El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Pendidikan Sosiality Nabi Muhammad : Pondasi Moderasi Beragama di Era Modern Silmi Afifah1 Farah Qotrun Nada2 Amelya Agustin3 Muhammad Syafi Hifdzi Haq4 Mohammad Syaifuddin5 1/2/3/4/5 Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Jl. Pahlawan Km. 5 Rowolaku Kajen Kab. Pekalongan 51161 Jawa Tengah. Indonesia afifah24164@mhs. Abstract: The growing phenomenon of intolerance, social polarization, and the decline of human values in the modern era poses a serious challenge for Islamic The social education of Prophet Muhammad offers a model of education based on prophetic social values oriented toward balance and social harmony. This study aims to analyze the prophetic social values that can serve as a conceptual and practical foundation for strengthening religious moderation in Islamic educational This research employs a qualitative descriptive method using library research from QurAoanic exegesis, hadith, and both classical and contemporary Islamic education literature. The findings reveal that the ProphetAos social education emphasizes tasamuh . , taAoawun . , and rahmah . , implemented through exemplary behavior, habituation, and cross-group social These values effectively foster moderate character and inclusive religious Therefore, the social education of Prophet Muhammad serves as a prophetic character education paradigm that is relevant to strengthening religious moderation within todayAos digital and multicultural society. Keywords: Social Education. Prophet Muhammad. Religious Moderation. Modern Era. Abstrak: Fenomena meningkatnya intoleransi, polarisasi sosial, dan degradasi nilai kemanusiaan di era modern menjadi tantangan serius bagi pendidikan Islam. Pendidikan sosiality Nabi Muhammad Saw. menawarkan model pendidikan berbasis nilai-nilai sosial profetik yang berorientasi pada keseimbangan dan harmoni sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai sosial kenabian yang dapat dijadikan landasan konseptual dan praksis dalam memperkuat moderasi beragama di lembaga pendidikan Islam. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan terhadap literatur tafsir, hadis, serta kajian pendidikan Islam klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan sosiality Rasulullah menekankan nilai tasamuh . , taAoawun . , dan rahmah . asih sayan. , yang diimplementasikan melalui keteladanan, pembiasaan, dan interaksi sosial lintas kelompok. Nilai-nilai tersebut terbukti efektif dalam membangun karakter moderat dan menumbuhkan semangat keberagamaan yang inklusif. Dengan demikian, pendidikan sosiality Nabi Muhammad Saw. dapat dijadikan paradigma pendidikan karakter profetik yang relevan untuk memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat digital dan multikultural masa Kata kunci: Pendidikan Sosiality. Nabi Muhammad. Moderasi Beragama. Era Modern. 91 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 PENDAHULUAN Pendidikan sosial dalam Islam memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter, moralitas, dan keharmonisan umat. Konsep ini tidak hanya menekankan ritual dan hafalan teks, tetapi juga menanamkan nilai relasi sosial, empati, dan keadilan antar Dalam praktiknya, banyak lembaga pendidikan islam masih menitikberatkan aspek ritual dibanding pembinaan sosial. Sebagai bukti, dalam penelitian Pendidikan Sosial Berbasis Islam: Pendekatan Terpadu ditemukan bahwa integrasi nilai ukhuwah, taAoawun, dan keadilan memperkuat kohesi sosial dan mengurangi polarisasi (Pangeran et , 2. Selain itu, studi Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam di Indonesia menunjukkan bahwa menyajikan materi ajaran Islam dengan prinsip moderasi menumbuhkan karakter yang inklusif dan toleran (Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Juga, artikel Implementasi Moderasi Beragama dalam Pendidikan menegaskan bahwa muatan toleransi dan multikultural penting dalam konten kurikulum PAI (Suryadi, 2. Oleh karena itu, revitalisasi pendidikan sosial Islam berbasis nilai moderasi merupakan kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan pluralitas di era modern. Penelitian terdahulu telah membahas hubungan pendidikan Islam dengan pembentukan karakter sosial