is to improve health services in the Wanatirta Integrated Service Post and help reduce the risk or incidence of hypertension and cholesterol in the elderly. The target of service is the Wanatirta Integrated Service Post cadres, totaling 25 people. The methods for this service stage are: . planning, . socialization, . training, and . Before the socialization was carried out, a questionnaire was given regarding knowledge about the gemitir flower herbal plant. After the counseling was carried out, the community was given another questionnaire to find out the extent to which the community had been educated from the use of the extension provided. The results of the questionnaire showed that there was an increase in knowledge of information before and after the delivery of the material and demonstration of the use of gemitior flower tea to the public by 58. The results of the independent T test showed that there was a significant difference before providing counseling and after providing education on the use of gemitir flower herbal tea . <0. So it can be concluded that there is a real difference between before providing information and after providing information to the elderly in Sesaot village. Narmada subdistrict. Keyword: Gemitir Flowers. Demonstrations. Counseling. Community Service Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa kategori lansia adalah seseorang yang mencapai usia lebih dari 65 Pada usia tersebut banyak perubahan yang terjadi salah satunya adalah penurunan kemampuan fungsional tubuh. Beberapa perubahan yang terjadi pada lansia antara lain perubahan pada sistem persarafan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, pernafasan, reproduksi, pencernaan dan genitourinary (Sugiyo, 2. Perubahan tersebut pasti akan terjadi dan perlu suatu upaya preventif untuk menurunkan angka kesakitan pada usia Salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan lansia adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan. Berbagai mewujudkan masa tua yang bahagia, sehat, berdaya guna dan produktif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Wujud nyata dalam lingkungan sosial pelayanan lansia tingkat masyarakat melalui posyandu lansia. Puskesmas dan pelayanan kesehatan lanjut adalah rumah sakit. Upaya pemeliharaan kesehatan bagi usia lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar para lansia tetap sehat, mandiri, aktif dan produktif secara sosial ekonomi sehingga untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah berkewajiban untuk menjamin ketersediaan memfasilitasi pengembangan kelompok lanjut usia (Rosyada dan Budi, 2. Saat ini rata-rata desa telah membentuk posyandu lansia, salah satunya adalah desa Sesaot. Berdasarkan data tahun 2024 jumlah penduduk desa Sesaot sebanyak 8. 230 jiwa dengan jumlah pusat posyandu berjumlah 6 sesuai dengan jumlah dusun yang ada desa Sesaot. Posyandu Warna Tirta merupakan salah satu posyandu yang berada di dusun Sesaot timuk desa Sesaot. Posyandu Warna Tirta terbentuk sejak tahun 2022. Berdasarkan data arsip posyandu jumlah lansia yang datang berkunjung untuk memeriksakan kesehatannya sebanyak 20 orang setiap bulannya. Hal ini tergolong rendah, karena jumlah lansia pada dusun Sesaot timuk berjumlah 40. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra kader posyandu yaitu posyandu lansia sering menghadapi tantangan dalam menyediakan metode kesehatan yang efektif bagi lansia, hal ini disebabkan karena pengetahuan dan kurangnya pelatihan terhadap para kader Permasalahan lainnya adalah rendahnya minat lansia untuk meminum obat-obatan kimia. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa lansia di desa sesaot didapatkan data yaitu para lansia takut/tidak mau untuk minum obat-obat kimia dikarenakan memiliki efek samping. Salah satu hasil penelitian mengungkapkan bahwa efek samping yang ditimbulkan oleh obat golongan statin, kurang lebih 6 . minggu setelah penggunaan (Selva et al. Beberapa pasien mengalami myalgia bahkan ketika terapi dihentikan oleh karena itu pengobatan tergantung pada tujuan dan kadar kolesterol, pengobatan kolesterol mungkin juga melibatkan penggunaan campuran obat (Husnia et al. , 2. Hasil wawancara juga mendapatkan hasil, para lansia jika merasakan sakit tidak langsung memeriksakan kesehatannya, tapi para lansia meminum ramuan tradisional untuk Ramuan didapatkan dari para leluhur terdahulu secara turun-temurun. Ramuan tradisional dibuat dengan campuran