umat. Konsep Pendidikan Sosial Berbasis Tauhid menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama sebagai kerangka sosialteologis (Khoiruddin, 2. Dalam kajian Moderasi Beragama sebagai Pendekatan dalam Pendidikan Islam, dikemukakan bahwa moderasi menekankan keseimbangan, toleransi, dan kasih sayang sebagai prinsip pendidikan (Arifin & Huda, 2. Jurnal Konsep Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam menyebut bahwa moderasi menjadi prinsip dasar yang meminimalisir ekstrimisme dan memperkuat harmoni sosial (Agus Mufaridah. Hawwin Huda Yana, 2. Namun, sebagian besar kajian tersebut masih bersifat konseptual dan belum menbahas bagaimana nilai sosial Nabi Muhammad Saw. dapat diintegrasikan secara operasional dalam sistem pendidikan modern. Dengan demikian, terdapat kesenjangan antara teori moderasi dan praksis pendidikan sosial Islam yang aplikatif. Artikel ini menawarkan kebaruan ilmiah dengan menjadikan nilai sosial Nabi Muhammad Saw. sebagai paradigma pendidikan sosial moderat kontemporer. Pendekatan ini tidak sekadar moral normatif, tetapi juga menjadi paradigma p endidikan yang menginterpretasikan nilai profetik dalam strategi pendidikan modern. Dalam literatur moderasi yang ada, jarang ditemukan integrasi langsung antara nilai sosial kenabian dan strategi pedagogis kontekstual. Sebagai contoh, sejumlah penelitian moderasi fokus pada materi kurikulum atau metode pembelajaran, tanpa memetakan nilai sosial kenabian sebagai poros pembentukan moderasi (Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Dengan demikian, kebaruan studi ini terletak pada model konseptual yang mengintegrasikan nilai sosial Nabi dengan praktik pendidikan moderat. Permasalahan utama dalam kajian ini adalah bagaimana nilai-nilai sosial Nabi Muhammad Saw. dapat diimplementasikan secara sistemik dalam pendidikan Islam untuk memperkuat moderasi beragama di masyarakat modern. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis nilai-nilai sosial dalam kehidupan Nabi dan menelaah relevansinya terhadap pendidikan moderasi beragama, dengan harapan menghasilkan rekomendasi konseptual dan praktis bagi pengembangan sistem pendidikan Islam yang inklusif, toleran, dan 92 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada analisis terhadap teks-teks klasik dan kontemporer yang relevan dengan nilai-nilai sosial dalam pendidikan Islam. Penelitian ini dilaksanakan selama periode September - Oktober 2025 dengan memanfaatkan berbagai sumber ilmiah dan literatur yang kredibel. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari literatur primer dan literatur sekunder. Literatur primer meliputi tafsir Al-QurAoan, hadis, serta karya ulama klasik dan kitab sirah Nabawiyah yang menggambarkan praktik sosial Nabi Muhammad Saw. Literatur sekunder mencakup karya ilmiah dan artikel jurnal modern yang membahas pendidikan Islam, nilai-nilai profetik, dan konsep moderasi beragama, seperti yang diterbitkan dalam Tarlim: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Taklim: Jurnal Pendidikan Islam, dan Global Education Journal. Prosedur penelitian meliputi tiga tahapan. Pertama, tahap pengumpulan data, yaitu penelusuran literatur menggunakan sumber-sumber akademik yang kredibel dan Kedua, tahap analisis data, dilakukan dengan teknik analisis isi . ontent analysi. dan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi nilai-nilai sosial Nabi Muhammad Saw. seperti tasamuh . , taAoawun . , dan rahmah . asih Ketiga, tahap sintesis dan penarikan kesimpulan, yaitu menghubungkan temuan nilai-nilai sosialitas tersebut dengan prinsip moderasi beragama dalam konteks pendidikan Islam modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Sosiality Nabi Muhammad Saw. sebagai Model Pembentukan Karakter Sosial Pendidikan sosial Nabi Muhammad Saw. menekankan pembentukan karakter sosial sebagai fondasi utama untuk menciptakan harmoni masyarakat yang inklusif, di mana empati, kepedulian, dan solidaritas antarindividu menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Nilai tasamuh . , taAoawun . , dan rahmah . asih sayan. menjadi inti dari pendidikan sosial kenabian, yang tidak hanya diajarkan secara verbal tetapi juga melalui keteladanan praktik interaksi sosial yang konsisten. Nabi selalu mencontohkan sikap pengertian terhadap perbedaan, mendorong kerja sama dalam berbagai urusan sosial dan keagamaan, serta membangun komunitas yang saling menghormati dan mendukung satu sama lain. Bukti konseptual menunjukkan bahwa pendidikan sosial berbasis tauhid membentuk karakter sosial yang berlandaskan nilai spiritual Islam (Khoiruddin, 2. Integrasi nilai sosial dalam pendidikan sosial Islam terbukti memperkuat kohesi sosial serta mengurangi polarisasi di tengah masyarakat yang majemuk (Pangeran et al. , 2. Pendekatan ini menegaskan pentingnya internalisasi nilai-nilai sosial kenabian sebagai dasar pembentukan karakter masyarakat yang moderat, inklusif, dan harmonis. Nilai tasamuh . berperan sebagai prinsip toleransi yang menumbuhkan inklusivitas dan saling menghargai dalam komunitas, sehingga setiap individu dapat berinteraksi secara konstruktif tanpa mengabaikan perbedaan latar belakang maupun Nabi menanamkan sikap toleran melalui keteladanan yang konsisten, 93 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 menghormati hak orang lain, serta mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan setiap bentuk konflik sosial, sehingga membentuk karakter masyarakat yang menghargai perbedaan dan menolak kekerasan. Penanaman nilai tasamuh dalam pendidikan sosial Islam terbukti memperkuat kohesi sosial dan mengurangi potensi polarisasi yang dapat muncul di tengah masyarakat (Pangeran et al. , 2. Pendidikan moderat yang menekankan prinsip toleransi secara sistematis juga menghasilkan generasi yang inklusif dan mampu bekerja sama lintas kelompok tanpa mengorbankan nilai-nilai moral dan etika (Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Dengan demikian, tasamuh memberikan fondasi strategis bagi pembangunan karakter sosial yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadapi kompleksitas kehidupan sosial modern. Nilai taAoawun atau kerjasama menjadi fondasi penting dalam pendidikan sosial Nabi untuk membangun solidaritas yang kokoh di antara anggota masyarakat, di mana setiap individu memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap kepentingan bersama. Nabi menekankan pentingnya saling menolong dalam kehidupan sosial maupun ibadah melalui pembiasaan sehari-hari, seperti kerja bakti, pembagian tugas dalam komunitas, dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Praktik kerjasama ini terbukti efektif dalam membentuk karakter sosial yang bertanggung jawab dan mampu beradaptasi dalam berbagai situasi sosial (Pangeran et al. , 2. Selain itu, penerapan nilai kerjasama dalam pendidikan moderat Islam meningkatkan inklusivitas serta keterlibatan lintas kelompok, sehingga tercipta budaya kolaboratif yang harmonis dan berkelanjutan (Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Pendekatan ini menunjukkan bahwa taAoawun tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga mengembangkan kemampuan kolaboratif yang selaras dengan prinsip toleransi dan kepedulian sosial yang diajarkan Nabi. Nilai rahmah . asih sayan. melengkapi pendidikan sosial Nabi, menjadi landasan interaksi sosial yang penuh empati dan kepedulian terhadap semua individu, termasuk mereka yang berada dalam posisi lemah atau berbeda pandangan. Nabi mengajarkan menolong yang lemah, menghargai hak individu, serta bersikap lembut dan penuh pengertian dalam setiap bentuk komunikasi sosial, sehingga membentuk karakter masyarakat yang inklusif dan peduli. Prinsip kasih sayang dalam pendidikan Islam menjadi fondasi moderasi yang menyeimbangkan hak individu dengan kepentingan sosial secara proporsional (Arifin & Huda, 2. Penerapan rahmah melalui keteladanan dan pembiasaan sosial terbukti meningkatkan kesadaran toleransi dan kepedulian di lembaga pendidikan, sehingga menumbuhkan karakter yang saling menghormati dan menghargai perbedaan (Suryadi, 2. Integrasi tasamuh, taAoawun, dan rahmah menunjukkan bahwa pendidikan sosial kenabian mampu membentuk karakter moderat yang berorientasi pada harmoni sosial, kolaborasi berkelanjutan, dan keberlangsungan hubungan antarindividu di masyarakat modern. Implementasi Pedagogis Nilai Tasamuh. TaAoawun, dan Rahmah di Lembaga Pendidikan Islam Implementasi nilai tasamuh di lembaga pendidikan