berbagai tumbuhan-tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan obat herbal yaitu Bunga gemitir (Tagetes erecta L. Bunga gemitir merupakan tanaman hias yang memiliki aroma khas yang menyengat. Aroma khas inilah yang menyebabkan bunga gemitir diabaikan dan dianggap tidak bermanfaat. Bunga gemitir berperan sebagai antioksidan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Ramadha. Kresnapati & Pratiwi anti-bakteria dan hepatoprotective (Gopi et , 2. Bunga ini mengandung, flavonoid, karotenoid, quercetagetin, triterpenoid, karotenoid ( karoten, lutein, likope. , tannin, saponin, xanthophylls dan zeaxanthin. Pemberian ekstrak etanol bunga gemitir (Tagetes erecta L) dapat menurunkan kadar Malondialdehyde (MDA) dan meningkatkan aktivitas Superoxide Dismutase (SOD) dan Catalase (CAT) Rattus norvegicushepatoksik yang diberikan etanol 40%. Inovasi yang dilakukan tim pengusul yaitu memanfaatkan bunga gemitir yang beraroma menyengat menjadi teh sebagai minuman herbal yang dapat meningkatkan imun tubuh dan membantuh mencegah & menurunkan kolesterol dan hipertensi bagi para lansia (Gauri dan Sisodia, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian yang dilakukan yaitu . Sosialiasai dan pelatihan pebuatan teh herbal bunga gemitir dan . sosialisasi manajeman pengelolaan posyandu. II. METODE Bahan-bahan yang digunakan akan di terapkan pada pengabdian ini yaitu teh herbal bunga gemitir, alat-alat pemeriksaan Kesehatan. Adapun Metode kegiatan pengabdian yang akan dilakukan termuat secara ringkas sebagai berikut: Perencanaan Sosialisasi Pelatihan Evaluasi Gambar 1. Skema Kegiatan Pengabdian Perencanaan Pada tahapan ini tim pengabdian melakukan focus group discussion (FGD). Perencanaan diawali dengan memfokuskan kegiatan dalam dua aspek yaitu aspek sosial kemasyarakatan dan aspek manajemen. Sosialisasi Tahapan sosialisasi merupakan tahapan focus group discussion (FGD) dengan mitra sasaran dalam hal ini kader posyandu Wanatirta. Tahapan ini berfokus pada teknis pelaksanaan kegiatan seperti jadwal waktu pelaksanaan kegiatan. Pelatihan Pada tahapan ini tahapan pelaksaan Terdapat 2 kegiatan yang akan dilakukan yaitu . pelatihan tentang pembuatan teh herbal bunga gemitir yang menunjang aspek sosial kemasyarakatan dan . pelatihan tentang manajerial kegiatan Pelatihan pembuatan teh herbal bunga menggunakan bunga gemitir diawali Bunga gemitir yang terkumpul dicuci bersih dengan air mengalir. Proses selanjutnya yaitu pemisahan mahkota bunga dari kelopaknya hingga menjadi helaian-helaian kecil. Helaian bunga ini dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2-3 hari atau menggunakan oven dengan suhu 50-70 0C selama 1-2 jam. Cara pengeringan menggunakan oven hanya sebagai pilihan, apabila tidak memiliki oven cukup dikeringkan dibawah sinar matahari. Bunga gemitir yang telah kering dikemas ke dalam kantung teh. Pada tahap ini dapat ditambahkan perasa untuk meningkatkan citarasa seperti ekstrak kering daun mint, kulit jeruk, serai dll. Teh bunga gemitir siap dikonsumsi seperti teh pada umumnya dengan diseduh air panas. Untuk saran penyajian, teh bunga gemitir dapat ditambahkan gula merah atau madu agar rasanya lebih menarik. Proses pembuatan teh Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg bunga gemitir dapat dilihat pada gambar analisis menggunakan SPSS berupa diagram progress pemberian bunga gemitir kepada lansia di kelompok posyandu WanaTirta. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian ini dilaksanakan di desa sesaot, kecamatan narmada, lombok barat. Kegiatan diawali dengan diskusi Bersama kepala desa ketua kader posyandu dan kepala dusun untuk menentukan jadwal sosialisasi terkait kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan yang dilakukan yaitu . Sosialisasi pembuatan the herbal bunga gemitir dan . sosialisasi manajemen posyandu. Gambar 2. Proses Pembuatan Teh Bunga Gemitir Pelatihan tentang manajerial posyandu. Pelatihan ini dimaksudkan agar proses kegiatan posyandu berjalan dengan baik dan Pada pelatihan ini kader posyandu menajemen pengelolaan posyandu yang . Perencanaan, . Pengorganisasian, . Pelaksanaan, . Pengawasan dan . Evaluasi. Evaluasi. Pada tahap ini akan dilakukan pemantauan hasil sosialisasi. Evaluasi dilakukan pada bulan berikutnya ketika kegiatan posyandu Indikator keberhasilan akan terlihat apabila para kader mengaplikasikan hasil sosialisasi dan pelatihan yang telah Proses evaluasi dilakukan dengan mengumpulkan