Islam dilakukan melalui berbagai strategi pedagogis yang menekankan penghargaan terhadap perbedaan dan praktik toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Guru menjadi teladan utama dengan menunjukkan sikap inklusif dan menghargai pandangan berbeda, sehingga peserta didik terbiasa 94 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 menghormati hak-hak orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan nilai tasamuh dalam interaksi kelas meningkatkan sikap toleran dan empati siswa terhadap teman sebaya(Pangeran et al. , 2. Selain itu, implementasi nilai tasamuh melalui kegiatan diskusi, debat, dan musyawarah di kelas terbukti menumbuhkan kemampuan berpikir kritis yang tetap menghargai perbedaan(Hasan, 2. Pendekatan ini membangun fondasi karakter moderat yang siap berinteraksi secara harmonis dalam masyarakat plural. Nilai taAoawun diterapkan melalui kerja sama dalam berbagai kegiatan akademik dan non-akademik, mulai dari proyek kelompok hingga kegiatan sosial di lingkungan sekolah atau pesantren. Guru mendorong kolaborasi lintas kelas dan lintas latar belakang siswa, sehingga tercipta pengalaman nyata dalam menolong dan bekerja sama dengan sesama. Penerapan pedagogis ini terbukti meningkatkan keterampilan sosial, tanggung jawab, dan solidaritas siswa (DALAM PERSPEKTIF AL- QUR Ao AN Judul Pendidikan Sosial Bagi Masyarakat Dalam Perspektif Al- Qur Ao an, n. Bukti lain menunjukkan bahwa kegiatan kolaboratif yang menekankan taAoawun menguatkan ikatan sosial dan membangun budaya saling peduli di antara peserta didik(Suryadi, 2. Dengan demikian, taAoawun tidak hanya menjadi konsep abstrak, tetapi diinternalisasikan melalui praktik nyata yang membentuk karakter sosial yang kohesif dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Nilai rahmah atau kasih sayang diintegrasikan dalam pembelajaran melalui perhatian guru terhadap kebutuhan emosional dan sosial peserta didik, serta penerapan metode pembelajaran yang humanis dan partisipatif. Pendidik menekankan pentingnya sikap empati, kepedulian terhadap teman yang lemah, dan penyelesaian konflik secara Penelitian menunjukkan bahwa penerapan rahmah dalam kegiatan pembelajaran meningkatkan kesadaran sosial, rasa tanggung jawab, dan kepedulian siswa terhadap sesama(Suryadi, 2. Selain itu, kegiatan mentoring, konseling, dan pembiasaan budaya saling menghargai secara sistematis mampu membangun iklim sekolah yang harmonis dan aman(Fransistyawan, 2. Pendekatan ini membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan sosial dan emosional orang lain. Integrasi ketiga nilai sosialAitasamuh, taAoawun, dan rahmahAidalam strategi pedagogis menghasilkan model pendidikan Islam yang moderat dan relevan dengan konteks kontemporer. Guru menjadi fasilitator yang menanamkan nilai-nilai ini melalui interaksi sehari-hari, praktik pembiasaan, dan evaluasi karakter siswa. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model ini memperkuat keterampilan sosial, toleransi, dan kolaborasi di lingkungan pendidikan(Hasan, 2. Bukti lain menegaskan bahwa integrasi nilai sosial kenabian secara sistemik dalam kurikulum dan budaya sekolah menciptakan peserta didik yang siap menghadapi tantangan masyarakat modern yang plural dan terdigitalisasi(Fransistyawan, 2. Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai sosial Nabi Muhammad SAW efektif membangun karakter moderat yang inklusif, kolaboratif, dan berkeadaban tinggi. Integrasi Nilai Sosiality Nabi Muhammad dan Moderasi Beragama di Era Modern Nilai-nilai sosial kenabian, termasuk tasamuh, taAoawun, dan rahmah, memiliki peran sentral dalam membentuk paradigma moderasi beragama yang adaptif di tengah masyarakat modern yang kompleks, di mana intoleransi, polarisasi sosial, dan 95 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 penyebaran informasi digital menjadi tantangan nyata bagi integritas sosial dan kerukunan umat. Nilai-nilai ini berfungsi sebagai landasan etis dan pedagogis yang memungkinkan peserta didik menginternalisasi sikap empati, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam interaksi sosial sehari-hari, sehingga mereka mampu menghadapi dinamika sosial kontemporer secara kritis dan konstruktif. Pendidikan berbasis nilai sosial kenabian menciptakan pengalaman belajar yang holistik, memadukan aspek kognitif, afektif, dan sosial, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kesejahteraan bersama dan memperkuat kohesi komunitas(Pangeran et al. Pembelajaran yang menekankan tasamuh dan rahmah terbukti meningkatkan kemampuan individu untuk berinteraksi secara harmonis dengan kelompok yang berbeda latar belakang, sehingga menurunkan risiko konflik dan memperkuat solidaritas sosial (DALAM PERSPEKTIF AL- QUR Ao AN Judul Pendidikan Sosial Bagi Masyarakat Dalam Perspektif Al- Qur Ao an, n. Oleh karena itu, integrasi nilai sosial kenabian menjadi pijakan strategis yang tidak hanya memperkuat karakter moderat peserta didik, tetapi juga menciptakan fondasi bagi pengembangan masyarakat inklusif dan beradab. Moderasi beragama di era digital menuntut peserta didik untuk memiliki pemahaman mendalam mengenai nilai sosial kenabian, sehingga mereka mampu mempraktikkan toleransi, kolaborasi, dan empati baik dalam interaksi daring maupun luring, tanpa terjerumus dalam sikap ekstrem atau polarisasi yang dapat mengancam keharmonisan sosial. Nilai tasamuh mengajarkan penghargaan terhadap keberagaman pandangan dan praktik, sementara taAoawun mendorong kerja sama lintas kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang produktif dan bermanfaat bagi komunitas. Integrasi nilainilai ini membentuk kapasitas peserta didik untuk berpikir kritis, bersikap inklusif, dan mengelola konflik secara konstruktif dalam berbagai konteks sosial, termasuk di ranah digital yang rawan disinformasi(Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Implementasi prinsip moderasi melalui kurikulum dan pembelajaran terbukti menumbuhkan sikap toleran, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran sosial yang tinggi pada peserta didik(Hasan, 2. Dengan demikian, pendidikan moderasi berbasis nilai sosial kenabian menjadi strategi efektif untuk membangun karakter harmonis dan resilient terhadap tantangan masyarakat modern yang plural dan terdigitalisasi. Nilai taAoawun dan rahmah menjadi instrumen penting untuk menanggulangi polarisasi sosial yang semakin tajam, karena keduanya menekankan kolaborasi, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama, sehingga membentuk karakter moral yang mampu mencegah konflik horizontal di lingkungan sekolah maupun masyarakat Pendidikan yang mengedepankan kerja sama dan kasih sayang membekali peserta didik dengan keterampilan sosial yang kuat, meningkatkan partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas, dan menumbuhkan solidaritas serta kepedulian terhadap kesejahteraan orang Praktik taAoawun secara sistematis menanamkan tanggung jawab kolektif, sementara rahmah menumbuhkan empati dan kepedulian yang nyata dalam interaksi sosial seharihari(Pangeran et al. , 2. Selain itu, penerapan nilai taAoawun dalam pembelajaran kolaboratif terbukti meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial kolektif dan memperkuat hubungan antarindividu yang berbeda latar belakang(Suryadi, 2. Oleh karena itu, integrasi nilai sosial kenabian menjadi strategi operasional yang ampuh dalam membangun moderasi beragama yang inklusif, harmonis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. 96 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Pendidikan moderasi beragama dapat diwujudkan melalui proses internalisasi, implementasi, refleksi, dan transformasi budaya lembaga pendidikan, di mana guru menanamkan nilai sosial kenabian melalui keteladanan, interaksi sosial yang sistematis, dan praktik pembiasaan dalam kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang moderat dan inklusif. Internalisasi nilai-nilai moderasi melalui kegiatan pembiasaan, teladan guru, dan penguatan nilai karakter menghasilkan peserta didik yang mampu menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan berperan aktif dalam membangun keharmonisan sosial(Luqmanul Hakim Habibie et al. , 2. Selain itu, implementasi kebijakan moderasi beragama di lembaga pendidikan terbukti mendukung terciptanya harmoni dan integrasi sosial dalam konteks sekolah(Rozaq et al. , 2. Strategi sistemik yang mengintegrasikan nilai tasamuh, taAoawun, dan rahmah memperkuat kohesi