data kuisioner lansia pada kelompok posyandu WanaTirta. Hasil data menggunakan alat program yaitu SPSS versi 27 dengan jenis analisis berupa independent T-test yang sebelumnya data kuisioner telah di uji validitas dan relabilitasnya. Output Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 19 September 2024 di desa Sesaot kecamatan Narmada kabupaten Lombok barat. Peserta pelatihan yaitu kader posyandu wanatirta yang berjumlah 25 orang. Pelatihan diawali dengan penjelasan tentang bunga gemitir dan manfaat bunga gemitir. Pelatihan dilakukan oleh satu orang narasumber dan pelatihan dilakukan secara langsung melibatkan para kader posyandu. Pembuatan bunga gemitir diawail Proses selanjutnya yaitu pemisahan mahkota bunga dari kelopaknya hingga menjadi helaian-helaian kecil. Helaian bunga ini dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2-3 hari atau menggunakan oven dengan suhu 50-70 0C selama 1-2 jam. Suhu pengeringan dipilih agar bunga gemitir tidak overcook atau gosong. Cara pengeringan menggunakan oven hanya sebagai pilihan, apabila tidak memiliki oven cukup dikeringkan dibawah sinar matahari. Bunga gemitir yang telah kering dikemas ke dalam kantung teh. Pada tahap ini dapat ditambahkan perasa untuk meningkatkan citarasa seperti ekstrak kering daun mint, kulit jeruk, serai dll. Teh bunga gemitir siap dikonsumsi seperti teh pada umumnya dengan diseduh air panas. Untuk saran penyajian, teh bunga gemitir dapat Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Ramadha. Kresnapati & Pratiwi ditambahkan gula merah atau madu agar rasanya lebih menarik. Pertanyaan Apakah anda Apakah Anda bunga gemitir Apakah anda bunga gemitir sebagai the Gambar 3. Penjelasan tentang manfaat bunga gemitir Gambar 4. Pelatihan pembuatan teh herbal bunga Pelatihan pembuatan teh herbal bunga gemitir ini dimaksudkan untuk menambah wawasan dan skill kader posyandu dalam memanfaatkan tanaman sekitar sebagai obat guna mendukung program kemandirian obat. Kemampuan kader diperlukan agar dapat mengedukasi peserta posyandu khususnya Berikut disajikan data terkait pemahaman lansia sebelum dan setelah pemberian materi pelatihan pembuatan teh herbal oleh kader posyandu. Tabel 1. Hasil Uji Validitas Pertanyaan Apakah anda obat herbal? Apakah Anda obat herbal? r tabel 0,701 0,2907 Valid 0,689 0,2907 Valid Keterangan r tabel 0,766 0,2907 Valid 0,768 0,2907 Valid 0,702 0,2907 Valid Keterangan Tabel 1 menunjukkan hasil uji validitas. Ketentuan uji validitas, dalam menarik kesimpulan, jika r hitung > r tabel maka data kuisionernya valid, sedangkan jika r hitung < r tabel maka kuisionernya tidak valid. Hasil analisis menunjukkan semua pertanyaan kuisioner termasuk ke dalam kategori valid. Uji statistik selanjutnya yaitu uji relabilitas yang di tunjukkan pada tabel 2. dinyatakan reliabel dengan kriteria jika nilai CronbachAos Alpha > 0,6 maka reliable dan jika nilai CronbachAos Alpha < 0,6 maka tidak Hasil Analisis menunjukkan Cronch Alpha >0,6 sehingga kuisioner diatas reliabel. Tabel 2. Uji Relabilitas Cronbach's Alpha 0,773 Keterangan Hasil uji selanjutnya yaitu uji independent T test yaitu analisis SPSS yang menguji kuisioner sebelumnya apakah terdapat perbedaan bermakna dibandingkan sesudah pemberian kuisioner. Uji Independet T Test dilakukan dengan syarat, hasil kuisionernya Berdasarkan analisis, hasil kuisioner tersebut berdistribusi normal . =200, syarat p>0,. dan homogen . =0,949, syarat p>0,. Setelah data tersebut berdistribusi normal Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg dan homogen, dilanjutkan uji independent t test yang di tunjukan pada tabel 3. Tabel 3. Uji Independent t Test Pertanyaan Apakah anda obat herbal Apakah Anda obat herbal Apakah anda bunga gemitir Apakah Anda bunga gemitir Apakah anda bunga gemitir sebagai teh Rerata Peningkatan Penyapaian Materi Dan Demosntrasi Sebelum Sesudah Sig . 20,45% 95,45% 0,001 31,82% 88,63% 0,001 36,36% 79,54% 0,001 15,91% 72,72% 0,001 11,36% 70,45 0,001 23,18 % 81,35 % 58,17% Hasil uji statistik Pada tabel 3 menunjukkan hasil peningkatan pemahaman para lansia terkait tanaman herbal dan cara Peningkatan pemahaman para lansia diakibatkan adanya penyampaian informasi yang baik dari kader posyandu. Hasil sosialisasi manajemen posyandu menunjukkan hasil bahwa kader posyandu dapat memahami materi pelatihan dan dapat diaplikasikan pada saat kegiatan posyandu. Gambar 5. Kader melakukan edukasi kepada peserta Pelatihan Menejemen Posyandu Pelatihan manajemen Posyandu (Pos Pelayanan Terpad. bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi masyarakat di tingkat dasar. Peserta pelatihan merupakan kader posyandu wanatirta yang berjumlah 25 orang. Pelatihan manajemen Posyandu merupakan langkah penting dalam mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan melalui pelayanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas di tingkat dasar. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari pelatihan manajemen Posyandu: Peningkatan Kualitas Pelayanan: Memberikan keterampilan kepada kader Posyandu untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada kesehatan ibu dan anak, imunisasi, serta pemantauan gizi. Pengelolaan Sumber Daya: Mengajarkan cara yang efektif untuk mengelola sumber daya yang tersedia, termasuk tenaga kerja, dana, dan peralatan. Ini membantu dalam memastikan bahwa semua sumber daya digunakan secara optimal untuk mencapai hasil yang maksimal. Perencanaan dan Pengorganisasian: Membantu kader Posyandu dalam kegiatan Posyandu dengan baik, termasuk penyusunan jadwal kegiatan, koordinasi dengan pihak terkait, dan pengaturan Peningkatan Kapasitas Kader: Meningkatkan pengetahuan kader dalam manajemen Posyandu, termasuk keterampilan dalam administrasi, laporan kegiatan, dan teknik Meningkatkan Partisipasi Masyarakat: Memotivasi masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Ramadha. Kresnapati & Pratiwi dengan memahami pentingnya peran mereka dalam mendukung dan menjaga kesehatan komunitas. Evaluasi dan Monitoring: Memberikan keterampilan dalam evaluasi dan monitoring kegiatan Posyandu untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai rencana dan dapat mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan. Penerapan Kebijakan dan Standar: Memastikan bahwa semua kegiatan Posyandu sesuai dengan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh instansi pengetahuan tentang peraturan dan pedoman terbaru. Pengembangan Jaringan dan Kolaborasi: Membangun dan memperkuat jaringan kerja dengan instansi kesehatan, lembaga terkait, serta organisasi masyarakat untuk meningkatkan dukungan dan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu. Gambar 5. Sosialisasi manajemen posyandu Tujuan dari pengabdian ini yaitu meningkatkan pelayanan kesehatan bagi para lansia dan menurunkan resiko atau kejadian penyakit bagi para lansia, yaitu yang berusia diatas 60 tahun (Akbar et al. , 2. Lansia enggan meminum obat-obatan kimia dan lebih memilih membuat ramuan herbal Kebiasaan lansia pada desa sesaot lebih memilih meminum ramuan herbal hasil warisan turun-temurun dibandingkan dengan obat-obatan kimia dikarenakan para lansia beranggapan obat kimia yang diberikan akan memberikan efek samping dan akan memunculkan penyakit lainnya. Pembuatan ramuan herbal yang dilakukan dikarenakan proses dan cara pengolahan yang keliru. Tumbuh-tumbuhan herbal umumnya diolah dengan cara direbus atau di Pada proses perebusan, apabila suhu terlalu panas, senyawa penyembuh yang ada pada tumbuhan akan hilang dan tidak akan memunculkan efek penyembuh. Begitupula pada proses penumbukan, jika proses penumbukan dilakukan terlalu halus, maka senyawa penyembuh yang ada pada tanaman herbal akan hilang (Selva et al. Angka kejadian atau resiko penyakit pada lansia tinggi. Kurangnya pelatihan kepada para kader guna menunjang pelayanan kesehatan kepada para lansia Kader posyandu Wana Tirta kurang terlatih dalam pemeriksaan kesehatan khususnya bagi para lansia, sosialisasi dan pengetahuan yang kurang yang menjadi salah satu faktor hal ini terjadi. IV. PENUTUP Gambar6. Foto bersama kader posyandu Kegiatan pemberdayaan kader posyandu yang dilakukan memberikan efek kepada Masyarakat pada umumnya dan pada para kader posyandu khususnya. Efek yang Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 1. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg diterima oleh Masyarakat yaitu Masyarakat dapat mengetahui tanaman herbal dan cara Efek kepada para kader yaitu para kader memiliki kemampuan komunikasi dan manejemen yang baik dalam kegiatan posyandu, dan dapat berperan aktif dalam kegiatan posyandu. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih disampaikan kepada Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendikbud atas pendanaan dana hibah untuk skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun anggaran 2024 yang telah mendanai keberlangsungan jurnal ini. DAFTAR PUSTAKA