sosial serta menumbuhkan budaya sekolah yang moderat, inklusif, dan kolaboratif (Pangeran et al. , 2. Dengan demikian, internalisasi dan implementasi nilai sosial kenabian secara konsisten membangun ekosistem pendidikan yang mendukung moderasi beragama secara komprehensif. Era digital dan arus informasi yang cepat menuntut peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, empati, serta keterampilan sosial untuk menyaring dan mengelola konten yang berpotensi menimbulkan intoleransi atau polarisasi. Nilai rahmah menekankan pentingnya empati dan kepedulian dalam interaksi sosial, sementara tasamuh menanamkan prinsip toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Penerapan praktik taAoawun dalam proyek kolaboratif akademik maupun sosial terbukti meningkatkan keterlibatan siswa dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan berkeadilan (Fransistyawan, 2. Selain itu, praktik taAoawun dalam kegiatan kolaboratif meningkatkan kerja sama antarindividu dan memperkuat ikatan sosial dalam kelompok yang beragam (Suryadi, 2. Integrasi nilai sosial kenabian dalam konteks pembelajaran modern membekali peserta didik menjadi individu adaptif, kritis, dan peduli sosial, sehingga mampu menghadapi tantangan masyarakat plural dan terdigitalisasi. Integrasi nilai tasamuh, taAoawun, dan rahmah dalam pendidikan Islam modern berperan sebagai strategi utama dalam memperkuat moderasi beragama serta membentuk peserta didik yang toleran, kolaboratif, dan peduli sosial. Penerapan nilai-nilai ini memungkinkan siswa untuk memahami pentingnya penghargaan terhadap perbedaan, kerja sama antarindividu, dan pengembangan empati dalam konteks kehidupan seharihari. Dengan internalisasi yang konsisten, nilai-nilai ini menumbuhkan kesadaran sosial yang mampu menghadapi dinamika kompleks masyarakat, termasuk polarisasi sosial dan arus informasi digital yang pesat. Implementasi nilai-nilai sosial kenabian melalui praktik pedagogis, kegiatan pembiasaan, dan refleksi budaya lembaga terbukti efektif dalam menumbuhkan karakter moderat dan inklusif pada peserta didik(Hasan, 2. Selain itu, penerapan kebijakan moderasi beragama secara sistemik di sekolah mendukung terciptanya keharmonisan pendidikan Islam dan integrasi sosial yang lebih luas(Rozaq et , 2. Dengan demikian, integrasi nilai tasamuh, taAoawun, dan rahmah membentuk fondasi konseptual dan praksis yang relevan untuk menyiapkan generasi yang mampu menjaga keharmonisan sosial, adaptif, dan berperan aktif dalam masyarakat modern. 97 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 PENUTUP Berdasarkan temuan penelitian, nilai-nilai sosial Nabi Muhammad SAW seperti tasamuh, taAoawun, dan rahmah terbukti menjadi fondasi konseptual dan praktis dalam membentuk karakter sosial yang moderat di lembaga pendidikan Islam. Implementasi nilai-nilai tersebut melalui keteladanan guru, pembiasaan dalam interaksi sosial, kurikulum berbasis karakter, serta kegiatan akademik dan ekstrakurikuler mampu menumbuhkan sikap toleran, kolaboratif, dan peduli terhadap sesama. Penerapan nilai sosial kenabian juga efektif dalam memperkuat moderasi beragama, menghadapi tantangan intoleransi, polarisasi sosial, dan dinamika digital di era modern. Dengan demikian, pendidikan sosial Nabi Muhammad SAW berperan sebagai paradigma pendidikan karakter profetik yang relevan dengan konteks kontemporer dan mampu membentuk peserta didik yang inklusif serta berkeadaban tinggi. Lembaga pendidikan Islam disarankan untuk secara sistematis mengintegrasikan nilai tasamuh, taAoawun, dan rahmah dalam seluruh aspek pendidikan, mulai dari kurikulum, strategi pembelajaran, hingga kegiatan ekstrakurikuler, agar internalisasi nilai sosial kenabian berlangsung konsisten. Guru dan tenaga pendidik perlu diberikan pelatihan yang fokus pada strategi pembelajaran moderasi beragama, sehingga dapat menjadi teladan sekaligus fasilitator dalam membentuk karakter inklusif peserta didik. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi model evaluasi, indikator keberhasilan, dan dampak jangka panjang implementasi pendidikan sosial kenabian, untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih aplikatif dalam konteks pendidikan Islam modern yang plural dan REFERENSI